Tag Archives: bandung

Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Trekking Kebun Teh Sukawana-Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Minggu lalu saya bersama dua orang teman melakukan trekking dengan start dari Kebun Teh Sukawana (Google Maps di sini). Tujuan kami adalah Puncak Gunung Tangkuban Perahu (Google Maps di sini).

Kami meetup di Yomart Ledeng sekitar pukul 5.40 pagi. Setelah itu kami langsung tancap gas menuju Kebun Teh Sukawana melalui Jl. Sersan Bajuri. Tepat di Kimia Farma Parongpong, kami belok kanan menuju Jl. Sukawana.

Jl. Sukawana ini jalannya tidak rata dan berbatu-batu. Jadi tidak bisa kencang-kencang ketika berkendara di sini. Diperlukan kesabaran dan kehati-hatian ketika melintasi jalan ini.

Tujuan kami adalah Warung Ibu Onah yang berada di area Kebun Teh Sukawana. Kami menitipkan sepeda motor kami di warung tersebut dengan tarif Rp5000.

baca juga: Ngaprak Ngabring ke Kebun Teh Sukawana dan Curug Layung

Setelah itu kami bersiap-siap untuk memulai trekking. Tak lupa kami pemanasan dahulu. Jam menunjukkan tepat pukul 6.30 ketika kami memulai trekking.

Cuaca pagi itu cukup mendung. Sehari sebelumnya sempat hujan juga. Jadi kondisi tanah masih cukup basah. Tapi tidak sampai yang becek juga.

Trekkinng di tengah Kebun Teh Sukawana

Kami berjalan kaki menikmati segarnya udara pagi itu serta pemandangan Kebun Teh Sukawana yang ijo royo-royo. Sesekali kami berlari juga. Tapi lebih banyak jalan kaki sih. Hihihi.

Continue reading

Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Libur hari kemerdekaan dan long weekend yang menyusul sesudahnya ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Akhirnya, saya pulang kampung (dan ke luar kota) lagi setelah sekitar setengah tahun mendekam di Bandung.

Kekhawatiran akan tertular Covid-19 atau menjadi carrier tentunya pasti ada. Namun, mumpung ada libur yang bisa dipakai lumayan panjang saat ini, jadi kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Entah kapan lagi libur panjang berikutnya.

Kereta Api menjadi pilihan saya yang paling nyaman dan (insya Allah) aman menurut saya untuk bepergian saat ini walaupun belum ada kereta api yang langsung ke Malang pada tanggal yang saya pilih. Saya harus transit dulu di Surabaya dan berganti kereta api lagi ke Malang.

Tiket sudah saya beli sejak sekitar 10 hari sebelum keberangkatan. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Mungkin memang masih sedikit orang yang bepergian di masa pandemi ini. Atau mungkin lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Untuk dapat diizinkan melakukan perjalanan dengan kereta api, setiap calon penumpang wajib juga untuk menyertakan surat keterangan non-reaktif pada hasil rapid test-nya. Surat ini akan diperiksa saat pemeriksaan tiket di pintu boarding.

Continue reading

Gowes Sepeda yang Kembali Ngetren di Kala PSBB ini

Ada sebuah fenomena menarik beberapa minggu terakhir ini di Bandung. Khususnya sejak Lebaran kemarin. Di jalanan kini ramai sekali dengan pesepeda. Mereka umumnya bersepeda secara beramai-ramai dengan kelompok atau komunitasnya.

Bahkan pada hari Minggu minggu lalu, ketika saya tengah lari pagi di daerah Dago, saya berpapasan dengan rombongan pesepeda yang saking ramainya separuh jalan sampai dipakai oleh pesepeda. Memang salah satu destinasi para pesepeda ini biasanya daerah Dago ke atas sampai ke Warung Bandrek.

Cukup menarik menerka bagaimana fenomena gowes sepeda ini bermula. Dugaan saya sih aktivitas ini sudah mulai ngetren lagi ketika bulan Ramadan kemarin. Saya beberapa kali berpapasan juga dengan pesepeda saat jam-jam sore menjelang berbuka puasa.

Aktivitas bersepeda ini juga sempat didukung oleh banyaknya jalan yang ditutup dalam masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ini. Jalan Dago, Braga, dan Asia Afrika adalah jalan-jalan yang sempat ditutup ketika itu. Jalan-jalan itu kini sudah kembali dibuka untuk kendaraan seminggu setelah lebaran.

Jalan Asia Afrika yang sempat ditutup dari kendaraan ketika PSBB

Kosongnya jalan tersebut ternyata dimanfaatkan banyak orang untuk bersepeda. Banyak orang tua yang keluar bersepeda bersama anaknya yang masih kecil tanpa perlu khawatir terserempet kendaraan lain.

Fenomenar ngetrennya gowes ini dibuktikan juga oleh naiknya penjualan sepeda di Kota Bandung hingga 50% sebagaimana diberitakan di sini. Bagi mereka yang belum punya sepeda pasti merasa gatal juga ingin bergabung dengan kawan-kawannya untuk gowes bersama. Hehehe.

Fenomena ini tentunya sangat positif juga bagi masyarakat kita. Insya Allah dengan banyak yang bersepeda begini, akan terbentuk masyarakat yang sehat juga.

Bagaimana di kota Anda? Apakah fenomena bersepeda ini juga terjadi di kota Anda? 😀

Jl. Dago ditutup

Covid-19 Diary (2) : Jalan Ditutup di Bandung

Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung selama masa physical distancing ini adalah penutupan sejumlah jalan di beberapa tempat. Utamanya jalan-jalan protokol Kota Bandung seperti Jl. Ir. H. Juanda (Dago), Jl. Diponegoro, Jl. Asia Afrika, Jl. Merdeka, dan Jl. Braga.

Kebijakan ini mulai diterapkan sejak Sabtu malam tanggal 28 Maret 2020. Pada tanggal tersebut bertepatan dengan hari ke-13 sejak himbauan untuk physical distancing digaungkan pada tanggal 16 Maret 2020.

Pada hari Minggu paginya tanggal 29 Maret 2020 saya sempat berolahraga di Taman Cikapayang Dago. Tidak ramai. Beberapa pesepeda juga ada yang singgah di sana.

Menjelang jam 9 pagi seorang petugas Dishub memberikan pengumuman melalui pengeras suara agar para pengunjung Taman Cikapayang Dago segera pulang ke rumah masing-masing. Tak lama kemudian Jl. Ir. H. Juanda mulai ditutup.

Taman Cikapayang Dago menjelang penutupan Jl. Ir. H. Juanda (29 Maret 2020)

Namun, sepertinya kebijakan penutupan jalan ini tidak berlaku full seharian. Hanya jam-jam tertentu saja. Dan sepertinya jam-jam penutupannya juga tidak pasti setiap harinya.

Saya yang sesekali pergi ke kantor melalui daerah sekitar Dago, kadang melihat jalan Dago dibuka dan kadang ditutup pada pagi hari sekitar jam 9. Hal yang sama saya jumpai ketika pulang sekitar jam Isya. Kadang buka, kadang tutup. Tidak pasti.

Pengumuman jam penutupan jalan pada 29 Maret 2020

Kebijakan penutupan jalan ini masih berlaku hingga tulisan ini dibuat. Dan sepertinya masih akan berlangsung hingga situasi membaik.

Objektif dari kebijakan ini sepertinya memang untuk mengurangi mobilitas warga. Warga dihimbau untuk tinggal di rumah.

Pertigaan Jalan Ganeca-Jl. Ir. H. Juanda ditutup (10 April 2020)

Awal-awal himbauan physical distancing, sepertinya para warga cukup menurut. Jalan di sekitar Dago menjadi sangat sepi. Namun, belakangan ini jalan mulai agak ramai lagi walaupun masih jauh untuk disebut normal.

Orang-orang ternyata masih cukup banyak yang berpergian walaupun mengetahui ada penutupan jalan. Warga masih bisa melalui jalan alternatif, biasanya jalan yang paralel dengan jalan yang ditutup tersebut.

Lari di ITB Ultra Marathon 2019

Alhamdulillah minggu lalu untuk kedua kalinya saya berkesempatan untuk mengikuti ITB Ultra Marathon, sebuah event lari yang sangat ditunggu-tunggu civitas akademika ITB. Sama seperti tahun lalu, saya bergabung ke dalam Tim Code Runners, tim lari Ikatan Alumni Teknik Informatika (IAIF) ITB.

Alhamdulillah minggu lalu untuk kedua kalinya saya berkesempatan untuk mengikuti ITB Ultra Marathon, sebuah event lari yang sangat ditunggu-tunggu civitas akademika ITB. Sama seperti tahun lalu, saya bergabung ke dalam Tim Code Runners, tim lari Ikatan Alumni Teknik Informatika (IAIF) ITB.

Karena antusiasme teman-teman IAIF yang meningkat, ada 4 tim yang dibentuk pada tahun ini, yakni 2 tim relay 9 dan 2 tim relay 18. Jika ditotal berarti ada 54 orang yang berlari membawa nama Tim Code Runners. Saya sendiri tergabung ke dalam tim relay 9.

Ada yang baru pada penyelenggaraan ITB Ultra Marathon 2019 ini. Jika tahun lalu jarak tempuhnya adalah 170 km, pada tahun ini meningkat menjadi 200 km. Untuk posisi start dan finish masih tetap sama, yakni start di BNI Sudirman Jakarta dan finish di ITB Bandung.

baca juga:  Lari di ITB Ultra Marathon 2018

Menjelang Hari H

Beberapa minggu menjelang hari H, masing-masing pelari Code Runners diberikan hak untuk memilih etape yang diinginkannya. Saya memilih etape terakhir, yakni etape 17-18, sebagai etape saya. Kebetulan etape tersebut masih belum dipilih oleh teman-teman pelari lain yang memilih lebih dahulu.

Etape tersebut bermula dari Water Station 16 di Masjid Al-Irsyad, Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Saya memilih etape tersebut dengan pertimbangan kepraktisan transportasi menuju lokasi. Kebetulan saya base di Bandung. Selain itu juga karena dari segi perkiraan waktu, etape tersebut akan ditempuh pada malam hari sehingga tidak perlu berpanas-panasan ria.

Continue reading

Naik Pesawat dari Bandara Kertajati

Pada malam Idul Adha pekan lalu untuk pertama kalinya saya mencoba naik pesawat dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Nama resminya memang BIJB, tapi bandara ini juga dikenal dengan panggilan Bandara Kertajati karena lokasinya yang berada di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Bahkan bus Damri yang melayani trayek Bandung-BIJB lebih memilih nama Bandara Kertajati untuk disematkan di papan nama jurusan yang dipasang di kaca depannya.

Pada bulan Agustus ini, kebetulan AirAsia baru saja membuka rute baru Kertajati (KJT)-Surabaya (SUB). Harga yang ditawarkannya masih harga promo, yakni sebesar Rp380 ribu untuk KJT-SUB dan Rp400 ribu untuk SUB-KJT. Jauh lebih murah daripada harga tiket kereta api eksekutif yang umumnya sekitar Rp500 ribu.

Untuk transportasi Bandung-Bandara Kertajati saya menumpang bus Damri. Bus Damri ini berangkat dari pool Damri yang berada di Jalan Kebon Kawung, persis di depan Stasiun Hall Bandung.

Bus Damri parkir di Pool Damri Jl. Kebon Kawung, Bandung
Loket dan ruang tunggu penumpang Pool Damri Jl. Kebon Kawung, Bandung

Sekadar informasi, saat ini bus Damri Bandung-Kertajati masih dalam masa promosi lho. Calon penumpang pesawat cukup menunjukkan tiket pesawatnya kepada petugas loket untuk mendapatkan tiket bus Damri gratis ke Bandara Kertajati.

Continue reading
ITB Ultra Marathon

Lari di ITB Ultra Marathon 2018

“Gaes… Punten oot, ada yg minat join relay 170 km di ITB ultra marathon? Per-orang distance nya 10 km aja…”

Begitu pesan salah seorang kawan di grup Whatsapp angkatan kuliah pada 4 bulan yang lalu. Dia menawari teman-teman untuk bergabung ke dalam tim lari Ikatan Alumni Informatika (IAIF) ITB di event ITB Ultra Marathon yang dihelat pada tanggal 12-14 Oktober 2018.

Salah seorang kawan yang lain di grup kemudian me-mention saya mengajak saya untuk ikutan. Wah menarik nih, pikir saya. Kapan lagi bisa berlari di acara almamater dan mendapat kesempatan untuk mengenal senior-senior alumni sejurusan juga.

Saya pun mengiyakan ajakan tersebut. Kemudian saya dimasukkan ke dalam grup Whatsapp ikatan alumni jurusan untuk persiapan ITB Ultra Marathon.

Rencana awal hanya akan dibentuk tim untuk mengikuti kategori relay 16 orang. Namun, karena antusiasme yang cukup tinggi dari rekan-rekan alumni, akhirnya dicetuskan untuk dibentuk satu tim lagi untuk kategori relay 8.

Tim lari IAIF ini diberi nama Code Runners. Tagline-nya “Code, Run, Share”. Dari namanya sudah ketahuan lah ya kalau kumpulan anak Informatika. Hehehe. Eh, tapi ada juga yang mengira ini tim pelari yang suka ngasih kode. Hahaha.

Sebagian besar teman-teman alumni berminat untuk ikutan relay 16. Pada relay 16 ini pelari rata-rata akan menempuh jarak 10-11 km. Sedangkan pada relay 8 pelari akan menempuh jarak rata-rata 21 km.

Saya sendiri mengajukan diri untuk masuk ke dalam tim relay 8. Sebetulnya, sudah lama saya tidak lari half marathon. Karena itu saya bisa dibilang agak nekat juga memutuskan untuk ikutan tim relay 8. Pikir saya ketika itu dengan masuk tim relay 8 saya berharap bisa Continue reading