Category Archives: Kereta Api

KAI Logistik

Kirim Sepeda Motor via KAI Logistik

Pekan lalu saya mengirim paket sepeda motor dari Bandung ke Malang via KAI Logistik. Awalnya saya pikir kantor KAI Logistik ini berada di sisi selatan Stasiun Bandung yang terletak di Jl. Stasiun Barat. Sebab kata teman saya, pada akhir tahun 2020 lalu dia mengirim sepeda motor juga dari sana.

Rupanya, kantor KAI Logistik yang di selatan Stasiun Bandung tersebut sudah tidak melayani pengiriman barang lagi. Sepertinya kantor tersebut hanya berfungsi sebagai gudang untuk naik turun barang. Untuk pengiriman, saya diarahkan ke kantor KAI Logistik yang berada di Jl. Kebon Jukut, samping Kartika Sari.

Kantor KAI Logistik Bandung di Jl. Kebon Jukut no. 1

Setibanya di kantor KAI Logistik kita perlu mengambil nomor antrian dulu di meja depan pintu masuk. Setelah itu kita akan dipanggil ke loket pelayanan sesuai dengan nomor antrian.

Di loket kita akan ditanya mengenai barang yang akan kita kirim dan tujuan pengiriman. Karena saya akan mengirimkan sepeda motor, petugas meminta kita untuk menunjukkan STNK untuk di-copy dan kunci sepeda motor untuk dicek kondisinya. Nanti kita akan mendapatkan form checklist hasil pemeriksaan kondisi sepeda motor kita yang perlu kita tandatangani.

Ketika tiba di kantor KAI Logistik ini, ban belakang sepeda motor saya ternyata bocor. Pihak KAI Logistik tidak mempermasalahkannya. Kondisi tersebut hanya dicatat saja saat pengiriman.

Biaya pengiriman sepeda motor dari Bandung ke Malang dengan KAI Logistik ini adalah sebesar Rp604.000. Mahal ya.. wkwkw. Itupun sudah termasuk diskon. Aslinya Rp756.000. Mengenai tarif ini kita bisa mengeceknya juga melalui website KAI Logistik di https://kalogistics.co.id/. Bisa cek resi juga di situ.

Padahal salah satu alasan saya pilih KAI Logistik ini karena tahun lalu pernah baca artikel berita yang menyebutkan bahwa KAI baru saja meluncurkan layanan Rail Express. Pengiriman sepeda motor 110 CC dari Bandung ke Malang cuma dipatok Rp210.000. Tapi belakangan saya baru tahu Rail Express ini sudah diintegrasikan dengan KALOG Express menjadi KAI Logistik pada awal tahun ini. Mungkin singkatannya juga masih sama, KALOG.

Terkait dengan STNK dan kunci motor, kita diberikan pilihan apakah hendak menyertakannya dalam pengiriman atau tidak. Karena saya berencana untuk mengambil sendiri ketika di Malang, jadi STNK dan kunci motor itu saya bawa sendiri.

Sepeda motor yang saya paketkan siang itu, ternyata langsung dikirimkan sore itu juga dengan menumpang KA Malabar. Keesokan harinya saya mendapatkan notifikasi SMS bahwa sepeda motor saya sudah bisa diambil.

Tempat pengambilan paket KAI Logistik di Stasiun Malang

Di Stasiun Malang, tempat pengambilan paket KAI Logistik ini berada persis di sisi selatan pintu kedatangan penumpang. Alamatnya di Jl. Trunojoyo 10. Bukanya dari jam 8 pagi hingga 5 sore.

Saat pengambilan, saya hanya perlu menunjukkan kertas resi yang saya dapatkan ketika pengiriman. Jika diambil orang lain, orang tersebut perlu menunjukkan KTP asli dan menyerahkan fotokopinya untuk administrasi pengambilan.

Konfigurasi Tempat Duduk Kereta Api Selama Pandemi

Selama pandemi ini seperti kita ketahui bersama, KAI memiliki kebijakan untuk membatasi jumlah kursi penumpang sebanyak 70%. Dari persentase tersebut artinya ada sejumlah pasangan kursi yang hanya boleh diisi seorang saja.

Awalnya saya tidak aware bahwa batasan kursi penumpang itu 70%. Saya pikir karena kebijakan social distancing, maka batasannya adalah 50%. Saya baru menyadari kebijakan 70% itu ketika saya duduk bersebelahan dengan penumpang lain. Padahal sebelumnya saya duduk sendirian.

Saya mencari informasi mengenai konfigurasi tempat duduk kereta api ini di internet dan menemukannya pada twit akun Twitter resmi PT KAI berikut ini:

Twit KAI mengenai konfigurasi kursi kereta api selama pandemi
Konfigurasi KA kelas Eksekutif dan Bisnis selama pandemi
Konfigurasi KA kelas Ekonomi SS 80 seat dan new image 80 seat selama pandemi
Konfigurasi KA kelas Ekonomi 80 seat dan difabel 64 seat selama pandemi
Konfigurasi KA kelas Ekonomi 106 seat selama pandemi

Kebijakan batas okupansi kereta api 70% ini sepertinya masih akan berlaku untuk beberapa waktu ke depan sampai keadaan normal. Jadi saya akan masih akan perlu melihat infografis ini sebagai acuan dalam memesan tiket perjalanan kereta api. 😁

Peserta Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Ikut Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Kemarin pagi saya mengikuti rapid test yang disediakan oleh PT KAI bekerja sama dengan Klinik Utama Jasa Prima di Stasiun Kiaracondong. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, pemerintah telah mengeluarkan aturan untuk orang-orang yang hendak bepergian selama liburan Natal dan Tahun Baru ini (22 Desember 2020-8 Januari 2021) agar dilengkapi surat keterangan bebas Covid-19 minimal lewat rapid test antigen.

Aturan ini memperbaharui aturan sebelumnya yang mensyaratkan calot penumpang untuk minimal memiliki surat keterangan bebas Covid-19 lewat rapid test antibodi di mana surat tersebut berlaku selama 14 hari. Sedangkan pada aturan baru ini, surat bebas Covid-19 dengan metode rapid test antigen hanya berlaku maksimal 3 hari saja.

baca juga: Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Saya yang pada liburan kali ini hendak pulang kampung dengan naik kereta api pun tentunya juga harus mengambil rapid test antigen. Menurut info yang saya dapatkan dari website PT KAI sehari sebelumnya (21/12) di sini, di Bandung rapid test antigen ini baru tersedia di Stasiun Kiaracondong saja. Namun ketika datang pagi itu saya mendengar kabar dari salah seorang petugas PT KAI bahwa di Stasiun Bandung juga sudah tersedia rapid test antigen ini.

Saya datang bersama teman saya sekitar pukul 6.30 pagi. Beberapa orang tampak juga sudah datang lebih awal. Padahal jadwal buka layanan rapid test ini adalah pukul 8 pagi. Sekitar pukul 7.30 petugas mulai membuka antrian untuk mengambil nomor antrian. Saya mendapatkan nomor antrian 20-an.

Sekitar pukul 8 pagi, layanan mulai dibuka. Petugas memanggil peserta rapid test sesuai nomor antrian untuk masuk ke dalam tenda pelayanan. Saya mendapatkan panggilan sekitar pukul 8.30.

Di dalam peserta didata terlebih dahulu. Di tahap ini peserta rapid test wajib menunjukkan KTP dan kode booking yang dimilikinya untuk dicatat oleh petugas. Setelah itu peserta membayar biaya rapid test sebesar Rp105.000. Harga ini lebih mahal Rp20.000 daripada rapid test antibodi yang sebelumnya disediakan oleh PT KAI. Tapi biaya ini jauh lebih murah daripada yang dipatok di bandara sebesar Rp200.000.

Petugas mendata peserta rapid test

Setelah membayar, kita akan bergeser ke petugas berikutnya yang akan melakukan swab terhadap peserta. Petugas mengambil sampel lendir dari dalam hidung peserta.

Ini pengalaman pertama saya melakukan swab. Kalau dibandingkan dengan rapid test antibodi, menurut saya pribadi rasanya lebih nggak enak ini. Pada rapid test antibodi, jari kita cukup ditusuk pakai jarum secara cepat. Untuk swab ini, hidung bagian atas kita kayak ditusuk-tusuk gitu pakai alat swab, hehehe. Dan tentu saja nggak secepat kalau ditusuk jarum yang kurang dari sedetik.

Setelah selesai di-swab, peserta tinggal menunggu saja panggilan berikutnya untuk mendapatkan hasilnya. Mungkin perlu menunggu sekitar 15 menit. Alhamdulillah hasil saya negatif.

Petugas melakukan swab

Oh ya, di lokasi kemarin sempat ada yang hasilnya positif. Petugas pun langsung sigap menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruangan di dalam tenda.

Oh ya, untuk rekan-rekan pembaca yang ingin melakukan test di stasiun, saran saya datang lebih awal. Kalau bisa sejam sebelum buka akan lebih baik karena mengingat panjangnya antrian. Menurut catatan saya, kemarin hingga pukul 9 pagi baru sekitar 35 peserta yang mendapatkan giliran untuk rapid test antigen. Prosesnya memang lebih lama dibandingkan rapid test antibodi.

Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Libur hari kemerdekaan dan long weekend yang menyusul sesudahnya ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Akhirnya, saya pulang kampung (dan ke luar kota) lagi setelah sekitar setengah tahun mendekam di Bandung.

Kekhawatiran akan tertular Covid-19 atau menjadi carrier tentunya pasti ada. Namun, mumpung ada libur yang bisa dipakai lumayan panjang saat ini, jadi kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Entah kapan lagi libur panjang berikutnya.

Kereta Api menjadi pilihan saya yang paling nyaman dan (insya Allah) aman menurut saya untuk bepergian saat ini walaupun belum ada kereta api yang langsung ke Malang pada tanggal yang saya pilih. Saya harus transit dulu di Surabaya dan berganti kereta api lagi ke Malang.

Tiket sudah saya beli sejak sekitar 10 hari sebelum keberangkatan. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Mungkin memang masih sedikit orang yang bepergian di masa pandemi ini. Atau mungkin lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Untuk dapat diizinkan melakukan perjalanan dengan kereta api, setiap calon penumpang wajib juga untuk menyertakan surat keterangan non-reaktif pada hasil rapid test-nya. Surat ini akan diperiksa saat pemeriksaan tiket di pintu boarding.

Continue reading

Mencoba Coworking Space Stasiun Gambir

Beberapa hari lalu saya bersama seorang teman kantor ada perjalanan dinas ke Jakarta untuk rapat di kantor klien. Tiket KA Argo Parahyangan sudah dibeli sehari sebelumnya dengan jadwal keberangkatan jam 5 pagi.

Dengan jadwal tersebut kami bisa mengejar jadwal rapat yang biasanya diadakan pada pukul 9 pagi. Namun pada sore sebelum hari H kami mendapatkan kabar bahwa jadwal rapat mundur ke jam 1 siang. Artinya ada waktu kosong sekitar 4 jam sebelum rapat.

Sempat bingung juga karena tidak tahu kami akan menunggu di mana. Untungnya hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah. Di Stasiun Gambir rupanya ada coworking space.

Lokasinya sangat mudah ditemui. Ia berada di sebelah kiri pintu kedatangan, tepatnya di samping kedai makanan “WOW Eat Drink Click”.

Tidak ada biaya yang dipungut untuk bisa menggunakan coworking space ini. Syaratnya hanya menunjukkan boarding pass kereta api dengan jadwal keberangkatan atau kedatangan pada hari yang sama serta telah meng-install aplikasi KAI Access pada ponsel kita.

Selain itu, kita juga akan ditanya mengenai keperluan kita untuk menggunakan coworking space ini. Kami bilang bahwa kami ingin bekerja menggunakan laptop di situ karena memang ada hal yang perlu kami persiapkan untuk meeting di siang harinya.

Selain bekerja, keperluan lainnya sepertinya tidak akan diperbolehkan untuk menggunakan coworking space ini. Saya sempat mendengar ada beberapa ibu-ibu yang ingin duduk-duduk di coworking space untuk menunggu kereta api. Oleh resepsionisnya disarankan untuk duduk di kursi tunggu stasiun saja.

Memang di dalam coworking space ini cukup cozy suasananya. Ada fasilitas AC yang bikin adem dibandingkan harus duduk-duduk di luar. Lalu ada wifi dan colokan yang tentunya membuat kita bisa mengisi daya ponsel atau laptop kita setiap saat.

Interior salah satu sudut coworking space Stasiun Gambir

Di dalam coworking space ini juga kita tidak perlu khawatir kehausan. Ada dispenser air minum yang menyediakan air panas, dingin, dan biasa. Gelas plastik juga sudah disediakan.

Namun di dalam coworking space ini, tamu tidak diperbolehkan memakan makanan atau minuman dari luar. Mungkin agar kebersihannya tetap terjaga.

Setiap pengunjung dibatasi maksimal selama 2 jam untuk dapat menggunakan coworking space ini. Namun dalam pengalaman saya kemarin, saya tidak ‘diusir’ walaupun masih bertahan di coworking space hingga 2,5 jam. Mungkin karena saat itu pengunjung yang ada hanya sekitar 3 orang dari kapasitasnya yang saya perkirakan bisa memuat hingga 16 orang.

Bagi para pekerja atau mungkin pelajar yang sedang melakukan perjalanan dengan kereta api seperti saya ketika itu, keberadaan coworking space ini tentunya sangat membantu. Kita bisa tetap produktif dengan mengerjakan tugas kantor atau kampus di sela-sela perjalanan.

Kalau berdasarkan artikel ini, kehadiran coworking space di stasiun relatif masih baru sepertinya. Baru menjelang pertengahan tahun ini. Walaupun demikian hadirnya coworking space di stasiun ini merupakan terobosan yang layak diapresiasi!

Transportasi Umum ke Gunung Salak via Cidahu

Dalam event Goat Run – Gunung Salak minggu lalu, berbekal informasi dari internet, saya menggunakan transportasi umum untuk menuju ke Javana Spa (Cidahu, Sukabumi), lokasi race central ajang tersebut. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi juga pengalaman saya kemarin.

Ada dua jenis moda transportasi umum yang bisa dipilih untuk menuju ke sana. Yakni, kereta api dan bus. Kebetulan saya mencoba keduanya. Pergi naik kereta api, pulang naik bus.

Saya berangkat naik kereta api Argo Parahyangan dari Bandung ke Jakarta dan menyambung naik KRL ke Bogor. Dari Stasiun Bogor kemudian saya jalan kaki sedikit menuju Stasiun Bogor Paledang untuk naik KA Pangrango tujuan Sukabumi, turun di Stasiun Cicurug.

Stasiun Bogor Paledang

Dalam sehari, KA Pangrango ini memiliki jadwal 3x perjalanan Bogor-Sukabumi PP. Pastikan kita sudah membeli tiketnya jauh-jauh hari agar tidak kehabisan tempat duduk. Saya menaiki KA Pangrango dengan jadwal keberangkatan pukul 13.10 dan tiba pukul 14.07.

Dari Bandung sebetulnya bisa juga naik bus langsung ke Bogor atau Sukabumi. Tapi saya lebih memilih untuk naik kereta api karena waktu tempuh yang fixed, perjalanan lebih santai, dan bisa ngecharge HP juga.

Stasiun Cicurug

Persis dari depan Stasiun Cicurug, tanpa perlu menyeberang jalan raya, saya langsung melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkutan kota (angkot) berwarna putih menuju Cidahu. Ongkosnya Rp7.000. Angkot ini cukup banyak wira-wiri di depan stasiun.

Continue reading
Loket di Stasiun Bandung

Kini Pembatalan Tiket KAI Bisa Online

Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi dulu bagi saya membatalkan tiket kereta api adalah sebuah aktivitas yang sungguh merepotkan. Di saat proses pembelian tiket sudah online, tapi untuk membatalkannya kita masih harus datang ke stasiun, ambil nomor antrian, dan menunggu dipanggil (untuk dapat membatalkan tiket).

Proses menunggu giliran dilayani itu bisa memakan waktu hingga berjam-jam. Pengalaman terburuk saya di Stasiun Bandung, pernah hampir 2 jam nomor saya belum dapat panggilan. Menurut hitung-hitungan saya ketika itu, saya masih harus menunggu minimal 1 jam lagi. Tidak ingin banyak membuang waktu, saya pun akhirnya memutuskan untuk kembali saja keesokan harinya dan datang lebih pagi.

Biasanya salah satu siasat saya agar tak perlu ikut antrian reguler, adalah datang ke stasiun saat hari H keberangkatan sesuai tiket. Dengan begitu baru kita bisa membatalkan di loket yang disediakan khusus. Tapi tentu saja tidak setiap kasus saya bisa datang ke stasiun pada hari H.

Untungnya, segala kerepotan itu kini dapat dihindari. PT KAI (Kereta Api Indonesia) telah menyediakan opsi pembatalan secara online melalui aplikasi KAI Access. Fitur ini sudah tersedia sejak 2 bulan yang lalu sebenarnya. Bulan lalu saya baru saja berkesempatan untuk mencobanya dan baru hari ini menceritakan pengalaman saya setelah saya memastikan dana refund memang sudah masuk ke rekening saya.

Continue reading