Category Archives: Islam

Belajar Al-Qur’an di Bayyinah TV

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, sebagaimana yang Allah tegaskan pada QS. Yusuf ayat 2 (dan dikatakan juga pada ayat dan surat lainnya), bahwasannya Al-Qur’an Allah turunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, idealnya cara yang paling baik dalam usaha memahami Al-Qur’an adalah dengan menguasai bahasa Arab itu sendiri terlebih dahulu.

Banyak makna yang hilang ketika memahami Al-Qur’an dari terjemahan. Apalagi dalam bahasa Indonesia. Salah satu yang krusial adalah bahasa Indonesia tidak mengenal tenses. Padahal, di dalam ayat Al-Qur’an ada beberapa penggunaan kata kerja dalam bentuk past tense dan present tense. Bentuk tense itu krusial dalam menunjukkan pesan yang ingin disampaikan.

Lalu soal pilihan kata. Sebagai contoh, kata الْيَمِّ (al-yammi) digunakan dalam QS Al-Qasas ayat 7 ketika menyebut ‘sungai’ dalam cerita bayi Nabi Musa yang dijatuhkan oleh ibunya ke sungai Nil. Ada beberapa varian kata ‘sungai’ dalam bahasa Arab, tapi kata tersebut yang dipilih karena memang ia lebih dari sekedar sungai. Kata tersebut bermakna ‘sungai yang dalam’ atau bisa juga ‘sungai yang mematikan’.

Lalu ada kata الْحَمْدُ (al-hamdu) pada kata الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ yang diterjemahkan menjadi ‘segala puji’ (all praise). Makna yang lebih lengkapnya seharusnya adalah ‘segala puji dan terima kasih/syukur’ (all praise and thanks). Jadi kataالْحَمْدُ bermakna dua kata tersebut dalam satu kesatuan.

Adanya gap bahasa yang sangat signifikan itu saya sadari setelah mengikuti kajian Ustadz Nouman Ali Khan di internet. Hal itu tidak saya peroleh ketika belajar di madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah dahulu. Atau mungkin guru sudah menjelaskan, namun tidak memberikan awareness kepada kami sebagai murid mengenai gap bahasa tersebut.

Dari kajian Ustadz Nouman Ali Khan itu, saya jadi berusaha lebih memahami lagi Al-Qur’an dari aspek linguistik yang lain, bukan hanya belajar cara membaca (tilawah) atau memahami terjemahannya saja. Ada banyak aspek linguistik yang dibahas oleh Ustadz Nouman Ali Khan. Di antaranya adalah terkait pilihan kata, susunan ayat, transisi yang digunakan Allah dalam menceritakan sesuatu dan meminta kita agar mengambil pelajaran darinya, dsb.

Kajian Ustadz Nouman Ali Khan itu bisa kita ikuti melalui program Bayyinah TV yang diasuh beliau dan tim di website http://bayyinah.tv/. Ada aplikasi Androidnya juga kok (di sini). Jadi enak kan, daripada bengong saat menunggu atau dalam perjalanan, bisa dapat ilmu mendengarkan kajian beliau melalui HP.

Selain itu, di YouTube juga ada kok channel Bayyinah Institute, tepatnya di https://www.youtube.com/channel/UCRtiU-lpcBSi-ipFKyfIkug. Tapi yang di YouTube biasanya berupa potongan-potongan saja, lengkapnya tetap ditaruh di Bayyinah TV.

Banyak wow moment yang saya dapatkan saat mengikuti kajian beliau. Banyak hal yang baru saya ketahui tentang pemahaman Al-Qur’an dari kajian beliau ini. Yang disampaikan beliau sejatinya juga sudah dibahas oleh ulama-ulama tafsir terdahulu kok. Tapi yang saya suka dari beliau adalah cara beliau menyampaikan yang begitu terstruktur dan disertai contoh-contoh sehingga memudahkan saya untuk memahami. 😊

Advertisements
Buka Puasa di Masjid Negara

Buka Puasa dan Tarawih di Masjid-Masjid di Shah Alam dan KL

Pada awal Ramadhan kemarin, dalam rangka urusan kerjaan, saya terpaksa tinggal selama 6 hari di kota Shah Alam dan Kuala Lumpur, Malaysia. Walaupun sudah beberapa kali ke Malaysia, ini pertama kalinya saya ke sana saat bulan Ramadhan.

Sebuah pengalaman yang saya sudah nanti-nantikan sebelumnya. Saya ingin sekali suatu saat bisa merasakan suasana Ramadhan di negara lain. Alhamdulillah akhirnya kesempatan itu datang juga di Ramadhan tahun ini.

Tidak ada perbedaan yang signifikan terkait durasi puasa di Shah Alam dan KL ini dengan Bandung, kota di mana saya berdomisili saat ini. Durasi puasa di Shah Alam dan KL ini hanya lebih lama 30 menitan daripada di Bandung. Di Bandung (zona GMT+7) waktu Maghrib adalah pukul 17.41 dan Subuh adalah pukul 04.34 (±13 jam). Sedangkan di KL yang berada di zona waktu GMT+8, waktu Maghrib adalah pukul 19.22 dan Subuh adalah pukul 05.40 (±13,5 jam).

Kesempatan Ramadhan pertama di negeri orang ini pun saya manfaatkan untuk mencoba suasana berbuka puasa dan sholat tarawih di berbagai masjid yang ada di sana. Berikut ini adalah 5 masjid yang sempat saya datangi untuk berbuka puasa dan sholat tarawih selama di sana.

1. Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah (Shah Alam)

Menurut catatan Wikipedia, masjid ini adalah masjid terbesar di Malaysia dan yang kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal di Jakarta, Indonesia. Kabarnya masjid ini mampu menampung jamaah hingga 24.000 orang! Namanya diambil dari nama pendirinya yaitu Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, Sultan Negeri Selangor.

Masjid Sultan Shalahuddin Abdul Aziz Shah saat maghrib

Masjid Sultan Shalahuddin Abdul Aziz Shah saat maghrib

Sayangnya, karena saya baru datang ke masjid ini saat adzan dikumandangkan, saya pun tidak kebagian hidangan berbukanya. Hanya ikut merasakan “suasana”-nya saja 😆.

Memang sangat ramai sekali jamaah yang datang.Tak pasti juga berapa jumlahnya. Tapi mungkin sampai ribuan.

Umumnya yang saya lihat mereka datang dengan keluarga. Banyak saya lihat pasangan suami istri yang duduk secara melingkar makan bersama anak-anaknya. Hidangan buka puasanya sendiri dikemas dalam tupperware-tupperware begitu. Dan menunya langsung makanan berat.

Sholat Maghrib baru dilaksanakan sekitar 15-20 menit setelah adzan. Secara umum, kultur di sini memang berbeda dari yang biasa kita temui di Indonesia. Di Malaysia ini Continue reading

Mendekat Kepada-Nya

Ada program bagi saya sangat menarik di NET TV Biro Jawa Barat. Yakni program mengenai kisah-kisah “hijrah” beberapa artis di Indonesia. Menarik bagi saya karena banyak ibroh yang bisa diperoleh dari kisah-kisah tersebut. Menjadi inspirasi dan sekaligus bahan untuk muhasabah diri.

Salah satunya ketika menonton liputan mengenai Yukie Pas Band ini.

Dari tayangan liputan tersebut, ada kata-kata kang Yukie yang begitu menancap di benak saya. Kang Yukie mengutip potongan sebuah hadits Qudsi yang lengkapnya seperti berikut ini:

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Tidak berhenti di situ. Kang Yukie juga mengingatkan bahwa kebalikan dari itu ialah Allah tidak akan mendekat jika kita tidak mendekat sedikitpun. Pernyataan kang Yukie tersebut entah kenapa begitu menancap dalam diri saya.

Sebagai manusia yang tak pernah luput dari khilaf, adakalanya iman kita turun. Dalam kondisi tersebut kita diuji bagaimana kita mampu bangkit. Atau malah kita semakin terpuruk ke dalam hal-hal negatif.

Ketika manusia sudah terjebak ke dalam kenegatifan, rasa pesimis, sinis, dan skeptis terhadap rahmat Allah akan selalu dibisikkan oleh syetan agar mereka semakin menjauh dari-Nya. Padahal, satu hal yang harus diingat oleh setiap manusia adalah bahwasannya rahmat Allah itu pasti, sebagaimana janji Allah dalam firman-Nya:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

Dan seperti yang dikatakan oleh kang Yukie, inisiatif itu ada pada manusia. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri apakah sudah berusaha mendekatkan diri kepada Allah atau tidak. Karena sedikit saja seorang hamba mendekat kepada-Nya, maka Allah pun akan mendekat dengan lebih cepat.

Kuliah Umum Dr. Zakir Naik di Bekasi

Alhamdulillah Sabtu malam yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk hadir langsung mendengarkan kuliah umum Dr. Zakir Naik di Bekasi, tepatnya di Stadion Patriot Chandrabaga. Ramai juga peserta yang datang pada acara itu. Ramai banget malah. Bahkan jauh melebihi jumlah tiket yang sudah ditetapkan.

Menurut salah satu media berita yang saya baca sebelum acara, tiket yang sudah dilepas tercatat sejumlah 46.000 orang, dengan 4.000 di antaranya adalah tamu undangan VIP. Namun, setelah acara saya membaca postingan salah seorang tokoh panitia di Facebook yang mengabarkan jumlahnya jauh lebih banyak dari itu, lebih dari 50.000 orang karena masih ada ribuan (bahkan puluhan ribu) orang yang terpaksa menonton di luar stadion.

Fariq Naik, putra Dr. Zakir Naik, mengawali kuliah umum dengan tema “Misconception About Islam”. Setelah itu break sholat Isya’ dan dilanjutkan Continue reading

Datang ke The Straight Path Convention 2017

Alhamdulillah 2 pekan lalu saya berkesempatan untuk hadir mengikuti event The Staight Path Convention yang digelar di Matrade Exhibition & Convention Center, Kuala Lumpur. Saya mengetahui event ini dari halaman Facebook Mufti Ismail Menk sekitar sebulan sebelumnya.

Saya tertarik untuk datang terus terang karena ingin mendengarkan secara langsung ceramah dari Mufti Menk. Selama ini saya hanya mengikuti beliau via sosial media dan YouTube saja.

Saya pun langsung mengajak seorang teman untuk mendaftar event ini. Alhamdulillah gayung bersambut. Setelah mendaftar event ini, kami segera membeli tiket penerbangan pulang pergi sekalian jauh-jauh hari, mengingat tanggal event tersebut bertepatan dengan long weekend di Indonesia.

Matrade

Matrade, tempat dilangsungkannya The Straight Path Convention 2017

Satu pekan menjelang hari H, qadarullah, teman saya mengabari bahwa dia terpaksa tidak jadi ikut karena ia baru saja diterima untuk menjadi volunteer dalam suatu program wildlife sanctuary di hutan Sumatra. Sebuah kesempatan yang menurut saya juga sayang jika dia lewatkan. Akhirnya saya pun berangkat sendiri.  

Insya Allah ini kali pertama saya mengikuti konferensi Islam internasional seperti ini. Dengan skala event yang besar pula. Juga  Continue reading

Islamic Arts Museum Malaysia

Melihat Khazanah Seni Islam Dunia di Islamic Arts Museum Malaysia

Artikel ini seharusnya sudah saya tulis dari kemarin-kemarin. Tapi kelupaan terus, haha.

Jadi, dalam perjalanan backpacking saya ke Myanmar 4 bulan yang lalu, saya transit sehari di Kuala Lumpur. Di sana saya menyempatkan diri mengunjungi Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM). Tidak susah menemukan museum ini. IAMM terletak di belakang Masjid Negara atau National Mosque.

Akses terdekat ke sana adalah dengan menaiki KTM dan turun di Stasiun Kuala Lumpur. Dari stasiun bisa menyeberang jalan melalui terowongan. Setelah itu tinggal berjalan kaki menyusuri Jalan Perdana-Jalan Lembah. Selain KTM, kita juga bisa naik LRT dan turun di Stasiun LRT Pasar Seni. Dari stasiun berjalan kaki menyusuri skywalk ke arah Stasiun Kuala Lumpur, menyeberang jalan melalui terowongan, dan nanti keluar tepat di depan Masjid Negara.

Islamic Arts Museum Malaysia

Islamic Arts Museum Malaysia

Tiket masuk museum ini adalah sebesar 14 Ringgit plus pajak (GST) 6%. Penjualan tiket dilayani oleh resepsionis yang ada di dalam lobi. Selain tiket, kita juga akan mendapatkan Continue reading

Lost Islamic History

[Book] Lost Islamic History

Judul : Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation From The Past
Pengarang : Firas Alkhateeb
Penerbit : Hurst & Company, London
Tahun Terbit : September 2014
Tebal : ix + 217 halaman
Cover : Softcover

Awalnya saya mengetahui “Lost Islamic History” ini hanya dari Facebook. Saya suka mengikuti status-status yang dipos di halaman Facebook-nya. Selalu ada info menarik yang dibagikan oleh pengelola akun tersebut. Kebanyakan adalah informasi terkait sejarah Islam yang baru saya ketahui. Atau informasi yang sebelumnya sudah pernah saya dengar sekilas, namun baru saya ketahui detailnya.

Karena itu, ketika saya mengetahui ternyata Lost Islamic History telah diterbitkan dalam sebuah buku, saya pun tertarik untuk memilikinya. Karena baru saja diterbitkan, tentu saja baru ada versi bahasa Inggrisnya saja. Pemesanannya pun saat itu yang saya tahu hanya ada di Amazon atau website penerbitnya (Hurst Publisher – London). Di toko buku Gramedia belum ada. Namun, sebulan yang lalu dapat info dari teman, ternyata Continue reading