Tag Archives: covid-19

Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Libur hari kemerdekaan dan long weekend yang menyusul sesudahnya ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Akhirnya, saya pulang kampung (dan ke luar kota) lagi setelah sekitar setengah tahun mendekam di Bandung.

Kekhawatiran akan tertular Covid-19 atau menjadi carrier tentunya pasti ada. Namun, mumpung ada libur yang bisa dipakai lumayan panjang saat ini, jadi kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Entah kapan lagi libur panjang berikutnya.

Kereta Api menjadi pilihan saya yang paling nyaman dan (insya Allah) aman menurut saya untuk bepergian saat ini walaupun belum ada kereta api yang langsung ke Malang pada tanggal yang saya pilih. Saya harus transit dulu di Surabaya dan berganti kereta api lagi ke Malang.

Tiket sudah saya beli sejak sekitar 10 hari sebelum keberangkatan. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Mungkin memang masih sedikit orang yang bepergian di masa pandemi ini. Atau mungkin lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Untuk dapat diizinkan melakukan perjalanan dengan kereta api, setiap calon penumpang wajib juga untuk menyertakan surat keterangan non-reaktif pada hasil rapid test-nya. Surat ini akan diperiksa saat pemeriksaan tiket di pintu boarding.

Continue reading

Marhaban Ya Ramadan 1441 H

Petang tadi pemerintah telah secara resmi menetapkan malam ini kita telah memasuki malam awal Ramadan. Esok hari (24 April 2020) adalah hari pertama kita berpuasa.

Ramadan kali ini mungkin akan menjadi Ramadan yang tak akan terlupakan dalam hidup kita. Ramadan di kala wabah covid-19, di mana masyarakat dihimbau untuk menghindari segala bentuk kerumunan, termasuk kegiatan sholat berjamaah di masjid.

Sholat tarawih di masjid yang menjadi ciri khas ibadah keseharian umat muslim di bulan Ramadan pun terpaksa ditiadakan. Masyarakat dihimbau untuk melaksanakan sholat tarawih di kediaman masing-masing.

Ada perasaan yang aneh tentunya menjalani Ramadan dengan kondisi seperti ini. Jika dulu semangat beribadah kita di bulan Ramadan terbantu oleh suasana yang terbentuk di lingkungan sekitar kita. Pada masa pandemi ini, suasana itu mungkin tidak akan kita temukan.

Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi kita untuk tetap bersemangat memanfaatkan momen bulan Ramadan ini untuk meningkatkan ketakwaan kita sebagaimana tujuan berpuasa Ramadan itu sendiri (QS. Al-Baqarah 183).

Hikmahnya mungkin Ramadan kali ini bisa menjadi momen untuk fokus mengokohkan pondasi ketakwaan dalam entitas terkecil di masyarakat, yakni keluarga. Yakni, dengan membangun iklim keilmuan dan ketaatan dalam keluarga, seperti belajar bersama-sama, membaca Qur’an bersama-sama, beribadah tarawih bersama-sama, dan sebagainya.

Di awal bulan Ramadan ini, saya ingin mengucapkan juga selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan kepada rekan-rekan pembaca sekalian. Semoga kita semua bisa memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya.

Marhaban ya Ramadan 1441 H!

Covid-19 Diary (4) : Berjemur

Salah satu kebiasaan masyarakat yang saya perhatikan mulai muncul sejak wabah coronavirus ini terjadi adalah kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari. Setidaknya itu yang saya perhatikan di permukiman sekitar tempat tinggal saya di Bandung.

Setiap 2-3 hari sekali saya lari pagi ke luar rumah. Ketika lari pagi itulah saya melihat beberapa warga berada di luar rumah mereka masing-masing sambil melakukan senam atau sekadar berdiri saja. Kebanyakannya adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang mungkin sudah berusia 40 tahun ke atas.

Selain di permukiman, saya lihat beberapa petugas keamanan yang berjaga di beberapa kafe di daerah Dago juga menyempatkan diri untuk berjemur di area yang disinari matahari di halaman kafenya.

Orang-orang rata-rata berjemur dengan menghadap atau memunggungi arah datangnya sinar matahari dari sisi timur. Beberapa orang, terutama bapak-bapak atau anak kecil, bahkan sampai membuka baju agar bisa terpapar sinar matahari secara maksimal. Saya paling banyak menjumpai warga yang berjemur ini pada waktu sekitar jam 9 pagi.

Kebiasaan berjemur ini sebetulnya bukan hal baru. Waktu kecil dulu rasanya sering sekali mendapat nasehat untuk keluar rumah pada pagi hari agar mendapatkan sinar matahari. Di Jawa bahkan ada istilah khusus untuk aktivitas berjemur, yakni “dede”. Mungkin penamaan tersebut ada hubungannya dengan khasiat berjemur yang katanya bisa menambah vitamin D.

Kebiasaan ini semakin sering terlihat di masyarakat pada masa pandemi Covid-19 ini. Bahkan tak jarang dilakukan bersama-sama, tentunya dengan tetap menjaga jarak. Seperti yang dilakukan oleh prajurit-prajurit di Koramil 01/Purwodadi sebagaimana yang diberitakan di sini.

Ramainya orang berjemur ini mungkin karena banyak kabar yang menyebutkan bahwa virus Corona yang menjadi penyebab Covid-19 ini tidak kuat terhadap suhu panas walaupun masih belum ada bukti kuat yang mendukung hal tersebut. Yang pasti, menurut beberapa penelitian berjemur dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh.

Hanya saja masih ada perdebatan mengenai waktu terbaik untuk berjemur ini. Ada yang bilang di atas jam 10 tidak bagus. Ada pula yang bilang di atas jam 10 lebih optimal.

Kalau menurut saya, terkait waktu berjemur ini patokannya memang tidak bisa pakai jam karena waktu matahari terbit di setiap daerah tidak sama. Namun kita bisa mengikuti anjuran untuk menyesuaikan lamanya waktu berjemur sesuai intensitas sinar matahari. Kalau sudah dirasa panas, sebaiknya tidak perlu berlama-lama untuk amannya.

Cincang bahan makanan

Covid-19 Diary (3) : Memasak di Rumah

Sejak himbauan physical distancing dan stay at home digaungkan, saya menjadi punya banyak waktu di rumah. Tidak banyak waktu yang dihabiskan untuk perjalanan atau acara di luar.

Untuk mengisi kegiatan di rumah, selain WFH (work from home), saya juga memasak di rumah. Memasak ternyata bisa menjadi cara alternatif untuk refreshing alias mengusir rasa kebosanan di rumah.

Bereksperimen dengan bumbu masakan dan memasak berbagai aneka masakan ternyata bisa menyenangkan. Plus, bisa menghemat pula. Hehehe.

Tapi saya belum bereksperimen masak dengan bumbu yang beraneka macam. Hanya memanfaatkan bumbu masakan seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, cabai, dan jahe.

Untuk sayuran, sejauh ini cuma bikin sop, tumis wortel dan kol, tumis kangkung, dan tumis daun pepaya. Daun pepaya itu pun ngambil dari pohon di halaman rumah. Hehehe. Untuk lauk, saya simpel saja, cuma masak dengan cara digoreng biasa atau digoreng krispi.

Lele dengan tumis daun pepaya

Kalau memasak yang lebih niat ternyata memang harus sabar dan bumbu-bumbunya harus dilengkapi dulu. Hehehe. Spend waktunya pun lebih banyak. Sedangkan saya yang penting bisa makan saja tanpa harus keluar rumah. Hehehe.

Sayur lodeh dengan lele goreng

Untuk beli bahan makanan pun sekarang juga sudah praktis. Bisa pesan online. Tinggal pilih-pilih saja di website e-commerce. Mau sayuran, daging, ikan, buah-buahan, semua ada. Harga juga standar. Bahkan beberapa e-commerce memberikan promo gratis ongkos kirim.

Namun saya tidak setiap hari masak sendiri. Saya masih buat selang-seling juga dengan beli makanan dan belanja sayuran di luar dekat rumah.

Saya rasa kita juga harus tetap ikut membantu melariskan dagangan pedagang-pedagang di sekitar kita. Apalagi di masa-masa sulit seperti sekarang.

Jl. Dago ditutup

Covid-19 Diary (2) : Jalan Ditutup di Bandung

Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung selama masa physical distancing ini adalah penutupan sejumlah jalan di beberapa tempat. Utamanya jalan-jalan protokol Kota Bandung seperti Jl. Ir. H. Juanda (Dago), Jl. Diponegoro, Jl. Asia Afrika, Jl. Merdeka, dan Jl. Braga.

Kebijakan ini mulai diterapkan sejak Sabtu malam tanggal 28 Maret 2020. Pada tanggal tersebut bertepatan dengan hari ke-13 sejak himbauan untuk physical distancing digaungkan pada tanggal 16 Maret 2020.

Pada hari Minggu paginya tanggal 29 Maret 2020 saya sempat berolahraga di Taman Cikapayang Dago. Tidak ramai. Beberapa pesepeda juga ada yang singgah di sana.

Menjelang jam 9 pagi seorang petugas Dishub memberikan pengumuman melalui pengeras suara agar para pengunjung Taman Cikapayang Dago segera pulang ke rumah masing-masing. Tak lama kemudian Jl. Ir. H. Juanda mulai ditutup.

Taman Cikapayang Dago menjelang penutupan Jl. Ir. H. Juanda (29 Maret 2020)

Namun, sepertinya kebijakan penutupan jalan ini tidak berlaku full seharian. Hanya jam-jam tertentu saja. Dan sepertinya jam-jam penutupannya juga tidak pasti setiap harinya.

Saya yang sesekali pergi ke kantor melalui daerah sekitar Dago, kadang melihat jalan Dago dibuka dan kadang ditutup pada pagi hari sekitar jam 9. Hal yang sama saya jumpai ketika pulang sekitar jam Isya. Kadang buka, kadang tutup. Tidak pasti.

Pengumuman jam penutupan jalan pada 29 Maret 2020

Kebijakan penutupan jalan ini masih berlaku hingga tulisan ini dibuat. Dan sepertinya masih akan berlangsung hingga situasi membaik.

Objektif dari kebijakan ini sepertinya memang untuk mengurangi mobilitas warga. Warga dihimbau untuk tinggal di rumah.

Pertigaan Jalan Ganeca-Jl. Ir. H. Juanda ditutup (10 April 2020)

Awal-awal himbauan physical distancing, sepertinya para warga cukup menurut. Jalan di sekitar Dago menjadi sangat sepi. Namun, belakangan ini jalan mulai agak ramai lagi walaupun masih jauh untuk disebut normal.

Orang-orang ternyata masih cukup banyak yang berpergian walaupun mengetahui ada penutupan jalan. Warga masih bisa melalui jalan alternatif, biasanya jalan yang paralel dengan jalan yang ditutup tersebut.

Covid-19 Diary (1) : Sudah 3 Minggu Work From Home

Terinspirasi dari tulisan berjudul For the Sake of History, Keep a Coronavirus Diary di Medium, saya mencoba untuk menuliskan diary mengenai situasi dan kondisi sekitar saya selama pandemi Covid-19 ini. Ada kalimat menarik dari tulisan tersebut yang saya pikir memang tepat sekali.

“What we’re often doing as historians or consumers of diaries is closing that distance between what we know now and what the person writing the diary knew then.”

Dalam memandang suatu peristiwa, biasanya akan terjadi gap pemahaman antara orang yang berada di luar peristiwa dan pelaku di dalam peristiwa. Sesama pelaku peristiwa saja sangat mungkin untuk memiliki perbedaan persepsi. Ketika mereka masing-masing bisa mengeluarkan opini dari perspektif mereka, di sanalah kita yang berada di luar bisa connecting the dots dan menarik kesimpulan atas peristiwa tersebut.

Pekerjaan memahami peristiwa di masa lampau tentunya secara logika akan lebih tricky karena terpisahkan oleh dimensi waktu. Kita tidak bisa bertanya langsung kepada pelaku peristiwa tersebut.

Karena itu keberadaan diary atau tulisan secara umum bisa menjadi sebuah legacy yang bermanfaat bagi generasi penerus nanti untuk memahami peristiwa di masa sekarang. Walaupun yang saya tulis ini juga cuma remah-remah saja sebetulnya.

Continue reading