Tag Archives: physical distancing

Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Libur hari kemerdekaan dan long weekend yang menyusul sesudahnya ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Akhirnya, saya pulang kampung (dan ke luar kota) lagi setelah sekitar setengah tahun mendekam di Bandung.

Kekhawatiran akan tertular Covid-19 atau menjadi carrier tentunya pasti ada. Namun, mumpung ada libur yang bisa dipakai lumayan panjang saat ini, jadi kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Entah kapan lagi libur panjang berikutnya.

Kereta Api menjadi pilihan saya yang paling nyaman dan (insya Allah) aman menurut saya untuk bepergian saat ini walaupun belum ada kereta api yang langsung ke Malang pada tanggal yang saya pilih. Saya harus transit dulu di Surabaya dan berganti kereta api lagi ke Malang.

Tiket sudah saya beli sejak sekitar 10 hari sebelum keberangkatan. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Mungkin memang masih sedikit orang yang bepergian di masa pandemi ini. Atau mungkin lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Untuk dapat diizinkan melakukan perjalanan dengan kereta api, setiap calon penumpang wajib juga untuk menyertakan surat keterangan non-reaktif pada hasil rapid test-nya. Surat ini akan diperiksa saat pemeriksaan tiket di pintu boarding.

Continue reading
Cincang bahan makanan

Covid-19 Diary (3) : Memasak di Rumah

Sejak himbauan physical distancing dan stay at home digaungkan, saya menjadi punya banyak waktu di rumah. Tidak banyak waktu yang dihabiskan untuk perjalanan atau acara di luar.

Untuk mengisi kegiatan di rumah, selain WFH (work from home), saya juga memasak di rumah. Memasak ternyata bisa menjadi cara alternatif untuk refreshing alias mengusir rasa kebosanan di rumah.

Bereksperimen dengan bumbu masakan dan memasak berbagai aneka masakan ternyata bisa menyenangkan. Plus, bisa menghemat pula. Hehehe.

Tapi saya belum bereksperimen masak dengan bumbu yang beraneka macam. Hanya memanfaatkan bumbu masakan seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, cabai, dan jahe.

Untuk sayuran, sejauh ini cuma bikin sop, tumis wortel dan kol, tumis kangkung, dan tumis daun pepaya. Daun pepaya itu pun ngambil dari pohon di halaman rumah. Hehehe. Untuk lauk, saya simpel saja, cuma masak dengan cara digoreng biasa atau digoreng krispi.

Lele dengan tumis daun pepaya

Kalau memasak yang lebih niat ternyata memang harus sabar dan bumbu-bumbunya harus dilengkapi dulu. Hehehe. Spend waktunya pun lebih banyak. Sedangkan saya yang penting bisa makan saja tanpa harus keluar rumah. Hehehe.

Sayur lodeh dengan lele goreng

Untuk beli bahan makanan pun sekarang juga sudah praktis. Bisa pesan online. Tinggal pilih-pilih saja di website e-commerce. Mau sayuran, daging, ikan, buah-buahan, semua ada. Harga juga standar. Bahkan beberapa e-commerce memberikan promo gratis ongkos kirim.

Namun saya tidak setiap hari masak sendiri. Saya masih buat selang-seling juga dengan beli makanan dan belanja sayuran di luar dekat rumah.

Saya rasa kita juga harus tetap ikut membantu melariskan dagangan pedagang-pedagang di sekitar kita. Apalagi di masa-masa sulit seperti sekarang.

Jl. Dago ditutup

Covid-19 Diary (2) : Jalan Ditutup di Bandung

Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung selama masa physical distancing ini adalah penutupan sejumlah jalan di beberapa tempat. Utamanya jalan-jalan protokol Kota Bandung seperti Jl. Ir. H. Juanda (Dago), Jl. Diponegoro, Jl. Asia Afrika, Jl. Merdeka, dan Jl. Braga.

Kebijakan ini mulai diterapkan sejak Sabtu malam tanggal 28 Maret 2020. Pada tanggal tersebut bertepatan dengan hari ke-13 sejak himbauan untuk physical distancing digaungkan pada tanggal 16 Maret 2020.

Pada hari Minggu paginya tanggal 29 Maret 2020 saya sempat berolahraga di Taman Cikapayang Dago. Tidak ramai. Beberapa pesepeda juga ada yang singgah di sana.

Menjelang jam 9 pagi seorang petugas Dishub memberikan pengumuman melalui pengeras suara agar para pengunjung Taman Cikapayang Dago segera pulang ke rumah masing-masing. Tak lama kemudian Jl. Ir. H. Juanda mulai ditutup.

Taman Cikapayang Dago menjelang penutupan Jl. Ir. H. Juanda (29 Maret 2020)

Namun, sepertinya kebijakan penutupan jalan ini tidak berlaku full seharian. Hanya jam-jam tertentu saja. Dan sepertinya jam-jam penutupannya juga tidak pasti setiap harinya.

Saya yang sesekali pergi ke kantor melalui daerah sekitar Dago, kadang melihat jalan Dago dibuka dan kadang ditutup pada pagi hari sekitar jam 9. Hal yang sama saya jumpai ketika pulang sekitar jam Isya. Kadang buka, kadang tutup. Tidak pasti.

Pengumuman jam penutupan jalan pada 29 Maret 2020

Kebijakan penutupan jalan ini masih berlaku hingga tulisan ini dibuat. Dan sepertinya masih akan berlangsung hingga situasi membaik.

Objektif dari kebijakan ini sepertinya memang untuk mengurangi mobilitas warga. Warga dihimbau untuk tinggal di rumah.

Pertigaan Jalan Ganeca-Jl. Ir. H. Juanda ditutup (10 April 2020)

Awal-awal himbauan physical distancing, sepertinya para warga cukup menurut. Jalan di sekitar Dago menjadi sangat sepi. Namun, belakangan ini jalan mulai agak ramai lagi walaupun masih jauh untuk disebut normal.

Orang-orang ternyata masih cukup banyak yang berpergian walaupun mengetahui ada penutupan jalan. Warga masih bisa melalui jalan alternatif, biasanya jalan yang paralel dengan jalan yang ditutup tersebut.