Category Archives: Indonesia

Jalan-Jalan di Indonesia

Naik Pesawat dari Bandara Kertajati

Pada malam Idul Adha pekan lalu untuk pertama kalinya saya mencoba naik pesawat dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Nama resminya memang BIJB, tapi bandara ini juga dikenal dengan panggilan Bandara Kertajati karena lokasinya yang berada di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Bahkan bus Damri yang melayani trayek Bandung-BIJB lebih memilih nama Bandara Kertajati untuk disematkan di papan nama jurusan yang dipasang di kaca depannya.

Pada bulan Agustus ini, kebetulan AirAsia baru saja membuka rute baru Kertajati (KJT)-Surabaya (SUB). Harga yang ditawarkannya masih harga promo, yakni sebesar Rp380 ribu untuk KJT-SUB dan Rp400 ribu untuk SUB-KJT. Jauh lebih murah daripada harga tiket kereta api eksekutif yang umumnya sekitar Rp500 ribu.

Untuk transportasi Bandung-Bandara Kertajati saya menumpang bus Damri. Bus Damri ini berangkat dari pool Damri yang berada di Jalan Kebon Kawung, persis di depan Stasiun Hall Bandung.

Bus Damri parkir di Pool Damri Jl. Kebon Kawung, Bandung
Loket dan ruang tunggu penumpang Pool Damri Jl. Kebon Kawung, Bandung

Sekadar informasi, saat ini bus Damri Bandung-Kertajati masih dalam masa promosi lho. Calon penumpang pesawat cukup menunjukkan tiket pesawatnya kepada petugas loket untuk mendapatkan tiket bus Damri gratis ke Bandara Kertajati.

Continue reading
Advertisements

Transportasi Umum ke Gunung Salak via Cidahu

Dalam event Goat Run – Gunung Salak minggu lalu, berbekal informasi dari internet, saya menggunakan transportasi umum untuk menuju ke Javana Spa (Cidahu, Sukabumi), lokasi race central ajang tersebut. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi juga pengalaman saya kemarin.

Ada dua jenis moda transportasi umum yang bisa dipilih untuk menuju ke sana. Yakni, kereta api dan bus. Kebetulan saya mencoba keduanya. Pergi naik kereta api, pulang naik bus.

Saya berangkat naik kereta api Argo Parahyangan dari Bandung ke Jakarta dan menyambung naik KRL ke Bogor. Dari Stasiun Bogor kemudian saya jalan kaki sedikit menuju Stasiun Bogor Paledang untuk naik KA Pangrango tujuan Sukabumi, turun di Stasiun Cicurug.

Stasiun Bogor Paledang

Dalam sehari, KA Pangrango ini memiliki jadwal 3x perjalanan Bogor-Sukabumi PP. Pastikan kita sudah membeli tiketnya jauh-jauh hari agar tidak kehabisan tempat duduk. Saya menaiki KA Pangrango dengan jadwal keberangkatan pukul 13.10 dan tiba pukul 14.07.

Dari Bandung sebetulnya bisa juga naik bus langsung ke Bogor atau Sukabumi. Tapi saya lebih memilih untuk naik kereta api karena waktu tempuh yang fixed, perjalanan lebih santai, dan bisa ngecharge HP juga.

Stasiun Cicurug

Persis dari depan Stasiun Cicurug, tanpa perlu menyeberang jalan raya, saya langsung melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkutan kota (angkot) berwarna putih menuju Cidahu. Ongkosnya Rp7.000. Angkot ini cukup banyak wira-wiri di depan stasiun.

Continue reading

Lari di Goat Run Lunar Series – Gunung Salak 20K

Setelah tahun lalu lari di Gunung Guntur (Garut, Jawa Barat), kali ini saya kembali lagi mengikuti ajang lari lintas alam (trail run) yang lain di Gunung Salak (Sukabumi, Jawa Barat). Penyelenggaranya masih sama, yakni Go Adventure. Gunung Salak ini menjadi pembuka dari series bertajuk Goat Run Lunar Series.

Motivasi saya mengikuti ajang ini adalah untuk mengobati kerinduan mendaki gunung dan merasakan suasana hutan. Selain itu kebetulan saya juga belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Gunung Salak.

Ada 3 kategori yang dibuka dalam series kali ini. Yakni, 20K, 50K, dan 75K. Saya mendaftar kategori 20K. Kategori 20K kebagian waktu start pada hari Minggu, 4 Agustus 2019 pukul 6 pagi. Sementara itu, kategori 50K dan 75L start pada Sabtu, 3 Agustus 2019 pukul 00.00. Semua kategori memiliki garis start dan finish di lokasi yang sama, yakni di Javana Spa (Cidahu, Sukabumi).

Pada ajang lari lintas alam kedua yang saya ikuti ini target saya tidak muluk-muluk. Yakni bisa finish strong dan perform lebih baik daripada yang pertama di Gunung Guntur dulu.

baca juga: Trail Run di Goat Run Series 2018 – Gunung Guntur (Bag. 1)

Alhamdulillah target saya tercapai. Saya bisa finish di peringkat 8 dari 49 peserta 20K pria. Sedangkan di Gunung Guntur tahun lalu saya finish di peringkat 43 dari 95 peserta 20K pria. Memang sih peserta di Gunung Salak ini tidak sebanyak di Gunung Guntur dulu. Tapi tetap saya syukuri bisa finish lebih baik dari sebelumnya.

Continue reading

Menjajal MRT Jakarta

Setelah 4 bulan lamanya, saya kembali berkunjung ke Jakarta lagi 2 pekan lalu. Kesempatan ke Jakarta itu saya manfaatkan untuk menjajal MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta alias Ratangga yang resmi beroperasi pada 1 April 2019 yang lalu.

Sepulang dari urusan di kawasan Kuningan, saya sengaja pergi ke Bundaran HI (Hotel Indonesia), salah satu lokasi stasiun ujung MRT Jakarta. Stasiun Bundaran HI ini berada di bawah tanah. Ada beberapa pintu masuk yang tersebar di trotoar sekitaran Bundaran HI.

Hari itu adalah hari kerja. Saya mencoba MRT ini di saat orang-orang pulang kerja, sekitar jam 6 kurang menjelang maghrib. Ramai sekali pekerja perkantoran Jalan Sudirman yang menumpang MRT ini.

Tujuan saya petang itu adalah Stasiun Istora. Saya meetup dengan teman saya yang memang kantornya dekat dari stasiun tersebut. Mumpung di Jakarta juga kan, ketemuan dengan teman lama. Dia juga baru saja pulang kerja.

Pintu masuk Stasiun Istora

Enaknya Stasiun Istora ini, di dalamnya ada beberapa tenant berupa convenience store, toko roti, dan kafe. Teman saya mengajak ketemuan di Auntie Anne’s. Di sana kami mengobrol sampai sekitar jam 7 malam.

Terkait dengan MRT Jakarta sendiri, menurut saya stasiun dan keretanya sudah keren banget dan bersih juga tentunya. Sayangnya, sepertinya masih ada masalah pada passenger gate-nya, gate tempat kita tap-in dan tap-out kartu kita.

Di dalam MRT Jakarta

Entahlah. Saya merasa scanner yang digunakan di gate tersebut kurang responsif. Antrian sempat sedikit tersendat waktu keluar di Stasiun Bundaran HI. Ada penumpang yang sudah tap kartu dia tapi pintu tidak terbuka. Ketika tiba giliran saya, pintu dibiarkan terbuka terus. Sepertinya sebagai solusi atas masalah sebelumnya itu.

Selain itu, saya merasa jumlah gate yang disediakan agak kurang. Saya membayangkan pada jam sibuk pasti antriannya akan begitu panjang.

Kemudian terkait dengan papan signage. Rasanya agak kurang. Terutama papan signage yang menunjukkan ke mana pintu keluar. Begitu tiba dari naik eskalator peron, saya agak kebingungan akan jalan ke arah mana. Sebab pintu keluar terbagi ke dua arah.

Di depan eskalator atau tangga naik penumpang itu tidak ada papan yang memberitahu nama masing-masing pintu keluar itu. Kita harus jalan dulu hingga ke passenger gate baru menemukan signage nama pintu keluar itu.

Iya kalau arah passenger gate yang kita tuju itu benar. Kalau ternyata pintu keluar yang kita maksud ada di arah berlawanan, kita tentu harus balik arah lagi yang lumayan juga jauhnya.

Terlepas dari kekurangan itu, tentunya dengan hadirnya MRT Jakarta ini akan memudahkan mobilitas warga Jakarta. Sayang jika sampai tidak dimanfaatkan. Apalagi waktu tempuhnya juga sangat cepat dibandingkan transportasi jalan raya, sehingga dapat menjadi solusi menghindari kemacetan Jakarta.

Outbound di Grafika Cikole

Hari Ahad minggu kemarin (14/4) saya bersama teman-teman kantor mengadakan acara jalan-jalan ke Lembang. Tepatnya di Terminal Wisata Grafika Cikole. Di sana kami bermain paintball dan permainan outbound lainnya.

Seperti jalan-jalan sebelumnya ke Ranca Upas, kali ini kami juga motoran ramai-ramai ke Cikole. Bedanya kali ini perjalanan tak sampai sejauh ke Ranca Upas.

Baca juga: Camping di Kampung Cai Ranca Upas

Gerbang pintu UPI menjadi meeting point kami. Setelah semuanya komplit, pukul 8.30 kami meninggalkan UPI menuju ke Grafika Cikole.

Tidak semuanya ikut meeting point di UPI. Teman-teman yang dari Cimahi janjian langsung ketemu di Grafika Cikole karena memang melalui rute yang berbeda.

Kumpul di depan UPI
Kumpul di depan UPI

Pagi itu jalan menuju Lembang cukup padat di beberapa titik. Terutama menjelang Farm House. Selepas itu jalanan relatif lebih lengang, apalagi selepas Alun-Alun Lembang.

Kurang lebih waktu tempuh perjalanan kami adalah 30 menit untuk sampai di Grafika Cikole. Tak lama kemudian rombongan dari Cimahi tiba juga di Grafika Cikole.

Continue reading
Ranca Upas

Camping di Kampung Cai Ranca Upas

Selepas dari jalan-jalan ke Kawah Cibuni Rengganis Sabtu itu (19/1), saya dan teman-teman tidak langsung pulang ke Bandung. Kami semua pergi ke Kampung Cai Ranca Upas yang juga masih berada di kawasan Ciwidey.

Kami memang berencana untuk camping di sana. Perlengkapan seperti tenda, matras, sleeping bag, lampu senter, kompor portable, panci, dan peralatan makan sudah kami bawa. Khusus untuk tenda, matras, dan sleeping bag, kami menyewanya di salah satu toko rental peralatan outdoor yang ada di Jl. Gagak, Bandung sebelum berangkat.

Tiket Masuk

Kampung Cai Ranca Upas ini adalah sebuah kompleks tempat wisata alam yang menawarkan berbagai macam aktivitas di sana. Selain camping, aktivitas lain yang juga tidak kalah populernya adalah berkunjung ke penangkaran rusa.

Jika ingin camping, setiap pengunjung akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp10.000, selain biaya tiket masuk sebesar Rp15.000. Selain itu ada biaya tambahan yang dikenakan untuk sepeda motor yang menginap. Biayanya Rp5.000 per sepeda motor, selain biaya parkir normal Rp3.000.

Jadi untuk berkemah di Ranca Upas, setiap orang setidaknya akan perlu mengeluarkan biaya Rp25.000 dan Rp8.000 untuk parkir sepeda motornya. Untuk mobil, saya tidak tahu biayanya.

Semua biaya itu dibayarkan saat akan melewati pos penjagaan di gerbang masuk kompleks. Ada petugas yang akan menghitung.

Area parkir sepeda motor di Ranca Upas
Area parkir sepeda motor di Ranca Upas

Oh ya, jangan lupa bawa uang yang cukup ya. Di sana tidak ada ATM soalnya.

Continue reading
Kawah Cibuni Rengganis

Berendam Air Panas Belerang di Kawah Cibuni Rengganis

Sabtu minggu lalu (19/1) saya bersama teman-teman kantor jalan-jalan ke salah satu tempat wisata di kawasan Ciwidey, Bandung Selatan, yakni Kawah Cibuni atau dikenal juga dengan nama Kawah Rengganis. Kawah Cibuni ini berada tidak jauh dari Situ Patengan, salah satu tempat wisata yang sangat terkenal di Ciwidey.

Kami datang menjelang waktu Dhuhur. Saat itu, Kawah Cibuni ini tidak begitu ramai didatangi pengunjung. Cuaca agak sedikit mendung.

Tidak ada tiket yang dipungut untuk memasuki kawasan wisata ini. Kita hanya dikenakan biaya parkir sepeda motor sebesar Rp5.000 per motor.

Sebelum ini, menurut penuturan teman saya yang sudah 2 kali pergi ke sana, ada biaya tiket masuk yang dikenakan. Ketika itu memang Kawah Cibuni masih dikelola oleh perusahaan swasta. Namun pengelolaan itu sekarang diserahkan ke warga karena perusahaan tersebut rupanya tidak mengantongi izin.

Sepintas topografi Kawah Cibuni ini mengingatkan saya pada kawah di Gunung Papandayan. Asap belerang mengepul dari beberapa lubang di sela-sela bebatuan kapur berwarna kekuningan. Warna kuning itu sepertinya dihasilkan karena batu terpapar asap belerang secara terus-menerus.

Continue reading