Tag Archives: kawah

Kelud Volcano Road Run 2018

Lari di Kelud Volcano Road Run (KVRR) 2018

Dua minggu lalu saya mengikuti ajang lari bertajuk Kelud Volcano Road Run (KVRR) 2018 dengan rute berjarak 10 km. Sesuai namanya, ajang tersebut diadakan di Gunung Kelud yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dengan medan lari berupa jalan beraspal.

Ada medan trail-nya juga sih, berupa tanah pasir berkerikil. Tapi panjangnya kira-kira tidak lebih dari 1 km. Itupun baru ditemui menjelang garis finish yang terletak di sekitar kawah Gunung Kelud.

Trek 1 km terakhir menjelang finish

Trek 1 km terakhir menjelang finish

Untuk elevasinya, dalam KVRR ini peserta berlari dari ketinggian sekitar 600 meter dan finish di ketinggian sekitar 1200 meter. Kalau menurut catatan aplikasi saya, bahkan di KM 9 ketinggiannya mencapai 1324 meter. Lumayan tinggi kan? Bisa dibayangkan kayak gimana tanjakannya. Hahaha.

Elevasi KVRR 2018

Elevasi KVRR 2018

Saya sendiri baru bisa berlari dengan pace normal ketika turunan di 1 kilometer terakhir dan satu Continue reading

Advertisements

Pendakian Gunung Sumbing Via Kaliangkrik (Bag. 3-Tamat): Puncak Sejati

Senin, 26 Desember 2016

Pukul 1.30 alarm dari HP Kuncoro berdering. Tak lama kemudian Kuncoro membangunkan kami semua. Butuh beberapa menit bagi saya untuk benar-benar tersadar.

Usai membangunkan kami, Kuncoro keluar untuk menyalakan kompor. Ia memasak air untuk membuat minuman hangat.

Niam yang juga sudah bangun, mengeluarkan bungkus mie goreng dari dalam tasnya. Ia lalu menyalakan kompor yang lainnya untuk membuat mie goreng. Sudah lapar rupanya dia, hahaha.

Setelah kantuk saya benar-benar hilang, saya keluar dari tenda agar badan bisa menyesuaikan diri dengan hawa dingin di luar. Dan tentunya supaya tidak mengantuk lagi, hehehe.

Kami berencana untuk melakukan perjalanan summit dini hari itu. Kami sengaja bangun dini hari sekali karena waktu kami terbatas. Kami menargetkan jam 5 sore paling telat sudah tiba di Kota Magelang.

Beberapa saat kemudian saya kembali ke dalam tenda untuk menyiapkan barang-barang yang hendak dibawa dalam perjalanan ke puncak dini hari itu. Air mineral, powerbank, dan ponco saya masukkan ke dalam tas kecil.

Ketika kami semua sudah bersiap akan berangkat, ternyata Continue reading

Foto bersama sebelum mulai mendaki

17 Agustusan di Gunung Papandayan (Bag. 1)

Ini adalah cerita pendakian aku dan teman-temanku pada bulan Agustus kemarin ke Gunung Papandayan. Saat itu di grup secara random tiba-tiba ada teman yang melempar wacana untuk naik gunung. Kebetulan sudah hampir setahun lamanya aku nggak nanjak dan lagi pingin banget naik gunung lagi. Aku pun menyambut positif wacana tersebut.

Disepakatilah Gunung Papandayan yang terletak di Kabupaten Garut sebagai pilihan kami. Papandayan kami pilih karena lokasinya dekat dari Bandung, Cikarang, dan Jakarta — kota domisili kami — dan urusan perizinan pendakiannya tidak ribet. Setahun sebelumnya aku sempat mendaki ke sana. Namun, ketika itu tidak sampai camping di sana. Naik pagi, turun sore.

Tanggal yang kami sepakati secara kebetulan bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Bukan sebuah kesengajaan sebetulnya. Kawan-kawan banyak bisanya hanya tanggal segitu, weekend yang terdekat dari tanggal pelemparan wacana.

Kami sadar betul bahwa pada tanggal segitu pasti Papandayan akan dipenuhi dengan pendaki yang ingin merayakan hari kemerdekaan di gunung. Kalau boleh memilih, sebenarnya kami ingin menghindari tanggal tersebut, karena aku pribadi kurang suka naik gunung yang terlalu ramai dengan pendaki. Satu hal yang kucari dari naik gunung adalah ketenangannya, yang jauh dari hiruk pikuk keramaian manusia.

Meeting Point di Terminal Cicaheum, Bandung

Sabtu, 16 Agustus, sekitar pukul setengah 10 pagi kami berkumpul di seberang Terminal Cicaheum, Bandung. Total rombongan ada 6 orang. Aku dan Gin, kami berdua berdomisili di Bandung jadi langsung ke Terminal Cicaheum dari rumah masing-masing. Sementara Pambudi, Listiyanto, Arif, dan Reza datang dari Cikarang dengan menggunakan bus PRIMAJASA ke Terminal Leuwi Panjang lalu menyambung bus DAMRI ke Cicaheum.

Di seberang Terminal Cicaheum sudah menunggu elf tujuan Garut. Elf tersebut tengah ngetem mencari penumpang. Kami ditarik oleh sang kernet untuk naik elf tersebut. Di dalam elf sudah ada 1 orang sesama calon pendaki Papandayan. Tas-tas carrier kami oleh sang kernet tersebut ditempatkan di atas elf.

Elf ke Garut

Elf ke Garut

Perjalanan dari Cicaheum menuju Terminal Guntur di Garut dengan elf ini menempuh waktu kurang lebih 2 jam. Ongkosnya Rp20.000 per penumpang.

Sesampainya di Terminal Guntur, kami mampir ke salah satu warung makan yang terletak di seberang terminal. Warung makan tersebut menjual sop iga yang ternyata bagi kami rasanya sangat enak! Tapi mahal sih harganya, Rp23.000. Tapi nasinya dikasih bakulan, jadi bisa nambah-nambah. Kami makan dengan lahapnya siang itu. Maklum, pada belum sarapan paginya hehe.

Makan siang sop iga

Makan siang sop iga

Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kami naik angkot warna putih-biru dari depan terminal. Banyak angkot yang ngetem di depan terminal dan kebanyakan penumpangnya memang para calon pendaki Gunung Papandayan.

Kami naik angkot tersebut menuju pertigaan Cisurupan. Pertigaan Cisurupan itu adalah lokasi terakhir sebelum gerbang masuk Papandayan yang bisa dijangkau dengan kendaraan umum. Ongkos angkot tersebut adalah Rp15.000 per penumpang. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 30 menit.

Naik angkot ke Cisurupan

Naik angkot ke Cisurupan

Dari pertigaan Cisurupan itu kami ganti menaiki mobil pick up alias mobil dengan bak terbuka menuju gerbang masuk Papandayan. Kami join dengan pendaki-pendaki lainnya dalam satu mobil. Satu mobil pick up bisa diisi hingga 10 orang. Masing-masing membayar Rp20.000. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 20-30 menit kalau tidak salah. Yang membuat perjalanan agak lama sebenarnya kondisi jalan yang banyak lubang di sana sini. Aspal jalan sebagian besar sudah hancur, cur, cur.

Menjelang masuk ke dalam pelataran parkir Taman Wisata Alam (TWA) Papandayan, mobil pick up berhenti di depan kantor petugas. Ada petugas yang menghampiri mobil kami. Beliau meminta masing-masing ketua rombongan untuk turun dari mobil Continue reading

Open Trip ke Bromo

Menjelang pulang kampung Idul Adha minggu lalu, salah seorang kawan tiba-tiba mengajakku untuk ikut open trip (terjemahannya: perjalanan terbuka?) yang diadakan sebuah EO — kalau nggak salah namanya @trip_with_us. Objek wisata yang akan dikunjungi adalah Bromo. Sempat bimbang juga sih antara ikutan atau nggak. Sudah dua kali aku ke Bromo. Tapi pemandangan spektakuler di Bromo selalu menggoda untuk kembali ke sana. akhirnya, karena penasaran sama bagaimana rasanya ikut open trip dan mumpung ada teman juga, aku pun mengiyakan ajakan kawanku itu.

Jadwal pulang ke Malang pun tak berubah sesuai dengan tiket kereta api yang sudah jauh lebih dulu kupesan, yakni hari Jumat, 11 Oktober. Tiba di Malang pagi keesokan harinya. Sementara itu, kawanku ini sudah terlanjur membeli tiket kereta api ke Surabaya dengan jadwal yang sama.

Sabtu, 12 Oktober

Pihak EO sudah menyediakan 2 mobil yang akan menjemput peserta trip yang datang baik dari Malang maupun Surabaya. Jadi ceritanya ada 4 kelompok yang bergabung dalam open trip ini. Tiga kelompok — masing-masing terdiri atas 2 orang dari Tangerang dan 4 orang dari Jakarta serta aku sendiri — berangkat dari Malang. Sementara kelompok satunya terdiri atas 4 orang yang berangkat dari Surabaya. Kelompok terakhir yang dimaksud adalah kawanku yang pergi bersama 2 rekan kantor dan 1 orang teman SMA-nya.

Karena jadwal kedatangan kami berbeda-beda, kejadian saling menunggu tak terelakkan. Singkat cerita, siang menjelang sore kami baru bisa berkumpul di Bandara Abdul Rahman Malang, kemudian mobil bergerak ke Probolinggo. Di sana kami mampir makan siang di restoran Rawon Nguling. Pulang ke Jawa Timur memang kurang lengkap kalau nggak makan rawon:D. Kata sopirnya sih ini rawon yang populer di sana. Ketika sampai di sana, eh beneran lah, ada foto Pak SBY pas lagi di sana, haha. Fotonya gede, dipasang di dinding dalam restoran.

Perut pun sudah terisi. Perjalanan dilanjutkan kembali ke desa Sukapura, Probolinggo. Perjalanan menempuh waktu 1 jam lebih. Di sana kami sudah disediakan villa untuk menginap. Nggak ada acara khusus malamnya. Kebetulan lagi ada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 Indonesia vs Korsel. Jadi kami isi malam itu dengan acara nontong bareng timnas.

Villa

Suasana di dalam Villa

Minggu, 12 Oktober

Pukul 2.15 dini hari kami sudah bangun dari tidur masing-masing. Kami bersiap-siap untuk berangkat ke Penanjakan I untuk menyaksikan sunrise. Perjalanan dengan jeep memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sempat macet juga sih. Macet di antrian gerbang masuk Taman Nasional di Cemoro Lawang. Perjalanan dari Sukapura ini melalui rute Cemoro Lawang, kemudian turun ke lautan pasir dan mendaki lagi di bukit Penanjakan hingga puncaknya.

Sampai di Penanjakan jam 4 kurang sedikit. Beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar suara adzan Shubuh berkumandang. Aku menyempatkan sholat dulu di mushola yang tersedia di dekat gardu pandang tempat menyaksikan sunrise. Btw, air wudlu di sana bayar 2000. Tapi walaupun bayar, sebaiknya tetap dihemat airnya ketika berwudlu agar yang lain tetap kebagian. Maklum, di sana airnya sepertinya dibawa secara manual dari desa.

Suasana di Penanjakan I saat itu ramai sekali. Rata-rata pengunjungnya didominasi oleh rombongan muda-mudi yang touring sepeda motor dari kota-kota lain di Jawa Timur. Baru sebagian lainnya merupakan rombongan keluarga. Bule-bule pun juga ada, tapi jumlahnya tak terlalu banyak.

Oh ya, walaupun ini kali ketiga aku main ke Bromo, ini pertama kalinya aku melihat sunrise di Penanjakan I. Kunjungan pertama tanpa pakai acara lihat sunrise. Kunjungan kedua lihat sunrise dari Penanjakan II.

Beuhh… pemandangannya lebih mantap ternyata dari Penanjakan I ini. Kalau pernah lihat foto view sunrise Bromo yang populer di National Geographic, di sinilah tempatnya. Tapi ramainya sungguh terlalu ketika itu. Kurang enjoy jadinya. Terpaksa mencari tempat di pinggir-pinggir. Sempat nekat manjat pagar juga untuk turun ke tebing-tebing. Tapi tak lama kemudian aku balik lagi karena ditegur orang yang sepertinya salah satu petugas di sana.

View Bromo-Batok-Semeru

View Bromo-Batok-Semeru

Pukul 5.30 kami cabut dari gardu pandang. Turun mampir ke warung untuk sarapan (bakso). Kami juga nyobain sate kentang yang banyak dijajakan di jalan sepanjang pintu masuk gardu pandang. Konon kata temen kentang rebus di sana sangat enak. Setelah aku cobain, kok rasanya nggak se-wah yang diceritain temenku itu ya, haha. Tapi worth untuk dicoba. Oleh penjualnya dipatok harga 10 ribu tiga tusuk. Agak mahal sih, temen ada yang bisa nawar satu tusuknya 2 ribu.

Setelah perut terisi, kami kembali menuju mobil jeep. Agenda berikutnya adalah Continue reading

Fun Trip Ke Garut Bersama IF’07

Akhir pekan yang lalu (5-6 Oktober) aku bersama teman-teman satu angkatan Informatika (IF) 2007 jalan-jalan bareng ke Garut, tepatnya ke Gunung Papandayan dan Puncak Darajat. Tidak semuanya memang. Hanya 29 orang saja, atau hampir 25% dari angkatan.

Acara jalan-jalan bareng angkatan ini terselenggara dengan bantuan EO (Event Organizer) Teras Nusantara. Kebetulan salah satu owner-nya adalah anak IF’07 juga. Semua urusan yang berkaitan dengan itinerary selama di sana, teknis keberangkatan, transportasi, makanan, hingga akomodasi sudah dipercayakan kepada mereka.

Jumat, 4 Oktober

Rombongan yang tergabung dalam acara ini terbagi ke dalam dua kota asal keberangkatan: Jakarta dan Bandung. Teman-teman regional Jakarta dan sekitarnya berkumpul di Sarinah Jl. Sudirman pukul 9 malam. Dari sana mereka menumpang Elf yang membawa mereka ke Bandung. Sementara itu teman-teman Regional Bandung, termasuk aku, berkumpul di Little Wings Cafe & Library Bandung, yang sebenarnya juga merupakan kantor dari Teras Nusantara. Di sanalah meeting point antara rombongan Jakarta dan Bandung.

Oh ya, Little Wings ini terbuka buat umum lho. Maksudnya, tempat ini bukan dikhususkan untuk peserta event-eventnya Teras Nusantara saja. Di sana kita bisa memesan beberapa makanan dan minuman. Sesuai namanya, di sini juga terdapat rak-rak yang dipenuhi dengan berbagai macam buku dari berbagai genre. Cocok buat mereka yang hobi baca. Halaman tempatnya juga asri. Haha, kok jadi promosi. Mending cek saja langsung di halaman Facebooknya.

Sabtu, 5 Oktober

01.00. Teman-teman dari Jakarta tiba di Little Wings. Sesuai itinerary kami baru akan memulai perjalanan ke Garut sekitar pukul 3 dini hari. Artinya masih ada waktu sekitar 2 jam bagi teman-teman untuk beristirahat. Dari pihak Teras Nusantara, mereka sudah menyediakan ruang luas di lantai 3 untuk teman-teman beristirahat. Ada sejumlah kasur dan bantal yang bisa digunakan untuk tidur.

03.00. Semuanya bersiap di lobi Little Wings. Tiga buah mobil KIA Pregio juga sudah bersiap di halaman Teras Nusantara. Peserta trip mulai memasukkan tas-tasnya ke dalam mobil. Sekitar pukul 3.30 kami pun berangkat menuju Garut. Di tengah jalan kami mampir ke SPBU untuk melaksanakan sholat Subuh.

06.00. Kami tiba di Desa Cisurupan yang berada di kaki Gunung Papandayan. Inilah desa terakhir yang dapat dicapai dengan angkutan umum bagi mereka yang hendak ke Gunung Papandayan. Untuk melanjutkan perjalanan ke pos pendakian, biasanya mereka mencarter mobil pick-up yang cukup banyak terlihat di sana. Di desa ini kami mampir membeli perbekalan di sebuah minimarket.

Perjalanan dari Desa Cisurupan menuju Pos pintu masuk Gunung Papandayan ini harus melalui jalanan yang sangat buruk. Banyak ruas jalan yang aspalnya berlubang. Jalannya juga memiliki banyak tanjakan. Salah satu mobil sempat terpaksa harus didorong ramai-ramai karena terjebak di salah satu lubang jalan. Kurang lebih 45 menit waktu dibutuhkan untuk mencapai pos pintu masuk dari Desa Cisurupan.

07.00. Selama satu jam kami bersantai-santai dahulu di gerbang masuk Gunung Papandayan. Di sana terdapat parkiran mobil yang sangat luas. Di sisi barat dan selatannya berjejer-jejer warung makan. Kami mampir sarapan pagi di salah satu warung tersebut. Aku memesan nasi goreng yang harga satu porsinya Rp8.000 sudah termasuk telor mata sapi.

Setelah perut terisi dan persiapan sudah dilakukan, kami berkumpul kembali untuk mendapatkan briefing dari Yasir, selaku koordinator perjalanan kami kali ini. Kami juga sempat untuk berfoto bersama sebelum memulai trekking.

IF'07 di Papandayan (photo by Teras Nusantara)

IF’07 di Papandayan (photo by Teras Nusantara)

08.00. Trekking pun dimulai. Medan pertama yang kami lalui adalah berupa batu-batuan. Kurang lebih hanya 20 menit dari pintu masuk pendakian, kami sudah sampai di area perkawahan Papandayan. Yep, kawah! Inilah uniknya Papandayan. Kawahnya akan kita temui di awal pendakian. Asap belerang menyembul dari lubang di sela-sela bebatuan. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Tapi banyak sekali lubang-lubang yang menyembulkan asap belerang di kawah tersebut.

Setelah medan bebatuan, kami mulai melalui medan berupa tanah berkerikil. Cuaca saat itu terik matahari begitu menyengat walaupun angin yang berhembus cukup menyejukkan. Agak menyesal aku tak memakai sunblock ketika melakukan pendakian. Karena begitu pulang dari sana, beberapa teman bilang bahwa aku menjadi lebih hitaman. Kulit tangan juga terlihat jadi belang.

Di percabangan ke arah Pondok Salada dan Tegal Panjang kami beristirahat sebentar beberapa menit. Selain melalui pintu masuk pos pendakian Papandayan di Cisurupan, pendakian Gunung Papandayan ini juga dapat dilakukan melalui Pangalengan, Kabupaten Bandung, melewati Tegal Panjang. Kapan-kapan kayaknya harus nyobain ke Papandayan lewat Tegal Panjang ini. Lihat dari foto-fotonya … wah, cakep banget pemandangannya. Hidden paradise kalau kata temen mah.

09.45. Kami mencapai Pondok Salada. Pondok Salada adalah suatu padang rumput luas yang biasa dijadikan area perkemahan bagi para pendaki Gunung Papandayan. Pondok Salada biasa menjadi tempat pilihan berkemah karena tak jauh dari situ terdapat ‘kran’ pipa air bersih yang mengalir. Sehingga keperluan masak-memasak dan air minum dapat terpenuhi di sana.

Di Pondok Salada kami cuma beristirahat sebentar saja. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini destinasi kami adalah Tegal Alun. Jalur yang dilalui untuk mencapai ke sana cukup Continue reading

Pendakian Gunung Gede 2.0 (Hari 2)

Subuh itu (7/7) udara dingin terasa amat menusuk sampai ke tulang. Kami semua masih berbaring di dalam tenda berjejer-jejer seperti ikan-ikan yang sedang dijemur. Bayangkan 1 tenda kapasitas 6 orang benar-benar diisi maksimum oleh 6 orang beserta ransel-ranselnya. Jadinya mau mau selonjor atau membaringkan badan ke samping pun agak susah, haha.

Begitu terbangun, aku langsung mencoba sholat Subuh di dalam tenda. Air wudlu terasa sungguh dingin sekali. Saat itu kami terpaksa menggagalkan rencana untuk melakukan summit attack pada dini hari. Teman-teman sepertinya masih kelelahan. Selain itu, keinginan kami, khususnya aku, untuk melihat sunrise juga tidak terlalu menggebu karena sudah pernah pada pendakian sebelumnya. Justru yang belum pernah adalah menikmati pagi yang cerah di hamparan padang Edelweiss Surya Kencana :).

Hamparan Edelweiss

Hamparan Edelweiss di pagi yang cerah

Kami mulai mempersiapkan keperluan untuk sarapan pagi. Kala itu, sang surya telah bersinar dengan terangnya. Walaupun demikian, hangatnya sinar mentari itu tak cukup untuk meredakan dinginnya angin yang berhembus di Surya Kencana pagi itu. Karena itu kami semua masih mengenakan jaket ataupun atribut penghangat lainnya.

Beruntung pagi itu kami mendapatkan pinjaman kompor dari tenda sebelah. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Kuncoro langsung menggunakan kompor tersebut untuk menanak nasi. Cukup lama kami menunggu nasi tersebut hingga matang. Ada mungkin sekitar 45-60 menit kami menunggu. Sambil menunggu itu kami menghabiskan waktu untuk berfoto-foto serta memulai packing barang-barang yang bisa dimasukkan ke dalam ransel saat itu.

Memasak nasi

Memasak nasi

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Aktivitas tersebut ternyata benar-benar efektif untuk menunggu nasi hingga matang, hihi. Sayangnya ternyata kompornya sudah buru-buru hendak diminta balik oleh si empunya. Kami pun tak sempat merebus telor atau memasak mie instan sebagai pelengkap karena jelas tak akan terburu. Kami hanya sempat memanaskan sarden untuk lauk sarapan pagi itu. Tapi untungnya nasi yang kita masak pagi itu merupakan nasi liwet atau nasi gurih yang sudah ‘berasa’ karena bumbu-bumbu di dalamnya. Continue reading

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 4): Bromo

Siang itu menunjukkan pukul 14.00 ketika kami selesai menunaikan sholat dhuhur dijama’ dengan ashar. Kami sempat ragu apakah akan berjalan kaki ke sana. Teman-teman sudah kelihatan lelah. Jarak yang ditempuh juga sangat jauh (asumsi jalan lewat daerah Bantengan).

Akhirnya kami memutuskan untuk mencarter jeep saja yang memang banyak berjejeran di depan kantor TNBTS. Negosiasi dilakukan dan bapak sopir jeepnya mentok di angka 500 ribu. Itu tawaran pertama dan bapaknya tidak mau memberikan kesempatan buat kami untuk menawar. Istilahnya, ‘take it or leave it‘.

Sebenarnya aku tidak terlalu kaget juga dengan tarif yang ditawarkan oleh sopir jeep tersebut. Sehari sebelumnya aku sempat bertanya kepada bapak sopir truk yang membawa kami ke Ranu Pani mengenai ongkos normal Ranu Pani-Bromo itu. Kata bapaknya sih di kisaran 450 ribu kalau naik jeep. Yah, pada faktanya ongkos yang ditawarkan selisih 50 ribu dari tarif normal. Bapak sopir jeep ini beralasan karena lagi peak season sehubungan dengan acara Avtech di Semeru ini jadi wajar harga segitu.

Kalau bukan karena keterbatasan waktu, mungkin kami akan memaksakan untuk berjalan kaki saja ke Bromo. Kami pun akhirnya mengambil tawaran jeep tersebut.

Perjalanan dengan jeep dari Ranu Pani ke Bromo ini melalui Desa Ranu Pani, Bantengan, pertigaan Jemplang, bukit teletubbies (savana), dan lautan pasir. Di Bantengan kami berhenti sejenak untuk foto-foto dengan latar belakang kaldera Tengger.

Savana Tengger

Savana Tengger

Berempat di Bantengan

Berempat di Bantengan

Arghh … berada di Bantengan (dan juga Bromo) ini mengingatkanku akan masa SMA dulu (baca artikel ini). Ketika itu aku dan teman-teman sekelas jalan-jalan ke Bromo dengan didampingi beberapa guru juga. Saat disanalah aku tiba-tiba menyadari aku ‘menyukai’ salah seorang teman cewekku di kelas, hahaha.

Ok, kembali ke topik lagi. Dari Bantengan jeep melanjutkan perjalanan lagi menuju pertigaan Jemplang. Untuk menuju ke savana, jeep memang harus mengambil jalan memutar melalui pertigaan Jemplang karena memang dari sanalah akses jalan yang tersedia. Sedangkan apabila ingin berjalan kaki, dari Bantengan ini kita bisa melakukan trekking menuruni dinding kaldera melalui jalan setapak yang ada.

Di savana jeep berhenti lagi memberikan kesempatan kepada kami untuk berfoto-foto. Alhamdulillah, walaupun di Ranu Pani siang itu sempat turun hujan, di kaldera Tengger ini tidak tampak bekas dan tanda-tanda hujan turun. Kami pun bisa leluasa menikmati alam kaldera Tengger ini. Angin yang berhembus di sana juga sangat sejuk.

Neo dan Luthfi yang baru pertama kali ke kaldera Tengger ini sampa terkagum-kagum. Kayak di film Skyfall kata mereka pemandangan di sini.

Di depan jeep

Di depan jeep

Savana

Savana

Savana

Savana

Setelah puas berfoto-foto, kami kembali ke jeep dan melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Total waktu tempuh dari Ranu Pani hingga ke Gunung Bromo ini hampir dua jam, termasuk waktu untuk foto-foto.

Ketika tiba di kaki Gunung Bromo, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 4 sore lebih. Masih ada waktu buat kami untuk menikmati Bromo sebelum langit gelap. FYI, waktu maghrib di kawasan Bromo ini ketika itu sekitar pukul setengah enam kurang.

Kami menitipkan carriercarrier kami kepada bapak-bapak penjual makanan di kaki Bromo itu. Sebagai balas jasanya kami memberikan uang 10 ribu kepada beliau agar mau menjaga barang-barang kami.

Setelah itu, kami bersama-sama menaiki tangga untuk menuju kawah Bromo. Kondisi anak tangga ini sangat Continue reading