Tag Archives: bromo

Bersepeda ke Gubukklakah

Minggu lalu (16/5) saya bersepeda ke Desa Gubukklakah yang berada di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Desa Gubukklakah ini sebenarnya bukan tujuan utama dalam acara sepeda santai yang diadakan bertepatan dengan H+3 lebaran ini di mana ketua panitia dan pesertanya adalah saya sendiri ūüėā.

Tujuan utama sebenarnya adalah Jemplang yang merupakan gerbang masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dari arah Malang. Namun karena ternyata TNBTS sedang tutup, akhirnya saya terpaksa gowes hingga Desa Gubukklakah saja.

Pagi itu saya berangkat dari rumah sekitar pukul 5.15. Checkpoint pertama adalah Pasar Tumpang yang berjarak kurang lebih 20 km dari rumah. Jarak tersebut saya tempuh dalam waktu 1 jam. Jalannya relatif datar. Ada beberapa petak yang menanjak dan ada beberapa petak yang menurun. Namun secara keseluruhan jalannya cenderung landai.

Di Pasar Tumpang saya tidak berhenti karena kebetulan jalannya menurun. Saya langsung bablas saja hingga pertigaan Jl. Pahlawan Tim-Jl. Pahlawan Barat.

Bagi Anda yang pernah naik gunung ke Semeru atau Bromo dari Malang mungkin sudah familiar dengan Pasar Tumpang ini karena merupakan checkpoint tempat di mana jeep-jeep transportasi ke Semeru atau Bromo mangkal. Biasanya kawasan ini selain ramai dengan orang-orang yang berbelanja ke pasar, juga ramai dengan para pendaki yang memanggul tas-tas carrier.

Continue reading
Berlari di BTS Ultra 100

Lari Lintas Alam 30K di BTS Ultra 100 (Part 2/2)

Minggu, 3 November 2019

Hujan yang turun sejak malam sebelumnya rupanya belum benar-benar berhenti. Suara hujan rintik-rintik masih terdengar di luar penginapan. Ketika itu jam menunjukkan jam 4 subuh. Di Cemoro Lawang ini, waktu subuh datang lebih awal, yakni jam 4 kurang.

Usai sholat subuh, saya berganti pakaian dan mempersiapkan gears yang perlu dibawa untuk race. Jam 5 pagi langit sudah terang. Saya pergi meninggalkan penginapan menuju Lava View Lodge, race central tempat garis start dan finish BTS Ultra 100 ini.

Baru setengah jalan, hujan mulai semakin deras. Saya pun mampir sejenak di sebuah kedai untuk mengenakan jas hujan. Baru setelah itu lanjut jalan kaki menuju race central.

Para pelari berteduh di Lava View Lodge menunggu hujan reda

Waktu Start Diundur

Hujan deras ini rupanya masih terus berlangsung hingga menjelang waktu start kategori 30K. Menurut jadwal, seharusnya kategori 30K start pada pukul 6 pagi. Mempertimbangkan kondisi cuaca yang kurang bersahabat serta beberapa titik rute lari terendam banjir, panitia memutuskan untuk menunda waktu start menjadi pukul 7 pagi.

Alhamdulillah sebelum jam 7, hujan sudah agak reda walaupun masih turun rintik-rintik kecil. Namun kondisi tersebut tidak menghalangi panitia untuk tetap melakukan start pada jam 7 pagi.

Para pelari bersiap di garis start

Garis Start-Puncak B29

Tepat pukul 7 pagi start untuk BTS Ultra 100 kategori 30K resmi dilaksanakan. Start bertempat di jalan aspal depan Lava View Lodge. Jalan aspal menanjak tapi landai langsung terhampar di hadapan.

Setelah itu kontur trek berikutnya berganti naik turun dengan kemiringan yang cukup landai. Treknya juga berganti dari aspal menjadi tanah.

Berlari menerobos kabut tidak jauh dari garis start

Trek berikutnya pada KM 2,7 hingga 4,3, peserta lari mulai menuruni tebing dinding kaldera hingga tiba di lautan pasir. Kondisi cuaca saat itu sangat berkabut.

Hujan masih terus turun. Bahkan sempat turun lebih deras. Di lautan pasir terdapat beberapa bagian jalan yang digenangi air.

Tiba di lautan pasir setelah menuruni tebing kaldera

Pendek saja jalur yang ditempuh di lautan pasir ini. Tak lama kemudian pada KM 5,6 para pelari harus kembali naik menyusuri tebing kaldera. Menurut catatan Strava saya, elevasi yang harus ditempuh adalah setinggi 530 meter.

Continue reading
Elf Probolinggo-Cemoro Lawang

Elf Probolinggo-Cemoro Lawang (Bromo)

Dua minggu lalu saya mengikuti event lari Bromo Tengger Semeru (BTS) 100 Ultra. Sesuai namanya, event ini diadakan dengan mengambil jalur lintasan lari di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Race central-nya berada di Lava View Lodge, Desa Cemoro Lawang, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Bagi Anda yang pernah ke Bromo — khususnya yang datang dari arah Probolinggo — tentunya nama Desa Cemoro Lawang ini terdengar sangat familiar. Cemoro Lawang adalah sebuah desa yang yang menjadi pintu gerbang menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Banyak penginapan juga di sana.

Untuk mencapai Cemoro Lawang ini kita bisa menggunakan transportasi umum dari Terminal Probolinggo, seperti yang saya lakukan kemarin waktu datang ke event BTS 100 Ultra itu. Moda transportasinya berupa mobil elf atau dikenal juga dengan sebutan bison.

Ini kali pertama saya mencoba naik elf dari Terminal Probolinggo ke Cemoro Lawang. Yang sebelumnya pernah saya coba adalah jalur kebalikannya saja, yakni dari Cemoro Lawang ke Terminal Probolinggo (baca ceritanya di sini).

Nah, melalui tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa info kondisi terkini yang semoga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca dalam merencanakan perjalanan ke sana kelak.

1. Lokasi Elf

Elf jurusan Cemoro Lawang ini dapat Anda temui di Terminal Bayuangga, Kota Probolinggo. Lokasinya tidak persis di dalam terminal, tetapi berada di luar, tepatnya di sisi selatan.

Kalau Anda dari dalam terminal, Anda perlu berjalan keluar kemudian belok ke arah kiri. Anda akan menemui elf-elf yang parkir berjajar di tepi jalan raya. Itulah elf-elf jurusan Cemoro Lawang. Sementara di Cemoro Lawang, terminal elf ini berada di pertigaan dekat sebuah warung bernama “Warung Sederhana Bromo”.

2. Jadwal Elf

Tidak ada jadwal yang pasti kapan elf akan berangkat. Elf biasanya baru akan berangkat jika sudah dipenuhi penumpang. Tentunya ini akan menjadi petaka bagi Anda yang pergi sendirian.

Continue reading

Open Trip ke Bromo

Menjelang pulang kampung Idul Adha minggu lalu, salah seorang kawan tiba-tiba mengajakku untuk ikut open trip¬†(terjemahannya: perjalanan terbuka?)¬†yang diadakan sebuah EO — kalau nggak salah namanya @trip_with_us. Objek wisata yang akan dikunjungi adalah Bromo. Sempat bimbang juga sih antara ikutan atau nggak. Sudah dua kali aku ke Bromo. Tapi pemandangan spektakuler di Bromo selalu menggoda untuk kembali ke sana. akhirnya, karena penasaran sama bagaimana rasanya ikut¬†open trip dan mumpung ada teman juga, aku pun mengiyakan ajakan kawanku itu.

Jadwal pulang ke Malang pun tak berubah sesuai dengan tiket kereta api yang sudah jauh lebih dulu kupesan, yakni hari Jumat, 11 Oktober. Tiba di Malang pagi keesokan harinya. Sementara itu, kawanku ini sudah terlanjur membeli tiket kereta api ke Surabaya dengan jadwal yang sama.

Sabtu, 12 Oktober

Pihak EO sudah menyediakan 2 mobil yang akan menjemput peserta¬†trip¬†yang datang baik dari Malang maupun Surabaya. Jadi ceritanya ada 4 kelompok yang bergabung dalam¬†open trip¬†ini. Tiga kelompok — masing-masing terdiri atas 2 orang dari Tangerang dan 4 orang dari Jakarta serta aku sendiri — berangkat dari Malang. Sementara kelompok satunya terdiri atas 4 orang yang berangkat dari Surabaya. Kelompok terakhir yang dimaksud adalah kawanku yang pergi bersama 2 rekan kantor dan 1 orang teman SMA-nya.

Karena jadwal kedatangan kami berbeda-beda, kejadian saling menunggu tak terelakkan. Singkat cerita, siang menjelang sore kami baru bisa berkumpul di Bandara Abdul Rahman Malang, kemudian mobil bergerak ke Probolinggo. Di sana kami mampir makan siang di restoran Rawon Nguling. Pulang ke Jawa Timur memang kurang lengkap kalau nggak makan rawon:D. Kata sopirnya sih ini rawon yang populer di sana. Ketika sampai di sana, eh beneran lah, ada foto Pak SBY pas lagi di sana, haha. Fotonya gede, dipasang di dinding dalam restoran.

Perut pun sudah terisi. Perjalanan dilanjutkan kembali ke desa Sukapura, Probolinggo. Perjalanan menempuh waktu 1 jam lebih. Di sana kami sudah disediakan villa untuk menginap. Nggak ada acara khusus malamnya. Kebetulan lagi ada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 Indonesia vs Korsel. Jadi kami isi malam itu dengan acara nontong bareng timnas.

Villa

Suasana di dalam Villa

Minggu, 12 Oktober

Pukul 2.15 dini hari kami sudah bangun dari tidur masing-masing. Kami bersiap-siap untuk berangkat ke Penanjakan I untuk menyaksikan sunrise. Perjalanan dengan jeep memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sempat macet juga sih. Macet di antrian gerbang masuk Taman Nasional di Cemoro Lawang. Perjalanan dari Sukapura ini melalui rute Cemoro Lawang, kemudian turun ke lautan pasir dan mendaki lagi di bukit Penanjakan hingga puncaknya.

Sampai di Penanjakan jam 4 kurang sedikit. Beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar suara adzan Shubuh berkumandang. Aku menyempatkan sholat dulu di mushola yang tersedia di dekat gardu pandang tempat menyaksikan sunrise. Btw, air wudlu di sana bayar 2000. Tapi walaupun bayar, sebaiknya tetap dihemat airnya ketika berwudlu agar yang lain tetap kebagian. Maklum, di sana airnya sepertinya dibawa secara manual dari desa.

Suasana di Penanjakan I saat itu ramai sekali. Rata-rata pengunjungnya didominasi oleh rombongan muda-mudi yang touring sepeda motor dari kota-kota lain di Jawa Timur. Baru sebagian lainnya merupakan rombongan keluarga. Bule-bule pun juga ada, tapi jumlahnya tak terlalu banyak.

Oh ya, walaupun ini kali ketiga aku main ke Bromo, ini pertama kalinya aku melihat sunrise di Penanjakan I. Kunjungan pertama tanpa pakai acara lihat sunrise. Kunjungan kedua lihat sunrise dari Penanjakan II.

Beuhh… pemandangannya lebih mantap ternyata dari Penanjakan I ini. Kalau pernah lihat foto view sunrise Bromo yang populer di National Geographic, di sinilah tempatnya. Tapi ramainya sungguh terlalu ketika itu. Kurang enjoy jadinya. Terpaksa mencari tempat di pinggir-pinggir. Sempat nekat manjat pagar juga untuk turun ke tebing-tebing. Tapi tak lama kemudian aku balik lagi karena ditegur orang yang sepertinya salah satu petugas di sana.

View Bromo-Batok-Semeru

View Bromo-Batok-Semeru

Pukul 5.30 kami cabut dari gardu pandang. Turun mampir ke warung untuk sarapan (bakso). Kami juga nyobain sate kentang yang banyak dijajakan di jalan sepanjang pintu masuk gardu pandang. Konon kata temen kentang rebus di sana sangat enak. Setelah aku cobain, kok rasanya nggak se-wah yang diceritain temenku itu ya, haha. Tapi worth untuk dicoba. Oleh penjualnya dipatok harga 10 ribu tiga tusuk. Agak mahal sih, temen ada yang bisa nawar satu tusuknya 2 ribu.

Setelah perut terisi, kami kembali menuju mobil jeep. Agenda berikutnya adalah Continue reading

[Video] Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo

Iseng coba-coba belajar bikin video pakai Adobe Premiere, sekalian saja bikin video kompilasi foto-foto dan beberapa potongan video perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo November kemarin.

Harap maklum kalau kualitasnya tak seberapa. Maklum, hasil ngoprek dalam satu malam Adobe Premiere. ūüėÄ

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 5-Tamat): Sunrise di Penanjakan

Hari 4: Minggu, 18 November 2012

Pukul 2.30 dini hari kami bangun tidur dan bersiap-siap untuk menuju ke Penanjakan II. Katanya pemandangan sunrise paling bagus ada di Penanjakan I, yakni tepat di bagian puncak Penanjakan. Penanjakan I bila dipandang dari Cemoro Lawang adalah tempat yang ada banyak semacam tower BTS atau tower listrik itu. Untuk mencapai Penanjakan I, pengunjung bisa menumpang jeep. Sayangnya ketika itu jalan sedang diperbaiki sehingga akses ke sana terpaksa ditutup untuk sementara waktu.

Kami berangkat ke Penanjakan II dengan berjalan kaki. Jalanan yang dilalui sebagian sudah beraspal yang masih bisa dilalui kendaraan bermotor. Kemudian jalan menyempit menjadi berupa tanah, di mana kendaraan bermotor maksimal cuma sampai di sana saja. Lalu jalan berganti menjadi berupa anak-anak tangga.

Di Penanjakan II ini ada sebuah gazeebo besar sebagai tempat para pengunjung untuk mengamati sunrise. Namun, kami tak berhenti sampai di sana. Kami mendaki lagi melalui jalanan setapak yang cukup terjal sampai menemukan spot yang agak lapang namun tidak terlalu ramai dibandingkan dengan gazeebo yang tadi.

Oh ya, perjalanan dari penginapan menuju spot melihat sunrise kami ini kurang lebih sekitar sejam. Sebenarnya kalau dihitung-hitung jaraknya tidak begitu jauh. Hanya saja karena kami melalui jalan yang sudah ada dan jalan itu berkelak-kelok, jarak tempuhnya pun menjadi lebih jauh. Akan lebih cepat jika ambil jalan memotong melalui pematang ladang-ladang yang ada. Sayang euy, ketika itu keadaan masih sangat gelap.

Dari tempat kami tersebut kami menantikan detik-detik matahari terbit. Sekitar pukul setengah 5 pagi langit di sebelah timur Penanjakan mulai menampakkan rona merah fajar. Sementara itu, di sebelah barat, yakni kaldera pegunungan Tengger dan puncak Semeru di kejauhan berangsur-angsur mulai menunjukkan penampakannya. Kami pun tak melewatkan momen tersebut dengan berfoto-foto.

Oh ya, di sana kami sempat berkenalan dengan seorang¬†backpacker¬†asal Jerman yang datang ke Bromo bersama temannya yang berasal dari Medan yang juga sesama¬†backpacker. Pertemuan mereka terjadi ketika sama-sama sedang¬†travelling¬†di Thailand. Kami menyempatkan juga foto-foto dengan cak Dominic (kalau tidak salah nama dia begitu ejaannya). ūüėÄ

Foto bareng bule Jerman (photo by Neo)

Foto bareng bule Jerman (photo by Neo)

Banyak juga ya bule-bule yang berkunjung ke Bromo. Selain cak Dominic ini juga ada bule-bule lain yang kalau kudengarkan sekilas percakapan mereka sepertinya berasal dari Eropa utara atau timur. Nggak heran sih, Bromo kan memang Continue reading

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 4): Bromo

Siang itu menunjukkan pukul 14.00 ketika kami selesai menunaikan sholat dhuhur dijama’ dengan ashar. Kami sempat ragu apakah akan berjalan kaki ke sana. Teman-teman sudah kelihatan lelah. Jarak yang ditempuh juga sangat jauh (asumsi jalan lewat daerah Bantengan).

Akhirnya kami memutuskan untuk mencarter¬†jeep¬†saja yang memang banyak berjejeran di depan kantor TNBTS. Negosiasi dilakukan dan bapak sopir jeepnya mentok di angka 500 ribu. Itu tawaran pertama dan bapaknya tidak mau memberikan kesempatan buat kami untuk menawar. Istilahnya, ‘take it or leave it‘.

Sebenarnya aku tidak terlalu kaget juga dengan tarif yang ditawarkan oleh sopir jeep tersebut. Sehari sebelumnya aku sempat bertanya kepada bapak sopir truk yang membawa kami ke Ranu Pani mengenai ongkos normal Ranu Pani-Bromo itu. Kata bapaknya sih di kisaran 450 ribu kalau naik jeep. Yah, pada faktanya ongkos yang ditawarkan selisih 50 ribu dari tarif normal. Bapak sopir jeep ini beralasan karena lagi peak season sehubungan dengan acara Avtech di Semeru ini jadi wajar harga segitu.

Kalau bukan karena keterbatasan waktu, mungkin kami akan memaksakan untuk berjalan kaki saja ke Bromo. Kami pun akhirnya mengambil tawaran jeep tersebut.

Perjalanan dengan jeep dari Ranu Pani ke Bromo ini melalui Desa Ranu Pani, Bantengan, pertigaan Jemplang, bukit teletubbies (savana), dan lautan pasir. Di Bantengan kami berhenti sejenak untuk foto-foto dengan latar belakang kaldera Tengger.

Savana Tengger

Savana Tengger

Berempat di Bantengan

Berempat di Bantengan

Arghh … berada di Bantengan (dan juga Bromo) ini mengingatkanku akan masa SMA dulu (baca artikel ini). Ketika itu aku dan teman-teman sekelas jalan-jalan ke Bromo dengan didampingi beberapa guru juga. Saat disanalah aku tiba-tiba menyadari aku ‘menyukai’ salah seorang teman cewekku di kelas, hahaha.

Ok, kembali ke topik lagi. Dari Bantengan jeep melanjutkan perjalanan lagi menuju pertigaan Jemplang. Untuk menuju ke savana, jeep memang harus mengambil jalan memutar melalui pertigaan Jemplang karena memang dari sanalah akses jalan yang tersedia. Sedangkan apabila ingin berjalan kaki, dari Bantengan ini kita bisa melakukan trekking menuruni dinding kaldera melalui jalan setapak yang ada.

Di savana jeep berhenti lagi memberikan kesempatan kepada kami untuk berfoto-foto. Alhamdulillah, walaupun di Ranu Pani siang itu sempat turun hujan, di kaldera Tengger ini tidak tampak bekas dan tanda-tanda hujan turun. Kami pun bisa leluasa menikmati alam kaldera Tengger ini. Angin yang berhembus di sana juga sangat sejuk.

Neo dan Luthfi yang baru pertama kali ke kaldera Tengger ini sampa terkagum-kagum. Kayak di film Skyfall kata mereka pemandangan di sini.

Di depan jeep

Di depan jeep

Savana

Savana

Savana

Savana

Setelah puas berfoto-foto, kami kembali ke jeep dan melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Total waktu tempuh dari Ranu Pani hingga ke Gunung Bromo ini hampir dua jam, termasuk waktu untuk foto-foto.

Ketika tiba di kaki Gunung Bromo, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 4 sore lebih. Masih ada waktu buat kami untuk menikmati Bromo sebelum langit gelap. FYI, waktu maghrib di kawasan Bromo ini ketika itu sekitar pukul setengah enam kurang.

Kami menitipkan carriercarrier kami kepada bapak-bapak penjual makanan di kaki Bromo itu. Sebagai balas jasanya kami memberikan uang 10 ribu kepada beliau agar mau menjaga barang-barang kami.

Setelah itu, kami bersama-sama menaiki tangga untuk menuju kawah Bromo. Kondisi anak tangga ini sangat Continue reading