Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 5-Tamat): Sunrise di Penanjakan

Hari 4: Minggu, 18 November 2012

Pukul 2.30 dini hari kami bangun tidur dan bersiap-siap untuk menuju ke Penanjakan II. Katanya pemandangan sunrise paling bagus ada di Penanjakan I, yakni tepat di bagian puncak Penanjakan. Penanjakan I bila dipandang dari Cemoro Lawang adalah tempat yang ada banyak semacam tower BTS atau tower listrik itu. Untuk mencapai Penanjakan I, pengunjung bisa menumpang jeep. Sayangnya ketika itu jalan sedang diperbaiki sehingga akses ke sana terpaksa ditutup untuk sementara waktu.

Kami berangkat ke Penanjakan II dengan berjalan kaki. Jalanan yang dilalui sebagian sudah beraspal yang masih bisa dilalui kendaraan bermotor. Kemudian jalan menyempit menjadi berupa tanah, di mana kendaraan bermotor maksimal cuma sampai di sana saja. Lalu jalan berganti menjadi berupa anak-anak tangga.

Di Penanjakan II ini ada sebuah gazeebo besar sebagai tempat para pengunjung untuk mengamati sunrise. Namun, kami tak berhenti sampai di sana. Kami mendaki lagi melalui jalanan setapak yang cukup terjal sampai menemukan spot yang agak lapang namun tidak terlalu ramai dibandingkan dengan gazeebo yang tadi.

Oh ya, perjalanan dari penginapan menuju spot melihat sunrise kami ini kurang lebih sekitar sejam. Sebenarnya kalau dihitung-hitung jaraknya tidak begitu jauh. Hanya saja karena kami melalui jalan yang sudah ada dan jalan itu berkelak-kelok, jarak tempuhnya pun menjadi lebih jauh. Akan lebih cepat jika ambil jalan memotong melalui pematang ladang-ladang yang ada. Sayang euy, ketika itu keadaan masih sangat gelap.

Dari tempat kami tersebut kami menantikan detik-detik matahari terbit. Sekitar pukul setengah 5 pagi langit di sebelah timur Penanjakan mulai menampakkan rona merah fajar. Sementara itu, di sebelah barat, yakni kaldera pegunungan Tengger dan puncak Semeru di kejauhan berangsur-angsur mulai menunjukkan penampakannya. Kami pun tak melewatkan momen tersebut dengan berfoto-foto.

Oh ya, di sana kami sempat berkenalan dengan seorang backpacker asal Jerman yang datang ke Bromo bersama temannya yang berasal dari Medan yang juga sesama backpacker. Pertemuan mereka terjadi ketika sama-sama sedang travelling di Thailand. Kami menyempatkan juga foto-foto dengan cak Dominic (kalau tidak salah nama dia begitu ejaannya).😀

Foto bareng bule Jerman (photo by Neo)

Foto bareng bule Jerman (photo by Neo)

Banyak juga ya bule-bule yang berkunjung ke Bromo. Selain cak Dominic ini juga ada bule-bule lain yang kalau kudengarkan sekilas percakapan mereka sepertinya berasal dari Eropa utara atau timur. Nggak heran sih, Bromo kan memang mendapatkan julukan the famous sunrise. Selain sunrise, pesona kalderanya memang luar biasa.

Kurang lebih kami berada di sana hingga pukul setengah 7 pagi. Penanjakan II yang dini hari tadi ramai sekali dengan pengunjung, sekarang tinggal tersisa sedikit saja pengunjung yang masih bertahan di sana.

Dalam perjalanan pulang kami sempat melihat ada syuting acara masak oleh channel Trans 7 di Penanjakan II ini dengan latar belakang pemandangan gunung Bromo. Hoho … host-nya cantik juga. Teman-teman pun menyempatkan berhenti sebentar untuk melihat persiapan syuting mereka.😀

Acara masak Trans7

Acara masak Trans7

Perjalanan dari Penanjakan II ke penginapan di Cemoro Lawang ini terasa lebih menyenangkan. Selain karena jalanan turun, langit juga sudah sangat terang sehingga kami bisa menikmati indahnya pemandangan di sekitar. Juga menyempatkan untuk menyapa penduduk sekitar yang bekerja di ladang.

Sekitar 40 menit sepertinya kami berjalan kaki hingga sampai di penginapan. Wah, rasanya puas sudah. Setelah itu, saatnya bagi kami untuk beres-beres packing dan bersih diri sebelum pulang.

Pukul setengah 10 kami check out dari penginapan dan segera menuju tempat ngetem elf yang akan mengantarkan kami menuju terminal Probolinggo. Cukup lama elf ini ngetem. Mereka tidak mau berangkat kalau belum penuh. Elf ini bahkan sampai menghampiri beberapa tempat penginapan untuk mencari dan menjemput calon penumpang.

Alhamdulillah pukul 10 tepat elf sudah penuh dan langsung cabut meninggalkan Desa Cemoro Lawang menuju terminal Probolinggo. Tarif elf Cemoro Lawang-Probolinggo ini 25 ribu per orang. Waktu tempuh dari pengalaman kami kemarin adalah sejam pas.

Dari Probolinggo kami lanjut naik bus Patas menuju terminal Bungurasih, Surabaya. Ongkosnya 23 ribu per orang. Sesampainya di Surabaya, kami semua berpisah. Pras dan adiknya lanjut bus ke Lamongan, Luthfi lanjut naik bus malam ke Jakarta, dan Neo lanjut ke bandara Juanda untuk naik pesawat ke Jakarta. Sedangkan aku lanjut ke stasiun Surabaya Gubeng untuk naik kereta ke Bandung. (tamat)

6 thoughts on “Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 5-Tamat): Sunrise di Penanjakan

  1. Andre

    Wow.. Bagus banget ceritanya mas.. Kalau ada waktu, sempetin jalan2 ke Malang, terutama di daerah pusat kota. Cocok buat jalan-jalan sekalian wisata kuliner =] Ini ada rekomendasi tempat nginep di daerah pusat kota.. Harga terjangkau, fasilitas lengkap. http://www.kartikagrahahotel.com

    Like

    Reply
  2. Rapu

    waah cerita’y mnambah referensi ni. saya cari2 artikel untuk tau jarak tempuh bromo – ranukumbolo.. akhir’y nemu disni. thanks

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s