Author Archives: otidh

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Efek Kopi

Kopi bagi saya sudah seperti kebutuhan agar bisa produktif ketika bekerja. Dengan minum kopi pikiran saya biasanya jadi lebih segar.

Saya biasa minum kopi single origin baik Arabika ataupun Robusta di pagi hari ketika hari kerja. Efek kopi ini biasanya saya rasakan sampai sore hari menjelang pulang. Saya jadi terjaga. Tidak mengantuk. Pulang kerja saya bisa tidur dengan jam tidur normal.

Namun, seminggu terakhir ini saya mencoba kopi baru. Maksudnya baru pertama ini bagi saya mencobanya. Saya mencoba kopi original blend Indocafe hasil pemberian Ibu dari parcel lebaran yang beliau terima kemarin.

Indocafe Original Blend

Hari ini kali ketiga saya meminum kopi ini. Dan selama tiga kali percobaan itu saya sukses dibuat susah tidur. Padahal saya biasa minum kopi hitam single origin dan tidak sampai memberikan efek seperti ini.

Saya pikir karena sebelumnya takaran yang saya ambil untuk diseduh terlalu banyak. Sebelumnya 12 gram dalam satu gelas. Kali ini saya hanya mencoba setengahnya saja, yakni 6 gram dalam satu gelas. Ternyata sama saja efeknya.

Tulisan ini saya buat jam 1 dini hari karena tidak bisa tidur. Padahal saya sudah mencoba tidur dari jam 22.30 tadi. Saya pun sebenarnya sudah lama tidak begadang dan memang sudah lama tidak bisa begadang juga.

Oh ya, tulisan ini bukan promosi ya. Tidak bermaksud promosi sama sekali. Hanya sharing. Barangkali ada yang punya pengalaman yang sama dengan saya. 😂

Setahun yang Lalu

24 Agustus 2019. Usai sholat subuh berjamaah bersama bapak di mushola RS, saya pergi menemani Bapak ke ruangan ICU tempat di mana adik terbaring. Saat itu kondisi adik sedang dalam keadaan kritis dan pernafasannya dibantu dengan selang oksigen.

Bapak seperti biasa selalu mencoba menuntun adik untuk melaksanakan sholat subuh dengan membacakan takbir sesuai urutan gerakan sholat dan Al-Fatihah. Walaupun adik terlihat dalam keadaan tidak sadar saat itu, kami berharap adik bisa mendengarnya.

Usai sholat subuh, saya mentalqin adik dengan membaca kalimat “Laa ilaaha Illa Allah”.

Beberapa menit kemudian bedside monitor menunjukkan pencatatan yang tidak biasa. Saya memanggil perawat jaga untuk menanyakan perihal itu.

Continue reading

Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Libur hari kemerdekaan dan long weekend yang menyusul sesudahnya ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Akhirnya, saya pulang kampung (dan ke luar kota) lagi setelah sekitar setengah tahun mendekam di Bandung.

Kekhawatiran akan tertular Covid-19 atau menjadi carrier tentunya pasti ada. Namun, mumpung ada libur yang bisa dipakai lumayan panjang saat ini, jadi kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Entah kapan lagi libur panjang berikutnya.

Kereta Api menjadi pilihan saya yang paling nyaman dan (insya Allah) aman menurut saya untuk bepergian saat ini walaupun belum ada kereta api yang langsung ke Malang pada tanggal yang saya pilih. Saya harus transit dulu di Surabaya dan berganti kereta api lagi ke Malang.

Tiket sudah saya beli sejak sekitar 10 hari sebelum keberangkatan. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Mungkin memang masih sedikit orang yang bepergian di masa pandemi ini. Atau mungkin lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Untuk dapat diizinkan melakukan perjalanan dengan kereta api, setiap calon penumpang wajib juga untuk menyertakan surat keterangan non-reaktif pada hasil rapid test-nya. Surat ini akan diperiksa saat pemeriksaan tiket di pintu boarding.

Continue reading

Selamat Idul Adha 1441 H

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H bagi saudara-saudara sesama muslim sekalian! Semoga amal ibadah kurban kita diterima Allah SWT. Aamiin ya robbal alamiin.

Hari Raya Idul Adha tahun ini memang terjadi di tengah situasi yang kurang bersahabat bagi kita semua. Tidak sedikit masjid yang biasanya rutin setiap tahun menyelenggarakan penyembelihan kurban bersama masyarakat sekitar terpaksa meniadakan kegiatan tersebut pada tahun ini untuk mencegah penularan Covid-19.

Namun hal tersebut insya Allah tidak menjadi penghalang. Beberapa masjid yang saya ketahui meniadakan kegiatan penyembelihan, umumnya masih tetap menerima hewan kurban. Tapi untuk penyembelihannya, diserahkan kepada Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

Selain itu tak sedikit juga lembaga-lembaga ZIS yang menerima pemesanan hewan kurban secara daring dan siap mengantarkan hak daging kurban kepada shohibul kurban. Sehingga masyarakat memiliki beberapa alternatif dalam menjalankan ibadah sunnah muakkad yang sangat dianjurkan ini.

Di momen Idul Adha ini juga, dibandingkan momen Idul Fitri yang lalu, lebih banyak pihak yang menyelenggarakan sholat Ied. Tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak.

Suasana sholat Ied di Masjid Salman ITB

Pagi tadi saya sholat Ied di Masjid Salman ITB. Ini untuk pertama kalinya sepanjang tinggal di Bandung saya sholat Ied di sana. Untuk pertama kalinya juga saya sholat di Masjid Salman kembali semenjak masa pandemi ini ditetapkan pada Maret yang lalu.

Tidak terlalu ramai jamaah yang sholat di sana. Hingga pukul 6.30 beberapa shaf bagian belakang masjid sepenglihatan saya masih menyisakan 2-3 baris. Sholat sendiri dimulai tepat pukul 6.45.

Bakar-bakar sate domba

Kemudian malam tadi, saya dan beberapa teman melakukan bakar-bakar sate daging domba hasil kurban salah seorang teman di Salman. Alhamdulillah dagingnya sangat banyak untuk santapan kami berdelapan malam tadi.

[Book] Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang

Judul: Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang
Penulis: Reno Andam Suri
Penerbit: Terrant Ink
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 200 halaman

Akhir Juni kemarin di jagat dunia maya Indonesia sempat heboh dengan berita penayangan episode kuliner Gordon Ramsay di National Geographic yang mengeksplorasi kekayaan kuliner khas Sumatra Barat, khususnya rendang. Maklum, sebagai orang Indonesia tentunya kita bangga masakan khas dari negara kita tercinta ini bisa diangkat di sebuah channel yang ditonton oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Di circle media sosial saya, terutama mereka yang paham seluk-beluk mengenai masakan rendang tidak ketinggalan untuk memberikan opininya. Terutama terkait dengan masakan yang rendang yang dibuat oleh Gordon Ramsay.

Hingar bingar pembahasan tentang rendang yang mewarnai pemberitaan di berbagai media massa online dan media sosial saat itu membuat saya tertarik untuk mengenal lebih dekat terhadap dunia perendangan.

Saya kemudian secara impulsif mencari buku yang membahas mengenai rendang. Beberapa hasil penelusuran online saya banyak yang menjadikan buku Rendang Traveler sebagai referensi. Saya pun membeli buku tersebut di salah satu toko online.

Sesuai judulnya, Rendang Traveler ini bisa dibilang merupakan sebuah catatan Reno dari hasil perjalananannya mengeksplorasi khazanah kuliner Rendang di tanah kelahirannya, ranah Minang.

Continue reading

Mengatasi WordPress Redirect Hack

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang meminta tolong untuk mengecek error yang terjadi di websitenya. Ia menggunakan WordPress.org sebagai CMS (Content Management System) webnya.

Katanya ia tidak bisa login ke dalam webnya. Setiap kali membuka halaman apa pun di webnya, ia kena redirect ke halaman lain.

Saya pun mencoba mengakses webnya. Ternyata benar, saya juga selalu kena redirect setiap mengakses halaman manapun. Berikut ini adalah tampilan web tujuan redirect tersebut:

Web tujuan redirect

Kadang-kadang juga di-redirect ke halaman berikut ini:

Web tujuan redirect yang lain

Saya mencoba googling terkait permasalahan ini. Rupanya permasalahan ini adalah hal yang cukup umum terjadi di WordPress.org. Saya menemukan beberapa petunjuk untuk mengatasi masalah ini setelah membaca artikel ini.

Secara logika, bagi yang sudah familiar dengan pemrograman web, pasti akan mencari di mana letak script yang menjalankan perintah redirect ini. Kita bisa melihat source code dari halaman letak di mana kita kena redirect dengan cara menekan CTRL+U.

Continue reading

100 Tahun ITB

Kemarin, 3 Juli 2020, adalah perayaan 100 tahun ITB (3 Juli 1920 – 3 Juli 2020). Ulang tahun ke-100 alias 1 abad mestinya menjadi momen untuk mengadakan peringatan dengan skala besar. Namun sayangnya momen 100 tahun ini bertepatan dengan masa pandemi sehingga tidak ada perayaan besar-besaran.

Walaupun demikian, euforia 100 tahun ini masih terasa di circle saya, utamanya di dunia maya. Di media sosial, banyak teman alumni yang memasang ribbon 100 Tahun ITB sebagai foto profil mereka. Mereka juga saling berbagi cerita mengenai kenangan-kenangan mereka selama berkuliah.

Mengenai ulang tahun ITB sendiri, sebetulnya saya agak bingung ITB mengacu ke ulang tahun yang mana, hehehe. Secara institusi, ITB memang sudah berdiri dengan nama Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB) pada 3 Juli 1920. Namun, nama ITB secara resmi baru digunakan pada 2 Maret 1959.

Pengalaman selama kuliah dulu, seingat saya ya, perayaan dies natalis itu biasanya mengacu pada tanggal 2 Maret itu. Bahkan pada tahun 2009 dulu ITB sempat mengadakan Dies Emas 50 tahun ITB. Saya ingat betul acaranya sangat meriah ketika itu. Saya sendiri sempat berpartisipasi menjaga stand dalam acara bazaar yang berlangsung 3 hari.

Well, terlepas dari kapan ulang tahun ITB sebetulnya, THB sebagai perguruan tinggi teknik pertama sekaligus lembaga pendidikan tinggi pertama di Indonesia (dan juga sebagai cikal bakal ITB) memang tepat berulang tahun yang ke-100 pada tahun ini.

Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada kampus almamater tercinta ini. Alhamdulillah saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan berkuliah di ITB. Bukan karena keren bisa kuliah di ITB, tapi karena di sanalah saya bisa banyak bertemu orang keren baik secara kecerdasan, daya juang, kewirausahaan, keorganisasian, maupun hal-hal lainnya. Banyak ilmu dan pelajaran hidup yang saya dapatkan selama kuliah di ITB ini.