Author Archives: otidh

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Mengganti Baterai dan Layar Google Pixel (Part 1/2)

Setelah memutuskan untuk mengganti baterai Google Pixel, pertanyaan berikutnya yang ada di benak saya adalah apakah saya bisa menggantinya sendiri ataukah harus ke tukang servis.

Mencari Tahu Biaya Servis

Pertama, saya mengecek berapa harga kisaran penggantian baterai Google Pixel di tempat-tempat servis. Dari hasil googling saya menemukan informasi tersebut di website Zapple Repair. Harga baterai baru dipatok sebesar Rp700.000. Lalu ada ongkos pemasangan sebesar Rp500.000. Berarti totalnya Rp1,2 juta. Harga tersebut hampir setengah dari harga HP Google Pixel ini ketika saya beli dulu (Rp2,5 juta).

Akhirnya saya memutuskan bahwa ganti baterai di tempat servis HP bukanlah sebuah opsi. Memang sih informasi yang saya temukan cuma satu itu. Tidak menutup kemungkinan ada tempat lain yang menawarkan jasa jauh lebih murah. Tapi saya agak mager sih kalau mesti survei ke toko-toko servis HP. Wkwkwkw.

Mencari Tahu Harga Baterai

Setelah memutuskan untuk mengganti baterai sendiri, saya mulai survei berapa kisaran harga baterai Google Pixel di situs-situs e-commerce. Dari hasil pencarian, saya mendapatkan temuan bahwa harga baterai Google Pixel ini berada di rentang Rp225.000-400.000.

Saya tidak tahu pasti kenapa rentangnya bisa jauh begitu. Mungkin yang bikin mahal adalah karena baterainya memang asli, sementara yang murah mungkin karena merupakan baterai bikinan perusahaan manufaktur lain. Faktor lainnya bisa jadi kapasitas baterainya juga berbeda.

Continue reading

Google Pixel Mati Sendiri Walaupun Daya Baterai Masih Banyak

Sekitar 5 bulan yang lalu HP Google Pixel saya mengalami masalah. HP mati secara tiba-tiba ketika baterai masih menunjukkan daya sekitar 30%.

Saya pun mencoba untuk menyalakan ulang dengan menekan tombol power seperti biasa. HP sempat menyala sampai menunjukkan halaman booting logo Google. Namun tak lama kemudian HP kembali mati.

Selanjutnya saya mencoba mencolokkan HP ke listrik. Barangkali saya salah lihat persentase daya baterai tadi. Mungkin sebenarnya baterai sudah dalam kondisi daya 5% atau kurang sehingga mati sendiri.

Dalam keadaan HP tercolok ke listrik, HP saya nyalakan. HP berhasil booting dan bisa masuk ke dalam sistem. Saya coba biarkan daya terisi hingga full 100%.

Setelah daya baterai terisi penuh, saya mencoba menggunakan HP dalam keadaan tidak tercolok ke listrik. Ternyata bisa dipakai normal.

Tapi keadaan itu tidak bertahan lama. Baterai cepat sekali drop-nya. Jika sebelumnya HP mendadak mati saat persentase baterai 30%, kini HP sudah mati saat baterai masih 50%.

Saya mencoba men-charge kembali HP saya hingga 100%. Lagi-lagi baterai HP tidak bertahan lama. Persentase baterai ketika HP mati semakin naik dan naik. Terakhir walaupun indikator baterai sudah menunjukkan 100%, begitu kabel charger saya copot, HP langsung mati.

Masalah yang Umum Terjadi

Saya pun mencari informasi mengenai permasalahan yang saya alami di internet. Rupanya kasus ini bukanlah hal yang aneh lagi terjadi pada HP flagship Google, khususnya Google Pixel.

Banyak orang yang melaporkan kasus yang sama. Keluhan-keluhan itu bisa kita jumpai di berbagai artikel atau forum internet. Beberapa di antaranya ada ini, ini, ini, dan ini.

Awalnya saya pikir mungkin ada bug pada update firmware yang diberikan. Sebab yang saya masih tidak paham, HP masih mampu menyala lama ketika saya biarkan dalam mode bootloader atau recovery.

Karena itu saya mencoba untuk menginstal ulang ROM ke versi yang lebih baru. Namun masalah masih terjadi lagi. Saya coba instal ulang ROM ke versi yang lebih lama, ternyata juga tidak menyelesaikan masalah. Padahal langkah itu sudah sesuai dengan apa yang direkomendasikan oleh Google.

Ganti Baterai

Berbagai cara sudah saya coba namun belum membuahkan hasil positif. Saya pun mengikuti langkah terakhir yang juga disarankan oleh orang-orang di forum internet. Yakni, ganti baterai.

Masalahnya desain body Google Pixel ini adalah menggunakan non-removable battery. Namun bukan berarti baterai tidak bisa diganti sama sekali. Bisa, tapi cara menggantinya yang sangat, sangat, sangat tricky.

Di tulisan berikutnya akan saya ceritakan bagaimana pengalaman saya mencari dan mengganti baterai Google Pixel ini.

Naik Bus Pahala Kencana Bandung-Malang

Seperti yang sudah saya singgung di artikel sebelumnya, pada liburan Natal kali ini saya pulang kampung ke Malang dengan naik bus Pahala Kencana. Seumur-umur, ini kali pertama saya naik bus malam dari Bandung ke Malang.

Semasa kuliah dulu saya belum pernah sekalipun. Yang pernah hanyalah naik bus dari arah Malang ke Bandung-nya. Jadi perjalanan kali ini menjadi pengalaman baru bagi saya.

Bus Pahala Kencana yang saya tumpangi ini menurut jadwal seharusnya berangkat dari Pool Pahala Kencana di Jl. RE. Martadinata (alias Jl. Riau) pada pukul 13.00. Tapi bus baru datang sekitar pukul 13.25. Tapi bus tidak bisa langsung parkir di pool karena tak ada ruang.

Di depan kantor ketika itu sedang stand by 2 bus Pahala Kencana tujuan Palembang dan Blitar. Setelah bus Pahala Kencana tujuan Palembang berangkat, barulah bus Pahala Kencana tujuan Malang bisa masuk.

Bus Pahala Kencana tujuan Malang parkir di Pool Jl. Riau, Bandung

Para penumpang yang sudah ready di pool pun segera naik ke dalam bus, termasuk saya. Di dalam bus ada petugas yang “mengabsen” penumpang satu per satu. Tak lama kemudian setelah penumpang dipastikan lengkap, bus pun berangkat meninggalkan pool.

Kursi di dalam bus memiliki formasi 2-2 dengan jumlah 8 baris. Kursinya cukup nyaman, berupa reclining seat, bisa direbahkan ke belakang dan ada tatakan kaki yang bisa dinaik-turunkan.

Continue reading

Beli Tiket Bus di RedBus

Libur Natal kali ini sebenarnya saya tidak berencana pulang kampung. Tapi minggu kemarin ketika melihat kalender ternyata ada hari kecepit antara hari Minggu dan libur Natal, saya pun jadi berubah pikiran untuk pulang.

Sayangnya tiket kereta api sudah pada habis. Mau naik pesawat pun harga tiket sudah mahal. Akhirnya mencoba alternatif lain, yakni bus.

Saya jarang sekali naik bus malam jarak jauh. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari. Terakhir kali naik bus jarak jauh rasanya tahun lalu.

baca juga: Beli Tiket Bus di Traveloka

Pada beberapa kesempatan terakhir, untuk urusan tiket bus ini biasanya saya membelinya di Traveloka. Tapi entah kenapa pada tanggal yang saya inginkan, daftar bus tujuan Bandung-Malang yang keluar di aplikasi Traveloka hanya ada PO. Gunung Harta. Itu pun sudah habis. PO. Pahala Kencana tidak ada.

Saya pun iseng mencari di aplikasi bus lainnya, yakni RedBus. Ternyata PO. Pahala Kencana ada di daftar hasil pencarian. Masih ada 3 kursi lagi yang tersisa. Alhamdulillah, batin saya.

Harga tiketnya ternyata naik. Seingat saya terakhir kali naik bus Malang-Bandung tahun lalu masih di kisaran Rp250.000-280.000. Sekarang menjadi Rp340.000. Mungkin karena bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru juga.

Enaknya di RedBus ini ternyata sedang ada promo untuk pengguna baru (sampai 31 Desember 2019). Kebetulan saya baru kali ini pakai RedBus juga. Dengan memasukkan kode NEW pengguna baru akan mendapatkan diskon 50% (maksimal Rp80.000) dan cashback ke RedBus wallet sebesar Rp50.000. Waktu itu juga lagi ada promo cashback OVO 10% atau 20% gitu jadi saya mendapatkan OVO points 10.000. Alhamdulillah.

Memilih kursi ketika memesan tiket bus di RedBus

Ketika check-in naik bus, kita cukup menunjukkan e-ticket berupa PDF yang dikirim ke email. Atau bisa juga kita menginstal aplikasi RedBus dan menunjukkan e-ticket yang terdapat dalam aplikasi. Tidak perlu melakukan penukaran tiket atau nge-print segala. Saat istirahat makan prasmanan, kita pun juga cukup melakukan prosedur yang sama.

E-ticket dalam bentuk PDF dari RedBus

Di RedBus ini kalau saya lihat di webnya, ada fitur untuk ubah jadwal. Entah apakah berlaku untuk semua PO (Perusahaan Otobus) atau hanya PO tertentu saja. Saya belum mencobanya. Fitur ini belum tersedia di Traveloka saat terakhir kali saya membeli tiket bus di sana tahun lalu. Entah apakah saat ini sudah tersedia atau belum.

Cemoro sewu Gunung Lawu

Lari di Goat Run Lunar Series – Gunung Lawu 20K (Part 2/2)

Minggu, 10 November 2019

Pukul 5 pagi saya keluar dari penginapan menuju ke pertigaan Sekipan. Niatnya hendak mencari tukang ojek untuk mengantarkan saya ke Cemoro Kandang, tempat Race Central. Tapi alhamdulillah nasib baik saya berjumpa dengan mobil pelari lain. Mereka menawari tebengan kepada saya.

Tanpa pikir panjang, saya menerima ajakan tersebut. Ada 3 pelari dalam mobil tersebut. Mereka berasal dari Surabaya. Di dalam mobil kami mengobrol ngalor-ngidul seputar pengalaman lari. Rupanya ini kali kedua mereka mengikuti ajang Goat Run di Lawu.

Menurut jadwal, Goat Run Lawu kategori 20K yang saya ikuti akan mengambil start pada pukul 7 pagi. Masih ada waktu sekitar 1 jam lebih sebelum start dilaksanakan. Saya memanfaatkan waktu tersebut dengan pemanasan dan mengobrol dengan beberapa pelari lain.

Goat Run Lawu
Puncak Gunung Lawu tampak dari garis start

Lari dimulai

Tepat pukul 7 race dimulai. Dari garis start rute langsung berbelok menuju ke arah pintu loket pendakian Cemoro Kandang. Beberapa pelari tampak langsung tancap gas. Saya berusaha sedapat mungkin menjaga jarak dengan pelari terdepan agar tidak ketinggalan terlalu jauh.

Melewati loket pendakian Cemoro Kandang

Di awal-awal, trek menanjak dengan elevation gain yang lumayan besar. Pada 3,5 km pertama kami sudah harus berlari dari ketinggian 1933 mdpl ke 2533 mdpl.

Shortcut

Saya berlari mengikuti marka-marka yang disiapkan panitia. Di awal saya selalu sabar mengikuti marka-marka tersebut walaupun saya melihat ada shortcut yang bisa diambil.

Tipikal jalur pendakian di gunung memang biasanya terdapat percabangan yang nantinya juga akan bertemu lagi. Di antara percabangan tersebut terdapat jalur yang lebih curam dan jalur yang lebih landai. Jalur yang diberi marka ini umumnya memiliki rute yang lebih landai tapi sedikit lebih panjang karena jalannya memutar.

Continue reading
Sekipan

Lari di Goat Run Lunar Series – Gunung Lawu 20K (Part 1/2)

Seminggu setelah mengikuti lari lintas alam (trail running) di BTS Ultra 100 (ceritanya ada di sini), saya kembali mengikuti lari lintas alam lainnya di ajang Goat Run Lunar Series – Gunung Lawu. Ajang ini masih satu rangkaian dengan ajang yang saya ikuti di Gunung Salak 3 bulan sebelumnya. Kali ini ada 3 kategori yang diperlombakan, yakni 20K, 30K, dan 50K. Saya ikut kategori terpendek, 20K.

Transportasi

Gunung Lawu terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk melakukan pendakian di Gunung Lawu ini kita bisa melalui Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah atau Sarangan, Magetan, Jawa Timur.

Ajang Goat Run ini mengambil tempat start dan finish di Cemoro Kandang, Tawangmangu. Sementara untuk race pack collection dan race briefing-nya ada di Sekipan, Tawangmangu. Untuk mencapai Tawangmangu ini kota besar terdekat yang menjadi akses masuknya adalah melalui Solo.

Dari Bandung saya naik kereta api ke Solo via Semarang. Sangat tidak praktis sebetulnya via Semarang. Apa boleh buat, saya beli tiketnya mendadak dan dapatnya KA Harina jurusan Surabaya Pasar Turi via Semarang. Dari Semarang saya lanjut naik KA Kalijaga jurusan Solo Balapan.

Dari Stasiun Solo Balapan kemudian saya berjalan kaki melalui Sky Bridge ke Terminal Tirtonadi. Di Terminal Tirtonadi saya naik bus tujuan Tawangmangu.

Menunggu bus di Terminal Tirtonadi

Bus ini berukuran sedang. Kursinya dua-dua. Busnya tidak ber-AC. Perjalanan Solo-Tawangmangu dikenakan tarif sebesar Rp15.000.

Lama perjalanannya ketika itu kurang lebih 2 jam. Bus cukup sering berhenti menaikturunkan penumpang di tengah jalan. Perjalanan bus ini berakhir di Terminal Tawangmangu.

Suasana Terminal Tawangmangu

Race Pack Collection

Saya tiba di Terminal Tawangmangu sekitar pukul 15.15. Ketika itu cuaca tengah hujan deras. Sembari menunggu hujan reda, saya mampir makan dulu di warung soto yang berada di sebelah terminal. Murah saja semangkuk soto ayam dengan nasi hanya Rp7.000.

Continue reading
Berlari di BTS Ultra 100

Lari Lintas Alam 30K di BTS Ultra 100 (Part 2/2)

Minggu, 3 November 2019

Hujan yang turun sejak malam sebelumnya rupanya belum benar-benar berhenti. Suara hujan rintik-rintik masih terdengar di luar penginapan. Ketika itu jam menunjukkan jam 4 subuh. Di Cemoro Lawang ini, waktu subuh datang lebih awal, yakni jam 4 kurang.

Usai sholat subuh, saya berganti pakaian dan mempersiapkan gears yang perlu dibawa untuk race. Jam 5 pagi langit sudah terang. Saya pergi meninggalkan penginapan menuju Lava View Lodge, race central tempat garis start dan finish BTS Ultra 100 ini.

Baru setengah jalan, hujan mulai semakin deras. Saya pun mampir sejenak di sebuah kedai untuk mengenakan jas hujan. Baru setelah itu lanjut jalan kaki menuju race central.

Para pelari berteduh di Lava View Lodge menunggu hujan reda

Waktu Start Diundur

Hujan deras ini rupanya masih terus berlangsung hingga menjelang waktu start kategori 30K. Menurut jadwal, seharusnya kategori 30K start pada pukul 6 pagi. Mempertimbangkan kondisi cuaca yang kurang bersahabat serta beberapa titik rute lari terendam banjir, panitia memutuskan untuk menunda waktu start menjadi pukul 7 pagi.

Alhamdulillah sebelum jam 7, hujan sudah agak reda walaupun masih turun rintik-rintik kecil. Namun kondisi tersebut tidak menghalangi panitia untuk tetap melakukan start pada jam 7 pagi.

Para pelari bersiap di garis start

Garis Start-Puncak B29

Tepat pukul 7 pagi start untuk BTS Ultra 100 kategori 30K resmi dilaksanakan. Start bertempat di jalan aspal depan Lava View Lodge. Jalan aspal menanjak tapi landai langsung terhampar di hadapan.

Setelah itu kontur trek berikutnya berganti naik turun dengan kemiringan yang cukup landai. Treknya juga berganti dari aspal menjadi tanah.

Berlari menerobos kabut tidak jauh dari garis start

Trek berikutnya pada KM 2,7 hingga 4,3, peserta lari mulai menuruni tebing dinding kaldera hingga tiba di lautan pasir. Kondisi cuaca saat itu sangat berkabut.

Hujan masih terus turun. Bahkan sempat turun lebih deras. Di lautan pasir terdapat beberapa bagian jalan yang digenangi air.

Tiba di lautan pasir setelah menuruni tebing kaldera

Pendek saja jalur yang ditempuh di lautan pasir ini. Tak lama kemudian pada KM 5,6 para pelari harus kembali naik menyusuri tebing kaldera. Menurut catatan Strava saya, elevasi yang harus ditempuh adalah setinggi 530 meter.

Continue reading