Category Archives: Informasi

Lebih Mudah Naik Transportasi Umum dengan Moovit

Dalam beberapa kali kesempatan ke Kuala Lumpur, bisa dibilang saya hampir tidak pernah naik bus RapidKL — operator bus kota di Kuala Lumpur — untuk menjelajahi kota. Selama ini hanya LRT dan KTM yang selalu menjadi transportasi andalan saya.

Hanya dua kali saya pernah naik RapidKL. Itupun karena rutenya direct. Yang pertama merupakan bus gratis yang disediakan sebagai feeder untuk penumpang yang turun di Stasiun Abdullah Hukum menuju Mid Valley. Yang kedua saya naik bus langsung dari Putrajaya Sentral menuju Pasar Seni.

baca jugaPutrajaya Sightseeing Tour

Kepraktisan menjadi alasan utama saya kenapa lebih memilih LRT dan KTM daripada bus. Kalau naik LRT atau KTM, saya bisa tahu posisi kereta yang saya tumpangi tengah berada di mana dan bisa memperkirakan berapa stasiun lagi saya harus turun.

Sedangkan jika naik bus, bagi pelancong seperti saya ini yang tidak hafal jalan, agak kesulitan untuk memperkirakan kapan harus turun. Apalagi bus RapidKL ini tidak berhenti di sembarang tempat. Hanya berhenti di halte yang sudah ditentukan saja.

Terlambat memencet bel (untuk turun), bisa terlewat dari halte di mana seharusnya kita turun. Selain itu untuk naik bus RapidKL ini biasanya sang sopir tidak menyiapkan uang kembalian sehingga agak merepotkan bagi kita jika tidak memiliki uang pas.

Suasana di dalam bus RapidKL

Suasana di dalam bus RapidKL

Kebetulan juga selama ini tempat-tempat tujuan saya di KL rata-rata bisa dijangkau dengan LRT, KTM, atau yang terbaru ada MRT. Jadi memang tidak ada Continue reading

Advertisements

Gambar Gratis di WordPress

Ceritanya saya lagi iseng membuka Admin Dashboard di WordPress dan mengeksplorasi menu-menunya. Saat masuk bagian article editor saya mencoba mengklik tombol “Add Content” di kiri atas editor.

Setelah itu muncul pop-up berisi daftar jenis konten yang hendak kita tambahkan. Saya baru sadar dalam deretan itu ada satu pilihan berjudul “Free Photo Library”.

Entah sejak kapan pilihan tersebut tersedia di WordPress. Mungkin saya yang kurang update juga. Biasanya saya menggunakan fitur “Add Content” itu untuk menambahkan gambar yang saya unggah sendiri tanpa menyadari ada pilihan menu yang lain.

Wordpress Free photo library

WordPress Free photo library

Terus terang ini termasuk fitur yang sangat saya tunggu-tunggu selama ini. Seringkali ketika menulis sesuatu kita memerlukan gambar ilustrasi yang berkaitan dengan tulisan kita, sementara kita sendiri belum tentu memiliki gambar yang kita perlukan itu.

Jadilah kita mencari gambar dengan Google. Setelah ketemu, kita perlu memastikan dahulu bagaimana policy penggunaan gambar tersebut. Apakah mereka mengizinkan kita menggunakannya dengan mencantumkan sumbernya atau tidak diizinkan sama sekali.

Memang ada beberapa situs yang secara khusus menyediakan gambar-gambar untuk dipergunakan secara bebas. Tapi dengan adanya fitur ini kita tak perlu lagi berpindah dari halaman WordPress kita membuka tab baru dan kembali lagi ke article editor untuk menyisipkannya.

Menyisipkan gambar pun menjadi lebih mudah. Seperti gambar yang saya sisipkan di bawah ini.

norway-mountain-sky-blue.jpg

Gambar “hiking” yang diambil dari WordPress Free Photo Libray

 

Gambar-gambar gratis yang tersedia dalam WordPress ini sebenarnya sumbernya berasal dari situs https://www.pexels.com/. Kalau menilik websitenya, di sana disebutkan bahwa sementara ini ada sekitar 40 ribuan stok foto yang bisa digunakan. Sudah lumayan banyak sih menurut saya.

Ada banyak kategori yang tercover. Foto-foto dengan kata kunci umum, seperti “nature”, “city” atau jenis aktivitas seperti “running”, “hiking”, “reading” bisa kita temui dalam stok foto tersebut. Tapi kalau Anda mencari hal yang detail seperti nama tempat, nama orang, atau nama klub sepakbola dengan kata kunci “Juventus” misalnya, kemungkinan besar akan nihil.

Aturan Baru Tourism Tax di Malaysia

Bagi Anda yang ingin bepergian ke Malaysia, bersiap-siaplah untuk mengeluarkan biaya ekstra ketika menginap di hotel di sana. Terhitung sejak 1 September yang lalu, Pemerintah Malaysia telah memberlakukan aturan tourism tax untuk turis asing yang menginap di hotel sebesar RM10 per malam.

Sebuah nilai yang tidak sedikit tentunya. Kurang lebih setara dengan Rp31.000. Dan itu pajak per malam.

Saya sendiri baru tahu aturan ini ketika check-in di sebuah hotel di KL pekan lalu. Saya diminta tambahan biaya RM20, selain deposit. Di meja resepsionis dan setiap kamar dipasang plakat pengumuman terkait penerapan aturan ini agar tamu dapat mengerti.

Saya juga sempat googling untuk mencari tahu lebih rinci terkait aturan ini. Ternyata besaran RM10/malam itu memang flat untuk semua jenis hotel. Sebelumnya sempat ada wacana agar besaran pajak itu mengikuti kelas hotel (baca di sini). Tapi kemudian direvisi (baca di sini).

Padahal pada hotel budget tarif untuk tipe kamar asrama bisa sampai serendah RM20/malam. Adanya tambahan tourism tax RM10 itu artinya ada tambahan pengeluaran 50%.

Tentu saja ini akan memberatkan bagi para budget traveler. Tak mengherankan sampai ada yang walk-off ketika mereka baru tahu aturan tersebut. Seperti kasus di Melaka ini.

Dengan aturan baru tersebut Pemerintah Malaysia berharap mendapat pemasukan sampai sebesar USD 49 juta per tahun. Menariknya, tourism tax ini adalah hal yang umum di negara-negara Eropa walaupun masing-masing memiliki ketentuan yang berbeda (baca di sini). Hmmm…

SPBU Self-Service di Bandung

Ada yang baru saat saya mengisi bensin di SPBU Dago Atas (SPBU 34.401.22) kemarin. SPBU tersebut kini hanya menyediakan SPBU self-service untuk sepeda motor. Untuk kendaraan besar, saya tidak pasti juga karena tidak memerhatikan.

Entah sejak kapan sistem baru ini. Sudah lebih dari 2 bulan saya tidak mengisi di SPBU ini. Yang pasti di sana saya lihat ada spanduk tulisan “SPBU self-service pertama di Bandung”. Tapi kata teman, di SPBU Kota Baru Padalarang juga sudah seperti itu. Entah mana yang duluan.

Sepengamatan saya, tidak ada petunjuk prosedur pengisian bensin. Tapi bagi yang pertama kali datang ke sini seperti saya kemarin tidak perlu khawatir. Tinggal mengikuti orang-orang yang di antrian depan saja.

Pertama, seperti biasa kita masuk ke dalam antrian sepeda motor. Antrian ini tidak langsung untuk mengisi bensin. Yang pertama akan kita datangi adalah kasir. Ada box semi permanen seperti yang biasa kita temukan di sistem parkir. Ada kasir yang duduk di dalamnya.

Kita menyebutkan hendak mengisi dengan bensin apa dan berapa banyak. Misal Pertamax 20 ribu. Kita bayar saat itu juga. Lalu kita pun menerima struk pembayaran. Struk pembayaran ini jangan sampai dibuang karena akan dibutuhkan untuk pengisian.

Antrian berlanjut ke mesin pom. Setiap jalur antrian ada 3 mesin pom di hadapan. Jadi kita bisa langsung menuju ke mesin pom yang kosong saja. Pastikan mesin pom yang anda pilih memang menyediakan jenis bensin yang Anda beli tadi.

Karena saya membeli Pertamax, saya menuju mesin pom yang ada Pertamax-nya (selang biru). Langkah berikutnya adalah men-scan barcode yang ada pada struk pembayaran. Ada satu slot di mesin tersebut yang bertuliskan “Scan Di Sini”. Sudah cukup intuitif kok petunjuknya.

Akan ada bunyi “beep” yang menandakan struk berhasil di-scan. Kita pun bisa mulai mengisi bensin sesuai jenis bensin yang kita pilih. Nanti mesin pom akan berhenti dengan sendirinya apabila bensin yang keluar sudah mencapai angka sesuai yang kita beli itu.

Cukup mudah kan? Sepengamatan saya kemarin, ada 1 petugas yang berjaga di dekat mesin pom. Mungkin sebagai antisipasi jika ada yang kebingungan dalam melakukan pengisian.

 

 

Wajah Baru Terminal Purabaya

Long weekend kemarin saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Dalam perjalanan pulang itu, saat transit di Sidoarjo, tepatnya di Terminal Purabaya Bungurasih, saya dikejutkan dengan wajah baru terminal tersebut.

Tidak sepenuhnya terkejut juga karena saya sudah pernah beberapa kali ke Terminal Purabaya ketika renovasi tengah dilakukan. Tapi kali ini sepertinya proses pengerjaan sudah benar-benar selesai. Dan saya cukup terkesima melihat hasil akhirnya.

Yang terlihat paling berbeda menurut saya adalah departure hall alias ruang tunggu keberangkatan. Mirip sekali dengan suasana di bandara. Selain luas dan megah, juga rapi dan bersih.

Tidak seperti image terminal bus yang kita kenal selama ini, kusam, kumuh, dan semrawut. Bedanya mungkin tidak adanya toko atau resto yang meramaikan hall seperti di bandara.

Departure Hall Terminal Purabaya

Departure Hall Terminal Purabaya

Di departure hall sekarang juga sudah terpasang eskalator ke lantai 2. Terakhir 2 bulan yang lalu saat datang ke sini rasanya itu belum ada.

Jika sebelumnya calon penumpang bisa langsung berjalan kaki keluar dari hall menuju area keberangkatan bus, kini calon penumpang harus naik dulu ke lantai 2. Setelah itu berjalan melalui koridor menuju jalur keberangkatan bus sesuai dengan tujuannya.

Koridor menuju jalur bus

Koridor menuju jalur bus

Berjalan di koridor menuju jalur bus

Berjalan di koridor menuju jalur bus

Namun menurut saya ada kekurangan pada sistem tersebut. Salah satunya yakni turunan tangga dari koridor menuju tempat pemberangkatan bus menurut saya tidak ramah terhadap penyandang disabilitas.

Atau mungkin ada jalan lain yang sudah dibuatkan? Saya kurang tahu juga sih. Tapi yang jelas, pembangunan fasilitas publik sudah selayaknya harus memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas juga.

Saya berharap semoga perubahan yang sudah baik ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan juga tentunya. Terutama juga terus diperhatikan agar bisa semakin ramah terhadap penyandang disabilitas juga. Image terminal bus sebagai tempat yang “angker” pun juga semoga bisa semakin terkikis dengan perbaikan-perbaikan tersebut.

Mencoba Co-working Space DiLo Malang

Beberapa hari yang lalu saya pulang ke Malang karena ada suatu acara. Kebetulan mengambil hari kerja juga karena memang ingin agak lama di Malang.

Ingin tetap produktif, bersama teman saya, kami googling mencari informasi mengenai co-working space di Malang. Yang paling banyak keluar di hasil pencarian umumnya artikel tentang DiLo (Digital Lounge) saja. Selebihnya informasi di artikel-artikel lain sudah out of date atau tidak jelas apakah itu co-working space yang disewakan untuk umum, bahkan masih ada atau nggak juga nggak jelas :D.

Sebelumnya saya pun sempat bertanya teman yang ada di Malang mengenai coworking space yang ada di sana. Mereka juga menyebut DiLo ini. DiLo sendiri sebenarnya tidak hanya di Malang. Ada di beberapa kota juga. DiLo sendiri merupakan bikinan PT Telkom Indonesia yang memang diperuntukkan bagi para pelaku industri digital. Di Malang lokasinya ada di Jalan Basuki Rahmat 11A, tepat di samping Toko Oen.

Kami datang ke sana pada hari Senin. Sayangnya DiLo ini baru buka pukul 10. Bagi saya itu sudah cukup siang. Apalagi di Malang yang Continue reading

Untung Ada Paspor Lama

Masih terkait dengan tulisan saya sebelumnya tentang perpanjangan paspor, beruntung sekali ketika itu saya meminta paspor lama saya kembali. Keberadaan paspor lama ini ternyata sangat menolong saya di perjalanan ke luar negeri saya yang pertama dengan paspor baru.

Jadi ceritanya bulan lalu saya hendak pergi ke Malaysia dengan paspor baru. Seperti biasa sebelum terbang, saya datang ke konter check-in. Petugas AirAsia mengecek paspor saya dan tujuan saya. Setelah itu dia terlihat ragu untuk meng-issue boarding pass saya.

Petugas AirAsia: “Berapa lama di Malaysia?”
Saya: “Seminggu mbak.”
Petugas AirAsia: “Ada tiket pulang nggak?”
Saya: “Wah, belum beli mbak.”
Petugas AirAsia: “Saya nggak bisa issue boarding pass kalau nggak ada tiket pulang.”
Saya: (Dalam hati saya bergumam biasanya tanpa nunjukkin tiket pulang juga nggak apa-apa. Kayaknya saya tahu nih penyebab keraguan mbaknya.)
Saya: “Ini bukan pertama kali saya ke luar negeri kok mbak. Ini paspor lama saya (sambil menunjukkan paspor lama saya).”
Petugas AirAsia: (Membuka-buka paspor lama saya, dan Continue reading