Backsound Sehabis Hujan

Sekitar 1-2 minggu terakhir ini beberapa daerah di Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Tak terkecuali di kampung halaman saya di Malang.

Salah satu hal yang saya suka dari hujan adalah suasana yang terbentuk setelah itu. Udara sekitar menjadi lebih segar dan suhu menjadi sejuk. Apalagi di dataran tinggi seperti Malang ini. Malam hari pula.

Juga tidak ketinggalan backsound nyaring yang meramaikan suasana setelahnya. Katak-katak dan serangga kompak melakukan koor paduan suara mengisi heningnya malam.

Alhamdulillah backsound khas pasca hujan ini masih bisa saya jumpai di dekat rumah saya di Malang. Rumah saya memang masih dekat dengan area persawahan. Rasanya menenangkan sekali mendengarkan suara alam ini.

Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Trekking Kebun Teh Sukawana-Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Minggu lalu saya bersama dua orang teman melakukan trekking dengan start dari Kebun Teh Sukawana (Google Maps di sini). Tujuan kami adalah Puncak Gunung Tangkuban Perahu (Google Maps di sini).

Kami meetup di Yomart Ledeng sekitar pukul 5.40 pagi. Setelah itu kami langsung tancap gas menuju Kebun Teh Sukawana melalui Jl. Sersan Bajuri. Tepat di Kimia Farma Parongpong, kami belok kanan menuju Jl. Sukawana.

Jl. Sukawana ini jalannya tidak rata dan berbatu-batu. Jadi tidak bisa kencang-kencang ketika berkendara di sini. Diperlukan kesabaran dan kehati-hatian ketika melintasi jalan ini.

Tujuan kami adalah Warung Ibu Onah yang berada di area Kebun Teh Sukawana. Kami menitipkan sepeda motor kami di warung tersebut dengan tarif Rp5000.

baca juga: Ngaprak Ngabring ke Kebun Teh Sukawana dan Curug Layung

Setelah itu kami bersiap-siap untuk memulai trekking. Tak lupa kami pemanasan dahulu. Jam menunjukkan tepat pukul 6.30 ketika kami memulai trekking.

Cuaca pagi itu cukup mendung. Sehari sebelumnya sempat hujan juga. Jadi kondisi tanah masih cukup basah. Tapi tidak sampai yang becek juga.

Trekkinng di tengah Kebun Teh Sukawana

Kami berjalan kaki menikmati segarnya udara pagi itu serta pemandangan Kebun Teh Sukawana yang ijo royo-royo. Sesekali kami berlari juga. Tapi lebih banyak jalan kaki sih. Hihihi.

Continue reading

Efek Kopi

Kopi bagi saya sudah seperti kebutuhan agar bisa produktif ketika bekerja. Dengan minum kopi pikiran saya biasanya jadi lebih segar.

Saya biasa minum kopi single origin baik Arabika ataupun Robusta di pagi hari ketika hari kerja. Efek kopi ini biasanya saya rasakan sampai sore hari menjelang pulang. Saya jadi terjaga. Tidak mengantuk. Pulang kerja saya bisa tidur dengan jam tidur normal.

Namun, seminggu terakhir ini saya mencoba kopi baru. Maksudnya baru pertama ini bagi saya mencobanya. Saya mencoba kopi original blend Indocafe hasil pemberian Ibu dari parcel lebaran yang beliau terima kemarin.

Indocafe Original Blend

Hari ini kali ketiga saya meminum kopi ini. Dan selama tiga kali percobaan itu saya sukses dibuat susah tidur. Padahal saya biasa minum kopi hitam single origin dan tidak sampai memberikan efek seperti ini.

Saya pikir karena sebelumnya takaran yang saya ambil untuk diseduh terlalu banyak. Sebelumnya 12 gram dalam satu gelas. Kali ini saya hanya mencoba setengahnya saja, yakni 6 gram dalam satu gelas. Ternyata sama saja efeknya.

Tulisan ini saya buat jam 1 dini hari karena tidak bisa tidur. Padahal saya sudah mencoba tidur dari jam 22.30 tadi. Saya pun sebenarnya sudah lama tidak begadang dan memang sudah lama tidak bisa begadang juga.

Oh ya, tulisan ini bukan promosi ya. Tidak bermaksud promosi sama sekali. Hanya sharing. Barangkali ada yang punya pengalaman yang sama dengan saya. 😂

Setahun yang Lalu

24 Agustus 2019. Usai sholat subuh berjamaah bersama bapak di mushola RS, saya pergi menemani Bapak ke ruangan ICU tempat di mana adik terbaring. Saat itu kondisi adik sedang dalam keadaan kritis dan pernafasannya dibantu dengan selang oksigen.

Bapak seperti biasa selalu mencoba menuntun adik untuk melaksanakan sholat subuh dengan membacakan takbir sesuai urutan gerakan sholat dan Al-Fatihah. Walaupun adik terlihat dalam keadaan tidak sadar saat itu, kami berharap adik bisa mendengarnya.

Usai sholat subuh, saya mentalqin adik dengan membaca kalimat “Laa ilaaha Illa Allah”.

Beberapa menit kemudian bedside monitor menunjukkan pencatatan yang tidak biasa. Saya memanggil perawat jaga untuk menanyakan perihal itu.

Continue reading

Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Libur hari kemerdekaan dan long weekend yang menyusul sesudahnya ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Akhirnya, saya pulang kampung (dan ke luar kota) lagi setelah sekitar setengah tahun mendekam di Bandung.

Kekhawatiran akan tertular Covid-19 atau menjadi carrier tentunya pasti ada. Namun, mumpung ada libur yang bisa dipakai lumayan panjang saat ini, jadi kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Entah kapan lagi libur panjang berikutnya.

Kereta Api menjadi pilihan saya yang paling nyaman dan (insya Allah) aman menurut saya untuk bepergian saat ini walaupun belum ada kereta api yang langsung ke Malang pada tanggal yang saya pilih. Saya harus transit dulu di Surabaya dan berganti kereta api lagi ke Malang.

Tiket sudah saya beli sejak sekitar 10 hari sebelum keberangkatan. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Mungkin memang masih sedikit orang yang bepergian di masa pandemi ini. Atau mungkin lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Untuk dapat diizinkan melakukan perjalanan dengan kereta api, setiap calon penumpang wajib juga untuk menyertakan surat keterangan non-reaktif pada hasil rapid test-nya. Surat ini akan diperiksa saat pemeriksaan tiket di pintu boarding.

Continue reading

Selamat Idul Adha 1441 H

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H bagi saudara-saudara sesama muslim sekalian! Semoga amal ibadah kurban kita diterima Allah SWT. Aamiin ya robbal alamiin.

Hari Raya Idul Adha tahun ini memang terjadi di tengah situasi yang kurang bersahabat bagi kita semua. Tidak sedikit masjid yang biasanya rutin setiap tahun menyelenggarakan penyembelihan kurban bersama masyarakat sekitar terpaksa meniadakan kegiatan tersebut pada tahun ini untuk mencegah penularan Covid-19.

Namun hal tersebut insya Allah tidak menjadi penghalang. Beberapa masjid yang saya ketahui meniadakan kegiatan penyembelihan, umumnya masih tetap menerima hewan kurban. Tapi untuk penyembelihannya, diserahkan kepada Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

Selain itu tak sedikit juga lembaga-lembaga ZIS yang menerima pemesanan hewan kurban secara daring dan siap mengantarkan hak daging kurban kepada shohibul kurban. Sehingga masyarakat memiliki beberapa alternatif dalam menjalankan ibadah sunnah muakkad yang sangat dianjurkan ini.

Di momen Idul Adha ini juga, dibandingkan momen Idul Fitri yang lalu, lebih banyak pihak yang menyelenggarakan sholat Ied. Tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak.

Suasana sholat Ied di Masjid Salman ITB

Pagi tadi saya sholat Ied di Masjid Salman ITB. Ini untuk pertama kalinya sepanjang tinggal di Bandung saya sholat Ied di sana. Untuk pertama kalinya juga saya sholat di Masjid Salman kembali semenjak masa pandemi ini ditetapkan pada Maret yang lalu.

Tidak terlalu ramai jamaah yang sholat di sana. Hingga pukul 6.30 beberapa shaf bagian belakang masjid sepenglihatan saya masih menyisakan 2-3 baris. Sholat sendiri dimulai tepat pukul 6.45.

Bakar-bakar sate domba

Kemudian malam tadi, saya dan beberapa teman melakukan bakar-bakar sate daging domba hasil kurban salah seorang teman di Salman. Alhamdulillah dagingnya sangat banyak untuk santapan kami berdelapan malam tadi.

[Book] Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang

Judul: Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang
Penulis: Reno Andam Suri
Penerbit: Terrant Ink
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 200 halaman

Akhir Juni kemarin di jagat dunia maya Indonesia sempat heboh dengan berita penayangan episode kuliner Gordon Ramsay di National Geographic yang mengeksplorasi kekayaan kuliner khas Sumatra Barat, khususnya rendang. Maklum, sebagai orang Indonesia tentunya kita bangga masakan khas dari negara kita tercinta ini bisa diangkat di sebuah channel yang ditonton oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Di circle media sosial saya, terutama mereka yang paham seluk-beluk mengenai masakan rendang tidak ketinggalan untuk memberikan opininya. Terutama terkait dengan masakan yang rendang yang dibuat oleh Gordon Ramsay.

Hingar bingar pembahasan tentang rendang yang mewarnai pemberitaan di berbagai media massa online dan media sosial saat itu membuat saya tertarik untuk mengenal lebih dekat terhadap dunia perendangan.

Saya kemudian secara impulsif mencari buku yang membahas mengenai rendang. Beberapa hasil penelusuran online saya banyak yang menjadikan buku Rendang Traveler sebagai referensi. Saya pun membeli buku tersebut di salah satu toko online.

Sesuai judulnya, Rendang Traveler ini bisa dibilang merupakan sebuah catatan Reno dari hasil perjalananannya mengeksplorasi khazanah kuliner Rendang di tanah kelahirannya, ranah Minang.

Continue reading