Manual Coffee Grinder

Giling Kopi Manual

Beberapa minggu yang lalu saya iseng-iseng mencari penggiling biji kopi di sebuah website e-commerce. Harganya ternyata bervariasi. Mulai dari 80 ribuan sampai ratusan ribu. Yang jutaan pun juga ada.

Karena cuma untuk memenuhi rasa penasaran saya saja, maka saya cari yang paling murah saja, yang harga 80 ribuan. Dengan harga segitu dapatnya coffee grinder yang manual saja. Terbuat dari kayu.

Sebelumnya saya tidak sengaja membeli satu bungkus biji kopi 200 gram. Ini pertama kali saya membeli kopi yang masih dalam bentuk biji. Biasanya selalu membeli kopi bubuk. Karenanya saya membeli coffee grinder itu.

The sooner you use coffee after grinding it, the more of the original intended flavors there will be. (https://www.theroasterie.com/blog/should-i-buy-ground-coffee-beans-or-whole-coffee-beans/)

Katanya memang lebih enak minum kopi yang diseduh dari kopi yang baru saja digiling. Rasa “asli”-nya masih terasa banget. Setelah mencobanya sendiri, saya pun sangat setuju dengan pendapat itu.

Akan tetapi rupanya tidak mudah menghasilkan rasa yang konsisten dengan manual coffee grinder ini. Lebih tepatnya disebabkan karena susah untuk menghasilkan ukuran butiran kopi yang konsisten. Kadang butiran kopinya halus, kadang kasar, dan dalam satu gilingan ukurannya bisa berbeda-beda.

Tapi tidak menjadi masalah karena saya tidak perlu sedetail itu ada dalam menyeduh kopi. Dengan ukuran yang berbeda-beda itu saya pun jadi bisa mencoba berbagai variasi dalam rasa kopi yang saya saya minum.

Advertisements

Aturan Baru Tourism Tax di Malaysia

Bagi Anda yang ingin bepergian ke Malaysia, bersiap-siaplah untuk mengeluarkan biaya ekstra ketika menginap di hotel di sana. Terhitung sejak 1 September yang lalu, Pemerintah Malaysia telah memberlakukan aturan tourism tax untuk turis asing yang menginap di hotel sebesar RM10 per malam.

Sebuah nilai yang tidak sedikit tentunya. Kurang lebih setara dengan Rp31.000. Dan itu pajak per malam.

Saya sendiri baru tahu aturan ini ketika check-in di sebuah hotel di KL pekan lalu. Saya diminta tambahan biaya RM20, selain deposit. Di meja resepsionis dan setiap kamar dipasang plakat pengumuman terkait penerapan aturan ini agar tamu dapat mengerti.

Saya juga sempat googling untuk mencari tahu lebih rinci terkait aturan ini. Ternyata besaran RM10/malam itu memang flat untuk semua jenis hotel. Sebelumnya sempat ada wacana agar besaran pajak itu mengikuti kelas hotel (baca di sini). Tapi kemudian direvisi (baca di sini).

Padahal pada hotel budget tarif untuk tipe kamar asrama bisa sampai serendah RM20/malam. Adanya tambahan tourism tax RM10 itu artinya ada tambahan pengeluaran 50%.

Tentu saja ini akan memberatkan bagi para budget traveler. Tak mengherankan sampai ada yang walk-off ketika mereka baru tahu aturan tersebut. Seperti kasus di Melaka ini.

Dengan aturan baru tersebut Pemerintah Malaysia berharap mendapat pemasukan sampai sebesar USD 49 juta per tahun. Menariknya, tourism tax ini adalah hal yang umum di negara-negara Eropa walaupun masing-masing memiliki ketentuan yang berbeda (baca di sini). Hmmm…

Melihat Pembangunan Bandung di Bandung Planning Gallery

Bertambah lagi satu tempat menarik di Kota Bandung yang bisa menjadi pilihan destinasi kita untuk berwisata. Bandung Planning Gallery (BPG) namanya. Baru saja diresmikan pada tanggal 1 Agustus 2017 kemarin.

Lokasinya sangat strategis, berada di Jl. Wastukencana no. 2. Masih berada dalam kompleks yang sama dengan Balai Kota Bandung. Posisinya tepat di samping Taman Sejarah, menghadap ke Jl. Aceh.

Taman Sejarah

Taman Sejarah

Parkir

Ada beberapa tempat parkir yang bisa tersedia untuk pengunjung. Pertama, tempat parkir yang terletak persis di samping BPG  (masuk dari Jl. Aceh). Selain itu pengunjung juga bisa parkir di tempat parkir halaman balai kota, baik yang menghadap Jl. Wastukencana ataupun yang menghadap Jl. Merdeka.

Saya sendiri karena waktu itu belum tahu lokasi persis BPG ini, akhirnya parkir di halaman Balai Kota. Setelah itu dari sana saya berjalan kaki melalui jalan tembus menuju Taman Sejarah. Ketika sampai di BPG baru tahu di sana ternyata tersedia tempat parkir juga.

Jam Buka

Bandung Planning Gallery ini hanya buka pada hari Senin-Sabtu saja. Hari Minggu dan hari libur nasional mereka tutup. Jam bukanya dari pukul 09.00 hingga 16.00. Ada jam istirahat pukul 12.00-13.00.

Waktu berkunjung ke sana, kebetulan jam kedatangan saya Continue reading

Warung Kopi

Menikmati Kopi Pahit

Mungkin sudah 3 tahunan ini saya menjadi penikmat kopi pahit. Kopi hitam tanpa gula. Dan ternyata memang lebih nikmat demikian.

Sebenarnya bukan suatu kesengajaan tiba-tiba saya menjadi penikmat kopi pahit ini. Sebelumnya, walaupun saya sudah suka minum kopi, kopi yang saya minum adalah kopi sachetan yang tentu saja rasanya sudah manis by default.

Sejak kuliah saya menjadi penggemar kopi sachetan ini. Mencoba beraneka merek dan rasa. Menjadi teman di kala begadang mengerjakan tugas kuliah.

Kesukaan saya terhadap kopi pahit ini mungkin bermula sejak sekitar 3 tahun lalu ketika ada seorang teman saya yang baik hati membawakan kopi ‘beneran’, oleh-oleh dari tempat dinasnya. Kebetulan dia memang sering dinas ke luar pulau.

Ketika itu dia membawakan beberapa jenis kopi. Saya pun karena sudah diberi, mencoba kopi tersebut. Saya mencobanya dengan tanpa gula, alias apa adanya.

Oleh-oleh kopi dari teman

Oleh-oleh kopi dari teman

Karena belum biasa, pahit sekali rasanya di lidah saya. Tapi ada satu hal yang membuat saya menjadi suka dengan kopi tanpa gula ini. Rasa kopinya jadi benar-benar terasa di lidah saya, tidak tersamarkan oleh rasa manis dari gula.

Efek yang ditimbulkannya pun lebih terasa. Kopi pahit pertama yang saya minum ini sukses membuat saya susah tidur, hahaha.

Dan perbedaan lain yang saya rasakan dibandingkan kopi sachet adalah perut saya lebih mudah menerimanya ternyata. Sebelumnya, tiap habis minum kopi sachet, saya tak jarang merasakan sakit/mules di perut. Sedangkan setiap habis minum kopi pahit ini rasa mules tersebut ternyata hampir tidak pernah saya rasakan.

Lama-lama saya pun juga sudah biasa dengan rasa pahit kopi itu. Dan ini terbawa ke kebiasaan minum yang lain. Saya sudah mengurangi sekali minum yang manis-manis. Teh pun kalau buat sendiri saya lebih cenderung suka minum tanpa gula.

Ngoding sambil ngopi

Ngoding sambil ngopi

Di sisi lain, saya nggak tahu, apakah ini bisa disebut kecanduan juga. Rasanya jika sehari nggak minum kopi pahit, ada yang kurang dalam seharian itu. Kurang bergairah rasanya. Kopi pahit ini sudah seperti mood booster bagi saya.

Di tengah-tengah ngoding pun, rasanya nikmat sekali sembari sesekali nyeruput kopi. Kalau sudah ngopi, berpikir pun bisa lebih lancar. 😀

 

 

Pantai Kuta

Company Outing ke Bali: Day 3 – Main ke Pantai Kuta (Tamat)

Selasa, 23 Mei 2017

Sebetulnya hingga malam sebelumnya pada hari ketiga ini kami belum menentukan agenda kami akan ke mana. Agak dilematis sih. Waktu yang kami punya untuk hari ketiga ini agak tanggung. Cuma setengah hari.

Awalnya sempat diwacanakan ingin main watersport di Tanjung Benoa. Tapi anak-anak kemudian mengurungkan rencana tersebut karena setelah dipikir-pikir agak repot untuk packing kalau harus basah-basahan lagi sebelum pulang. Harga water sport-nya pun setelah dilihat-lihat ternyata mahal juga. Hahaha.

Setelah melalui beberapa pertimbangan ya sudah hari ketiga ini kami memutuskan untuk bersantai saja. Pagi-pagi renang bareng di kolam renang hotel. Terus jam 9 pergi ke Pantai Kuta.

Suasana kolam renang H. Sovereign Bali saat sunrise

Suasana kolam renang H. Sovereign Bali saat sunrise

Pagi-pagi sekitar pukul setengah 7 kami datang ke area kolam renang. Belum ada orang sama sekali selain kami ketika itu. Petugas yang berjaga pun masih belum tampak. Kolam renang sendiri menurut Continue reading

Company Outing ke Bali: Day 2 – Tour Nusa Lembongan

Senin, 22 Mei 2017

Pagi itu saya dan beberapa teman kantor yang cowok mengawali hari dengan mengikuti sholat subuh berjamaah di Masjid Nurul Huda yang berada di belakang H. Sovereign Hotel. Sehari sebelumnya kami tidak sempat untuk sholat di Masjid Nurul Huda ini karena waktu yang tidak pas.

Saya tidak menyangka jamaah yang ikut sholat subuh ternyata bisa sampai 5 shaf. Ba’da sholat saya iseng mencoba menghitung satu shaf kurang lebih terdapat sekitar 20-25 orang. Kalau dijumlah, artinya total ada 100-an orang lebih.

Sebuah angka yang tentunya cukup besar mengingat lokasi masjid yang berada agak jauh dari pemukiman. Selain itu tentu saja mengingat umat muslim termasuk kelompok minoritas di Bali ini. Kebanyakan jamaah datang dengan menaiki sepeda motor.

Jamaah subuh Masjid Nurul Huda

Jamaah subuh Masjid Nurul Huda

Tour Nusa Lembongan

Agenda jalan-jalan kami hari itu adalah mengikuti tour wisata Nusa Lembongan. Paket tour sudah kami pesan sejak seminggu sebelumnya kepada sebuah agen yang kami temui di internet.

Pukul 8 pagi usai sarapan kami dijemput untuk menuju Pantai Sanur. Perjalanan ke Pantai Sanur ini memakan waktu kurang lebih 30-40 menit dari hotel. Tiba di Pantai Sanur, kami masih menunggu jam keberangkatan kapal kami pukul 9.30.

Menunggu kapal di Pantai Sanur

Menunggu kapal di Pantai Sanur

Perjalanan dari Pantai Sanur menuju Dermaga Jungut Batu di Nusa Lembongan ini kurang lebih menempuh waktu 30 menit. Pagi itu kapal yang kami tumpangi penuh dengan penumpang. Kapasitas kapal sendiri kurang lebih sekitar 40 orang.

Di dalam kapal

Di dalam kapal

Mangrove Forest Tour

Setibanya di Nusa Lembongan kami sudah ditunggu oleh guide kami, bli Gede, bersama temannya. Setelah menyambut kami dan saling berkenalan, tanpa banyak membuang waktu kami Continue reading

Migrasi Data dengan Talend Open Studio

Ketika sebuah instansi memutuskan untuk hijrah dari menggunakan sebuah sistem yang lama ke sistem yang baru, hal yang tak kalah pentingnya ikut menjadi perhatian adalah bagaimana memindahkan data yang ada di sistem lama ke sistem baru tersebut. Akan tetapi hal itu tidak akan menjadi persoalan jika data di sistem yang lama memang benar-benar ingin di-cut off dan benar-benar memulai dari awal di sistem yang baru.

Memindahkan data dari sistem yang lama ke sistem yang baru bukanlah hal yang semudah memindahkan file dari satu perangkat ke perangkat yang lain. Utamanya karena struktur basis data yang digunakan di sistem baru sudah pasti berbeda dari sistem yang lama. Kalau tidak, ya tidak bisa disebut sistem baru juga. Cuma ganti wajah saja tapi dalaman tetap sama, hehehe.

Setidaknya diperlukan effort untuk memetakan kolom-kolom pada basis data di sistem lama dengan yang di sistem baru. Belum lagi jika ada attribut data seperti tipe data, format, jumlah digit atau karakter, nilai default, dsb yang berubah di sistem yang baru, sehingga memerlukan penanganan khusus, atau yang biasa disebut dengan data cleansing.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut ternyata ada satu kakas (tool) yang menurut saya sangat membantu. Dan yang tak kalah pentingnya, gratis! Hehehe.

Talend namanya. Talend sendiri memiliki beberapa produk. Produk yang saya gunakan untuk mengerjakan kasus tadi adalah Talend Open Studio For Big Data. Kebetulan bisa dibilang ini Continue reading