Susah Tidur

Setidaknya 4 hari terakhir ini saya mengalami susah tidur. Saya orang yang tidak suka begadang sebetulnya. Saya lebih suka tidur awal dan bangun awal. 5 Jam tidur sudah cukup bagi saya untuk kembali segar di pagi hari asalkan tidur berkualitas.

Sebenarnya pukul 10-11 malam saya sudah mematikan lampu kamar dan memejamkan mata. Tapi tidak bisa benar-benar terlelap. Perlu setengah jam untuk terlelap. Tapi tak lama kemudian mata terbuka kembali ketika jam masih menunjukkan pukul 12 malam.

Tidak enaknya, saya terbangun dalam kondisi sadar dan tidak mengantuk sama sekali. Saya paksakan tidur jelas tidak bisa. Akhirnya saya mencoba mengerjakan aktivitas lain yang agar mengantuk, seperti membaca buku, menyetrika baju, menata kamar, dsb.

Ketika sudah merasa bosan, biasanya mulai ada kantuk sedikit, di situlah saya mencoba memejamkan mata lagi. Walaupun bisa memejamkan mata, tapi tidur saya ya tidur-tidur ayam begitu. Tidur-melek, tidur-melek. Pagi hari pun kepala menjadi pusing. Susah untuk konsentrasi di kantor.

Olahraga lari yang saya lakukan di malam hari ternyata kurang manjur juga. Badan mungkin merasa lelah. Tapi entah kenapa pikiran saya malah menjadi semakin terjaga.

Saya masih mengidentifikasi penyebab saya susah tidur belakangan ini. Saya jarang sekali mengalami susah tidur sebetulnya. Sebelum ini hal yang mungkin menyebabkan saya susah tidur adalah pengaruh kopi, terlalu senang (ini sekali saja terjadi waktu pengumuman diterima di kampus idaman saya), dan kepikiran kerjaan.

Tapi biasanya hal itu tidak terjadi berturutan. Hanya semalam saja. Siangnya pun bisa tidur. Kali ini tidak. Entahlah.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Advertisements

Selama Masih Bisa Merasa Bersalah

Pernah nggak, kita melakukan kesalahan dan tahu itu salah, tapi entah kenapa kita tidak merasa bersalah? Kita merasa biasa-biasa saja. Jika terjadi demikian, mungkin ada yang salah dengan diri kita.

Bagi saya, bisa merasa bersalah adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Artinya Allah masih menjaga kita di jalur yang diridloi-Nya. Kita merasa tidak nyaman dengan kesalahan yang kita lakukan dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya di kemudian hari.

Salah satu hal yang saya takutkan adalah suatu saat nikmat itu dicabut. Kesalahan yang telah menjadi kebiasaan akan berbahaya karena hati akan kehilangan sensitivitasnya dan menganggap itu bukan kesalahan lagi, walaupun akal mungkin masih mengetahui bahwa itu salah. Semoga kita terlindungi dari hal yang demikian.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Lari Malam di Gasibu

Gasibu menjadi tempat favorit saya untuk lari pada 1-2 bulan belakangan ini. Sebabnya karena saya lebih mudah untuk meluangkan waktu lari pada malam hari daripada pagi hari.

Apalagi pada bulan Ramadan kemarin lari pagi hari bukanlah sebuah opsi. Seminggu setidaknya 1 atau 2 kali saya berlari di Gasibu setelah salat Tarawih. Kebiasaan itu saya coba teruskan pasca Ramadan ini.

Dibandingkan lari di Saraga (Sarana Olahraga Ganesha) — tempat favorit lari saya biasanya — lari di Gasibu lebih murah. Hanya keluar duit Rp3.000 saja untuk parkir sepeda motor. Sedangkan di Saraga, kita perlu mengeluarkan duit untuk tiket masuk Rp4.000 (hari biasa) atau Rp5.000 (Sabtu, Minggu, atau hari libur nasional) dan Rp2.000 untuk parkir sepeda motor.

Baca juga: Lari Malam di Saraga

Selain itu sepertinya tidak ada istilah jam tutup di Gasibu ini. Saya pernah lari di Gasibu hingga jam 10 malam, dan bahkan hingga pukul 22.30, dan Gasibu masih cukup ramai orang pada jam segitu. Karena itu, berlari di Gasibu sangat fleksibel bagi saya yang sering pulang kantor pukul 7 atau 8 malam. Sementara itu Saraga hanya buka hingga pukul 9 malam, dan pada Ramadan kemarin hanya buka hingga pukul 6 sore saja.

Mengenai fasilitas tempat penitipan, saya tidak terlalu yakin apakah di Gasibu ada atau tidak. Saya pernah melihat beberapa orang menitipkan tasnya di pos petugas keamanan. Tapi saya tidak pernah mencobanya. Saya biasanya lari dengan membawa tas kecil.

Lari malam di Gasibu cukup menyenangkan, tapi tidak pada pagi hari. Pada pagi hari ramai sekali pengunjung yang berolahraga di Gasibu ini. Susah untuk jogging atau sekedar jalan kaki berkeliling di lintasan trek lari yang tidak begitu lebar itu. Karena itu, untuk lari pagi hari, opsi favorit saya masih di Saraga.

Buka Bersama di Marase

Beberapa hari yang lalu Rizky, kawan dekat saya semasa kuliah, main ke Bandung. Dia mengajak saya untuk meetup sekaligus buka bersama. Saya bilang coba posting di grup Whatsapp saja, sekalian bikin reunian dengan teman-teman yang domisilinya juga di Bandung. Kebetulan kami ada satu grup whatsapp teman-teman main masa kuliah dulu.

Alhamdulillah gayung bersambut. Ada 4 orang lagi yang bisa bergabung. Satu orang lagi tidak bisa bergabung karena anaknya tiba-tiba sakit. Jadilah kami berdelapan. Ada 2 teman yang masing-masing mengajak istrinya.

Marase menjadi pilihan kami. Mengingat lazimnya tempat makan saat buka puasa yang selalu ramai, kami pun segera melakukan reservasi sehari sebelumnya agar tidak kehabisan tempat. Saya menghubungi nomor whatsapp yang tertera di profil Instagram mereka.

Melalui whatsapp, mereka juga membagikan daftar menu yang tersedia. Saya meneruskan menu tersebut ke grup whatsapp kami dan mengumpulkan daftar pesanan teman-teman. Pada pagi hari H saya sampaikan pesanan tersebut kepada contact person Marase melalui whatsapp.

Proses reservasi ini berjalan lancar. Alhamdulillah tidak ada miss. Pesanan kami semua sudah siap sebelum berbuka puasa. Air minum bahkan sudah tersedia di atas meja ketika saya datang 20 menit sebelum berbuka puasa.

Beruntung juga kami melakukan reservasi sebelumnya. Sore itu Marase benar-benar penuh dengan pengunjung. Tidak ada meja yang tersisa sepanjang pengamatan saya.

Mengenai menunya, saya memesan 1/2 ekor Ayam Turky dengan Nasi Mandi. Ini ayamnya ada 2 potong. Sengaja pesan yang ini karena bagi berdua dengan Rizky. Maklum, Rizky sudah hampir nggak pernah makan nasi, makanya dia mengajak share berdua.

1/4 ekor Ayam Turky Nasi Mandi (Rp50.000,- excl. service charge 5% dan PB1 10%)

Rasanya ternyata enaaakkk bangeeet. Nasinya gurih, empuk, dan tasty. Ayamnya juga sama. Empuuukk banget. Saya nggak tahu pasti sih nama “Ayam Turky” ini diambil dari mana. Apakah dari cara masaknya yang khas Turki, atau dari asal ayamnya (impor dari Turki). Tapi rasa ayamnya enak banget dan baru kali ini merasakan yang seperti itu.

Sementara itu teman yang lain ada yang mencoba Ayam Turky dengan Nasi Rempah. Rasanya juga enak banget katanya. Menurutny, Nasi Rempah ini lebih enak daripada Nasi Mandi. Kebetulan dia dan istrinya memesan menu yang berbeda, jadi bisa mencoba kedua-keduanya.

Dibandingkan Nasi Mandi, secara penampilan, Nasi Rempah ini warnanya agak kuning. Sementara Nasi Mandi warnanya putih pucat. Kayak nasi uduk gitu ya. Hahaha. Kalau joke-nya teman saya, mungkin karena sudah di-“mandi”-kan jadi nasinya lebih putih dibandingkan Nasi Rempah. Maafkan joke teman saya itu ya. 😂

1/2 ekor Ayam Turky Nasi Rempah (Rp58.000,- excl. service charge 5% dan PB1 10%)

Selain Ayam Turky dengan Nasi Mandi dan Nasi Rempahnya, seorang teman yang lain juga ada yang mencoba menu Bebek Perancis Goreng dengan Nasi Hujan Panas. Selain namanya yang unik, penampilannya juga tidak kalah unik. Warna nasinya biru gitu. Tapi rasanya juga enak kata teman saya. Sambelnya juga enak. Kebetulan saya ikutan mencobanya. Lumayan pedas dan semacam ada campuran kunyitnya.

Bebek goreng Perancis Nasi Hujan Panas (Rp38.000,- excl. service charge 5% dan PB1 10%)

Bagi yang suka menu olahan daging kambing, Marase pun juga menyediakan. Seperti yang dipesan oleh teman saya yang lain. Ia memesan menu Kambing Bakar Nasi Mandi. Rasanya pun juga tidak kalah enaknya.

Kambing Bakar Turki Nasi Mandi (Rp55.000,- excl. service charge 5% dan PB1 10%)

Overall, soal rasa makanan saya sangat merekomendasikan tempat ini. Saya dan teman-teman sepakat, masakan Ayam Turky dengan Nasi Rempah dan Nasi Mandinya memang benar-benar enak banget. Saya tentu jika ada kesempatan, akan datang ke sini lagi untuk mencoba menu yang lain.

Kabarnya dulu tempat ini sebetulnya menjual aneka masakan Sei Sapi. Makanya dulu namanya Sei Sapi Marase. Tapi kini lebih dikenal dengan nama Ayam Turky Marase. Walaupun demikian, mereka masih menyajikan menu Sei Sapi itu. Sayangnya kami tidak sempat mencobanya. Mungkin lain kali.

Tapi sebagai tempat untuk berbuka puasa, terus terang saya agak kurang merekomendasikan. Alasan utamanya karena tempat sholatnya kurang memadai. Agak repot kalau mau sholat maghrib. Tapi tidak jauh juga sih dari masjid sebetulnya. Sekitar 350 meter dari Marase ada Masjid Istiqomah yang sangat besar.

———-

Rumah Makan Marase
Instagram: marase.id
Alamat: Jln. Cimanuk No.15 (Samping VIO Hotel)
Jam Buka:
– Minggu-Kamis: 12.00 – 22.00
– Jumat-Sabtu: 12.00 – 23.00
Reservasi: 0813-8124-8404 / 022-2052-9025

Tidak Maag Ketika Berpuasa

Bagi saya hal menarik dari berpuasa adalah kemampuan tubuh untuk beradaptasi dalam kondisi lapar dan dahaga. Maksud saya begini. Ketika tidak berpuasa, setiap kali melewatkan makan, terutama sarapan pagi, perut saya akan meronta-ronta. Namun ketika berpuasa, hal itu alhamdulillah tidak saya rasakan.

Beberapa hari yang lalu saya melewatkan waktu sahur ketika sedang dinas. Saya bangun beberapa menit setalah azan subuh dikumandangkan. Efek kopi hitam yang saya minum malam sebelumnya membuat saya baru bisa tidur pukul 1 malam. Alarm yang sudah saya setel tak terdengar oleh saya.

Saya pun terpaksa menjalani hari itu dengan perut kosong. Saya cemas tak ada energi untuk berakvitias hari itu. Apalagi dari penginapan saya masih perlu berjalan kaki hampir 1 km menuju tempat dinas. Saya takut apabila rasa sakit akibat maag menyerang sehingga saya tidak bisa menjalani aktivitas dengan normal.

Alhamdulillah nyatanya saya bisa menjalani hari itu dengan lancar. Aktivitas saya yang banyak melibatkan kerja otak juga tidak terhambat. Padahal pada hari biasa sebelum Ramadan, jika melewatkan sarapan pagi, saya tidak pernah bisa bekerja dengan baik akibat rasa sakit gejala maag dari perut yang meronta-ronta sebagai.

Dari yang saya dari sebuah artikel, salah satu efek puasa adalah berkurangnya asam lambung yang diproduksi. Walaupun demikian, masih dalam artikel yang sama disebutkan bahwa memikirkan makanan atau mencium baunya dapat merangsak otak kita untuk memerintahkan lambung untuk memproduksi asam lambung lagi.

Lari Pagi Sambil Nonton Persib Latihan

Rabu pagi kemarin adalah hari libur nasional dalam rangka Hari Buruh. Saya memanfaatkan libur itu untuk lari pagi di Sarana Olahraga Ganesha (Saraga) ITB.

Tak disangka, ternyata di lapangan sepakbola Saraga pagi itu tengah ada latihan Persib. Saya baru tahu kalau Persib ternyata sekarang memanfaatkan Saraga sebagai tempat latihan juga. Maklum, saya tidak terlalu mengikuti Persib sebetulnya.

Walaupun cukup sering lari pagi di Saraga, baru kali ini saya melihat Persib latihan di sana. Padahal kalau baca di berita ini, pada bulan Februari kemarin pun Persib sudah mulai latihan di sini. Mungkin waktu saya lari saja yang tidak pas.

Ini pertama kali saya menonton sebuah tim sepakbola profesional latihan. Menarik juga bisa menonton mereka latihan dari jarak dekat.

Ketika saya lari, latihan belum dimulai. Pemain masih santai-santai. Baru kemudian mereka lari keliling lapangan sepakbola 1 atau 2 putaran. Setelah itu lanjut pemanasan ringan.

Setelah pemanasan, mereka main game bola tangan. Nggak ngerti juga apa tujuan latihan bola tangan dalam untuk seorang atlet sepakbola. Mungkin untuk relaksasi saja.

Setelah itu, latihan dilanjutkan dengan latihan taktik oleh pelatih. Sepertinya Miljan Radović yang memimpin langsung latihan taktik saat itu. Saya agak kurang jelas sih karena melihat dari jauh.

Dia tampak mengarah-ngarahkan posisi pemain. Setelah itu, para pemain pun bermain game kecil-kecilan dengan posisi gawang yang tidak biasa.

Tidak lama sih saya menonton Persib latihan. Mungkin sekitar setengah jam saja. Sehabis lari, saya langsung pulang.

Terhipnotis oleh Cerita

Belum ada sepekan, film Avengers: Endgame sudah memecahkan rekor box office akhir pekan pertama pemutarannya. Total 1,2 miliar dolar AS sudah diraup dari pemutaran di seluruh dunia.

Dari situ terlihat betapa film ini sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya. Bahkan sepanjang setahun semenjak pemutaran Avengers: Infinity War hingga menjelang diputarnya ‘Avengers: Endgame’ ini berbagai teori dan spekulasi telah berseliweran di jagat dunia maya mengenai bagaimana film Marvel Cinematic Universe (MCU) ini akan berakhir.

Orang-orang penasaran bagaimana nasib para hero yang mati dalam ‘Avengers: Infinity War’ dan bagaimana para hero tersisa bisa mengalahkan Thanos. Rasa penasaran itu pun terjawab sudah begitu menyaksikan film yang didaulat sebagai penutup serial MCU fase ketiga itu.

Di balik hype yang begitu tinggi mengenai film tersebut, saya pun jadi kepikiran… kok bisa ya kita sebegitu terhipnotisnya dalam mengikuti sebuah cerita fiksi. Kita mengikuti jalan ceritanya sedemikian rupa, menebak-nebak bagaimana ia akan berujung.

Avengers adalah salah satu contoh saja. Setiap orang saya yakin memiliki cerita favoritnya. Entah itu dari sebuah film, buku, atau media yang lain.

Ketika masih kanak-kanak, kita semua mungkin suka sekali dininabobokkan sembari mendengarkan sebuah cerita. Di sekolah juga mungkin kita sepakat saat-saat guru bercerita adalah saat yang menyenangkan.

Ada apa dengan sebuah cerita? Kadang-kadang saya pun nggak habis pikir juga. Ngapain sih saya niat banget mengikuti film MCU ini. Review-review di internet saya baca untuk memahami apa yang terjadi di film dan apa yang kira-kira akan terjadi di film berikutnya.

Padahal itu cerita fiksi bikinan manusia. Hal-hal detail sudah pasti selalu akan ada yang terlewat. Plot hole adalah sebuah keniscayaan, sedikit atau banyak.

Pertanyaan-pertanyaan atau ungkapan keheranan seperti “Eh, kenapa sih harus A yang mati”, “Kok musuhnya jadi gampang banget dikalahkan”, “Kalau A mati waktu lagi time traveling ke masa lalu, bukannya peristiwa yang terjadi di masa depan jadi berubah”, dan lain sebagainya akan selalu timbul.

Mungkin itulah salah satu asyiknya dalam mengikuti sebuah cerita. Memiliki rasa penasaran. Bertanya-tanya mencoba menjawab rasa keingintahuan. Juga berandai-andai mengenai jalan cerita.

Entahlah. Tapi mestinya ada penjelasan secara sains mengapa kita sebagai manusia bisa begitu tertarik dengan cerita.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library