Tidak Maag Ketika Berpuasa

Bagi saya hal menarik dari berpuasa adalah kemampuan tubuh untuk beradaptasi dalam kondisi lapar dan dahaga. Maksud saya begini. Ketika tidak berpuasa, setiap kali melewatkan makan, terutama sarapan pagi, perut saya akan meronta-ronta. Namun ketika berpuasa, hal itu alhamdulillah tidak saya rasakan.

Beberapa hari yang lalu saya melewatkan waktu sahur ketika sedang dinas. Saya bangun beberapa menit setalah azan subuh dikumandangkan. Efek kopi hitam yang saya minum malam sebelumnya membuat saya baru bisa tidur pukul 1 malam. Alarm yang sudah saya setel tak terdengar oleh saya.

Saya pun terpaksa menjalani hari itu dengan perut kosong. Saya cemas tak ada energi untuk berakvitias hari itu. Apalagi dari penginapan saya masih perlu berjalan kaki hampir 1 km menuju tempat dinas. Saya takut apabila rasa sakit akibat maag menyerang sehingga saya tidak bisa menjalani aktivitas dengan normal.

Alhamdulillah nyatanya saya bisa menjalani hari itu dengan lancar. Aktivitas saya yang banyak melibatkan kerja otak juga tidak terhambat. Padahal pada hari biasa sebelum Ramadan, jika melewatkan sarapan pagi, saya tidak pernah bisa bekerja dengan baik akibat rasa sakit gejala maag dari perut yang meronta-ronta sebagai.

Dari yang saya dari sebuah artikel, salah satu efek puasa adalah berkurangnya asam lambung yang diproduksi. Walaupun demikian, masih dalam artikel yang sama disebutkan bahwa memikirkan makanan atau mencium baunya dapat merangsak otak kita untuk memerintahkan lambung untuk memproduksi asam lambung lagi.

Advertisements

Lari Pagi Sambil Nonton Persib Latihan

Rabu pagi kemarin adalah hari libur nasional dalam rangka Hari Buruh. Saya memanfaatkan libur itu untuk lari pagi di Sarana Olahraga Ganesha (Saraga) ITB.

Tak disangka, ternyata di lapangan sepakbola Saraga pagi itu tengah ada latihan Persib. Saya baru tahu kalau Persib ternyata sekarang memanfaatkan Saraga sebagai tempat latihan juga. Maklum, saya tidak terlalu mengikuti Persib sebetulnya.

Walaupun cukup sering lari pagi di Saraga, baru kali ini saya melihat Persib latihan di sana. Padahal kalau baca di berita ini, pada bulan Februari kemarin pun Persib sudah mulai latihan di sini. Mungkin waktu saya lari saja yang tidak pas.

Ini pertama kali saya menonton sebuah tim sepakbola profesional latihan. Menarik juga bisa menonton mereka latihan dari jarak dekat.

Ketika saya lari, latihan belum dimulai. Pemain masih santai-santai. Baru kemudian mereka lari keliling lapangan sepakbola 1 atau 2 putaran. Setelah itu lanjut pemanasan ringan.

Setelah pemanasan, mereka main game bola tangan. Nggak ngerti juga apa tujuan latihan bola tangan dalam untuk seorang atlet sepakbola. Mungkin untuk relaksasi saja.

Setelah itu, latihan dilanjutkan dengan latihan taktik oleh pelatih. Sepertinya Miljan Radović yang memimpin langsung latihan taktik saat itu. Saya agak kurang jelas sih karena melihat dari jauh.

Dia tampak mengarah-ngarahkan posisi pemain. Setelah itu, para pemain pun bermain game kecil-kecilan dengan posisi gawang yang tidak biasa.

Tidak lama sih saya menonton Persib latihan. Mungkin sekitar setengah jam saja. Sehabis lari, saya langsung pulang.

Terhipnotis oleh Cerita

Belum ada sepekan, film Avengers: Endgame sudah memecahkan rekor box office akhir pekan pertama pemutarannya. Total 1,2 miliar dolar AS sudah diraup dari pemutaran di seluruh dunia.

Dari situ terlihat betapa film ini sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya. Bahkan sepanjang setahun semenjak pemutaran Avengers: Infinity War hingga menjelang diputarnya ‘Avengers: Endgame’ ini berbagai teori dan spekulasi telah berseliweran di jagat dunia maya mengenai bagaimana film Marvel Cinematic Universe (MCU) ini akan berakhir.

Orang-orang penasaran bagaimana nasib para hero yang mati dalam ‘Avengers: Infinity War’ dan bagaimana para hero tersisa bisa mengalahkan Thanos. Rasa penasaran itu pun terjawab sudah begitu menyaksikan film yang didaulat sebagai penutup serial MCU fase ketiga itu.

Di balik hype yang begitu tinggi mengenai film tersebut, saya pun jadi kepikiran… kok bisa ya kita sebegitu terhipnotisnya dalam mengikuti sebuah cerita fiksi. Kita mengikuti jalan ceritanya sedemikian rupa, menebak-nebak bagaimana ia akan berujung.

Avengers adalah salah satu contoh saja. Setiap orang saya yakin memiliki cerita favoritnya. Entah itu dari sebuah film, buku, atau media yang lain.

Ketika masih kanak-kanak, kita semua mungkin suka sekali dininabobokkan sembari mendengarkan sebuah cerita. Di sekolah juga mungkin kita sepakat saat-saat guru bercerita adalah saat yang menyenangkan.

Ada apa dengan sebuah cerita? Kadang-kadang saya pun nggak habis pikir juga. Ngapain sih saya niat banget mengikuti film MCU ini. Review-review di internet saya baca untuk memahami apa yang terjadi di film dan apa yang kira-kira akan terjadi di film berikutnya.

Padahal itu cerita fiksi bikinan manusia. Hal-hal detail sudah pasti selalu akan ada yang terlewat. Plot hole adalah sebuah keniscayaan, sedikit atau banyak.

Pertanyaan-pertanyaan atau ungkapan keheranan seperti “Eh, kenapa sih harus A yang mati”, “Kok musuhnya jadi gampang banget dikalahkan”, “Kalau A mati waktu lagi time traveling ke masa lalu, bukannya peristiwa yang terjadi di masa depan jadi berubah”, dan lain sebagainya akan selalu timbul.

Mungkin itulah salah satu asyiknya dalam mengikuti sebuah cerita. Memiliki rasa penasaran. Bertanya-tanya mencoba menjawab rasa keingintahuan. Juga berandai-andai mengenai jalan cerita.

Entahlah. Tapi mestinya ada penjelasan secara sains mengapa kita sebagai manusia bisa begitu tertarik dengan cerita.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Mahalnya Harga Tiket Penerbangan Domestik

Akhirnya saya menuangkan juga kekesalan saya di blog ini. Seperti yang sudah diketahui bersama sejak awal tahun 2019 ini harga tiket pesawat domestik melambung tinggi.

Saya sebetulnya bukan orang yang sering bepergian dengan pesawat antar kota di Indonesia. Kampung dan tempat domisili saya sekarang masih sama-sama di Pulau Jawa. Masih ada bus dan kereta api yang masih menjadi pilihan yang ramah.

Dahulu sesekali saya pergi menaiki pesawat jika ada urusan yang mendadak, atau memang tengah ada promo. Harga rata-rata tiket termurahnya ketika itu memang bersaing dengan kereta api kelas eksekutif.

Ketika harga tiket melambung tinggi awal tahun ini, saya belum merasakan dampaknya secara langsung. Hingga beberapa waktu yang lalu ada kawan dekat saya yang hendak menikah di Pekanbaru.

Saya melihat harga tiket pesawatnya gila-gilaan. Satu arah harga tiketnya 1,1 juta paling murah. Pada tahun kemarin, dengan harga segitu saya sudah bisa pulang-pergi naik pesawat ke nikahan teman saya di Padang. Bahkan lebih murah sedikit.

Karena kenaikan harganya yang tidak masuk akal bagi saya, akhirnya saya pun urung datang ke nikahan kawan saya itu. Mungkin kenaikan harga itu masih bisa ditoleransi jika saya pergi bukan untuk 1-2 hari saja di sana.

Dampak kenaikan harga ini tentunya akan lebih terasa bagi mereka yang domisili dan kampung halamannya berbeda pulau. Seperti kawan kantor saya yang orang tuanya tinggal di Ambon. Sekali naik pesawat sekarang minimal 2,5 juta. Pulang pergi sudah habis 5 juta.

Dengan harga yang sama sudah bisa dapat tiket ke Jepang dan sekitarnya PP. Akhirnya untuk urusan wisata orang lebih pilih ke luar negeri.

Tidak mengherankan apabila jumlah penumpang domestik menurun. Jumlah penerbangan pun juga turut berkurang.

Tapi rupa-rupanya, walaupun jumlah penumpang menurun, kalau menurut artikel ini, jumlah pendapatan maskapai malah meningkat karena naiknya tiket pesawat itu. Well, sepertinya bukan tidak mungkin fenomena ini masih akan terus bertahan untuk beberapa waktu ke depan dan bahkan seterusnya.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Outbound di Grafika Cikole

Hari Ahad minggu kemarin (14/4) saya bersama teman-teman kantor mengadakan acara jalan-jalan ke Lembang. Tepatnya di Terminal Wisata Grafika Cikole. Di sana kami bermain paintball dan permainan outbound lainnya.

Seperti jalan-jalan sebelumnya ke Ranca Upas, kali ini kami juga motoran ramai-ramai ke Cikole. Bedanya kali ini perjalanan tak sampai sejauh ke Ranca Upas.

Baca juga: Camping di Kampung Cai Ranca Upas

Gerbang pintu UPI menjadi meeting point kami. Setelah semuanya komplit, pukul 8.30 kami meninggalkan UPI menuju ke Grafika Cikole.

Tidak semuanya ikut meeting point di UPI. Teman-teman yang dari Cimahi janjian langsung ketemu di Grafika Cikole karena memang melalui rute yang berbeda.

Kumpul di depan UPI
Kumpul di depan UPI

Pagi itu jalan menuju Lembang cukup padat di beberapa titik. Terutama menjelang Farm House. Selepas itu jalanan relatif lebih lengang, apalagi selepas Alun-Alun Lembang.

Kurang lebih waktu tempuh perjalanan kami adalah 30 menit untuk sampai di Grafika Cikole. Tak lama kemudian rombongan dari Cimahi tiba juga di Grafika Cikole.

Continue reading
Big Bad Wolf Indonesia 2019

Berburu Buku di Big Bad Wolf 2019

Sebelum datang ke acara Story Night Jakarta 2019 beberapa minggu lalu, pada siang harinya saya menyempatkan diri untuk mengunjungi bazar buku Big Bad Wolf (BBW) 2019. BBW ini bertempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang.

Ini adalah penyelenggaraan kali keempat setelah yang pertama dulu pada 2016. Sebelum ini saya belum pernah sama sekali datang ke Big Bad Wolf. Karena itu mumpung datang ke Jakarta, dan bertepatan dengan event BBW, saya pun menyempatkan untuk melipir ke Tangerang. Apalagi transportasinya cukup mudah.

Transportasi ke Big Bad Wolf

Setelah naik kereta api dari Bandung, saya menyambung naik kereta rel listirik (KRL) dari Stasiun Jatinegara menuju Stasiun Manggarai, lalu menyambung lagi KRL ke Stasiun Tanah Abang, dan terakhir oper KRL ke Stasiun Cisauk (KRL Commuterline Maja-Tanah Abang). Btw, ini pengalaman pertama saya naik KRL ke daerah BSD. Lumayan jauh juga perjalanannya.

Sesampainya di Stasiun Cisauk, saya kemudian berjalan kaki menuju Terminal Intermoda BSD. Kerennya, Stasiun Cisauk dan Terminal Intermoda BSD ini terintegrasi melalui skywalk. Jadi jalan kaki pun sangat nyaman.

Petunjuk jalan Skywalk di Stasiun Cisauk
Petunjuk jalan Skywalk di Stasiun Cisauk

Di Terminal Intermoda BSD ini ada bus gratis yang disediakan penyelenggara BBW pulang-pergi menuju ICE. Frekuensinya kurang lebih setiap 10-15 menit sekali. Praktis ya.

Continue reading
Tubagus Futsal Club

Futsal Lagi Setelah Sekian Lama

Malam Jumat kemarin saya main futsal lagi setelah sekian lama. Saya main bersama teman-teman kantor di Tubagus Futsal Club.

Btw, ini kali pertama saya main futsal di sana. Malah saya baru tahu ada lapangan futsal di daerah Tubagus Ismail, Bandung. Sejak kuliah saya dan teman-teman paling sering biasanya main di lapangan YPKP.

Bagus juga ternyata tempatnya. Parkirannya luas banget. Padahal lokasinya berada di dalam kompleks perumahan.

Ada 2 lapangan rumput sintetis di sana. Per jamnya 150 ribu rupiah. Sebelum main kami sholat maghrib dulu dan waktu sewa kami terpotong sekitar 10 menit. Yang harusnya kami selesai jam 7 malam, oleh pengelolanya kami dikasih tambahan waktu sampai jam 19.10. Baik ya.

Malam itu lumayan enakan mainnya walaupun sudah lama tidak nendang bola lagi. Kemarin saya bisa mencetak 3 gol dan beberapa assist. Skor pertandingan 11-9 kalau tidak salah. Banyak ya. Hahaha.