Suunto Spartan Trainer Wrist HR

Review Suunto Spartan Trainer Wrist HR

Saya membeli sports watch Suunto Spartan Trainer Wrist HR ini pada bulan Februari 2018 atau hampir 3 tahun yang lalu. Setelah 6 tahun rutin ikutan event-event lari (nggak rutin juga sih, setahun mungkin minimal ikut 1-2 event lah hehe), akhirnya saya memutuskan untuk memiliki sports watch.

Sports watch ini saya perlukan untuk tracking rute dan waktu lari saya. Sebelum memiliki sports watch, saya selalu menggunakan HP yang saya pasang di lengan saya dengan arm band ketika berlari.

Keinginan memiliki sports watch ini muncul setelah melihat teman saya, Ab, yang juga memakainya ketika kami trekking bareng di Gunung Angsi dulu (baca ceritanya di sini). Kelihatannya praktis sekali. Dan tentu saja yang paling bermanfaat adalah walaupun di dalam hutan yang lebat, GPS-nya masih berfungsi dengan baik dibandingkan jika menggunakan HP.

baca juga: Mendaki Gunung Angsi

Awalnya sempat bingung memutuskan apakah ingin membeli sports watch atau smart watch. Akhirnya karena menyadari yang saya benar-benar perlukan utamanya fitur sports tracking, saya memutuskan untuk membeli sports watch saja. Karena dari ulasan-ulasan yang saya baca, memang sports watch ini lebih akurat dibandingkan smart watch.

Continue reading

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Peserta Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Ikut Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Kemarin pagi saya mengikuti rapid test yang disediakan oleh PT KAI bekerja sama dengan Klinik Utama Jasa Prima di Stasiun Kiaracondong. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, pemerintah telah mengeluarkan aturan untuk orang-orang yang hendak bepergian selama liburan Natal dan Tahun Baru ini (22 Desember 2020-8 Januari 2021) agar dilengkapi surat keterangan bebas Covid-19 minimal lewat rapid test antigen.

Aturan ini memperbaharui aturan sebelumnya yang mensyaratkan calot penumpang untuk minimal memiliki surat keterangan bebas Covid-19 lewat rapid test antibodi di mana surat tersebut berlaku selama 14 hari. Sedangkan pada aturan baru ini, surat bebas Covid-19 dengan metode rapid test antigen hanya berlaku maksimal 3 hari saja.

baca juga: Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Saya yang pada liburan kali ini hendak pulang kampung dengan naik kereta api pun tentunya juga harus mengambil rapid test antigen. Menurut info yang saya dapatkan dari website PT KAI sehari sebelumnya (21/12) di sini, di Bandung rapid test antigen ini baru tersedia di Stasiun Kiaracondong saja. Namun ketika datang pagi itu saya mendengar kabar dari salah seorang petugas PT KAI bahwa di Stasiun Bandung juga sudah tersedia rapid test antigen ini.

Saya datang bersama teman saya sekitar pukul 6.30 pagi. Beberapa orang tampak juga sudah datang lebih awal. Padahal jadwal buka layanan rapid test ini adalah pukul 8 pagi. Sekitar pukul 7.30 petugas mulai membuka antrian untuk mengambil nomor antrian. Saya mendapatkan nomor antrian 20-an.

Sekitar pukul 8 pagi, layanan mulai dibuka. Petugas memanggil peserta rapid test sesuai nomor antrian untuk masuk ke dalam tenda pelayanan. Saya mendapatkan panggilan sekitar pukul 8.30.

Di dalam peserta didata terlebih dahulu. Di tahap ini peserta rapid test wajib menunjukkan KTP dan kode booking yang dimilikinya untuk dicatat oleh petugas. Setelah itu peserta membayar biaya rapid test sebesar Rp105.000. Harga ini lebih mahal Rp20.000 daripada rapid test antibodi yang sebelumnya disediakan oleh PT KAI. Tapi biaya ini jauh lebih murah daripada yang dipatok di bandara sebesar Rp200.000.

Petugas mendata peserta rapid test

Setelah membayar, kita akan bergeser ke petugas berikutnya yang akan melakukan swab terhadap peserta. Petugas mengambil sampel lendir dari dalam hidung peserta.

Ini pengalaman pertama saya melakukan swab. Kalau dibandingkan dengan rapid test antibodi, menurut saya pribadi rasanya lebih nggak enak ini. Pada rapid test antibodi, jari kita cukup ditusuk pakai jarum secara cepat. Untuk swab ini, hidung bagian atas kita kayak ditusuk-tusuk gitu pakai alat swab, hehehe. Dan tentu saja nggak secepat kalau ditusuk jarum yang kurang dari sedetik.

Setelah selesai di-swab, peserta tinggal menunggu saja panggilan berikutnya untuk mendapatkan hasilnya. Mungkin perlu menunggu sekitar 15 menit. Alhamdulillah hasil saya negatif.

Petugas melakukan swab

Oh ya, di lokasi kemarin sempat ada yang hasilnya positif. Petugas pun langsung sigap menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruangan di dalam tenda.

Oh ya, untuk rekan-rekan pembaca yang ingin melakukan test di stasiun, saran saya datang lebih awal. Kalau bisa sejam sebelum buka akan lebih baik karena mengingat panjangnya antrian. Menurut catatan saya, kemarin hingga pukul 9 pagi baru sekitar 35 peserta yang mendapatkan giliran untuk rapid test antigen. Prosesnya memang lebih lama dibandingkan rapid test antibodi.

Kapal Suzuka Express bersandar di dermaga Pelabuhan Patimban

Berkunjung ke Pelabuhan Patimban

Hari Sabtu kemarin saya dan senior saya di kantor berkunjung ke Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Agenda kami hari itu adalah untuk membantu mempersiapkan aplikasi web untuk keperluan seremonial soft launching Pelabuhan Patimban keesokan harinya.

Itu kunjungan ke-2 kalinya saya ke sana. Kalau senior saya sih sudah beberapa kali ke sana. Kunjungan pertama saya tepat 3 hari sebelumnya. Ketika itu kami hanya berkunjung ke kantor KSOP-nya saja. Namun Sabtu itu kami berkesempatan untuk mengunjungi area pelabuhannya yang berada di pulau reklamasi.

Berfoto di depan Kapal Suzuka Express

Siang itu di dermaga pelabuhan sudah bersandar Kapal Suzuka Express yang berbendera Panama. Kapal tersebut akan digunakan untuk mengekspor 140 mobil ke Brunei Darussalam pada acara soft launching nanti sebagai penanda ekspor perdana yang dilakukan di Pelabuhan Patimban.

Area lapangan penumpukan Pelabuhan Patimban

Seperti yang kita ketahui bersama, Pelabuhan Patimban ini sendiri kemarin hari Minggu (20 Desember) telah diresmikan oleh Presiden. Semoga harapan Presiden agar Pelabuhan Patimban ini dapat memperkuat posisi Pelabuhan Tanjung Priok dan mendorong peningkatan pereknomian Jawa Barat dapat tercapai.

Subscription Everywhere

Model pembayaran dengan sistem langganan (subscription) dewasa ini menjadi model yang sangat lumrah untuk aplikasi atau layanan online. Segala macam aktivitas seperti mendengar musik, menonton film, membaca buku, membaca berita, membuat catatan, konferensi video, dan menyimpan berkas semua ada layanan untuk berlangganannya.

Bahkan aplikasi-aplikasi yang sebelumnya menerapkan sistem one-time purchase, rata-rata juga telah beralih atau menyediakan opsi sistem subscription juga. Aplikasi-aplikasi dari Adobe adalah contoh di antaranya. Lalu ada Microsoft yang kini menyediakan layanan Microsoft 365 yang merupakan versi langganan dari Microsoft Office.

Momen pandemi yang terjadi awal tahun ini rupanya juga menjadi suatu “berkah” bagi beberapa aplikasi layanan online. Lockdown atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) memaksa orang-orang untuk banyak tinggal di rumah. Pekerjaan atau aktivitas-aktivitas yang biasanya dikerjakan di luar rumah terpaksa berhenti.

Namun beberapa jenis pekerjaan masih bisa dikerjakan dari rumah alias work from home (WFH). Nah, untuk menopang komunikasi dengan rekan kerja, mereka menggunakan aplikasi-aplikasi konferensi video seperti Zoom, Microsoft Teams, atau semacamnya. Jumlah pengguna mereka melonjak tajam. Menurut berita ini bahkan pendapatan Zoom naik 4x lipat selama pandemi ini.

Selain aplikasi konferensi video, layanan online yang bersifat entertaintment atau hiburan juga banyak dicari selama pandemi ini. Pandemi memaksa mereka mencari alternatif hiburan yang bisa didapatkan tanpa harus keluar rumah. Netflix, salah satu penyedia layanan streaming film, mencatatkan kenaikan 16 juta sign-up saat awal pandemi ini.

Continue reading

Kondangan Pertama di Masa Pandemi

Tulisan ini saya dedikasikan buat sahabat saya bung Rizky yang baru saja melangsungkan pernikahan hari Minggu kemarin. Bung Rizky adalah teman dekat sejak masa kuliah. Teman praktikum, teman kelompok tugas bareng, teman traveling, teman ngobrolin bola, teman main voli, badminton, teman main PES, dan berbagai hal-hal lainnya, termasuk kadang-kadang saling curhat soal asmara. Wkwkwk. Blognya bung Rizky, https://ykzir.wordpress.com/, juga yang menginspirasi saya untuk memulai ngeblog dulu.

Alhamdulillah hari Minggu kemarin beliau telah menapaki langkah besar untuk masuk ke dalam babak baru dalam kehidupannya. Barakallah bung Rizky dan sang istri. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Btw, kondangan di pernikahannya bung Rizky kemarin menjadi kondangan pertama yang saya datangi di masa pandemi ini. 😅

Backsound Sehabis Hujan

Sekitar 1-2 minggu terakhir ini beberapa daerah di Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Tak terkecuali di kampung halaman saya di Malang.

Salah satu hal yang saya suka dari hujan adalah suasana yang terbentuk setelah itu. Udara sekitar menjadi lebih segar dan suhu menjadi sejuk. Apalagi di dataran tinggi seperti Malang ini. Malam hari pula.

Juga tidak ketinggalan backsound nyaring yang meramaikan suasana setelahnya. Katak-katak dan serangga kompak melakukan koor paduan suara mengisi heningnya malam.

Alhamdulillah backsound khas pasca hujan ini masih bisa saya jumpai di dekat rumah saya di Malang. Rumah saya memang masih dekat dengan area persawahan. Rasanya menenangkan sekali mendengarkan suara alam ini.

Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Trekking Kebun Teh Sukawana-Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Minggu lalu saya bersama dua orang teman melakukan trekking dengan start dari Kebun Teh Sukawana (Google Maps di sini). Tujuan kami adalah Puncak Gunung Tangkuban Perahu (Google Maps di sini).

Kami meetup di Yomart Ledeng sekitar pukul 5.40 pagi. Setelah itu kami langsung tancap gas menuju Kebun Teh Sukawana melalui Jl. Sersan Bajuri. Tepat di Kimia Farma Parongpong, kami belok kanan menuju Jl. Sukawana.

Jl. Sukawana ini jalannya tidak rata dan berbatu-batu. Jadi tidak bisa kencang-kencang ketika berkendara di sini. Diperlukan kesabaran dan kehati-hatian ketika melintasi jalan ini.

Tujuan kami adalah Warung Ibu Onah yang berada di area Kebun Teh Sukawana. Kami menitipkan sepeda motor kami di warung tersebut dengan tarif Rp5000.

baca juga: Ngaprak Ngabring ke Kebun Teh Sukawana dan Curug Layung

Setelah itu kami bersiap-siap untuk memulai trekking. Tak lupa kami pemanasan dahulu. Jam menunjukkan tepat pukul 6.30 ketika kami memulai trekking.

Cuaca pagi itu cukup mendung. Sehari sebelumnya sempat hujan juga. Jadi kondisi tanah masih cukup basah. Tapi tidak sampai yang becek juga.

Trekkinng di tengah Kebun Teh Sukawana

Kami berjalan kaki menikmati segarnya udara pagi itu serta pemandangan Kebun Teh Sukawana yang ijo royo-royo. Sesekali kami berlari juga. Tapi lebih banyak jalan kaki sih. Hihihi.

Continue reading