Menyeberang Jalan di Brunei

Ada banyak hal menarik yang saya temui saat traveling ke Brunei Darussalam. Salah satunya adalah pengalaman saya saat menyeberang jalan raya di kawasan Pusat Bandar, Bandar Seri Begawan.

Jadi ceritanya saat siang hari saya ingin menyeberang jalan dari Jetty menuju Mall Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah. FYI, jalanan di Brunei ini lengangnya masya Allah. Tak terkecuali di pusat kotanya.

Jalur jalan di depan Jetty sudah saya seberangi. Saya berdiri di separator. Saat akan lanjut menyeberang, saya melihat ada mobil yang melaju dengan kecepatan sedang dari arah kiri.

Sebenarnya jika dipaksa untuk menyeberang masih sempat bagi saya walau sambil agak berlari. Namun saya menahan diri untuk menyeberang, memberikan kesempatan kepada mobil tersebut untuk melintas.

Alangkah terkejutnya saya ternyata mobil tersebut tiba-tiba berhenti. Encik yang mengendarai mobil tersebut  Continue reading

Advertisements

Din

Ada satu bagian yang menarik perhatian saya ketika membaca buku The Muqaddimah versi terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal. The Muqaddimah sendiri aslinya merupakan magnum opus Ibnu Khaldun yang ditulis pada tahun 1377 dalam bahasa Arab.

Walaupun buku tersebut merupakan buku terjemahan dalam bahasa Inggris, ada beberapa kata yang dibiarkan tetap dalam kata bahasa Arabnya. Sebab, kata-kata tersebut memang tidak bisa diterjemahkan secara literal begitu saja.

Salah satunya adalah ‘din’ atau ‘deen’ (دين). Memang di buku tersebut Rosenthal tetap menerjemahkan secara literal menjadi ‘religion’, sebuah terjemahan yang sudah lumrah sebenarnya.

Tapi ia memberikan catatan kaki pada bagian itu.  Ketika menerjemahkan kata ‘din’ menjadi ‘religion’, Rosenthal memberikan catatan kaki seperti ini: ‘Religion’ is here used in the more general sense of ‘way of doing things’. 

Menjadi menarik karena dengan memberi catatan kaki itu itu, seolah Rosenthal ingin menunjukkan bahwa ‘din’ itu bukan sekedar ‘religion’. Ada perbedaan di situ.

***

Yup, insya Allah kita sudah paham bahwa Islam sebagai ‘din’ tidak hanya sebuah faith atau mengatur ibadah ritual saja, tapi juga setiap aspek dalam kehidupan manusia. Mungkin karena itulah Rosenthal menyebutnya sebagai ‘way of doing things’ atau dalam frasa lainnya ‘way of life’. Mengenai konsep ‘din’ ini sendiri ternyata ada pembahasannya tersendiri yang lebih mendalam.

Menyeberang Suramadu Demi Bebek Sinjay

Masih seputar kuliner Surabaya. Setelah di tulisan sebelumnya saya bercerita mengenai kuliner Sambel Belut Surabaya (SBS) H. Poer, kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya menjajal kuliner Bebek Sinjay. Bukan di Surabaya-nya sih, melainkan melipir sedikit ke pulau seberang, yakni Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan.

Saya pergi ke sana berdua dengan teman saya berboncengan sepeda motor. Jaraknya dari hotel kami yang lokasinya berada di dekat Balai Kota adalah 30 km. Perjalanan kami tempuh dalam waktu 42 menit.

Kenapa mau jauh-jauh ke sana? Alasan utamanya sebenarnya karena kami ingin mencoba rasanya melewati Jembatan Suramadu, hahaha. Kebetulan kami berdua memang sama-sama belum pernah ke Jembatan Suramadu.

baca juga[Kuliner] Bebek Kaleyo Bandung

Nah, sudah jauh-jauh ke Suramadu kenapa nggak sekalian mencoba kuliner terkenal di Madura, pikir kami. Pilihan kami jatuh kepada Bebek Sinjay karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Jembatan Suramadu.

Menyeberang Jembatan Suramadu

Menyeberang Jembatan Suramadu

Kami tiba di rumah makan Bebek Sinjay tepat jam 12 siang. Pas sekali dengan waktu makan siang.  Setelah memarkir sepeda motor Continue reading

Kuliner Spesial Belut Surabaya

Menikmati Belut di Spesial Belut Surabaya

Minggu lalu, setelah sekian lama, akhirnya saya berkesempatan untuk main ke Surabaya. Saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati kulineran di sana. Salah satu kuliner yang saya cari adalah kuliner belut.

Sudah lama saya tidak menikmati kuliner belut ini. Dahulu semasa masih menetap di Malang, mungkin 1-2 minggu sekali saya biasa menikmati lalapan belut di dekat rumah. Setelah berdomisili di Bandung agak susah menemukan kuliner yang satu ini, terutama yang pas di lidah.

Dapat rekomendasi dari seorang teman, katanya belut di Spesial Sambal Surabaya (SBS) H. Poer jangan sampai dilewatkan. Jadilah saya pergi ke SBS pada kesempatan itu.

Saya pergi ke cabang SBS yang berada di Jl. Banyu Urip No.139 bersama seorang teman saya jam 9 malam. Ketika itu kebetulan merupakan malam minggu. Walaupun sudah di atas jam 9, ternyata warung masih Continue reading

Beradaptasi dengan Waktu

“In today’s world it’s important to be constantly willing to change, and review and challenge yourself. What works today won’t necessarily work tomorrow. Change is never ending. There will always be new competitors, new situations.”

Quote di atas adalah jawaban Skúli Mogensen, founder dan CEO WOW Air, ketika ditanya mengenai hal apa yang ia pelajari selama berkecimpung di industri teknologi yang digelutinya itu. Sebuah jawaban yang sangat relevan dengan profesi yang saya tekuni juga.

Quote di atas sebelas dua belas dengan apa yang pernah disampaikan Steve Jobs: “Stay hungry, stay foolish”. Jangan pernah puas atas kondisi yang dicapai, terus belajar untuk meningkatkan kualitas agar tidak terlindas oleh persaingan dan waktu. #NTMS

sumber quote: http://www.businessinsider.co.id/wow-air-airline-ceo-tickets-cheaper-69-dollars-2017-1/#05LO4MX2qqwlm76c.99

Oprek Nexus 5

Mengganti Kamera Nexus 5

Menyambung tulisan sebelumnya, setelah kamera pesanan saya dari eBay tiba di rumah, saya pun segera membedah HP Nexus 5 saya. Oh ya, step-step untuk mengganti kamera Nexus 5 ini saya mengikuti tutorial yang ada di video ini:

Video tutorial tersebut sangat mudah dipahami. Mungkin karena step-step dan komponen yang terlibat di dalamnya juga tidak rumit.

Saya sudah mencobanya, dan alhamdulillah kamera yang baru dapat berjalan dengan baik. Fokusnya tidak ada masalah. Jadi benar bahwa sumber permasalahan gagal fokus yang saya alami sebelumnya ada pada kamera, bukan pada firmware atau aplikasi.

Pada tulisan ini saya hanya  Continue reading

Kamera Nexus 5 Tidak Mau Fokus

Sudah lama sebenarnya saya menyadari ada yang tidak beres dengan kamera HP Nexus 5 saya. Kamera saya susah sekali untuk fokus ke suatu objek. Akibatnya, tentu saja hasil jepretannya selalu blurry.

Saya harus mengatur fokusnya berkali-kali sampai kamera benar-benar mau fokus dengan cara mengetuk (lebih keras daripada men-tap) layar. Yang bikin sebal, ketika sudah fokus, lalu menekan tombol jepret, eh kameranya loading nyari fokus lagi. Ngeblur lagi deh fotonya.

Entah sejak kapan masalah ini muncul. Sebelumnya tidak pernah begini. Sebenarnya ada beberapa hal yang saya curigai menjadi penyebabnya. Tapi saya tidak mau berspekulasi karena melibatkan pihak ketiga juga.

Saya mencoba googling perihal ini. Ternyata masalah fokus ini seperti menjadi common problem yang dialami pengguna Nexus 5. Tidak banyak, tapi bukanlah hal yang mengejutkan juga.

Seperti di thread ini. Sayangnya solusi yang diusulkan user-user di thread itu masih belum benar-benar menyelesaikan permasalahan yang saya alami. Ide mengetuk layar dengan keras untuk membuat kamera fokus itu juga berasal dari thread tersebut.

Saya juga sudah mencoba menggunakan berbagai macam aplikasi kamera di Play Store. Hasilnya juga masih nihil.

Akhirnya saya mencoba solusi terakhir, yakni mengganti kamera Nexus 5 saya. Saya coba mencari komponen kamera ini di beberapa situs e-commerce. Namun hanya ketemu di eBay dan Aliexpress saja. Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli di eBay.

Setelah 3 minggu, akhirnya kamera yang saya pesan tiba juga. Di tulisan berikutnya akan saya share pengalaman saya mengganti kamera Nexus 5 ini.