Category Archives: Malaysia

Traveling ke Malaysia

Chin Woo Stadium - Swimming Pool

Renang di Chin Woo Stadium

Ketika beberapa waktu yang lalu saya stay beberapa hari di Kuala Lumpur, badan sempat terasa tidak enak karena lama tidak berolahraga. Sayangnya saya tidak sempat membawa sepatu lari. Tapi untungnya saya tidak lupa membawa kacamata dan celana renang.

Saya pun googling mencari tempat renang yang dekat dengan kawasan KL Sentral. Chin Woo Stadium keluar dalam daftar paling atas. Dan ternyata memang dekat. Bisa dicapai dengan menaiki monorail. Dari stasiun monorail KL Sentral tinggal naik monorail sampai stasiun Maharajalela. Tarifnya RM2,2.

Dari stasiun Maharajalela itu sebenarnya ada shortcut melalui Merdeka Stadium menuju Chin Woo Stadium. Namun, ketika itu tengah ada pekerjaan konstruksi. Saya pun harus berjalan kaki memutar melalui Jalan Petaling-Jalan Hang Jebat. Tapi masih walking distance kok. Bahkan, Chin Woo Stadium ini ternyata juga masih walking distance dari Pasar Seni.

Chin Woo Stadium

Chin Woo Stadium

Chin Woo Stadium sendiri sebenarnya adalah sebuah kompleks olahraga. Tidak hanya ada kolam renang di situ. Tapi juga ada hall untuk olahraga lain.

Fasilitas kolam renangnya buka setiap hari Senin-Jumat pukul 14.00-20.00 dan Sabtu-Minggu (dan hari libur) pukul 09.00-20.00. Tarifnya RM5,3 untuk dewasa. Kalau jadi anggota, ada tarif khusus sih. Tapi kalau di sini cuma beberapa hari saja ya buat apa. 😂

Saya pergi ke Chin Woo Stadium pada Sabtu sore. Ramai sekali ketika itu. Banyak masyarakat yang berenang di sana. Ada kolam renang untuk anak kecil juga. Yang untuk dewasa kedalaman kolam renangnya mungkin ada 2 meter.

Di Chin Woo Stadium ini ada peraturan yang mengatakan pengunjung harus berenang memakai pakaian renang beneran. Pakaian biasa nggak diperbolehkan. Yang saya lihat sih memang semua pengunjung yang datang pakai pakaian renang.

Namun, ada satu hal yang saya tidak nyaman di sini. Kamar bilas laki-lakinya tidak ada tutupnya 😰. Saya pun terpaksa tidak bilas di sana. Mending bersih diri di toilet aja.

 

 

 

 

Advertisements
Buka Puasa di Masjid Negara

Buka Puasa dan Tarawih di Masjid-Masjid di Shah Alam dan KL

Pada awal Ramadhan kemarin, dalam rangka urusan kerjaan, saya terpaksa tinggal selama 6 hari di kota Shah Alam dan Kuala Lumpur, Malaysia. Walaupun sudah beberapa kali ke Malaysia, ini pertama kalinya saya ke sana saat bulan Ramadhan.

Sebuah pengalaman yang saya sudah nanti-nantikan sebelumnya. Saya ingin sekali suatu saat bisa merasakan suasana Ramadhan di negara lain. Alhamdulillah akhirnya kesempatan itu datang juga di Ramadhan tahun ini.

Tidak ada perbedaan yang signifikan terkait durasi puasa di Shah Alam dan KL ini dengan Bandung, kota di mana saya berdomisili saat ini. Durasi puasa di Shah Alam dan KL ini hanya lebih lama 30 menitan daripada di Bandung. Di Bandung (zona GMT+7) waktu Maghrib adalah pukul 17.41 dan Subuh adalah pukul 04.34 (±13 jam). Sedangkan di KL yang berada di zona waktu GMT+8, waktu Maghrib adalah pukul 19.22 dan Subuh adalah pukul 05.40 (±13,5 jam).

Kesempatan Ramadhan pertama di negeri orang ini pun saya manfaatkan untuk mencoba suasana berbuka puasa dan sholat tarawih di berbagai masjid yang ada di sana. Berikut ini adalah 5 masjid yang sempat saya datangi untuk berbuka puasa dan sholat tarawih selama di sana.

1. Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah (Shah Alam)

Menurut catatan Wikipedia, masjid ini adalah masjid terbesar di Malaysia dan yang kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal di Jakarta, Indonesia. Kabarnya masjid ini mampu menampung jamaah hingga 24.000 orang! Namanya diambil dari nama pendirinya yaitu Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, Sultan Negeri Selangor.

Masjid Sultan Shalahuddin Abdul Aziz Shah saat maghrib

Masjid Sultan Shalahuddin Abdul Aziz Shah saat maghrib

Sayangnya, karena saya baru datang ke masjid ini saat adzan dikumandangkan, saya pun tidak kebagian hidangan berbukanya. Hanya ikut merasakan “suasana”-nya saja 😆.

Memang sangat ramai sekali jamaah yang datang.Tak pasti juga berapa jumlahnya. Tapi mungkin sampai ribuan.

Umumnya yang saya lihat mereka datang dengan keluarga. Banyak saya lihat pasangan suami istri yang duduk secara melingkar makan bersama anak-anaknya. Hidangan buka puasanya sendiri dikemas dalam tupperware-tupperware begitu. Dan menunya langsung makanan berat.

Sholat Maghrib baru dilaksanakan sekitar 15-20 menit setelah adzan. Secara umum, kultur di sini memang berbeda dari yang biasa kita temui di Indonesia. Di Malaysia ini Continue reading

Putrajaya Sightseeing Tour

Di sela-sela kunjungan ke Malaysia minggu lalu, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan. Sebenarnya agak bingung juga menentukan tempat tujuan yang ingin dikunjungi kala itu.

Waktu dan kemudahan akses transportasi menjadi pertimbangan saya. Terkait waktu, saya inginnya pagi hari berangkat, terus bisa sampai kembali ke penginapan sekitar sore atau maghrib pada hari yang sama. Kebetulan saat itu saya menginap di daerah sekitar Sri Petaling, Kuala Lumpur, tepatnya di Orange Hotel.

Ada beberapa opsi yang saya pikirkan. Setelah melalui beberapa pertimbangan, pilihan akhirnya jatuh kepada Putrajaya. Sebenarnya 4 tahun yang lalu saya sudah pernah ke sana (ceritanya ada di sini). Tapi masih ada banyak tourist attraction yang terlewat.

baca juga: Keliling Putrajaya

Maklum, ketika itu saya tak memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi Putrajaya. Tambah lagi, waktu saya lumayan tersita oleh masalah transportasi kala itu. Pertama, karena lama mempelajari rute bus. Kemudian waktu cukup banyak juga dipakai untuk bertanya ke orang-orang terkait rute bus. Lalu waktu tersita lagi untuk menunggu kedatangan bus. Dan ketika sudah naik bus pun, makan banyak waktu lagi karena memang rute busnya yang muter-muter.

Nah, kapan itu — saya tak ingat kapan dan di mana — saya pernah membaca iklan bahwa ada wisata “Putrajaya Sightseeing Tour” yang memiliki jadwal tertentu. Ketika itu saya belum terlalu tertarik. Baru ketika datang lagi ke Malaysia kali ini saya teringat lagi dan akhirnya mencari info lebih detail terkait itu.

Googling, googling, googling, eh ternyata di website KLIA Ekspres ada informasinya. Ada 3 jadwal tur dalam sehari. Yakni, pukul 11.00, 15.00, dan 19.30. Namun kabarnya tur malam pukul 19.30 sudah ditiadakan.

Tiket bisa dibeli di konter-konter semua Stasiun KLIA Transit, kecuali  Stasiun Putrajaya & Cyberjaya. Harga yang dibayar sudah termasuk tiket KLIA Transit Putrajaya & Cyberjaya PP. Namun bisa juga Continue reading

Internetan di Malaysia dengan Hotlink

Beberapa waktu yang lalu saya sempat stay selama kurang lebih 2 minggu di Kuala Lumpur untuk suatu keperluan. Karena durasi stay yang terbilang cukup lama, saya pun membeli SIM card lokal agar bisa berkomunikasi lebih hemat selama di sana. Yang saya butuhkan tentu saja lebih kepada komunikasi online sebenarnya.

SIM card yang saya gunakan selama di Kuala Lumpur itu adalah Hotlink, sebuah brand kartu prabayar dari Maxis. Sebelumnya saya biasa menggunakan DiGi tiap kali ke Malaysia (itupun kalau memang terpaksa harus membeli SIM card). Kali ini saya ingin mencoba yang lain. Saya membeli SIM card Hotlink ini di kedai telekomunikasi yang ada di depan pintu keluar kedatangan internasional KLIA2.

baca juga : Internetan di Malaysia dengan DiGi

Harga SIM card-nya adalah RM30, dengan balance sebesar RM25. Pulsa tersebut langsung saya belikan paket internet 500MB+500MB untuk masa aktif 30 hari. Tarifnya adalah RM20.

paket-internet-hotlink

Daftar paket internet yang disediakan oleh Hotlink

Terbilang mahal banget sih kalau dibandingkan dengan tarif internet di Indonesia. SIM card Hotlink ini sudah support 4G btw. Internetnya pun laju sangat (bahasa Melayu untuk mengatakan cepat, hehehe). Dengan kuota sebesar itu kalau untuk pemakaian sehari-hari yang mengandalkan mobile internet, jelas sangat kurang. Namun, bagi saya, kuota sebesar itu sudah cukup untuk mengcover saya sewaktu lagi di jalan.

Screenshot_2016-03-08-20-55-38_com.android.phone (2)

Berlangganan paket 500MB+500MB

Bagaimana registrasinya? Dial number yang harus dihafal terus adalah *100#. Dari situ akan muncul berbagai macam menu. Salah satunya adalah menu untuk berlangganan internet dan mengecek sisa pulsa. Kalau ingin shortcut, bisa menekan *100*2*2# untuk melihat daftar paket internet dan menekan *100*2*1# untuk melihat status dan sisa kuota internet.

daftar menu hotlink

Menu utama *100#

Ingin informasi lebih detail mengenai Hotlink, langsung kunjungi websitenya saja ya di sini.

Mencoba Uber Taxi

Weekend kemarin saya mencoba layanan Uber Taxi untuk pertama kalinya. Bisa dibilang ini juga sebetulnya adalah pengalaman pertama saya menggunakan layanan transportasi berbasis aplikasi. Saya belum pernah menggunakan transportasi berbasis aplikasi lainnya seperti Gojek, GrabBike, GrabTaxi, dll.

Saya sendiri sudah lama sebenarnya membuat akun di Uber Taxi. Saya mendaftar dengan menggunakan referral code yang dibagi oleh teman dan memperoleh free ride up to Rp75.000. 

Setelah hampir 3 bulan berlalu sejak membuat akun itu, akhirnya saya mencoba layanan Uber Taxi ini di Kuala Lumpur. Kebetulan saya waktu itu sedang ada keperluan di kawasan Sri Petaling. Tempat yang saya kunjungi di Sri Petaling ini berjarak 2 km dari stasiun LRT terdekat. Tidak ada kendaraan umum yang bisa digunakan untuk ke sana (ternyata ada bus umum yang melayani rute itu walaupun sangat jarang).

Kok nggak jalan kaki saja? Saya sudah mencobanya. Jauh dan capek, haha. Apalagi saya harus membawa tas yang yang cukup berat. Belum pula saya ada urusan yang memaksa saya 2x PP dari/ke stasiun LRT tersebut. Karena itulah saya berpikir kenapa tidak mencoba layanan Uber Taxi saja. Sekali-sekali lah saya mencoba layanan transportasi berbasis aplikasi.

baca jugaSurge Pricing Uber

Sebagai orang IT, saya juga ingin tahu bagaimana user experience menggunakan aplikasi Uber ini. Mungkin suatu saat bisa menjadi referensi ketika ingin mengembangkan aplikasi sejenis.

Nah, tulisan ini saya buat bukan untuk memberikan tutorial bagaimana menggunakan aplikasi Uber. Saya ada 3 kali menggunakan layanan Uber ini. Ada beberapa catatan mengenai pengalaman saya tersebut yang ingin saya Continue reading

Islamic Arts Museum Malaysia

Melihat Khazanah Seni Islam Dunia di Islamic Arts Museum Malaysia

Artikel ini seharusnya sudah saya tulis dari kemarin-kemarin. Tapi kelupaan terus, haha.

Jadi, dalam perjalanan backpacking saya ke Myanmar 4 bulan yang lalu, saya transit sehari di Kuala Lumpur. Di sana saya menyempatkan diri mengunjungi Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM). Tidak susah menemukan museum ini. IAMM terletak di belakang Masjid Negara atau National Mosque.

Akses terdekat ke sana adalah dengan menaiki KTM dan turun di Stasiun Kuala Lumpur. Dari stasiun bisa menyeberang jalan melalui terowongan. Setelah itu tinggal berjalan kaki menyusuri Jalan Perdana-Jalan Lembah. Selain KTM, kita juga bisa naik LRT dan turun di Stasiun LRT Pasar Seni. Dari stasiun berjalan kaki menyusuri skywalk ke arah Stasiun Kuala Lumpur, menyeberang jalan melalui terowongan, dan nanti keluar tepat di depan Masjid Negara.

Islamic Arts Museum Malaysia

Islamic Arts Museum Malaysia

Tiket masuk museum ini adalah sebesar 14 Ringgit plus pajak (GST) 6%. Penjualan tiket dilayani oleh resepsionis yang ada di dalam lobi. Selain tiket, kita juga akan mendapatkan Continue reading

Kali Pertama Ikutan Full Marathon

Akhirnya pecah telur juga. Dua hari yang lalu (22/11) untuk pertama kalinya saya mengikuti lari full marathon alias lari 42,195 km. Saya ikutan lari full marathon itu di event Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2015. Setahun yang lalu di event yang sama, saya mengikuti lari yang kategori half marathon. Alhamdulillah target ikutan full marathon di tahun berikutnya berhasil terpenuhi. 

Bisa dibilang nekat juga sih. Sejujurnya sejak terakhir ikutan half marathon setahun yang lalu, saya tidak pernah lari lebih dari belasan kilo. Makanya sempat ragu-ragu juga sih apakah saya kuat untuk tiba-tiba berlari sejauh 42,195 km ini.

Dan ternyata memang tidak kuat. Namun alhamdulillah saya Continue reading