Tag Archives: puncak

Mendaki Gunung Angsi

Hari Rabu minggu lepas (31/1) di Malaysia merupakan hari libur nasional dalam rangka Hari Thaipusam. Ketika itu kebetulan saya tengah berada di Malaysia.

Saya bersama kawan saya, Kun, diajak oleh kenalan kami di Kuala Lumpur, Ab, untuk pergi hiking ke Gunung Angsi, Negeri Sembilan, bersama teman-temannya. Tentu saja kami menyambut dengan senang hati ajakan tersebut.

Pukul 4 pagi Ab datang menjemput kami di KL Sentral. Kami pergi bersama menuju McDonald’s Bandar Seri Putera. Tempat tersebut adalah meeting point kelompok hiking kami pagi itu. Di sanalah pula saya berkenalan dengan DJ, Zu, Farihah, Arif, dan Faridah, kawan-kawan Ab dalam pendakian ini.

Kami sempat menikmati sarapan di McDonald’s tersebut. Usai sarapan kami pergi menuju Surau Ibnu Khaldun di Lavender Heights. Kami mampir untuk melaksanakan sholat subuh di sana sekitar pukul 6.30.

Kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju Ulu Bendul, pintu masuk Gunung Angsi di Kuala Pilah. Kurang lebih 10 menit saja dari Lavender Heights itu.

kabut di gunung angsi

Pepohonan berkabut di kawasan pintu masuk Gunung Angsi

Suasana pepohonan dengan penuh kabut menyambut kami. Sementara itu, langit di ufuk timur berwarna merah merekah menandakan posisi matahari perlahan mulai naik meninggalkan garis cakrawala.

Tiket masuk kawasan Gunung Angsi ini adalah 5 Ringgit saja per orang. Setiap orang juga diharuskan Continue reading

Advertisements

Pendakian Gunung Sumbing Via Kaliangkrik (Bag. 3-Tamat): Puncak Sejati

Senin, 26 Desember 2016

Pukul 1.30 alarm dari HP Kuncoro berdering. Tak lama kemudian Kuncoro membangunkan kami semua. Butuh beberapa menit bagi saya untuk benar-benar tersadar.

Usai membangunkan kami, Kuncoro keluar untuk menyalakan kompor. Ia memasak air untuk membuat minuman hangat.

Niam yang juga sudah bangun, mengeluarkan bungkus mie goreng dari dalam tasnya. Ia lalu menyalakan kompor yang lainnya untuk membuat mie goreng. Sudah lapar rupanya dia, hahaha.

Setelah kantuk saya benar-benar hilang, saya keluar dari tenda agar badan bisa menyesuaikan diri dengan hawa dingin di luar. Dan tentunya supaya tidak mengantuk lagi, hehehe.

Kami berencana untuk melakukan perjalanan summit dini hari itu. Kami sengaja bangun dini hari sekali karena waktu kami terbatas. Kami menargetkan jam 5 sore paling telat sudah tiba di Kota Magelang.

Beberapa saat kemudian saya kembali ke dalam tenda untuk menyiapkan barang-barang yang hendak dibawa dalam perjalanan ke puncak dini hari itu. Air mineral, powerbank, dan ponco saya masukkan ke dalam tas kecil.

Ketika kami semua sudah bersiap akan berangkat, ternyata Continue reading

View Sabana 1 dan Gunung Merapi di kejauhan

Catatan Pendakian Gunung Merbabu (Hari 2-Tamat)

Jumat, 1 Januari 2016

Pukul setengah 5 pagi saya terbangun dari tidur. Setelah kesadaran benar-benar terkumpul, saya keluar dari tenda untuk melaksanakan sholat shubuh. Temperatur di Pos 3 Merbabu ini ternyata tak sedingin seperti yang saya rasakan di Surya Kencana, Gunung Gede, pada pendakian sebulan sebelumnya. Cuaca di sini pun juga sangat bersahabat, tidak berangin dan tidak berkabut.

Seusai sholat subuh, saya menyalakan kompor sembari menunggu yang lain terbangun. Mbak Meli, mas Teguh, dan mas Jamal menyusul keluar dari tenda mereka masing-masing. Saya memasak air hangat untuk menyeduh kopi.

Sementara itu di ufuk timur, matahari berangsur-angsur mulai naik melewati horizon. Langit di sekitarnya berubah menjadi berwarna kuning keemasan.

Naik ke Puncak

Pukul setengah 6 saya, Listi, dan mas Jamal bersiap-siap untuk naik ke puncak. Kami menyiapkan makanan dan minuman pada tas kecil kami untuk bekal di jalan. Tepat pukul 5.45 kami memulai perjalanan menuju puncak Merbabu.

Ketika tengah mendaki bukit menuju Sabana 1, saya membalikkan badan dan melihat ke arah Pos 3. Masya Allah… Continue reading

padang edelweiss surya kencana (photo by ferdian)

Pendakian Gunung Gede 3.0 (Hari 2-Tamat)

Minggu, 29 November 2015

Pukul 4.45 saya terbangun. Butuh beberapa menit untuk saya sampai benar-benar tersadar. Rasa pegal-pegal mulai terasa di badan.

Saya keluar tenda. Brrr… Ya Allah, dinginnya. Angin yang dari tadi malam berhembus, ternyata masih berhembus juga subuh itu. Kabut pun juga belum hilang. Saya langsung mengerjakan sholat subuh di samping tenda.

Seusai sholat, saya berpikir kegiatan apa berikutnya yang mau saya kerjakan. Sepertinya rasa kantuk hilang karena dihapus hawa dingin yang saya rasakan. Oh ya, perlu restock persediaan air nih, pikir saya saat itu. Saya pun pergi membawa 3 botol kosong menuju kali kecil tempat mengambil air.

Dari posisi tenda, saya tinggal berjalan lurus mengikuti cekungan kali yang sudah mati (tak ada airnya). Tidak jauh letaknya dari tenda kami. Sudah ada beberapa orang yang mengantri mengambil air dari saluran yang menetes. Alirannya begitu kecil. Saya pun memilih mengambil air dari Continue reading

Di Lembah Mandalawangi

Pendakian Gunung Pangrango (Day 2-Tamat)

Minggu, 19 Oktober 2014

Setelah sholat subuh, kami menghangatkan kembali kacang hijau yang sudah kami masak malam sebelumnya. Kemudian Rani yang meracik kacang hijau tersebut untuk menjadi bubur kacang hijau. Bubur kacang hijau ini menjadi menu “pengganjal perut” kami sebelum nanjak ke puncak Pangrango.

Karena posisi tenda kami berada di jalan pendakian menuju Puncak Pangrango, tak jarang kami bertemu dengan pendaki-pendaki yang hendak menuju ke puncak.

Naik ke puncak dan Lembah Mandalawangi

Setelah sarapan bubur kacang hijau, kami mulai bersiap-siap untuk naik ke puncak. Tenda kami kunci rapat-rapat. Barang-barang seperlunya seperti kamera dan beberapa botol air minum kami bawa.

Tepat pukul 7 pagi kami memulai pendakian menuju puncak ini. Tanpa Continue reading

Sunrise di Mahameru

Pendakian Mahameru (Day 2): Mendung di Mahameru

Pukul 11 malam, masih di hari Sabtu, 29 November 2014, kami semua bangun dari tidur malam kami yang hanya 2 jam. Kami bersiap-siap untuk melakukan summit attack. Ada satu teman yang memutuskan untuk tidak ikut karena kakinya masih terasa sakit karena pendakian seharian sebelumnya.

Saat itu tak hanya kami, kelompok pendaki yang lain juga tengah bersiap-siap. Kami semua berkumpul dan berdoa bersama sebelum memulai pendakian ke Puncak Mahameru tengah malam itu. Pukul 23.30 pendakian pun dimulai.

Minggu, 30 November 2014

Summit Attack

Dari Kalimati kami mendaki menuju Arcopodo. Arcopodo merupakan kawasan vegetasi terakhir sebelum Puncak Mahameru. Pendakian kali ini terasa lebih ringan karena tidak perlu membawa beban yang berat di punggung.

Sekitar 1,5 jam kami menyusuri hutan Arcopodo. Kemudian tibalah kami di batas terakhir vegetasi. Medan berikutnya yang kami hadapi adalah lautan pasir berkerikil. Ketinggian saat itu sebagaimana yang aku cek dari GPS-ku adalah sekitar 3000 mdpl. Wew, berarti ada 676 meter ketinggian lagi yang harus kami tempuh untuk sampai puncak.

Teman-teman pendaki yang lain memilih untuk beristirahat di perbatasan tersebut terlebih dahulu. Sementara aku dan kenalan baruku, Gianluca, orang Italia yang sedang bekerja di Surabaya, melanjutkan pendakian. Jadilah kami berdua menjadi orang yang paling depan dalam summit attack itu.

Awal-awal medan pasir ini belum terasa berat. Aku bisa menjejakkan kaki dengan ‘normal’ karena sedikit terbantukan oleh pasir yang agak basah sehingga membuatnya agak padat. Langkah demi langkah akhirnya kesulitan itu datang juga. Kaki ini susah untuk dicengkeramkan ke tanah. Jika tak mampu menahannya, maka kita akan terperosok 1-2 langkah ke bawah.

Aku mencoba strategi pertama. Mendaki layaknya macan yang berjalan dengan 4 kaki. Tanganku kugunakan untuk mencengkeram kerikil dan bebatuan yang ada di depanku. Sekali gerak, aku bisa dapat 4-6 langkah. Lumayan ber-progress. Pada titik ini ternyata jarak antara kami (aku dan Gianluca) dengan teman-teman pemuncak lainnya sudah cukup jauh.

Semakin lama tenagaku semakin terkuras. Aku merasakan keletihan. Sudah 1,5 jam aku mendaki tanah berpasir ini. Namun, saat kulihat GPS-ku, ternyata kami baru setengah jalan dari Arcopodo tadi. Kami berada di ketinggian 3300-an mdpl. Masih ada 300-an meter lagi.

Lama-lama aku tertinggal oleh Gianluca. Jarakku dengannya semakin jauh. Tapi masih tak sejauh jarak antara diriku dengan pendaki di belakangku. Pada titik ini aku benar-benar merasa seperti sendirian. Di tengah kegelapan malam, tak ada suara sedikitpun. Benar-benar hening. Belum pernah aku merasakan keheningan yang benar-benar hening tanpa suara seperti itu. Bahkan Continue reading

Pendakian Gunung Gede 2.0 (Hari 2)

Subuh itu (7/7) udara dingin terasa amat menusuk sampai ke tulang. Kami semua masih berbaring di dalam tenda berjejer-jejer seperti ikan-ikan yang sedang dijemur. Bayangkan 1 tenda kapasitas 6 orang benar-benar diisi maksimum oleh 6 orang beserta ransel-ranselnya. Jadinya mau mau selonjor atau membaringkan badan ke samping pun agak susah, haha.

Begitu terbangun, aku langsung mencoba sholat Subuh di dalam tenda. Air wudlu terasa sungguh dingin sekali. Saat itu kami terpaksa menggagalkan rencana untuk melakukan summit attack pada dini hari. Teman-teman sepertinya masih kelelahan. Selain itu, keinginan kami, khususnya aku, untuk melihat sunrise juga tidak terlalu menggebu karena sudah pernah pada pendakian sebelumnya. Justru yang belum pernah adalah menikmati pagi yang cerah di hamparan padang Edelweiss Surya Kencana :).

Hamparan Edelweiss

Hamparan Edelweiss di pagi yang cerah

Kami mulai mempersiapkan keperluan untuk sarapan pagi. Kala itu, sang surya telah bersinar dengan terangnya. Walaupun demikian, hangatnya sinar mentari itu tak cukup untuk meredakan dinginnya angin yang berhembus di Surya Kencana pagi itu. Karena itu kami semua masih mengenakan jaket ataupun atribut penghangat lainnya.

Beruntung pagi itu kami mendapatkan pinjaman kompor dari tenda sebelah. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Kuncoro langsung menggunakan kompor tersebut untuk menanak nasi. Cukup lama kami menunggu nasi tersebut hingga matang. Ada mungkin sekitar 45-60 menit kami menunggu. Sambil menunggu itu kami menghabiskan waktu untuk berfoto-foto serta memulai packing barang-barang yang bisa dimasukkan ke dalam ransel saat itu.

Memasak nasi

Memasak nasi

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Aktivitas tersebut ternyata benar-benar efektif untuk menunggu nasi hingga matang, hihi. Sayangnya ternyata kompornya sudah buru-buru hendak diminta balik oleh si empunya. Kami pun tak sempat merebus telor atau memasak mie instan sebagai pelengkap karena jelas tak akan terburu. Kami hanya sempat memanaskan sarden untuk lauk sarapan pagi itu. Tapi untungnya nasi yang kita masak pagi itu merupakan nasi liwet atau nasi gurih yang sudah ‘berasa’ karena bumbu-bumbu di dalamnya. Continue reading