Category Archives: Olahraga

Trail Run di LDB International 2018

Tiga hari setelah naik Gunung Angsi, saya diajak Ab untuk mengikuti event trail run bertajuk LDB International 2018 – Trail Run & MTB. Event tersebut diselenggarakan oleh Felda (Federal Land Development Authority) di Lurah Bilut, Bentong, Pahang. Sesuai namanya, event ini tidak hanya memperlombakan trail run saja, tetapi juga MTB.

Ini untuk pertama kalinya saya pergi ke Negara Bagian Pahang. Perjalanan ke sana ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari Kuala Lumpur. Di Lurah Bilut inilah saya melihat gambaran pedesaan di Malaysia, yang selama ini dengan Kuala Lumpurnya, lebih dikenal dengan banyaknya gedung bertingkat.

Pada event ini, peserta MTB mendapatkan privilege untuk mulai jalan terlebih dahulu, yakni pukul 8 pagi, dan menempuh jarak 30 km. 15 Menit kemudian peserta trail run menyusul dengan menempuh rute lebih pendek, yakni 12 km.

 

Walaupun namanya trail run, kalau dihitung secara kasar, mungkin proporsinya 50% lari di jalan beraspal dan 50% lainnya baru lari di trail, tepatnya di kawasan ladang kelapa sawit yang dikelola oleh Felda. 

Meskipun demikian, rute yang dilalui cukup berat bagi saya.Apalagi saya sudah lama tidak rutin berlari. Cukup banyak tanjakan dan turunan sepanjang rute ini. Selain itu, tak jarang rute melewati tanah berlumpur dan tergenang air sehingga harus melaluinya secara pelan-pelan.

Saya sendiri akhirnya finish di urutan 116 dari 300-an peserta. Jarak yang hampir 12 km tersebut saya tempuh dalam masa kurang lebih 1 jam 20 menit.

Medali Trail Run LDB International 2018

Medali Trail Run LDB International 2018

Dari segi penyelenggaraan event, saya cukup puas sih. Dengan biaya pendaftaran RM50, dapat goodie bag dan kaos yang bahannya juga ok banget menurut saya. Persediaan air minum selama berlangsungnya event juga mencukupi. Usai lari pun peserta juga mendapatkan menu makanan berat. Worth the price lah.

Advertisements
Lapangan Saraga

Lari Malam di Saraga

Kemarin untuk pertama kalinya saya mencoba lari di Saraga (Sarana Olahraga Ganesha) saat malam. Seringnya saya di Saraga cuma lari pagi dan kadang-kadang saja lari sore saat weekend atau bulan puasa.

Kemarin, usai pulang dari kantor ba’da Isya’, saya langsung bergerak menuju Saraga. Sebelum berangkat kantor hari itu, saya memang sudah menyiapkan baju dan sepatu untuk lari dari rumah. Jadi pulang dari kantor bisa langsung lari. Barang bawaan saya titipkan di tempat penitipan yang disediakan oleh pengelola (biaya Rp1000).

Kayaknya Saraga buka sampai jam 9 malam ini belum lama deh. Sebelumnya, jam buka Saraga cuma dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Saya masih ingat dulu ketika lari sore di Saraga, sering mendengar pengumuman yang mengingatkan pengunjung bahwa lapangan akan ditutup pukul 6 sore.

Entah sejak kapan perubahan jam buka yang baru ini diterapkan. Saya sendiri mengetahuinya dari beberapa kesempatan lari pagi sebelumnya di mana announcer mengumumkan bahwa Saraga buka sampai pukul 9 malam.

Catatan lari Runkeeper

Catatan lari Runkeeper

Enak juga ternyata lari malam. Habis suntuk karena pekerjaan, pikiran dan raga jadi rileks setelah berlari. Mungkin karena didukung juga oleh suasana yang gelap, sepi, sejuk, dan angin sepoi-sepoi di sekitar.

Sehabis pulang dari lari, tidur malam pun jadi lebih nyenyak. Sepertinya memang betul apa yang dikatakan oleh artikel ini mengenai manfaat lari malam. Selain membuat tidur malam menjadi lebih berkualitas, lari malam juga bisa menjadi lebih kencang dari biasanya.

 

Piala Dunia Tanpa Italia (dan Buffon)

Mimpi buruk itu akhirnya kejadian juga. Sejak mengetahui hasil undian kualifikasi zona Eropa di mana Italia berada satu grup dengan Spanyol usai Euro 2016 lalu, saya langsung pesimis Italia bakal lolos langsung ke Piala Dunia 2018 dengan menjadi juara grup. Apalagi ketika mengetahui Gian Piero Ventura ditunjuk menggantikan Antonio Conte sebagai pelatih Timnas Italia.

Saya cukup meragukan kapabilitas beliau di level tertinggi karena memang belum memiliki pengalaman menangani tim-tim besar. Terbukti dengan monotonnya formasi dan taktik yang diterapkan beliau sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia ini.

Padahal dalam 2 tahun terakhir ini banyak talenta muda Italia yang bermunculan dan semakin matang. Berbeda dengan masa Antonio Conte yang memiliki pilihan yang terbatas. Tak heran usai Italia gagal memastikan lolos ke Piala Dunia, kritikan lebih banyak dialamatkan kepada beliau dan juga presiden FIGC (PSSI-nya Italia) sebagai pihak yang menunjuk beliau sejak pertama.

Nasi sudah menjadi bubur. Bagi saya, Piala Dunia 2018 nanti akan kurang terasa gairahnya karena tak ada Italia. Tak ada tim yang saya dukung.

Apalagi sejak beberapa turnamen internasional terakhir ini — Euro dan Piala Dunia, saya hanya menonton pertandingan yang melibatkan Italia saja. Itupun kalau yang dini hari biasanya belum tentu nonton. Kecuali bener-bener big match. Jadi kayaknya untuk Piala Dunia 2018 ini, saya bakal mengikuti highlight-nya saja. Wkwkwkk.

Tapi sebenarnya yang masih disayangkan tentu saja tidak jadi melihat Gianluigi Buffon mengakhiri karir sepak bolanya di sebuah pentas di mana banyak mata orang dari berbagai belahan dunia akan tertuju. Entahlah. Sebagai generasi kids jaman 90-an yang hobi bermain sepak bola, rasanya seperti ada keterikatan batin dengan Buffon (yang sepertinya) merupakan nama besar satu-satunya yang bermain sejak tahun 90-an yang tersisa sekarang.

Hobi Olahraga Baru

Satu bulan terakhir ini saya lagi mencoba hobi baru, yakni berenang. Awalnya dari ajakan teman saya. Saya dapat info dari dia kalau ada sebuah hotel di daerah Dago yang memiliki paket member untuk mendapatkan harga khusus fasilitas kolam renang dan fitness center. Jatuhnya jadi murah banget. Saya pun ikutan mendaftar.

Saya dan 2 orang teman saya rutin berenang dua kali dalam seminggu, setiap pagi sebelum berangkat kerja. Kebetulan jam masuk kerja saya fleksibel. Lumayanlah menambah hobi yang menyehatkan. Bikin seger juga sebelum memulai kerja.

Sebenarnya saya tak pandai berenang. Makanya senang banget ada teman yang ngajakin. Jadi ada teman buat latihan bareng. Lumayanlah sebulan ini setelah konsisten berenang, kayaknya jadi ada peningkatan. Hahaha. 😂

Menyenangkan juga punya teman yang bisa diajak menyalurkan hobi berolahraga bersama-sama. Soalnya sejak masuk ke dunia kerja, semakin ke sini makin susah menemukan teman yang memiliki hobi dan waktu luang yang cocok dengan kita. Dulu masih bisa rutin main badminton seminggu sekali, juga main futsal. Namun sekarang sudah hampir nggak pernah lagi.

Indihome Run

Ikut Event Lari Lagi

Setelah terakhir mengikuti Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2015 tahun lalu, sekitar 2 minggu yang lalu saya akhirnya mengikuti event lari lagi. Wow, tak terasa hampir setahun absen ternyata.

Jika event tahun lalu saya ikut lari kategori 42 km, kini saya hanya ikut kategori 10 km. Mulai dari nol lagi.

baca jugaKali Pertama Ikutan Full Marathon

Event lari yang baru saja saya ikuti itu adalah Indihome Run. Dari namanya sudah ketahuan lah ya siapa yang mengadakan, hehehe.

Kebetulan event tersebut diadakan di Bandung. Jarang-jarang ada event lari, apalagi dengan rute 10 km, di Bandung.

Tantangan mengadakan event lari di Bandung adalah menyediakan jalan yang benar-benar steril dari kendaraan. Amat susah karena tidak cukup tersedia ruas jalan alternatif untuk kendaraan seandainya beberapa ruas jalan ditutup untuk event lari.

Karena itu sejak awal saya memang tidak menaruh ekspektasi tinggi terhadap event ini. Saya hanya ingin menikmati kembali lari di sebuah event perlombaan. Dan tentunya menjadi terpacu untuk tetap rutin melakukan olahraga lari.

Terkait penyelenggaraan event Indihome Run itu sendiri ada banyak kekurangan yang saya rasakan.

Jalan yang tidak steril tadi adalah salah satunya. Dan terkait hal tersebut saya sudah maklum. Kekurangan lainnya adalah jumlah medalinya yang (sepertinya) kurang.

Don’t get me wrong. Saya bukannya ikut lari demi mengincar medali. Ada seorang teman yang saya ajak ikut event lari, dan itu adalah yang pertama bagi dia. Sebuah medali mungkin akan memberikan kesan yang menyenangkan bagi dia.

Catatan waktunya cukup bagus sebenarnya. Ada di kisaran 1 jam lebih sedikit. Sayangnya ia tidak mendapatkan medali. Syukurnya, meskipun dia kecewa, dia masih semangat untuk ikutan event-event lari berikutnya.

Untuk saya sendiri, saya belum tahu akan ikut event lari apa berikutnya. Yang pasti saya skip event PBIM tahun ini. Demikian pula Bromo Marathon. Event lari yang lain tahun ini juga kebanyakan sudah mulai menutup pendaftarannya. Kalaupun masih buka, harga tiketnya sudah tinggi. Hmmm… kayaknya bakal menunggu tahun depan saja. 😀

 

Wasted Talent

“I only just realised over the last few years that the problem was not the Coach, it was me. When I worked with a rigid tactician, I’d rebel. When I had a soft Coach, I’d take a nap. The truth is it wasn’t the fault of the Coach if I didn’t give my best. I realised it too late.”
– Antonio Cassano (quoted from Football-Italia.net)

Sebenarnya sangat jarang sekali saya membahas perihal pemain sepak bola di blog saya ini. Tapi beberapa hari yang lalu saya sempat membaca artikel hasil wawancara Antonio Cassano di sebuah artikel di Football-Italia.net. Bagi saya ada hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari wawancara tersebut sehingga menarik untuk saya share di blog ini.

Salah satunya adalah quote di atas, berisi tentang pengakuan Antonio Cassano bahwa dia sendirilah yang sebenarnya menghancurkan karir sepak bolanya. Untuk rekaman video wawancaranya bisa dilihat di sini, tapi tentu saja dalam bahasa Italia dan tidak ada subtitle, hehe.

“For the last 10 years people have said I was a wasted talent.”

Siapa yang tak kenal Antonio Cassano? Malang melintang bermain di klub-klub besar seperti AS Roma, Real Madrid, Inter Milan, dan AC Milan. Sejak masa mudanya bermain di klub kecil Bari, orang-orang menyebutnya sebagai wonderkid, pemain muda dengan skill cemerlang yang berpotensi menjadi pemain bintang di kemudian hari. Sebagai penggemar Liga Serie A Italia, dia termasuk salah satu pemain yang saya kagumi sewaktu kecil karena Continue reading

Kali Pertama Ikutan Full Marathon

Akhirnya pecah telur juga. Dua hari yang lalu (22/11) untuk pertama kalinya saya mengikuti lari full marathon alias lari 42,195 km. Saya ikutan lari full marathon itu di event Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2015. Setahun yang lalu di event yang sama, saya mengikuti lari yang kategori half marathon. Alhamdulillah target ikutan full marathon di tahun berikutnya berhasil terpenuhi. 

Bisa dibilang nekat juga sih. Sejujurnya sejak terakhir ikutan half marathon setahun yang lalu, saya tidak pernah lari lebih dari belasan kilo. Makanya sempat ragu-ragu juga sih apakah saya kuat untuk tiba-tiba berlari sejauh 42,195 km ini.

Dan ternyata memang tidak kuat. Namun alhamdulillah saya Continue reading