Category Archives: Curhat

Peserta Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Ikut Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Kemarin pagi saya mengikuti rapid test yang disediakan oleh PT KAI bekerja sama dengan Klinik Utama Jasa Prima di Stasiun Kiaracondong. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, pemerintah telah mengeluarkan aturan untuk orang-orang yang hendak bepergian selama liburan Natal dan Tahun Baru ini (22 Desember 2020-8 Januari 2021) agar dilengkapi surat keterangan bebas Covid-19 minimal lewat rapid test antigen.

Aturan ini memperbaharui aturan sebelumnya yang mensyaratkan calot penumpang untuk minimal memiliki surat keterangan bebas Covid-19 lewat rapid test antibodi di mana surat tersebut berlaku selama 14 hari. Sedangkan pada aturan baru ini, surat bebas Covid-19 dengan metode rapid test antigen hanya berlaku maksimal 3 hari saja.

baca juga: Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Saya yang pada liburan kali ini hendak pulang kampung dengan naik kereta api pun tentunya juga harus mengambil rapid test antigen. Menurut info yang saya dapatkan dari website PT KAI sehari sebelumnya (21/12) di sini, di Bandung rapid test antigen ini baru tersedia di Stasiun Kiaracondong saja. Namun ketika datang pagi itu saya mendengar kabar dari salah seorang petugas PT KAI bahwa di Stasiun Bandung juga sudah tersedia rapid test antigen ini.

Saya datang bersama teman saya sekitar pukul 6.30 pagi. Beberapa orang tampak juga sudah datang lebih awal. Padahal jadwal buka layanan rapid test ini adalah pukul 8 pagi. Sekitar pukul 7.30 petugas mulai membuka antrian untuk mengambil nomor antrian. Saya mendapatkan nomor antrian 20-an.

Sekitar pukul 8 pagi, layanan mulai dibuka. Petugas memanggil peserta rapid test sesuai nomor antrian untuk masuk ke dalam tenda pelayanan. Saya mendapatkan panggilan sekitar pukul 8.30.

Di dalam peserta didata terlebih dahulu. Di tahap ini peserta rapid test wajib menunjukkan KTP dan kode booking yang dimilikinya untuk dicatat oleh petugas. Setelah itu peserta membayar biaya rapid test sebesar Rp105.000. Harga ini lebih mahal Rp20.000 daripada rapid test antibodi yang sebelumnya disediakan oleh PT KAI. Tapi biaya ini jauh lebih murah daripada yang dipatok di bandara sebesar Rp200.000.

Petugas mendata peserta rapid test

Setelah membayar, kita akan bergeser ke petugas berikutnya yang akan melakukan swab terhadap peserta. Petugas mengambil sampel lendir dari dalam hidung peserta.

Ini pengalaman pertama saya melakukan swab. Kalau dibandingkan dengan rapid test antibodi, menurut saya pribadi rasanya lebih nggak enak ini. Pada rapid test antibodi, jari kita cukup ditusuk pakai jarum secara cepat. Untuk swab ini, hidung bagian atas kita kayak ditusuk-tusuk gitu pakai alat swab, hehehe. Dan tentu saja nggak secepat kalau ditusuk jarum yang kurang dari sedetik.

Setelah selesai di-swab, peserta tinggal menunggu saja panggilan berikutnya untuk mendapatkan hasilnya. Mungkin perlu menunggu sekitar 15 menit. Alhamdulillah hasil saya negatif.

Petugas melakukan swab

Oh ya, di lokasi kemarin sempat ada yang hasilnya positif. Petugas pun langsung sigap menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruangan di dalam tenda.

Oh ya, untuk rekan-rekan pembaca yang ingin melakukan test di stasiun, saran saya datang lebih awal. Kalau bisa sejam sebelum buka akan lebih baik karena mengingat panjangnya antrian. Menurut catatan saya, kemarin hingga pukul 9 pagi baru sekitar 35 peserta yang mendapatkan giliran untuk rapid test antigen. Prosesnya memang lebih lama dibandingkan rapid test antibodi.

Kapal Suzuka Express bersandar di dermaga Pelabuhan Patimban

Berkunjung ke Pelabuhan Patimban

Hari Sabtu kemarin saya dan senior saya di kantor berkunjung ke Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Agenda kami hari itu adalah untuk membantu mempersiapkan aplikasi web untuk keperluan seremonial soft launching Pelabuhan Patimban keesokan harinya.

Itu kunjungan ke-2 kalinya saya ke sana. Kalau senior saya sih sudah beberapa kali ke sana. Kunjungan pertama saya tepat 3 hari sebelumnya. Ketika itu kami hanya berkunjung ke kantor KSOP-nya saja. Namun Sabtu itu kami berkesempatan untuk mengunjungi area pelabuhannya yang berada di pulau reklamasi.

Berfoto di depan Kapal Suzuka Express

Siang itu di dermaga pelabuhan sudah bersandar Kapal Suzuka Express yang berbendera Panama. Kapal tersebut akan digunakan untuk mengekspor 140 mobil ke Brunei Darussalam pada acara soft launching nanti sebagai penanda ekspor perdana yang dilakukan di Pelabuhan Patimban.

Area lapangan penumpukan Pelabuhan Patimban

Seperti yang kita ketahui bersama, Pelabuhan Patimban ini sendiri kemarin hari Minggu (20 Desember) telah diresmikan oleh Presiden. Semoga harapan Presiden agar Pelabuhan Patimban ini dapat memperkuat posisi Pelabuhan Tanjung Priok dan mendorong peningkatan pereknomian Jawa Barat dapat tercapai.

Subscription Everywhere

Model pembayaran dengan sistem langganan (subscription) dewasa ini menjadi model yang sangat lumrah untuk aplikasi atau layanan online. Segala macam aktivitas seperti mendengar musik, menonton film, membaca buku, membaca berita, membuat catatan, konferensi video, dan menyimpan berkas semua ada layanan untuk berlangganannya.

Bahkan aplikasi-aplikasi yang sebelumnya menerapkan sistem one-time purchase, rata-rata juga telah beralih atau menyediakan opsi sistem subscription juga. Aplikasi-aplikasi dari Adobe adalah contoh di antaranya. Lalu ada Microsoft yang kini menyediakan layanan Microsoft 365 yang merupakan versi langganan dari Microsoft Office.

Momen pandemi yang terjadi awal tahun ini rupanya juga menjadi suatu “berkah” bagi beberapa aplikasi layanan online. Lockdown atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) memaksa orang-orang untuk banyak tinggal di rumah. Pekerjaan atau aktivitas-aktivitas yang biasanya dikerjakan di luar rumah terpaksa berhenti.

Namun beberapa jenis pekerjaan masih bisa dikerjakan dari rumah alias work from home (WFH). Nah, untuk menopang komunikasi dengan rekan kerja, mereka menggunakan aplikasi-aplikasi konferensi video seperti Zoom, Microsoft Teams, atau semacamnya. Jumlah pengguna mereka melonjak tajam. Menurut berita ini bahkan pendapatan Zoom naik 4x lipat selama pandemi ini.

Selain aplikasi konferensi video, layanan online yang bersifat entertaintment atau hiburan juga banyak dicari selama pandemi ini. Pandemi memaksa mereka mencari alternatif hiburan yang bisa didapatkan tanpa harus keluar rumah. Netflix, salah satu penyedia layanan streaming film, mencatatkan kenaikan 16 juta sign-up saat awal pandemi ini.

Continue reading

Kondangan Pertama di Masa Pandemi

Tulisan ini saya dedikasikan buat sahabat saya bung Rizky yang baru saja melangsungkan pernikahan hari Minggu kemarin. Bung Rizky adalah teman dekat sejak masa kuliah. Teman praktikum, teman kelompok tugas bareng, teman traveling, teman ngobrolin bola, teman main voli, badminton, teman main PES, dan berbagai hal-hal lainnya, termasuk kadang-kadang saling curhat soal asmara. Wkwkwk. Blognya bung Rizky, https://ykzir.wordpress.com/, juga yang menginspirasi saya untuk memulai ngeblog dulu.

Alhamdulillah hari Minggu kemarin beliau telah menapaki langkah besar untuk masuk ke dalam babak baru dalam kehidupannya. Barakallah bung Rizky dan sang istri. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Btw, kondangan di pernikahannya bung Rizky kemarin menjadi kondangan pertama yang saya datangi di masa pandemi ini. 😅

Backsound Sehabis Hujan

Sekitar 1-2 minggu terakhir ini beberapa daerah di Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Tak terkecuali di kampung halaman saya di Malang.

Salah satu hal yang saya suka dari hujan adalah suasana yang terbentuk setelah itu. Udara sekitar menjadi lebih segar dan suhu menjadi sejuk. Apalagi di dataran tinggi seperti Malang ini. Malam hari pula.

Juga tidak ketinggalan backsound nyaring yang meramaikan suasana setelahnya. Katak-katak dan serangga kompak melakukan koor paduan suara mengisi heningnya malam.

Alhamdulillah backsound khas pasca hujan ini masih bisa saya jumpai di dekat rumah saya di Malang. Rumah saya memang masih dekat dengan area persawahan. Rasanya menenangkan sekali mendengarkan suara alam ini.

Efek Kopi

Kopi bagi saya sudah seperti kebutuhan agar bisa produktif ketika bekerja. Dengan minum kopi pikiran saya biasanya jadi lebih segar.

Saya biasa minum kopi single origin baik Arabika ataupun Robusta di pagi hari ketika hari kerja. Efek kopi ini biasanya saya rasakan sampai sore hari menjelang pulang. Saya jadi terjaga. Tidak mengantuk. Pulang kerja saya bisa tidur dengan jam tidur normal.

Namun, seminggu terakhir ini saya mencoba kopi baru. Maksudnya baru pertama ini bagi saya mencobanya. Saya mencoba kopi original blend Indocafe hasil pemberian Ibu dari parcel lebaran yang beliau terima kemarin.

Indocafe Original Blend

Hari ini kali ketiga saya meminum kopi ini. Dan selama tiga kali percobaan itu saya sukses dibuat susah tidur. Padahal saya biasa minum kopi hitam single origin dan tidak sampai memberikan efek seperti ini.

Saya pikir karena sebelumnya takaran yang saya ambil untuk diseduh terlalu banyak. Sebelumnya 12 gram dalam satu gelas. Kali ini saya hanya mencoba setengahnya saja, yakni 6 gram dalam satu gelas. Ternyata sama saja efeknya.

Tulisan ini saya buat jam 1 dini hari karena tidak bisa tidur. Padahal saya sudah mencoba tidur dari jam 22.30 tadi. Saya pun sebenarnya sudah lama tidak begadang dan memang sudah lama tidak bisa begadang juga.

Oh ya, tulisan ini bukan promosi ya. Tidak bermaksud promosi sama sekali. Hanya sharing. Barangkali ada yang punya pengalaman yang sama dengan saya. 😂

Setahun yang Lalu

24 Agustus 2019. Usai sholat subuh berjamaah bersama bapak di mushola RS, saya pergi menemani Bapak ke ruangan ICU tempat di mana adik terbaring. Saat itu kondisi adik sedang dalam keadaan kritis dan pernafasannya dibantu dengan selang oksigen.

Bapak seperti biasa selalu mencoba menuntun adik untuk melaksanakan sholat subuh dengan membacakan takbir sesuai urutan gerakan sholat dan Al-Fatihah. Walaupun adik terlihat dalam keadaan tidak sadar saat itu, kami berharap adik bisa mendengarnya.

Usai sholat subuh, saya mentalqin adik dengan membaca kalimat “Laa ilaaha Illa Allah”.

Beberapa menit kemudian bedside monitor menunjukkan pencatatan yang tidak biasa. Saya memanggil perawat jaga untuk menanyakan perihal itu.

Continue reading