Category Archives: Curhat

Promo Berlangganan Bookmate

Sebulan yang lalu saya baru tahu ada aplikasi bernama Bookmate. Saya mengetahuinya setelah membaca review buku di blog ini. Padahal kalau menurut Wikipedia, Bookmate ini sudah malang melintang sejak tahun 2010. Sudah telat sekali ya saya tahunya. Hahaha.

Saya pun bergegas untuk mengunjungi situsnya dan mendaftarkan diri sebagai pengguna. Rupanya untuk anggota baru ada promo berlangganan Rp9.900 untuk 3 bulan. Jadi memang sistem di Bookmate ini kita bisa membaca berbagai macam buku sepuasnya dengan cara berlangganan.

Promo Bookmate untuk pengguna baru

Promo Bookmate untuk pengguna baru

Selain promo berlangganan premium 3 bulan seharga Rp9.900, mereka juga menawarkan free trial premium selama sebulan. Karena saya tidak yakin mampu menghabiskan buku dalam jangka waktu sebulan, saya pun memilih untuk mengambil promo yang 3 bulan itu. Hehehe.

Pilihan bukunya ternyata sangat bervariasi dan sangat banyak. Dari buku terbitan luar negeri sampai dalam negeri pun ada. Buku pertama yang saya baca adalah Sapiens, tulisan Yuval Noah Harari.

Etalase pilihan buku di Bookmate

Etalase pilihan buku di Bookmate

Dengan biaya segitu (Rp9.900) bisa membaca berbagai buku tentu saja sangat menguntungkan bagi pengguna seperti saya. Bisa menghemat banyak dibandingkan harus membeli buku satu-satu. Tapi entah dari sisi penulis bagaimana. Apakah diuntungkan atau dirugikan dengan business model seperti ini.

Advertisements

Pertama Kali ke Ranah Minang

Dua minggu lalu (10/2) untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Ranah Minang. Perjalanan saya ke Provinsi Sumatera Barat ini sebenarnya dalam rangka untuk datang ke resepsi pernikahan seorang sahabat masa kuliah saya dulu, Neo, di Padang.

Sekitar 2-3 minggu sebelumnya, Neo membagikan undangan via Whatsapp ke grup sahabat jalan-jalan masa kuliah kami dulu. Salah seorang kawan saya di grup tersebut, Rizky, kemudian melalui private message mengajak saya untuk menghadiri pernikahan Neo tersebut.

Tanpa pikir panjang, saya pun menyambut baik ajakan tersebut. Kapan lagi ada momen untuk pergi ke Tanah Minangkabau ini, pikir saya. Sudah lama sebetulnya saya penasaran ingin main ke sana.

Bagaimana tidak penasaran. Selama masa kuliah dulu beberapa kawan dekat saya banyak yang berasal dari sana. Sampai-sampai saya yang ketika tinggal di Malang bisa dihitung dengan jari berapa kali makan nasi Padang dalam setahun, sejak berteman dengan mereka, dalam seminggu minimal sekalilah makan nasi Padang. Hahaha.  Eh, ada hubungannya nggak ya? 😅

Karena itulah momen perjalanan ke Sumatra Barat ini pun, selain datang ke pernikahan Neo, juga saya manfaatkan untuk jalan-jalan mengeksplorasi Kota Padang. Rizky yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi Sumatera Barat dalam rangka urusan pekerjaan merekomendasikan untuk sekalian mengunjungi ke Bukittinggi dan daerah sekitarnya.

Jadilah disepakati usai acara pernikahan Neo, saya dan Rizky langsung pergi jalan-jalan. Sebelumnya, di acara pernikahan Neo pun kami sudah menjajal beberapa kuliner khas Minang. Ada Sate Padang, Martabak Kubang, dan tentu saja Nasi Padang. Hehehe.

Untuk cerita jalan-jalan di Padang dan sekitarnya akan saya coba tulis terpisah di artikel berikutnya. Btw, selamat menempuh hidup baru Neo! Semoga sakinah mawaddah wa rahmah.

 

 

(Nyaris) Kehilangan Paspor

Masih menyambung tulisan sebelum ini. Siang itu, selepas pulang dari main ATV, kami mampir ke Surau Ibnu Khaldun di Lavender Heights untuk melaksanakan sholat Dhuhur sekaligus bersih-bersih diri.

Kami bergantian menggunakan toilet surau yang memang hanya ada 2 saja. Usai bersih-bersih diri, saya dan Kun masuk ke dalam surau untuk melaksanakan sholat Dhuhur.

Selesai sholat Dhuhur, saya memindahkan barang-barang saya dari tas Ab yang saya pinjam. Barang-barang Kun yang ikut dititipkan dalam tas Ab tersebut pun diambilnya.

Sampai di situ saya pikir semua barang punya saya sudah saya pindahkan ke tas saya. Namun rupa-rupanya, ketika saya tiba di hotel untuk check-in dan harus menunjukkan paspor, saya tidak menemukan paspor di dalam tas saya. Saya pun panik kalang kabut.

Semua tas sudah saya geledah, tetapi tidak ada penampakan paspor saya sama sekali. Saya pun menghubungi Ab untuk menanyakan apakah ia melihat paspor saya di dalam tasnya yang saya pinjam. Ternyata tidak ada.

“Deg-deg… deg-deg… deg-deg…”

Dada saya berdegup karena mulai Continue reading

Harus Banyak Membaca Buku Lagi

Tahun 2018 ini saya mencoba membuat target membaca 10 buku di Goodreads. Padahal tahun lalu hanya 2 buku yang berhasil saya tamatkan. Hahaha.

Banyak buku yang masih saya baca sebagian kemudian berhenti entah kapan dilanjutkan. Kalau boleh kasih pembelaan, buku-buku yang tengah saya baca itu kebetulan memang topiknya cukup berat dan banyak istilah dalam bahasa Inggris yang digunakan dalam buku-buku itu yang tak saya mengerti. Jadinya cukup sering mengecek dalam kamus.

Padahal sih nyatanya gara-gara sering keasyikan membaca timeline di Twitter atau Instagram, yang saya pikir-pikir tidak ada manfaatnya. Efek sindrom FOMO (Fear of Missing Out) nih kayaknya. 😢

Di Goodreads saya lihat lumayan lah ada 1,2, 3 (dari 152!) teman yang terlihat suka meng-update progress membacanya. Mudah-mudahan bisa ikut memotivasi saya untuk konsisten membaca buku.

 

Piala Dunia Tanpa Italia (dan Buffon)

Mimpi buruk itu akhirnya kejadian juga. Sejak mengetahui hasil undian kualifikasi zona Eropa di mana Italia berada satu grup dengan Spanyol usai Euro 2016 lalu, saya langsung pesimis Italia bakal lolos langsung ke Piala Dunia 2018 dengan menjadi juara grup. Apalagi ketika mengetahui Gian Piero Ventura ditunjuk menggantikan Antonio Conte sebagai pelatih Timnas Italia.

Saya cukup meragukan kapabilitas beliau di level tertinggi karena memang belum memiliki pengalaman menangani tim-tim besar. Terbukti dengan monotonnya formasi dan taktik yang diterapkan beliau sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia ini.

Padahal dalam 2 tahun terakhir ini banyak talenta muda Italia yang bermunculan dan semakin matang. Berbeda dengan masa Antonio Conte yang memiliki pilihan yang terbatas. Tak heran usai Italia gagal memastikan lolos ke Piala Dunia, kritikan lebih banyak dialamatkan kepada beliau dan juga presiden FIGC (PSSI-nya Italia) sebagai pihak yang menunjuk beliau sejak pertama.

Nasi sudah menjadi bubur. Bagi saya, Piala Dunia 2018 nanti akan kurang terasa gairahnya karena tak ada Italia. Tak ada tim yang saya dukung.

Apalagi sejak beberapa turnamen internasional terakhir ini — Euro dan Piala Dunia, saya hanya menonton pertandingan yang melibatkan Italia saja. Itupun kalau yang dini hari biasanya belum tentu nonton. Kecuali bener-bener big match. Jadi kayaknya untuk Piala Dunia 2018 ini, saya bakal mengikuti highlight-nya saja. Wkwkwkk.

Tapi sebenarnya yang masih disayangkan tentu saja tidak jadi melihat Gianluigi Buffon mengakhiri karir sepak bolanya di sebuah pentas di mana banyak mata orang dari berbagai belahan dunia akan tertuju. Entahlah. Sebagai generasi kids jaman 90-an yang hobi bermain sepak bola, rasanya seperti ada keterikatan batin dengan Buffon (yang sepertinya) merupakan nama besar satu-satunya yang bermain sejak tahun 90-an yang tersisa sekarang.

Sambel Gledek

Makan Makanan Pedas

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk meredakan stress yang melanda dirinya. Tak terkecuali saya.

Salah satu cara saya untuk menghilangkan stress tersebut adalah dengan melampiaskannya pada makanan pedas. Saat stress biasanya saya menjadi kurang bernafsu makan. Karena itu, untuk meningkatkan nafsu makan itu saya biasanya mencari makanan pedas.

Di Bandung ini ada 1-2 tempat makan favorit saya yang menyajikan menu dengan sambal yang pedas. Saking pedasnya mereka ada yang menyebutnya dengan sambel gledek atau sambel membara.

Begitu melihat warnanya yang oranye merona seperti itu saja sudah bertambah nafsu makan saya. Begitu memakannya, muncul perasaan seperti terhibur dalam diri saya.

Dihinggapi rasa penasaran, saya mencari penjelasan ilmiahnya. Menurut artikel ini katanya makan makanan pedas dapat meningkatkan produksi hormon serotonin. Hormon tersebut menurut para peneliti merupakan hormon yang berperan dalam menyeimbangkan mood manusia, memberikan rasa bahagia atau sejenisnya.

Itu ternyata sebabnya. Jadi, walaupun harus berpeluh keringat dan kadang berlinang air mata, makan makanan pedas ternyata bisa membuat hati gembira. Hahaha. 😀

 

 

Manual Coffee Grinder

Giling Kopi Manual

Beberapa minggu yang lalu saya iseng-iseng mencari penggiling biji kopi di sebuah website e-commerce. Harganya ternyata bervariasi. Mulai dari 80 ribuan sampai ratusan ribu. Yang jutaan pun juga ada.

Karena cuma untuk memenuhi rasa penasaran saya saja, maka saya cari yang paling murah saja, yang harga 80 ribuan. Dengan harga segitu dapatnya coffee grinder yang manual saja. Terbuat dari kayu.

Sebelumnya saya tidak sengaja membeli satu bungkus biji kopi 200 gram. Ini pertama kali saya membeli kopi yang masih dalam bentuk biji. Biasanya selalu membeli kopi bubuk. Karenanya saya membeli coffee grinder itu.

The sooner you use coffee after grinding it, the more of the original intended flavors there will be. (https://www.theroasterie.com/blog/should-i-buy-ground-coffee-beans-or-whole-coffee-beans/)

Katanya memang lebih enak minum kopi yang diseduh dari kopi yang baru saja digiling. Rasa “asli”-nya masih terasa banget. Setelah mencobanya sendiri, saya pun sangat setuju dengan pendapat itu.

Akan tetapi rupanya tidak mudah menghasilkan rasa yang konsisten dengan manual coffee grinder ini. Lebih tepatnya disebabkan karena susah untuk menghasilkan ukuran butiran kopi yang konsisten. Kadang butiran kopinya halus, kadang kasar, dan dalam satu gilingan ukurannya bisa berbeda-beda.

Tapi tidak menjadi masalah karena saya tidak perlu sedetail itu ada dalam menyeduh kopi. Dengan ukuran yang berbeda-beda itu saya pun jadi bisa mencoba berbagai variasi dalam rasa kopi yang saya saya minum.