Category Archives: Curhat

Doa untuk yang Tersayang

Melihat orang tersayang sedang terduduk sakit tak berdaya itu sungguh membuat hati ini sedih. Makan tak terasa sedap. Bepergian juga tak tenang.

Tak jarang air mata menetes tak tertahankan karena menyaksikan kondisinya yang tampak selalu kesakitan. Namun, di saat yang sama hati ini juga kagum dengan kesabarannya dalam menghadapi kondisi tersebut.

Ia tidak mengeluh walaupun untuk bergerak sungguh susah. Tidur juga hanya bisa sebentar-sebentar karena rasa sakit yang sering tetiba menyeruak.

Kondisinya begitu lemah. Makanan tak mampu ditelannya. Hanya sedikit air susu sebagai asupan energinya. Namun mulutnya masih bertenaga untuk senantiasa mengucapkan istighfar.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب ٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. (Surat Az Zumar : 10)

Semoga Allah senantiasa memberikannya kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi sakit yang dideritanya dan sakitnya dapat menjadi penggugur dosanya.

                                                             لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.

 “Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih. Insya Allah.” (HR. Bukhari)

Advertisements
Windows Guest OS-Ubuntu Host OS

Pakai VirtualBox Windows Guest OS di Ubuntu

Tak terasa sudah hampir 2 tahun saya konsisten pakai Ubuntu sebagai sistem operasi laptop saya untuk penggunaan sehari-hari. Tidak ada kesulitan berarti yang saya alami sepanjang memakai Ubuntu.

Memang sebagian besar penggunaan saya didominasi untuk coding, browsing, multimedia, dan pakai terminal saja. Kadang-kadang ketika perlu untuk buka dokumen word, excel, dan powerpoint pun saya bisa memakai LibreOffice.

Namun, semenjak terlibat projek yang memaksa saya untuk banyak berkutat dengan dokumen word, excel, dan powerpoint, saya pun menyerah pakai LibreOffice. Saya perlu sekali untuk menggunakan Microsoft Office.

Bisa jadi karena saya belum terbiasa menggunakan LibreOffice (atau OpenOffice). Tapi alasan utamanya sebenarnya karena formatting-nya yang berbeda dengan Ms Office. Jadi kadang-kadang format asli dokumen yang dibuat di Ms Office menjadi rusak ketika dibuka di LibreOffice. 

Saya pun kemudian memasang aplikasi Wine di Ubuntu saya agar bisa menjalankan aplikasi Windows. Namun, untuk Microsoft Office baru versi 2010 saja yang didukungnya. Walaupun demikian saya sempat bertahan lama menggunakan Ms Office 2010 untuk keperluan perdokumenan.

Suatu saat, datang projek lain lagi yang mengharuskan saya Continue reading

Promo Berlangganan Bookmate

Sebulan yang lalu saya baru tahu ada aplikasi bernama Bookmate. Saya mengetahuinya setelah membaca review buku di blog ini. Padahal kalau menurut Wikipedia, Bookmate ini sudah malang melintang sejak tahun 2010. Sudah telat sekali ya saya tahunya. Hahaha.

Saya pun bergegas untuk mengunjungi situsnya dan mendaftarkan diri sebagai pengguna. Rupanya untuk anggota baru ada promo berlangganan Rp9.900 untuk 3 bulan. Jadi memang sistem di Bookmate ini kita bisa membaca berbagai macam buku sepuasnya dengan cara berlangganan.

Promo Bookmate untuk pengguna baru

Promo Bookmate untuk pengguna baru

Selain promo berlangganan premium 3 bulan seharga Rp9.900, mereka juga menawarkan free trial premium selama sebulan. Karena saya tidak yakin mampu menghabiskan buku dalam jangka waktu sebulan, saya pun memilih untuk mengambil promo yang 3 bulan itu. Hehehe.

Pilihan bukunya ternyata sangat bervariasi dan sangat banyak. Dari buku terbitan luar negeri sampai dalam negeri pun ada. Buku pertama yang saya baca adalah Sapiens, tulisan Yuval Noah Harari.

Etalase pilihan buku di Bookmate

Etalase pilihan buku di Bookmate

Dengan biaya segitu (Rp9.900) bisa membaca berbagai buku tentu saja sangat menguntungkan bagi pengguna seperti saya. Bisa menghemat banyak dibandingkan harus membeli buku satu-satu. Tapi entah dari sisi penulis bagaimana. Apakah diuntungkan atau dirugikan dengan business model seperti ini.

Pertama Kali ke Ranah Minang

Dua minggu lalu (10/2) untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Ranah Minang. Perjalanan saya ke Provinsi Sumatera Barat ini sebenarnya dalam rangka untuk datang ke resepsi pernikahan seorang sahabat masa kuliah saya dulu, Neo, di Padang.

Sekitar 2-3 minggu sebelumnya, Neo membagikan undangan via Whatsapp ke grup sahabat jalan-jalan masa kuliah kami dulu. Salah seorang kawan saya di grup tersebut, Rizky, kemudian melalui private message mengajak saya untuk menghadiri pernikahan Neo tersebut.

Tanpa pikir panjang, saya pun menyambut baik ajakan tersebut. Kapan lagi ada momen untuk pergi ke Tanah Minangkabau ini, pikir saya. Sudah lama sebetulnya saya penasaran ingin main ke sana.

Bagaimana tidak penasaran. Selama masa kuliah dulu beberapa kawan dekat saya banyak yang berasal dari sana. Sampai-sampai saya yang ketika tinggal di Malang bisa dihitung dengan jari berapa kali makan nasi Padang dalam setahun, sejak berteman dengan mereka, dalam seminggu minimal sekalilah makan nasi Padang. Hahaha.  Eh, ada hubungannya nggak ya? 😅

Karena itulah momen perjalanan ke Sumatra Barat ini pun, selain datang ke pernikahan Neo, juga saya manfaatkan untuk jalan-jalan mengeksplorasi Kota Padang. Rizky yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi Sumatera Barat dalam rangka urusan pekerjaan merekomendasikan untuk sekalian mengunjungi ke Bukittinggi dan daerah sekitarnya.

Jadilah disepakati usai acara pernikahan Neo, saya dan Rizky langsung pergi jalan-jalan. Sebelumnya, di acara pernikahan Neo pun kami sudah menjajal beberapa kuliner khas Minang. Ada Sate Padang, Martabak Kubang, dan tentu saja Nasi Padang. Hehehe.

Untuk cerita jalan-jalan di Padang dan sekitarnya akan saya coba tulis terpisah di artikel berikutnya. Btw, selamat menempuh hidup baru Neo! Semoga sakinah mawaddah wa rahmah.

 

 

(Nyaris) Kehilangan Paspor

Masih menyambung tulisan sebelum ini. Siang itu, selepas pulang dari main ATV, kami mampir ke Surau Ibnu Khaldun di Lavender Heights untuk melaksanakan sholat Dhuhur sekaligus bersih-bersih diri.

Kami bergantian menggunakan toilet surau yang memang hanya ada 2 saja. Usai bersih-bersih diri, saya dan Kun masuk ke dalam surau untuk melaksanakan sholat Dhuhur.

Selesai sholat Dhuhur, saya memindahkan barang-barang saya dari tas Ab yang saya pinjam. Barang-barang Kun yang ikut dititipkan dalam tas Ab tersebut pun diambilnya.

Sampai di situ saya pikir semua barang punya saya sudah saya pindahkan ke tas saya. Namun rupa-rupanya, ketika saya tiba di hotel untuk check-in dan harus menunjukkan paspor, saya tidak menemukan paspor di dalam tas saya. Saya pun panik kalang kabut.

Semua tas sudah saya geledah, tetapi tidak ada penampakan paspor saya sama sekali. Saya pun menghubungi Ab untuk menanyakan apakah ia melihat paspor saya di dalam tasnya yang saya pinjam. Ternyata tidak ada.

“Deg-deg… deg-deg… deg-deg…”

Dada saya berdegup karena mulai Continue reading

Harus Banyak Membaca Buku Lagi

Tahun 2018 ini saya mencoba membuat target membaca 10 buku di Goodreads. Padahal tahun lalu hanya 2 buku yang berhasil saya tamatkan. Hahaha.

Banyak buku yang masih saya baca sebagian kemudian berhenti entah kapan dilanjutkan. Kalau boleh kasih pembelaan, buku-buku yang tengah saya baca itu kebetulan memang topiknya cukup berat dan banyak istilah dalam bahasa Inggris yang digunakan dalam buku-buku itu yang tak saya mengerti. Jadinya cukup sering mengecek dalam kamus.

Padahal sih nyatanya gara-gara sering keasyikan membaca timeline di Twitter atau Instagram, yang saya pikir-pikir tidak ada manfaatnya. Efek sindrom FOMO (Fear of Missing Out) nih kayaknya. 😢

Di Goodreads saya lihat lumayan lah ada 1,2, 3 (dari 152!) teman yang terlihat suka meng-update progress membacanya. Mudah-mudahan bisa ikut memotivasi saya untuk konsisten membaca buku.

 

Piala Dunia Tanpa Italia (dan Buffon)

Mimpi buruk itu akhirnya kejadian juga. Sejak mengetahui hasil undian kualifikasi zona Eropa di mana Italia berada satu grup dengan Spanyol usai Euro 2016 lalu, saya langsung pesimis Italia bakal lolos langsung ke Piala Dunia 2018 dengan menjadi juara grup. Apalagi ketika mengetahui Gian Piero Ventura ditunjuk menggantikan Antonio Conte sebagai pelatih Timnas Italia.

Saya cukup meragukan kapabilitas beliau di level tertinggi karena memang belum memiliki pengalaman menangani tim-tim besar. Terbukti dengan monotonnya formasi dan taktik yang diterapkan beliau sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia ini.

Padahal dalam 2 tahun terakhir ini banyak talenta muda Italia yang bermunculan dan semakin matang. Berbeda dengan masa Antonio Conte yang memiliki pilihan yang terbatas. Tak heran usai Italia gagal memastikan lolos ke Piala Dunia, kritikan lebih banyak dialamatkan kepada beliau dan juga presiden FIGC (PSSI-nya Italia) sebagai pihak yang menunjuk beliau sejak pertama.

Nasi sudah menjadi bubur. Bagi saya, Piala Dunia 2018 nanti akan kurang terasa gairahnya karena tak ada Italia. Tak ada tim yang saya dukung.

Apalagi sejak beberapa turnamen internasional terakhir ini — Euro dan Piala Dunia, saya hanya menonton pertandingan yang melibatkan Italia saja. Itupun kalau yang dini hari biasanya belum tentu nonton. Kecuali bener-bener big match. Jadi kayaknya untuk Piala Dunia 2018 ini, saya bakal mengikuti highlight-nya saja. Wkwkwkk.

Tapi sebenarnya yang masih disayangkan tentu saja tidak jadi melihat Gianluigi Buffon mengakhiri karir sepak bolanya di sebuah pentas di mana banyak mata orang dari berbagai belahan dunia akan tertuju. Entahlah. Sebagai generasi kids jaman 90-an yang hobi bermain sepak bola, rasanya seperti ada keterikatan batin dengan Buffon (yang sepertinya) merupakan nama besar satu-satunya yang bermain sejak tahun 90-an yang tersisa sekarang.