Category Archives: Curhat

Efek Kopi

Tahun lalu saya menulis artikel dengan judul serupa di sini. Ketika itu saya nggak bisa tidur setelah untuk pertama kalinya mencoba kopi Indo****.

Setelah momen itu sebetulnya saya sudah nggak pernah mengalami lagi susah tidur gara-gara mengonsumsi kopi. Nah, kemarin malam kejadian tersebut ternyata terulang lagi. Hahaha.

Jadi ceritanya kemarin itu untuk pertama kalinya saya membuat akun di aplikasi milik sebuah coffee chain yang tengah naik daun di Indonesia setelah mendengarkan cerita seorang teman yang sudah sering memesan di sana. Katanya, proses pemesanannya sungguh praktis.

Sebagai seorang yang juga sering terlibat untuk merancang atau implementasi business process dalam sebuah sistem IT, saya suka meng-observe dan mencoba suatu pengalaman menggunakan aplikasi tertentu untuk menambah referensi saya ketika mengerjakan sebuah projek di kemudian hari.

Setelah mendengar ceritanya, tentu saja saya jadi penasaran untuk mencoba. Apalagi kata teman saya, ada banyak benefit yang bisa didapatkan jika memesan langsung via aplikasi coffee chain tersebut dibandingkan via aplikasi pihak ketiga.

Nah, setelah membuat akun, ternyata saya mendapatkan beberapa voucher sebagai reward pengguna baru. Karena masa berlaku voucher-nya terbatas, ya sudah langsung saja saya memesan kopi menggunakan voucher tersebut. Dengan voucher tersebut saya akan mendapatkan gratis 1 kopi susu gula aren untuk pembelian 1 kopi yang sama. Wah, lumayan banget kata saya. Alhamdulillah.

Dua kopi susu gula aren (merek dirahasiakan 😆)

Jadilah kemarin saya mengonsumsi 2 kopi susu gula aren sekaligus. Tidak saya sangka-sangka. Malamnya saya nggak ngantuk sama sekali. Bahkan dada agak berdebar-debar.

Saya mungkin baru bisa tertidur sekitar jam 1-an pagi. Itu pun Jam 3.15 sudah terbangun lagi karena mengigau. Setelah itu tidak tidur lagi karena tanggung sudah dekat subuh juga jam 4.10. Habis subuh pun tidak bisa tidur lagi karena memang sudah planning untuk sepedaan.

Bisa jadi karena itu kopi pertama saya setelah sebulan absen minum kopi di bulan Ramadan, badan saya ibaratnya mulai dari nol lagi dalam memproses kafein. Padahal biasanya saya kebal-kebal saja minum kopi hitam apalagi kopi susu. Masih bisa tidur normal. Bisa jadi kaget juga sih langsung minum 2 gelas. Hahaha.

Silaturahmi Lebaran Secara Virtual Jilid 2

Seperti halnya tahun lalu, tahun ini qadarullah rupanya pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Larangan mudik diberlakukan oleh pemerintah tanggal 6-17 Mei dengan maksud mencegah penyebaran Covid-19.

Saya termasuk yang beruntung bisa mudik ke rumah orang tua seminggu sebelum larangan tersebut diberlakukan. Bahkan kereta api yang saya tumpangi ketika itu masih terbilang biasa saja okupansinya, jika tidak ingin dibilang sepi.

Namun, saya dan orang tua tidak bisa mudik ke rumah eyang yang berada di Jawa Tengah. Keluarga besar kami tidak bisa berkumpul bersama merayakan Idul Fitri sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Akan tetapi alhamdulillah dua hari yang lalu kami masih bisa bersilaturahmi secara virtual melalui aplikasi Zoom. Seperti tahun lalu, kali ini saya juga diminta untuk menginisiasi dan menjadi host dalam zoom meeting keluarga besar tersebut. XD

Silaturahmi virtual keluarga besar via Zoom

Sayangnya tidak semuanya bisa bergabung dalam sesi Zoom tersebut. Namun alhamdulillah setidaknya setiap masing-masing keluarga anak-anaknya eyang terdapat perwakilan yang bisa hadir.

Dalam acara silaturahmi virtual biasalah saling bertegur sapa satu sama lain dan bertanya kabar. Setelah berbasa-basi satu sama lain, acara dimulai dengan sambutan dan sedikit kultum. Ketika itu kebetulan Bapak yang mengisi karena pakde yang biasanya memimpin pertemuan keluarga mengalami kendala teknis pada microphone beliau.

Lalu masing-masing keluarga mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan ucapan lebaran. Setelah itu lanjut bincang-bincang hal lain-lain lagi.

Total pertemuan tersebut mungkin hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam saja karena memang tanggung sih agak mepet dhuhur bisa mulainya. Namun tetap disyukuri karena masih bisa bertemu walaupun baru secara virtual.

Tahun depan harapannya tentu saja semoga pandemi ini sudah berakhir dan kita semua bisa bersilaturahmi kembali secara langsung. Apalagi tahun depan eyang insya Allah akan menginjak usia yang ke-100 sehingga tentunya momen tersebut akan terasa manis jika semua anak, cucu, dan cicit beliau bisa berkumpul bersama. Aamiin Allahumma aamiin.

Kliping Koran

Sudah beberapa hari ini saya pulang kampung ke Malang. Hari ini untuk mengisi waktu, saya beres-beres kamar yang sudah lama tidak saya tempati. Selama ini semenjak adik sudah tidak ada, saya lebih sering numpang di kamarnya setiap pulang ke Malang.

Di kamar saya ini menumpuk dokumen kertas-kertas atau arsip milik saya ketika sekolah dan kuliah dulu. Ada lembar tugas, lembar ujiann, printout slide kuliah, dll. Lalu menumpuk juga dokumen-dokumen milik almarhum adik, bapak, dan kakak sepupu saya yang dulu sempat menumpang di rumah ketika berkuliah di Malang.

Di saat kegiatan beres-beres memilah-milah dokumen itu tanpa sengaja saya menemukan dua arsip kliping koran yang saya buat dulu. Ternyata saya masih menyimpannya. Kliping koran ini dulu saya buat untuk mendokumentasikan perjalanan tim badminton Indonesia di Piala Thomas-Uber 2004 dan Piala Sudirman 2005.

Kliping koran tentang Thomas-Uber Cup 2004 dan Sudirman Cup 2005
Kliping koran Thomas-Uber Cup 2004
Kliping Koran Sudirman Cup 2005

Dulu saya memang excited sekali dengan badminton. Saking senangnya saya selalu mengikuti berita-berita terbaru tentang badminton, khususnya sepak terjang tim Indonesia. Kebetulan keluarga dulu berlangganan koran Jawa Pos. Setiap pagi berita yang saya cari pasti rubrik olahraga, berita tentang badminton dan juga sepakbola.

Kebetulan event Thomas-Uber Cup 2004 saat itu dihelat di Jakarta. Status juara bertahan Piala Thomas 5x berturut-turut membuat masyarakat Indonesia ketika itu optimistis Indonesia dapat juara lagi di kandang sendiri. Hal tersebut memberikan antusiasme tinggi kepada saya untuk mengikuti setiap berita tentang Piala Thomas-Uber. Artikel-artikel berita di koran saya potong-potong lalu saya kliping menjadi satu dokumen dalam bentuk kronologis pra-pertandingan (analisis dan perkiraan susunan pemain) dan pasca-pertandingan (hasil pertandingan dan komentar terkait penampilan pemain).

Saya masih ingat bahwa saya bisa sesemangat itu untuk mengkliping, selain karena suka badminton juga karena ketika itu saya juga tengah senang-senangnya ngetik di Microsoft Word pakai Word Arts. Wkwkwk. Bisa bikin tulisan dengan style yang aneh-aneh buat dijadikan judul kliping. Lalu juga lagi senang sekali ngeprint-ngeprint sesuatu. Maklum, ketika itu di rumah masih belum lama punya komputer baru.

Saya juga ingat ketika Thomas Uber Cup 2004 dulu, excitement itu terbawa hingga ke sekolah juga. Beberapa temen yang tahu saya sangat mengikuti sekali info-info tentang badminton, sampai minta untuk dikirimi SMS reminder pertandingan.

Jadi tiap mau pertandingan saya japri via SMS beberapa teman untuk ngasih tahu akan ada pertandingan antara Indonesia vs musuhnya, lalu meminta jangan lupa berdoa untuk kemenangan Indonesia. Kalau dipikir-pikir, lebay juga saya ketika itu. Hahaha. Di saat ketika itu lagi musimnya SMS reminder untuk tahajud — ketika itu juga kebetulan mau Ujian Akhir Nasional (UAN), temen-temen di kelas saling ngingetin untuk tahajud — saya malah bikin SMS reminder untuk ngingetin ada pertandingan badminton. Wkwkwk.

Kliping koran tentang badminton ini saya terakhir saya lakukan saat Piala Sudirman 2005. Selain badminton, dulu juga sempet mengkliping foto-foto pemain bola dari tabloid Bola. Kebetulan om saya ada yang berlangganan tabloid Bola ketika itu. Setiap pulang dari rumahnya pasti tabloid Bola yang lama-lama saya minta. Hahaha.

Di era internet semasif sekarang sepertinya sudah tidak ada yang kliping-kliping begini ya. Koran, tabloid, dan majalah juga sudah (hampir) mati. Sekarang kalau pun mau kliping berita, cukup online saja. Ada platformnya juga seperti Pinterest misalnya. Di Di media sosial seperti Facebook atau Twitter kita juga bisa bikin kategorisasi link yang kita bookmark.

Gowes Lagi

Nggak terasa sudah lama juga saya nggak sepedaan. Terakhir kali saya gowes kalau tidak salah bareng dua orang temen kantor ke Kiara Artha Park 1,5 tahun yang lalu. Sepedaan di dalam Kota Bandung aja sih dan muter-muter di Kiara Artha Park. Hehehe.

Ketika booming gowes awal-awal pandemi dulu, saya belum tertarik untuk mengayuh lagi. Mungkin karena saya masih merasa lari sudah cukup buat saya sebagai pilihan untuk berolahraga. Selain itu juga sepeda saya kondisinya agak kurang terawat ketika itu dan saya agak malas untuk maintenance. 😆

Nah momen puasa ini saya mulai melirik sepeda saya lagi karena ingin mencoba alternatif kegiatan pagi selain lari yang lebih ringan. Untuk lari pagi saya belum confident saat puasa begini. Takut kebablasan. 😂

Tapi suatu saat ingin mencoba lari juga dengan cara mengatur tempo. Saya melihat di Strava ternyata banyak juga teman-teman di grup runners ikatan alumni yang masih lari pagi juga walaupun berpuasa. Jadi saya termotivasi juga ingin mencoba.

Kembali lagi ke gowes. Jadi setelah dipoles sedikit, alhamdulillah akhirnya sepeda saya terpakai lagi. Sepeda Pacific Exotic 200 yang saya pakai sekarang ini dulu saya beli tahun 2013. Merupakan sepeda ketiga yang saya beli di Bandung. Dua sepeda sebelumnya dulu hilang di kampus 😓.

Sepeda yang sekarang alhamdulillah awet hingga saat ini. Dulu awal-awal baru beli sepeda ini, saya sering memakainya untuk commute ke mana-mana. Mungkin kebiasaan tersebut masih bertahan hingga 3 tahun kemudian. Setelah itu ya kadang-kadang saja pakainya.

Sepeda Pacific Exotic 200

Nah alhamdulillah, selama jalan 12 hari puasa Ramadan ini beberapa kali sepeda ini sudah saya pakai untuk gowes lagi. Beberapa kali saya pakai juga untuk bike to work walaupun sebenarnya kantor sedang menerapkan WFH.

Saya biasanya berangkat bersepeda pagi sekitar jam 6 kurang. Memilih berangkat jam segitu karena jalan masih sepi, udara masih segar, dan tentu saja karena belum panas.

Dan ternyata sepedaan pagi itu efektif untuk mencegah kantuk yang biasanya muncul setelah subuh saat puasa begini. Alhamdulillah habis sepedaan sekitar 5 km ke kantor, badan jadi terasa fresh. Lumayan berkeringat juga karena jalan menanjak ke daerah kantor saya.

Dengan jarak yang sama, capeknya pun tidak secapek lari. Kalau melihat statistik dari aplikasi Strava saya, kalori yang terbakar dari aktivitas lari bisa 3x lebih banyak daripada aktivitas bersepeda (untuk jarak yang sama).

Namun tetap saja sih, siangnya saya harus ambil power nap (bahasa kerennya tidur siang ini wkwkwk) karena mendekati dhuhur biasanya kantuk mulai menyerang lagi. Kalau tidak begitu, biasanya saya minum kopi. Tapi kan jelas tidak mungkin saat puasa. Hahaha.

Setelah kurang lebih seminggu lebih sepedaan, saya juga merasakan manfaatnya ketika saya mencoba lari sore beberapa waktu lalu. Kaki jadi lebih kuat. Biasanya setelah beberapa km berlari, saya mulai merasakan fatigue. Nah kali ini fatigue tersebut baru terasa setelah saya berlari lebih jauh lagi.

Ternyata cross-training semacam ini bisa sangat bermanfaat. Bersepeda membantu meningkatkan strength dan endurance. Selain itu ternyata juga bisa membantu recovery juga (sumber dari sini).

Mencoba Mendaftar UTMB 2021

Bagi penggemar lari lintas alam atau yang dikenal dengan trail running, event UTMB (Ultra-Trail du Mont-Blanc) tentunya tidak asing lagi. Bisa dibilang event UTMB adalah the mecca of ultra trail running. Siapa yang tidak ingin lari di sana. Lari melintasi dan menikmati indahnya pemandangan pegunungan yang terbentang di perbatasan Italia, Swiss, dan Prancis.

Tidak semua orang bisa mendaftar event UTMB (dan race-race lainnya yang diselenggarakan bersamaan dalam event UTMB). Ada poin yang harus dikumpulkan agar eligible untuk mendaftarkan diri pada event tersebut.

Semenjak menggemari trail running, saya secara bertahap mencoba untuk mengumpulkan poin agar bisa lolos kualifikasi event UTMB tersebut. Setiap event trail running menawarkan jumlah poin yang berbeda-beda dan berbeda juga antar kategorinya. Jumlah poin yang dihitung untuk keikutsertaan UTMB adalah akumulasi poin yang didapatkan dari maksimum 2 event.

Dari event Gede Pangrango 100 (GP100) tahun 2019 kategori 25K saya bisa mendapatkan 2 poin. Lalu saya mendapatkan 2 poin lagi dari event Coast To Coast Night Trail Ultra 2020 kategori 50K. Total 4 poin itu membuat saya eligible untuk mendaftar race OCC (Orsières – Champex – Chamonix) yang berjarak 55K.

Status eligibility untuk mengikuti race-race di UTMB

Ada beberapa kloter pendaftaran yang dibuka dengan kriteria-kriteria tertentu. Saya baru memenuhi kriteria pendaftaran yang dibuka pada kloter terakhir awal Februari lalu. Saya tak melewatkan kesempatan tersebut. Saya mencoba mendaftar race OCC. Dalam pendaftaran tersebut ada beberapa data yang harus kita isi dan beberapa pertanyaan yang harus kita jawab. Selain itu ada deposit sebesar 50 Euro yang harus kita bayarkan.

Continue reading
Peserta Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Ikut Rapid Test Antigen di Stasiun Kiaracondong

Kemarin pagi saya mengikuti rapid test yang disediakan oleh PT KAI bekerja sama dengan Klinik Utama Jasa Prima di Stasiun Kiaracondong. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, pemerintah telah mengeluarkan aturan untuk orang-orang yang hendak bepergian selama liburan Natal dan Tahun Baru ini (22 Desember 2020-8 Januari 2021) agar dilengkapi surat keterangan bebas Covid-19 minimal lewat rapid test antigen.

Aturan ini memperbaharui aturan sebelumnya yang mensyaratkan calot penumpang untuk minimal memiliki surat keterangan bebas Covid-19 lewat rapid test antibodi di mana surat tersebut berlaku selama 14 hari. Sedangkan pada aturan baru ini, surat bebas Covid-19 dengan metode rapid test antigen hanya berlaku maksimal 3 hari saja.

baca juga: Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Saya yang pada liburan kali ini hendak pulang kampung dengan naik kereta api pun tentunya juga harus mengambil rapid test antigen. Menurut info yang saya dapatkan dari website PT KAI sehari sebelumnya (21/12) di sini, di Bandung rapid test antigen ini baru tersedia di Stasiun Kiaracondong saja. Namun ketika datang pagi itu saya mendengar kabar dari salah seorang petugas PT KAI bahwa di Stasiun Bandung juga sudah tersedia rapid test antigen ini.

Saya datang bersama teman saya sekitar pukul 6.30 pagi. Beberapa orang tampak juga sudah datang lebih awal. Padahal jadwal buka layanan rapid test ini adalah pukul 8 pagi. Sekitar pukul 7.30 petugas mulai membuka antrian untuk mengambil nomor antrian. Saya mendapatkan nomor antrian 20-an.

Sekitar pukul 8 pagi, layanan mulai dibuka. Petugas memanggil peserta rapid test sesuai nomor antrian untuk masuk ke dalam tenda pelayanan. Saya mendapatkan panggilan sekitar pukul 8.30.

Di dalam peserta didata terlebih dahulu. Di tahap ini peserta rapid test wajib menunjukkan KTP dan kode booking yang dimilikinya untuk dicatat oleh petugas. Setelah itu peserta membayar biaya rapid test sebesar Rp105.000. Harga ini lebih mahal Rp20.000 daripada rapid test antibodi yang sebelumnya disediakan oleh PT KAI. Tapi biaya ini jauh lebih murah daripada yang dipatok di bandara sebesar Rp200.000.

Petugas mendata peserta rapid test

Setelah membayar, kita akan bergeser ke petugas berikutnya yang akan melakukan swab terhadap peserta. Petugas mengambil sampel lendir dari dalam hidung peserta.

Ini pengalaman pertama saya melakukan swab. Kalau dibandingkan dengan rapid test antibodi, menurut saya pribadi rasanya lebih nggak enak ini. Pada rapid test antibodi, jari kita cukup ditusuk pakai jarum secara cepat. Untuk swab ini, hidung bagian atas kita kayak ditusuk-tusuk gitu pakai alat swab, hehehe. Dan tentu saja nggak secepat kalau ditusuk jarum yang kurang dari sedetik.

Setelah selesai di-swab, peserta tinggal menunggu saja panggilan berikutnya untuk mendapatkan hasilnya. Mungkin perlu menunggu sekitar 15 menit. Alhamdulillah hasil saya negatif.

Petugas melakukan swab

Oh ya, di lokasi kemarin sempat ada yang hasilnya positif. Petugas pun langsung sigap menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruangan di dalam tenda.

Oh ya, untuk rekan-rekan pembaca yang ingin melakukan test di stasiun, saran saya datang lebih awal. Kalau bisa sejam sebelum buka akan lebih baik karena mengingat panjangnya antrian. Menurut catatan saya, kemarin hingga pukul 9 pagi baru sekitar 35 peserta yang mendapatkan giliran untuk rapid test antigen. Prosesnya memang lebih lama dibandingkan rapid test antibodi.

Kapal Suzuka Express bersandar di dermaga Pelabuhan Patimban

Berkunjung ke Pelabuhan Patimban

Hari Sabtu kemarin saya dan senior saya di kantor berkunjung ke Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Agenda kami hari itu adalah untuk membantu mempersiapkan aplikasi web untuk keperluan seremonial soft launching Pelabuhan Patimban keesokan harinya.

Itu kunjungan ke-2 kalinya saya ke sana. Kalau senior saya sih sudah beberapa kali ke sana. Kunjungan pertama saya tepat 3 hari sebelumnya. Ketika itu kami hanya berkunjung ke kantor KSOP-nya saja. Namun Sabtu itu kami berkesempatan untuk mengunjungi area pelabuhannya yang berada di pulau reklamasi.

Berfoto di depan Kapal Suzuka Express

Siang itu di dermaga pelabuhan sudah bersandar Kapal Suzuka Express yang berbendera Panama. Kapal tersebut akan digunakan untuk mengekspor 140 mobil ke Brunei Darussalam pada acara soft launching nanti sebagai penanda ekspor perdana yang dilakukan di Pelabuhan Patimban.

Area lapangan penumpukan Pelabuhan Patimban

Seperti yang kita ketahui bersama, Pelabuhan Patimban ini sendiri kemarin hari Minggu (20 Desember) telah diresmikan oleh Presiden. Semoga harapan Presiden agar Pelabuhan Patimban ini dapat memperkuat posisi Pelabuhan Tanjung Priok dan mendorong peningkatan pereknomian Jawa Barat dapat tercapai.