Category Archives: Singapore

Jalan-jalan ke SIngapura a.k.a. Singapore

Gardens By The Bay (photo by Pras)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 10-Tamat): Day 9 – The Last Day, Transit In Singapore

Minggu, 1 Juni 2014

Tak terasa telah sampailah kami pada hari terakhir dari perjalanan backpacking Indochina ini. Pagi itu setelah sholat subuh aku langsung berkemas-kemas. Kami bersiap pagi-pagi karena harus check-out pagi itu. Jadwal penerbangan kami ke Singapura — destinasi kami berikutnya — juga terhitung cukup pagi, yakni pukul 08.55 dengan maskapai Tigerair. Jadi setidaknya kami sudah tiba di bandara 2 jam sebelumnya.

Taksi ke bandara sudah kami pesan malam sebelumnya melalui resepsionis hotel. Kami memesan 2 taksi untuk 13 orang. Khairul, Benny, Abdan, dan Reza extend 1 hari di Ho Chi Minh. Mereka baru pulang keesokan harinya.

Pukul setengah 7 kami semua sudah berkumpul di lobi hotel. Kunci loker sudah dikembalikan ke resepsionis, paspor pun juga sudah kembali ke tangan kami. Tas-tas kami masukkan ke dalam taksi. Setelah itu kami pun berangkat menuju bandara.

Perjalanan menuju bandara ternyata cukup lancar. Jalanan tidak semacet sebagaimana yang kami khawatirkan di awal. Perjalanan menuju bandara ini kalau tidak salah hanya memakan waktu 20 menit saja.

Ada kejadian yang cukup unik saat kami turun dari taksi. Sang sopir taksi meminta tips kepada kami. Katanya itu sudah menjadi budaya di kalangan turis di sana (turis memberi tips kepada sopir taksi). Tentu saja kami terkejut. Kami nggak menyiapkan sama sekali tips untuk sang sopir.

Kami pikir dengan membayar biaya taksi ke resepsionis hotel itu sudah cukup. Kami pun terpaksa mengumpulkan uang pecahan Vietnam Dong kami yang tersisa yang kalau dirupiahkan mungkin nilainya setara Rp 10.000. Kami nggak tahu juga sih berapa standar tips dari Phạm Ngũ Lão ke bandara ini. Tapi kata pak sopirnya yang penting kasih tips saja, besarnya bebas.

Setelah urusan tips-pertipsan beres, kami pun masuk ke dalam bandara. Wow… megah, bagus, dan modern juga ya bandara di Ho Chi Minh ini. Begitu masuk di dalam bandara kami langsung mencari counter Tigerair untuk melakukan check-in.

Check-in di counter Tigerair

Check-in di counter Tigerair

Setelah check-in dan melalui imigrasi, sambil menunggu waktu boarding, aku, Pras, dan Hafidh berpisah dari rombongan untuk mencari sarapan. Sementara yang lain langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan.

Pesawat Tigerair yang akan kami tumpangi pagi itu benar-benar tepat waktu. Kami boarding sesuai jadwal. Pesawat juga take off sebagaimana waktu yang sudah dijadwalkan.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan, pesawat tiba di bandara Changi, Singapura. Waktu setempat menunjukkan pukul 12 siang, sejam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat dan waktu Vietnam.

Setelah melalui imigrasi, aku dan Ginanjar harus berpisah dengan Continue reading

Advertisements

Rencana Backpacking Indochina 9D8N

Menurut Wikipedia, yang disebut Indochina itu adalah:

Indochina or Indo-China is a peninsula in Southeast Asia lying roughly southwest of China, and east of IndiaThe name has its origins in the French Indochine as a combination of the names of “India” and “China”, referring to the location of the territory between those two countries, though the majority of people in the region are neither Chinese nor Indian. It is also referred to as Mainland Southeast Asia

Jadi, kalau menurut pengertian sempit, yang disebut Indochina itu sebenarnya adalah wilayah jajahan Perancis di Asia Tenggara yang meliputi Vietnam, Kamboja, dan Laos, sehingga disebut French Indochina. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luasnya turut meliputi Myanmar, Thailand, dan peninsula Malaysia (secara geografi wilayah Singapura juga termasuk). Dengan kata lain, Indochina itu wilayah mainland-nya Asia Tenggara.

Jadi ceritanya aku dan teman-teman sedang excited banget karena 3 hari lagi Insya Allah kami akan memulai backpacking mengunjungi negara-negara di Indochina. Bisa dibilang ini adalah backpacking Indochina jilid 2 di kelompok kecil backpacking kami. Yang jilid 1 (baca ceritanya di sini), 2 tahun lalu, aku tidak jadi ikut karena tidak bisa meninggalkan projek yang sedang kukerjakan. Makanya begitu ada kesempatan libur 2 kali dalam seminggu, aku sekalian mengajukan cuti untuk 3 hari lainnya sehingga bisa backpacking secara full.

Backpacking yang jilid 1 dua tahun lalu itu hanya 3 orang yang jadi. Mereka backpacking selama 21 hari berkeliling ke negara Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, dan Malaysia. Mereka bisa backpacking selama itu karena memang sedang berada pada masa jeda menunggu wisuda setelah sidang S1.

Untuk backpacking kali ini, awalnya menurut rencana, peserta backpacking ini hanya kelompok kecil backpacking kami selama kami kuliah dulu saja, dan yang konfirm hanya sekitar 5 orang saja. Namun, dalam perkembangannya ternyata rencana kami menyebar ke teman-teman kantor masing-masing. Coba tebak sekarang yang ikut bergabung sudah ada berapa? 22 mamen!

Well, kami tidak bisa menghalangi orang untuk jalan-jalan tentunya. Ini bakal jadi sesuatu yang menarik sekaligus tantangan tersendiri. Yang jelas nggak mungkinlah kalau ke mana-mana kami selalu jalan kompakan 22 orang. Sudah kayak study tour saja jadinya, hehe.

Akhirnya dibentuklah forum untuk mewadahi semua orang ini. Di situ kami membagi itinerary yang sudah kami rancang untuk diikuti yang lain. Di situ juga kami berbagi informasi tiket pesawat/kereta/bus dan penginapan yang hendak kami pesan. Sejauh ini sih koordinasi berjalan lancar. Intinya sih, itinerary kami kurang lebih sama, tapi jalan tetap masing-masing.

Jumlah hari yang akan kami spend untuk backpacking kali ini hanya 9 hari 8 malam (9D8N) saja. Tidak semua negara di Indochina tentunya yang akan kami kunjungi. Hanya beberapa negara saja. Ini dia rute yang akan kami lakukan.

Rute backpacking Indochina 9D8N

Rute backpacking Indochina 9D8N

Well, I do know that this sounds really ambitious. Beberapa teman mengatakan lebih baik fokus ke salah dua saja kalau cuma 9 hari mah. Thailand-Kamboja saja misalnya. Plan yang kami susun ini cenderung bakal lebih banyak habis di jalan dan sangat melelahkan.

Namun, aku pribadi sejak awal sih iyes. Nggak tahu kalau mas-mas yang lain. Memang yang kucari salah satunya adalah sensasi perjalanan antar negaranya, lintas perbatasan via darat, bukan hanya plesirnya saja. Semoga saja kami kuat menjalaninya, haha.

So, beberapa kota yang akan kami kunjungi adalah sebagai berikut:

1. Kuala Lumpur, Malaysia

Sudah 6 kali kalau tidak salah aku berkunjung ke kota ini. Sebenarnya aku ingin membuang kota ini dari itinerary. Tapi aku penasaran naik sleeper train melintasi perbatasan Malaysia-Thailand dari Kuala Lumpur ke Hat Yai.

Namun, aku tetap bakal mencoba menikmati jalan-jalan di KL ini karena kali ini aku bepergian ke sana ramaian. Tentu sensasinya bakal beda. Dan kali ini aku akan pergi ke KL sebagai seorang turis, bukan sebagai seorang yang memanfaatkan waktu luangnya saat bepergian dalam rangka urusan pekerjaan, haha.

Oh ya thanks to bung Rizky yang sudah membuat list objek yang akan dikunjungi di KL ini di blognya. Baru sadar ternyata masih ada cukup banyak tourist attraction yang belum kukunjungi di KL ini.

Sleeper Train Malaysia

Sleeper Train Malaysia (photo embedded from http://www.escapetraveler.com/)

Continue reading

Jalan-Jalan Malam di Gardens By The Bay

Masih seputar kegiatan jalan-jalan ke Singapura 2 minggu yang lalu (12-14 April). Kali ini aku ingin bercerita sedikit tentang Gardens By The Bay yang sempat kukunjungi pada malam hari kedua.

Aku mengetahui ada objek tourist attraction dengan bangunan-bangunan berbentuk seperti jamur raksasa ini dari beberapa teman yang menge-share foto-foto jalan-jalannya di Singapura. Dari situ kemudian aku mencari tahu ternyata nama tempatnya adalah Gardens By The Bay.

Sungguh wow sekali bangunan-bangunan yang disebut “Supertree” ini. Tingginya berkisar antara 25-50 meter. Jumlahnya cukup banyak, ada 18 supertree dari informasi yang kubaca. Dari kejauhan keberadaan supertree-supertree tersebut memang tampak seperti sebuah hutan raksasa futuristik seperti di film-film genre sci-fi.

Singapore flyer dan supertree

Singapore flyer dan supertree

“Pepohonan” raksasa itu di malam hari memancarkan lampu-lampu berwarna-warni sehingga menampilkan pemandangan yang cukup cantik. Sayang euy, kamera HP-ku tak cukup mumpuni untuk menangkap view Supertree di malam hari yang cantik itu.

Hmm… jadi penasaran, dari mana sih sebenarnya inspirasi bentuk Supertree ini? Kalau dilihat-lihat lagi, sepertinya bentuk Supertree ini lebih mirip sama pohon Darah Naga (Dragon Blood Tree) yang merupakan tumbuhan endemik di Pulau Socotra, Yaman. Pohon Darah Naga ini memiliki bentuk seperti payung dengan kanopi di atasnya. Coba deh bandingkan kedua foto berikut:

Bagaimana? Mirip kan?

Btw, aku baru tahu belakangan bahwa kanopi yang berada di puncak Supertree ini memiliki beberapa kegunaan. Aku pikir Supertree dan kanopinya ini hanya berguna sebagai tempat tumbuh beberapa jenis flora. Ternyata ada kegunaan lingkungan lainnya juga, antara lain mengumpulkan air hujan, membangkitkan listrik tenaga surya, dan menyerap panas. Lebih lengkapnya bisa dibaca di ulasan CNN ini.

Untuk mencapai lokasi Gardens By The Bay ini, kita bisa menaiki MRT dan turun di stasiun Bayfront. Kalau dari Bugis, tinggal naik MRT jalur biru ke arah Chinatown saja. Tak perlu berpindah jalur. Begitu keluar dari stasiun Bayfront yang berada di underground kita akan melihat gedung hotel Marina Bay Sands dari bagian belakang(?) dan Gardens By The Bay.

Marina Bay Sands terlihat dari pintu keluar stasiun Bayfront

Marina Bay Sands terlihat dari pintu keluar stasiun Bayfront

Ada apa saja sih di Gardens By The Bay ini selain supertree-supertree itu? Wellkalau aku boleh nyatakan dalam satu kalimat singkat saja, “It’s all about floras”. Karena memang itulah misi yang ingin dicapai Singapura, yakni membentuk image sebagai “city in a garden”.

Malam itu aku berusaha menikmati setiap jengkal pemandangan di dalam area Gardens By The Bay ini. Aku mengamati supertree-supertree ini sambil duduk-duduk di satu area di mana banyak orang-orang berkumpul dan bercengkerama satu sama lain. Di bagian bawah setiap supertree terdapat bangku yang mengitari supertree itu sebagai tempat duduk-duduk untuk pengunjung.

Antar supertree ini, sebenarnya beberapa di antaranya terdapat skyway yang menghubungkan satu sama lain. Di atas situ pengunjung bisa melihat berbagai macam flora. Untuk bisa naik ke atas situ, pengunjung harus membayar tiket masuk. Penjualan tiket untuk sightseeing di skyway itu ditutup pukul 8 malam. Namun, malam itu skyway tengah ditutup karena sebelumnya saat maghrib diguyur hujan.

Saat aku tengah duduk-duduk santai di bawah salah satu supertree, tiba-tiba lampu-lampu yang menerangi Supertree dipadamkan semua. Beberapa detik kemudian supertree-supertree itu berubah menjadi panggung pertunjukan musik. Supertree-supertree ini seolah hidup dan berperan sebagai penari-penarinya dengan memainkan warna-warni cahaya lampu mengikuti alunan musik. Belakangan aku baru tahu di Gardens By The Bay ini tiap malam memang rutin memainkan pertunjukan yang diberi nama The OCBC Garden Rhapsody ini.

Warna-warni lampu dari Supertree

Warna-warni lampu dari Supertree

Namun, sejujurnya musik yang diputar saat itu terdengar sangat familiar. Musik tersebut terdengar seperti orkestra paduan angklung. Jadi penasaran siapa dan dari mana pengisi musik ini. 😀

Tidak terlalu mengasyikkan sebenarnya berjalan-jalan di taman malam-malam. Kalau di pelajaran Biologi kan katanya saat malam hari tumbuhan tidak berfotosintesis dan bernafas menghirup oksigen. Makanya suasana taman saat itu terasa anget-anget gitu. Ya, selain faktor cuaca di Singapura tentunya yang memang panas. Rasanya badan ini lengket dengan keringat. Maklum, biasa di wilayah sejuk seperti Malang dan Bandung, jadinya merasa kurang nyaman dengan cuaca di Singapura ini, hehe. #BukanGaya 😛

Trek salah satu taman

Trek salah satu taman

Selain itu, nggak enaknya keliling di dalam Gardens By The Bay saat malam hari itu karena suasananya yang agak remang-remang gitu. Pandangan kita menjadi kurang luas. Jadi kurang cocok saja kalau malam-malam ingin melihat-lihat flora-flora di sana.

Paling cocok memang duduk-duduk saja foto-foto pemandangan cantik gemerlap lampu yang ditampilkan oleh supertree-supertree di sana. Kalau ada kesempatan ke sana lagi, mungkin bakal nyobain ke sana siang-siang. Masih ada Flower Dome dan Cloud Forest, dan themed garden lainnya yang belum sempat kukunjungi juga di sana.

Relaksasi di Singapore Botanic Gardens

Kalau Anda adalah sesosok penikmat alam dan sedang berada di Singapura, sempatkan untuk berkunjung ke Singapore Botanic Gardens. Kalau Anda pecinta lari, datanglah ke sana dengan mengenakan perlengkapan lari Anda. Sempatkan juga untuk berlari di sana mengikuti “track” yang sudah dibuat menjelajahi taman-taman, kebun-kebun, dan hutan-hutan di sana.

Yup, pada momen jalan-jalanku ke Singapura untuk menonton Singapore Open 2014 yang lalu (baca di sini dan di sini), aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Botanic Gardens ini. Aku datang ke sana pada hari Minggu pagi (13/4). Dari stasiun Bugis aku menaiki MRT East West Line (hijau) ke arah Joo Koon, turun di stasiun Buona Vista, lalu naik MRT Circle Line (kuning) ke arah Marina Bay atau Dhoby Ghaut, dan turun di stasiun Botanic Gardens. Perjalanan lumayan jauh, memakan waktu kira-kira 30 menit.

Aku tiba di sana pukul 9 pagi waktu setempat. Walaupun terbilang masih pagi, tapi cuaca di sana cukup panas menyengat ternyata. Jarak dari pintu keluar stasiun MRT ke Botanic Gardens ini sangat dekat. Cuma belasan meter saja. Masuk ke dalam Singapore Botanic Gardens ini tidak dipungut biaya.

Gerbang masuk Botanic Gardens dari sisi stasiun MRT ini berada di sisi barat laut. Sementara Botanic Gardens ini memanjang dari utara ke selatan. Areanya sangat luas. Total luasnya adalah 74 hektar. Kalau kita ingin menjelajahi seluruh sudut di Botanic Gardens ini, kita memang harus meluangkan banyak waktu di sana.

Botanic Gardens ini selain berupa taman-taman yang ditumbuhi berbagai macam pohon, juga terdapat beberapa kebun tematik, antara lain National Orchid Garden, Evolution Garden, Healing Garden, Rain forest, dan Jacob Ballas Children’s Garden. Namun, dalam kesempatan saat itu aku cuma sempat menjelajahi Evolution Garden dan Healing Garden saja. Itu pun ada beberapa area tanaman yang kulewati di Healing Garden.

Evolution Garden

Evolution Garden

Healing Garden

Healing Garden

Di dalam Evolution Garden kita akan dibawa menyusuri timeline waktu perkembangan evolusi tumbuhan dari zaman ke zaman. Jadi disebutkan bahwasannya tumbuhan sudah ada di muka bumi ini sejak kurang lebih 3,5 juta tahun yang lalu. Sementara manusia “baru” ada 100 ribu tahun yang lalu.

Ya, tentunya tumbuhan yang tinggal di Evolution Garden ini tidak benar-benar hidup 3,5 juta tahun yang lalu. Zaman-zaman yang sangat lampau itu hanya diceritakan saja apa yang sedang terjadi dan pengaruhnya terhadap evolusi tumbuhan. Ini jadi kayak belajar pelajaran Biologi di sekolah lagi, haha.

Sementara itu, di Healing Garden, sesuai namanya, kita akan diajak melihat-lihat berbagai tanaman obat-obatan atau yang telah diteliti (dan dipercaya) memiliki khasiat tertentu. Misalnya nih, tumbuhan Sambung Nyawa (Gynura procumbens) yang bermanfaat untuk menurunkan demam dan penyakit disentri. Lalu, ada juga tumbuhan Jarak Minyak (Ricinus communis) yang bermanfaat untuk menyembuhkan batuk, bronkitis, demam, dan penyakit kulit. Dan masih banyak tanaman obat lainnya.

Tenang saja, tanaman-tanaman di Healing Garden ini tidak ditanam secara random (acak) kok. Tanaman-tanaman itu dikelompokkan berdasarkan khasiatnya terhadap tubuh manusia, yakni: (1) Head, neck, ear, nose & throat, (2) Respiratory & circulation system, (3) Digestive & related system, (4) Reproductive system, (5) Muscles, skeleton, skin, & nervous system, and (5) Toxic plants.

Namun, perlu diperhatikan walaupun semua tanaman di sana memiliki khasiat untuk kesehatan manusia, bukan berarti kita diperbolehkan untuk memetik tanaman di sana. Jika tertarik untuk mempelajari semua tumbuhan yang ada di sana, tidak perlu capai-capai mencatat satu-satu tumbuhan di sana. Untuk pengguna Android, mereka bisa menginstal aplikasi Healing Garden dari Google Play Store di sini.

Selain kebun-kebun tematik, di Singapore Botanic Gardens ini juga banyak taman-taman terbuka yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk berpiknik. Kita bisa membawa tikar sendiri kemudian menggelarnya di sana. Membawa bekal makanan dari rumah lalu dimakan bersama di sana bersama orang-orang terdekat. Atau membaca buku sambil menikmati semilir angin berhembus di antara pepohonan. Atau bermain lempar-lemparan bola bersama anak-anak. Atau bisa juga hanya mengamati angsa-angsa yang sedang berenang di kolam dekat taman. Bikin relaksasi banget nggak sih, haha.

Gelar tikar di taman

Gelar tikar di taman

Oh ya tips paling penting untuk jalan-jalan ke sini: jangan lupa membawa botol minuman! Berjalan-jalan menjelajahi area Botanic Gardens yang sangat luas tentu akan membuat kita haus. Apalagi cuaca di Singapore ini cukup terik, seperti yang kualami kemarin padahal hari masih pagi.

Aku tidak melihat ada orang berjualan makanan/minuman di Botanic Gardens ini. Well, setidaknya aku bisa memastikan di sepanjang jalan yang kulalui saja. Botol minuman yang kita bawa bisa diisi ulang di beberapa water tap (kran air minum) yang tersedia di beberapa titik. Jangan khawatir, Insya Allah airnya sudah terjamin bersih kok.

Water tap di Evolution Garden

Water tap di Evolution Garden

Total aku berkeliling di dalam Singapore Botanic Gardens ini adalah selama 2 jam-an saja. Aku merasa 2 jam di sana sudah cukup, walaupun belum bisa semua tempat keeksplor. Alasan lainnya sebenarnya karena sudah kelaparan sih, haha. Pagi itu aku hanya sempat sarapan 1 potong roti tawar.

Oh ya, ini jadi salah satu tips juga. Jangan lupa makan sebelum berkeliling di Botanic Gardens ini supaya pengalamannya lebih maksimal. Jalan bersama orang-orang terdekat tentu lebih asyik dan bisa berlama-lama di sana daripada jalan sendirian.

Asyiklah jalan-jalan di Singapore Botanic Gardens ini. Segar lihat yang hijau-hijau. Relaksasi yang menyejukkan dan menenangkan (dan bikin keringatan juga sih karena kecapekan, hehe). 🙂

 

Nonton Langsung Singapore Open 2014 (Bag. 2-Tamat)

Penginapan di Singapura

Aku berada di Singapura selama 3 hari 2 malam. Selama 2 malam itu aku menginap di ABC Hostel yang berlokasi di Jalan Kubor, Bugis. Aku memesan via Agoda dan mendapat tarif per malam sekitar 180 ribu rupiah.

Kenapa di sana? Pertimbangan utamaku adalah mencari hostel murah yang lokasinya dekat masjid. ABC Hostel ini hanya berjarak sekitar 50 meter saja dari Masjid Sultan.

Dengan dekat masjid aku tak perlu repot-repot untuk mencari tempat sholat. Aku merasa nggak nyaman aja sholat di kamar yang memiliki model dormitory ini di tengah orang-orang yang nggak dikenal. Selain itu, biasanya di area sekitar masjid terdapat rumah makan yang (Insya Allah) sudah jelas kehalalannya.

Mengenai Masjid Sultan ini, di depannya bertebaran berbagai rumah makan muslim. Umumnya masakan Timur Tengah atau India-Pakistan gitu. Kangen masakan Indonesia? Di pinggir jalan antara ABC Hostel dan Masjid Sultan ini terdapat rumah makan masakan Padang.

Kondisi kamar yang kutempati

Kondisi kamar yang kutempati

Selain pertimbangan dekat dengan masjid, aku juga mempertimbangkan jarak hostel terhadap shelter bus atau stasiun MRT untuk mobilitas ke tempat lain. Nah, lokasi ABC Hostel ini berjarak sekitar 200 meter ke stasiun MRT Bugis. Sekitar 20 meter dari hostel terdapat shelter bus juga.

So, maghrib itu setelah menonton babak semifinal OUE Singapore Open Super Series 2014, aku pergi menuju penginapan dengan menaiki MRT dari stasiun Stadium ke stasiun Bugis, transit di stasiun Promenade. Oh ya, waktu tempuh dari stasiun MRT ke stasiun Bugis ini juga menjadi salah satu pertimbanganku. Jarak keduanya hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit.

Finals Day

Pertandingan babak final Singapore Open pada hari itu baru dimulai pukul 13.00 waktu lokal. Artinya aku masih memiliki waktu efektif sekitar 3 jam lah untuk jalan-jalan ke suatu tempat. Tempat yang kupilih adalah Singapore Botanic Gardens. Cerita tentang jalan-jalanku ke sana akan kutulis di artikel terpisah.

Selain Singapore Botanic Gardens, aku sempat main juga ke Merlion Park. Singkat cerita, dari Merlion Park, tepatnya stasiun MRT Raffles Place, aku naik MRT ke stasiun Stadium, transit di stasiun Marina Bay.

Berbeda dengan sehari sebelumnya di mana aku hampir telat 2 jam, pada babak final ini aku datang setengah jam lebih awal. Stadion sudah cukup ramai. Hanya kebanyakan mereka masih bertahan di booth area. Booth area ini hanya diisi oleh Li Ning kalau tidak salah, selain tentunya juga beberapa stand makanan. Li Ning “mengobral” jersey-jersey mereka seharga SGD30 atau sekitar Rp270.000. Aku nggak tahu sih harga segitu sebenarnya termasuk mahal, normal, atau murah. Yang jelas sayang banget beli jersey dengan ngeluarin duit segitu, haha.

Suasana dalam stadion yang masih sepi

Suasana dalam stadion yang masih sepi

Pukul 13.00 tepat babak final OUE Singapore Open Super Series 2014 ini dimulai. Partai ganda campuran antar sesama pemain Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Riky Widianto/Puspita Richi Dili mengawali babak final hari itu. Btw, 15 menit sebelum babak final dimulai Riky Widianto sempat diminta oleh tournament referee untuk menguji kondisi lapangan, terutama kondisi angin.

Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Tontowi/Liliyana dengan skor 21-15, 22-20. Pertandingannya sendiri menurutku kurang “panas” sih. Mungkin karena mereka sudah sering latihan bersama jadi sudah tahu sama tahu. Riky/Richi sendiri kelihatan tidak sedang dalam permainan terbaiknya saat itu.

Btw, orang Singapore yang duduk di sebelahku sempat penasaran Blibli itu nama perusahaan apa. Dia melihat di jersey yang dikenakan pemain Indonesia ada tulisan Blibli.com. Langsung kukasih tahu kepada beliau kalau Blibli itu adalah situs e-commerce di Indonesia. Aku jadi penasaran, Blibli ada fasilitas shipping internasional nggak sih? Atau jangan-jangan mereka memang mau go international seperti Amazon, e-bay, dll. dengan mensponsori pemain badminton Indonesia ini?

Tontowi/Liliyana dan Riky/Richi sedang melakukan pemanasan

Tontowi/Liliyana dan Riky/Richi sedang melakukan pemanasan

Pertandingan kedua adalah all chinese women’s singles final antara Li Xuerui vs Wang Yihan. Pertandingan yang agak membosankan menurutku. Aku sampai ngantuk menontonnya. Sempat ada satu reli panjang dan sepertinya terpanjang dalam keseluruhan partai final hari itu. Tapi aku sejak awal sudah menduga partai ini akan dimenangkan oleh Wang Yihan. Entahlah, aku melihat banyak kesalahan dari Li Xuerui yang sepertinya disengaja. Another fixed match by China? Who knows.

Memasuki partai ketiga, semangatku untuk menonton mulai bangkit lagi. Partai ketiga ini mempertemukan pasangan ganda putra dari China Cai Yun/Lu Kai melawan ganda putra dari Taiwan Lee Sheng Mu/Tsia Chia Hsin. Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh pasangan China dengan skor 21-19, 21-14. Aku cukup impressed dengan penampilan Lu Kai secara khusus. Smash-smashnya dalam pertandingan ini benar-benar tajam dan kencang. Wow!

Awal set ke-2 partai ganda putra

Awal set ke-2 partai ganda putra

Partai keempat lagi-lagi juga menjadi milik China. Bao Yixin/Tang Jinhua yang turun di partai final ganda putri berhasil mengalahkan pasangan Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl melalui pertandingan sengit 14-21, 21-19, 21-15.

Akhirnya tibalah partai yang ditunggu-tunggu oleh penonton di stadion. Yakni partai final tunggal putra antara Lee Chong Wei dari Malaysia melawan pemain kualifikasi dari Indonesia, Simon Santoso.

Walaupun selisih peringkat kedua pemain terpaut sangat jauh, yakni peringkat 1 dunia dan 50-an, pertandingan ini menjanjikan pertarungan seru karena performa Simon yang menunjukkan kebangkitan belakangan ini. Lee Chong Wei datang ke Singapore Open ini dengan status juara 3 Super Series sebelumnya. Simon Santoso datang dengan status juara Malaysia Open GPG 2014.

Jelas, Lee Chong Wei adalah favorit kuat pada pertandingan ini. Penonton di Singapore Indoor Stadium ini juga banyak sekali yang mengelu-ngelukan Lee Chong Wei.

Adu netting antara Lee Chong Wei dan Simon Santoso

Adu netting antara Lee Chong Wei dan Simon Santoso

Namun, tanpa diduga pada pertandingan ini Simon bermain sangat cemerlang. Lee Chong Wei sepertinya tampak kaget dan tidak siap dengan penampilan bagus yang ditunjukkan Simon. Simon bermain rapih tanpa membuat banyak kesalahan. Netting-nettingnya sangat halus sehingga sering memaksa Chong Wei untuk mengangkat bola yang kemudian diakhiri Simon dengan smash yang akurat.

Dalam pertandingan ini Simon unggul 21-15, 21-10. Sebuah skor mencolok yang menunjukkan dominasi Simon atas Chong Wei. Wow! Benar-benar bangga rasanya melihat langsung pemain Indonesia berhasil mengalahkan Lee Chong Wei, apalagi dengan skor telak. Terakhir kali pemain Indonesia yang bisa mengalahkan Lee Chong Wei, kalau tidak salah, adalah Taufik Hidayat di Kejuaraan Dunia tahun 2010.

Btw, setelah kemenangan Simon ini di situs Badminton Central, forumnya para penggemar badminton dari manca negara, banyak yang menanyakan tentang brand Astec yang dipakai Simon ini. Tampaknya banyak yang baru mendengar tentang keberadaan Astec ini. Wah, kalau Simon bisa terus konsisten berprestasi, jelas ini bakal menjadi sarana promosi yang hebat bagi Astec. 😀

Simon Santoso dan Lee Chong Wei di atas podium

Simon Santoso dan Lee Chong Wei di atas podium

Setelah menonton prize ceremony nomor tunggal putra, aku pulang meninggalkan stadion. Aku kembali menuju penginapan dengan menaiki MRT. Aku sholat jama’ takhir Ashar dan Dhuhur di Masjid Sultan. Malam itu aku masih stay di Singapura untuk 1 malam lagi. Jadwal pesawat ke Bandung baru pagi keesokan harinya. (tamat)

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Nonton Langsung Singapore Open 2014 (Bag. 1)

Setelah nonton langsung Malaysia Open Super Series Premier Januari lalu (baca ceritanya di sini), weekend kemarin (12-13 April) gilirannya nonton Singapore Open Super Series. Berbeda dengan di Malaysia kemarin yang nonton bersama teman, kali ini aku berangkat sendiri ke Singapura.

Pesawat Bandung-Singapura PP

Tiket Bandung-Singapura PP sudah kubeli pada awal bulan Desember 2013 lalu. Kebetulan waktu itu dapat promo Tigerair “Pergi Bayar Full, Pulang Bayar Rp 1” (atau kebalik ya, haha). Kalau ditotal pulang-pergi habis Rp539.001,-. Itu sudah termasuk booking fee Tigerair yang berlaku untuk 1 penerbangan internasional sebesar Rp63.000 dikali 2 karena pulang-pergi. Mahal ya. Tapi segitu masih terbilang murah sih untuk tiket Bandung-Singapura PP.

Pada hari Sabtu kemarin (12/4) pesawat Tigerair nomor penerbangan TR2203 take off dari Bandung menjelang pukul 12 siang. Agak telat dari jadwal seharusnya sih yang pukul 11.40 (GMT+7). Tapi hebatnya pesawat tiba on time pukul 14.35 waktu setempat (GMT+8).

Pesawat Tigerair menjelang berangkat dari Bandara Husein Sastranegara

Pesawat Tigerair menjelang berangkat dari Bandara Husein Sastranegara

Naik MRT dari Changi Airport ke Singapore Indoor Stadium

Btw, ini adalah pengalaman pertamaku ke Singapura. Sempat bingung juga sih lewat mana setelah selesai urusan imigrasi. Untungnya papan-papan informasi dan penunjuk arah di bandara Changi ini sangat jelas. Yang jelas aku harus menuju ke stasiun MRT bandara untuk dapat naik MRT ke Singapore Indoor Stadium, tempat diselenggarakannya turnamen.

Pertama-tama, aku membeli kartu EZ-link dahulu di ticket office dekat MRT gates. EZ-link ini kuperlukan agar urusan naik MRT ke mana-mana menjadi praktis (EZ-link card tidak hanya berlaku untuk MRT saja lho). Setelah itu aku naik MRT ke stasiun Stadium, pakai transit ganti MRT di stasiun Tanah Merah dan Paya Lebar.

Aku tiba di stasiun Stadium sekitar setengah empat sore. Berarti aku telat hampir 2 jam. Babak semifinal dimulai pukul 2 siang. Yah, sudah risiko sih. Soalnya dari Bandung ke Singapore ongkos pesawat yang lagi murah cuma Tigerair yang berangkat siang ini. 😀

Penampakan Singapore Indoor Stadium dari pintu keluar stasiun MRT

Penampakan Singapore Indoor Stadium dari pintu keluar stasiun MRT

Tiket Babak Semifinal dan Final

Jujur, tiket Singapore Open Super Series ini sungguh amat mahal! Standard Event Day Tickets untuk babak semifinal dipatok seharga S$40 dan final S$44. Aku nggak tahu sih itu harga tiket tersebut berlaku untuk kelas apa.

Namun untungnya pihak event organizer membuka early bird untuk tiket musiman alias untuk seluruh babak turnamen. Harganya S$40 untuk kelas 2. Yah, Kalo dihitung-hitung tentu jauh lebih murah ini sih. Akhirnya aku pun membeli tiketnya melalui website event organizer-nya, Sports Hub Singapore, di sini. Untuk masuk ke dalam stadion, aku tinggal menunjukkan print-out tiket yang sudah dikirimkan via email.

Tiket semifinal dan final Singapore Open 2014

Tiket semifinal dan final Singapore Open 2014

Semifinals Day

Sabtu sore hari itu aku telah melewatkan dua pertandingan pertama di court 1 yang mempertandingkan partai ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Liu Cheng/Bao Yixin dan tunggal wanita Li Xuerui vs Sung Ji Hyun. Sementara di court 2 aku melewatkan pertandingan wakil Indonesia lainnya di ganda campuran Riky Widianto/Puspita Richi Dili yang melawan pasangan Korea Ko Sung Hyun/Kim Ha Na.

Ketika aku masuk ke dalam hall stadion, di court 1 baru akan memasuki partai ketiga antara Simon Santoso melawan Du Pengyu. Sementara di court 2 baru saja menyelesaikan set ke-1 partai ganda putra Cai Yun/Lu Kai vs Yoo Yeon Seong/Kim Sa Rang. Yah, lumayanlah masih sempat nonton Simon main. Yang lebih menggembirakan lagi, pada pertandingan itu Simon menang setelah melalui pertarungan ketat melawan Du Pengyu 16-21, 21-17, 21-17. Yayy… bisa lihat Simon di final!

Pertandingan seru lainnya sore itu tentu saja dua partai ganda putra antara Cai Yun/Lu Kai (China) vs Yoo Yeon Seong/Kim Sa Rang(Korea) dan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin (Taiwan) vs Ko Sung Hyun/Shin Baek Choel (Korea). Banyak terjadi adu reli dan jual beli smash. Men’s doubles at its highest intensity! Sayang euy, dari 2 pasangan Korea tersebut tak ada satupun yang lolos ke final.

Partai ke-4 di court 1, yakni antara pasangan ganda putri Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl melawan pasangan Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, ternyata juga tak kalah menarik. Pertarungan antara dua pasangan ganda putri ini dimenangkan oleh Christinna/Kamilla 11-21, 21-15, 21-14.

Sementara itu, partai semifinal ganda putri lainnya antara sesama pasangan China urung dilaksanakan karena salah satu pasangan melakukan walkover. Ketika pengumuman ini disampaikan oleh presenter di dalam stadion, seluruh penonton kompak berteriak, “Boo…!” Yup, bukan sekali dua kali ini saja China melakukan taktik kotor seperti ini demi menyimpan energi atau menaikkan peringkat salah satu pasangannya.

Partai penutup pada babak semifinal hari itu adalah partai tunggal putra antara peringkat 1 dunia Lee Chong Wei melawan Srikanth K. dari India. Sangat banyak juga supporter Srikanth di Singapore Indoor Stadium ini. Tidak terlalu mengherankan sih, sebab banyak di Singapura ini banyak sekali warga lokal yang merupakan keturunan India. Teriakan-teriakan dukungan terhadap Srikanth terus bergema di dalam stadion. Alhasil, walau perbedaan peringkatnya cukup jauh dengan Lee Chong Wei (antara 25 dan 1), namun Srikanth mampu memberikan perlawanan ketat sehingga hanya kalah 19-21, 18-21. Aku pikir Srikanth memiliki potensi untuk menjadi pemain top tunggal putra di dunia.

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Berakhirnya partai Lee Chong Wei vs Srikanth K. itu menandai berakhirnya babak semifinal OUE Singapore Open Super Series 2014 ini. Para penonton pun langsung beranjak dari kursinya meninggalkan stadion. Aku pun pergi ke stasiun MRT Stadium untuk naik MRT ke penginapan. (bersambung)