Tag Archives: final

Xu Chen/Ma Jin vs Zhang Nan/Zhao Yunlei

Nonton Langsung Final Indonesia Open 2015

Tak terasa penyelenggaraan Indonesia Open tahun ini adalah kali kelima yang kuikuti berturut-turut sejak edisi tahun 2011 yang lalu. Dan sepertinya itulah sebabnya antusiasmeku untuk menonton Indonesia Open sudah tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, sebagai penggemar badminton tetap rasanya memang ada yang kurang jika sampai melewatkan turnamen BWF Super Series Premier dengan hadiah tertinggi di dunia ini.

Pada Indonesia Open Premier Super Series 2015 ini aku hanya menonton babak final saja. Itu pun hanya sempat menonton tiga pertandingan pertama saja. Setelah tiga edisi sebelumnya selalu menonton di tribun Kelas 1, kali ini aku memutuskan untuk menonton dari tribun Kelas 2.

Menonton di tribun Kelas 2 ternyata juga cukup worth kok menurutku. Aku sengaja mengambil bangku paling atas yang menghadap lurus ke lapangan. Dari tribun paling atas itu suara riuh penonton tak terdengar Continue reading

Advertisements

Nonton Final Indonesia Open 2014

Untuk keempat kalinya secara berturut-turut aku berkesempatan menyaksikan langsung aksi-aksi pebulutangkis terbaik di dunia di perhelatan Indonesia Open Super Series Premier. Namun ada yang berbeda pada penyelenggaraan tahun ini. Stadion Istora Gelora Bung Karno yang tahun-tahun sebelumnya selalu identik dengan warna merah menyala, kali ini berganti menjadi warna biru.

Yup, seperti yang sudah diketahui bersama, title sponsor event Indonesia Open tahun ini adalah Bank Central Asia (BCA), menggantikan peran Djarum yang sudah bertahun-tahun “menikahi” Indonesia Open. Hal ini bisa terjadi karena aturan baru dari BWF di mana event olahraga mereka tidak boleh disponsori oleh perusahaan rokok. Memang sih, kenyataannya walaupun sudah tidak disponsori oleh Djarum, tapi bau Djarum di event ini masih sangat terasa. Melalui Djarum Foundation mereka masih ikut menyemarakkan event Indonesia Open ini sebagai sponsor.

Bagiku warna biru yang menggantikan warna merah ini adalah sebuah penyegaran. Bosen juga lihat warna merah melulu di Indonesia Open, hehe. 😀

Hari itu, Minggu 22 Juni, Aku dan Pambudi berangkat pagi dari Bandung menumpang travel dengan tujuan Sarinah. Kami tiba di sana sekitar pukul setengah 11. Setelah itu kami langsung meluncur ke Istora Gelora Bung Karno dengan menumpang bus Transjakarta. Bus Transjakarta sedang ada program gratis ongkos hari itu dalam rangka HUT DKI Jakarta *lumayan*.

Kami turun di halte POLDA. Setelah itu kami berjalan kaki menuju Istora. Setibanya di sana kami langsung mencari lokasi ticket box untuk event Indonesia Open ini. Ticket box untuk pembelian langsung ternyata berada di luar gerbang samping Istora. Sedangkan ticket box yang di dalam hanya untuk penukaran tiket dan tiket VIP saja.

Kami membeli 3 tiket untuk kelas I seharga Rp150.000 untuk satu tiketnya. Selain aku dan Pambudi, ada satu teman lagi, Putri TI’08, yang datang menyusul. Dia terpaksa menyusul karena sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota.

Setelah tiket ada di tangan, kami bisa bersantai-santai dahulu sambil menunggu pertandingan yang dimulai pukul 13.30. Kami makan siang dulu di food court yang tersedia di sana.

Beres makan siang, kami keliling melihat stand-stand yang lain. Kami juga sempat berfoto-foto di properti selamat datang ke BCA Indonesia Open 2014 dan wall of fame juara-juara Indonesia Open yang berasal dari Indonesia tentunya.

Di depan Istora

Di depan Istora

Bersama "Taufik Hidayat" di Wall of Fame

Bersama “Taufik Hidayat” di Wall of Fame

Well, bagi yang sudah pernah datang ke Indonesia Open tahun-tahun sebelumnya, format seperti itu tentu sudah sangat familiar. Tak terasa bedanya antara ketika disponsori Djarum dan BCA. Mungkin yang paling mencolok bedanya keberadaan SPG-SPG Djarum yang kini sudah tidak ada lagi di sini.

Yang aku baru tahu dan mungkin tidak ada di tahun-tahun sebelumnya, di front hall dalam Istora terdapat stand main Xbox. Aku dan Pambudi killing time main game FIFA di sana. Gratis lho. Lumayan kami bisa main 20 menitan di sana. Tidak perlu berlama-lama karena kami harus sholat Dhuhur dulu sebelum masuk ke tribun agar tidak merepotkan saat menonton.

Seusai sholat Dhuhur, kami langsung menuju ke tribun kelas I, masuk melalui pintu A8. Ketika itu jam kira-kira menunjukkan pukul 13.00. Berarti masih ada setengah jam lagi sebelum pertandingan dimulai. Namun tribun ternyata sudah lumayan ramai.

Waktu setengah jam itu diisi dengan penampilan Hivi Band yang menyanyikan lagu-lagu andalannya di tengah arena stadion. Btw, sejujurnya aku baru tahu ada band bernama Hivi Band saat itu. Maklum, udah nggak terlalu ngikuti blantika musik Indonesia, haha.

Tak berapa lama seusai Hivi Band menutup penampilannya, dua MC final Indonesia Open saat itu, Steny Agustaf dan Nirina Zubir masuk ke tengah arena menyambut penonton. Mereka memimpin penonton untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, mengajak penonton untuk menyanyikan dan meneriakkan yel-yel khas Indonesia Open dan melakukan body wave di dalam stadion.

Dan akhirnya  Continue reading

Nonton Langsung Singapore Open 2014 (Bag. 2-Tamat)

Penginapan di Singapura

Aku berada di Singapura selama 3 hari 2 malam. Selama 2 malam itu aku menginap di ABC Hostel yang berlokasi di Jalan Kubor, Bugis. Aku memesan via Agoda dan mendapat tarif per malam sekitar 180 ribu rupiah.

Kenapa di sana? Pertimbangan utamaku adalah mencari hostel murah yang lokasinya dekat masjid. ABC Hostel ini hanya berjarak sekitar 50 meter saja dari Masjid Sultan.

Dengan dekat masjid aku tak perlu repot-repot untuk mencari tempat sholat. Aku merasa nggak nyaman aja sholat di kamar yang memiliki model dormitory ini di tengah orang-orang yang nggak dikenal. Selain itu, biasanya di area sekitar masjid terdapat rumah makan yang (Insya Allah) sudah jelas kehalalannya.

Mengenai Masjid Sultan ini, di depannya bertebaran berbagai rumah makan muslim. Umumnya masakan Timur Tengah atau India-Pakistan gitu. Kangen masakan Indonesia? Di pinggir jalan antara ABC Hostel dan Masjid Sultan ini terdapat rumah makan masakan Padang.

Kondisi kamar yang kutempati

Kondisi kamar yang kutempati

Selain pertimbangan dekat dengan masjid, aku juga mempertimbangkan jarak hostel terhadap shelter bus atau stasiun MRT untuk mobilitas ke tempat lain. Nah, lokasi ABC Hostel ini berjarak sekitar 200 meter ke stasiun MRT Bugis. Sekitar 20 meter dari hostel terdapat shelter bus juga.

So, maghrib itu setelah menonton babak semifinal OUE Singapore Open Super Series 2014, aku pergi menuju penginapan dengan menaiki MRT dari stasiun Stadium ke stasiun Bugis, transit di stasiun Promenade. Oh ya, waktu tempuh dari stasiun MRT ke stasiun Bugis ini juga menjadi salah satu pertimbanganku. Jarak keduanya hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit.

Finals Day

Pertandingan babak final Singapore Open pada hari itu baru dimulai pukul 13.00 waktu lokal. Artinya aku masih memiliki waktu efektif sekitar 3 jam lah untuk jalan-jalan ke suatu tempat. Tempat yang kupilih adalah Singapore Botanic Gardens. Cerita tentang jalan-jalanku ke sana akan kutulis di artikel terpisah.

Selain Singapore Botanic Gardens, aku sempat main juga ke Merlion Park. Singkat cerita, dari Merlion Park, tepatnya stasiun MRT Raffles Place, aku naik MRT ke stasiun Stadium, transit di stasiun Marina Bay.

Berbeda dengan sehari sebelumnya di mana aku hampir telat 2 jam, pada babak final ini aku datang setengah jam lebih awal. Stadion sudah cukup ramai. Hanya kebanyakan mereka masih bertahan di booth area. Booth area ini hanya diisi oleh Li Ning kalau tidak salah, selain tentunya juga beberapa stand makanan. Li Ning “mengobral” jersey-jersey mereka seharga SGD30 atau sekitar Rp270.000. Aku nggak tahu sih harga segitu sebenarnya termasuk mahal, normal, atau murah. Yang jelas sayang banget beli jersey dengan ngeluarin duit segitu, haha.

Suasana dalam stadion yang masih sepi

Suasana dalam stadion yang masih sepi

Pukul 13.00 tepat babak final OUE Singapore Open Super Series 2014 ini dimulai. Partai ganda campuran antar sesama pemain Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Riky Widianto/Puspita Richi Dili mengawali babak final hari itu. Btw, 15 menit sebelum babak final dimulai Riky Widianto sempat diminta oleh tournament referee untuk menguji kondisi lapangan, terutama kondisi angin.

Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Tontowi/Liliyana dengan skor 21-15, 22-20. Pertandingannya sendiri menurutku kurang “panas” sih. Mungkin karena mereka sudah sering latihan bersama jadi sudah tahu sama tahu. Riky/Richi sendiri kelihatan tidak sedang dalam permainan terbaiknya saat itu.

Btw, orang Singapore yang duduk di sebelahku sempat penasaran Blibli itu nama perusahaan apa. Dia melihat di jersey yang dikenakan pemain Indonesia ada tulisan Blibli.com. Langsung kukasih tahu kepada beliau kalau Blibli itu adalah situs e-commerce di Indonesia. Aku jadi penasaran, Blibli ada fasilitas shipping internasional nggak sih? Atau jangan-jangan mereka memang mau go international seperti Amazon, e-bay, dll. dengan mensponsori pemain badminton Indonesia ini?

Tontowi/Liliyana dan Riky/Richi sedang melakukan pemanasan

Tontowi/Liliyana dan Riky/Richi sedang melakukan pemanasan

Pertandingan kedua adalah all chinese women’s singles final antara Li Xuerui vs Wang Yihan. Pertandingan yang agak membosankan menurutku. Aku sampai ngantuk menontonnya. Sempat ada satu reli panjang dan sepertinya terpanjang dalam keseluruhan partai final hari itu. Tapi aku sejak awal sudah menduga partai ini akan dimenangkan oleh Wang Yihan. Entahlah, aku melihat banyak kesalahan dari Li Xuerui yang sepertinya disengaja. Another fixed match by China? Who knows.

Memasuki partai ketiga, semangatku untuk menonton mulai bangkit lagi. Partai ketiga ini mempertemukan pasangan ganda putra dari China Cai Yun/Lu Kai melawan ganda putra dari Taiwan Lee Sheng Mu/Tsia Chia Hsin. Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh pasangan China dengan skor 21-19, 21-14. Aku cukup impressed dengan penampilan Lu Kai secara khusus. Smash-smashnya dalam pertandingan ini benar-benar tajam dan kencang. Wow!

Awal set ke-2 partai ganda putra

Awal set ke-2 partai ganda putra

Partai keempat lagi-lagi juga menjadi milik China. Bao Yixin/Tang Jinhua yang turun di partai final ganda putri berhasil mengalahkan pasangan Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl melalui pertandingan sengit 14-21, 21-19, 21-15.

Akhirnya tibalah partai yang ditunggu-tunggu oleh penonton di stadion. Yakni partai final tunggal putra antara Lee Chong Wei dari Malaysia melawan pemain kualifikasi dari Indonesia, Simon Santoso.

Walaupun selisih peringkat kedua pemain terpaut sangat jauh, yakni peringkat 1 dunia dan 50-an, pertandingan ini menjanjikan pertarungan seru karena performa Simon yang menunjukkan kebangkitan belakangan ini. Lee Chong Wei datang ke Singapore Open ini dengan status juara 3 Super Series sebelumnya. Simon Santoso datang dengan status juara Malaysia Open GPG 2014.

Jelas, Lee Chong Wei adalah favorit kuat pada pertandingan ini. Penonton di Singapore Indoor Stadium ini juga banyak sekali yang mengelu-ngelukan Lee Chong Wei.

Adu netting antara Lee Chong Wei dan Simon Santoso

Adu netting antara Lee Chong Wei dan Simon Santoso

Namun, tanpa diduga pada pertandingan ini Simon bermain sangat cemerlang. Lee Chong Wei sepertinya tampak kaget dan tidak siap dengan penampilan bagus yang ditunjukkan Simon. Simon bermain rapih tanpa membuat banyak kesalahan. Netting-nettingnya sangat halus sehingga sering memaksa Chong Wei untuk mengangkat bola yang kemudian diakhiri Simon dengan smash yang akurat.

Dalam pertandingan ini Simon unggul 21-15, 21-10. Sebuah skor mencolok yang menunjukkan dominasi Simon atas Chong Wei. Wow! Benar-benar bangga rasanya melihat langsung pemain Indonesia berhasil mengalahkan Lee Chong Wei, apalagi dengan skor telak. Terakhir kali pemain Indonesia yang bisa mengalahkan Lee Chong Wei, kalau tidak salah, adalah Taufik Hidayat di Kejuaraan Dunia tahun 2010.

Btw, setelah kemenangan Simon ini di situs Badminton Central, forumnya para penggemar badminton dari manca negara, banyak yang menanyakan tentang brand Astec yang dipakai Simon ini. Tampaknya banyak yang baru mendengar tentang keberadaan Astec ini. Wah, kalau Simon bisa terus konsisten berprestasi, jelas ini bakal menjadi sarana promosi yang hebat bagi Astec. 😀

Simon Santoso dan Lee Chong Wei di atas podium

Simon Santoso dan Lee Chong Wei di atas podium

Setelah menonton prize ceremony nomor tunggal putra, aku pulang meninggalkan stadion. Aku kembali menuju penginapan dengan menaiki MRT. Aku sholat jama’ takhir Ashar dan Dhuhur di Masjid Sultan. Malam itu aku masih stay di Singapura untuk 1 malam lagi. Jadwal pesawat ke Bandung baru pagi keesokan harinya. (tamat)

Nonton Langsung Indonesia Open 2013 (Final)

Ada yang spesial pada perhelatan Indonesia Open tahun ini. Apa itu? Apa lagi kalau bukan acara farewell Taufik Hidayat. Yup, turnamen IOSSP 2013 ini menjadi turnamen perpisahan bagi sang legenda. Karena itu saya sengaja datang lebih awal sekitar pukul setengah 11 agar bisa mendapatkan spot tempat duduk yang bagus. Lumayan… dapat spot yang lebih bagus dari sehari sebelumnya. Suasana indoor Istora ketika itu masih sepi.

Suasana persiapan Istora

Suasana persiapan Istora

Beberapa mata acara sebelum pertandingan final dimulai, antara lain sesi foto para tournament umpire, Project Pop, dan tentu saja yang paling ditunggu-tunggu adalah farewell speech dari Taufik Hidayat. Sesi farewell ini begitu mengharukan.

Pertama-tama Pak Gita Wirjawan, sebagai ketua umum PB PBSI, naik ke atas podium untuk menyampaikan sambutan dan sedikit intro mengenai highlight perjalanan karir dan prestasi Taufik Hidayat. Kemudian disambung dengan video highlight  pertandingan-pertandingan bersejarah Taufik Hidayat, termasuk ketika ia meraih medali emas Olimpiade Athena yang ditayangkan melalui giant screen yang berada di 2 sisi samping indoor Istora. Setelah itu barulah sang legenda memasuki podium dan menyampaikan pidato perpisahannya.

Taufik Farewell Speech

Taufik Farewell Speech

Inti pidatonya adalah Taufik mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung karirnya selama 25 tahun, termasuk 17 tahun sebagai pebadminton profesional. Mulai dari keluarga, orang tua, PBSI, pelatihnya (Mulyo Handoyo), sponsor (Yonex), Djarum (sebagai event sponsor), Trans 7 (sebagai event broadcaster TV partner), fans, dsb. Sebelum memberikan salam perpisahan, Taufik menyerahkan raket Yonex miliknya kepada Jonathan Christie, pemain junior Indonesia yang juga salah satu aktor dalam film King, sebagai simbolisasi bahwa Taufik mendukung regenarasi untuk atlet-atlet badminton Indonesia berikutnya, khususnya pada nomor tunggal putra.

Bagi Anda yang tak sempat menyaksikan farewell speech Taufik Hidayat kemarin, jangan khawatir… — thanks to BWF — Anda dapat menontonnya di link YouTube berikut ini:


Tepat pukul 12 siang atau sekitar 5-10 menit setelah acara perpisahan Taufik Hidayat, babak final IOSSP 2013 resmi dibuka. Pertandingan pertama menyajikan pertarungan antara ganda putri sesama China, Wang Xiaoli/Yu Yang vs Bao Yixin/Cheng Shu. Berikutnya adalah duel tunggal putra antara Lee Chong Wei vs Marc Zwiebler. Dan partai ketiga adalah tunggal putri antara Li Xuerui vs Juliane Schenk. Saya nggak akan mengulas bagaimana pertandingan berlangsung. Hasil akhir bisa langsung dibaca saja di link tournamentsoftware.

Ada yang unik pada penyelenggaraan final kali ini. Jika umumnya pemberi hadiah dalam acara prize ceremony dilakukan oleh pejabat-pejabat asosiasi badminton atau event sponsor terkait, pada IOSSP kali ini tidak hanya itu, legenda-legenda badminton seperti Alan Budikusuma, Haryanto Arbi, Christian Hadinata, Rexy Mainaky, Ricky Subagja, bahkan Taufik Hidayat pun juga diundang untuk menyerahkan hadiah pada ceremony tersebut. Luar biasa.

Satun-satunya wakil Indonesia yang bertanding pada final hari itu adalah pasangan ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang turun pada partai keempat melawan ganda Korea, Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun. Agak mengherankan sih, kenapa partai ini tidak dimainkan pada partai terakhir untuk menjaga antusiasme penonton hingga akhir.

Terbukti, setelah partai ganda putra ini berakhir — dengan kemenangan untuk pasangan Indonesia, Istora mendadak kehilangan sekitar separuh lebih penontonnya. Padahal sebelumnya ketika partai yang memainkan wakil Indonesia tersebut, bangku penonton Istora ini terlihat sangat penuh seolah tak bersisa. Sayang sekali, mengingat partai kelima atau yang terakhir antara Zhang Nan/Zhao Yunlei vs Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, masing-masing menampilkan permainan terbaiknya sehingga pertandingan berjalan sangat seru, ketat, dan menegangkan. Pada partai tersebut, pasangan China-lah yang akhirnya keluar sebagai juaranya.

Bangku yang sepi

Bangku yang sepi di partai kelima

Di akhir pertandingan kelima tersebut, panitia menyuguhkan penutupan berupa kembang api yang menyala di sekeliling arena. Keren! Tentu akan menjadi penutup yang manis ketika yang tengah bermain adalah wakil dari Indonesia dan mereka menjadi juara.

Anyway penyelenggaraan IOSSP tahun ini, khususnya dari segi entertainment yang ditawarkan cukup bagus. Tapi kalau boleh menilai, rasanya masih lebih bagus tahun sebelumnya, terutama dari konten tayangan animasi-animasi untuk memeriahkan atmosfer semifinal dan finalnya. Apalagi ketikaitu, didukung oleh pertandingan-pertandingan final yang semuanya berlangsung ketat 3 set dan penuh ketegangan. Namun, sekali lagi, overall sudah bagus sih. Cuma secara pribadi saya kurang suka dengan acara lempar-lempar merchandise, terutama momen ketika pemain yang baru saja menang diwawancarai sedangkan pemain yang kalah melempar-lempar merchandise itu sehingga membuat penonton gaduh dan tak mengacuhkan isi wawancara sang pemenang. Yah, semoga Indonesia Open tahun depan bisa lebih baik lagi dari sisi penyelenggaraan dan prestasi pemain Indonesianya.

Kembang api penutup

Kembang api penutup

Nonton Langsung Indonesia Open SSP 2012 (Bagian 2-Tamat) : Final

Berbeda dengan pertandingan semifinal hari sebelumnya di mana aku hanya menonton seorang diri, kali ini aku menonton bersama Khairul dan Lutfi, dua orang teman seangkatan Informatika ITB 2007 yang kini keduanya bekerja di Jakarta. Pertandingan final hari itu dimulai pukul 12.00.

Kami sengaja melewatkan aksi hiburan yang disajikan panitia yang menampilkan artis-artis, salah satunya adalah Ayu Tingting. Sebab, kami lebih memilih untuk menikmati terlebih dahulu arena hiburan di luar stadion. Ketika waktu mulai mendekati pukul 12 siang, kami pun segera memasuki tribun di dalam stadion.

Tribun kelas satu yang kami masuki ternyata saat itu telah penuh dengan penonton. Kami pun sampai terpaksa menempati bangku di dekat giant screen. Tak disangka, di sana kami berjumpa dengan 3 orang adik angkatan kami di Informatika ITB, yakni angkatan 2010. Mereka kebetulan juga merupakan anggota Unit Bulutangkis ITB.

Eh, ternyata masih sempat lihat Ayu TIngting sebentar ding, hehe.

Ayu Tingting di Istora

Ayu Tingting (tampak kejauhan) di Istora

Pertandingan final pertama yang dipertandingkan pada hari itu adalah partai ganda wanita sesama pemain China yang juga ganda nomor 1 dan 2 dunia, yakni Wang Xiaoli/Yu Yang dan Zhao Yunlei/Qian Ting. Awalnya aku kira pertandingan ini akan berjalan membosankan karena kedua pasangan merupakan satu negara. Namun, dugaanku salah. Kedua pasangan ternyata bermain apik dan ngotot. Permainan pun berakhir dengan 3 set untuk kemenangan Wang/Yu.

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Wang Xiaoli/Yu Yang

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Wang Xiaoli/Yu Yang

Pertandingan berikutnya adalah partai ganda putra antara pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen (MB/CM) melawan ganda putra terkuat Korea, Lee Yong Dae/Jung Jae Sung (LYD/JJS). Sudah pasti seluruh stadion heboh, terutama cewek-cewek ABG nih. Apa lagi kalau bukan karena Lee Yong Dae.

Dalam pertandingan itu ada kejadian lucu dan agak malu-maluin sih sebenarnya menurutku. Saat jeda antara set kedua dan ketiga, Lee Yong Dae kan ganti kaos. Gila, cewek-cewek se-Istora pada histeris semua. Padahal sebelumnya, si Mogensen ganti kaos semuanya biasa-biasa saja. Ckckck.

Tentang pertandingannya itu sendiri, mantap … seru banget!! Sayang banget pasangan Denmark yang terlihat meyakinkan di awal set 1 — sempat unggul hingga 5-0 — harus kalah dalam final itu. Memang mereka sempat bangkit di set kedua. Namun, berbicara set ketiga, it’s always Korea. Pasangan LYD/JJS ini memang terkenal punya stamina yang cukup bagus. Terbukti, di set ketiga itu MB/CM tidak mampu mengimbangi lagi permainan LYD/JJS. Mereka kalah segala-galanya.

Mathias Boe/Carsten Mogensen vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung

Mathias Boe/Carsten Mogensen vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung

Pertandingan berikutnya atau pertandingan ketiga final kali itu, yakni partai tunggal putri antara Li Xuerui (China) melawan Saina Nehwal (India). Bagi Saina, ini adalah partai Continue reading

Nonton Langsung Final Bulutangkis SEA Games XXVI

Ini kali kedua aku menonton langsung pertandingan bulutangkis di Istora Senayan, Jakarta. Kalau sebelumnya aku menonton final Djarum Indonesia Open Premier Super Series (DIOPSS) bersama dua orang teman, kali ini aku sendirian saja :(. Habisnya mereka tidak cukup tertarik untuk menyaksikan langsung final bulutangkis SEA Games yang notabene memang kalah gengsinya dibandingkan dengan turnamen bulutangkis sekelas Super Series.

Namun, aku tetap memutuskan berangkat ke Istora sendirian. Kapan lagi bisa menyaksikan langsung jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia tampil di final lima nomor sebuah turnamen.

Aku berangkat dari Bandung pagi-pagi dengan menumpang KA Argo Parahyangan. Sampai di stasiun Gambir langsung jalan kaki menuju shelter busway Monas untuk ganti menumpang busway menuju kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Suasana kompleks GBK lebih ramai dibanding aku ketika datang menonton final Indonesia Open dulu. Apalagi sebabnya bila bukan karena timnas U-23 juga akan bertanding petang hari itu. Jadi selain final bulutangkis, juga ada pertandingan semifinal cabang sepakbola.

Sementara itu, suasana Istora Senayan cukup “lengang” kala aku datang ke sana. Tak perlu mengantri untuk mendapatkan tiket. Kali ini aku membeli tiket untuk tribun I. Variasilah, dulu sudah pernah nyoba tribun II, sekarang ingin mencoba juga rasanya menonton dari tribun I :D.

Tiket SEA Games

Tiket SEA Games

Ngomong-ngomong soal tiket, tiket untuk pertandingan cabang badminton ini cover depannya sama dengan cabang-cabang olahraga SEA Games yang lain. Bagian depan dicetak dalam warna dominan biru dengan bahan kertas karton mengkilap. Baru di bagian belakangnya tertera nama cabang yang dipertandingkan dan nama babaknya.

Oh ya, dibandingkan dengan saat penyelenggaraan DIOPSS, kondisi Istora terlihat lebih segar sekarang. Mungkin karena spanduk dan baliho yang dipasang di seantero stadion lebih bervariasi warnanya, tidak seperti penyelenggaraan DIOPSS kemarin yang penuh warna merah (warna sponsor) di mana-mana.

Motto SEA Games XXVI : Bersatu & Bangkit

Motto SEA Games XXVI : Bersatu & Bangkit

Pertandingan final bulutangkis SEA Games ini akan dimulai pukul 14.00. Pintu masuk stadion baru dibuka pukul sekitar pukul 13.15. Aku termasuk beruntung bisa berada di antrian yang agak awal sehingga ketika masuk ke dalam masih belum terlalu ramai sehingga masih bisa mendapatkan tempat yang cukup pewe untuk menyaksikan pertandingan walaupun bukan berada di deretan kursi paling depan.

Setengah jam sebelum pertandingan dimulai, tiba-tiba Nadya Melati, salah satu pemain ganda putri Indonesia, memasuki lapangan bulutangkis. Oh, ternyata dia melakukan uji coba lapangan (atau uji coba shuttle cock ya?). Jadi, dia diminta oleh official pertandingan untuk memukul shuttle cock dari sisi lapangan yang satu ke sisi yang lain. Hmm … aku baru tahu ada prosedur seperti itu. Apa biasanya memang harus seperti itu ya?

Nadya Melati uji coba lapangan

Nadya Melati uji coba lapangan

Sebelum pertandingan pertama dimulai, panitia menyuguhkan tarian adat Jawa — aku lupa namanya — bertempat di court 2. Kira-kira ada sekitar 10 menitlah tarian itu dipertunjukkan.

Tak berapa lama kemudian tibalah saat yang dinanti-nanti, pertandingan pertama final SEA Games cabang bulutangkis antara Anneke Feinya Agustin/Nitya Krishinda Maheswari vs Nadya Melati/Vita Marissa! Dua pasangan ganda putri yang tengah melejit peringkatnya di ranking dunia. Anneke/Nitya kini ada di peringkat 19 dunia di mana sekitar 3 bulan lalu berada di kisaran 30-an. Sedangkan Nadya/Vita saat ini berada di peringkat 10 dunia.

Anneke/Nitya vs Nadya/Vita

Anneke/Nitya vs Nadya/Vita

Pertandingan berlangsung seru. Awal-awal set 1 Nadya/Vita tampak mendominasi dengan smash-smash keras mereka. Tapi pertahanan Anneke/Nitya kokoh juga ya. Terbukti saat kedudukan 20-19 untuk Anneke/Nitya, sebuah serangan bertubi-tubi dari Vita yang tampaknya akan membuat mati, dapat dikembalikan dengan baik oleh Nitya sehingga skor pun terkunci di angka 21-19.

Pertandingan itu sendiri akhirnya dimenangkan Anneke/Nitya dengan 2 set langsung yang berarti mereka berhak memperoleh medali emas dan merupakan gelar kedua mereka tahun ini setelah menjuarai Vietnam GP Agustus lalu. Melihat kiprah mereka selama SEA Games yang tak pernah terkalahkan, pasangan ini memang terlihat menjanjikan. Aku optimis peringkat pasangan ini dapat terus meningkat lagi hingga menembus 10 besar dunia.

Bona/Ahsan vs Kido/Hendra

Bona/Ahsan vs Kido/Hendra

Pertandingan berikutnya yang digelar adalah partai final ganda putra antara Bona Septano/Mohammad Ahsan vs Markis Kido/Hendra Setiawan. Rekor pertemuan mereka sebelum ini adalah 1-1. Pertandingan yang menarik untuk disimak karena melibatkan dua kakak beradik yang akan saling bermusuhan di lapangan, yakni Markis Kido dan Bona Septano.

Permainan yang dipertontonkan kedua pasangan di set pertama benar-benar sesuai dengan ekspektasiku, banyak jumping smash keras dilancarkan dan skor pun juga ketat alias kejar-kejaran. Terbukti permainan harus diakhiri setelah melalui beberapa kali deuce dan berakhir dengan skor 25-23 untuk Bona/Ahsan.

Namun, sayangnya tidak demikian di set kedua. Bona/Ahsan melejit dengan mudah dan unggul jauh. Entah kenapa, pertahanan Markis/Hendra saat itu begitu buruk dan sering salah pengertian. Kesalahan-kesalahan seperti shuttle cock gagal melewati net juga kerap terjadi. Set kedua pun benar-benar menjadi milik Bona/Ahsan. Sama halnya dengan Anneke/Nitya, medali emas SEA Games ini juga menjadi gelar kedua Bona/Ahsan tahun ini setelah gelar Indonesia GPG sekitar 1-2 bulan yang lalu.

Fu Mingtian vs Adriyanti Firdasari

Fu Mingtian vs Adriyanti Firdasari

Cukup sudah partai All-Indonesian Finalnya. Partai berikutnya giliran mempertemukan tunggal putri Singapura Fu Mingtian melawan jagoan tunggal putri Indonesia, Adriyanti Firdasari. Keduanya sama-sama membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan pertama dan kedua dari Thailand, Porntip Buranaprasertsuk dan Inthanon Ratchanok, di semifinal. Fu Mingtian tidak sendirian. Ia didukung beberapa pemain dan official Singapura yang berada di tribun VIP timur. Sementara Firdasari tentu saja didukung oleh ribuan suporter INA.

Set pertama tampak berjalan mudah bagi Firdasari. Apalagi dibantu dengan banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh Fu Mingtian. Firda unggul di set pertama dengan skor 21-14. Namun, aku baru tahu kalau Firda tengah cedera di pertandingan itu. Saat break set 1 menuju set 2, Firda meminta spray penghilang rasa sakit. Ternyata dia memang Continue reading