Nonton Langsung Final Bulutangkis SEA Games XXVI

Ini kali kedua aku menonton langsung pertandingan bulutangkis di Istora Senayan, Jakarta. Kalau sebelumnya aku menonton final Djarum Indonesia Open Premier Super Series (DIOPSS) bersama dua orang teman, kali ini aku sendirian saja😦. Habisnya mereka tidak cukup tertarik untuk menyaksikan langsung final bulutangkis SEA Games yang notabene memang kalah gengsinya dibandingkan dengan turnamen bulutangkis sekelas Super Series.

Namun, aku tetap memutuskan berangkat ke Istora sendirian. Kapan lagi bisa menyaksikan langsung jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia tampil di final lima nomor sebuah turnamen.

Aku berangkat dari Bandung pagi-pagi dengan menumpang KA Argo Parahyangan. Sampai di stasiun Gambir langsung jalan kaki menuju shelter busway Monas untuk ganti menumpang busway menuju kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Suasana kompleks GBK lebih ramai dibanding aku ketika datang menonton final Indonesia Open dulu. Apalagi sebabnya bila bukan karena timnas U-23 juga akan bertanding petang hari itu. Jadi selain final bulutangkis, juga ada pertandingan semifinal cabang sepakbola.

Sementara itu, suasana Istora Senayan cukup “lengang” kala aku datang ke sana. Tak perlu mengantri untuk mendapatkan tiket. Kali ini aku membeli tiket untuk tribun I. Variasilah, dulu sudah pernah nyoba tribun II, sekarang ingin mencoba juga rasanya menonton dari tribun I😀.

Tiket SEA Games

Tiket SEA Games

Ngomong-ngomong soal tiket, tiket untuk pertandingan cabang badminton ini cover depannya sama dengan cabang-cabang olahraga SEA Games yang lain. Bagian depan dicetak dalam warna dominan biru dengan bahan kertas karton mengkilap. Baru di bagian belakangnya tertera nama cabang yang dipertandingkan dan nama babaknya.

Oh ya, dibandingkan dengan saat penyelenggaraan DIOPSS, kondisi Istora terlihat lebih segar sekarang. Mungkin karena spanduk dan baliho yang dipasang di seantero stadion lebih bervariasi warnanya, tidak seperti penyelenggaraan DIOPSS kemarin yang penuh warna merah (warna sponsor) di mana-mana.

Motto SEA Games XXVI : Bersatu & Bangkit

Motto SEA Games XXVI : Bersatu & Bangkit

Pertandingan final bulutangkis SEA Games ini akan dimulai pukul 14.00. Pintu masuk stadion baru dibuka pukul sekitar pukul 13.15. Aku termasuk beruntung bisa berada di antrian yang agak awal sehingga ketika masuk ke dalam masih belum terlalu ramai sehingga masih bisa mendapatkan tempat yang cukup pewe untuk menyaksikan pertandingan walaupun bukan berada di deretan kursi paling depan.

Setengah jam sebelum pertandingan dimulai, tiba-tiba Nadya Melati, salah satu pemain ganda putri Indonesia, memasuki lapangan bulutangkis. Oh, ternyata dia melakukan uji coba lapangan (atau uji coba shuttle cock ya?). Jadi, dia diminta oleh official pertandingan untuk memukul shuttle cock dari sisi lapangan yang satu ke sisi yang lain. Hmm … aku baru tahu ada prosedur seperti itu. Apa biasanya memang harus seperti itu ya?

Nadya Melati uji coba lapangan

Nadya Melati uji coba lapangan

Sebelum pertandingan pertama dimulai, panitia menyuguhkan tarian adat Jawa — aku lupa namanya — bertempat di court 2. Kira-kira ada sekitar 10 menitlah tarian itu dipertunjukkan.

Tak berapa lama kemudian tibalah saat yang dinanti-nanti, pertandingan pertama final SEA Games cabang bulutangkis antara Anneke Feinya Agustin/Nitya Krishinda Maheswari vs Nadya Melati/Vita Marissa! Dua pasangan ganda putri yang tengah melejit peringkatnya di ranking dunia. Anneke/Nitya kini ada di peringkat 19 dunia di mana sekitar 3 bulan lalu berada di kisaran 30-an. Sedangkan Nadya/Vita saat ini berada di peringkat 10 dunia.

Anneke/Nitya vs Nadya/Vita

Anneke/Nitya vs Nadya/Vita

Pertandingan berlangsung seru. Awal-awal set 1 Nadya/Vita tampak mendominasi dengan smash-smash keras mereka. Tapi pertahanan Anneke/Nitya kokoh juga ya. Terbukti saat kedudukan 20-19 untuk Anneke/Nitya, sebuah serangan bertubi-tubi dari Vita yang tampaknya akan membuat mati, dapat dikembalikan dengan baik oleh Nitya sehingga skor pun terkunci di angka 21-19.

Pertandingan itu sendiri akhirnya dimenangkan Anneke/Nitya dengan 2 set langsung yang berarti mereka berhak memperoleh medali emas dan merupakan gelar kedua mereka tahun ini setelah menjuarai Vietnam GP Agustus lalu. Melihat kiprah mereka selama SEA Games yang tak pernah terkalahkan, pasangan ini memang terlihat menjanjikan. Aku optimis peringkat pasangan ini dapat terus meningkat lagi hingga menembus 10 besar dunia.

Bona/Ahsan vs Kido/Hendra

Bona/Ahsan vs Kido/Hendra

Pertandingan berikutnya yang digelar adalah partai final ganda putra antara Bona Septano/Mohammad Ahsan vs Markis Kido/Hendra Setiawan. Rekor pertemuan mereka sebelum ini adalah 1-1. Pertandingan yang menarik untuk disimak karena melibatkan dua kakak beradik yang akan saling bermusuhan di lapangan, yakni Markis Kido dan Bona Septano.

Permainan yang dipertontonkan kedua pasangan di set pertama benar-benar sesuai dengan ekspektasiku, banyak jumping smash keras dilancarkan dan skor pun juga ketat alias kejar-kejaran. Terbukti permainan harus diakhiri setelah melalui beberapa kali deuce dan berakhir dengan skor 25-23 untuk Bona/Ahsan.

Namun, sayangnya tidak demikian di set kedua. Bona/Ahsan melejit dengan mudah dan unggul jauh. Entah kenapa, pertahanan Markis/Hendra saat itu begitu buruk dan sering salah pengertian. Kesalahan-kesalahan seperti shuttle cock gagal melewati net juga kerap terjadi. Set kedua pun benar-benar menjadi milik Bona/Ahsan. Sama halnya dengan Anneke/Nitya, medali emas SEA Games ini juga menjadi gelar kedua Bona/Ahsan tahun ini setelah gelar Indonesia GPG sekitar 1-2 bulan yang lalu.

Fu Mingtian vs Adriyanti Firdasari

Fu Mingtian vs Adriyanti Firdasari

Cukup sudah partai All-Indonesian Finalnya. Partai berikutnya giliran mempertemukan tunggal putri Singapura Fu Mingtian melawan jagoan tunggal putri Indonesia, Adriyanti Firdasari. Keduanya sama-sama membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan pertama dan kedua dari Thailand, Porntip Buranaprasertsuk dan Inthanon Ratchanok, di semifinal. Fu Mingtian tidak sendirian. Ia didukung beberapa pemain dan official Singapura yang berada di tribun VIP timur. Sementara Firdasari tentu saja didukung oleh ribuan suporter INA.

Set pertama tampak berjalan mudah bagi Firdasari. Apalagi dibantu dengan banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh Fu Mingtian. Firda unggul di set pertama dengan skor 21-14. Namun, aku baru tahu kalau Firda tengah cedera di pertandingan itu. Saat break set 1 menuju set 2, Firda meminta spray penghilang rasa sakit. Ternyata dia memang mengalami cedera otot perut. Beberapa kali dia menyemprot spray tersebut ke bagian perutnya.

Yang dikhawatirkan pun benar-benar terjadi. Cedera yang dialami Firda sepertinya benar-benar mengganggu permainannya. Pada set kedua Firda tampak tak berdaya menghadapi perlawanan Fu Mingtian yang seperti menemukan kembali bentuk permainannya di set kedua. Firda kalah telak 12-21.

Pada set ketiga Firda sepertinya mulai bangkit. Di awal set ia sudah unggul 3-0 saja. Namun, berikutnya tak berjalan mudah. Kejar-kejaran skor pun terjadi hingga kedudukan 20-19 untuk keunggulan Firda. Saat kedudukan 20-20 sebuah netting Firda sempat mengenai net, dan penonton pun langsung bersorak mengira shuttle cock tidak dapat dikembalikan oleh Fu Mingtian. Namun, Fu Mingtian ternyata dapat mengembalikannya, sementara Firda tak siap mengantisipasi kembalian dari Fu Mingtian karena tak mengira ia bisa mengembalikannya. Set ketiga pun akhirnya dimenangkan oleh Fu Mingtian dengan skor 22-20. Ia pun berhak atas medali emas nomor tunggal putri bulutangkis SEA Games.

Ada hal yang membuatku kecewa dengan sebagian penonton di Istora ini. Saat prosesi penyerahan medali dan pemutaran national anthem peraih medali emas, yakni Singapura. Sebagian suporter terus membunyikan terompet gas, bahkan juga menyanyikan lagu Indonesia Raya saat national anthem Singapura diperdengarkan. Sambil ketawa-ketawa lagi.

Sebelumnya, saat pertandingan dilangsungkan, tiap kali pendukung Singapura menyuarakan dukungannya untuk atletnya yang tengah bertanding, suporter kita justru mem-booing mereka. Padahal pendukung Singapura itu tidak melakukan tindakan yang provokatif.

Mungkin kita ingin memanfaatkan semaksimal mungkin keuntungan kita sebagai tuan rumah di mana kita unggul jumlah suporter sehingga bentuk dukungan-dukungan seperti itu dilakukan untuk menjatuhkan, tidak hanya mental pemain lawan, tapi juga mental suporter lawan, sehingga menaikkan confidence pemain kita.

Anyway, terlepas dari sikap suporter yang tidak ada respek dan simpatik sama sekali, aku benar-benar salutlah sama Adriyanti Firdasari yang menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Mudah-mudahan tunggal putri bulutangkis Indonesia bisa bangkit kembali.

Tontowi/Liliyana vs Sudket/Saralee

Tontowi/Liliyana vs Sudket/Saralee

Memasuki partai keempat. Kali ini mempertemukan antara dua ganda campuran terbaik se-Asia Tenggara yang juga sama-sama mantan penghuni peringkat 2 dunia, yakni Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir melawan Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam.

Tak ada perlawanan yang berarti dari Sudket/Saralee. Tontowi/Liliyana benar-benar menguasai pertandingan final ganda campuran ini dari awal set ke-1 hingga set ke-2. Skornya pun sangat telak 21-7 dan 21-14. Di pertandingan ini Saralee tampak menjadi kartu mati bagi pasangan Thailand ini. Banyak kesalahan yang ia lakukan. Aku beberapa kali melihat ekpresi kefrustrasian di wajah Sudket. Senang sih, kali ini Indonesia mendapatkan medali emas dengan mudah di final😀.

Simon vs Tanongsak

Simon vs Tanongsak

Tibalah saatnya pertandingan terakhir cabang bulutangkis SEA Games XXVI, yakni partai tunggal putra antara Simon Santoso melawan Tanongsak Saensomboonsuk. Sebuah pertandingan yang tak bisa dibilang mudah walaupun Simon berada di peringkat 11 dunia dan Tanongsak berada di peringkat 35 dunia. Permainan Tanongsak memang tengah menanjak akhir-akhir ini. Prestasi terbaiknya adalah menjadi finalis di Taipei GPG sekitar 3 bulan yang lalu. Dia pun telah mengalahkan Taufik Hidayat 2 kali di SEA Games kali ini.

Namun, set pertama benar-benar menjadi milik Simon Santoso. Ia unggul telak 21-10 di set tersebut. Di set kedua giliran Tanongsak yang mendominasi. Di set ini ia benar-benar bangkit dengan banyak melancarkan jumping smash kencang andalannya. Kali ini ia yang unggul telak, 21-11.

Di set ketiga permainan menjadi lebih seimbang. Skor ketat terjadi hingga kedudukan 19-19. Namun dua kesalahan yang dilakukan oleh Tanongsak membuat Simon mengakhiri set ketiga dengan keunggulan 21-19. Medali emas kedua berturut-turut yang diperoleh Simon di SEA Games setelah 2 tahun lalu di Laos juga meraih medali emas tunggal putra dengan mengalahkan rekan senegara, Sony Dwi Kuncoro, di final.

Di pertandingan final melawan Thailand ini, beberapa suporter Thailand sangat atraktif dalam memberikan dukungan bagi atletnya. Mereka juga mengenakan kostum dan aksesoris yang kreatif. Sementara itu Porntip, Inthanon, dan Saralee juga tampak menikmati tabuhan gendang suporter Thailand dengan menari-nari mengikuti tabuhan tersebut. Lucu melihat aksi mereka😀.Ngomong-ngomong atlet-atlet bulutangkis Indonesia kok nggak ada yang ikut menonton di tribun seperti pemain-pemain Thailand ini ya😐.

Bubaran final bulutangkis

Bubaran final bulutangkis

Prosesi penyerahan medali untuk juara, finalis, dan semifinalis tunggal putra mengakhiri gelaran cabang bulutangkis SEA Games XXVI kali ini. Penonton pun langsung semburat memasuki arena lapangan Istora dan sebagian besar memanfaatkan kesempatan itu untuk berfoto-foto ria. Ada yang bergaya bak atlet bulutangkis yang tengah bertanding. Ada yang berfoto-foto di depan net, dan sebagainya.

Aku sendiri langsung memutuskan cabut dari Istora. Di area luar stadion GBK ternyata tengah diadakan nonton bareng semifinal cabang sepakbola antara Indonesia melawan Vietnam. Para pendukung Indonesia yang tak kebagian tiket memang difasilitasi oleh pihak penyelenggara dengan menyediakan layar raksasa untuk nonton bareng. Aku sempat ikut menonton sebentar sebelum menyadari langit tengah mendung.

Aku pun balik ke stasiun Gambir dengan menumpang busway. Kereta terakhir ke Bandung sudah berangkat tepat ketika aku sampai di stasiun. Terpaksa menginap nih sambil menunggu keberangkatan kereta pertama ke Bandung yang jam 5.45 pagi. Nggak apa-apalah. Lumayan, bisa ikut nonton bareng melalui TV yang disediakan salah satu resto di stasiun. Tak lama kemudian, dugaanku benar, hujan pun turun.

One thought on “Nonton Langsung Final Bulutangkis SEA Games XXVI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s