Monthly Archives: October 2011

Mengurus E-KTP

Hari ini, tepatnya pukul 10 pagi, aku datang ke kantor kecamatan Lowokwaru, Malang, untuk mengurus pembuatan e-KTP. Ketika aku tiba di sana, suasana tempat pembuatan e-KTP sangat ramai. Aku yang baru saja datang dan langsung mendaftar ke petugas, mendapatkan nomor antrian 233. Sementara itu, nomor antrian yang tengah dipanggil adalah nomor urut 121-130. Berarti kurang lebih harus menunggu 100-an orang lagi untuk sampai pada giliranku.

Menunggu proses pengurusan e-KTP 100 orang itu ternyata lama juga. Aku baru mendapatkan panggilan ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Setelah itu masuk ke dalam ruang pemrosesan, dan di sana harus duduk antri lagi untuk mendapat giliran pemrosesan. Pukul setengah dua aku baru mendapat giliran tersebut.

Dalam pemrosesan pengurusan e-KTP itu, pertama-tama kita difoto dulu. Setelah itu dimintai untuk memberikan tanda tangan secara digital lalu diambil sidik jari kesepuluh jari kita. Terakhir di-scanning iris mata kita lalu kita diminta untuk menandatangani pernyataan bahwa data yang kita masukkan itu benar, juga secara digital. Kartu e-KTPnya sendiri nggak langsung jadi. Nanti akan ada panggilan untuk pengambilan. Entah kapan.

Prosesnya sih cepat. Tapi antriannya itu lho yang puanjaang, bikin luamaa. Gara-gara baru beres jam 2-an siang, rencana balik ke Bandung hari ini nggak jadi deh, hahaha. Untungnya belum beli tiket kereta.Tapi, sebenarnya seperti ini aku harusnya ngurusnya hari Sabtu kemarin saja bersama adikku. Kata adikku, kemarin dia nggak perlu pakai antri, begitu datang langsung diproses.

Kantor pengurusannya sih memang buka setiap hari Senin-Sabtu. Untuk Senin-Jumat, buka mulai pukul 08.00-16.00 dan khusus Sabtu cuma sampai pukul 12.00. Petugas yang mengurusi pembuatan e-KTP ini, dari tulisan pada kemeja yang dikenakan mereka, tampak mereka berasal dari SMK 2 dan 5 Malang jurusan teknik komputer.

Dari pengalamanku tadi, menurutku pelayanan mereka cukup bagus. Maklum, mungkin karena masih muda sehingga masih semangat-semangatnya :). Sayangnya cowok semua. Eh, tapi tadi sempat lihat ada satu siswi berjilbab. Cantik juga anaknya, eaaaa … :mrgreen:

Yah, harapannya sih “proyek mahal” ini — melibatkan dana kurang lebih Rp 6,3 triliun untuk penerbitan sekitar 160-170 juta lembar KTP (sudah termasuk biaya studi banding belum ya?) — mudah-mudahan berjalan dengan baik dan lancar. Entah kenapa ada saja berita di media massa mengenai proyek pemerintah yang selalu berakhir tak optimal atau gagal karena ada penyelewengan anggaran alias dikorupsi. Contoh teranyar dan fenomenal tentu saja kasus “dugaan” korupsi Wisma Atlet SEA Games. Kabarnya pun proyek e-KTP ini juga demikian, mulai bermunculan isu korupsi di dalamnya.

Mudah-mudahan ini bukan pandangan skeptis, melainkan harapan untuk Indonesia agar bisa bersih (dari KKN) dan maju. Negara-negara lain seperti China, India, Jerman, bahkan Malaysia tetangga sebelah kita juga sudah menerapkan. Pengadaan e-KTP ini menurutku memang diperlukan karena akan mendorong reformasi dalam pelayanan administrasi kependudukan yang selama ini identik dengan kata “lambat”, “lama”, dan “pungli”.

ABK Inklusi

Pagi ini sekitar pukul 6 pagi salah satu teman yang juga tetanggaku berkunjung main ke rumah ketika aku tengah menyapu teras depan rumah (di Malang). Temanku ini masih kelas 1 SMK. Dia cowok. Ketika itu dia tengah bersepeda pagi dan kemudian mampir ke rumahku.

Kami pun mengobrol sambil duduk-duduk di kursi teras rumah. Dalam obrolan itu kami sedikit menyelipkan candaan dan dia juga sedikit mengerjaiku. Kemudian aku pun berkata, “Iya, iya, kamu kan emang pinter.”

Aku cukup terkejut ketika dia membalasnya dengan berkata, “Hei mas, sepinter-pintere aku, sek pinter sampeyan. Saya ini kan ABK inklusi, sementara mas anak reguler.”

Jujur, aku baru mendengar istilah “ABK inklusi” saat itu. Mungkin aku pernah mendengar atau membaca sebelumnya, tapi aku tak ingat. Begitu dia pulang, aku pun googling tentang apa yang dimaksud ABK inklusi itu. Aku pun menemukan artikel yang menyebutkan klasifikasi ABK itu di sini.

Jadi ceritanya, dia sempat mengatakan padaku bahwa dia termasuk ABK inklusi kategori hiperaktif. Dia juga mengatakan karena hal itu dia menjadi sangat lemah dalam pelajaran di sekolah, khususnya pelajaran yang ada berhitungnya. Akan tetapi, dia menambahkan, untuk pelajaran agama dan seni, khususnya musik, dia lumayan bagus.

Mungkin dia memang termasuk golongan ABK inklusi, tapi dari pengamatanku dia bersosial sangat baik dengan semua orang di kompleks tempat tinggalku. Dia juga rajin sholat 5 waktu di masjid kompleks, bahkan sering menjadi muadzin. Aku pun mengatakan padanya, “Dik, di mata Alloh ini, semua orang sama. Yang membedakan cuma derajat ketaqwaannya. Mungkin orang lain termasuk kategori reguler, tapi belum tentu mereka lebih baik dari mereka yang ABK inklusi. Kamu rajin sholat di masjid dan suka adzan lagi, itu bagus.”

Yah, aku cuma ingin dia nggak merasa minder saja. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seseorang dibilang pinter bukan dilihat dari akademis saja.

Selama ini aku tak pernah melihat dia sebagai seorang ABK inlusi atau apalah istilahnya. Aku cuma menyadarinya sebagai sosok pribadi yang unik. Tak sungkan-sungkan untuk bersosialisasi dengan semua orang, termasuk dengan bapak-bapak atau ibu-ibu. Dia juga sangat humoris, dan tak jarang aku tertawa karenanya.

Selamat Wisuda Kawan-Kawan Oktopus

Hari ini adalah hari yang bahagia bagi kawan-kawan Oktopus — sebutan yang biasa diberikan kawan-kawan untuk para wisudawan Oktober — karena pada hari ini kawan-kawan diwisuda dari ITB. Sebagaimana tradisi wisudaan di ITB yang sudah bertahan dari masa ke masa, setiap habis acara yudisium di Sabuga kawan-kawan langsung diarak dari Sabuga menuju jurusan masing-masing melalui sebuah prosesi yang sudah diorganisir oleh kabinet mahasiswa. Yang jelas, momen wisuda ini bakal menjadi momen tak terlupakan bagi mereka.

Sayang aku tak bisa datang, baik pada acara syukuran wisuda dua hari lalu maupun pada acara arak-arakan wisuda hari ini. Sebab, aku terpaksa harus pulang ke Malang untuk suatu urusan.

Namun, seandainya aku ada di Bandung pun, tak yakin juga apakah akan hadir ke kedua acara itu. Sebab, jujur, aku masih memendam kekecewaan dan penyesalan yang amat dalam karena gagal wisuda Oktober tahun ini dan baru bisa menyusul paling cepat Juli tahun depan. Ibarat main bola, semua usaha untuk mencetak gol sudah dikerahkan, tapi aku gagal mengkonversinya menjadi sebuah gol karena satu masalah yang seharusnya tak perlu terjadi.

Aku kecewa dan kesal pada diriku sendiri. Seharusnya aku bisa melihat senyum bahagia keluargaku, khususnya kedua orang tuaku di hari wisuda ini, tapi yang terjadi aku malah membuat orang tuaku menangis ketika mengabarkan aku tak jadi wisuda Oktober ini. Sakit rasanya tiap kali ketemu orang, teman, keluarga diselamatin, tapi kemudian aku menjelaskan kepada mereka bahwa aku tak jadi wisuda, lalu mereka tanya kenapa, dan aku harus menjelaskan sebabnya berkali-kali. 😦

Tapi Insya Allah seiring berjalannya waktu aku semakin berusaha untuk ikhlas. Mungkin mimpi buruk ini adalah bentuk peringatan atau cobaan Allah padaku. Ya dengan waktu ekstra yang setahun ini setidaknya aku bisa menjadi memiliki banyak waktu luang yang bisa kumanfaatkan untuk hal-hal positif  untuk pengembangan diri.

Oke, cukup curcolnya, hehehe :D. Yang jelas, kawan-kawan Octopus, di kesempatan ini aku cuma ingin berkata, selamat wisuda kawan-kawan. You are really deserving of this. Selemat menempuh hidup baru. Selamat berkarya untuk bangsa!

Jembatan Pohon Babakan Siliwangi

Ada yang baru — sudah agak lama sih sebenarnya, ada 2 mingguan yang lalu lah — di Babakan Siliwangi atau yang biasa dikenal dengan Baksil saja. Pertama, mungkin kita semua sudah tahu bahwa Baksil telah resmi menjadi salah satu hutan kota dunia dan merupakan yang pertama untuk Indonesia. Hal itu — peresmian Baksil sebagai hutan kota dunia — berbarengan dengan dibukanya TUNZA International Children and Youth Conference on the Environment 2011 pada tanggal 27 September yang lalu di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) yang lokasinya juga berada di Baksil. Bandung. Kedua, tentu saja beberapa pembenahan yang dilakukan oleh Pemkot Bandung terhadap Baksil.

Pembenahan mencolok yang dilakukan adalah adanya “jembatan hutan” dan parkir sepeda di sisi Baksil yang menghadap kafe Halaman, Tamansari. Memang sih, pembangunan itu mungkin terkesan pragmatis di tengah kontroversi isu pembangunan restoran atau mall di lahan Baksil yang kerap muncul dan tenggelam dari tahun ke tahun.

Tapi jujur, jembatan hutan di Baksil ini fasilitas umum yang unik menurutku. Mungkin baru Kota Bandung yang memiliki hutan kota dengan fasilitas yang memanjakan warganya untuk dapat menikmati hutan kota di sana.

Dengan jembatan hutan ini kita dapat menerobos di antar pepohonan hutan kota Baksil dan menikmati sejuknya udara di tengah-tengah pepohonan yang rindang itu. Tapi sayangnya jembatan ini tidak terlalu panjang. Hanya beberapa puluh meter saja aku pikir. Tapi pendeknya jembatan itu tak mengurangi kenikmatan untuk merasakan nuansa hutan di tengah kota.Ya, berada di jembatan tersebut suasana yang dirasakan laksana berada di tengah hutan “sungguhan”.

Di jembatan hutan itu juga dipasang beberapa papan info di beberapa sudut mengenai sejarah Babakan Siliwangi dari masa ke masa, fungsi Baksil, hingga komentar orang-orang terhadap keberadaan Baksil sebagai hutan kota. Jadi, bagi warga yang ingin pergi ke jembatan hutan Baksil ini, yang bisa dilakukan selain tentu saja menikmati hawa sejuk hutan, juga bisa sekedar berfoto-foto di sana mungkin dan juga menambah wawasan tentang Baksil itu sendiri.

Selamat menikmati hutan kota, teman!

Parkir Sepeda Depan Baksil

Parkir Sepeda Depan Baksil

Sejarah Baksil

Sejarah Baksil

Baksil itu ...

Baksil itu ...

 

 

 

 

 

 

 

 

Jembatan Pohon

Jembatan Pohon

Hutan Baksil

Hutan Baksil

 

Jembatan Hutan Baksil

Jembatan Hutan Baksil

[VIDEO] Fu Haifeng Teaches You How To Smash

Ada video bagus nih buat kita yang mau belajar bagaimana caranya melakukan smash yang mantep di bulutangkis. Shuttler yang dijadikan model untuk melakukan smash adalah si Fu Haifeng. Bagi pecinta bulutangkis tentu nama dia sudah tak asing lagi. Dialah pemegang rekor smash terkencang di dunia saat ini. Dulu sih rekornya 334 km/jam. Tapi kalau tidak salah, dia baru saja memecahkan rekor lagi di Singapore Open Juni 2011 kemarin, sekitar 350 km/jam. Kenceng banget nggak tuh … 🙂

Sayangnya video itu menggunakan narasi bahasa Mandarin. Nggak ada subtitle-nya pula. Yang nggak ngerti bahasa Mandarin seperti diriku ini tentu cuma bisa manggut-manggut saja, hihihi. Tapi buat yang mau belajar cara jumping smash, bisa memerhatikan cara si Fu Haifeng melakukan jumping smash di video ini.

Mantep abis lah smash-an si Fu Haifeng ini. So powerful! Bunyinya udah kayak letusan peluru aja. Jadi, kalau di badminton benda yang dipukul itu biasa disebut dengan shuttle cock, nah setelah di-smash sama si Fu Haifeng, shuttle cock itu berubah menjadi shuttle bullet, hehehe. 😆

Di video itu juga ditunjukkan gerak lambat jumping smash Fu Haifeng. Jadi kelihatan bangetlah step-step mulai dari lompat, posisi kaki, posisi tangan, posisi raket, dan ayunan raket, sampai tumpuan ketika jatuh setelah lompat. Bagus banget buat referensi kita-kita yang main badminton cuma untuk menyalurkan hobi atau sekedar memeras keringat dan bukan anggota klub badminton tertentu. Hmm … jadi tidak sabar untuk mempraktikkan nih. 😀

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 3] — Snorkeling

Minggu, 9 Oktober 2011

5.00. Keinginan untuk melihat sunrise tiba-tiba surut. Gara-garanya aku bangun kesiangan atau bahasa Jawanya itu kerinan. Jam 5 pagi di sana itu langit sudah mulai agak terang. Sementara untuk melihat sunrise, aku harus pergi ke arah timur pulau yang jaraknya cukup jauh dari tempat penginapan ini. Belum lagi badan pegal-pegal dari aktivitas sehari sebelumnya, membuat diri ini malas gerak, hahaha. Yang lain pun setali tiga uang.

6.00. Sesuai rencana sebelumnya, pagi jam 6 kami sudah harus bersiap-siap untuk pergi snorkeling. Kami sudah meminta tolong kepada Pak Manshur untuk mengurusi akomodasi yang diperlukan untuk snorkeling. Sewa kapal ke tempat snorkeling Rp300.000 dan perlengkapan snorkeling per orang adalah Rp35.000 yang terdiri atas kaki katak, kacamata dalam air, dan selang pernafasan.

Setelah semuanya selesai diuruskan oleh Pak Manshur, kami pun berangkat menuju tempat persewaan perlengkapan itu dan lanjut ke dermaga Pulau Tidung. Di sana telah merapat beberapa kapal atau perahu yang siap mengantarkan para wisatawan yang akan snorkeling.

7.15. Sampai juga akhirnya di tempat snorkeling. Perjalanan dari Pulau Tidung ke tempat snorkeling ini kira-kira sekitar 20-30 menit. Dalam perjalanan tadi menuju tempat snorkeling kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan nasi uduk bungkusan yang sudah disediakan oleh Pak Manshur. Jadi kami tidak perlu khawatir kehabisan energi saat snorkeling :D. Ya, biaya sewa kapal ini sudah termasuk sama nasi bungkus yang disediakan oleh Pak Manshur.

Tempat yang kita tuju ini bisa dikatakan sebagai sebuah pulau batu karang. Pulau ini bukan tersusun dari tanah, tapi batu-batu karang yang menumpuk hingga ke permukaan sehingga tampak seperti sebuah pulau.

Tentu saja kami tidak snorkeling di “pulau” itu. Tapi kami snorkeling di jarak sekitar belasan sampai dua puluhan meter dari sanalah. Lautnya tidak dalam, mungkin rentangnya mulai dari 2-5 meter. Selain itu arus lautnya juga tenang. Jadi bagi mereka yang belum bisa berenang pun bisa melakukan snorkeling dengan santai di sini.

Pemandangan bawah air lumayan mengagumkan. Pemandangan yang sebelumnya hanya bisa kulihat dari televisi atau internet kali ini benar-benar tampak di depan mataku. Memang, pemandangannya tak seindah taman laut bunaken yang banyak karang dan ikan berwarna-warni. Karena tempat yang kupilih lautnya dangkal jadi hanya terdapat banyak karang dan sedikit ikan. Kalau mau tempat yang banyak ikannya memang sebaiknya memilih tempat yang arusnya deras.

Rizky siap snorkeling

Rizky siap snorkeling

Sayang sekali tidak ada yang memiliki kamera bawah air di antara kami. Selain itu, fotografer-fotografer handal kami, Rizky dan Jiwo, juga tidak membawa kameranya ke tempat snorkeling, tidak juga di dalam kapal. Untung saja, ada kamera HP si Adi saat itu satu-satunya yang available. Sebenarnya ada sih papan yang dipasang di salah satu rumah yang bilang menyediakan kamera underwater. Kalau tidak salah harga sewanya Rp35.000. Tapi kurang tahu juga itu sewanya untuk berapa lama.

Kurang lebih ada hampir dua jam lah kami snorkeling. Sebenarnya kami dikasih waktu hingga jam 11. Tapi ternyata dua jam itu juga sudah jauh lebih dari cukup. Rata-rata rombongan selain kami malah cuma sekitar sejam lah maksimal snorkeling di sana. Bahkan ada yang datangnya sesudah kami, tapi baliknya duluan.

Bosan juga sih memang lama-lama. Apalagi tidak ada kamera untuk foto-foto di dalam air, hahaha. Seandainya ada kamera underwater, mungkin bakal lebih lama lagi. Soalnya kan sayang biaya sewanya, hehehe.

Snorkeling

Snorkeling

9.45. Sampai juga di penginapan lagi. Di meja makan ternyata sudah tersedia beberapa potong buah semangka dan seteko air teh manis, dan disediakan termos es batu pula. Alhamdulillah … berarti sudah dua kali kami dibuatkan air teh manis ini. 🙂

Makan mie instan

Makan mie instan

Masih ada beberapa bungkus mie instan dan beberapa telur yang menganggur. Rencananya, kami semalam sebenarnya mau makan mie rebus saja sebelum rencana itu tidak jadi karena tuan rumah tiba-tiba memberi kami makan malam nasi ikan pepes. Nah, rencananya mie instan itu akan kami masak setelah snorkeling. Ya, kami lapar dan kami ingin makan lagi, hehehe. Tiba-tiba seorang ibu — sepertinya pembantu keluarga Pak Manshur — datang untuk menawarkan untuk memasakkan mie instan kami. Bingo, anak-anak pun minta tolong dan berterima kasih kepada ibu tersebut. Dasar mahasiswa, wkwkwk. 😆

Main kartu

Main kartu

11.00. Yeah, It’s time for packing! Rencananya kami jam 12 akan cabut dari penginapan untuk balik ke Jakarta. Menurut jadwal, kapal yang akan kami tumpangi balik ke Jakarta akan berangkat pukul 13.00.

Beberapa orang mulai mengemasi barang-barang. Ada yang mandi. Ada yang sholat Dhuhur. Ya, jam setengah dua belasan, di sana sudah adzan Dhuhur. Beberapa anak lagi masih tampak asyik bermain kartu sambil mengantri giliran mandi atau menunggu yang lain selesai berkemas.

12.20. Kami sudah bersiap-siap untuk pulang di dermaga Pulau Tidung. Karcis kapal sudah dibelikan oleh Pak Manshur. Enaknya, kami hanya membayar Rp25.000 untuk balik ke Jakarta ini. Tarif normal seharusnya Rp33.000. Lumayanlah dapat kortingan. Baik banget memang Pak Manshur ini :D. Makanya sebelum kami pulang, kami berfoto bersama dulu dengan Pak Manshur sebagai kenang-kenangan atas perjalanan kami selama di Pulau Tidung ini.

Foto bersama dengan Pak Manshur

Foto bersama dengan Pak Manshur

Kami harus menunggu beberapa menit kapal datang. Kapal yang akan kami tumpangi ini adalah KM. Cahaya Laut. Ratusan orang sudah menunggu di tepi dermaga. Banyak sekali ya yang akan balik siang ini. Bakal sepi dong Pulau Tidung habis ini :(.

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Kapal yang ditunggu akhirnya beberapa saat kemudian datang juga. Orang-orang berebutan masuk ke dalam. Walaupun berebutan tapi tidak seperti pengalamanku berebutan naik kereta ekonomi yang sampai senggol-senggolan. Karena kalau sampai tersenggol di sini, siap-siap jatuh ke laut, hihihi.

Pukul 12.50 kapal sudah diberangkatkan. Kondisi kapal saat itu benar-benar penuh. Tidak butuh waktu lama kapal untuk merapat di dermaga. Setelah kapal penuh, kapal langsung segera diberangkatkan. Perjalanan kurang lebih selama 3 jam sudah menunggu di depan. Orang-orang seperti tampak sudah kelelahan. Ya, lelah karena aktivitas-aktivitas plesir yang mereka lakukan selama di Pulau Tidung. Tak heran jika banyak dari mereka yang terlelap sepanjang perjalanan kapal menuju pelabuhan Muara Angke, Jakarta.

15.45. Kapal telah sampai dan merapat di dermaga Muara Angke. Perjalanan belum berakhir. Ini Jakarta bung, bukan Bandung. Kami pun segera turun dan mencari taksi untuk menuju stasiun Gambir. Taksi di Muara Angke membandrol mahal untuk tarif ke stasiun Gmabir, Rp80.000. Padahal dari pengalaman Neo sebelumnya naik taksi yang menggunakan argo, habisnya cuma Rp50.000.

Kami pun mencari taksi di luar pelabuhan. Dapat juga akhirnya taksi yang mau menggunakan argo. Sial bagi kami, sore itu Jakarta macet luar biasa, padahal hari itu hari Minggu. Mulai Mangga Dua sampai Gambir kondisi jalan raya adalah padat merayap. Kami baru sampai di stasiun pukul setengah 6 menjelang maghrib.

Sialnya lagi, tiket kereta Argo Parahyangan kelas bisnis sudah habis. Tinggal yang eksekutif saja. Itupun harganya Rp80.000, luar biasa mahal bagi kami. Akhirnya, kami mencari mobil-mobil carteran yang ada di area stasiun Gambir. Nego, nego, nego, akhirnya dapat mobil yang mau mengantar kami sampai ke Dago, Bandung, dengan kesepakatan harga Rp420.000 termasuk biaya tol. Lumayanlah bagi bertujuh, berarti satu orang kena Rp60.000. Oh ya, di Jakarta ini kami harus berpisah dengan Neo dan Luthfi yang akan tetap stay di Jakarta dulu untuk beberapa hari tinggal bersama keluarganya. Jadi yang balik ke Bandung, tinggal bertujuh.

20.30. Alhamdulillah sampai juga di Bandung. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Boleh dibilang dua hari di Pulau Tidung adalah dua hari pelarian kami dari penatnya rutinitas kami di Bandung, hihihi. Ceileee … bahasanya :D.

Boleh dibilang tajuk jalan-jalan kami dua hari itu adalah “Weekend Escape to Tidung Island”. Mantap kan? Ya, rencana backpacking ke Karimun Jawa terpaksa batal dan diganti dengan jalan-jalan ke Pulau Tidung karena dirasa lebih possible buat dilakukan mengingat kesibukan kami yang sudah mulai berbeda satu sama lain. Mudah-mudahan ada kesempatan lain bagi kami untuk backpacking lagi ke tempat lain menikmati indahnya alam ciptaan Alloh ini.