Category Archives: Opini

Membaca Berita, Dulu, dan Kini

Saya sedang mengingat-ingat apa yang berbeda antara kebiasaan membaca berita dulu dan kini di era internet. Saya dahulu termasuk beruntung karena keluarga saya bisa berlangganan koran.

Bapak saya memang senang membaca koran. Kegemaran beliau itu menular kepada saya saat kecil. Setiap pagi, koran adalah hal yang saya nanti-nanti. Saya selalu ke luar rumah menyambut tukang koran yang mengantar koran langganan hari itu.

Ketika itu yang memotivasi saya untuk membaca koran adalah sebagai sarana untuk menambah kosa kata. Banyak istilah yang saya tak mengerti saya tanyakan kepada bapak. Inflasi, politik, mutasi, makelar … adalah beberapa contoh kata yang tak saya mengerti yang saya tanyakan kepada bapak.

Selain itu, saya membaca koran supaya tahu apa yang tengah terjadi di belahan dunia lain. Dalam sehari mungkin saya bisa membaca belasan atau puluhan artikel.

Ketika itu akses terhadap internet memang masih sangat langka dan mahal. Selain koran, TV menjadi media untuk memperoleh informasi.

Singkat kata, dahulu untuk memperoleh informasi, kita memang harus sedikit ‘berusaha’. Membeli koran atau meluangkan waktu untuk menonton TV. Berita adalah sesuatu yang dicari dan ditunggu.

Kini di era internet rasanya setiap orang setidaknya memiliki satu akun media sosial dan juga instant messaging. Persebaran berita yang sebelumnya melalui media konvensional kini berganti menjadi online. Di sana informasi tersebar dari segala penjuru dengan begitu mudah dan cepatnya.

Continue reading
Advertisements

Fase Gugur Piala Dunia 2018

Dengan berakhirnya pertandingan pamungkas Grup G dan H malam tadi, maka lengkap sudah seluruh pertandingan fase grup Piala Dunia 2018. 48 Pertandingan fase grup telah dimainkan.

16 Negara telah memastikan tempatnya di babak 16 besar. Piala Dunia 2018 masih menyisakan 16 pertandingan lagi di fase gugur (knock-out phase) yang akan dimainkan mulai babak 16 besar besok (30 Juni) hingga final (15 Juli) nanti.

Bagan Fase Gugur Piala Dunia 2018 (screencaptured from https://www.fifa.com/worldcup/matches/?#knockoutphase)

Bagan Fase Gugur Piala Dunia 2018 (screencaptured from https://www.fifa.com/worldcup/matches/?#knockoutphase)

Piala Dunia kali ini agak hampa bagi saya karena jagoan saya di setiap turnamen, Italia, tidak ikut berpartisipasi. Saya pun menjadi fans netral kali ini. Eh, tidak 100% netral juga sih. Di setiap pertandingan yang saya tonton, saya mendukung tim underdog untuk membuat kejutan.

Kalau terkait siapa yang juara, secara pribadi saya berharap ada juara dunia baru kali ini. Negara yang saya lihat paling berpeluang untuk menjadi juara baru adalah Belgia dan Kroasia.

Kedua negara tersebut tampak solid sejauh ini. Keduanya berhasil mengumpulkan poin maksimal di grup masing-masing. Secara tim, keduanya menurut saya juga memiliki kedalaman skuad yang luar biasa.

Jika semua berjalan sesuai prediksi, di perempat final mereka sudah harus menghadapi lawan yang sangat berat. Kekuatan mereka akan diuji oleh dua negara yang juga sangat diunggulkan dalam Piala Dunia ini, masing-masing oleh Brazil dan Spanyol.

Menarik ditunggu. Semoga saja salah satunya memang bisa keluar sebagai juara atau minimal bisa masuk final.

Wasted Talent

“I only just realised over the last few years that the problem was not the Coach, it was me. When I worked with a rigid tactician, I’d rebel. When I had a soft Coach, I’d take a nap. The truth is it wasn’t the fault of the Coach if I didn’t give my best. I realised it too late.”
– Antonio Cassano (quoted from Football-Italia.net)

Sebenarnya sangat jarang sekali saya membahas perihal pemain sepak bola di blog saya ini. Tapi beberapa hari yang lalu saya sempat membaca artikel hasil wawancara Antonio Cassano di sebuah artikel di Football-Italia.net. Bagi saya ada hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari wawancara tersebut sehingga menarik untuk saya share di blog ini.

Salah satunya adalah quote di atas, berisi tentang pengakuan Antonio Cassano bahwa dia sendirilah yang sebenarnya menghancurkan karir sepak bolanya. Untuk rekaman video wawancaranya bisa dilihat di sini, tapi tentu saja dalam bahasa Italia dan tidak ada subtitle, hehe.

“For the last 10 years people have said I was a wasted talent.”

Siapa yang tak kenal Antonio Cassano? Malang melintang bermain di klub-klub besar seperti AS Roma, Real Madrid, Inter Milan, dan AC Milan. Sejak masa mudanya bermain di klub kecil Bari, orang-orang menyebutnya sebagai wonderkid, pemain muda dengan skill cemerlang yang berpotensi menjadi pemain bintang di kemudian hari. Sebagai penggemar Liga Serie A Italia, dia termasuk salah satu pemain yang saya kagumi sewaktu kecil karena Continue reading

Social Media

FOMO, Dilema Bermedia Sosial

Sebelumnya disclaimer terlebih dahulu, saya tidak tahu apakah kata “bermedia sosial” itu tepat dalam bahasa Indonesia. Maksudnya sih ingin menyingkat kalimat “Dilema Menggunakan Media Sosial”, hehe. Kalau tidak salah, di pelajaran bahasa Indonesia pernah diajarkan bahwa imbuhan ber- itu bisa bermakna menggunakan. 😀

Oke, masuk ke latar belakang saya memilih judul di atas. Jadi akhir-akhir ini saya berpikir bahwa bermedia sosial itu semakin melelahkan. Saya menilai terlalu banyak informasi dalam berbagai ragamnya di media sosial. Jadi dalam sekali scrolling, saya akan menjumpai banyak orang membagikan artikel dalam berbagai macam topik, baik itu kesehatan, makanan, teknologi, agama, politik, dan lain sebagainya.

Dahulu di awal kemunculannya Facebook, Twitter, dan jejaring sosial yang lainnya cenderung lebih sering digunakan untuk meng-update kegiatan atau curhatan pribadi. Bermedia sosial pun kala itu Continue reading

Rekomendasi film dari Netflix

Eranya Rekomendasi

Pernah kepikiran nggak sih kalau sekarang ini kita hidup di eranya “rekomendasi”? Mau ngapa-ngapain — terutama untuk sesuatu hal yang baru yang belum pernah kita lakukan atau temui sebelumnya — secara naluri kita akan melihat (atau mendengar) terlebih dahulu review orang lain.

Nah, yang namanya review itu biasanya sih kalau nggak mengandung pujian, ya kritikan, atau juga dua-duanya sekaligus. Ujungnya si pe-review biasanya ngasih rating, entah itu dalam skala 5, 10, 100 atau suka-suka dia :D. Rating yang diberikan itu kemudian akan masuk dalam pertimbangan orang yang membaca review. Apabila si pe-review juga ngasih kesimpulan dalam kata-kata seperti recommended atau nggak recommended (atau kata-kata yang sejenis), wah itu tentu bakal semakin membekas pada si pembaca. Jadi polanya review → rating → recommendation.

Kenapa saya sebut “era”, karena memang seiring dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, akses terhadap review-review tersebut menjadi sangat mudah. Banyak sekali Continue reading

Manny Pacquiao vs Floyd Mayweather Jr.

Dunia Tinju yang Kembali Hype

Baru sadar, lama banget aku nggak mendengar berita dari dunia tinju. Memang sih aku bukan penggemar olahraga tinju, jadi nggak terlalu mengikuti. Nama petinju-petinju dunia yang masih membekas pun mereka yang terakhir kali aktif — dan juga menjadi ikon dunia tinju — hingga pertengahan tahun 2000-an, seperti Lennox Lewis, Mike Tyson, Oscar De La Hoya, Naseem Hamed.

Setelah generasi mereka aku tak lagi mengenal petinju-petinju yang ikonik dan paling ditunggu-tunggu pertarungannya. Mungkin hanya Chris John saja yang masih sering kudengar setelah itu.

Dan setelah sekian lama nggak mengikuti tinju, tiba-tiba beberapa hari yang lalu dan tentu saja hingga hari ini berita tinju menjadi headline di mana-mana. Pertarungan Floyd Mayweather Jr. vs Manny Pacquiao menjadi pertarungan paling mahal sepanjang sejarah dan disebut-sebut sebagai “The fight of the century”. Pertarungan tinju pertama yang hype di era social media. 

Apakah hype di dunia tinju ini hanya sementara? Pada masa jayanya dunia tinju telah melahirkan tokoh-tokoh kharismatik yang menjadi idola banyak orang. Mereka pun juga memiliki sisi kehidupan di luar ring yang menarik diberitakan dan menginspirasi banyak orang. Siapa yang tak kenal Muhammad Ali dan Mike Tyson? Mereka yang bukan penggemar tinju pun hampir pasti pernah mendengar nama mereka.

* sumber gambar: hdwallpapersmart.com
Jack Of All Trades (image source: https://www.linkedin.com/pulse/what-i-wish-managers-knew-being-jack-of-all-trades-parra)

Jack of All Trades vs Master of One?

Pertanyaan ini seringkali mengganjal di benak saya. Lebih baik menjadi jack of all trades atau master of one? Menjadi generalist atau specialist? In case ada yang belum pernah mendengar istilah jack of all tradesmonggo bisa dicek definisinya di link UrbanDictionary ini. Saya kutipkan salah satu definisi yang rasanya paling enak menurut saya di UrbanDictionary tersebut:

Jack of All Trades ~ A person who is good at many things but has no particular specialty (often with master of none at the end)

Sederhananya sih, “He/She can do A, B, C, D, E, and so on, but he just isn’t that great.” Nah, kasus yang sering saya alami sih Continue reading