Category Archives: Review

Naik Bus Pahala Kencana Bandung-Malang

Seperti yang sudah saya singgung di artikel sebelumnya, pada liburan Natal kali ini saya pulang kampung ke Malang dengan naik bus Pahala Kencana. Seumur-umur, ini kali pertama saya naik bus malam dari Bandung ke Malang.

Semasa kuliah dulu saya belum pernah sekalipun. Yang pernah hanyalah naik bus dari arah Malang ke Bandung-nya. Jadi perjalanan kali ini menjadi pengalaman baru bagi saya.

Bus Pahala Kencana yang saya tumpangi ini menurut jadwal seharusnya berangkat dari Pool Pahala Kencana di Jl. RE. Martadinata (alias Jl. Riau) pada pukul 13.00. Tapi bus baru datang sekitar pukul 13.25. Tapi bus tidak bisa langsung parkir di pool karena tak ada ruang.

Di depan kantor ketika itu sedang stand by 2 bus Pahala Kencana tujuan Palembang dan Blitar. Setelah bus Pahala Kencana tujuan Palembang berangkat, barulah bus Pahala Kencana tujuan Malang bisa masuk.

Bus Pahala Kencana tujuan Malang parkir di Pool Jl. Riau, Bandung

Para penumpang yang sudah ready di pool pun segera naik ke dalam bus, termasuk saya. Di dalam bus ada petugas yang “mengabsen” penumpang satu per satu. Tak lama kemudian setelah penumpang dipastikan lengkap, bus pun berangkat meninggalkan pool.

Kursi di dalam bus memiliki formasi 2-2 dengan jumlah 8 baris. Kursinya cukup nyaman, berupa reclining seat, bisa direbahkan ke belakang dan ada tatakan kaki yang bisa dinaik-turunkan.

Continue reading

Beli Tiket Bus di RedBus

Libur Natal kali ini sebenarnya saya tidak berencana pulang kampung. Tapi minggu kemarin ketika melihat kalender ternyata ada hari kecepit antara hari Minggu dan libur Natal, saya pun jadi berubah pikiran untuk pulang.

Sayangnya tiket kereta api sudah pada habis. Mau naik pesawat pun harga tiket sudah mahal. Akhirnya mencoba alternatif lain, yakni bus.

Saya jarang sekali naik bus malam jarak jauh. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari. Terakhir kali naik bus jarak jauh rasanya tahun lalu.

baca juga: Beli Tiket Bus di Traveloka

Pada beberapa kesempatan terakhir, untuk urusan tiket bus ini biasanya saya membelinya di Traveloka. Tapi entah kenapa pada tanggal yang saya inginkan, daftar bus tujuan Bandung-Malang yang keluar di aplikasi Traveloka hanya ada PO. Gunung Harta. Itu pun sudah habis. PO. Pahala Kencana tidak ada.

Saya pun iseng mencari di aplikasi bus lainnya, yakni RedBus. Ternyata PO. Pahala Kencana ada di daftar hasil pencarian. Masih ada 3 kursi lagi yang tersisa. Alhamdulillah, batin saya.

Harga tiketnya ternyata naik. Seingat saya terakhir kali naik bus Malang-Bandung tahun lalu masih di kisaran Rp250.000-280.000. Sekarang menjadi Rp340.000. Mungkin karena bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru juga.

Enaknya di RedBus ini ternyata sedang ada promo untuk pengguna baru (sampai 31 Desember 2019). Kebetulan saya baru kali ini pakai RedBus juga. Dengan memasukkan kode NEW pengguna baru akan mendapatkan diskon 50% (maksimal Rp80.000) dan cashback ke RedBus wallet sebesar Rp50.000. Waktu itu juga lagi ada promo cashback OVO 10% atau 20% gitu jadi saya mendapatkan OVO points 10.000. Alhamdulillah.

Memilih kursi ketika memesan tiket bus di RedBus

Ketika check-in naik bus, kita cukup menunjukkan e-ticket berupa PDF yang dikirim ke email. Atau bisa juga kita menginstal aplikasi RedBus dan menunjukkan e-ticket yang terdapat dalam aplikasi. Tidak perlu melakukan penukaran tiket atau nge-print segala. Saat istirahat makan prasmanan, kita pun juga cukup melakukan prosedur yang sama.

E-ticket dalam bentuk PDF dari RedBus

Di RedBus ini kalau saya lihat di webnya, ada fitur untuk ubah jadwal. Entah apakah berlaku untuk semua PO (Perusahaan Otobus) atau hanya PO tertentu saja. Saya belum mencobanya. Fitur ini belum tersedia di Traveloka saat terakhir kali saya membeli tiket bus di sana tahun lalu. Entah apakah saat ini sudah tersedia atau belum.

Menjajal MRT Jakarta

Setelah 4 bulan lamanya, saya kembali berkunjung ke Jakarta lagi 2 pekan lalu. Kesempatan ke Jakarta itu saya manfaatkan untuk menjajal MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta alias Ratangga yang resmi beroperasi pada 1 April 2019 yang lalu.

Sepulang dari urusan di kawasan Kuningan, saya sengaja pergi ke Bundaran HI (Hotel Indonesia), salah satu lokasi stasiun ujung MRT Jakarta. Stasiun Bundaran HI ini berada di bawah tanah. Ada beberapa pintu masuk yang tersebar di trotoar sekitaran Bundaran HI.

Hari itu adalah hari kerja. Saya mencoba MRT ini di saat orang-orang pulang kerja, sekitar jam 6 kurang menjelang maghrib. Ramai sekali pekerja perkantoran Jalan Sudirman yang menumpang MRT ini.

Tujuan saya petang itu adalah Stasiun Istora. Saya meetup dengan teman saya yang memang kantornya dekat dari stasiun tersebut. Mumpung di Jakarta juga kan, ketemuan dengan teman lama. Dia juga baru saja pulang kerja.

Pintu masuk Stasiun Istora

Enaknya Stasiun Istora ini, di dalamnya ada beberapa tenant berupa convenience store, toko roti, dan kafe. Teman saya mengajak ketemuan di Auntie Anne’s. Di sana kami mengobrol sampai sekitar jam 7 malam.

Terkait dengan MRT Jakarta sendiri, menurut saya stasiun dan keretanya sudah keren banget dan bersih juga tentunya. Sayangnya, sepertinya masih ada masalah pada passenger gate-nya, gate tempat kita tap-in dan tap-out kartu kita.

Di dalam MRT Jakarta

Entahlah. Saya merasa scanner yang digunakan di gate tersebut kurang responsif. Antrian sempat sedikit tersendat waktu keluar di Stasiun Bundaran HI. Ada penumpang yang sudah tap kartu dia tapi pintu tidak terbuka. Ketika tiba giliran saya, pintu dibiarkan terbuka terus. Sepertinya sebagai solusi atas masalah sebelumnya itu.

Selain itu, saya merasa jumlah gate yang disediakan agak kurang. Saya membayangkan pada jam sibuk pasti antriannya akan begitu panjang.

Kemudian terkait dengan papan signage. Rasanya agak kurang. Terutama papan signage yang menunjukkan ke mana pintu keluar. Begitu tiba dari naik eskalator peron, saya agak kebingungan akan jalan ke arah mana. Sebab pintu keluar terbagi ke dua arah.

Di depan eskalator atau tangga naik penumpang itu tidak ada papan yang memberitahu nama masing-masing pintu keluar itu. Kita harus jalan dulu hingga ke passenger gate baru menemukan signage nama pintu keluar itu.

Iya kalau arah passenger gate yang kita tuju itu benar. Kalau ternyata pintu keluar yang kita maksud ada di arah berlawanan, kita tentu harus balik arah lagi yang lumayan juga jauhnya.

Terlepas dari kekurangan itu, tentunya dengan hadirnya MRT Jakarta ini akan memudahkan mobilitas warga Jakarta. Sayang jika sampai tidak dimanfaatkan. Apalagi waktu tempuhnya juga sangat cepat dibandingkan transportasi jalan raya, sehingga dapat menjadi solusi menghindari kemacetan Jakarta.

My books in 2018

My 2018 in Books

Setelah 4 tahun yang lalu membuat rangkuman daftar buku-buku yang saya baca di tahun itu (My 2014 in Books), akhirnya tahun ini bisa menulis artikel serupa karena target #ReadingChallenge saya terpenuhi. Hahaha.

Tahun 2018 kemarin saya nggak muluk-muluk. Saya buat target 10 buku saja. Selama 3 tahun sebelumnya rata-rata saya cuma baca 2-4 buku saja rasanya.

Ketika itu saya agak ambisius sih karena buku yang saya baca topiknya berat-berat dan tebal. Saya perlu membaca beberapa kali untuk paham dan selalu menyiapkan HP untuk mencatat hal yang penting.

Jika melihat rata-rata buku yang saya habiskan hanya 2-4 buku per tahun, target 10 buku tentu saja terbilang muluk. Tapi saya menyiasatinya dengan mencari buku-buku dengan topik yang lebih ringan dan tipis. Hahaha.

Ok, jadi ini dia daftar buku yang saya tamatkan pada tahun 2018 kemarin, urut dari waktu saya menamatkannya. Oh ya, sebelumnya disclaimer dulu, beberapa rangkuman di bawah mungkin mengandung spoiler.

Continue reading
terminal arjosari

Beli Tiket Bus di Traveloka

Saya sebetulnya sangat jarang berpergian jarak jauh dengan naik bus. Selama bertahun-tahun wara-wiri Bandung-Malang, baru 2 kali saya naik bus yang melayani jurusan tersebut.

Transportasi kereta api selalu menjadi pilihan utama saya. Pengalaman terakhir naik bus Malang-Bandung 3 tahun yang lalu membuat saya kapok karena saya harus melalui perjalanan selama 22 jam. Bandingkan dengan kereta api yang (normalnya) ‘hanya’ menempuh perjalanan selama 16 jam. Ketika itu memang tengah libur long weekend sehingga macet parah tak bisa dihindari.

Sebetulnya saya suka juga naik bus. Karena itu, ketika mengetahui Traveloka menjual tiket bus juga, saya pun ingin mencoba fitur baru tersebut. Apalagi Traveloka sering mengadakan diskon untuk pembelian tiket bus ini.

Ketika saya membeli tiket beberapa waktu yang lalu, saya mendapat diskon 12%. Tiket bus Pahala Kencana Malang-Bandung yang semula Rp252.000 menjadi hanya Rp221.760. Jika membeli di agen, menurut informasi yang saya peroleh dari penumpang lain, harganya Rp280.000.

Ternyata lebih murah beli online di Traveloka. Jika dibandingkan dengan tiket kereta api Malang-Bandung yang saya naiki, yang biasanya ada di kisaran 270.000-345.000, tentu Continue reading

Promo Berlangganan Bookmate

Sebulan yang lalu saya baru tahu ada aplikasi bernama Bookmate. Saya mengetahuinya setelah membaca review buku di blog ini. Padahal kalau menurut Wikipedia, Bookmate ini sudah malang melintang sejak tahun 2010. Sudah telat sekali ya saya tahunya. Hahaha.

Saya pun bergegas untuk mengunjungi situsnya dan mendaftarkan diri sebagai pengguna. Rupanya untuk anggota baru ada promo berlangganan Rp9.900 untuk 3 bulan. Jadi memang sistem di Bookmate ini kita bisa membaca berbagai macam buku sepuasnya dengan cara berlangganan.

Promo Bookmate untuk pengguna baru

Promo Bookmate untuk pengguna baru

Selain promo berlangganan premium 3 bulan seharga Rp9.900, mereka juga menawarkan free trial premium selama sebulan. Karena saya tidak yakin mampu menghabiskan buku dalam jangka waktu sebulan, saya pun memilih untuk mengambil promo yang 3 bulan itu. Hehehe.

Pilihan bukunya ternyata sangat bervariasi dan sangat banyak. Dari buku terbitan luar negeri sampai dalam negeri pun ada. Buku pertama yang saya baca adalah Sapiens, tulisan Yuval Noah Harari.

Etalase pilihan buku di Bookmate

Etalase pilihan buku di Bookmate

Dengan biaya segitu (Rp9.900) bisa membaca berbagai buku tentu saja sangat menguntungkan bagi pengguna seperti saya. Bisa menghemat banyak dibandingkan harus membeli buku satu-satu. Tapi entah dari sisi penulis bagaimana. Apakah diuntungkan atau dirugikan dengan business model seperti ini.

Wajah Baru Terminal Purabaya

Long weekend kemarin saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Dalam perjalanan pulang itu, saat transit di Sidoarjo, tepatnya di Terminal Purabaya Bungurasih, saya dikejutkan dengan wajah baru terminal tersebut.

Tidak sepenuhnya terkejut juga karena saya sudah pernah beberapa kali ke Terminal Purabaya ketika renovasi tengah dilakukan. Tapi kali ini sepertinya proses pengerjaan sudah benar-benar selesai. Dan saya cukup terkesima melihat hasil akhirnya.

Yang terlihat paling berbeda menurut saya adalah departure hall alias ruang tunggu keberangkatan. Mirip sekali dengan suasana di bandara. Selain luas dan megah, juga rapi dan bersih.

Tidak seperti image terminal bus yang kita kenal selama ini, kusam, kumuh, dan semrawut. Bedanya mungkin tidak adanya toko atau resto yang meramaikan hall seperti di bandara.

Departure Hall Terminal Purabaya

Departure Hall Terminal Purabaya

Di departure hall sekarang juga sudah terpasang eskalator ke lantai 2. Terakhir 2 bulan yang lalu saat datang ke sini rasanya itu belum ada.

Jika sebelumnya calon penumpang bisa langsung berjalan kaki keluar dari hall menuju area keberangkatan bus, kini calon penumpang harus naik dulu ke lantai 2. Setelah itu berjalan melalui koridor menuju jalur keberangkatan bus sesuai dengan tujuannya.

Koridor menuju jalur bus

Koridor menuju jalur bus

Berjalan di koridor menuju jalur bus

Berjalan di koridor menuju jalur bus

Namun menurut saya ada kekurangan pada sistem tersebut. Salah satunya yakni turunan tangga dari koridor menuju tempat pemberangkatan bus menurut saya tidak ramah terhadap penyandang disabilitas.

Atau mungkin ada jalan lain yang sudah dibuatkan? Saya kurang tahu juga sih. Tapi yang jelas, pembangunan fasilitas publik sudah selayaknya harus memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas juga.

Saya berharap semoga perubahan yang sudah baik ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan juga tentunya. Terutama juga terus diperhatikan agar bisa semakin ramah terhadap penyandang disabilitas juga. Image terminal bus sebagai tempat yang “angker” pun juga semoga bisa semakin terkikis dengan perbaikan-perbaikan tersebut.