Tag Archives: bus

Naik Kereta Gantung di Genting Highlands

Kesempatan pergi ke Kuala Lumpur minggu lalu saya manfaatkan untuk jalan-jalan ke Genting Highlands. Kebetulan ada waktu kosong di hari Sabtu-nya.

Dalam beberapa kali kesempatan ke Kuala Lumpur, baru kali ini saya pergi ke Genting. Ke Genting ini dalam rangka memenuhi rasa penasaran saja sih melihat Genting kayak apa.

Kebetulan teman saya yang ikut pergi bareng ke Kuala Lumpur minggu lalu itu mau diajak ke Genting. Dia sendiri motivasinya karena lebih penasaran sama sensasi naik kereta gantung (cable car).

Rencana Awal Naik dari KL Sentral

Sabtu pagi kira-kira pukul 8.30 kami berjalan kaki dari penginapan menuju terminal bus KL Sentral. Sesampainya di depan loket penjualan tiket, terpampang pemberitahuan bahwa tiket bus yang tersedia berikutnya adalah untuk keberangkatan pukul 11.30. Tiket untuk semua perjalanan bus sebelum itu sudah ludes.

Oh, meeenn… masak kami menunggu kurang lebih selama 3 jam. Kami pun googling mencari alternatif lain. Ternyata ada bus ke Genting dari Terminal Bus Pekeliling.

Akhirnya Naik dari Terminal Bus Pekeliling

Kami langsung masuk ke dalam KL Sentral dan naik LRT menuju Stasiun Titiwangsa. Tapi kami harus transit dulu di Stasiun Masjid Jamek untuk berganti dengan LRT Ampang Line.

Dari Stasiun Titiwangsa menuju Terminal Bus Pekeliling ini kita cukup berjalan kaki saja. Paling cuma sekitar 5 menit.

Terminal Bus Pekeliling

Terminal Bus Pekeliling

Kami langsung mencari loket tempat dijualnya tiket bus ke Genting Highlands. Di Terminal Bus Pekeliling ini ada beberapa jalur keberangkatan. Di sana mereka menyebutnya Continue reading

Advertisements

Wajah Baru Terminal Purabaya

Long weekend kemarin saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Dalam perjalanan pulang itu, saat transit di Sidoarjo, tepatnya di Terminal Purabaya Bungurasih, saya dikejutkan dengan wajah baru terminal tersebut.

Tidak sepenuhnya terkejut juga karena saya sudah pernah beberapa kali ke Terminal Purabaya ketika renovasi tengah dilakukan. Tapi kali ini sepertinya proses pengerjaan sudah benar-benar selesai. Dan saya cukup terkesima melihat hasil akhirnya.

Yang terlihat paling berbeda menurut saya adalah departure hall alias ruang tunggu keberangkatan. Mirip sekali dengan suasana di bandara. Selain luas dan megah, juga rapi dan bersih.

Tidak seperti image terminal bus yang kita kenal selama ini, kusam, kumuh, dan semrawut. Bedanya mungkin tidak adanya toko atau resto yang meramaikan hall seperti di bandara.

Departure Hall Terminal Purabaya

Departure Hall Terminal Purabaya

Di departure hall sekarang juga sudah terpasang eskalator ke lantai 2. Terakhir 2 bulan yang lalu saat datang ke sini rasanya itu belum ada.

Jika sebelumnya calon penumpang bisa langsung berjalan kaki keluar dari hall menuju area keberangkatan bus, kini calon penumpang harus naik dulu ke lantai 2. Setelah itu berjalan melalui koridor menuju jalur keberangkatan bus sesuai dengan tujuannya.

Koridor menuju jalur bus

Koridor menuju jalur bus

Berjalan di koridor menuju jalur bus

Berjalan di koridor menuju jalur bus

Namun menurut saya ada kekurangan pada sistem tersebut. Salah satunya yakni turunan tangga dari koridor menuju tempat pemberangkatan bus menurut saya tidak ramah terhadap penyandang disabilitas.

Atau mungkin ada jalan lain yang sudah dibuatkan? Saya kurang tahu juga sih. Tapi yang jelas, pembangunan fasilitas publik sudah selayaknya harus memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas juga.

Saya berharap semoga perubahan yang sudah baik ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan juga tentunya. Terutama juga terus diperhatikan agar bisa semakin ramah terhadap penyandang disabilitas juga. Image terminal bus sebagai tempat yang “angker” pun juga semoga bisa semakin terkikis dengan perbaikan-perbaikan tersebut.

Suatu Ketika di Bus DAMRI

Pada hari Minggu kemarin saya naik bus DAMRI dari Terminal Leuwi Panjang menuju Dago. Kondisi bus ketika telah penuh oleh penumpang ketika saya naik. Tidak padat, tapi semua kursi telah terisi. Saya pun berdiri mengambil tempat di bagian tengah dekat pintu.

Saat bus baru dekat saja keluar dari terminal, bertambah lagi penumpang yang naik. Ada sekitar 6 orang mungkin. Di antaranya ada seorang ibu dengan putrinya yang kelihatannya memasuki usia TK atau kelas 1 SD.

Tiba-tiba dua orang remaja putri usia SMA yang duduk tak jauh dari tempat saya berdiri, kemudian berdiri memanggil ibu tersebut dan mempersilakan beliau dan putrinya untuk duduk di tempat mereka. Ibu itu agak segan awalnya, namun setelah dipersilakan lagi akhirnya beliau mengucapkan terima kasih kepada mereka dan menempati kursi yang diberikan.

Bus melanjutkan perjalanan kembali. Baru sebentar saja bus berjalan sudah ada penumpang yang naik lagi, yaitu seorang ibu dengan (sepertinya) putranya yang sudah dewasa.

Ada kejadian menarik setelah itu. Ibu yang baru duduk sebelumnya, tiba-tiba Continue reading

e-Bike yang saya sewa di Bagan

Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 2 – Bagan (Bag. 1)

Senin, 17 Agustus 2015

Saya mendadak terbangun ketika mendengar pengumuman dari pramugari. Tentu saja saya tidak mengerti sepatah kata pun yang ia ucapkan dalam bahasa Myanmar. Saya menduga jangan-jangan bus sudah mau sampai Bagan.

Saya melihat jam. Angka di jam tangan saya masih menunjukkan pukul 4 kurang. Kemudian saya mengecek Google Maps melalui HP saya. Sebelum berangkat backpacking ke Myanmar ini, saya sudah menyimpan peta Bagan secara offline di dalam HP saya. Ternyata masih sangat jauh.

Ketika bus akhirnya berhenti, para penumpang beriringan turun. Tetapi barang bawaan mereka tinggalkan di dalam bus. Hanya seperangkat alat mandi seperti handuk basah kecil, sikat dan pasta gigi yang memang telah diberikan oleh pihak bus kepada setiap penumpang. Saya pun ikut turun dan kemudian bertanya kepada pramugari, di mana ini sebenarnya. Oh… ternyata bus berhenti untuk istirahat di rumah makan.

Penumpang yang turun kebanyakan langsung menuju kamar mandi dan mencuci muka mereka dengan handuk basah serta menggosok gigi dengan peralatan tadi. Bisa kompak begitu ya, haha. Saya pun ikut-ikutan mereka.

Semua penumpang bus wajib turun. Kru bus pun juga demikian. Pintu bus dikunci. Kami diberikan waktu 30 menit untuk istirahat.

Singgah di rumah makan

Singgah di rumah makan

Tiba di Bagan

Dua jam kemudian, setelah bus melanjutkan perjalanannya kembali, bus pun tiba di Bagan Shwe Pyi Highway Bus Terminal. Kira-kira saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 6.30. Pramugari memberikan pengumuman yang kira-kira artinya “Pengumuman, pengumuman… Sebentar sebentar lagi kita akan sampai di Bagan, bagi penumpang yang hendak mengakhiri perjalanannya di sini silakan bersiap-siap” (haha, sok tau). Ia juga memberikan kode kepada saya Continue reading

Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 3): Dari Dieng ke Kraton

Hari 3: Senin, 24 Desember 2012

Aku tiba-tiba terbangun dari tidur karena mendengar kaset lantunan ayat suci Al-Qur’an dari masjid yang memang berada persis di depan penginapan kami. Jam menunjukkan pukul 3.45. Aku langsung membangunkan anak-anak yang lain. Ya, rencananya kami memang ingin melihat sunrise pagi itu. Bukan di sikunir, tapi di sebuah bukit — aku lupa namanya — yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap.

Rencananya kami akan dipandu oleh guide dari penginapan ini. Tapi penginapan tampak sepi. Sepertinya orang-orang masih terlelap, termasuk mas yang akan menjadi pemandu kami.

Akhirnya, seusai melaksanakan sholat Subuh, kami putuskan untuk berjalan saja sendiri tanpa ada pemandu dengan berbekal GPS. Setelah kurang lebih satu jam berjalan kaki, kami akhirnya sampai ke suatu lembah di mana tak ada terusan jalan lagi.

Akhirnya kelihatan matahari

Akhirnya kelihatan matahari

Kami pun sadar bahwa kami telah salah jalan. Mau balik, lagi tidak mungkin. Kami pun menikmati alam yang ada saja di hadapan kami. Dari tempat kami ini, matahari tidak dapat terlihat karena terhalang oleh bukit di hadapan kami. Harus menunggu matahari berada di posisi yang agak tinggi baru bisa terlihat.

Ya sudah, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun, lagi-lagi seperti kemarin, karena kurang kerjaan, aku ‘menuntun’ jalan anak-anak dengan melalui ladang kentang penduduk. Sempat khawatir ditegur warga sih seperti pengalaman di Desa Cemoro Lawang, Bromo, kemarin, hehehe.

Melewati ladang kentang

Melewati ladang kentang

Niatnya sih, kami bisa berjalan melewati ladang-ladang itu untuk sampai di Telaga Warna. Sial, ternyata ada pagar kayu yang membatasi akses ke sana dari ladang. Terpaksa kita mencari jalan lagi ke jalan utama.

Kami pun akhirnya kembali lagi ke jalan yang kami lalui sebelumnya. Kami menyempatkan berfoto-foto dahulu di Dieng Plateau Theater (DPT). Oh ya, di depan DPT itu terdapat situs  geotermal milik Pertamina. Tidak hanya di depan DPT ini saja ternyata. Di beberapa tempat lain di Dieng ini juga. Sepertinya Dieng memang Continue reading

10-11-12

Dua hari yang lalu bertepatan dengan tanggal ‘cantik’ 10-11-12 (10 November 2012). Sudah menjadi rahasia umum, banyak sekali pernikahan yang dilangsungkan pada hari itu. Termasuk dua saudara sepupuku. Yang satu (dari keluarga besar ibu) menikah di Pekanbaru, dan yang satu lagi (dari keluarga besar ayah) menikah di Purwokerto. Namun, sesuai pertimbangan keluarga, aku hanya hadir di pernikahan adik sepupuku yang di Purwokerto.

Out of topic sebentar, kemarin itu adalah kali pertama aku ke Purwokerto. Bingung mau naik apa ke sana. Kereta api nggak ada yang jalur Bandung-Purwokerto. Akhirnya naik bus malam dari Bandung. Kurang tahu sih, pilihan busnya apa saja. Tapi sewaktu datang ke terminal Cicaheum, oleh agen-agen bus di sana kompak disuruh naik bus Sinar Jaya jurusan Wonosobo.

Busnya kelas eksekutif. Ongkosnya Rp50.000 baik dari Bandung maupun sebaliknya. Di Banjar istirahat sebentar sekitar 30 menit di rumah makan yang dikelola oleh PO Sinar Jaya. Perjalanan Bandung-Purwokerto ini idealnya 6-7 jam, tapi kemarin fakta di lapangan menempuh waktu sampai 8 jam.

Ok, back to topic. Kembali ke tentang tanggal 10-11-12. Kira-kira berikutnya tanggal cantik apalagi ya yang bakal ramai banyak orang nikah *sekalian cari-cari tanggal* #eh *cari calon dulu* :P.

Yang paling dekat sih 12-12-12 (12 Desember 2012), 20-12-2012 (20 Desember 2012). Untuk tahun depan mungkin 3-1-13 (3 Maret 2013), 1-3-13 (1 Maret 2013),  dan 11-12-13 (11 Desember 2013). Ada lagikah? Tapi kalau bagiku sih, apalah arti tanggal, hehehe. Insya Allah, bila telah menemukan yang pas, lebih cepat lebih baik. #BukanEdisiGalau

Akhinya “SK” Pun Ganti Menjadi “SS”

Aku baru saja baca berita hari ini di Kompas. Sumber Kencono atau yang biasa disebut “SK” saja, bus “legendaris” di petak Jogja-Surabaya, ternyata baru saja berganti nama menjadi “Sumber Selamat” (SS). Hohoho…

Bus ini memang cukup terkenal di kalangan masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian Timur. Armada bus ini terkenal karena kebiasaan ugal-ugalannya. Selain itu, angka kecelakaannya juga termasuk tinggi. Tak heran nama Sumber Kencono ini sering dipelesetkan oleh masyarakat menjadi “Sumber Bencono” alias “sumber bencana”. Bahkan, suatu ketika bus ini pernah dibakar di Ngawi oleh massa karena menabrak pengendara sepeda motor hingga tewas. Mungkin karena ingin mengubah image, nama armada ini akhirnya diganti menjadi seperti itu (Sumber Selamat).

Aku sendiri dan orang tuaku cukup familiar juga dengan bus Sumber Kencono ini. Tapi itu dulu sih. Setiap berkunjung ke Jogja, Solo, atau Sragen, saat lebaran, pas balik ke Surabaya-nya kami  cukup sering menggunakan Sumber Kencono. Busnya memang murah, tapi ketepatan sampai di tujuan boleh dibilang melebihi bus PATAS, hehehe. Selain itu, bus ini selalu sedia 24 jam. Biasanya kami berangkat dari Sragen pukul setengah 6 pagi dan bus ini selalu yang kami temui.

Oke, sekarang dengan bergantinya nama “Sumber Kencono” menjadi “Sumber Selamat”, mudah-mudahan bukan hanya namanya yang berubah, tetapi pelayanan penumpang serta tata cara mengemudi di jalan raya pun juga bisa berubah menjadi lebih baik.

Bus "Sumber Kencono"

Bus "Sumber Kencono" (source: ylpkjatim.com)

Bus "Sumber Selamat"

Bus "Sumber Selamat" (source: Kompas.com)