Tag Archives: budaya

Islamic Arts Museum Malaysia

Melihat Khazanah Seni Islam Dunia di Islamic Arts Museum Malaysia

Artikel ini seharusnya sudah saya tulis dari kemarin-kemarin. Tapi kelupaan terus, haha.

Jadi, dalam perjalanan backpacking saya ke Myanmar 4 bulan yang lalu, saya transit sehari di Kuala Lumpur. Di sana saya menyempatkan diri mengunjungi Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM). Tidak susah menemukan museum ini. IAMM terletak di belakang Masjid Negara atau National Mosque.

Akses terdekat ke sana adalah dengan menaiki KTM dan turun di Stasiun Kuala Lumpur. Dari stasiun bisa menyeberang jalan melalui terowongan. Setelah itu tinggal berjalan kaki menyusuri Jalan Perdana-Jalan Lembah. Selain KTM, kita juga bisa naik LRT dan turun di Stasiun LRT Pasar Seni. Dari stasiun berjalan kaki menyusuri skywalk ke arah Stasiun Kuala Lumpur, menyeberang jalan melalui terowongan, dan nanti keluar tepat di depan Masjid Negara.

Islamic Arts Museum Malaysia

Islamic Arts Museum Malaysia

Tiket masuk museum ini adalah sebesar 14 Ringgit plus pajak (GST) 6%. Penjualan tiket dilayani oleh resepsionis yang ada di dalam lobi. Selain tiket, kita juga akan mendapatkan Continue reading

Advertisements

Basa-Basi Pisang Goreng

Judul di atas adalah judul sebuah film pendek yang ikut serta dalam festival film LA Indie Movie 2009. Sudah lama memang. Sudah hampir 2 tahun yang lalu. Tapi saya baru tahu film itu baru-baru ini dari teman saya, hehe. Meskipun sudah lama banget, tidak ada salahnya kan kalau saya berkomentar sedikit tentang film itu.

Bagi yang ingin menonton film tersebut, ini dia streamingnya yang dapat ditonton via Youtube:

Film besutan Ruth Redico (Yogyakarta) ini menggunakan bahasa Jawa untuk dialog pemeran-pemerannya. Bahasa Jawa yang dipakai adalah Jawa halus alias krama inggil. Tapi ada juga sih beberapa dialog yang pakai bahasa Jawa ngoko.

Kesan saya terhadap film ini adalah film ini cukup kocak dan menyentil. Apa yang disentil? Apalagi kalau bukan karakter orang Jawa yang sungkanan. Bahkan, sampai urusan makan pisang goreng pun masih sungkan-sungkan. Di mulut bilangnya mempersilakan yang lain untuk duluan (makan pisang goreng), padahal di dalam hatinya dia sendiri sangat menginginkan (pisang goreng itu). Kalau saya sih, jika sudah menyangkut urusan makanan, tidak sungkan-sungkan kalau memang saya suka dan lapar, hehe.

Di akhir film itu ada sebuah lagu penutup beraliran rap yang memiliki lirik yang mengangkat tema tentang budaya orang Jawa yang sungkanan itu. Kerennya, lagu rap itu menggunakan lirik bahasa Jawa! Ini dia kutipannya:

Basa-basi wong Jowo
Saiki dadi budoyo
Ning lambe arep ngomong opo
Njubule ning ati nduwe karep liyo

Salah sawijining
Sifate wong Jowo
Wis mbudidoyo
Soko jaman semono
Ora biso ilang
Ora biso diganti
Eh lho kok saiki malah ngisin-ngisini
Basa-basi dumadi soko rasa sungkan
Roso sungkan ning wong lan ewoh-ewohan
Wong tuwo ning enom
Cah enom ning tuwo
Biso-biso malah dadi marai molo

Walah, pancen mbingungke
Yen wis koyo ngene, suwe-suwe biso dadi padu
Cocot canyocot, malah dadi saru
Yen tangan lan sikil wis melu, ora urusanku
Ora usah tukaran, mending guyon-guyonan
Lha wong dhewe iki urip soko kekancan
Basa-basi kuwi yo mung kebiasaan
Ora basa-basi, yo ora popo tho yoo…

Mengapa Bangsa Asia Kalah Kreatif dari Bangsa Barat?

Lagi-lagi saya dapat info menarik dari Pak Rinaldi melalui note yang beliau tulis di Facebook yang kata beliau merupakan hasil share dari milis. Isinya tentang tulisan Profesor Ng Aik Kwang, owner dari The Idea Resort, pada buku yang dikarangnya, Why Asians Are Less Creative Than Westerners (2001), bercerita mengenai bagaimana paradigma yang terbentuk dan metode pendidikan di sebagian besar bangsa Asia yang menyebabkan mereka (kita lebih tepatnya ^_^) menjadi kalah kreatif dibandingkan bangsa Barat. Bukunya memang sudah lama (tahun2001), dan mungkin sudah banyak yang membacanya, tapi tidak ada salahnya saya share di sini juga karena ada seorang sahabat pernah berkata kepada saya: “Jangan pernah bosan untuk selalu menerima ilmu walaupun engkau sudah pernah mendengarnya 1000 kali, karena bisa jadi engkau akan benar-benar paham ketika mendengarnya untuk yang ke-1001 kali”.

Ini dia tulisan beliau yang cukup provokatif dan pantas untuk direnungkan:

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”. (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yg wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya Profesor Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihafalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi.

Dari poin di atas saya paling suka dengan poin yang mengatakan “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun). Terus terang saya setuju sekali dengan pemikiran itu. Sejak pendidikan sekolah, kami dituntut untuk mengerti banyak hal, tapi tidak dituntut untuk menjadi master salah satunya. Namun, kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan kita sebenarnya dituntut untuk menjadi master di semua bidang. Hmm… suatu tuntutan yang mungkin boleh saya bilang tidak logis jika itu benar adanya.

Saya jadi teringat dengan wejangan yang diberikan Mas Narenda (baca di sini) saat kuliah tamu Kriptografi. Ketika itu, beliau mengatakan carilah bidang ilmu spesifik di ranah kita (Informatika) yang kita sukai dan jadilah “the best” di bidang itu. Kemudian, beliau mengambil contoh ada seseorang (saya lupa persisnya) yang sangat menguasai pemrograman low level yang bersentuhan dengan hardware di mana di dunia ini konon tidak ada orang yang sejago dia. Akhirnya, dia direkrut sebuah perusahaan di Jerman dan digaji dengan nominal yang sangat luar biasa (saya juga lupa berapa persisnya).

Apa yang bisa saya ambil dari kisah itu? Di bidang Informatika yang menurut kita (atau mungkin hanya saya saja :)) sudah spesifik, ternyata masih ada cabang ilmu yang jauh lebih spesifik lagi yang perlu saya gali lagi di mana sebenarnya keahlian dan passion saya. Dan sambil mencanangkan target: SAYA HARUS BISA MENJADI MASTER DI BIDANG ITU!

Serupa dengan pernyataan “Jack of all trades, but master of none”, saya juga jadi teringat omongan salah seorang dosen kuliah saya yang pernah mengenyam pendidikan di Australia dan Perancis. Setelah menjalani kehidupan di kedua negara itu, beliau menyadari ada perbedaan antara orang Indonesia dengan orang-orang di Barat itu yang cukup mencolok dalam hal melakukan suatu pekerjaan. Orang Indonesia cenderung suka melakukan pekerjaan secara multitasking. Mungkin seperti peribahasa: “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”. Padahal, ujung-ujungnya hasil yang diperoleh cuma setengah-setengah (tidak maksimal). Beda dengan orang Barat, yang ketika mengerjakan sesuatu, mereka akan benar-benar fokus dengan pekerjaan itu agar hasilnya maksimal.

Yah, ini hanya sekedar opini dari saya hasil kutipan dari dosen-dosen saya di kelas. Saya sendiri belum pernah pergi ke luar negeri. Jadi, sebenarnya saya tidak layak untuk membanding-bandingkan antara Indonesia, Asia, atau Barat. Tapi, jika ada yang lebih baik, kenapa kita tidak belajar dari mereka dan meninggalkan hal yang buruk itu?

Why Asians Are Less Creative Than Westerners