Tag Archives: galeri

Islamic Arts Museum Malaysia

Melihat Khazanah Seni Islam Dunia di Islamic Arts Museum Malaysia

Artikel ini seharusnya sudah saya tulis dari kemarin-kemarin. Tapi kelupaan terus, haha.

Jadi, dalam perjalanan backpacking saya ke Myanmar 4 bulan yang lalu, saya transit sehari di Kuala Lumpur. Di sana saya menyempatkan diri mengunjungi Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM). Tidak susah menemukan museum ini. IAMM terletak di belakang Masjid Negara atau National Mosque.

Akses terdekat ke sana adalah dengan menaiki KTM dan turun di Stasiun Kuala Lumpur. Dari stasiun bisa menyeberang jalan melalui terowongan. Setelah itu tinggal berjalan kaki menyusuri Jalan Perdana-Jalan Lembah. Selain KTM, kita juga bisa naik LRT dan turun di Stasiun LRT Pasar Seni. Dari stasiun berjalan kaki menyusuri skywalk ke arah Stasiun Kuala Lumpur, menyeberang jalan melalui terowongan, dan nanti keluar tepat di depan Masjid Negara.

Islamic Arts Museum Malaysia

Islamic Arts Museum Malaysia

Tiket masuk museum ini adalah sebesar 14 Ringgit plus pajak (GST) 6%. Penjualan tiket dilayani oleh resepsionis yang ada di dalam lobi. Selain tiket, kita juga akan mendapatkan Continue reading

Advertisements
Foto bersama bangkai tank (photo by Putri)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 9): Day 8 – One Day Cu Chi Tunnels Tour

Sabtu, 31 Mei 2014

Pagi itu setelah subuh sebenarnya kami yang cowok-cowok sudah janjian untuk main đá cầu alias petaca di taman Phạm Ngũ Lão. Namun, sepertinya teman-teman masih banyak yang tertidur. Akhirnya aku jalan-jalan ke taman sendiri.

Hafidh sudah berangkat lebih dahulu. Dia menyempatkan lari pagi di taman. Dari sebelum berangkat backpacking Indochina ini dia memang sudah meniatkan diri untuk menjajal lari pagi di tiap kota yang disinggahi jika memungkinkan. Makanya dia sudah siap sedia sepatu dan kaos lari dari Indonesia.

Di taman aku cuma duduk-duduk saja mengamati aktivitas penduduk lokal di taman. Juga mengamati kesibukan lalu lintas kota Ho Chi Minh pagi itu yang dipenuhi motor-motor yang lalu lalang.

Suasana pagi taman Phạm Ngũ Lão

Suasana pagi taman Phạm Ngũ Lão

Pukul 6 pagi aku kembali ke hotel. Pagi itu Pambudi, Listyanto, Kak Simon, dan Kak Febri tengah bersiap-siap untuk check-out dari hotel. Mereka hendak melanjutkan perjalanan ke Singapura pagi itu. Jadwal penerbangan pulang yang mereka ambil memang berbeda dengan kami karena ingin tiba di Indonesia Minggu siangnya agar punya waktu istirahat cukup sebelum lanjut kerja keesokan harinya.

Pukul setengah 7 pagi taksi yang menjemput mereka sudah datang di depan hotel. Kami pun bersalam-salaman melepas kepergian mereka. Hiks, hiks. Tak terasa kami sudah memasuki hari ke-8 dalam perjalanan ini. Itu artinya keesokan harinya kami harus mengakhiri petualangan bersama ini.

Berangkat Cu Chi Tunnels Tour

Tur hari itu agak molor dari yang dijadwalkan. Penyebabnya salah satu teman kami pagi itu bangun kesiangan. Kami baru sadar ketika kami semua sudah siap berangkat, namun ada satu orang yang belum tampak. Ternyata dia masih tidur. Glek!

Padahal pemandu tur — seorang bapak yang usianya sudah memasuki kepala 6 namun masih tampak segar dan sehat — sudah tiba sejak pukul setengah 8. Menurut rencana kami memang harusnya berangkat tur pukul 8 pagi.

Pukul 8.15 kami semua akhirnya berangkat juga. Transportasi yang kami gunakan adalah kendaraan semacam mini bus gitu. Selain kami ber-18, ada dua orang Filipina yang join satu kendaraan dengan kami.

Pemandu tur sedang memperkenalkan diri (photo by Ian)

Pemandu tur sedang memperkenalkan diri (photo by Ian)

Di dalam perjalanan sang pemandu tur melakukan perkenalan diri. Bahasa Inggris beliau cukup bagus. Pronounciation-nya dapat dengan jelas kami tangkap, tidak campur-campur dengan aksen Vietnamnya.

Dari perkenalan itu kami mengetahui ternyata kampung beliau adalah di Cu Chi itu juga. Dan beliau sempat ikut mengalami masa-masa perang di sana. Beliau menunjukkan beberapa bekas luka tembakan di bagian lengannya. Ada bekas-bekas jahitan di situ setelah peluru diambil.

Ke Galeri Handicapped Handicrafts

Destinasi pertama tur kami pagi itu adalah galeri seni Handicapped Handicrafts. Sesuai namanya, tempat ini menyediakan berbagai produk kerajinan tangan, di antaranya ada lukisan, guci, gantungan kunci, kursi, meja, piring, dan lain-lain.

Di Galeri Handicapped Handicrafts (photo by Ian)

Di Galeri Handicapped Handicrafts (photo by Ian)

Yang istimewa di Handicapped Handicrafts ini adalah pengrajin-pengrajinnya merupakan para penyandang difabilitas. Tahu sendiri kan impak dari Perang Vietnam yang berakhir pada medio tahun 1970-an sebagian penduduk Vietnam yang menderita cacat fisik, bayi-bayi yang lahir saat itu pun sebagian juga tak luput menderita cacat bawaan.

Terhadap warga negara yang mengalami nasib kurang beruntung tersebut, Pemerintah Vietnam berinisiatif untuk memberikan pelatihan ketrampilan kepada mereka dengan menyediakan workshop-workshop kerajinan tangan macam Handicapped Handicrafts ini. Di workshop-workshop tersebut juga terdapat galeri di mana mereka bisa langsung menjual produk kerajinan tangan mereka. Tujuan pemerintah Vietnam jelas yaitu memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka agar mereka dapat hidup mandiri dan juga men-support ekonomi keluarga mereka.

Memang sih harga-harga kerajinan tangan di galeri Handicapped Handicrafts ini terbilang sangat mahal. Hampir dua kali dari harga pasaran sepertinya. Katanya sebagian keuntungan dari penjualan ini digunakan untuk terus mensupport kegiatan-kegiatan bagi para penyandang difabilitas ini. Oh ya, sayangnya produk-produk di dalam galeri tersebut tidak boleh difoto. Bagus-bagus lho produknya. Tapi ya itu, mahal, jadinya aku nggak beli sama sekali.

Para pengrajin di Handicapped Handicrafts (photo by Ian)

Para pengrajin di Handicapped Handicrafts (photo by Ian)

Ke Cao Dai Temple

Dari Handicapped Handicrafts Gallery destinasi kami berikutnya adalah Cao Dai Temple. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu 1 jam lebih. Perjalanan yang cukup lama bukan?

Apa itu Cao Dai? Continue reading