Mendaki Gunung Angsi

Hari Rabu minggu lepas (31/1) di Malaysia merupakan hari libur nasional dalam rangka Hari Thaipusam. Ketika itu kebetulan saya tengah berada di Malaysia.

Saya bersama kawan saya, Kun, diajak oleh kenalan kami di Kuala Lumpur, Ab, untuk pergi hiking ke Gunung Angsi, Negeri Sembilan, bersama teman-temannya. Tentu saja kami menyambut dengan senang hati ajakan tersebut.

Pukul 4 pagi Ab datang menjemput kami di KL Sentral. Kami pergi bersama menuju McDonald’s Bandar Seri Putera. Tempat tersebut adalah meeting point kelompok hiking kami pagi itu. Di sanalah pula saya berkenalan dengan DJ, Zu, Farihah, Arif, dan Faridah, kawan-kawan Ab dalam pendakian ini.

Kami sempat menikmati sarapan di McDonald’s tersebut. Usai sarapan kami pergi menuju Surau Ibnu Khaldun di Lavender Heights. Kami mampir untuk melaksanakan sholat subuh di sana sekitar pukul 6.30.

Kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju Ulu Bendul, pintu masuk Gunung Angsi di Kuala Pilah. Kurang lebih 10 menit saja dari Lavender Heights itu.

kabut di gunung angsi

Pepohonan berkabut di kawasan pintu masuk Gunung Angsi

Suasana pepohonan dengan penuh kabut menyambut kami. Sementara itu, langit di ufuk timur berwarna merah merekah menandakan posisi matahari perlahan mulai naik meninggalkan garis cakrawala.

Tiket masuk kawasan Gunung Angsi ini adalah 5 Ringgit saja per orang. Setiap orang juga diharuskan mengisi biodata diri di buku tamu yang disediakan.

Di kawasan pintu masuk Gunung Angsi

Di kawasan pintu masuk Gunung Angsi

Sebelum memulai pendakian, kami melakukan pemanasan bersama terlebih dahulu. Selesai pemanasan, kurang lebih pada pukul 7.30 kami pun mulai berjalan.

Tak saya sangka di awal-awal pendakian kami sudah harus menghadapi tanjakan yang sangat curam dengan kemiringan mungkin lebih dari 70 derajat. Ditambah tanah yang cukup licin dan berlumpur akibat hujan semalam, membuat medan pun menjadi berat.

Tanjakan pertama

Tanjakan pertama

Saya yang dalam hiking ini menggunakan sepatu badminton, terus terang sangat kesulitan melalui trek di Gunung Angsi yang sepanjang jalan hampir selalu berlumpur. Alhasil sepatu saya pun rusak parah. Tapak sepatu saya terlepas.

Untungnya kejadian tersebut saya alami dalam perjalanan turun. Sepatu saya masih normal saat saya pakai sampai ke puncak.

Tinggi Gunung Angsi ini “hanya” 825 mdpl saja. Kalau dibandingkan dengan Lembang yang berada di ketinggian 1300-an meter, tentu saja gunung Angsi ini kalah tinggi. Tapi bukan berarti treknya mudah.

Menembus hutan Gunung Angsi

Menembus hutan Gunung Angsi

Selain tanjakan curam dan medan berlumpur, trek yang kita lalui di Gunung Angsi ini juga cukup panjang lah. Menurut catatan jam Garmin si Ab, panjang treknya kurang lebih ada 5 km.

Kami sendiri kurang lebih menempuh waktu 2 jam untuk sampai ke puncak Gunung Angsi. Puncak Gunung Angsi tidaklah luas. Banyak pepohonan di atas sana. Namun ada satu gubug yang bisa digunakan untuk duduk-duduk dan berteduh.

Di Puncak Gunung Angsi 825 mdpl

Di Puncak Gunung Angsi 825 mdpl

View yang tampak dari Puncak Gunung Angsi ini pun cukup terhalang oleh pepohonan yang ada di atas sana. Jadi tidak bisa melihat pemandangan kota Seremban dengan lega.

View dari Puncak Gunung Angsi

View dari Puncak Gunung Angsi

Walaupun demikian, tetap saja pengalaman naik Gunung Angsi ini adalah pengalaman yang tak akan terlupakan bagi saya. Pertama kali naik gunung di negara jiran Malaysia.

Dalam pengalaman pertama naik ini, ada kebiasaan yang saya observasi. Kebiasaan yang juga berlaku di kalangan pendaki di Indonesia. Setiap berjumpa dengan pendaki lain, kita selalu menyapa.

Di Indonesia biasanya kita menyapa pendaki lain dengan kata-kata “Mari Bang”, “Mangga Kang”, “Monggo Mas”, atau kata-kata sapaan sejenis lainnya. Di sini mereka biasanya menyapa dengan salam saja, “Assalamu’alaikum”. Kadang-kadang ada juga yang menyapa dengan “Good morning”.

Mendaki bersama di Gunung Angsi

Mendaki bersama di Gunung Angsi

Meskipun tidak tinggi (setidaknya dibandingkan ketinggian secara umum gunung-gunung di Indonesia), tapi trek yang ditawarkan pun cukup ok lah. Selain untuk trekking, tak sedikit juga pengunjung yang datang ke Gunung Angsi untuk berlatih trail run.

Waktu tempuh pulang-pergi yang kurang lebih hanya 3-4 jam membuat Gunung Angsi menjadi alternatif yang sangat sesuai bagi mereka yang menginginkan quick escape mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kota.

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Mendaki Gunung Angsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s