Category Archives: Opini

Rekomendasi film dari Netflix

Eranya Rekomendasi

Pernah kepikiran nggak sih kalau sekarang ini kita hidup di eranya “rekomendasi”? Mau ngapa-ngapain — terutama untuk sesuatu hal yang baru yang belum pernah kita lakukan atau temui sebelumnya — secara naluri kita akan melihat (atau mendengar) terlebih dahulu review orang lain.

Nah, yang namanya review itu biasanya sih kalau nggak mengandung pujian, ya kritikan, atau juga dua-duanya sekaligus. Ujungnya si pe-review biasanya ngasih rating, entah itu dalam skala 5, 10, 100 atau suka-suka dia :D. Rating yang diberikan itu kemudian akan masuk dalam pertimbangan orang yang membaca review. Apabila si pe-review juga ngasih kesimpulan dalam kata-kata seperti recommended atau nggak recommended (atau kata-kata yang sejenis), wah itu tentu bakal semakin membekas pada si pembaca. Jadi polanya review → rating → recommendation.

Kenapa saya sebut “era”, karena memang seiring dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, akses terhadap review-review tersebut menjadi sangat mudah. Banyak sekali Continue reading

Manny Pacquiao vs Floyd Mayweather Jr.

Dunia Tinju yang Kembali Hype

Baru sadar, lama banget aku nggak mendengar berita dari dunia tinju. Memang sih aku bukan penggemar olahraga tinju, jadi nggak terlalu mengikuti. Nama petinju-petinju dunia yang masih membekas pun mereka yang terakhir kali aktif — dan juga menjadi ikon dunia tinju — hingga pertengahan tahun 2000-an, seperti Lennox Lewis, Mike Tyson, Oscar De La Hoya, Naseem Hamed.

Setelah generasi mereka aku tak lagi mengenal petinju-petinju yang ikonik dan paling ditunggu-tunggu pertarungannya. Mungkin hanya Chris John saja yang masih sering kudengar setelah itu.

Dan setelah sekian lama nggak mengikuti tinju, tiba-tiba beberapa hari yang lalu dan tentu saja hingga hari ini berita tinju menjadi headline di mana-mana. Pertarungan Floyd Mayweather Jr. vs Manny Pacquiao menjadi pertarungan paling mahal sepanjang sejarah dan disebut-sebut sebagai “The fight of the century”. Pertarungan tinju pertama yang hype di era social media. 

Apakah hype di dunia tinju ini hanya sementara? Pada masa jayanya dunia tinju telah melahirkan tokoh-tokoh kharismatik yang menjadi idola banyak orang. Mereka pun juga memiliki sisi kehidupan di luar ring yang menarik diberitakan dan menginspirasi banyak orang. Siapa yang tak kenal Muhammad Ali dan Mike Tyson? Mereka yang bukan penggemar tinju pun hampir pasti pernah mendengar nama mereka.

* sumber gambar: hdwallpapersmart.com
Jack Of All Trades (image source: https://www.linkedin.com/pulse/what-i-wish-managers-knew-being-jack-of-all-trades-parra)

Jack of All Trades vs Master of One?

Pertanyaan ini seringkali mengganjal di benak saya. Lebih baik menjadi jack of all trades atau master of one? Menjadi generalist atau specialist? In case ada yang belum pernah mendengar istilah jack of all tradesmonggo bisa dicek definisinya di link UrbanDictionary ini. Saya kutipkan salah satu definisi yang rasanya paling enak menurut saya di UrbanDictionary tersebut:

Jack of All Trades ~ A person who is good at many things but has no particular specialty (often with master of none at the end)

Sederhananya sih, “He/She can do A, B, C, D, E, and so on, but he just isn’t that great.” Nah, kasus yang sering saya alami sih Continue reading

Masih Adakah Tempat Di Bumi yang Terbebas dari Polutan?

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah postingan di Facebook dari akun KEEP BALI CLEAN tentang kondisi laut di sekitar Tanah Lot, Bali. Saya sudah lama nggak pernah main ke Bali. Terakhir kali ke sana akhir tahun 2011, dan sempat ke Tanah Lot juga. Agak mencengangkan menurut saya pemandangan yang tersaji di dalam foto-foto ini.

Secara kebetulan sebulan sebelumnya, saya sempat membaca sebuah artikel di BBC yang judulnya Are there any pollution-free places left on Earth?, yang kemudian saya terjemahkan menjadi judul artikel ini. Mungkin pertanyaan tersebut terasa cukup hiperbolik, tapi sangat tepat untuk kita jadikan sebuah refleksi.

Bahkan di sebuah tempat yang terpencil sekalipun, yang menurut kita hampir mustahil orang (biasa) ke sana, walaupun ada, juga ada sampah. Siapa yang menyangka di Everest Himalaya, sebuah gunung yang sangat tinggi nan dingin bersalju, sampah pun menumpuk di sana.

Tumpukan sampah di Everest, Himalaya [photo embedded from BBC]

Well, bumi kita memang sangat luas. Tempat yang terbebas dari polutan itu mungkin masih ada, terutama yang belum terjamah oleh manusia. Namun, itupun Continue reading

Hari Belanja Online Nasional dalam Google

Harbolnas dan Godaan Belanja

Kemarin Jumat tanggal 12-12-2014 merupakan Hari Belanja Online Nasional atau yang biasa disingkat dengan Harbolnas. Tahun ini adalah pelaksanaan yang ketiga kalinya sejak pertama pada tahun 2012. Lebih lanjut tentang Harbolnas, bisa dibaca di Wikipedia pada link ini.

Di beberapa negara lain sebenarnya ada perayaan semacam ini, seperti Black Friday dan Cyber Monday yang diadakan saat momen Thanksgiving. Namun, hanya Cyber Monday yang memang dikhususkan untuk mempersuasi orang berbelanja online.

Lalu kenapa sih ada event-event seperti itu. Nggak rugi apa mereka yang jor-joran ngelempar “Great Deals”, “Best Buy”, dan sejenisnya untuk produk-produk yang mereka jual. Ini ada penjelasan menarik dari Dan Holliday, mantan retailer manager di Walmart, di Quora tentang “What Are the Economics Behind the Black Friday Sales?”

Well, inti dari penjelasannya adalah dengan adanya event tersebut orang-orang akan terdorong untuk “be in that moment” karena  Continue reading

Belajar Bareng vs Sendirian

Walaupun sudah nggak kuliah lagi, saya masih suka belajar — masih di bidang saya, yakni Information Technology — terkait knowledge baru yang belum pernah diajarkan di kuliah atau mendalami topik yang sebelumnya sudah diajarkan namun kurang begitu mendalam. Maklum, bidang yang saya geluti ini memang termasuk yang begitu cepat perkembangannya. Selain itu juga karena tuntutan pekerjaan juga. Saya harus up to date terhadap perkembangan teknologi informasi terkini agar solusi yang kami tawarkan untuk proyek yang sedang kami kerjakan tetap relevan dan yang terbaik.

Terasa sekali bedanya dengan belajar di kuliah dan di luar kuliah. Di dalam kuliah kurikulum belajar kita sudah tersistematis, jadi kita tinggal mengikuti saja apa yang ada dalam silabus. Kita juga masih menerima materi secara langsung dari dosen. Kalau tidak mengerti, bisa berdiskusi langsung kepada sang dosen baik di dalam maupun di luar kelas. Yang paling enak tentu saja ada banyak teman yang bisa diajak belajar dan berdiskusi bareng. Ujung-ujungnya kita bisa menyerap ilmu lebih mudah dan cepat.

Salah satu momen kuliah (coba cari saya di mana :D)

Salah satu momen kuliah (coba cari saya di mana :D) *

Nah, di kehidupan pasca kuliah ini kesempatan belajar bersama itu mahal, alias hampir susah kita dapatkan. Setiap orang punya kesibukan atau interest masing-masing. Dan nggak semuanya punya waktu luang yang sama. Alhasil saya lebih banyak belajar sendiri.

Untuk menyiasatinya saya ikutan kuliah yang ditawarkan Coursera. Sayangnya saya belum pernah berhasil tamat. Paling banter sejauh ini cuma bisa mengikuti separuh kuliah. Kendalanya memang soal waktu dan akses internet sih. Materinya kan disampaikan lewat video. Sementara saya di rumah hanya mengandalkan akses internet dari HP yang kuota paket internetnya lebih banyak berlaku untuk dini hari hingga pagi hari saja.

Sejujurnya saya masih mencari terus tips untuk belajar yang efektif di Coursera ini agar bisa mengikuti sampai akhir. Sayang sekali jika Coursera ini tidak dimanfaatkan. Kuliahnya bagus-bagus. Mungkin ada yang sudah pernah berhasil tamat? Boleh dibagi dong tipsnya hehe.

Selain lewat Coursera, saya juga ikut milis-milis atau grup-grup di social media terkait topik yang menjadi interest saya, seperti OpenNLP, Big Data, dan beberapa bahasa pemrograman. Memang tidak mungkin jika kita ikuti semua pembahasan yang terjadi. Biasanya saya baca secara berkala saja dan sengaja alokasikan waktu untuk mengikuti pembahasan yang terjadi.

Yang paling susah dari belajar sendiri itu adalah menjaga motivasi dan konsistensi. Untungnya sejak sebulan yang lalu di kantor ada inisiatif untuk membuat sharing session tiap hari Jumat. Kami bergantian sharing ilmu mengenai teknologi terbaru atau topik-topik lain yang relevan dengan pekerjaan kami.

Belajar sendiri itu memang tidak mudah. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah menjaga kemauan untuk terus belajar itu. Sering saya lihat orang menjadikan usia dan tidak adanya waktu sebagai alasan pembenaran untuk malas belajar.

*) foto diambil dari blog Pak Budi Rahardjo

Aib

Sumber gambar: http://bit.ly/1fbkX0f

Sumber gambar: http://bit.ly/1fbkX0f

Beberapa hari yang lalu sempat beredar screenshot status seorang cewek di jejaring sosial Path. Status tersebut berisi mengenai keluhan dia terhadap seorang ibu hamil yang memintanya untuk memberikan tempat duduk di KRL.

Screenshot tersebut beredar secara masif di berbagai platform jejaring sosial, baik itu Path, Facebook, Twitter, Instagram, dan mungkin masih ada lagi yang lainnya. Banyak orang bereaksi negatif terhadap status tersebut.

Di sini saya tidak di sini saya tidak bermaksud untuk mengomentari isi status tersebut. Namun, secara konten saya setuju memang apa yang dia keluhkan itu menurut saya tidak bisa dibenarkan. Melalui tulisan ini saya ingin mengungkapkan keheranan saya bagaimana status tersebut bisa tersebar sedemikian hebohnya. Bahkan, sampai ada situs berita yang cukup populer — sering ada iklannya di Facebook — menjadikannya sebagai sebuah berita di halaman websitenya.

Setahu saya Path adalah jejaring sosial yang cukup menjamin privasi penggunanya. Path dimaksudkan sebagai media jejaring sosial tempat kita berbagi kabar — baik foto, teks, ataupun kegiatan kita — (seharusnya) hanya dengan teman-teman dekat kita. Karena itulah jumlah pengguna yang bisa menjadi teman dibatasi hingga 150 saja (terakhir yang saya tahu).

Makanya, ketika screenshot status dari Path ini tersebar, saya cukup terkesima. Kok ada ya seorang “teman” yang tega menyebarkan (sesuatu yang menurut saya adalah) aib dari temannya. Alhasil, temannya tersebut kemudian mendapatkan berbagai kecaman di dunia maya. Bahkan, banyak tangan-tangan kreatif yang sampai membuat meme-meme untuk menjadikannya sebagai sebuah lelucon.

Hmm… bagaimana ya perasaan sang pengambil screenshotKenapa dia tidak mengingatkan langsung temannya mengenai statusnya tersebut? Mungkin dewasa ini orang lebih suka menghukum kesalahan seseorang dengan menyebarkan kesalahannya sehingga publiklah yang menghukum (atau mem-bully) orang tersebut hingga ia akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Well… saya bersyukur Islam memiliki ajaran yang sangat indah menurut saya. Kita diajarkan untuk tidak membuka aib orang lain. Jangankan aib orang lain, terhadap aib diri sendiri saja kita tidak dibenarkan untuk membukanya.

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًا إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ, وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ باِللَّيْلِ عَمَلاً, ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُوْلُ: يَافُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ سَتَرَهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di pagi harinya -padahal Allah SWT telah menutupnya-, ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah SWT telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah SWT terhadapnya.”

Oke, saya tidak tahu bagaimana perasaan cewek pembuat status tersebut. Namun, saya membayangkan seandainya saya berada di pihak dia. Pertama, tentu saya akan merasa sangat malu. Dan kedua, saya akan merasa sangat kecewa dengan teman saya yang menyebarkannya. Sangat, sangat, sangat kecewa. Saya tentu akan sangat menghargai teman saya jika ia memberikan nasehat secara langsung bahwa apa yang saya katakan atau lakukan itu salah.

Sebagaimana hadits yang disebutkan pada gambar di bagian atas tulisan ini, keutamaan dari menutup aib orang lain ini adalah akan ditutupnya aib kita di dunia dan kelak di akhirat. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela, dan dosa tertentu pada dirinya. Jika kita tanpa sengaja mengetahuinya, semoga hal tersebut dapat dijadikan pelajaran dan dapat memperbaiki diri agar tidak melakukan hal serupa.

Semoga kita bukan termasuk orang yang menyenangi tersebarnya kejelekan di tengah-tengah kita.

إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya kekejian di tengah-tengah orang-orang yang beriman, mereka akan memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An-Nur: 19)

Wallahu a’lam.