Category Archives: Renungan

Pulang

Mengikhlaskan kepergian seseorang yang kita cintai itu ternyata tidak mudah. Apalagi ketika memori kita bersamanya sudah sedemikian banyaknya. Acap kali kenangan-kenangan masa lalu tiba-tiba terlintas dalam pikiran dan seketika itu air mata menetes mengingat waktu-waktu bersamanya yang tak mungkin terulang.

Hati ini juga menjadi terenyuh ketika melihat orang tua, terutama sang ibu, masih terpukul karena kepergian anaknya itu. Sebagai anak, tentu saja saya harus tampak tegar agar bisa menghibur sang ibu. Terkadang ingin rasanya ikut menangis bersama ibu.

Kepergian adik baru-baru ini membuat saya mencoba merenungi sejatinya siapa yang pulang dan siapa yang pergi dalam musibah ini. Jika seorang anggota keluarga pergi keluar rumah untuk berpergian atau merantau, kita akan bersikap biasa karena yakin suatu saat mereka akan pulang ke rumah. Perasaan khawatir mungkin ada terkait keselamatan mereka di perjalanan. Tapi harapan bahwa mereka akan pulang ke rumah masih menyala.

Sementara itu pada kepergian seseorang yang kita cintai untuk selamanya, harapan itu tak ada. Ia tak akan pernah pulang kembali karena memang sejatinya dunia ini bukanlah rumah kita. Adik tidak pergi, tetapi sudah pulang. Orang yang kita anggap pergi untuk selamanya itu sejatinya telah pulang ke tempat asal kita yang sesungguhnya. Sebaliknya, justru kitalah sebenarnya yang tengah bepergian (di dunia) dan menunggu giliran pulang.

Sudah selayaknya kita bersikap sebagai seorang musafir. Tidak berleha-leha dalam perjalanan ini. Ada banyak perbekalan yang perlu kita kumpulkan. Kita pun masih bisa juga membantu menambah perbekalan untuk orang yang pulang mendahului kita. Berharap agar kelak ketika “pulang” nanti, kita bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang kita cintai itu di rumah yang terbaik di surga-Nya.

Advertisements

Selama Masih Bisa Merasa Bersalah

Pernah nggak, kita melakukan kesalahan dan tahu itu salah, tapi entah kenapa kita tidak merasa bersalah? Kita merasa biasa-biasa saja. Jika terjadi demikian, mungkin ada yang salah dengan diri kita.

Bagi saya, bisa merasa bersalah adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Artinya Allah masih menjaga kita di jalur yang diridloi-Nya. Kita merasa tidak nyaman dengan kesalahan yang kita lakukan dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya di kemudian hari.

Salah satu hal yang saya takutkan adalah suatu saat nikmat itu dicabut. Kesalahan yang telah menjadi kebiasaan akan berbahaya karena hati akan kehilangan sensitivitasnya dan menganggap itu bukan kesalahan lagi, walaupun akal mungkin masih mengetahui bahwa itu salah. Semoga kita terlindungi dari hal yang demikian.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Membentuk Kebiasaan Baru dalam Sekian Hari

Ada poin yang menarik bagi saya pada dialog antara Pandji Pragiwaksono dan Deddy Corbuzier dalam vlog YouTube di bawah ini. Yakni ketika Pandji bertanya berapa lama usaha yang kira-kira ia perlukan untuk memiliki badan atletis seperti Deddy.

Deddy menjawab 21 hari. Menurut Deddy, 21 hari itu adalah jumlah hari yang diperlukan untuk membentuk kebiasaan baru.

Setelah mendengar jawaban Deddy itu, saya pun googling dengan kata kunci “21 days rule to form new habit”. Saya penasaran apakah teori ini adalah teori Deddy sendiri atau ada landasan yang dia ikuti.

It turns out that the 21-day rule is really a thing. Dalam artikel ini disebutkan bahwa dr. Maxwell Maltz adalah orang yang mengeluarkan teori tersebut setelah mengamati pola yang terjadi pada pasiennya.

“These, and many other commonly observed phenomena tend to show that it requires a minimum of about 21 days for an old mental image to dissolve and a new one to jell.”

dr. Maxwell Maltz

Tapi yang juga ditekankan oleh dr. Maltz, 21 hari itu adalah jumlah hari minimum untuk menghilangkan kebiasaan lama dan membentuk kebiasaan baru. Jadi bukan selalu 21.

Pada penelitian yang lain oleh dokter yang berbeda — masih disebutkan dalam artikel yang sama — rupanya rata-rata jumlah hari yang diperlukan untuk membentuk kebiasaan baru itu adalah 66 hari. Phillippa Lally, dokter yang melakukan penelitian tersebut, menyebutkan bahwa dari hasil penelitiannya itu juga, sebetulnya jumlah hari itu bisa bervariasi mulai dari 18 hingga 254 hari, tergantung pada beberapa faktor.

Terlepas dari berapa jumlah hari yang scientifically proven, menurut saya penting juga memiliki target jumlah hari sebagai bagian dalam usaha membentuk kebiasaan baru itu. Setidaknya itu ada goal yang konkret yang bisa kita kejar dan evaluasi.

Leaderboard ITB Ultra Marathon 2018 Relay 16

Inspirasi dari Para Senior di ITB Ultra Marathon 2018

Pengalaman mengikuti ITB Ultra Marathon 2018 kemarin menyisakan beberapa hal yang masih menancap di benak saya. Yang paling berkesan tentu saja saya kagum banyak senior, terutama angkatan 90 ke bawah, yang berpartisipasi dalam event ini.

Tim peserta event relay ITB Ultra Marathon ini yang saya amati setidaknya bisa dibedakan menjadi 3 berdasarkan latar belakang anggota timnya. Pertama, tim satu angkatan ITB. Kedua, tim jurusan/program studi. Ketiga, tim UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) atau komunitas lain di ITB.

baca juga: Lari di ITB Ultra Marathon 2018

Biasanya dari nama tim bisa dikenali ini nama tim angkatan kah, atau jurusan kah, atau UKM kah. Dan saya lihat cukup banyak angkatan 90 ke bawah yang membentuk tim satu angkatan ITB.

Kekaguman saya terhadap senior itu didasari karena melihat semangat dan kesolidan mereka. Alumni yang tidak ikut berlari pun ikut datang sebagai tim pendukung. Mereka biasanya stand by di Water Station dan sebagian ada juga yang mengawal pelari.

Jumlah itu semakin bertambah banyak ketika hari terakhir di lokasi finish, di kampus ITB. Event ITB Ultra Marathon ini tampak seperti acara reunian bagi mereka.

Kekaguman saya bertambah sangat besar karena selain solid, para senior di kategori relay 16 ternyata juga berhasil finish di urutan 5 besar dari 101 tim peserta. Masing-masing angkatan 87 (posisi 2) dan angkatan 85 (posisi 5). Luar biasa ya.

Mengutip dari salah satu senior, bagi mereka pada usia segitu bisa tetap sehat dan fit adalah sebuah pencapaian. Bukan lagi finansial atau jabatan.

Tidak mengherankan sih prestasi yang diraih para senior itu. Kebetulan saya bergabung dalam grup Strava jurusan jadi bisa melihat bagaimana frekuensi latihan mereka. Latihan mereka memang sangat intensif. Catatan waktu lari marathonnya juga bagus-bagus.

Benar-benar menginspirasi sih bagi saya. Investasi tidak hanya perkara finansial saja. Kebiasaan lari (dan olahraga yang lain) itu adalah sebuah investasi juga. Usia dan kesibukan tidak bisa menjadi alasan. Kebiasaan itu bisa diperoleh jika ada kemauan yang keras dari dalam diri.

 

Doa untuk yang Tersayang

Melihat orang tersayang sedang terduduk sakit tak berdaya itu sungguh membuat hati ini sedih. Makan tak terasa sedap. Bepergian juga tak tenang.

Tak jarang air mata menetes tak tertahankan karena menyaksikan kondisinya yang tampak selalu kesakitan. Namun, di saat yang sama hati ini juga kagum dengan kesabarannya dalam menghadapi kondisi tersebut.

Ia tidak mengeluh walaupun untuk bergerak sungguh susah. Tidur juga hanya bisa sebentar-sebentar karena rasa sakit yang sering tetiba menyeruak.

Kondisinya begitu lemah. Makanan tak mampu ditelannya. Hanya sedikit air susu sebagai asupan energinya. Namun mulutnya masih bertenaga untuk senantiasa mengucapkan istighfar.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب ٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. (Surat Az Zumar : 10)

Semoga Allah senantiasa memberikannya kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi sakit yang dideritanya dan sakitnya dapat menjadi penggugur dosanya.

                                                             لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.

 “Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih. Insya Allah.” (HR. Bukhari)

Asumsi

 

Beberapa hari belakangan ini saya tengah asyik membaca buku ustadz Nouman Ali Khan yang berjudul “Revive Your Heart: Putting Life In Perspective”. Saya baru membaca beberapa bab awal. Sejauh ini saya cukup menikmati tulisan ustadz Nouman Ali Khan dalam buku itu. Tulisannya sangat ringan. Insya Allah jika saya sudah selesai membaca semuanya, akan saya tulis reviewnya.

Dalam buku itu ada satu bab yang ketika membacanya saya mencoba merenunginya. Sebab, saya merasa apa yang disampaikan oleh ustadz cukup relevan dengan kondisi kehidupan sehari-hari. Tak jarang juga mungkin tanpa disadari saya sering melakukannya. Bab tersebut membahas mengenai ‘Asumsi’.

“O you who have believed, avoid much (negative) assumption. Indeed, some assumption is sin. …” (QS. 49:12)

Kutipan di atas adalah potongan dari QS. Al-Hujurat (Chapter 49) ayat 12. Pada Surat Al-Hujurat sendiri — selain ayat tersebut — ada banyak sekali mengandung ayat yang mengajarkan prinsip-prinsip moral yang perlu dijalankan oleh setiap individu agar terbina kehidupan bermasyarakat yang ‘sehat’. Salah satunya adalah ayat tersebut yang menyuruh kita untuk mencegah diri dari membuat asumsi (yang negatif).

Asumsi. Apa itu asumsi? Kalau menurut Oxford Dictionary, pengertian asumsi adalah seperti ini:

A thing that is accepted as true or as certain to happen, without proof.
~Oxford Dictionary

Kurang lebih makna ‘asumsi’ adalah sesuatu yang kita anggap hal tersebut adalah benar padahal kita tidak memiliki bukti terhadapnya. Well, penggunaan asumsi sendiri cukup luas sebenarnya.

Dalam konteks ilmiah, hipotesis sebenarnya adalah pada awalnya adalah sebuah asumsi juga karena belum terbukti secara teori. Namun berangkat dari hipotesis tersebut kemudian dilakukan (beberapa) eksperimen dan pengujian untuk membuktikannya.

Sementara ‘asumsi’ yang dimaksud pada ayat di atas itu adalah kaitannya dengan hubungan antar manusia. Lanjutan dari potongan ayat tersebut adalah larangan untuk mencari-cari keburukan dan menggunjing orang lain.

Kalau dipikir-pikir memang benar, tak jarang terjadinya kesalahpahaman, retaknya sebuah hubungan, atau terjadinya konflik itu diawali dari sebuah asumsi. Asumsi letaknya ada di pikiran. Ketika ‘asumsi’ itu tersebar kepada orang lain, ia bisa menjadi gosip, rumor, atau bahkan fitnah.

Dalam beberapa kasus juga tak jarang seseorang merasa offended ketika tengah berdiskusi. Misalnya ketika argumennya dibantah atau ia diberikan kritikan atau nasehat. Orang tersebut merasa lawan bicaranya ingin mempermalukan dia atau menunjukkan superioritas terhadap dirinya. Bisa ditebak sikap tersebut berasal dari sebuah asumsi. Siapa yang tahu intensi lawan bicara kita kan.

Karena itu, sejak dari pikiran kita memang sudah diperintahkan untuk mencegah hal-hal yang demikian, sebelum keluar dalam ucapan maupun tindakan. Di sisi lain secara natural setiap hal yang ditangkap oleh panca indera kita akan diproses menjadi persepsi. Namun persepsi setiap orang terhadap suatu hal yang sama acapkali akan berbeda. Dalam persepsi itu tanpa disadari biasanya ada bumbu-bumbu asumsi yang ditambahkan karena keterbatasan informasi yang dimiliki.

Oleh karena itu, sebagaimana yang ditekankan oleh ustadz Nouman Ali Khan, tidak membuat asumsi itu memang memerlukan effort. Ia bukanlah hal yang terjadi secara natural seperti orang bernafas. Prinsipnya adalah, “Until you are absolutely firm about what actually is, do not pass judgement. Do not make assumptions.”  

 

 

 

 

Mendekat Kepada-Nya

Ada program bagi saya sangat menarik di NET TV Biro Jawa Barat. Yakni program mengenai kisah-kisah “hijrah” beberapa artis di Indonesia. Menarik bagi saya karena banyak ibroh yang bisa diperoleh dari kisah-kisah tersebut. Menjadi inspirasi dan sekaligus bahan untuk muhasabah diri.

Salah satunya ketika menonton liputan mengenai Yukie Pas Band ini.

Dari tayangan liputan tersebut, ada kata-kata kang Yukie yang begitu menancap di benak saya. Kang Yukie mengutip potongan sebuah hadits Qudsi yang lengkapnya seperti berikut ini:

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Tidak berhenti di situ. Kang Yukie juga mengingatkan bahwa kebalikan dari itu ialah Allah tidak akan mendekat jika kita tidak mendekat sedikitpun. Pernyataan kang Yukie tersebut entah kenapa begitu menancap dalam diri saya.

Sebagai manusia yang tak pernah luput dari khilaf, adakalanya iman kita turun. Dalam kondisi tersebut kita diuji bagaimana kita mampu bangkit. Atau malah kita semakin terpuruk ke dalam hal-hal negatif.

Ketika manusia sudah terjebak ke dalam kenegatifan, rasa pesimis, sinis, dan skeptis terhadap rahmat Allah akan selalu dibisikkan oleh syetan agar mereka semakin menjauh dari-Nya. Padahal, satu hal yang harus diingat oleh setiap manusia adalah bahwasannya rahmat Allah itu pasti, sebagaimana janji Allah dalam firman-Nya:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

Dan seperti yang dikatakan oleh kang Yukie, inisiatif itu ada pada manusia. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri apakah sudah berusaha mendekatkan diri kepada Allah atau tidak. Karena sedikit saja seorang hamba mendekat kepada-Nya, maka Allah pun akan mendekat dengan lebih cepat.