Italy's forward Antonio Cassano during a press conference at Casa Azzurri in Krakow, Poland, 12 June 2012. The Italy national team is preparing for the Uefa Euro 2012 soccer championship.      
ANSA/MAURIZIO BRAMBATTI

Wasted Talent

“I only just realised over the last few years that the problem was not the Coach, it was me. When I worked with a rigid tactician, I’d rebel. When I had a soft Coach, I’d take a nap. The truth is it wasn’t the fault of the Coach if I didn’t give my best. I realised it too late.”
– Antonio Cassano (quoted from Football-Italia.net)

Sebenarnya sangat jarang sekali saya membahas perihal pemain sepak bola di blog saya ini. Tapi beberapa hari yang lalu saya sempat membaca artikel hasil wawancara Antonio Cassano di sebuah artikel di Football-Italia.net. Bagi saya ada hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari wawancara tersebut sehingga menarik untuk saya share di blog ini.

Salah satunya adalah quote di atas, berisi tentang pengakuan Antonio Cassano bahwa dia sendirilah yang sebenarnya menghancurkan karir sepak bolanya. Untuk rekaman video wawancaranya bisa dilihat di sini, tapi tentu saja dalam bahasa Italia dan tidak ada subtitle, hehe.

“For the last 10 years people have said I was a wasted talent.”

Siapa yang tak kenal Antonio Cassano? Malang melintang bermain di klub-klub besar seperti AS Roma, Real Madrid, Inter Milan, dan AC Milan. Sejak masa mudanya bermain di klub kecil Bari, orang-orang menyebutnya sebagai wonderkid, pemain muda dengan skill cemerlang yang berpotensi menjadi pemain bintang di kemudian hari. Sebagai penggemar Liga Serie A Italia, dia termasuk salah satu pemain yang saya kagumi sewaktu kecil karena saya senang akhirnya ada pemain trequartista muda Italia yang enak ditonton setelah Alessandro Del Piero dan Francesco Totti.

Namun, nyatanya di klub-klub besar tadi Cassano gagal memenuhi potensinya. Bukan karena cedera atau tak diberikan kesempatan oleh sang pelatih, melainkan karena sikap indisipliner dan kemalasannya yang diakuinya sendiri dalam wawancara tadi. Karena itu orang bilang Cassano adalah seorang wasted talent. 

Dalam sepak bola (dan juga olahraga pada umumnya sebenarnya), selain masalah sikap indisipliner seperti kasus Cassano, saya mengidentifikasi wasted talent ini penyebabnya macam-macam. Salah satunya karena sang pemain sangat mudah mengalami cedera. Alexandre Pato, mantan pemain AC Milan, adalah salah satu nama yang cukup terkenal masuk ke dalam contoh ini. Terkait hal ini sepertinya memang di luar kuasa sang pemain.

Lalu ada juga yang karena tidak memiliki mental juara yang dibutuhkan. Alvaro Recoba, mantan pemain Inter Milan, adalah contohnya. Dia selalu bagus ketika dipinjamkan ke tim-tim kecil, tapi selalu melempem ketika kembali ke Inter Milan.

Penyebab yang lain karena sang pemain kesulitan beradaptasi di lingkungan yang baru. Juan Sebastian Veron gemilang saat bermain di Serie A bersama Parma, Lazio, dan Inter Milan. Namun, sinarnya meredup saat bermain di Liga Premier Inggris bersama Manchester United dan Chelsea. Ia gagal menampilkan kemampuan terbaiknya.

Oke, kembali ke Antonio Cassano. Banyak wasted talent di dunia sepak bola, tapi tidak banyak pemain yang pada akhirnya mengakui dia sendirilah yang merusak karirnya.

“The problem is that I ruined myself. I am lazy and I never did anything to get the best out of myself.”

Jadi pelajaran apa yang bisa diambil? Do your best! Terkesan simpel, tapi pada kenyataannya memang seringkali kita menyepelekannya.

Jangan menyalahkan faktor eksternal atau keadaan di sekitar kita. Cassano gagal mengerahkan kemampuan terbaiknya karena ia menganggap sang pelatih adalah penyebabnya. Latihan terlalu keras lah, sehingga mungkin menjadi penat menurutnya. Nyatanya ketika ditangani pelatih berbeda dengan pendekatan yang lebih santai, ia malah menjadi malas.

Memang faktor eksternal memiliki pengaruh juga, tapi pada akhirnya saya melihat ini kembali ke mindset setiap orang. Di mana pun tempat kita berkarya, lakukan yang terbaik. Tetapkan gol atau target yang setinggi mungkin, tapi tetap realistis. Jangan mau hasil yang average. Dengan demikian tanpa kita sadari kita akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi potensi kita, bahkan siapa tahumungkin kita bisa melebihinya.

Tapi tetap, disiplin memang kuncinya. Godaan untuk tidak disiplin itu memang sangat banyak. Ketika godaan untuk tidak disiplin datang, ingatlah gol-gol yang sudah kita tetapkan tadi. Jangan sampai gol itu hanya menjadi impian saja.

Sebagai penutup, dua quote dari Bruce Lee ini yang selalu menjadi penyemangat saya.

quotespictures.net quotespictures.net

quotesgram.com quotesgram.com

———
Sumber Gambar (sesuai urutan kemunculan gambar):
[1] http://www.sempreinter.com/wp-content/uploads/2013/07/cassano.jpg
[2] http://quotespictures.net/quotes-pictures-pics/2014/03/a-goal-is-not-always-meant-to-be-reached-it-often-serves-simply-as-something-to-aim-at-bruce-lee.jpg
[3] http://quotesgram.com/quotes-about-failure-leading-to-success/#sjyNPGQddp

 

4 thoughts on “Wasted Talent

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s