Social Media

FOMO, Dilema Bermedia Sosial

Sebelumnya disclaimer terlebih dahulu, saya tidak tahu apakah kata “bermedia sosial” itu tepat dalam bahasa Indonesia. Maksudnya sih ingin menyingkat kalimat “Dilema Menggunakan Media Sosial”, hehe. Kalau tidak salah, di pelajaran bahasa Indonesia pernah diajarkan bahwa imbuhan ber- itu bisa bermakna menggunakan.😀

Oke, masuk ke latar belakang saya memilih judul di atas. Jadi akhir-akhir ini saya berpikir bahwa bermedia sosial itu semakin melelahkan. Saya menilai terlalu banyak informasi dalam berbagai ragamnya di media sosial. Jadi dalam sekali scrolling, saya akan menjumpai banyak orang membagikan artikel dalam berbagai macam topik, baik itu kesehatan, makanan, teknologi, agama, politik, dan lain sebagainya.

Dahulu di awal kemunculannya Facebook, Twitter, dan jejaring sosial yang lainnya cenderung lebih sering digunakan untuk meng-update kegiatan atau curhatan pribadi. Bermedia sosial pun kala itu sangat-sangat ringan (karena tidak menemui topik yang berat). Akan tetapi menjadi tak ada manfaatnya. Karena itu dahulu saya pun bisa berpuasa menggunakan media sosial.

Informasi bertebaran di media sosial

Informasi bertebaran di media sosial [1]

Sekarang media sosial lebih sering digunakan untuk membagi artikel atau opini. Seringkali informasi terbaru malah saya dapatkan dari opini atau artikel yang dibagikan orang lain. Saya merasakan manfaat dari yang mereka bagi. Selain itu, media sosial kini juga menjadi tempat bagi saya untuk mencari tahu tren apa yang tengah terjadi. Nah, tak seperti dahulu, sekarang ketika hendak memutuskan untuk puasa bermedia sosial, seperti ada perasaan segan, takut ketinggalan informasi. Oh ya, bedakan dengan “kepo” ya.😀

Terkait dengan dilema yang saya rasakan ini, ternyata dalam dunia internet hal ini ada istilahnya. FOMO atau fear of missing out. Kata FOMO bahkan sudah terdaftar dalam Oxford English Dictionary sejak tahun 2013. Secara terminologi FOMO menurut Oxford adalah: anxiety that an exciting or interesting event may currently be happening elsewhere, often aroused by posts seen on a social media website.

Ubah FOMO jadi JOMO (Joy of Missing Out)

Ubah FOMO jadi JOMO (Joy of Missing Out) [2]

Terkait dengan FOMO ini saya menemukan satu artikel yang cukup bagus: Getting Over Your Fear of Missing Out. Artikel tersebut menjelaskan dengan bagus tentang persoalan FOMO. Cukup mencerahkan juga. Perlu dicoba nih solusi-solusi yang diberikan artikel tersebut😀. Banyak kok artikel yang membahas tentang FOMO ini.

Intinya sih di era di mana smartphone dan social media sudah menjadi cara umum manusia berkomunikasi, mungkin tanpa kita sadari FOMO ini telah menghinggapi diri kita. Level FOMO ini tentu saja bisa berbeda untuk setiap orang. Penting bagi kita untuk dapat mengontrolnya agar kita bisa tetap fokus terhadap diri kita, fokus mencapai gol-gol dalam hidup yang sudah kita tetapkan. Karena bermedia sosial itu selain melelahkan, juga memberikan distraksi yang takkan pernah ada akhirnya. 😀  

Image credit:
[1] hitsocialmedia.co.uk
[2] wonderhowto.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s