Menyimak “Perjalanan Spiritual” pada Film Life of Pi

Life of Pi

Life of Pi (marcelosantosiii.com)

Life of Pi ini sebenarnya sudah ada sejak 2001 dalam bentuk novel. Menjelang akhir tahun 2012 kemarin, tepatnya bulan November, film yang mengadaptasi novel tersebut baru saja rilis. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya dan baru sempat menonton filmnya baru-baru ini. Tapi tidak ada salahnya kan saya sedikit memberikan sedikit opini mengenai film tersebut, hehehe. Eh, tapi sebelum itu, perlu digarisbawahi ya, opini saya ini belum tentu sama sebagaimana yang dimaksudkan oleh sang author alias penulis cerita aslinya.

Oke, di menit-menit awal menonton film ini saya mulai menebak-nebak akan ke mana dialog antara Pi dewasa dan sang novel writer. Saya pun berpikiran bahwa ‘petunjuk’ menuju kepada substansi dari film ini sebenarnya secara eksplisit telah diungkapkan pada dialog (sekitar menit ke-10) ketika sang novel writer berkata pada Pi dewasa, “He (Mamaji) said you had a story that would make me believe in God.”

Salah satu scene antara sang writer dengan Pi

Salah satu scene antara sang writer dengan Pi

Dalam pandangan saya film ini — terlepas dari substansi sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh sang penulis novel yang asli — secara umum memang mengisahkan mengenai ‘perjalanan spiritual’ sang tokoh utama, Pi, dalam memercayai keberadaan Tuhan.

Di awal diceritakan bahwa Pi terlahir sebagai seorang Hindu, agama ‘pertama’-nya. “None of us knows God until someone introduces us,” begitu katanya, menyiratkan bahwa ‘pilihan’-nya atas Hindu terjadi karena memang diperkenalkan oleh orang tuanya sedari kecil.

Perjalanan spiritualnya berlanjut ketika Pi remaja berkenalan dengan Kristen dari seorang pendeta di sebuah gereja di suatu desa. Di titik tersebut Pi mengklaim ia menemukan God’s love alias kasih Tuhan di dalam Kristen. Uniknya, dalam satu monolognya Pi berterima kasih kepada Dewa Wisnu (salah satu Tuhan dalam Hindu) karena telah memperkenalkannya pada Kristen.

“But God wasn’t finished with me yet.”

Kali ini Pi berkenalan dengan Islam setelah memperhatikan umat muslim yang sholat berjamaah di sebuah masjid. Ia pun mempraktikkan ibadah sholat tersebut. Di titik itu Pi mengatakan bahwa ia menemukan ketentraman di sana. Akhirnya Pi remaja pun di saat tersebut mempraktikkan ketiga agama tersebut sebagai keyakinannya.

Sampai di titik ini saya bergumam dalam hati saya, “Wew, film ini seperti ingin menyebarkan pemahaman agama universal sebagaimana yang diusung JIL (Jaringan Islam Liberal).” Perjalanan spiritual Pi itu seperti ingin menunjukkan bahwa semua agama adalah jalan-jalan yang sah menuju Tuhan yang sebenarnya sama. Dewa Wisnu, Kristus, dan Allah yang disebutkan oleh Pi itu hanya sekedar nama untuk Tuhan yang sama di agama yang berbeda. Saya berpikir bahwa pesan itulah sebenarnya yang sedang Pi sampaikan.

Namun, hal menarik muncul di meja makan pada suatu momen makan malam keluarga kecil Pi. Kakak Pi menjadikan keyakinan Pi — meyakini dan menjalankan 3 keyakinan sekaligus bersamaan — sebagai bahan becandaan. Ayah Pi pun menimpali dengan mengatakan, “You cannot follow three different religions at the same time, Piscine, because …

believing in everything at the same time is the same as not believing in anything at all.”

Percaya kepada segalanya — dalam hal ini tentu saja yang dimaksud lebih khusus adalah agama — secara bersamaan, sama artinya dengan tidak percaya sama sekali kepada semuanya. Ayah Pi pun melanjutkan,

“Instead of leaping from one religion to the next, why not start with reason?”

Seems familiar, right? Mengingatkan kita akan kisah Nabi Ibrahim bukan? Bedanya, pada kisah Nabi Ibrahim, beliau bukannya berpindah antar keyakinan atau agama, melainkan — sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-An’am 76-79 — mencoba mengamati ‘kans’ bintang (ayat 76), kemudian bulan (ayat 77), dan kemudian matahari (ayat 78), apakah ‘layak’ untuk menjadi Tuhan. Akan tetapi, dengan reasoning-nya akhirnya beliau mematahkan kaumnya yang meyakini dan menyembah ketiganya. Dan di ayat 79 disebutkan bahwa beliau menyatakan meyakini dan megikuti agama Allah sebagai agama yang benar.

The point is Islam melalui Al-Qur’an telah banyak mengajak kita untuk menggunakan akal kita dengan mengamati dan mempelajari tanda-tanda-Nya di dunia dan alam semesta ini, sehingga akan memberikan suatu pemahaman yang meyakinkan dan pasti akan adanya Allah Sang Khaliq (Pencipta). Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang berkenaan dengan itu, di antaranya adalah Ali Imran 190, Ar-Rum 22, Al-Ghasyiyah 17-20, dsb. Pemikiran itu tentu saja harus dilakukan secara menyeluruh, deep-thinking, dan tidak sekedar ikut-ikutan terhadap apa yang dikatakan orang lain. Seorang teman pernah nge-tweet seperti ini,

“Believing in God should be initiated by reasoning. Unless it’s going to be a blind faith.”

Persis seperti apa yang dikatakan oleh Ayah Pi dalam film ini. Seandainya boleh memilih, ia lebih suka apabila Pi mempercayai sesuatu yang dirinya tidak sependapat, dibandingkan melihat anaknya mempercayai segalanya secara membabi buta. Kalau dipikir-pikir, agak menarik sih apa yang dilakukan oleh Ayah Pi terhadap anaknya. Ia mulai mengajak anaknya untuk berpikir rasional mengenai suatu kepercayaan ketika anaknya masih belum beranjak baligh.

Namun, ada beberapa pendapat Pi dewasa yang saya sangat tidak setuju dengannya. Yakni pada dialog ketika Pi mengakui bahwa saat ini dia adalah seorang pemeluk Islam, Nasrani, dan Hindu. Bahkan tak menutup kemungkinan bahwa ia seorang Yahudi pula. Lalu berikut percakapan yang terjadi:

Pi : “Faith is a house with many rooms.”

Writer : “But no room for doubt?”

Pi : “Oh, plenty. On every floor. Doubt is useful. It keeps faith a living thing.”

Kenapa saya tidak setuju? Menurut saya meyakini sesuatu tetapi memberikan ruang untuk keraguan, itu hal yang absurd. Karena bagi saya, ketika kita telah meyakini sesuatu — tentunya setelah melalui proses reasoning dan deep thinking tadi — seharusnya kita tak menyisakan lagi keraguan sedikit pun terhadapnya. Ketika ada keraguan yang sedikit itu, sama artinya kita sesungguhnya tak meyakini apa yang sedang kita yakini saat itu. Halah … kok jadi ribet begini kata-katanya. Seharusnya, begitu mendapati keraguan yang sedikit itu, kita harus segera menemukan jawabannya. Jangan membiarkannya mendekam dalam hati.

Wah, panjang juga ya yang sudah saya tulis. Padahal itu baru sekitar 20 menit dari total 2 jam durasi film ini, hahaha. Tetapi, memang selanjutnya, scene dalam film ini lebih banyak menceritakan petualangan Pi dalam usahanya untuk tetap survive bersama Richard Parker, sang harimau, di atas perahu yang terombang-ambing mengikuti gelombang air laut.

Pi di pulau misterius (apdynamicviews.blogspot.com)

Pi di pulau misterius (apdynamicviews.blogspot.com)

Di dalam kisahnya untuk survive itu, Pi sempat menganggap bahwa Tuhan-nya telah menelantarkannya. Namun, dia tersadar ketika ia terselamatkan dari pulau misterius setelah menemukan potongan gigi manusia. Ia percaya bahwa Tuhan tengah melihatnya. Ia percaya bahwa itu adalah pertanda bahwa ia harus melanjutkan perjalanannya kembali. Sampai di situ saya menduga bahwa pada bagian inilah pesan yang ingin disampaikan Pi kepada penulis (dan tentu saja para penonton) bahwasannya Tuhan itu ada. Berdasarkan kisah ini dan melihat “jalan spiritual”-nya ketika masih remaja, tak heran bila Pi kemudian mengatakan bahwa ia adalah seorang muslim, nasrani, dan hindu kepada si penulis. Sebab, ia sejatinya ingin menunjukkan bahwa esensi dari setiap keyakinan itu adalah meyakini bahwa Tuhan itu ada.

Bagi kaum muslim tentu tak cukup percaya bahwa Tuhan (Rabb) itu ada. Kita juga harus meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya agama yang diridloi di sisi-Nya (Q.S. Ali Imran 19).

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam

Dan konsekuensi terhadapnya adalah menjalankan Islam secara menyeluruh (Q.S. Al-Baqarah 208).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan)

Sekali lagi, mengutip tweet masih dari seorang teman yang sama:

Islam is not only a “religion”. It’s way of life. It guides us in any aspects: economy, politics, law … even cleansing. Comprehensive!

Ya, Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual saja, tetapi juga aspek-aspek dalam kehidupan kita. Lengkap. Semuanya telah diatur dalam Islam, baik itu terdapat dalam Al-Quran maupun yang dijelaskan dan dicontohkan oleh Rasulullah.

Ok, kembali lagi ke film Life of Pi ini. Di akhir ada satu line yang saya masih belum paham tentangnya. Yakni, ketika Pi mengatakan, “And so it goes with God.”

Line tersebut merupakan respon dari Pi atas jawaban si penulis terhadap pertanyaan Pi mengenai kedua versi cerita — cerita dengan Richard Parker vs cerita dengan beberapa awak kapal serta ibunya — yang telah ia sampaikan, “So which story do you prefer?” dan penulis menjawabnya dengan, “The one with the tiger. That’s the better story.” Setelah Pi mengatakan “and so it goes with God” itu, keduanya tersenyum. Hmm … :thinking:

Sampai saat ini saya masih belum paham apa kira-kira yang dimaksudkan oleh author Life of Pi ini pada line tersebut. Any idea? 😀

5 thoughts on “Menyimak “Perjalanan Spiritual” pada Film Life of Pi

  1. heyds

    let me comment here.. hehe.. coba tengok lagi film nya ketika pi & richard parker terkena petir dahsyat di tengah laut diatas sekoci nya (kira2 durasi ke 01:27menit).. pi berteriak: “Praise be to God, Lord of all worlds! the compassionate, the merciful!”.. bukankah itu terjemahan surah Al-Fatihah ayat 2-3? part ini yg bikin saya tercengang.. karena selama terdampar di tengah laut..pi tidak pernah “membacakan” ayat atau doa selain al-fatihah diatas.. ini hanya opini saya tanpa mendiskreditkan agama lain.. jadi opini saya selama pi terdampar dia menyebut “nama” Tuhan dengan ayat dari al-fatihah tadi.. apakah konklusi nya pi akhirnya menganut Islam? mungkin saja (menurut saya).. tapi saya tidak tahu sama sekali agama atau keyakinan apa yg dianut oleh enulis cerita/novel tersebut😉

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Yap, baru nyadar kalau dia sempat membaca 2 ayat Al-Fatihah di perahu itu. Tapi tetap saja di akhir cerita tak ada indikasi bahwa dia menganut Islam. CMIIW.

      *sudah lama nggak nonton filmnya, sudah lupa dialog di akhir ceritanya*😀

      Like

      Reply
  2. omuraiisu

    Wah ulasannya keren. (kasih dua jempol).😀
    Saya suka film ini juga. Berniat membuaat ulasannya juga, someday… hehe
    Mengenai apa yang dimaksud Pi diakhir cerita, saya baca sinopsis bukunya. Yann Martel, sang author, menyampaikan kalau bukunya dapat diringkas kedalam tiga pernyataan:
    “Life is a story… You can choose your story… A story with God is the better story.”
    Jadi saya rasa itu yg dimaksud Pi dengan “and so it goes with God” ketika “si penulis” memilih cerita yang ada harimaunya.
    Dua versi cerita Pi, baik yang dengan harimau maupun dengan yang koki, tidak memiliki bukti jelas. Kita hanya bisa memilih cerita yang ingin kita yakini. Begitu pula dengan kepercayaan kita terhadap Tuhan (Allah SWT bagiku). Tuhan tidak dapat dibuktikan dengan cara mencari-Nya, mempertanyakan dimana keberadaan-Nya, atau bagaimana wujud-Nya. Kepercayaan kita terhadapTuhan datang dari pilihan yang kita yakini. Dan jika kita melihat apa yang ada disekitar kita dan apa yang kita alami lebih mendalam, kita akan melihat bukti-bukti keberadaan Tuhan. Kita akan merasakan dan tahu bahwa hidup dengan Tuhan didalamnya adalah suatu kebenaran yang Indah.

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Hehehe, makasih mas/mbak. Saya belum sempat membaca novelnya, jadi tulisan ini hanya sebatas hasil pengamatan saya di filmnya saja. Ditunggu ulasannya.🙂

      Like

      Reply
  3. Andar Huang

    Film ini semata2 hanya memberitahu kita sisi pandangan Tuhan melihat umatnya. Pada cerita kdua dimana dia menceritakan dia yang membunuh koki yang telah membunuh pelaut jepang dan ibunya itu adalah kenyataan. Cerita pertama adalah sebuah bukti sebenarnya untuk kita. Pada cerita pertama, Pi adalah “Tuhan” dan Richars Parker ada “Pi”. Sebagaimananya manusia di dunia ini. Kita jika terlibat mslh di dunia ini, bukankah kita hanya mencari Tuhan. Sosok pulau ganggang di film tersebut adalah sosok pribadi “Pi” dimana dia yg vegetarian (simbolnya ganggang) memiliki sisi lubang besar yg membunuh kehidupan ikan di malam hari (Pi yg terpaksa membunuh dan memakan mayat koki serta pelaut Jepang). Gigi pada bunga tersebut melambangkan kanibalisme yg dia lakukan. Sewaktu Pi memanggil Richard utk meninggalkan pulau, seperti Tuhan yg mengingatkan kita utk kembali ke jalannya. Dan isi yg plg penting adalah saat mereka berdua sampai di pantai Meksiko. “Manusia cenderung mencari Tuhan saat sedang mengalami mslh berat. Memelas dan memohon kepadanya (layaknya Richard Parker yg memelas kepada Pi saat (kelaparan). Dan pada saat semua mslh selesai, kita sperti Richard Parker yg merasa semua masalah selesai karena kita yg terhebat.. lalu dengan kepala tegak meninggalkan Tuhan yg telah membantu kita ke dalam hutan manusiawi. Bagaimana sakitnya Tuhan terhadap sikap kita tersirat dari tangisan Pi saat melihat harimau yang ia beri makan meninggalkan dia tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Film ini tidak mnceritakan agama. Film ini menceritakan tentang manusia yg selalu melupakan Tuhan yg telah memberi mereka jalan terbaik untuk umatnya.. Saya kembali bertanya kepada Anda.. which stories do you like better?? Bagi saya, tetap yg pertama krn telah mengajarkan saya akan kasih Tuhan yg sebenarnya. Tanpa menyinggung mslh agama, saya ucapkan terima kasih

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s