Monthly Archives: March 2013

Prosedur Baru Pembatalan Tiket Kereta Api

Jujur, aku baru tahu ternyata PT KAI telah menerapkan prosedur baru pembatalan tiket kereta api terhitung sejak 1 Maret 2013 yang lalu. Prosedur yang baru ini kualami sendiri kemarin Jumat sewaktu membatalkan tiket di Stasiun Malang Kota Baru.

Tiket promo kereta api

Tiket kereta api

Seperti diketahui, pada sistem lama calon penumpang cukup menyerahkan tiket yang dibatalkan pada loket stasiun dan orang tersebut langsung menerima secara tunai uang sejumlah 75% dari harga tiket dan diterima saat itu juga. Prosedur tersebut sangat mudah dan tidak berbelit.

Namun, pada sistem yang baru ini calon penumpang harus mengisi formulir pembatalan tiket terlebih dahulu dan menyerahkan fotocopy-an identitas yang sesuai dengan yang tertera pada tiket. Uang hasil pembatalan tersebut tidak langsung diserahkan pada saat itu juga, tetapi baru bisa dicairkan 30-45 hari sesudahnya, bisa secara tunai atau transfer ke bank. Sungguh lama nian bukan.

Rupanya perubahan sistem ini, seperti yang disebutkan pada beberapa media massa seperti Suara Merdeka, Bisnis Jateng, dan Rada Jogja, adalah demi membatasi ruang gerak para calo. Menurutku itu alasan yang make sense sih. Aku dulu pernah berpikir, dengan sistem boarding pass — menunjukkan kartu identitas sesuai tiket — yang diterapkan PT KAI, kira-kira celah apa yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh calo.

Saat itu aku kepikiran dua: (1) Calo memberikan fotocopy-an identitas — atau bahkan kartu identitas yang “asli”, tapi tentu saja sebenarnya palsu (buat sendiri) —  yang sesuai dengan tiket kepada sasarannya. Walaupun ini agak absurd, tapi jika petugas tidak secara teliti membandingkan wajah dengan yang tertera pada identitas tersebut, calon penumpang tersebut bisa tetap lolos. Soal fotocopy-an, saya pernah beberapa kali mendapati petugas yang meloloskan calon penumpang yang cuma menunjukkan fotocopy-an kartu identitas saja karena calon penumpang beralasan macam-macam yang membuat petugas luluh. (2) Calo membuat deal dengan calon penumpang untuk membatalkan tiket yang dibelinya sehingga calon penumpang tersebut dapat membeli tiket tersebut via loket resmi sesuai identitasnya. Tentunya dalam deal tersebut, calon penumpang akan membayar ke calo di luar harga normal. Tapi untuk kasus ini sebenarnya agak berisiko sih. Bagaimana apabila di saat bersamaan di loket stasiun lain ada pula calon penumpang yang menunggu hingga detik terakhir munculnya tiket yang dibatalkan, bisa-bisa calon penumpang yang tadi deal dengan calo bisa keduluan oleh calon penumpang di tempat lain.

Hmm… sebagai catatan, aku tidak tahu “teori” di atas apakah sungguh benar terjadi di lapangan. Yang jelas, dengan sistem baru di mana pihak yang membatalkan tiket baru memperoleh uang setelah 30-45 hari, tentu akan menjadi berpikir panjang sebelum membeli ataupun membatalkan tiket. Namun, aku tetap bertanya-tanya apakah sistem yang baru ini dapat menekan angka pembatalan tiket seperti yang diklaim PT KAI bahwa ada rata-rata 20% pembatalan tiket dari total 50.000 transaksi per hari.

Advertisements

Naik Kereta Bisnis AC

Perjalanan naik KA Malabar semalam menjadi pengalaman pertamaku naik kereta kelas bisnis AC. Kalau tidak salah, sudah 1-2 bulan yang lalu kelas bisnis AC ini diperkenalkan. Tidak menggunakan gerbong yang baru, tapi hanya melakukan modifikasi pada gerbong yang sudah ada.

Tempat kipas angin sebelumnya, kini diganti dengan AC (lihat foto di bawah).

AC di kelas Bisnis

AC di kelas Bisnis

Tapi tampaknya aku tidak beruntung di pengalaman pertama ini. Entah memang sedang rusak atau memang begitu aslinya, aku tidak merasakan dinginnya AC di dalam gerbongku itu. Setidaknya hingga tengah malam. Aku justru merasa gerah hingga akhirnya harus melepas jaket. Maklum, sirkulasi udara di gerbong menjadi bergantung pada AC saja. Semua jendela di dalam gerbong ini menjadi “unopenable”. Tampaknya memang sengaja diganjal dengan sebuah skrup agar tidak bisa diangkat.

Baru ketika menjelang subuh aku mulai merasakan kedinginan. Jaket pun kembali kukenakan. Hmm … agak labil kayaknya nih AC. 😀

[Video] Peter Gade Smashes The Air

Pernah memukul angin (baca: gagal memukul shuttle cock) saat bermain badminton? Tenang … hampir semua orang pernah mengalami hal tersebut. Bahkan, seorang legenda badminton dari Denmark, Peter Gade, pun pernah melakukan hal yang sama. 😀

Coba deh, cek video ini:

By the way, tetap salutlah sama ekspresi dan bagaimana Peter Gade bereaksi terhadap kesalahannya. Dia tetap melempar senyum dan sempat membuat semacam joke dengan body language-nya yang seolah-olah mengatakan kepada penonton, “Sudahlah lupakan, lupakan … yang kalian lihat tadi tidak pernah terjadi” atau “yang kalian lihat tadi bukan Peter Gade yang melakukannya”, hihihi. 😀

Terakhir, sedikit joke dengan mengutip salah satu komentar di sana, dengan kejadian ini mulai dari sekarang Anda bisa mengklaim bahwa Anda bisa melakukan smash seperti Peter Gade, hehehe.

Feedly Aplikasi Recommended Pengganti Google Reader

Beberapa waktu yang lalu Google mengeluarkan pengumuman bahwa per 1 Juli 2013 mereka akan menutup layanan Google Reader. Tak pelak berita tersebut membuat para pengguna pun mulai mencari aplikasi penggantinya.

Beberapa situs informasi IT seperti The Verge, ExtremeTech, dan LifeHacker mulai menulis review mengenai aplikasi-aplikasi alternatif yang recommended sebagai alternatif untuk Google Reader. Feedly menjadi aplikasi yang selalu disebut di ketiga situs tersebut. Bahkan, dari hasil survei yang dilakukan oleh LifeHacker, aplikasi Feedly menempati urutan pertama dengan vote 64% sebagai aplikasi terbaik pilihan para pengguna untuk alternatif Google Reader. 

Saya sendiri sebenarnya bukan pengguna Google Reader. Mungkin hanya pernah beberapa kali membukanya saja. Thanks to Khairul, teman saya kuliah dulu, yang sudah lama merekomendasikan aplikasi ini kepada saya. Jadi, sudah cukup lama saya sebetulnya menggunakan Feedly sebagai news aggregator atau news reader.

Tampilan web Feedly

Tampilan web Feedly

Yang saya suka adalah desainnya yang cool alias lebih enak dipandang mata dan memiliki user experience yang lebih menarik daripada Google Reader. Tahu sendirilah kalau aplikasi Google Reader itu lebih “to the point”. Tanpa banyak desain yang “aneh-aneh”, langsung menampilkan apa yang menjadi fungsinya. Selain itu, yang bagus dari Feedly ini adalah daftar RSS yang kita subscribe (termasuk kategorisasinya) di Google Reader bisa kita sinkronisasi dengan Feedly ini (dan sebaliknya).

Selain bisa diakses via desktop browser, Feedly juga tersedia untuk perangkat smartphone Android dan iOS (untuk OS lain, saya kurang tahu). Daftar subscribe dan kategorinya pun juga tersinkronisasi dengan yang di browser. Saya kira karena itu jugalah alasan masih lebih memilih Feedly dibanding aplikasi sejenis di mobile seperti Pulse atau Flipboard. Yakni, karena kedua aplikasi itu tak menyediakan versi untuk web atau desktop-nya. Walaupun dari segi fitur dan user experience-nya, sebenarnya juga tidak kalah menarik.

Tampilan versi Android Feedly

Tampilan versi Android Feedly

Aplikasi Pulse pada Android

Aplikasi Pulse pada Android

Tampilan Flipboard pada Android

Tampilan Flipboard pada Android

Jika Aku Jatuh Cinta

Sebuah puisi dari Sayyid Qutb. Beliau adalah seorang ilmuwan, sastrawan, dan ahli tafsir dari Mesir yang lahir pada tahun 1906. Sedikit biografinya dapat dibaca di sini.

Puisi ini bisa menjadi semacam muhasabah atau pengingat diri ini ketika sedang jatuh cinta pada seseorang. Karena apa kita mencintai seseorang itu, bagaimana cinta kita kepadanya justru seharusnya membuat kita semakin mencintai Allah, bukan malah semakin melunturkan cinta kita pada-Nya.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.

Kekalkanlah cintanya.

Tunjukilah jalan-jalannya.

Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(Sayyid Qutb)

Sumber:
http://www.eramuslim.com/oase-iman/puisi-sayyid-qutb-ketika-ia-jatuh-cinta.htm

Car Free Day Hari Ini

Sebenarnya aku sangat jarang ikutan Car Free Day (CFD) Dago ini. Kalau nggak ada yang ngajak, sudah pasti nggak akan main ke sana. Pernah sih sesekali main ke sana sendiri cuma numpang lari pagi. Tapi itu pagi banget ketika CFD Dago masih sepi.

It’s been almost 2 months since my last visit to CFD Dago. Tiba-tiba pagi tadi Pambudi yang kebetulan lagi main ke Bandung mention ane di Twitter ngajakin main ke CFD. Terus aku pun ngajak Wafi.

Oh, ternyata Pam sudah janjian sama teman-teman Elektro-nya. Jadilah kami ketemuan sama mereka. Tapi sebenarnya cerita ketemuan sama mereka itu terjadi ketika menjelang CFD berakhir, hehe.

Aku, Pam, dan Wafi sempat mencicipi menu khusus CFD di pelataran Hotel Patra Jasa yang berada di seberang SPBU Petronas lama. Ini kali pertama aku melihat Patra Jasa ikut “berpartisipasi” di CFD. Sebelumnya belum pernah. Menunya cukup murah untuk ukuran hotel. Tapi, porsinya juga tahu sendirilah ya kalau dengan harga 12 ribu dapatnya seberapa, hehe. But like usual, mantra “sekali-sekali nggak apa-apa lah ya…” selalu ampuh untuk menghibur diri, hihi.

Sarapan di Patra Jasa

Menunggu pesanan di Patra Jasa #CFD

Sesudah makan, kami akhirnya berjumpa dengan 3 orang teman Elektro lainnya. Sejujurnya, karena aku berasal dari jurusan Informatika, aku tak banyak berinteraksi dengan mereka selama di perkuliahan dulu. Tapi kami saling mengenal karena di ITB, di tahun pertama masih belum ada penjurusan, sehingga semua yang berada di satu fakultas yang sama masih mengambil kuliah (dan sebagian juga berada di kelas) yang sama.

Kami mengobrol sepanjang jalan mengenai kesibukan masing-masing saat ini. Karena CFD akan segera berakhir (mendekati jam 10), kami beralih ke kampus ITB melalui gerbang parkir SR. Ketika masuk ke dalam kampus, topik pembicaraan berganti mengenai perkembangan kampus sekarang dan cerita-cerita nostalgia masa kuliah dulu.

Ketika mulai agak siangan, obrolan berlanjut pindah ke McD Simpang Dago. Di tengah jalan ke McD, bertemu seorang anak Elektro lainnya dan dia pun ikutan join. Jadilah kami mengobrol-ngobrol lagi mengenai bidang-bidang pekerjaan yang tengah kita geluti masing-masing di McD ini.

Tak terasa kami mengobrol hingga pukul 1 siang. Kami berpisah di sini. Pam langsung balik ke Cikarang tempatnya bekerja saat ini.

Oh man … time really flies so fast. Masa kuliah terasa baru beberapa ‘hari’ yang lalu. Tapi selalu menyenangkan bisa bertemu dan mendengarkan cerita dari kawan-kawan, terutama yang beda jurusan denganku, mengenai apa yang mereka lakukan di pekerjaan mereka. Ada yang berbisnis di bidang yang jauh dari kuliahnya, menjadi project engineer, merintis karir di perusahaan BUMN, menjalani start up IT, dsb.

Library untuk Theming Aplikasi Android

Seperti yang sudah diketahui, sebagaimana ‘termaktub’ dalam design principles Android apps, Android memiliki template layout aplikasi yang sudah diikuti oleh sebagian besar aplikasi-aplikasi Android belakangan ini.

Nah, bagi Anda para Android developer, telah tersedia — kayak iklan aje, hehehe — beberapa open source library yang bisa kita gunakan untuk mempermudah pengembangan aplikasi kita agar mengikuti design principles itu. 

Di artikel ini saya hanya ingin berbagi mengenai 4 library yang saya gunakan untuk theming aplikasi Android.

1. ActionBarSherlock

Actionbarsherlock

Sampel Actionbarsherlock

Boleh dibilang inilah “a must have” library dalam suatu project Android. Library ini sudah sangat populer. Cukup banyak aplikasi populer di Play Store yang menggunakan library ini. Yang obvious menyebutkan menggunakan library ini dalam aplikasinya, salah satunya adalah aplikasi Otaku Camera. Yang lain misalnya, Foursquare dan GitHub.

ActionBarSherlock sebenarnya adalah extension dari native ActionBar-nya Android. Nah, dengan library ini kita akan dengan mudah membuat action bar untuk aplikasi kita. Kelebihannya, action bar tersebut akan kompatibel dengan berbagai versi Android (versi 2.x ke atas).

Kita dapat mengunduh library itu di sini. Di dalamnya ada project demo yang dapat kita pelajari dan menjadikanya sebagai referensi. Ada berbagai macam variasi penerapan action bar yang dicontohkan pada project demo tersebut. Thanks to Jack Wharton yang sudah mengembangkan library ini. 🙂

 

2. ViewPagerIndicator

Sample ViewPageIndicator

Sample ViewPageIndicator

ViewPagerIndicator sebenarnya merupakan extension dari ViewPager yang native-nya Android. Bedanya, dengan menggunakan library ini kita akan dengan mudah mengkustomisasi style atau theme dari top atau bottom bar yang akan kita buat.

Kita dapat mempelajari berbagai variasi penerapan ViewPagerIndicator ini dari project demo yang terdapat di dalamnya. Mulai dari tab view standar, tab view dengan kombinasi icon + title, dsb. Selain itu, untuk kasus di mana ada beberapa tab view yang mungkin akan tak tampak oleh user karena limitasi dari lebar screen, dapat diakali dengan meletakkan indicator baik berupa icon, garis, bulatan, dsb yang bisa kita kustom. Dengan ViewPagerIndicator ini juga fitur swipe untuk navigasi antar view langsung terimplementasi.

Beberapa aplikasi PlayStore yang menggunakan library ini di antaranya Beautiful Widgets, FriendCaster, TV Show Favs, dan SeriesGuide. Lagi-lagi, thanks to Jack Wharton yang sudah mengembangkan library ini. 🙂

 

3. Android Menu Drawer

Sample MenuDrawer

Sample MenuDrawer

Ingin membuat menu drawer seperti pada Facebook, Uber Social, atau Foursquare di Android? Library MenuDrawer karya Simon Vig Therkildsen ini boleh dicoba. Anda bisa mengunduhnya di GitHub, di sini.

Sebagai catatan, mungkin ada beberapa library menu drawer lain. Tapi hasil baca-baca di stack overflow, sepertinya inilah library paling direkomendasikan untuk membuat menu drawer. Ternyata lagi-lagi Jake Wharton juga ikut berkontribusi dalam mengembangkan library ini.

Sama seperti dua library yang disebutkan sebelumnya, di dalam project pada GitHub itu juga include project demo-nya. Kita bisa mempelajari variasi penggunaan library ini dari contoh-contoh yang ada.

 

 

 

4. PullToRefresh

Sampel PullToRefresh

Sampel PullToRefresh

Sebenarnya ini agak out of topic dengan topik dalam tulisan ini yang lebih menekankan library-library yang mempermudah kita dalam mengembangkan aplikasi Android yang sesuai dengan design guideline-nya Android. Tapi okelah, anggap saja ini sebagai bonus (emang apaan … kuis berhadiah kalee, hehehe). 😀

Para pengguna aplikasi Android tentu sudah familiar dengan action “pull to refresh”. Tulisan itu biasanya akan muncul ketika kita menarik suatu bidang view konten aplikasi — baik berupa list atau view biasa — hingga ke batas maksimum atau minimumnya. Setelah itu yang terjadi adalah aplikasi akan menge-load konten sebelum atau sesudah current content yang tengah ditampilkan.

Nah, untuk menambahkan fitur tersebut pada aplikasi, kita tak perlu membuatnya dari nol lagi karena sudah ada library yang membantu kita untuk mengimplementasikan itu. Sebagai catatan, library untuk pull to refresh itu mungkin ada banyak. Tapi sejauh ini yang sesuai dengan kebutuhan saya sehingga saya rekomendasikan di tulisan ini adalah library PullToRefresh karya Chris Banes. Anda bisa mengunduhnya di sini.

Salah satu fiturnya yang sesuai dengan kebutuhan saya adalah bisa pull to refresh dari kedua sisi, atas dan bawah. Selain itu, yang penting adalah tersedianya demo dan penjelasan mengenai bagaimana penggunaannya, sehingga mudah saya mengerti. View yang bisa di-pull to refresh tidak hanya ListView saja, tapi WebView, ScrollView, GridView, dsb. pun juga didukung dan diberikan contoh penggunaannya. Sayang, kekurangannya adalah hanya support Android untuk versi 2.3 ke atas.

Kesimpulan

Ada banyak sebenarnya library-library yang mempermudah kita dalam mengembangkan aplikasi Android yang sesuai dengan guideline. A must havelibrary yang akan sangat membantu adalah ActionBarSherlock.

Perlu dicatat, sebenarnya kita pun bisa mengimplementasikan action bar atau view pager native dari Android Support Library. Tapi dengan menggunakan ActionBarSherlock dan ViewPagerIndicator akan lebih mudah bagi kita untuk mengimplementasikannya. Keduanya adalah karya Jake Wharton.

Apabila ingin membuat menu aplikasi yang ‘tidak biasa’, seperti Facebook atau Uber Social dengan menu drawer-nya, sudah ada library yang tersedia untuk itu yang bisa kita manfaatkan, yaitu karya Simon Vig Therkildsen yang bisa diunduh di sini. Begitu pula fitur pull to refresh” untuk memperbaharui konten, juga telah tersedia library-nya, salah satunya adalah karya Chris Banes yang bisa diunduh di sini.

Anda punya rekomendasi library yang lain? Silakan share di sini. 🙂