Tag Archives: dago

Halaman Lisung

[Kuliner] Lisung The Dago Boutique Resto

(Lagi-lagi) masih seputar kuliner. Jadi sekitar 3 minggu yang lalu (21/2) aku dan 3 orang teman kontrakan keluar malam mingguan untuk nyobain tempat kuliner baru (maklum jomblo-jomblo jadi malam mingguannya ya sama teman-teman kontrakan, eh ada satu ding yang LDR, wkwkwk).

Sebelum berangkat, kami googling-googling dulu tempat yang ada di sekitaran Dago atas. Kenapa kami pilih Dago atas, karena tempatnya nggak terlalu jauh dari kontrakan, suasananya lebih adem, dan banyak pilihan tempat kuliner. Kriteria tempat yang kami cari waktu itu, punya menu dan tempat yang nggak biasa.

Akhirnya tanpa disengaja ketemulah tempat makan yang namanya “Lisung” (Apakah ada hubungannya dengan lesung pipit? Entahlah). Katanya sih tempatnya romantis. Eitss… tahan dulu, tentu saja ini bukan alasan satu-satunya kami memutuskan untuk pergi ke sana. Masa iya Continue reading

Advertisements

Tebing Keraton yang Lagi Happening

Entah bagaimana mulanya tiba-tiba nama “Tebing Keraton” menjadi populer, terutama di internet. Konon kata teman sih, semua itu berubah terjadi sejak negara api menyerang Ridwan Kamil, walikota Bandung yang memang gaul abis, foto selfie di sana. Tahu sendiri kan follower beliau baik di Instagram, Twitter, dan Facebook sungguh bejibun. Dan mayoritas adalah anak muda yang aktif di social media juga. Jadi make sense saja sih begitu beliau selfie di sana anak-anak muda ingin mengikuti. Apalagi view Tebing Keraton memang oke dijadikan tempat narsis, haha.

Aku sendiri mendengar nama Tebing Keraton pertama kali dari salah seorang teman di grup backpacker Indochina kemarin pasca lebaran. Dia ngajakin anak-anak untuk main ke sana. Tapi berhubung kesibukan masing-masing yang berbeda, rencana untuk ke sana bareng-bareng belum jelas kapan bisa terlaksana.

Akhirnya kemarin pagi (23/08) aku mengajak Kamal, teman satu kontrakan, pergi ke sana. Kami berangkat pukul 6 pagi dari rumah kontrakan kami yang berada di daerah Cisitu dengan mengendarai motor berboncengan. Temanku sudah menyalakan aplikasi GPS logger untuk merekam rute yang kami lalui ke sana. Ya kali ada yang butuh. Soalnya kami cek di Google Maps belum ada keterangan menuju ke sana.

Perjalanan ke sana dari tempat kami kira-kira membutuhkan waktu 20 menitan. Dari Cisitu sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya. Berdasarkan catatan aplikasi GPS Logger kami, jaraknya hanya 8,5 km (lihat peta di bawah).

Rutenya cukup mudah. Check point pertama adalah Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda. Petunjuk jalan ke arah sana dari Dago sudah sangat jelas. Jalannya pun masih mulus.

Beberapa meter dari Tahura kita akan menemui percabangan jalan berbentuk Y. Ambil jalan ke kanan. Dari situ kita tinggal mengikuti jalan saja terus sampai tiba di check point kedua, yakni Warung Bandrek atau yang biasa dikenal dengan sebutan Warban saja.

Di Warban ini lagi-lagi kita akan mendapati percabangan berbentuk Y. Kali ini ambil jalan ke kiri. Setelah itu tinggal mengikuti jalan terus sampai tiba di Tebing Keraton. Mendekati Tebing Keraton kita akan mendapati sepeda motor-sepeda motor yang terparkir di tepi-tepi jalan (kecuali Anda datang paling pertama, tentu nggak ada sepeda motor parkir di sana, hehe). Di sanalah tempat parkir sepeda motor pengunjung Tebing Keraton ini. Begitu tiba kita akan diberi karcis parkir dan diminta membayar Rp5.000 untuk biaya parkir.

Salah satu titik parkir

Salah satu titik area parkir

Jalanan dari Cisitu sampai Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda cukup mulus dan lancar. Namun, begitu mengendarai beberapa puluh meter dari Tahura, jalan mulai memburuk. Aspal jalan sudah tak berbentuk lagi. Lubang di mana-mana. Sebagian besar jalan tinggal menyisakan bebatuan kerikil saja. Selain itu, di beberapa ruas jalanan juga cukup menanjak. Apalagi jalan setelah Warung Bandrek. Beberapa motor kemarin kulihat pemboncengnya terpaksa turun agar motor dapat melaju naik.

Untuk menikmati Tebing Keraton ini, pengunjung dipungut tiket masuk sebesar Rp11.000 untuk turis lokal, atau Rp76.000 untuk turis asing. Biaya segitu sudah termasuk premi asuransi sebesar Rp1.000. Dan aku baru tahu ternyata penetapan tiket masuk ini baru dimulai sejak tanggal 8 Agustus ini. Sepertinya sebelum itu masih gratis atau sukarela bayarnya. Sayangnya tiket masuk Tebing Keraton ini masih menggunakan tiket masuk yang sama dengan Tahura. Tulisan “Rp7.500” yang menjadi harga tiket masuk Tahura ditutupi dengan ditempeli karcis premi asurasi.

Baliho harga tiket masuk

Baliho harga tiket masuk

Tiket masuk

Tiket masuk

Setelah memperoleh tiket masuk, kami pun berjalan ke Tebing Keraton. Dari pintu masuk masih perlu berjalan sekitar 100 meter menyusuri jalan setapak untuk sampai di tebing yang menjadi tempat favorit pengunjung menyaksikan view. 

Jalan setapak

Jalan setapak

Pagi itu walaupun jam “masih” menunjukkan pukul setengah 7 pagi, pengunjung sudah memadati tebing. Kami kesulitan untuk mencapai tempat the best untuk menikmati view yang berada di ujung tebing karena masih ditempati oleh rombongan lain.

Padatnya pengunjung Tebing Keraton

Padatnya pengunjung Tebing Keraton

View yang ditawarkan adalah deretan gunung-gunung sebagai background, kemudian kawasan hutan di depannya yang diselimuti kabut-kabut. Selain itu tentu saja view sinar matahari yang terbit dari celah-celah pegunungan di sebelah timur. Kuakui view yang ditawarkan cukup cantik. Aku paling suka dengan kabut-kabut putih yang menyelimuti area hutan di bawah tersebut. Seolah menyimpan kesan misterius di dalamnya.

Matahari terbit di sisi timur

Matahari terbit di sisi timur

View panorama di hadapan Tebing Karaton

View panorama di hadapan Tebing Karaton

View Pegunungan dan hutan yang diselimuti kabut

View Pegunungan dan hutan yang diselimuti kabut

Sebenarnya untuk melihat view itu tidak harus dari ujung tebing keraton sih. Dari bagian mana saja bisa. Namun, pandangan kita kurang lega karena sedikit terhalang oleh pepohonan atau pagar di tepi tebing.

Oh ya, soal mengapa dinamakan Tebing Keraton, ternyata di sana sudah dipasang “prasasti” yang akan menghapus rasa penasaran atas pertanyaan tersebut. Penulisan yang betulnya seharusnya “Karaton” bukan “Keraton”. “Karaton” yang dimaksud dalam bahasa Sunda lebih diartikan sebagai sebuah kemewahan alam. Jadi bukan “Keraton” yang identik dengan bangunan istana kerajaan. Namun, di social media nama yang sudah terlanjur populer adalah Tebing Keraton pakai “e”.

Sebelum nama Tebing Karaton sendiri tempat itu katanya sudah memiliki nama sendiri, yakni Cadas Jontor. Dinamakan demikian karena cadas tersebut menonjol ke depan dan memiliki ketinggian yang berbeda dengan cadas-cadas di sekitarnya.

Cerita asal mula nama Tebing Karaton

Cerita asal mula nama Tebing Karaton

Sejam saja aku dan Kamal berada di sana. Setelah itu kami pergi meninggalkan Tebing Karaton. Oh ya, waktu kunjungan Tebing Keraton yang diizinkan adalah mulai pukul 5 pagi hingga 6 sore (05.00-18.00).

Kesanku terhadap Tebing Karaton, view-nya memang oke. Namun, dengan harga tiket masuk segitu (Rp11.000), menurutku tak sebanding. Apalagi jika aku adalah turis asing dan datang ke sana membayar USD7 (anggap 76 ribu itu sekitar USD7). Ibaratnya sudah susah-susah ke sana, namun tak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan selain cuma melihat view saja. Masih mending ke Tahura yang tiket masuknya lebih murah, dan bisa puas menjelajahi area hutan yang sangat luas, bertandang ke Goa Jepang/Belanda, jogging di sana, dsb. Yah, ini cuma opini pribadi saja.

Gowes Menikmati Kota Bandung

Ada salah satu cara untuk menikmati Kota Bandung yang perlu dicoba, yakni dengan bersepeda a.k.a gowes. Apalagi jika dilakukan beramai-ramai, semakin menambah keseruan dan keasyikan. Itulah yang aku dan teman-teman lakukan weekend kemarin (Sabtu, 28/12).

Sejak diresmikan pada tanggal 10 Juni 2012, baru kali ini aku nyobain nyewa sepeda di shelter Bike.Bdg ini. Sementara ini baru ada beberapa shelter di kawasan Dago dan Buah Batu saja. Yang ku tahu shelter-shelter di kawasan Dago antara lain di depan kampus ITB (Jl. Ganeca), depan gedung BCA Dago (persimpangan dengan Jl. Dipati Ukur), belakang gedung Anex ITB (di bawah jembatan layang Pasupati), dan di depan Unikom Jl. Dipati Ukur (yang satu ini aku kurang begitu mengamati apakah masih ada atau tidak).

Jadi ceritanya Sabtu itu salah seorang teman ane dari Jakarta lagi main ke Bandung dan mencetuskan ide untuk nggowes itu. Maklum, dia lagi hobi nggowes beberapa bulan belakangan ini. Bersama tiga orang yang lain yang juga lagi di Bandung, jadilah kita menyewa sepeda di shelter Bike.Bdg. Sebenarnya aku ada sepeda sendiri, tapi pingin juga nyobain nyewa sepeda yang di shelter-shelter itu.

Pertama kita datang ke shelter belakang gedung Anex. Sayang sekali, saat itu shelternya lagi nggak ada yang jaga, saudara-saudara. Akhirnya jalanlah kita ke shelter depan BCA Dago. Alhamdulillah shelternya buka. Shelter BCA Dago ini tampaknya yang memang paling hampir dipastikan selalu buka. Mungkin karena lokasinya yang strategis, sehingga kemungkinannya lebih besar orang-orang untuk menyewa ke sini.

Biaya sewa adalah 3000/jam, KTP/SIM/KTM atau kartu identitas yang lain ditinggal di shelter. Kalau sudah punya kartu anggota, tidak perlu meninggalkan kartu identitas (kalau nggak salah begitu). Sebenarnya biaya itu cukup murah sih menurutku dengan mempertimbangkan ada pemasukan juga yang diperlukan pengelola untuk pemeliharaan sepeda-sepeda itu.

Waktu ke sana, kondisi sepedanya kebanyakan masih bagus sih, artinya pedal masih nyaman dikayuh, rem benar-benar pakem, shifter masih bisa digunakan, rear deraillur masih oke. Memang sih beberapa sepedanya sudah mulai kelihatan berkarat. Tapi masih aman untuk digunakan lah. Jenis sepedanya adalah city bike.

Nyewa sepeda di shelter Dago

Nyewa sepeda di shelter Dago

Setelah selesai urusan administrasi — cuma nyatet nama di buku dan ninggalin kartu identitas aja sih — kami langsung mulai mengayuh sepeda kami. Tapi bingung juga tujuannya ke mana, haha. Akhirnya diputuskan untuk keliling-keliling dulu di kawasan perumahan elite dan kafe antara Dipati Ukur dan Dago ini. Di sana jalanan cukup teduh karena banyak pepohonan besar, tinggi nan menjulang, dan rindang.

Tapi ternyata butuh waktu sebentar saja kami muter-muter di sana. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan gowes hingga ke Braga. Rutenya melewati Jl. Ir. Haji Juanda-BIP-Jl. Aceh-Jl. Kalimantan-Jl. Jawa-Jl. Merdeka-Jl. Lembong-Jl. Braga. Sepanjang jalan Juanda sampai Jawa masih enak karena banyak pepohonan rindang. Bahkan di Jalan Aceh terdapat lane khusus sepeda. Jadi merasa lebih aman bersepeda di sana.

Dari Braga kami melanjutkan perjalanan lagi ke Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika. Di sana kami cuma duduk-duduk saja sih. Foto-foto, menikmati es duren dan cimol yang dijual pedagang kaki lima yang kebetulan jualan di dekat situ.

Di Gedung Merdeka

Di Gedung Merdeka

Dari Gedung Merdeka kami gowes lagi melalui Jl. Braga-Jl. Suniaraja-Jl. Stasiun Timur kemudian mampir ke Paskal Hyper Square. Beberapa dari kami baru pertama kali ke situ. Penasaran di dalamnya ada apaan sih. Akhirnya sepedaan muter-muter di kompleks tersebut. Kami juga sempat beristirahat beberapa menit di sana.

Setelah itu, lanjut gowes lagi. Tujuan kami selanjutnya mau ke OZ Radio. Lho kok? Iya, beberapa di antara kami kan besoknya mau ikut event lari OZ Color Me Bandung itu. Di sana tempat pengambilan race pack-nya. Jadilah sekalian kami gowes sampai sana. Jadi rute sepedanya dari Paskal Hyper Square lewat Jl. Pasir Kaliki-Jl. Sukajadi-Jl. Bungur-Jl. Prof. Dr. Sutami-Jl. Setrasari-OZ Radio. Sewaktu di Jl. Bungur, jalannya menanjak banget, baru terasa beratnya. Tapi enaknya di sana adem, banyak pepohonan. Kalau Pasir Kaliki dan Sukajadi, sudah jarang pepohonan, macet pula.

Di depan OZ Radio

Di depan OZ Radio

Sebelum ke OZ Radio, kami sempat mampir makan mie ayam di Jl. Dr. Sutami yang kata teman cukup populer di situ. Setelah mengambil race pack, kami balik ke Dago melalui Jl. Bungur-Jl. Cemara-Jl. Cipaganti-Jl. Setiabudi-Jl. Cihampelas-Jl. Siliwangi-Jl. Dipati Ukur. Di tengah rute itu sempat mampir istirahat di sebuah taman di pertigaan Setiabudi-Cipaganti. Dari Dipati Ukur kami muter-muter lagi di kawasan perumahan elit dan kafe di sana sebelum mengembalikan sepeda.

Total waktu sewa kami adalah 4 jam lebih 5-10 menit. Lama juga ya. Tapi serius, nggak terasa lho karena memang menyenangkan gowes ramai-ramai. Jadi total biaya sewanya 15.000 rupiah per sepeda. Padahal tadi niatnya mau dipasin 4 jam, biar nggak rugi-rugi amat, hehe.

Btw, kalau taman-taman kota yang direncanakan oleh Pak walikota sudah jadi (2014, Ridwan Kamil ingin ada 6 taman baru di Bandung), bakal makin seru nih sepedaan dalam kota Bandung. Taman-taman tersebut bisa menjadi alternatif untuk tujuan rute bersepeda. Kolaborasi tersebut — taman dan bersepeda — bakal menjadi alternatif yang menarik untuk menikmati Bandung. Masa ke Bandung jalan-jalannya cuma ke mall atau factory outlet melulu. 😀

Dago Pagi Ini

Tumben-tumbenan pagi tadi sekitar pukul 7 jalanan Dago bisa sepi banget. Mungkin karena hari ini tanggal merah karena bertepatan dengan hari Natal. Kalau hari biasa, pasti ramai banget di sini orang-orang pada berangkat ke sekolah atau kantor. Kalau hari minggu, tetap ramai juga karena warga tumplek blek di sini untuk menikmati car free day.

Makanya, pas banget tadi aku memutuskan untuk lari pagi di jalanan Dago ini. Jadi bisa merasakan sejuknya kawasan Dago. Selain karena banyaknya pepohonan rindang di sepanjang jalan sana, juga karena masih sedikit asap kendaraan yang beredar di sana. Biasanya aku lari pagi di lapangan SARAGA (Sasana Olahraga Ganesha).

Cukup banyak juga ternyata yang berolahraga pagi di area Dago ini. Definisi “cukup banyak” di sini, maksudnya paling nggak ada 10 orang lah yang kulihat. Kebanyakan sih bersepeda, lainnya cuma ada 1-3 orang yang lari pagi.

Ada pemandangan berbeda yang menarik perhatianku. Pertama, di sepanjang median jalan dipasang pot-pot besar berisikan pohon. Kalau tidak salah, pot-pot itu baru dipasang awal pekan ini (baca beritanya di sini). Kedua, tempat-tempat sampah bukan terbuat dari fiber/tong lagi, melainkan berupa kantong keresek yang terbuat dari bahan tapioka. Kalau yang satu ini, sudah agak lama sih diluncurkannya. Sekitar minggu kedua bulan Desember ini (baca beritanya di sini). Kerenlah, bener-bener Go Green sekarang mah!

Pot-pot di median jalan

Pot-pot di median jalan kawasan Dago

Tempat sampah dari kantong keresek berbahan tapioka

Tempat sampah dari kantong keresek berbahan tapioka

Run To Work

Akhirnya tadi pagi nyobain juga lari ke tempat kerja alias “Run To Work”. Tapi jangan bayangkan aku berlari dengan mengenakan tas dan pakaian rapi untuk dipakai kerja. Sehari sebelumnya semua perlengkapan kerja, termasuk pakaian dan laptop, kutinggal di kantor. Aku hanya berlari dengan mengenakan kaos lari dan tas punggung kecil.

Jarak kosan dengan kantor lewat jalan ‘normal’ sebenarnya cuma sekitar 3-4 km saja. Namun, karena ingin mendapatkan jarak yang lebih jauh agar berkeringat lebih banyak, aku memilih jalan memutar lewat Dago Pojok dan Dago Atas. Lumayan bisa menambah jarak hingga 3 km.

Tiga kilometer pertama kontur jalan lebih banyak berupa tanjakan (bisa dilihat di diagram di bawah). Setelah itu, jalanan terus menurun hingga ke kantor. Berlari di jalan raya memang jauh berbeda dengan berlari di trek lari khusus. Pelari harus berhati-hati dengan lalu lalang kendaraan di sekitar. Karena itu tak heran average pace saat lari kemarin menurun hingga 6:29 menit/km. Padahal biasanya rata-rata di trek mendatar average pace sekitar 5 menit/km.

Begitu sampai di kantor, pendinginan sebentar, terus mandi. Wuih … segarnya. 😀

lari dago-cigadung

 

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui

 

Car Free Day Hari Ini

Sebenarnya aku sangat jarang ikutan Car Free Day (CFD) Dago ini. Kalau nggak ada yang ngajak, sudah pasti nggak akan main ke sana. Pernah sih sesekali main ke sana sendiri cuma numpang lari pagi. Tapi itu pagi banget ketika CFD Dago masih sepi.

It’s been almost 2 months since my last visit to CFD Dago. Tiba-tiba pagi tadi Pambudi yang kebetulan lagi main ke Bandung mention ane di Twitter ngajakin main ke CFD. Terus aku pun ngajak Wafi.

Oh, ternyata Pam sudah janjian sama teman-teman Elektro-nya. Jadilah kami ketemuan sama mereka. Tapi sebenarnya cerita ketemuan sama mereka itu terjadi ketika menjelang CFD berakhir, hehe.

Aku, Pam, dan Wafi sempat mencicipi menu khusus CFD di pelataran Hotel Patra Jasa yang berada di seberang SPBU Petronas lama. Ini kali pertama aku melihat Patra Jasa ikut “berpartisipasi” di CFD. Sebelumnya belum pernah. Menunya cukup murah untuk ukuran hotel. Tapi, porsinya juga tahu sendirilah ya kalau dengan harga 12 ribu dapatnya seberapa, hehe. But like usual, mantra “sekali-sekali nggak apa-apa lah ya…” selalu ampuh untuk menghibur diri, hihi.

Sarapan di Patra Jasa

Menunggu pesanan di Patra Jasa #CFD

Sesudah makan, kami akhirnya berjumpa dengan 3 orang teman Elektro lainnya. Sejujurnya, karena aku berasal dari jurusan Informatika, aku tak banyak berinteraksi dengan mereka selama di perkuliahan dulu. Tapi kami saling mengenal karena di ITB, di tahun pertama masih belum ada penjurusan, sehingga semua yang berada di satu fakultas yang sama masih mengambil kuliah (dan sebagian juga berada di kelas) yang sama.

Kami mengobrol sepanjang jalan mengenai kesibukan masing-masing saat ini. Karena CFD akan segera berakhir (mendekati jam 10), kami beralih ke kampus ITB melalui gerbang parkir SR. Ketika masuk ke dalam kampus, topik pembicaraan berganti mengenai perkembangan kampus sekarang dan cerita-cerita nostalgia masa kuliah dulu.

Ketika mulai agak siangan, obrolan berlanjut pindah ke McD Simpang Dago. Di tengah jalan ke McD, bertemu seorang anak Elektro lainnya dan dia pun ikutan join. Jadilah kami mengobrol-ngobrol lagi mengenai bidang-bidang pekerjaan yang tengah kita geluti masing-masing di McD ini.

Tak terasa kami mengobrol hingga pukul 1 siang. Kami berpisah di sini. Pam langsung balik ke Cikarang tempatnya bekerja saat ini.

Oh man … time really flies so fast. Masa kuliah terasa baru beberapa ‘hari’ yang lalu. Tapi selalu menyenangkan bisa bertemu dan mendengarkan cerita dari kawan-kawan, terutama yang beda jurusan denganku, mengenai apa yang mereka lakukan di pekerjaan mereka. Ada yang berbisnis di bidang yang jauh dari kuliahnya, menjadi project engineer, merintis karir di perusahaan BUMN, menjalani start up IT, dsb.

Jalan-Jalan di Car Free Day

Pagi ini tadi saya jalan-jalan menikmati suasana pagi Kota Bandung di area Car Free Day (CFD) Dago. Akhirnya… 😀

Seriously, ini adalah pengalaman pertama saya jalan-jalan di CFD :P. Walaupun daerah kosan saya tidak berada jauh dari area CFD Dago, tapi entah kenapa saya kurang begitu berminat untuk main-main ke sana. Waktu hari Minggu pagi biasa saya habiskan untuk, kalau nggak main voli di kampus, lari pagi di SARAGA, atau nyuci-nyuci pakaian di kosan, hehehe.

Nah, pagi hari ini tadi rencana untuk main ke CFD akhirnya konkret juga. Bersama teman-teman sekontrakan seperti bung Adi, bung Kamal, dan bung Haris, serta bung Umar, kami berangkat bersama-sama ke kawasan CFD. Ternyata seperti ini toh suasana CFD itu. Banyak aktivitas yang dilakukan para warga Bandung di area ini. Ada yang olahraga senam, sepedaan, main sepatu roda, main egrang, dan main skateboard. Selain itu, ada juga perusahaan-perusahaan yang numpang ngiklan atau promosi produk di sana. Yang mahasiswa-mahasiswa juga nggak ketinggalan ada yang ngedanus atau promosi acara mereka. Terakhir, tentu saja banyak pedagang dadakan yang bertebaran di sepanjang area CFD.

Yang jelas suasananya bener-bener ramai banget. Semua orang tumpah ruah di sana. Sepertinya, momen CFD memang banyak dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman-teman sejawat. Kalau ingin berolahraga kurang pas kalau di CFD, lebih enak di SARAGA, kecuali kalau mau bersepeda. 😀

Orang-orang bersepeda

Orang-orang bersepeda

Ibu-ibu senam

Ibu-ibu senam

Jalan-jalan

Jalan-jalan

DAGO

DAGO