Category Archives: Bandung

Jalan-Jalan di sekitaran Bandung

Melihat Pembangunan Bandung di Bandung Planning Gallery

Bertambah lagi satu tempat menarik di Kota Bandung yang bisa menjadi pilihan destinasi kita untuk berwisata. Bandung Planning Gallery (BPG) namanya. Baru saja diresmikan pada tanggal 1 Agustus 2017 kemarin.

Lokasinya sangat strategis, berada di Jl. Wastukencana no. 2. Masih berada dalam kompleks yang sama dengan Balai Kota Bandung. Posisinya tepat di samping Taman Sejarah, menghadap ke Jl. Aceh.

Taman Sejarah

Taman Sejarah

Parkir

Ada beberapa tempat parkir yang bisa tersedia untuk pengunjung. Pertama, tempat parkir yang terletak persis di samping BPG  (masuk dari Jl. Aceh). Selain itu pengunjung juga bisa parkir di tempat parkir halaman balai kota, baik yang menghadap Jl. Wastukencana ataupun yang menghadap Jl. Merdeka.

Saya sendiri karena waktu itu belum tahu lokasi persis BPG ini, akhirnya parkir di halaman Balai Kota. Setelah itu dari sana saya berjalan kaki melalui jalan tembus menuju Taman Sejarah. Ketika sampai di BPG baru tahu di sana ternyata tersedia tempat parkir juga.

Jam Buka

Bandung Planning Gallery ini hanya buka pada hari Senin-Sabtu saja. Hari Minggu dan hari libur nasional mereka tutup. Jam bukanya dari pukul 09.00 hingga 16.00. Ada jam istirahat pukul 12.00-13.00.

Waktu berkunjung ke sana, kebetulan jam kedatangan saya Continue reading

Advertisements

Main ke Teras Cikapundung

Sejak Bandung dipegang Ridwan Kamil, ruang-ruang publik di Kota Bandung ini mulai mendapatkan perhatian yang serius. Taman-taman kota yang sudah ada direnovasi menjadi lebih cantik dan public-friendly. Beberapa taman baru juga dibuat. Salah satunya adalah Teras Cikapundung.

Teras Cikapundung ini sebenarnya sudah dibuka sejak akhir tahun lalu. Namun baru-baru ini saja saya menyempatkan main ke sana bersama seorang teman. Nggak baru-baru banget juga sih, udah 2 bulan yang lalu kayaknya, tapi baru sempat cerita sekarang, wkwkwkwk.

Saya ke sana pada hari Minggu. Suasananya sungguh ramai ketika itu. Kebanyakan warga datang ke sana bersama keluarganya. Tak sedikit pula kelompok muda-mudi yang berkunjung ke sana. Meriah banget lah pokoknya.

Saya ingat ketika jaman saya masih kuliah dulu, lahan Teras Cikapundung ini dulunya adalah kawasan yang kurang tertata. Dahulu di kawasan tersebut terdapat tempat untuk penampungan barang-barang rongsok dan sampah sementara. Juga ditempati oleh sejumlah rumah bedeng. Namun kini sudah Continue reading

Jalan-Jalan Ke Dusun Bambu

Pertengahan September yang lalu salah seorang teman saya main ke Bandung. Dia memang cukup sering main ke Bandung. Biasanya kami pergi nonton ke mall atau kulineran. Bosan ke mall lagi ke mall lagi tiap ke Bandung, secara impulsif kami tiba-tiba kepikiran ide main ke Dusun Bambu yang berlokasi di Lembang. Kebetulan kami berdua sama-sama belum pernah ke sana.

Dusun Bambu sendiri sebenarnya termasuk tempat wisata yang baru. Tahun ini usianya baru menginjak tahun ketiga. Namun tempat wisata ini sudah sangat populer di kalangan wisatawan.

Tak mengherankan sih. Dusun Bambu memang memiliki banyak landscape menarik di dalamnya. Istilah anak generasi Y landscape-nya instagrammable bangetlah

Perjalanan Menuju Dusun Bambu

Perjalanan menuju Dusun Bambu ini tidaklah sulit. Jika dilihat di Google Maps, dari daerah Dago jarak ke Dusun Bambu ini sekitar 17 km. Kami ke sana hari Sabtu siang jam 11-an. Jalanan alhamdulillah sangat lancar. Hanya macet di Jalan Cipaganti dan sekitaran Terminal Parongpong. Itu pun tidak panjang.

Kalau dihitung, perjalanan kami dengan mengendarai sepeda motor kurang lebih memakan Continue reading

Tebing Keraton yang Lagi Happening

Entah bagaimana mulanya tiba-tiba nama “Tebing Keraton” menjadi populer, terutama di internet. Konon kata teman sih, semua itu berubah terjadi sejak negara api menyerang Ridwan Kamil, walikota Bandung yang memang gaul abis, foto selfie di sana. Tahu sendiri kan follower beliau baik di Instagram, Twitter, dan Facebook sungguh bejibun. Dan mayoritas adalah anak muda yang aktif di social media juga. Jadi make sense saja sih begitu beliau selfie di sana anak-anak muda ingin mengikuti. Apalagi view Tebing Keraton memang oke dijadikan tempat narsis, haha.

Aku sendiri mendengar nama Tebing Keraton pertama kali dari salah seorang teman di grup backpacker Indochina kemarin pasca lebaran. Dia ngajakin anak-anak untuk main ke sana. Tapi berhubung kesibukan masing-masing yang berbeda, rencana untuk ke sana bareng-bareng belum jelas kapan bisa terlaksana.

Akhirnya kemarin pagi (23/08) aku mengajak Kamal, teman satu kontrakan, pergi ke sana. Kami berangkat pukul 6 pagi dari rumah kontrakan kami yang berada di daerah Cisitu dengan mengendarai motor berboncengan. Temanku sudah menyalakan aplikasi GPS logger untuk merekam rute yang kami lalui ke sana. Ya kali ada yang butuh. Soalnya kami cek di Google Maps belum ada keterangan menuju ke sana.

Perjalanan ke sana dari tempat kami kira-kira membutuhkan waktu 20 menitan. Dari Cisitu sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya. Berdasarkan catatan aplikasi GPS Logger kami, jaraknya hanya 8,5 km (lihat peta di bawah).

Rutenya cukup mudah. Check point pertama adalah Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda. Petunjuk jalan ke arah sana dari Dago sudah sangat jelas. Jalannya pun masih mulus.

Beberapa meter dari Tahura kita akan menemui percabangan jalan berbentuk Y. Ambil jalan ke kanan. Dari situ kita tinggal mengikuti jalan saja terus sampai tiba di check point kedua, yakni Warung Bandrek atau yang biasa dikenal dengan sebutan Warban saja.

Di Warban ini lagi-lagi kita akan mendapati percabangan berbentuk Y. Kali ini ambil jalan ke kiri. Setelah itu tinggal mengikuti jalan terus sampai tiba di Tebing Keraton. Mendekati Tebing Keraton kita akan mendapati sepeda motor-sepeda motor yang terparkir di tepi-tepi jalan (kecuali Anda datang paling pertama, tentu nggak ada sepeda motor parkir di sana, hehe). Di sanalah tempat parkir sepeda motor pengunjung Tebing Keraton ini. Begitu tiba kita akan diberi karcis parkir dan diminta membayar Rp5.000 untuk biaya parkir.

Salah satu titik parkir

Salah satu titik area parkir

Jalanan dari Cisitu sampai Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda cukup mulus dan lancar. Namun, begitu mengendarai beberapa puluh meter dari Tahura, jalan mulai memburuk. Aspal jalan sudah tak berbentuk lagi. Lubang di mana-mana. Sebagian besar jalan tinggal menyisakan bebatuan kerikil saja. Selain itu, di beberapa ruas jalanan juga cukup menanjak. Apalagi jalan setelah Warung Bandrek. Beberapa motor kemarin kulihat pemboncengnya terpaksa turun agar motor dapat melaju naik.

Untuk menikmati Tebing Keraton ini, pengunjung dipungut tiket masuk sebesar Rp11.000 untuk turis lokal, atau Rp76.000 untuk turis asing. Biaya segitu sudah termasuk premi asuransi sebesar Rp1.000. Dan aku baru tahu ternyata penetapan tiket masuk ini baru dimulai sejak tanggal 8 Agustus ini. Sepertinya sebelum itu masih gratis atau sukarela bayarnya. Sayangnya tiket masuk Tebing Keraton ini masih menggunakan tiket masuk yang sama dengan Tahura. Tulisan “Rp7.500” yang menjadi harga tiket masuk Tahura ditutupi dengan ditempeli karcis premi asurasi.

Baliho harga tiket masuk

Baliho harga tiket masuk

Tiket masuk

Tiket masuk

Setelah memperoleh tiket masuk, kami pun berjalan ke Tebing Keraton. Dari pintu masuk masih perlu berjalan sekitar 100 meter menyusuri jalan setapak untuk sampai di tebing yang menjadi tempat favorit pengunjung menyaksikan view. 

Jalan setapak

Jalan setapak

Pagi itu walaupun jam “masih” menunjukkan pukul setengah 7 pagi, pengunjung sudah memadati tebing. Kami kesulitan untuk mencapai tempat the best untuk menikmati view yang berada di ujung tebing karena masih ditempati oleh rombongan lain.

Padatnya pengunjung Tebing Keraton

Padatnya pengunjung Tebing Keraton

View yang ditawarkan adalah deretan gunung-gunung sebagai background, kemudian kawasan hutan di depannya yang diselimuti kabut-kabut. Selain itu tentu saja view sinar matahari yang terbit dari celah-celah pegunungan di sebelah timur. Kuakui view yang ditawarkan cukup cantik. Aku paling suka dengan kabut-kabut putih yang menyelimuti area hutan di bawah tersebut. Seolah menyimpan kesan misterius di dalamnya.

Matahari terbit di sisi timur

Matahari terbit di sisi timur

View panorama di hadapan Tebing Karaton

View panorama di hadapan Tebing Karaton

View Pegunungan dan hutan yang diselimuti kabut

View Pegunungan dan hutan yang diselimuti kabut

Sebenarnya untuk melihat view itu tidak harus dari ujung tebing keraton sih. Dari bagian mana saja bisa. Namun, pandangan kita kurang lega karena sedikit terhalang oleh pepohonan atau pagar di tepi tebing.

Oh ya, soal mengapa dinamakan Tebing Keraton, ternyata di sana sudah dipasang “prasasti” yang akan menghapus rasa penasaran atas pertanyaan tersebut. Penulisan yang betulnya seharusnya “Karaton” bukan “Keraton”. “Karaton” yang dimaksud dalam bahasa Sunda lebih diartikan sebagai sebuah kemewahan alam. Jadi bukan “Keraton” yang identik dengan bangunan istana kerajaan. Namun, di social media nama yang sudah terlanjur populer adalah Tebing Keraton pakai “e”.

Sebelum nama Tebing Karaton sendiri tempat itu katanya sudah memiliki nama sendiri, yakni Cadas Jontor. Dinamakan demikian karena cadas tersebut menonjol ke depan dan memiliki ketinggian yang berbeda dengan cadas-cadas di sekitarnya.

Cerita asal mula nama Tebing Karaton

Cerita asal mula nama Tebing Karaton

Sejam saja aku dan Kamal berada di sana. Setelah itu kami pergi meninggalkan Tebing Karaton. Oh ya, waktu kunjungan Tebing Keraton yang diizinkan adalah mulai pukul 5 pagi hingga 6 sore (05.00-18.00).

Kesanku terhadap Tebing Karaton, view-nya memang oke. Namun, dengan harga tiket masuk segitu (Rp11.000), menurutku tak sebanding. Apalagi jika aku adalah turis asing dan datang ke sana membayar USD7 (anggap 76 ribu itu sekitar USD7). Ibaratnya sudah susah-susah ke sana, namun tak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan selain cuma melihat view saja. Masih mending ke Tahura yang tiket masuknya lebih murah, dan bisa puas menjelajahi area hutan yang sangat luas, bertandang ke Goa Jepang/Belanda, jogging di sana, dsb. Yah, ini cuma opini pribadi saja.

Gowes Menikmati Kota Bandung

Ada salah satu cara untuk menikmati Kota Bandung yang perlu dicoba, yakni dengan bersepeda a.k.a gowes. Apalagi jika dilakukan beramai-ramai, semakin menambah keseruan dan keasyikan. Itulah yang aku dan teman-teman lakukan weekend kemarin (Sabtu, 28/12).

Sejak diresmikan pada tanggal 10 Juni 2012, baru kali ini aku nyobain nyewa sepeda di shelter Bike.Bdg ini. Sementara ini baru ada beberapa shelter di kawasan Dago dan Buah Batu saja. Yang ku tahu shelter-shelter di kawasan Dago antara lain di depan kampus ITB (Jl. Ganeca), depan gedung BCA Dago (persimpangan dengan Jl. Dipati Ukur), belakang gedung Anex ITB (di bawah jembatan layang Pasupati), dan di depan Unikom Jl. Dipati Ukur (yang satu ini aku kurang begitu mengamati apakah masih ada atau tidak).

Jadi ceritanya Sabtu itu salah seorang teman ane dari Jakarta lagi main ke Bandung dan mencetuskan ide untuk nggowes itu. Maklum, dia lagi hobi nggowes beberapa bulan belakangan ini. Bersama tiga orang yang lain yang juga lagi di Bandung, jadilah kita menyewa sepeda di shelter Bike.Bdg. Sebenarnya aku ada sepeda sendiri, tapi pingin juga nyobain nyewa sepeda yang di shelter-shelter itu.

Pertama kita datang ke shelter belakang gedung Anex. Sayang sekali, saat itu shelternya lagi nggak ada yang jaga, saudara-saudara. Akhirnya jalanlah kita ke shelter depan BCA Dago. Alhamdulillah shelternya buka. Shelter BCA Dago ini tampaknya yang memang paling hampir dipastikan selalu buka. Mungkin karena lokasinya yang strategis, sehingga kemungkinannya lebih besar orang-orang untuk menyewa ke sini.

Biaya sewa adalah 3000/jam, KTP/SIM/KTM atau kartu identitas yang lain ditinggal di shelter. Kalau sudah punya kartu anggota, tidak perlu meninggalkan kartu identitas (kalau nggak salah begitu). Sebenarnya biaya itu cukup murah sih menurutku dengan mempertimbangkan ada pemasukan juga yang diperlukan pengelola untuk pemeliharaan sepeda-sepeda itu.

Waktu ke sana, kondisi sepedanya kebanyakan masih bagus sih, artinya pedal masih nyaman dikayuh, rem benar-benar pakem, shifter masih bisa digunakan, rear deraillur masih oke. Memang sih beberapa sepedanya sudah mulai kelihatan berkarat. Tapi masih aman untuk digunakan lah. Jenis sepedanya adalah city bike.

Nyewa sepeda di shelter Dago

Nyewa sepeda di shelter Dago

Setelah selesai urusan administrasi — cuma nyatet nama di buku dan ninggalin kartu identitas aja sih — kami langsung mulai mengayuh sepeda kami. Tapi bingung juga tujuannya ke mana, haha. Akhirnya diputuskan untuk keliling-keliling dulu di kawasan perumahan elite dan kafe antara Dipati Ukur dan Dago ini. Di sana jalanan cukup teduh karena banyak pepohonan besar, tinggi nan menjulang, dan rindang.

Tapi ternyata butuh waktu sebentar saja kami muter-muter di sana. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan gowes hingga ke Braga. Rutenya melewati Jl. Ir. Haji Juanda-BIP-Jl. Aceh-Jl. Kalimantan-Jl. Jawa-Jl. Merdeka-Jl. Lembong-Jl. Braga. Sepanjang jalan Juanda sampai Jawa masih enak karena banyak pepohonan rindang. Bahkan di Jalan Aceh terdapat lane khusus sepeda. Jadi merasa lebih aman bersepeda di sana.

Dari Braga kami melanjutkan perjalanan lagi ke Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika. Di sana kami cuma duduk-duduk saja sih. Foto-foto, menikmati es duren dan cimol yang dijual pedagang kaki lima yang kebetulan jualan di dekat situ.

Di Gedung Merdeka

Di Gedung Merdeka

Dari Gedung Merdeka kami gowes lagi melalui Jl. Braga-Jl. Suniaraja-Jl. Stasiun Timur kemudian mampir ke Paskal Hyper Square. Beberapa dari kami baru pertama kali ke situ. Penasaran di dalamnya ada apaan sih. Akhirnya sepedaan muter-muter di kompleks tersebut. Kami juga sempat beristirahat beberapa menit di sana.

Setelah itu, lanjut gowes lagi. Tujuan kami selanjutnya mau ke OZ Radio. Lho kok? Iya, beberapa di antara kami kan besoknya mau ikut event lari OZ Color Me Bandung itu. Di sana tempat pengambilan race pack-nya. Jadilah sekalian kami gowes sampai sana. Jadi rute sepedanya dari Paskal Hyper Square lewat Jl. Pasir Kaliki-Jl. Sukajadi-Jl. Bungur-Jl. Prof. Dr. Sutami-Jl. Setrasari-OZ Radio. Sewaktu di Jl. Bungur, jalannya menanjak banget, baru terasa beratnya. Tapi enaknya di sana adem, banyak pepohonan. Kalau Pasir Kaliki dan Sukajadi, sudah jarang pepohonan, macet pula.

Di depan OZ Radio

Di depan OZ Radio

Sebelum ke OZ Radio, kami sempat mampir makan mie ayam di Jl. Dr. Sutami yang kata teman cukup populer di situ. Setelah mengambil race pack, kami balik ke Dago melalui Jl. Bungur-Jl. Cemara-Jl. Cipaganti-Jl. Setiabudi-Jl. Cihampelas-Jl. Siliwangi-Jl. Dipati Ukur. Di tengah rute itu sempat mampir istirahat di sebuah taman di pertigaan Setiabudi-Cipaganti. Dari Dipati Ukur kami muter-muter lagi di kawasan perumahan elit dan kafe di sana sebelum mengembalikan sepeda.

Total waktu sewa kami adalah 4 jam lebih 5-10 menit. Lama juga ya. Tapi serius, nggak terasa lho karena memang menyenangkan gowes ramai-ramai. Jadi total biaya sewanya 15.000 rupiah per sepeda. Padahal tadi niatnya mau dipasin 4 jam, biar nggak rugi-rugi amat, hehe.

Btw, kalau taman-taman kota yang direncanakan oleh Pak walikota sudah jadi (2014, Ridwan Kamil ingin ada 6 taman baru di Bandung), bakal makin seru nih sepedaan dalam kota Bandung. Taman-taman tersebut bisa menjadi alternatif untuk tujuan rute bersepeda. Kolaborasi tersebut — taman dan bersepeda — bakal menjadi alternatif yang menarik untuk menikmati Bandung. Masa ke Bandung jalan-jalannya cuma ke mall atau factory outlet melulu. 😀

Gowes Hari Ini: Nyasar ke Moko Daweung

Awalnya cuma spontan saja sih. Pagi ada perlu sebentar di daerah Pasir Impun. Terus kepikiran kenapa nggak sekalian saja nggowes lewat bukit-bukit di sana mencari jalan tembusan ke Dago via Maribaya. Akhirnya dipilihlah rute Dago-Tubagus Ismail-Cikutra-Cicaheum-Ujung Berung-Pasir Impun-Maribaya. Perjalanan berangkat ini — kalau dilihat di Google Maps — jauhnya sekitar 15 km lebih.

Tahu sendirilah perjalanan dari Dago sampai Ujung Berung ini masih enak, soalnya jalannya memang jalan kota yang ramai dilalui kendaraan dan tracknya juga menurun. Setelah belok ke Pasir Impun, jalannya mulai menanjak. Semakin ke dalam, jalannya semakin menanjak terus. Jarang sekali jalan mendatar. Tekstur jalannya awalnya beraspal, tapi lama kelamaan jalan yang dilalui mulai berbatu-batu.

Setelah melalui SDN Cikawari (di Google Maps tertulis SDN Cikawao 03 itu salah), jalan yang dilalui mulai campuran antara jalan berbatu dan tanah. Mulai terlihat pemandangan bukit-bukit di sekitar. Bahkan, setelah menempuh beberapa ratus meter, pemandangan bukit dengan hutan hijau yang rapat tersaji dan sejenak aku bergumam dalam hati, “Wow, beneran nih aku harus menembus hutan ini?”

Peta rute

Peta rute

Kalau berdasarkan peta dari Google Maps itu, warna hijau-hijau itu ternyata memang menunjukkan kawasan hutan. Tapi sepertinya aku tak bisa memercayai sepenuhnya peta yang ditampilkan Google Maps. Seperti yang kubuatkan garisnya di gambar, walaupun sudah berusaha mengikuti jalan setapak yang ada, somehow aku keluar dari hutan dan bertemu pertigaan dengan ‘prasasti’ bertuliskan “Waroeng Daweung”.

Di pertigaan itu aku istirahat sebentar di toko salah satu warga sekalian membeli air minum di sana. Wow, secara kebetulan aku ‘nyasar’ sampai Waroeng Daweung. Padahal rencana awal mau menembus hutan-hutan itu untuk menyeberangi bukit menuju Maribaya. Sayang sekali GPS hpku tidak bekerja dengan baik ketika berada di dalam hutan. Aku kehilangan informasi di mana posisiku berada.

Nah jalan menuju Warung Daweung ini ternyata tak ada di dalam Google Maps (lihat garis merah yang kutandai di peta menuju Warung Daweung). Jalan di Warung Daweung ini sebenarnya buntu, sudah tak ada jalan lagi, kecuali pematang di antara ladang-ladang penduduk. Akhirnya aku memutuskan untuk melalui pematang yang ternyata jalannya mengarah menuju ke dalam hutan.

Di hutan ini aku benar-benar mengandalkan insting saja. Sudah nggak tahu lagi mana arah yang benar. Di hutan ini cukup banyak percabangan jalan. Sempat ketemu beberapa rombongan motor trail yang lagi off road di sana.

Setelah berjalan menyusuri dalam hutan, akhirnya bisa keluar juga dan mendapati ladang-ladang penduduk. Nama desanya Pamuncangan. Aku baru sadar aku telah salah mengambil jalan keluar di hutan. Pamuncangan ini kalau di peta sebenarnya sejajar dengan jalan menuju Moko Daweung. Artinya, aku masuk ke dalam hutan tadi hanya mengambil jalan memutar saja (lihat peta). Harusnya aku berjalan lurus menembus Maribaya.

Mau nggak mau perjalanan harus tetap dilanjutkan. Harus cari jalan lagi ke arah Maribaya, walaupun memutar. Sialnya, baterai hp sudah habis, aku tak bisa melihat peta lagi. Terpaksa benar-benar mengandalkan insting saja. Singkat cerita, setelah jauh-jauh mengayuh sepeda menaiki dan menuruni bukit, ternyata keluarnya di daerah Bojong Koneng. Glek! -_-

Ujung-ujungnya aku kembali lagi ke Cikutra. Tapi aku tetap bersyukur akhirnya menemukan jalan pulang, haha. Aku sempat kurang lebih 1-2 jam mengayuh sepeda dan don’t have a clue where I am actually.

Btw, aku sempat terjungkal dari sepeda ketika keluar dari hutan melalui jalan setapak berupa turunan yang sangat curam menuju Pamuncangan. Tekstur jalan setapak yang berupa tanah berpasir, membuat rem tidak bekerja dengan baik, dan sepeda meluncur dengan kencang. Sialnya tanahnya tidak rata sehingga membuatku susah mengontrol sepeda. Tahu-tahu aku sudah terjungkal saja dari sepeda.

Lutut berdarah tapi alhamdulillah hanya luka biasa. Tapi yang sakitnya masih terasa sampai sekarang adalah di daerah pinggang sisi sebelah kanan belakang. Sepertinya memar terkena benturan dengan batu sewaktu terjatuh. Mudah-mudahan segera hilang rasa sakit ini sehingga aku bisa ikut dua event lari dalam dua pekan yang akan mendatang. 😦

Main ke Trans Studio Bandung

Semenjak dibuka pertama kali untuk umum pada Juni 2011, baru Sabtu pekan lalu (18/05) akhirnya aku berkunjung ke Trans Studio Bandung. Padahal aku tinggal (ngekos) di Bandung. Tapi malas saja ke sana. Alasannya, selain harga tiket masuknya yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa (ketika aku masih mahasiswa), juga karena tidak ada teman yang mau diajak main ke sana, hihi.

Sabtu kemarin itu kebetulan ada acara walimahan teman sesama angkatan 2007 Sekolah Elektro dan Informatika ITB di gedung dekat McD Gatot Subroto. Banyak teman, baik dari Elektro maupun Informatika yang menghadiri acara tersebut. Nah, setelah acara walimahan, muncul keinginan untuk jalan bareng ke suatu tempat, sekedar untuk meluangkan waktu bersama sambil mengobrol tentang  pekerjaan masing-masing atau mengenang kembali memori saat mahasiswa dulu. Dipilihlah Trans Studio Mall karena lokasinya yang sangat dekat dengan gedung pernikahan.

Sekitar pukul 2 siang berangkatlah kami bersepuluh (9 cowok + 1 cewek) ke Trans Studio Mall. Aku satu-satunya yang berasal dari Informatika di rombongan itu. Yang lain anak Elektro semua. Awalnya, rencana kami cuma ingin menonton film saja. Film apapunlah yang ada saat itu.

Tapi setelah mempertimbangkan (kalau tidak salah) kebetulan semua dari kami belum pernah ke masuk ke wahana Trans Studio, kenapa tidak sekalian saja main ke sana. Kebetulan ada salah satu teman yang tak keberatan untuk mentraktir kami semua ke Trans Studio, hehe. Tiket masuk untuk weekend 250.000 rupiah per orang. Alhamdulillah, pertama kalinya ke Trans Studio ada yang bayarin, hehe. Semoga rezekinya lancar terus ya mas! 🙂

Sebenarnya sore hari adalah waktu yang kurang tepat untuk memulai kunjungan ke Trans Studio. Sebab Anda akan melewatkan beberapa wahana seperti Special Effects Action dan Trans City Theater yang hanya menampilkan pertunjukan di siang hari.

Wahana yang kami kunjungi pertama yaitu Vertigo Galaxy, wahana permainan berupa kincir raksasa yang berputar 360 derajat. Cuma 4 orang dari kami yang menaiki wahana ini. Aku dan yang lain nggak mau karena merasa perut masih kenyang sehabis makan di walimahan sebelumnya, haha. #alibi

Vertigo Galaxy

Vertigo Galaxy

Setelah itu, kami masuk ke wahana Si Bolang-Bocah Petualang. Wahana Si Bolang ini begitu kental terasa Indomie-nya, hehe. Bagaimana tidak, di mana-mana ada properti bertuliskan Indomie. Bahkan, ketika kami berkeliling menggunakan kereta menjelajahi “Indonesia” yang menampilkan ragam rumah adat, pakaian adat, dan budaya masing-masing daerah, properti Indomie itu masih mendominasi. Hmm… sepertinya pepatah “di mana pun daerahnya, kulinernya tetap Indomie” cocok menggambarkan “petualangan” Bolang kami, hehe.

Membolang dengan naik kereta

Membolang dengan naik kereta

Setelah selesai membolang, selanjutnya kami kembali mengulang pelajaran-pelajaran Kimia dan Fisika sewaktu sekolah dulu. Pelajaran sekolah itu kami dapatkan di Science Center. Di “rumah belajar” ini kami menemukan hal-hal menarik untuk diketahui.

Sebagai orang yang berlatar belakang teknik — yang dahulu ketika masih tingkat satu pun kami mendapat kuliah Fisika Dasar dan Kalkulus — objek-objek sains di Science Center ini cukup menarik bagi kami. Ada alat untuk mengukur kekuatan genggaman tangan, harpa dengan senar laser yang bisa dimainkan layaknya harpa sungguhan, mesin elektrostatik Van De Graff, simulasi angin topan, dsb. Sebagian memang sudah pernah kulihat di Jatim Park (waktu SMP dulu), tapi di Trans Studio ini objek sainsnya lebih banyak — kebanyakan objek fisika. Cocok bangetlah buat pelajar-pelajar yang suka sama Fisika, hehe.

Science Center

Science Center

Keluar dari Science Center entah bagaimana ceritanya kami terpisah menjadi dua kelompok. Tiga orang entah ke mana. Sementara aku dan 6 orang lainnya lanjut ke wahana yang lain. Giant Swing menjadi pilihan kami. Di satu artikel Detik Travel pernah disebutkan tentang 5 wahana Trans Studio yang bisa bikin jantung ‘copot’, dan Giant Swing ini adalah salah satunya, juga  Continue reading