Category Archives: Puisi

Jika Aku Jatuh Cinta

Sebuah puisi dari Sayyid Qutb. Beliau adalah seorang ilmuwan, sastrawan, dan ahli tafsir dari Mesir yang lahir pada tahun 1906. Sedikit biografinya dapat dibaca di sini.

Puisi ini bisa menjadi semacam muhasabah atau pengingat diri ini ketika sedang jatuh cinta pada seseorang. Karena apa kita mencintai seseorang itu, bagaimana cinta kita kepadanya justru seharusnya membuat kita semakin mencintai Allah, bukan malah semakin melunturkan cinta kita pada-Nya.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.

Kekalkanlah cintanya.

Tunjukilah jalan-jalannya.

Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(Sayyid Qutb)

Sumber:
http://www.eramuslim.com/oase-iman/puisi-sayyid-qutb-ketika-ia-jatuh-cinta.htm

Advertisements

Menunggu Lagi

Tertatih-tatih aku berjalan di atas tanah berkerikil
Namun, pelan tapi pasti aku semakin dekat dengan destinasiku
Tiba-tiba gumpalan awan gelap memenuhi langit
Gemuruh suara guntur terdengar riuh di telinga

Bumi mulai dibanjuri air hujan oleh sang awan gelap
Aku pun terpaksa mencari tempat berteduh
Menunggu rintik air hujan ini mereda
Berharap awan gelap segera pergi dari singgasananya

Sejumput kemudian wajah sang surya menyembul dari balik awan
Memancarkan seberkas cahaya dari senyumnya yang merona
Sang awan gelap pun berangsur-angsur menyingkir
Memberikan singgasananya pada sang surya

Aku mengumpulkan semangat tuk melangkah lagi
Mengejar kawan-kawan yang sudah menunggu di destinasi

Tapi kini jalan tak lagi bersahabat
Selain berkirikil, tanah juga berlumpur dan penuh duri semak belukar
Kontur yang mendaki membutuhkan usaha lebih tuk laluinya
Pelan tapi pasti aku bisa melewati rintangan itu bertahap

Destinasi sudah terlihat di depan
Aku pun semakin bersemangat

Ketika destinasi sudah dekat untuk dicapai, aku terpeleset
Jalan licin dan tak mawas diri membuatku terperosok jatuh ke bawah
Penuh luka kuderita di tubuh ini

Langit tiba-tiba menjadi gelap
Sang surya yang tadi menemaniku kini telah pulang
Awan gelap datang bersamaan dengan datangnya malam
Butiran air hujan kembali membanjuri bumi yang hanya bisa pasrah

Aku menangis terperi akan kemalangan ini
Destinasi yang tadinya sudah di depan mata tinggal menjadi harapan
Harapan yang sama untuk menunggu tampaknya wajah sang surya kembali

Dua Puluh Dua Tahun

Dua puluh dua tahun aku berdiri
Dua puluh dua tahun adalah pertanda kedewasaan diri

Panjangnya usia tiada guna
Jika tak memberikan inovasi
Panjangnya usia sungguh durhaka
Jika tak mengabdi dan berbakti
Panjangnya usia kan sia-sia
Jika tak beribadah kepada Ilahi

Alangkah syukurnya diri ini
Mendapat kesempatan dari Ilahi tuk bernafas hingga detik ini
Alangkah sedihnya diri ini
Sangat sedikit amal kebajikan dan kontribusi di kehidupan ini

Sisa hidup tiada yang tahu selain Sang Mahakuasa
Detik demi detik waktu sungguh berharga
Tuk goreskan tinta di kehidupan dunia

[Dhito – 4 Maret 2011]