Tag Archives: islam

Lost Islamic History

[Book] Lost Islamic History

Judul : Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation From The Past
Pengarang : Firas Alkhateeb
Penerbit : Hurst & Company, London
Tahun Terbit : September 2014
Tebal : ix + 217 halaman
Cover : Softcover

Awalnya saya mengetahui “Lost Islamic History” ini hanya dari Facebook. Saya suka mengikuti status-status yang dipos di halaman Facebook-nya. Selalu ada info menarik yang dibagikan oleh pengelola akun tersebut. Kebanyakan adalah informasi terkait sejarah Islam yang baru saya ketahui. Atau informasi yang sebelumnya sudah pernah saya dengar sekilas, namun baru saya ketahui detailnya.

Karena itu, ketika saya mengetahui ternyata Lost Islamic History telah diterbitkan dalam sebuah buku, saya pun tertarik untuk memilikinya. Karena baru saja diterbitkan, tentu saja baru ada versi bahasa Inggrisnya saja. Pemesanannya pun saat itu yang saya tahu hanya ada di Amazon atau website penerbitnya (Hurst Publisher – London). Di toko buku Gramedia belum ada. Namun, sebulan yang lalu dapat info dari teman, ternyata Continue reading

Advertisements

Menyimak “Perjalanan Spiritual” pada Film Life of Pi

Life of Pi

Life of Pi (marcelosantosiii.com)

Life of Pi ini sebenarnya sudah ada sejak 2001 dalam bentuk novel. Menjelang akhir tahun 2012 kemarin, tepatnya bulan November, film yang mengadaptasi novel tersebut baru saja rilis. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya dan baru sempat menonton filmnya baru-baru ini. Tapi tidak ada salahnya kan saya sedikit memberikan sedikit opini mengenai film tersebut, hehehe. Eh, tapi sebelum itu, perlu digarisbawahi ya, opini saya ini belum tentu sama sebagaimana yang dimaksudkan oleh sang author alias penulis cerita aslinya.

Oke, di menit-menit awal menonton film ini saya mulai menebak-nebak akan ke mana dialog antara Pi dewasa dan sang novel writer. Saya pun berpikiran bahwa ‘petunjuk’ menuju kepada substansi dari film ini sebenarnya secara eksplisit telah diungkapkan pada dialog (sekitar menit ke-10) ketika sang novel writer berkata pada Pi dewasa, “He (Mamaji) said you had a story that would make me believe in God.”

Salah satu scene antara sang writer dengan Pi

Salah satu scene antara sang writer dengan Pi

Dalam pandangan saya film ini — terlepas dari substansi sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh sang penulis novel yang asli — secara umum memang mengisahkan mengenai ‘perjalanan spiritual’ sang tokoh utama, Pi, dalam memercayai keberadaan Tuhan.

Di awal diceritakan bahwa Pi terlahir sebagai seorang Hindu, agama ‘pertama’-nya. “None of us knows God until someone introduces us,” begitu katanya, menyiratkan bahwa ‘pilihan’-nya atas Hindu terjadi karena memang diperkenalkan oleh orang tuanya sedari kecil.

Perjalanan spiritualnya berlanjut ketika Pi remaja berkenalan dengan Kristen dari seorang pendeta di sebuah gereja di suatu desa. Di titik tersebut Pi mengklaim ia menemukan God’s love alias kasih Tuhan di dalam Kristen. Uniknya, dalam satu monolognya Pi berterima kasih kepada Dewa Wisnu (salah satu Tuhan dalam Hindu) karena telah memperkenalkannya pada Kristen.

“But God wasn’t finished with me yet.”

Kali ini Pi berkenalan dengan Islam setelah memperhatikan umat muslim yang sholat berjamaah di sebuah masjid. Ia pun mempraktikkan ibadah sholat tersebut. Di titik itu Pi mengatakan bahwa ia menemukan ketentraman di sana. Akhirnya Pi remaja pun di saat tersebut mempraktikkan ketiga agama tersebut sebagai keyakinannya.

Sampai di titik ini saya bergumam dalam hati saya, “Wew, film ini seperti ingin menyebarkan pemahaman agama universal sebagaimana yang diusung JIL (Jaringan Islam Liberal).” Perjalanan spiritual Pi itu seperti ingin menunjukkan bahwa semua agama adalah jalan-jalan yang sah menuju Tuhan yang sebenarnya sama. Dewa Wisnu, Kristus, dan Allah yang disebutkan oleh Pi itu hanya sekedar nama untuk Tuhan yang sama di agama yang berbeda. Saya berpikir bahwa pesan itulah sebenarnya yang sedang Pi sampaikan.

Namun, hal menarik muncul di meja makan pada suatu momen makan malam keluarga kecil Pi. Kakak Pi menjadikan keyakinan Pi — meyakini dan menjalankan 3 keyakinan sekaligus bersamaan — sebagai bahan becandaan. Ayah Pi pun menimpali dengan mengatakan, “You cannot follow three different religions at the same time, Piscine, because …

believing in everything at the same time is the same as not believing in anything at all.”

Percaya kepada segalanya — dalam hal ini tentu saja yang dimaksud lebih khusus adalah agama — secara bersamaan, sama artinya dengan tidak percaya sama sekali kepada semuanya. Ayah Pi pun melanjutkan,

“Instead of leaping from one religion to the next, why not start with reason?”

Seems familiar, right? Mengingatkan kita akan kisah Nabi Ibrahim bukan? Bedanya, pada kisah Nabi Ibrahim, beliau bukannya berpindah antar keyakinan atau agama, melainkan — sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-An’am 76-79 — mencoba mengamati ‘kans’ bintang (ayat 76), kemudian bulan (ayat 77), dan kemudian matahari (ayat 78), apakah ‘layak’ untuk menjadi Tuhan. Akan tetapi, dengan reasoning-nya akhirnya beliau mematahkan kaumnya yang meyakini dan menyembah ketiganya. Dan di ayat 79 disebutkan bahwa beliau menyatakan meyakini dan megikuti agama Allah sebagai agama yang benar.

The point is Continue reading

Stumbling on Happiness VS Alchemy of Happiness

Ada artikel menarik yang saya baca di situs Eramuslim mengenai perbedaan pandangan antara pemikir Barat dengan Islam mengenai konsep kebahagiaan. Perbedaan pandangan itu bisa terjadi karena landasan berpikir (al-qa’idah al-fikriyah) yang digunakan dalam memandang segala sesuatu (wolrd view) oleh masing-masing berbeda. Mengutip dari artikel tersebut, perbedaan tersebut adalah Barat sangat menjunjung rasio dan spekulasi filosofis, sedangkan Islam berazaskan wahyu, hadits yang dikombinasikan dengan akal, pengalaman, serta intuisi. Maka tak mengherankan, dalam mengkaji suatu masalah, ide-ide Barat hanya menyentuh hal-hal yang bersifat empiris, tidak menerobos sampai ke relung-relung metafisis. Termasuk dalam pembahasan mengenai konsep kebahagiaan. Apakah makna bahagia itu.

Seringkali ada situasi di mana hati kita berbunga-bunga atau wajah kita tersenyum. Apakah itu disebut bahagia? Bagaimana tolak ukur bahagia itu? Sayangnya, kebahagiaan itu tidak bisa dilihat, tapi hanya bisa dirasakan oleh masing-masing individu dan bagaimana ia mendefinisikannya. Tidak ada tolak ukur yang bisa digunakan untuk mengetahui kebahagiaan yang dirasakan setiap orang.

Nah, kemudian di dalam artikel itu disebutkan ulasan pemikiran Barat mengenai makna kebahagiaan yang diwakili oleh Daniel Gilbert, seorang pakar psikologi dari Harvard University yang sering mendapatkan penghargaan dalam disiplin ilmunya, yang ditulis dalam sebuah buku berjudul “Stumbling of Happiness”. Sedangkan pemikiran Islam diwakili oleh Imam Ghazali yang ditulisnya dalam mahakarya “Ihya Ulumuddin” dalam sebuah chapter bernama “Kimmiyah Al-Sa’adah” atau “Alchemy of Happiness”. Artikel yang lebih lengkap mengenai bab “Alchemy of Happiness” itu dapat dibaca di sini.

Dalam buku itu Gilbert mengartikan kebahagiaan adalah pengalaman subyektif yang sulit dijabarkan bahkan oleh diri kita sendiri. Di akhir kesimpulannya Gilbert menyatakan sesungguhnya kebahagiaan itu sangat relatif. Setiap orang bisa mendefinisikan dan mengaktualisasikan sesuai dengan caranya sendiri atau dengan kata lain: kebahagiaan kita ada di tangan kita sendiri. Jadi sejatinya, tak ada rumus sederhana untuk memformulasikan makna kebahagiaan, menurut Gilbert.

Sedangkan kesimpulan Imam Ghazali mengenai konsep (kimia) kebahagiaan adalah bahwa kebahagiaan sejati dapat diperoleh melalui empat elemen: mengenal diri, mengenal Allah, mengenal dunia, dan mengenal sesudah kehidupan dunia (akhirat). Jika setiap manusia memiliki pemikiran yang tepat dan cemerlang (al-fikru al-mustanir) mengenai keempat elemen itu, kehidupan manusia akan berada pada jalan yang mulia.

Jadi, yang terpenting pertama menurut Imam ghazali adalah mengenal diri. Jika kita tak bisa mengenal diri, hampir mustahil kita bisa mengenal hal-hal lain.Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Allah.” Dengan merenungkan penciptaan diri manusia akan memperoleh pemahaman mengenai keberadaan Allah. Benih dari kebahagiaan adalah cinta. Cinta kepada Allah bisa dikembangkan melalui ibadah. Melalui cinta pada Allah serta pengetahuan, jiwa akan terpelihara dan akan hancur bila mencintai selain-Nya.

Perlu disematkan dalam diri kita bahwasannya jasad hanya merupakan kuda tunggangan bagi jiwa yang kelak akan musnah. Sungguh sangat merugi manusia bila menukar kebahagiaan abadi dengan dunia. Namun, pada praktiknya seringkali kita terjebak dan disibukkan dengan angan-angan di dunia saja. Bagi sebagian orang, mendapat pekerjaan layak bahkan kalau bisa di perusahaan besar, berpenghasilan tinggi, memiliki harta banyak, memperoleh penghargaan atau jabatan ini-itu, menjadi target yang ingin diraih di dunia ini. Mereka disibukkan dengan usaha untuk memperoleh itu semua. Padahal persoalan utama manusia di dunia adalah menyiapkan diri untuk kehidupan di akhirat kelak. Penting diwaspadai bahwa dunia cenderung menipu dan memperdayai manusia.

Dari ulasan Imam Ghazali itu kebahagiaan sejati akan diraih bila manusia senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kebahagiaan yang digapai bukan hanya duniawi semata melainkan kebahagiaan yang lebih esensial: kebahagiaan di akhirat nanti. Islam sebagai sebuah agama yang paling lengkap dan final telah memberikan aturannya dalam kehidupan dunia dan akhirat dan jika dilaksanakan sepenuhnya, kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat akan diperoleh. Allah menjanjikan barang siapa mencari dunia hanya akan mendapat dunia, sedang bagi yang mencari akhirat akan mendapatkan dunia dan akhirat.