Stumbling on Happiness VS Alchemy of Happiness

Ada artikel menarik yang saya baca di situs Eramuslim mengenai perbedaan pandangan antara pemikir Barat dengan Islam mengenai konsep kebahagiaan. Perbedaan pandangan itu bisa terjadi karena landasan berpikir (al-qa’idah al-fikriyah) yang digunakan dalam memandang segala sesuatu (wolrd view) oleh masing-masing berbeda. Mengutip dari artikel tersebut, perbedaan tersebut adalah Barat sangat menjunjung rasio dan spekulasi filosofis, sedangkan Islam berazaskan wahyu, hadits yang dikombinasikan dengan akal, pengalaman, serta intuisi. Maka tak mengherankan, dalam mengkaji suatu masalah, ide-ide Barat hanya menyentuh hal-hal yang bersifat empiris, tidak menerobos sampai ke relung-relung metafisis. Termasuk dalam pembahasan mengenai konsep kebahagiaan. Apakah makna bahagia itu.

Seringkali ada situasi di mana hati kita berbunga-bunga atau wajah kita tersenyum. Apakah itu disebut bahagia? Bagaimana tolak ukur bahagia itu? Sayangnya, kebahagiaan itu tidak bisa dilihat, tapi hanya bisa dirasakan oleh masing-masing individu dan bagaimana ia mendefinisikannya. Tidak ada tolak ukur yang bisa digunakan untuk mengetahui kebahagiaan yang dirasakan setiap orang.

Nah, kemudian di dalam artikel itu disebutkan ulasan pemikiran Barat mengenai makna kebahagiaan yang diwakili oleh Daniel Gilbert, seorang pakar psikologi dari Harvard University yang sering mendapatkan penghargaan dalam disiplin ilmunya, yang ditulis dalam sebuah buku berjudul “Stumbling of Happiness”. Sedangkan pemikiran Islam diwakili oleh Imam Ghazali yang ditulisnya dalam mahakarya “Ihya Ulumuddin” dalam sebuah chapter bernama “Kimmiyah Al-Sa’adah” atau “Alchemy of Happiness”. Artikel yang lebih lengkap mengenai bab “Alchemy of Happiness” itu dapat dibaca di sini.

Dalam buku itu Gilbert mengartikan kebahagiaan adalah pengalaman subyektif yang sulit dijabarkan bahkan oleh diri kita sendiri. Di akhir kesimpulannya Gilbert menyatakan sesungguhnya kebahagiaan itu sangat relatif. Setiap orang bisa mendefinisikan dan mengaktualisasikan sesuai dengan caranya sendiri atau dengan kata lain: kebahagiaan kita ada di tangan kita sendiri. Jadi sejatinya, tak ada rumus sederhana untuk memformulasikan makna kebahagiaan, menurut Gilbert.

Sedangkan kesimpulan Imam Ghazali mengenai konsep (kimia) kebahagiaan adalah bahwa kebahagiaan sejati dapat diperoleh melalui empat elemen: mengenal diri, mengenal Allah, mengenal dunia, dan mengenal sesudah kehidupan dunia (akhirat). Jika setiap manusia memiliki pemikiran yang tepat dan cemerlang (al-fikru al-mustanir) mengenai keempat elemen itu, kehidupan manusia akan berada pada jalan yang mulia.

Jadi, yang terpenting pertama menurut Imam ghazali adalah mengenal diri. Jika kita tak bisa mengenal diri, hampir mustahil kita bisa mengenal hal-hal lain.Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Allah.” Dengan merenungkan penciptaan diri manusia akan memperoleh pemahaman mengenai keberadaan Allah. Benih dari kebahagiaan adalah cinta. Cinta kepada Allah bisa dikembangkan melalui ibadah. Melalui cinta pada Allah serta pengetahuan, jiwa akan terpelihara dan akan hancur bila mencintai selain-Nya.

Perlu disematkan dalam diri kita bahwasannya jasad hanya merupakan kuda tunggangan bagi jiwa yang kelak akan musnah. Sungguh sangat merugi manusia bila menukar kebahagiaan abadi dengan dunia. Namun, pada praktiknya seringkali kita terjebak dan disibukkan dengan angan-angan di dunia saja. Bagi sebagian orang, mendapat pekerjaan layak bahkan kalau bisa di perusahaan besar, berpenghasilan tinggi, memiliki harta banyak, memperoleh penghargaan atau jabatan ini-itu, menjadi target yang ingin diraih di dunia ini. Mereka disibukkan dengan usaha untuk memperoleh itu semua. Padahal persoalan utama manusia di dunia adalah menyiapkan diri untuk kehidupan di akhirat kelak. Penting diwaspadai bahwa dunia cenderung menipu dan memperdayai manusia.

Dari ulasan Imam Ghazali itu kebahagiaan sejati akan diraih bila manusia senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kebahagiaan yang digapai bukan hanya duniawi semata melainkan kebahagiaan yang lebih esensial: kebahagiaan di akhirat nanti. Islam sebagai sebuah agama yang paling lengkap dan final telah memberikan aturannya dalam kehidupan dunia dan akhirat dan jika dilaksanakan sepenuhnya, kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat akan diperoleh. Allah menjanjikan barang siapa mencari dunia hanya akan mendapat dunia, sedang bagi yang mencari akhirat akan mendapatkan dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s