Tag Archives: kapal

Senja di Gili Trawangan

Jalan-Jalan di Lombok: Hari 3 – Gili Trawangan

Senin, 1 Juni 2015

Pagi itu menjelang pukul 9 shuttle yang hendak mengantar kami ke Pelabuhan Bangsal sudah datang. Kami pun check-out dari penginapan. Di dalam shuttle sudah ada 4 orang bule yang bergabung.

Shuttle ini sudah kami booking melalui tempat rental motor kami sehari sebelumnya. Awalnya kami ingin ngeteng aja ke Gili Trawangannya. Namun, pihak rental motor kami menawarkan diskon harga yang lumayan besar dari harga normal.

Umumnya tiket shuttle ke Pelabuhan Bangsal dari Senggigi sih Rp75.000 udah include tiket public boat buat nyeberang ke Gili Trawangan. Kami ditawari Rp40.000 per orang oleh pihak rental tadi. Setelah kami pikir-pikir, harganya sepertinya nggak terlalu jauh dibandingkan jika ngeteng naik taksi ke sana.

Di Bangsal shuttle berhenti di sebuah kafe bernama “Bunga Bunga Cafe” yang menjadi tempat singgah traveler-traveler yang hendak pergi atau baru saja datang dari Gili. Kami bersantai dahulu di sana sambil menunggu kapal kami yang dijadwalkan berangkat pukul 10.30.

Di dalam kapal menyeberang ke Gili Trawangan

Di dalam kapal menyeberang ke Gili Trawangan

Perjalanan menyeberang ke Gili Trawangan dengan public boat ini menempuh waktu kurang lebih Continue reading

Advertisements
Rombongan kapal lain yang sedang snorkeling (photo by Ian)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 4): Day 3 – Phi Phi Island Tour

Senin, 26 Mei 2014

Menurut jadwal yang telah ditentukan pihak penyelenggara tur, kami akan dijemput dari penginapan sekitar pukul 8 pagi. Berarti kami punya waktu yang cukup untuk jalan-jalan mencari sarapan pagi itu. Waktu subuh di Ao Nang saat itu adalah 4.30, dan matahari terbit menjelang pukul 6 pagi.

Sarapan pagi

Pukul setengah tujuh pagi ketika langit sudah mulai terang, beberapa dari kami keluar mencari sarapan bersama. Setelah 5 menit berjalan kaki, di pinggir jalan utama tak jauh dari Family Mart, kami menjumpai sebuah warung makan sederhana yang penjualnya ibu-ibu dan mbak-mbak berjilbab bertampang mirip Melayu.

Cukup banyak warga sekitar yang membeli sarapan di sana. Menunya miriplah sama masakan yang biasa dijual di dekat kampungku kalau pagi-pagi. Ada bubur (bukan bubur ayam tapinya), urap-urap, sayur pecel, ayam goreng, dan jajanan-jajanan pasar.

Aku memilih menu bubur sebagai sarapanku pagi itu. Komposisi bubur ini cukup unik. Ada sayur kangkung, potongan telor asin, dan ikan patin. Rasanya lumayanlah, nggak jauh beda dengan masakan di negeri sendiri. Harganya 25 baht kalau aku tidak salah ingat.

Berangkat ke Ao Nang Pier

Setelah sarapan, kami kembali ke hostel untuk bersiap-siap tur Phi Phi Island. Aku hanya membawa pakaian ganti, handuk, dan kamera underwater untuk snorkeling.

Jam telah menunjukkan pukul 08.15, namun kendaraan yang akan menjemput kami belum datang sesuai jadwal yang dijanjikan, yakni dari seharusnya pukul 08.00. Akhirnya aku inisiatif untuk menelepon pihak Angel Tour tempat kami memesan paket tur ini. Oleh ibunya yang kemarin melayaniku, aku diminta untuk sabar menunggu sebentar lagi.

Benar saja, sekitar 10 menit kemudian kendaraan truk besar, atau yang disebut songthaew di sana, akhirnya tiba juga. Aku pun menyerahkan bukti pemesanan paket tur kami kepada mbak-mbak petugasnya yang menjemput kami. Masing-masing dari kami diberikan stiker untuk ditempel di kaos, menandakan kami peserta tur.

Kami masih harus menjemput 4 orang teman kami lagi yang menginap di J Hostel. J Hostel ini lokasinya searah menuju ke Ao Nang Pier, tempat kami akan naik boat untuk tur ini. Pas banget ternyata, songthaew ini mampu menampung kami yang berjumlah 22 orang ini.

Songthaew jemputan (photo by Ian)

Songthaew jemputan (photo by Ian)

Dermaga Ao Nang Pier

Dermaga Ao Nang Pier

Tur pun dimulai

Kami memulai tur Phi Phi Island ini dari Ao Nang Pier. Kapal yang kami naiki ternyata kapal besar yang digunakan untuk umum juga. Jadi ada beberapa orang, hampir semuanya, yang ikut menumpang kapal kami sambil membawa tas-tas besar.

Btw, kapal yang kami naiki cukup bagus. Terdiri dari dua tingkat. Di dalamnya full AC. 

Di atas kapal (photo by Putri)

Di atas kapal (photo by Putri)

Tapi nggak asyik kan kalau tur di laut tapi cuma di dalam kapal terus. Bakal sayang banget apbila pemandangan-pemandangan cantik di luar sana dilewatkan. Kami pun duduk-duduk di atas deck depan dan belakang kapal menikmati pemandangan sekitar sambil berfoto-foto.

Foto-foto di atas kapal (photo by Putri)

Foto-foto di atas kapal (photo by Putri)

Tujuan pertama kapal ini adalah ke Railay Island. Railay Island adalah sebuah pulau cantik yang terkenal dengan tebing-tebingnya yang tinggi menjulang. Karena itu, tak mengherankan bila pulau ini menjadi destinasi favorit bagi para pecinta olahraga ekstrim panjat tebing yang berkunjung ke Thailand.

Kapal kami yang cukup besar tidak dapat merapat ke pulau ini. Lagi pula memang sejatinya kapal ini tidak berniat untuk singgah di sana. Kapal hanya menjemput calon penumpang yang berasal dari Railay Island ini. Dari pantai Railay mereka naik perahu-perahu yang kemudian merapat ke kapal kami. Baru kemudian mereka naik.

Railay Island

Railay Island

Penumpang dari Railay Island

Penumpang dari Railay Island

Dari Railay Island, kapal melanjutkan pelayaran ke Phi Phi Island. Kapal menurunkan penumpang-penumpang yang ikut menumpang (ya iyalah penumpang yang menumpang, haha) tadi. Sementara kami tetap berada di atas kapal.

Setelah semua penumpang “tamu” tadi turun, kapal berlayar lagi ke pulau Ko Phi Phi Le. Di sinilah tempat Maya Bay yang terkenal karena film “The Beach” yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio itu. Sayangnya kapal kami tak merapat ke pantai tersebut. Maklum, kapal kami terlalu besar untuk dapat merapat di pantai tersebut. Selain itu, suasana pantai di sana juga sangat ramai. Banyak perahu yang tengah merapat di sana.

Rombongan kapal lain yang sedang snorkeling (photo by Ian)

Rombongan kapal lain yang sedang snorkeling (photo by Ian)

Di bagian laut yang berjarak beberapa ratus meter dari Maya Beach kami diberikan waktu oleh penyelenggara tur untuk snorkeling di sana. Sebelum itu, kami semua disajikan soft drink dan snack oleh mereka di atas kapal. Peralatan snorkeling termasuk pelampung sudah disediakan oleh pihak tur.

Air laut di situ cukup jernih. Banyak ikan nemo Continue reading

Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 1): Karimunjawa Failed

Hari 1: Sabtu, 22 Desember 2012

Ini adalah cerita liburan Natal bulan Desember 2012 kemarin. Kebetulan ada libur panjang mulai hari Sabtu hingga Selasa, tanggal 22-25. Pesertanya adalah aku, Neo, Luthfi, Khairul, Kamal, dan Rizky.

Niat awalnya sih mau ke Karimunjawa. Jadilah sebulan sebelum hari H, kami semua membeli tiket kereta menuju Semarang. Tapi karena kami berasumsi tiket kapal dari Semarang ke Karimunjawa bisa dibeli secara go show seperti halnya kapal ke Pulau Tidung yang kami tahu. Tapi, eh sesampainya di pelabuhan Tanjung Mas Semarang, kami baru tahu kalau penjualan tiket kapal Kartini Semarang-Karimunjawa PP ini dipegang oleh satu manajemen yang untuk pembeliannya harus booking dulu supaya tidak kehabisan. Dan saat itu juga kami diberi tahu bahwa tiket kapal sudah habis.

Alternatifnya sebenarnya bisa menumpang kapal yang berangkat dari Jepara. Tapi baca-baca di internet, jadwal keberangkatan ke Karimunjawa paling akhir pukul 10.30. Waktu ketika itu menunjukkan pukul 7.30. Masih ada waktu berarti. Kami pun mencoba menelepon contact person KM Muria. Sayang, ternyata kapal hari itu semuanya telah penuh.

KM Kartini

KM Kartini

Kami pun memutuskan untuk menunggu KM Kartini hingga berangkat. Berharap ada sejumlah orang yang membatalkan perjalanannya. Pada kenyataannya memang ada sejumlah orang yang membatalkan perjalanannya. Namun tiket ‘buangan’ itu diberikan pada sebuah keluarga yang menempati urutan pertama dalam waiting list. Jadilah, rencana kami ke Karimunjawa batal.

Menunggu Ketidakpastian

Menunggu Ketidakpastian

Namun, ketika kami berjalan di dermaga, kami berjumpa salah seorang petugas pelabuhan dan menceritakan apa yang sedang kami alami saat itu. Apabila masih ingin ke Karimunjawa, beliau menyarankan untuk menumpang kapal sayur yang akan berangkat subuh esok hari. Kata beliau ongkosnya biasanya seikhlasnya saja.

“Wah, kesempatan baik nih.” kata kami.

Kami pun berencana untuk mengambil kesempatan itu. Namun, petugas kapal sayur itu baru akan tiba petang hari nanti untuk mendata calon penumpang.

Sembari menunggu hingga petang hari, kami hendak Continue reading

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 3] — Snorkeling

Minggu, 9 Oktober 2011

5.00. Keinginan untuk melihat sunrise tiba-tiba surut. Gara-garanya aku bangun kesiangan atau bahasa Jawanya itu kerinan. Jam 5 pagi di sana itu langit sudah mulai agak terang. Sementara untuk melihat sunrise, aku harus pergi ke arah timur pulau yang jaraknya cukup jauh dari tempat penginapan ini. Belum lagi badan pegal-pegal dari aktivitas sehari sebelumnya, membuat diri ini malas gerak, hahaha. Yang lain pun setali tiga uang.

6.00. Sesuai rencana sebelumnya, pagi jam 6 kami sudah harus bersiap-siap untuk pergi snorkeling. Kami sudah meminta tolong kepada Pak Manshur untuk mengurusi akomodasi yang diperlukan untuk snorkeling. Sewa kapal ke tempat snorkeling Rp300.000 dan perlengkapan snorkeling per orang adalah Rp35.000 yang terdiri atas kaki katak, kacamata dalam air, dan selang pernafasan.

Setelah semuanya selesai diuruskan oleh Pak Manshur, kami pun berangkat menuju tempat persewaan perlengkapan itu dan lanjut ke dermaga Pulau Tidung. Di sana telah merapat beberapa kapal atau perahu yang siap mengantarkan para wisatawan yang akan snorkeling.

7.15. Sampai juga akhirnya di tempat snorkeling. Perjalanan dari Pulau Tidung ke tempat snorkeling ini kira-kira sekitar 20-30 menit. Dalam perjalanan tadi menuju tempat snorkeling kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan nasi uduk bungkusan yang sudah disediakan oleh Pak Manshur. Jadi kami tidak perlu khawatir kehabisan energi saat snorkeling :D. Ya, biaya sewa kapal ini sudah termasuk sama nasi bungkus yang disediakan oleh Pak Manshur.

Tempat yang kita tuju ini bisa dikatakan sebagai sebuah pulau batu karang. Pulau ini bukan tersusun dari tanah, tapi batu-batu karang yang menumpuk hingga ke permukaan sehingga tampak seperti sebuah pulau.

Tentu saja kami tidak snorkeling di “pulau” itu. Tapi kami snorkeling di jarak sekitar belasan sampai dua puluhan meter dari sanalah. Lautnya tidak dalam, mungkin rentangnya mulai dari 2-5 meter. Selain itu arus lautnya juga tenang. Jadi bagi mereka yang belum bisa berenang pun bisa melakukan snorkeling dengan santai di sini.

Pemandangan bawah air lumayan mengagumkan. Pemandangan yang sebelumnya hanya bisa kulihat dari televisi atau internet kali ini benar-benar tampak di depan mataku. Memang, pemandangannya tak seindah taman laut bunaken yang banyak karang dan ikan berwarna-warni. Karena tempat yang kupilih lautnya dangkal jadi hanya terdapat banyak karang dan sedikit ikan. Kalau mau tempat yang banyak ikannya memang sebaiknya memilih tempat yang arusnya deras.

Rizky siap snorkeling

Rizky siap snorkeling

Sayang sekali tidak ada yang memiliki kamera bawah air di antara kami. Selain itu, fotografer-fotografer handal kami, Rizky dan Jiwo, juga tidak membawa kameranya ke tempat snorkeling, tidak juga di dalam kapal. Untung saja, ada kamera HP si Adi saat itu satu-satunya yang available. Sebenarnya ada sih papan yang dipasang di salah satu rumah yang bilang menyediakan kamera underwater. Kalau tidak salah harga sewanya Rp35.000. Tapi kurang tahu juga itu sewanya untuk berapa lama.

Kurang lebih ada hampir dua jam lah kami snorkeling. Sebenarnya kami dikasih waktu hingga jam 11. Tapi ternyata dua jam itu juga sudah jauh lebih dari cukup. Rata-rata rombongan selain kami malah cuma sekitar sejam lah maksimal snorkeling di sana. Bahkan ada yang datangnya sesudah kami, tapi baliknya duluan.

Bosan juga sih memang lama-lama. Apalagi tidak ada kamera untuk foto-foto di dalam air, hahaha. Seandainya ada kamera underwater, mungkin bakal lebih lama lagi. Soalnya kan sayang biaya sewanya, hehehe.

Snorkeling

Snorkeling

9.45. Sampai juga di penginapan lagi. Di meja makan ternyata sudah tersedia beberapa potong buah semangka dan seteko air teh manis, dan disediakan termos es batu pula. Alhamdulillah … berarti sudah dua kali kami dibuatkan air teh manis ini. 🙂

Makan mie instan

Makan mie instan

Masih ada beberapa bungkus mie instan dan beberapa telur yang menganggur. Rencananya, kami semalam sebenarnya mau makan mie rebus saja sebelum rencana itu tidak jadi karena tuan rumah tiba-tiba memberi kami makan malam nasi ikan pepes. Nah, rencananya mie instan itu akan kami masak setelah snorkeling. Ya, kami lapar dan kami ingin makan lagi, hehehe. Tiba-tiba seorang ibu — sepertinya pembantu keluarga Pak Manshur — datang untuk menawarkan untuk memasakkan mie instan kami. Bingo, anak-anak pun minta tolong dan berterima kasih kepada ibu tersebut. Dasar mahasiswa, wkwkwk. 😆

Main kartu

Main kartu

11.00. Yeah, It’s time for packing! Rencananya kami jam 12 akan cabut dari penginapan untuk balik ke Jakarta. Menurut jadwal, kapal yang akan kami tumpangi balik ke Jakarta akan berangkat pukul 13.00.

Beberapa orang mulai mengemasi barang-barang. Ada yang mandi. Ada yang sholat Dhuhur. Ya, jam setengah dua belasan, di sana sudah adzan Dhuhur. Beberapa anak lagi masih tampak asyik bermain kartu sambil mengantri giliran mandi atau menunggu yang lain selesai berkemas.

12.20. Kami sudah bersiap-siap untuk pulang di dermaga Pulau Tidung. Karcis kapal sudah dibelikan oleh Pak Manshur. Enaknya, kami hanya membayar Rp25.000 untuk balik ke Jakarta ini. Tarif normal seharusnya Rp33.000. Lumayanlah dapat kortingan. Baik banget memang Pak Manshur ini :D. Makanya sebelum kami pulang, kami berfoto bersama dulu dengan Pak Manshur sebagai kenang-kenangan atas perjalanan kami selama di Pulau Tidung ini.

Foto bersama dengan Pak Manshur

Foto bersama dengan Pak Manshur

Kami harus menunggu beberapa menit kapal datang. Kapal yang akan kami tumpangi ini adalah KM. Cahaya Laut. Ratusan orang sudah menunggu di tepi dermaga. Banyak sekali ya yang akan balik siang ini. Bakal sepi dong Pulau Tidung habis ini :(.

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Kapal yang ditunggu akhirnya beberapa saat kemudian datang juga. Orang-orang berebutan masuk ke dalam. Walaupun berebutan tapi tidak seperti pengalamanku berebutan naik kereta ekonomi yang sampai senggol-senggolan. Karena kalau sampai tersenggol di sini, siap-siap jatuh ke laut, hihihi.

Pukul 12.50 kapal sudah diberangkatkan. Kondisi kapal saat itu benar-benar penuh. Tidak butuh waktu lama kapal untuk merapat di dermaga. Setelah kapal penuh, kapal langsung segera diberangkatkan. Perjalanan kurang lebih selama 3 jam sudah menunggu di depan. Orang-orang seperti tampak sudah kelelahan. Ya, lelah karena aktivitas-aktivitas plesir yang mereka lakukan selama di Pulau Tidung. Tak heran jika banyak dari mereka yang terlelap sepanjang perjalanan kapal menuju pelabuhan Muara Angke, Jakarta.

15.45. Kapal telah sampai dan merapat di dermaga Muara Angke. Perjalanan belum berakhir. Ini Jakarta bung, bukan Bandung. Kami pun segera turun dan mencari taksi untuk menuju stasiun Gambir. Taksi di Muara Angke membandrol mahal untuk tarif ke stasiun Gmabir, Rp80.000. Padahal dari pengalaman Neo sebelumnya naik taksi yang menggunakan argo, habisnya cuma Rp50.000.

Kami pun mencari taksi di luar pelabuhan. Dapat juga akhirnya taksi yang mau menggunakan argo. Sial bagi kami, sore itu Jakarta macet luar biasa, padahal hari itu hari Minggu. Mulai Mangga Dua sampai Gambir kondisi jalan raya adalah padat merayap. Kami baru sampai di stasiun pukul setengah 6 menjelang maghrib.

Sialnya lagi, tiket kereta Argo Parahyangan kelas bisnis sudah habis. Tinggal yang eksekutif saja. Itupun harganya Rp80.000, luar biasa mahal bagi kami. Akhirnya, kami mencari mobil-mobil carteran yang ada di area stasiun Gambir. Nego, nego, nego, akhirnya dapat mobil yang mau mengantar kami sampai ke Dago, Bandung, dengan kesepakatan harga Rp420.000 termasuk biaya tol. Lumayanlah bagi bertujuh, berarti satu orang kena Rp60.000. Oh ya, di Jakarta ini kami harus berpisah dengan Neo dan Luthfi yang akan tetap stay di Jakarta dulu untuk beberapa hari tinggal bersama keluarganya. Jadi yang balik ke Bandung, tinggal bertujuh.

20.30. Alhamdulillah sampai juga di Bandung. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Boleh dibilang dua hari di Pulau Tidung adalah dua hari pelarian kami dari penatnya rutinitas kami di Bandung, hihihi. Ceileee … bahasanya :D.

Boleh dibilang tajuk jalan-jalan kami dua hari itu adalah “Weekend Escape to Tidung Island”. Mantap kan? Ya, rencana backpacking ke Karimun Jawa terpaksa batal dan diganti dengan jalan-jalan ke Pulau Tidung karena dirasa lebih possible buat dilakukan mengingat kesibukan kami yang sudah mulai berbeda satu sama lain. Mudah-mudahan ada kesempatan lain bagi kami untuk backpacking lagi ke tempat lain menikmati indahnya alam ciptaan Alloh ini.