Tag Archives: pantai

Pantai Pandawa

Company Outing ke Bali: Day 1 – Pantai Pandawa & Jimbaran

Minggu, 21 Mei 2017

Usai menempuh penerbangan selama kurang lebih 1,5 jam dari Bandung, pesawat Lion Air yang kami tumpangi, alhamdulillah, mendarat tepat waktu di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Ketika itu menurut Waktu Indonesia Tengah (WITA) jam telah menunjukkan pukul 1 siang.

Setelah 7 tahun berlalu, ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di Pulau Bali. Tapi ini adalah yang pertama kalinya saya datang ke Bali melalui jalur udara. 7 Tahun yang lalu saya pergi ke Bali dengan cara backpacking, sambung-menyambung berbagai macam moda transportasi mulai dari kereta api (Bandung-Banyuwangi), kapal laut (Ketapang-Gilimanuk), bus (Gilimanuk-Denpasar), sampai taksi (Denpasar-Pantai Kuta).

baca juga: Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 3) : Denpasar Moon

Tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai

Tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai

Kali ini saya datang ke Bali dalam rangka liburan kantor kecil saya. Alhamdulillah ini liburan terjauh yang pernah kantor kami lakukan. Terakhir, liburan paling jauh kantor itu tiga tahun yang lalu ke Yogyakarta.

baca juga: Cave Tubing di Goa Pindul

Di Bali ini kami berlibur selama 3 hari 2 malam saja. Selama jalan-jalan di Bali ini kami menyewa satu elf untuk berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Elf sudah kami booking sejak seminggu sebelumnya.

Sejak tiba di bandara, kami sudah Continue reading

Advertisements
View salah satu sudut Angke Kapuk

Jalan-Jalan ke Hutan Bakau “Angke Kapuk”

Sabtu kemarin (5/12) saya bersama teman saya jalan-jalan ke tempat wisata yang katanya sih (sudah lama) ngehit di Jakarta, yakni Taman Wisata Alam “Angke Kapuk”. Lokasinya berada di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Tepatnya di belakang Tzu Chi International School.

Kami ke sana naik bus TransJakarta dari halte busway Monas. Bus yang kami naiki sama persis dengan bus TransJakarta lainnya. Kami cukup terkejut juga sih. Sebab yang saya baca di internet, katanya bus ke PIK ini ada tulisan BKTB-nya. BKTB adalah singkatan dari Bus Kota Terintegrasi Busway. Tapi bus yang kami naiki tak ada tulisan tersebut.

Kami lagi nggak hoki saat itu. Ketika kami tiba di halte Monas, pas banget bus yang ke PIK Continue reading

Senja di Gili Trawangan

Jalan-Jalan di Lombok: Hari 3 – Gili Trawangan

Senin, 1 Juni 2015

Pagi itu menjelang pukul 9 shuttle yang hendak mengantar kami ke Pelabuhan Bangsal sudah datang. Kami pun check-out dari penginapan. Di dalam shuttle sudah ada 4 orang bule yang bergabung.

Shuttle ini sudah kami booking melalui tempat rental motor kami sehari sebelumnya. Awalnya kami ingin ngeteng aja ke Gili Trawangannya. Namun, pihak rental motor kami menawarkan diskon harga yang lumayan besar dari harga normal.

Umumnya tiket shuttle ke Pelabuhan Bangsal dari Senggigi sih Rp75.000 udah include tiket public boat buat nyeberang ke Gili Trawangan. Kami ditawari Rp40.000 per orang oleh pihak rental tadi. Setelah kami pikir-pikir, harganya sepertinya nggak terlalu jauh dibandingkan jika ngeteng naik taksi ke sana.

Di Bangsal shuttle berhenti di sebuah kafe bernama “Bunga Bunga Cafe” yang menjadi tempat singgah traveler-traveler yang hendak pergi atau baru saja datang dari Gili. Kami bersantai dahulu di sana sambil menunggu kapal kami yang dijadwalkan berangkat pukul 10.30.

Di dalam kapal menyeberang ke Gili Trawangan

Di dalam kapal menyeberang ke Gili Trawangan

Perjalanan menyeberang ke Gili Trawangan dengan public boat ini menempuh waktu kurang lebih Continue reading

Tanjung Aan

Jalan-Jalan di Lombok: Hari 2 – Jelajah Pantai Selatan

Minggu, 31 Mei 2015

Hari itu agenda kami adalah menjelajahi pantai-pantai di bagian selatan Pulau Lombok. Berdasarkan informasi yang sudah kami baca-baca sebelumnya di internet, kabarnya di sepanjang garis selatan pulau Lombok ini terdapat banyak pantai cantik yang masih belum ramai dikunjungi oleh turis. Karena itulah kami tertarik untuk mengeksplornya.

Kami menyewa 2 sepeda motor sebagai kendaraan kami untuk menuju pantai-pantai tersebut. Kebetulan di samping penginapan kami terdapat rental sepeda motor juga. Nama tempat rentalnya “Adventure Lombok Tour”. Selain rental sepeda motor, mereka juga menerima rental mobil dan paket tur di Lombok. Kami menyewa 2 sepeda motor untuk 1 hari dengan biaya Rp50.000 per motor.

Setelah mandi dan mengepaki beberapa pakaian ganti dan perbekalan, kami pun berangkat meninggalkan kawasan Senggigi ini. Tujuan pertama kami adalah Pantai Selong Belanak. Aplikasi Google Maps menjadi panduan kami dalam menentukan rute perjalanan kami.

Rute jelajah pantai-pantai selatan Lombok

Rute jelajah pantai-pantai selatan Lombok

1. Pantai Selong Belanak

Perjalanan dari Senggigi menuju Pantai Selong Belanak ini kurang lebih menempuh waktu sekitar 1,5 jam-an. Akses jalan menuju pantai ini sebagian besar sudah bagus. Hanya beberapa Continue reading

Pemandangan Pantai Senggigi

Jalan-Jalan di Lombok: Hari 1 – Tiba di Senggigi

Sabtu, 30 Mei 2015

Jalan-jalan di Lombok ini sudah aku rencanakan jauh-jauh hari. Tepatnya pada bulan Februari awal tahun ini. Gara-garanya ada rute baru Bandung-Lombok yang dioperasikan oleh maskapai Citilink.

Aku dan temanku, Kamal, pun langsung membeli tiket untuk akhir Mei. Pada tanggal-tanggal tersebut sudah dapat dipastikan Kamal sudah selesai dari aktivitas perkuliahan S2-nya. Dan kebetulan Senin tanggal 1 Juni-nya adalah hari kecepit, jadi aku hanya perlu ambil cuti sehari.

Penerbangan Bandung-Lombok

Boarding ke dalam Citilink

Boarding ke dalam Citilink

Sabtu itu, pesawat Citilink yang akan kami tumpangi seharusnya berangkat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung pukul 10.45 WIB dan tiba pukul 13.25 WITA. Namun, pesawat kami mengalami keterlambatan hingga 45 menit hingga menyebabkan kami baru tiba di Bandara Internasional Lombok (BIL) sekitar pukul 14.00 WITA.

Di BIL kami menunggu satu orang teman lagi yang menyusul dari Surabaya. Dani namanya. Untungnya tak lama kami menunggu. Pesawat Garuda Indonesia yang ditumpangi Dani tiba 15 Continue reading

Catatan Perjalanan Tour Sukabumi & Ciamis (Day 4) : Adventure in Green Canyon

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya bahwa rombongan kami berpisah menjadi dua saat meninggalkan Sukabumi. Yang satu balik ke Bandung dan satunya lagi melanjutkan perjalanan ke Banjar. Nah, aku termasuk rombongan yang disebutkan terakhir tadi.

Kami tiba di Banjar pukul 2 dini hari. Mantap bengetlah si Ginanjar, temanku yang jadi driver malam itu. Jarak Bandung-Banjar ditempuh hanya dalam 3 jam kurang. Tempat singgah kami di Banjar adalah rumah Ginanjar. Kebetulan orang tuanya memiliki dua rumah. Yang kami tempati saat itu adalah rumah dia yang baru yang masih belum ditinggali. Kami benar-benar berterima kasih sekalilah sama keluarga Ginanjar yang meminjamkan rumahnya buat tempat istirahat :).

Sesampainya di rumah Gin, panggilan akrab Ginanjar, aku tidak langsung tidur, tapi nonton siaran sepak bola dulu. Waktu itu ada siaran pertandingan Serie A Napoli vs Cagliari di TV. Tapi karena rasa lelah yang masih mendera dan pertandingan yang membosankan, aku pun tertidur.

Pukul 5 pagi tiba-tiba aku terbangunkan oleh alarm handphone yang disetel anak-anak. Tapi entah kenapa kok tidak ada yang bangun, hihi. Lalu iseng-iseng kupotret saja anak-anak itu. Ini dia fotonya:

Tidur di rumah Gin

Tidur di rumah Gin

Setelah itu, aku langsung sholat Shubuh dan tidur lagi. Mau bagaimana lagi, sebabnya masih ngantuk banget, hehehe.

Bangun-bangun, ternyata sudah jam 7 saja. Saat aku bangun, anak-anak sudah ada yang mandi, lagi mandi, antri mandi, bikin kopi, dan tidur. Ada saja ternyata aktivitas mereka.

Tujuan utama kami hari itu adalah objek wisata Green Canyon. Sebuah objek alam berupa tebing-tebing dengan stalaktit yang berada di sisi-sisi sungai, terdapat di kawasan Cijulang, Kabupaten Ciamis. Kalau mendengar kata Green Canyon, kita mungkin teringat dengan kata Grand Canyon di Amerika Serikat sana. Yah, memang mirip-mirip gitulah tempatnya, hehehe. Namun sebenarnya warga setempat juga punya sebutan sendiri untuk objek wisata itu, tapi tentu saja namanya menggunakan bahasa Sunda, Cukang Taneuh sebutannya.

Pagi itu kami berangkat dari rumah Gin sekitar pukul setengah 9. Kami mampir makan bubur ayam dulu di pinggir jalan di suatu sudut Kota Banjar. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Green Canyon. Perjalanan menuju ke Green Canyon itu kurang lebih memakan waktu hampir 2 jam dari rumah Gin tadi.

Sepanjang jalan menuju Green Canyon itu kami melalui sungai-sungai yang warna airnya tampak hijau. Namun, ketika kami sampai di Green Canyon, kami sedikit kecewa karena warna sungai di sana justru cokelat. Kami memang kurang beruntung saat itu. Memang sih, kata orang-orang, sebaiknya kalau main ke Green Canyon jangan saat musim hujan, atau habis hujan sehari sebelumnya. Sebab, setiap habis turun hujan warnanya pasti berubah jadi cokelat.

Tapi tidak mengapa, toh kami juga sudah terlanjur datang. Masak mau balik lagi, hehe.

Di depan gerbang Cukang Taneuh

Di depan gerbang Cukang Taneuh

Baliho Cukang Taneuh

Baliho Cukang Taneuh

Untuk dapat menikmati wisata di Green Canyon, kita harus membayar Rp75.000 per perahu. Per perahunya bisa diisi sekitar 5-6 orang pengunjung. Setiap perahu biasanya ada dua orang tukang perahu. Yang satu berperan juga sebagai body rafting guide.

Oh ya, perlu diketahui, wisata Green Canyon ini tidak sekadar wisata naik perahu menikmati pemandangan alam saja, tetapi juga bisa body rafting menyusuri sungai (kalau Anda tertarik). Sebabnya, perahu tidak bisa berjalan jauh karena banyak ruas sungai yang terdapat bebatuan besar di tengah-tengahnya sehingga perahu pun tidak bisa lewat. Oleh karena itu, kalau masih ingin menikmati alam Green Canyon itu lebih jauh kita harus menyusuri sungai itu dengan berenang. Tenang saja, kita tidak perlu jago berenang untuk dapat menyusuri sungai itu. Kita bisa memakai rompi pelampung saat berenang itu. Jadi jangan khawatir akan tenggelam. Lagi pula kita juga akan dipandu oleh tukang perahu yang merangkap jadi body rafting guide itu. Dia yang akan mengarahkan kita rute mana yang aman dilalui.

Perlu diketahui juga, arus sungai di Green Canyon ini cukup deras dan kita harus berenang melawan arus tersebut untuk mencapai bagian Green Canyon yang lebih jauh. Mengenai rompi pelampung itu, kita tidak perlu membayarnya lagi karena itu sudah termasuk dalam biaya yang Rp75.000 tadi (fasilitas standar). Yang harus kita bayar adalah tips ke tukang perahunya karena sudah mau menunggu dan (bahkan) memandu kita berenang menyusuri sungai itu. Pengalaman kami kemarin, setelah melalui tawar-menawar yang cukup alot, setelah kami mulai dari harga Rp20.000, Rp30.000, Rp50.000, akhirnya berhenti di angka Rp75.000. Kalau kata akang tukang perahunya biasanya dia minta ke wisatawan lain itu Rp100.000-Rp150.000. Dalam hati kami berkata, “Ya wajar saja kang kalau wisatawannya bule dikasih harga segitu.” Serius, Green Canyon ini banyak juga ternyata pengunjung bulenya, seperti yang kami temui pada saat itu.

Hal lain yang juga tidak boleh dilupakan adalah kamera. Tentunya kita nggak ingin melewatkan momen seru menyusuri sungai ini kan. Namun, mau tidak mau kita harus berenang alias berendam di dalam air saat body rafting itu. Makanya, perlu dipersiapkan juga kamera anti air (under water camera) yang biasa digunakan untuk memotret di dalam air. Atau bisa juga tas kecil yang dibungkus selimut tas anti air seperti yang dibawa temanku si Kun kemarin. Karena dia, kami bisa foto-foto sepuasnya di Green Canyon itu. 😀

Nah, ini aku tampilkan foto-foto kami sewaktu di Green Canyon kemarin (maaf sebagian foto agak blur):

Dermaga wisata Cukang Taneuh

Dermaga perahu

Naik perahu menuju Green Canyon

Naik perahu menuju Green Canyon (photo by Kuncoro)

Perjalanan naik perahu

Perjalanan naik perahu

Tebing-tebing Green Canyon

Tebing-tebing Green Canyon

Stalaktit-stalaktit Green Canyon

Stalaktit-stalaktit Green Canyon

Siap berenang

Siap berenang (photo by Kuncoro)

"Pos 1" body rafting (photo by Kuncoro)

"Pos 1" body rafting (photo by Kuncoro)

Di kolam "pemandian putri"

Di kolam "pemandian putri" (photo by Kuncoro)

Aliran sungai Green Canyon 1

Aliran sungai Green Canyon 1 (photo by Kuncoro)

Aliran sungai Green Canyon 2

Aliran sungai Green Canyon 2 (photo by Kuncoro)

Habis body rafting

Habis body rafting

Balik ke dermaga

Balik ke dermaga

Kami benar-benar puas setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2,5 jam berpetualang di Green Canyon ini. Terus terang biaya sebesar itu awalnya memang terasa mahal bagi kami. Namun, setelah menjalani langsung body rafting di Green Canyon, dan sikap kooperatif tukang perahunya yang benar-benar membantu kami saat body rafting itu, baik itu membantu kami berenang (dengan menunjukkan arah atau memberikan tali), maupun memotretkan kami dengan senang hati, kami pun jadi tidak terlalu menyesal harus membayar semahal itu. 😀

Puas berpetualang di Green Canyon, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Pantai Batu Karas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi Green Canyon. Cuma butuh waktu sekitar 15 menit menuju ke sana dengan kendaraan.

Saat memasuki kawasan Pantai Batu Karas ini, yang terpikir di benakku adalah pantai ini mirip dengan pantai di Bali. Terutama dengan kehadiran turis-turis asing di sana. Selain itu, di Pantai Batu Karas ini juga terdapat orang-orang yang bermain selancar atau banana boat sebagaimana yang ada di pantai-pantai di Bali. Ombaknya di sana juga tenang, tidak seganas ombak-ombak pantai selatan pada umumnya. Ombak di sana punya karakteristik yang cocok untuk main selancar. Wajar saja ombak di Pantai Batu Karas ini tidak segarang ombak di pantai selatan Jawa lainnya. Pantai ini sebenarnya tidak menghadap langsung ke sebelah selatan (Samudra Hindia), tetapi kalau kita amati di peta, pantai ini sebenarnya malah menghadap ke timur karena pantai ini adalah bagian dari daratan yang menjorok ke lautan.

Bagaimana? Ingin main selancar di Batu Karas? Nggak punya/bawa papan selancar? Tenang, di sana ada distro yang menyediakan itu semua (lagi-lagi tampilannya pun mirip dengan yang ada di Bali).

Baysurf

Baysurf (photo by Kuncoro)

Di Batu Karas ini juga terdapat penginapan-penginapan yang tersebar di sepanjang jalan sejajar dengan garis pantai. Aku sempat iseng bertanya mengenai tarif penginapan kepada salah seorang bapak yang tampaknya mengelola salah satu penginapan di sana. Kata beliau sih tarifnya sekitar rentang Rp200.000 per malam, tapi bisa diisi banyakan orang. Hmm… boleh juga tuh kalau ramai-ramai. Tapi sepertinya sih memang masih ada yang lebih murah lagi.

Oh ya, waktu itu sekalian kami meminta bapak itu untuk memotret kami di pantai Batu Karas ini, Mumpung ada yang bersama kami, hehe:

Foto bersama @ pantai Batu Karas

Foto bersama @ pantai Batu Karas

Pantai Batu Karas

Pantai Batu Karas

Banana boat

Banana boat

Surfing

Surfing

Sayangnya kami tidak berlama-lama berada di sana karena waktu kami sangat terbatas saat itu. Saat berada di Batu Karas itu, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 15.30. Mau tidak mau kami harus segera kembali ke Banjar untuk selanjutnya bersiap-siap kembali ke Bandung. Maklum, mobil yang kami sewa ini memang harus kembali paling lambat pukul 9 malam. Padahal banyak sekali tempat wisata di sekitar Pangandaran atau Cijulang itu yang ingin kami kunjungi juga. Namun, apa daya waktu kami terbatas. Ya mungkin lain waktu jika ada kesempatan aku akan ke sana lagi. 😀

Dari Batu Karas kami langsung bergerak lagi menuju ke Banjar. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk menempuh jarak Pangandaran-Banjar itu. Di tengah perjalanan kami menyempatkan untuk sholat Ashar dijama’ dengan Dhuhur di masjid pinggir jalan di ruas Banjarsari.

Sesampainya di Banjar kami tidak langsung menuju ke rumah Gin, tetapi mampir makan malam dulu di rumah makan Beta yang berada di persis setelah pintu masuk Kota Banjar di sisi barat, kebetulan juga dekat dengan rumah Gin. Nyaman sekali suasana tempat makan di sana. Rumah makan dengan arsitektur bambu dan rotan gitu. Selain itu juga terdapat kolam ikan berada di sekeliling dan di bawah rumah makan itu. Malam itu kami makan nasi dengan menu lalapan burung ayam-ayaman. Hmm… sedap sekali ayam-ayamannya. Sambelnya juga sangat gereget bikin nafsu makan meningkat, hehehe.

Menu lalapan ayam-ayaman

Menu lalapan ayam-ayaman

Makan malam @ rumah makan Beta

Makan malam @ rumah makan Beta

Alhamdulillah, akhirnya perut terisi juga setelah seharian cuma makan bubur ayam, hehe. Habis dari rumah makan itu kami langsung balik ke rumah Gin. Tanpa banyak membuang waktu, begitu kami tiba di rumah Gin, kami langsung mengemasi barang-barang kami dan bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. Setelah semua barang-barang selesai dimasukkan ke dalam mobil, sebelum pulang ke Bandung, kami foto-foto dulu di depan rumah Gin. 😀

Di depan rumah Gin

Di depan rumah Gin

Perjalanan Banjar-Bandung malam itu kami tempuh dalam waktu hampir 4 jam. Termasuk lama memang. Mau bagaimana lagi, malam itu di Nagrek benar-benar lagi macet parah. Alhasil kami baru tiba di Bandung sekitar pukul 11 malam lebih. Denda Rp50.000 harus kami tanggung atas keterlambatan dalam pengembalian mobil yang kami sewa itu.

Namun, overall kami benar-benar cukup puas dengan jalan-jalan bersama tengah semester ini. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan dan tidak akan pernah kami lupakan. Selanjutnya kami berencana mengunjungi wisata alam yang lain yang ada di Indonesia lain waktu. Sekarang saatnya mengembalikan fokus ke kuliah dan tugas akhir kembali. 😀

Catatan Perjalanan Tour Sukabumi & Ciamis (Day 3) : Jalan-Jalan ke Pelabuhan Ratu

Ahad, 20 Maret 2011. Hari itu seharusnya kami check out dari penginapan pukul 6.30 jika merunut pada run down yang sudah dibuat. Namun, karena kecapekan akibat padatnya kegiatan jalan-jalan di hari Sabtu-nya, teman-teman banyak yang kesiangan. Kami pun baru berangkat dari tempat penginapan sekitar pukul 9 pagi. Sebelumnya tentu saja kami sarapan dulu dengan menu yang masih sama seperti hari sebelumnya, yakni nasi, telor dadar, mie goreng, plus sambel jampang yang enak pedes-pedes itu.

Setelah semua selesai sarapan dan mandi, serta barang-barang telah beres di-packing dan yakin tidak ada barang tertinggal, kami pun berangkat meninggalkan Surade menuju ke kawasan Pelabuhan Ratu.

Jarak tempuh perjalanan dari Surade menuju Pelabuhan Ratu ini cukup lama. Kalau tidak salah, ada sampai 2 jam perjalanan. Tapi, sebelum menuju ke Pelabuhan Ratu, kami main-main dulu ke Pantai Loji. Di dekat pantai Loji ini terdapat sebuah kuil. Teman-teman pun mencoba mampir ke sana melihat-lihat.Namanya juga kuil, tempat ini sebenarnya bukan objek wisata, tapi tempat ibadah. Wah, gimana nih guide Kang Adi? Kok ngajak main-main ke tempat ibadah orang sih, orang lagi ibadah kok malah dilihatin :D. Tapi anehnya, di sana dibangun juga kamar Nyi Roro Kidul. Tanya kenapa?

Samudra Hindia tampak dari atas kuil

Samudra Hindia tampak dari atas kuil

Di kuil

Di kuil

Berpose kuda-kuda wing chun

Berpose kuda-kuda wing chun

Kalau Pantai Lojinya sendiri, tidak seperti pantai lain pada umumnya yang berpasir, sebagian besar permukaannya berupa bebatuan. Tapi siang itu cukup banyak juga orang-orang yang berwisata di Pantai Loji itu, sekedar melihat-lihat laut, berfoto, atau iseng melempar batu ke laut. Atau mungkin sekedar duduk-duduk melihat samudra Hindia sambil duduk di bawah pohon seperti mereka ini 😛 :

Memandangi laut di Loji

Memandangi laut di Loji

Pantai Loji

Pantai Loji

Dari Pantai Loji kami melanjutkan perjalanan kembali menuju kawasan Pelabuhan Ratu. Objek yang kami tuju adalah Pantai Karang Hawu. Perjalanan menuju ke sana kira-kira memakan waktu sekitar sejam.

Sesampainya di Karang Hawu, mata kami langsung berbinar-binar begitu melihat ada lapangan bola dengan dua gawang dari bambu di sana. Timbullah hasrat untuk bermain sepak bola pantai di sana. Tak jauh dari tempat parkir mobil ada pedagang yang jualan bola plastik. Kami pun membeli satu buah bola plastik untuk dimainkan bersama.

And… the show goes on! Setelah dibagi dua tim kami mulai memainkan bola dari kaki ke kaki, saling menyerang ke gawang lawan. Baru sekitar 15 menit bermain nafas kami mulai terengah-engah. Ternyata berat juga main bola di pantai. Bukan berat bolanya, tapi berat di larinya. Berlari di pantai itu berat karena kesulitan mengayunkan kaki. Tiap kali berlari, rasanya ada gundukan pasir yan nyangkut di kaki ini sehingga terasa berat. Cukup lebaynya, hahaha. Yang jelas dalam permainan itu timku menang 4-0 walaupun aku nggak mencetak gol. Tapi yang penting ikut menyumbangkan assist, hehehe.

Main sepak bola pantai

Main sepak bola pantai

Capek bermain bola, kami beralih bermain-main air di laut. Namun, tidak lama kemudian, setelah puas bermain-main air kami beristirahat di sebuah warung di dekat pantai sambil meminum es kelapa muda. Harga kelapa muda di warung itu Rp7.000 per buah. Lumayan, sambil mengisi perut yang kosong. Setelah itu lanjut… foto-foto lagi, hehehe.

Main di pantai

Main di pantai

Pantai Karang Hawu

Pantai Karang Hawu

Makan kelapa

Makan kelapa

Karang Hawu

Karang Hawu

Di atas karang

Di atas karang

Di depan pantai

Di depan pantai

Iseng di Pantai

Iseng di Pantai

Puas bermain-main di pantai plus foto-foto, kami pun segera bersiap-siap untuk cabut lagi. Sebelumnya, teman-teman mandi dan sholat dulu di kamar mandi umum yang banyak bertebaran di sekitar pantai. Setelah semuanya beres, kami pun segera memacu mobil kembali ke arah Sukabumi.

Awalnya rencana kami adalah lanjut jalan-jalan ke Situ Gunung yang juga masih berada di Kabupaten Sukabumi. Namun, karena sudah terlalu sore dan jarak tempuh juga sangat jauh, akhirnya diputuskan kami langsung saja melaju menuju Sukabumi Kota. Di sana kami mampir makan malam di tempat yang direkomendasikan oleh Kang Adi. Namanya warung “Cah Solo”. Kami pun makan malam di sana. Selesai makan, tiba-tiba ada kepanikan di antara teman-teman. Ternyata Kuncoro baru sadar dompetnya hilanh entah di mana. Kemungkinan besar terjatuh di tempat makan itu. Kami pun semua membantu mencarinya bersama-sama. Namun tetap tidak ditemukan. Dengan berat hati kami pun menghentikan pencarian dan meminta tolong pemilik tempat makan agar menghubungi si Kun jika menemukan dompetnya.

Yak, makan malam di Sukabumi kali ini mengakhiri perjalanan kami bertiga belas selama kurang lebih 2 hari. Dari Sukabumi ini rombongan dipisah menjadi dua: yang satu kembali ke Bandung dan satunya lagi meneruskan perjalanan ke Banjar. Kenapa dipisah menjadi dua? Karena ada beberapa teman yang keesokan harinya harus menghadapi UTS, kuliah, atau ada deadline tugas yang telah menanti sehingga harus segera kembali ke Bandung. Aku sendiri ikut rombongan yang meneruskan perjalanan ke Banjar. Jadi, tenang saja, report mengenai jalan-jalan di sekitaran Banjar atau Ciamis akan kubuatkan juga setelah ini, hehehe. 😀