Tag Archives: kuta

Tanjung Aan

Jalan-Jalan di Lombok: Hari 2 – Jelajah Pantai Selatan

Minggu, 31 Mei 2015

Hari itu agenda kami adalah menjelajahi pantai-pantai di bagian selatan Pulau Lombok. Berdasarkan informasi yang sudah kami baca-baca sebelumnya di internet, kabarnya di sepanjang garis selatan pulau Lombok ini terdapat banyak pantai cantik yang masih belum ramai dikunjungi oleh turis. Karena itulah kami tertarik untuk mengeksplornya.

Kami menyewa 2 sepeda motor sebagai kendaraan kami untuk menuju pantai-pantai tersebut. Kebetulan di samping penginapan kami terdapat rental sepeda motor juga. Nama tempat rentalnya “Adventure Lombok Tour”. Selain rental sepeda motor, mereka juga menerima rental mobil dan paket tur di Lombok. Kami menyewa 2 sepeda motor untuk 1 hari dengan biaya Rp50.000 per motor.

Setelah mandi dan mengepaki beberapa pakaian ganti dan perbekalan, kami pun berangkat meninggalkan kawasan Senggigi ini. Tujuan pertama kami adalah Pantai Selong Belanak. Aplikasi Google Maps menjadi panduan kami dalam menentukan rute perjalanan kami.

Rute jelajah pantai-pantai selatan Lombok

Rute jelajah pantai-pantai selatan Lombok

1. Pantai Selong Belanak

Perjalanan dari Senggigi menuju Pantai Selong Belanak ini kurang lebih menempuh waktu sekitar 1,5 jam-an. Akses jalan menuju pantai ini sebagian besar sudah bagus. Hanya beberapa Continue reading

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 4) : Keliling Bali

Senin, 27 Desember 2010. Hujan deras mengguyur pagi itu selama kurang lebih dua jam sejak sekitar pukul 6. Seperti yang direncanakan sebelumnya, hari itu kami akan berkeliling Bali dengan mobil sewaan. Karena di antara kami semuanya benar-benar buta jalan di Bali, aku dan Neo berinisiatif untuk mencari orang yang menjual peta Bali di sekitar Kuta ini. Pagi itu, selepas hujan reda, kami langsung jalan-jalan keluar mencari peta.

Kami mencoba memasuki gang-gang yang berada di kawasan Kuta itu. Meskipun hanya berupa gang atau jalan-jalan sempit, tapi kawasan itu sangat ramai dengan kafe-kafe, toko-toko, dan tourist information center. Di salah satu jalan ada sebuah kotak yang dihantung di depan sebuah toko yang ternyata isinya adalah semacam brosur-brosur gitu. Di kotak itu tertulis “Free Map”. Oh, ternyata isinya adalah peta yang ditawarkan secara gratis. Sayangnya, isi petanya hanya mencakup jalan-jalan kawasan kuta-legian saja. Tapi, nggak apa-apalah. Lumayan, dikasih gratis kok nolak. 😀

Setelah menyambangi beberapa toko, akhirnya kami menemukan sebuah toko yang menjual peta Bali. Tapi harganya sangat mahal, Rp 60 ribu! Namun, terus terang isi petanya sangat lengkap. Yang jelas petanya bukan seperti yang biasa ada di atlas itu. Ini ada peta jalan rayanya juga seperti di Google Maps. Tapi peta jalan yang tersedia hanya di beberapa tempat saja yang di sana ada objek wisata terkenal. Ketika kami mencoba menawar-nawar, mbak penjualnya tetap keukeuh. Ya sudahlah, terpaksa peta itu kami beli seharga segitu. Kayaknya mbaknya tahu kami bakal butuh banget.

Perjalanan dimulai

Akhirnya kami mendapatkan mobil sewaan juga, Toyota Avanza, dengan harga sewa Rp 225 ribu untuk 24 jam. Pukul 11 tepat mobil itu kami sewa dan kita langsung berangkat. Tujuan pertama kami adalah Tanah Lot. Neo berperan sebagai driver, aku sebagai navigator yang melihat papan penunjuk jalan, Khairul dan Kamal berperan sebagai pencari rute dengan melihat peta yang sudah kami beli dengan mahal tadi.

Khairul dan Kamal

Khairul dan Kamal

Neo

Neo

Sampai di Tanah Lot

Hanya berbekal peta dan papan penunjuk jalan, kami sampai juga akhirnya di Tanah Lot. Alhamdulillah tidak sampai nyasar ke mana-mana. Tiket masuk ke Tanah Lot untuk 4 orang dengan mobil sebesar Rp 35 ribu. Tanah Lot merupakan objek wisata yang menawarkan keunikan karena adanya sebuah pura yang berada di atas bongkahan batu raksasa yang dipisahkan dengan daratan oleh laut. Sampai di sana kami berfoto-foto dulu. Kencang juga ya ombak di sana.

Di Tanah Lot

Di Tanah Lot

Bunga merekah di Tanah Lot

Bunga merekah di Tanah Lot

Deburan ombak di Tanah Lot

Deburan ombak di Tanah Lot

Lanjut ke Ubud

Selesai jalan-jalan di Tanah Lot, kami melanjutkan perjalanan ke Ubud. Objek yang akan kami datangi adalah “Bali Bird Park & Reptiles”. Sialnya, kali ini kami benar-benar tersesat. Berjam-jam kami muter-muter nggak jelas. Ada suatu saat di mana sebenarnya kami sudah sedikit lagi sampai di Bali Bird Park itu. Tapi sialnya, kami tidak tahu di mana kami berada di mana saat itu, akhirnya kami putar arah.

Setelah sekian lama berputar-putar akhirnya sampai juga di jantung kawasan Ubud. Kawasan ubud memang terkenal dengan keseniannya. Di pinggir-pinggir jalan bertebaran toko-toko atau galeri yang menjual atau memamerkan karya-karya seni mereka.

Tak mau hanya sekedar melihat dari dalam mobil, kami mencoba turun dan masuk ke salah satu galeri lukisan yang ada di sana yang kebetulan memiliki parkir yang luas. Sayang, aku lupa nama galeri itu. Begitu selesai parkir, kami beranjak masuk ke dalam galeri. Oh, ternyata dimintai tiket oleh penjaganya. Okelah kalau begitu kami akan membeli dulu. Tak lama kemudian mata kami terbelalak kaget. What?? Alamak, harga tiket masuknya Rp40.000!! “Itu sudah untuk empat orang ya?” dengan polosnya aku bertanya kepada petugas tiket itu. Tiba-tiba aku tersadar Rp40.000 yang tertulis di loket itu mana mungkin ditujukan untuk 4 orang. Akhirnya dengan malunya kami nggak jadi masuk. Kami pun ngeloyor pergi begitu saja tanpa menunggu komentar bapaknya. Hihihi… 😀

Dari galeri lukisan itu, kami melanjutkan perjalanan lagi ke objek wisata “Wenara Wana”. Sebenarnya kami kurang begitu tahu sih objek wisata apa yang ditawarkan di sana. Yang kami tahu tentang “Wenara Wana” hanya dua kata kunci saja, “hutan” dan “kera”. Tapi, dari pada nggak ada tempat yang dikunjungi selama di Ubud, ya sudah kami ke sana saja sambil berharap tiket masuknya bakal murah.

Begitu turun dari mobil, kera-kera sudah banyak berkeliaran di halaman depan objek wisata itu menyambut kami. Lagi-lagi biaya tiket masuk ke objek wisata itu benar-benar membuat kami mengernyitkan dahi. Biaya masuknya memang lebih “murah” dari pada di galeri lukisan tadi, tapi Continue reading

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 3) : Denpasar Moon

Ahad, 26 Desember 2010. Pukul setengah empat subuh kami berempat beranjak dari stasiun Banyuwangi Baru menuju pelabuhan Ketapang. Saat itu kami benar-benar tidak tahu pelabuhan Ketapang ada di sebelah mana. Kami hanya berjalan mengikuti arah suara bel kapal yang terdengar cukup kencang sampai stasiun. Ternyata benar, pelabuhan Ketapang itu sangat dekat dengan stasiun. Cukup ditempuh 10 menit dengan jalan kaki dari stasiun Banyuwangi Baru ke arah timur sampai ketemu jalan raya kemudian belok kanan.

Sebelum ke pelabuhan Ketapang, kami mampir dulu di Ind*mar*t yang berada tepat di depan gang masuk stasiun tepat di pinggir jalan raya. Di sanam kami membeli perbekalan dulu sebelum menyeberang ke Bali. Mumpung di sini lebih murah karena kata orang-orang, kalau sudah di Bali, apa-apa mahal di sana.

Di depan jalan masuk stasiun Banyuwangi Baru

Di depan jalan masuk stasiun Banyuwangi Baru

Menyeberang dengan kapal feri

Sudah lama aku nggak pernah naik kapal feri sejak terakhir kalinya saat aku masih berusia 3 tahun. Saat itu aku bersama keluarga jalan-jalan ke Madura naik kapal feri dari Tanjung Perak Surabaya ke Ujung kamal Madura. Setelah sekian lama, akhirnya aku bakal naik feri lagi (wah, ndeso tenan seh mas iki :D).

Tarif kapal feri untuk menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk cuma Rp6.000 per orang. Perjalanan selalu tersedia selama 24 jam non stop. Kalau diamati, sebenarnya jauh lebih murah menyeberang dengan naik kapal langsung tanpa kendaraan dibandingkan dengan naik kendaraan umum atau bawa kendaraan sendiri. Sebab tanpa sengaja di pelabuhan saya menemukan tiket yang telah dibuang si empunya dan di tiket itu tertulis tarif sebesar Rp343.000 untuk kendaraan orang itu yang termasuk golongan VI A.

Oke, setelah itu kami naik ke atas kapal feri. Sampai di sana langsung disambut lagu-lagu bergenre melayu yang diputar oleh awak kapal. Yup, di belakang kapal disuguhi sebuah TV LCD yang memutar video-video lagu karaoke melayu dan dangdutan. Lumayanlah, ada hiburan :P.

Melangkah menuju kapal feri

Melangkah menuju kapal feri

Di atas kapal feri

Di atas kapal feri

Ternyata indah juga ya pemandangan malam hari pelabuhan jika dilihat kejauhan dari kapal. Gemerlap lampu kota terlihat terang benderang dari kejauhan di tengah luasnya lautan yang gelap.

Tak terasa, jam dinding kapal telah menunjukkan waktu pukul 4.00. Sudah saatnya untuk sholat Shubuh nih. Di kapal feri juga tersedia mushola dan tempat wudlu serta toilet bagi penumpang. Kami pun sholat Shubuh di kapal feri itu.

Penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk itu memakan waktu sekitar 45 menit. Kapal berangkat dari Ketapang pukul 3.45 dan merapat di Gilimanuk pukul 4.30.

memandang ke laut lepas

memandang ke laut lepas

Bali mulai tampak dari kejauhan

Bali mulai tampak dari kejauhan

Sampai di Gilimanuk

Suasana pagi yang segar menyambut kami setibanyanya di pelabuhan Gilimanuk. Begitu turun kapal, ada jeda waktu di mana kami terbengong tidak tahu harus jalan ke mana. Kami mengamati orang-orang pejalan kaki yang baru turun dari kapal, melihat ke mana mereka akan melangkah, sambil berharap mereka memiliki tujuan yang sama dengan kami. 🙂

Suasana pagi di pelabuhan Gilimanuk

Suasana pagi di pelabuhan Gilimanuk

“Dug..dug..dug..”. Tiba-tiba panggilan alam menghampiriku. Aku harus segera pergi ke tolilet. Oh, ternyata di area pelabuhan itu terdapat toilet yang berada persis di ujung bangunan depan dermaga tempat kapal tadi merapat. Lumayan, toilet di pelabuhan itu ternyata gratis alias nggak perlu membayar, bisa pake sepuasnya :D.

Nah, mumpung gratis, kami pun mandi sekalian. Sudah hampir dua hari kami nggak mandi karena terus berada di dalam kereta api. Bau badan anak-anak sudah nggak tertahankan lagi. Alhamdulillah, akhirnya bisa mandi lagi. Sueger.. ger.. ger… 😀

Sehabis semua selesai mandi, kami mengobrol-ngobrol dengan petugas kebersihan di toilet itu. Orangnya cukup ramah dan kooperatif untuk dijadikan tempat bertanya. Kami mencoba mencari tahu berapa tarif transportasi umum dari Gilimanuk itu ke Denpasar dari orang tersebut. Kata beliau, biasanya tarifnya berkisar antara Rp20.000-Rp30.000.

Perlu diketahui, sebelumnya, kami juga sudah punya referensi dari blog-blog orang yang kami baca. Kami bertanya untuk memastikan saja agar selisihnya tidak sampai terlalu jauh. Berdasarkan pengalaman orang-orang yang ditulis pada blog mereka, sebagian besar mengatakan kalau beruntung kita bisa dapat tarif Rp20.000 ke Denpasar. Tapi pada umumnya memang kena Rp25.000.

Nah, mas penjaga toilet itu menawarkan untuk mencarikan bus ke Denpasar di terminal Gilimanuk. Kami pun mengiyakan. Selang beberapa menit kemudian datang si mas itu sama seorang kenek bus. Ternyata benar, tarif pertama yang ditawarkan oleh kenek bus itu Rp25.000. Kami pun mencoba menawar Rp20.000. Setelah negosiasi sebentar, akhirnya sepakat Rp20.000 itu. Nggak butuh waktu lama kenek bus itu untuk mengiyakan. Makanya kami sempat curiga juga, sebenarnya berapa sih ongkos dari Gilimanuk ke Denpasar itu. Tapi, berapapun itu, yang jelas pagi itu pukul 6.30 jadilah kami berangkat ke Denpasar dengan menumpang bus “Bahagia”.

Perjalanan Gilimanuk-Denpasar

Sepanjang perjalanan mulai dari Giliminauk, Negara, Tabanan, hingga Denpasar pemandangan indah tersaji di kanan-kiri jalan. Taman nasional, sawah-sawah, hingga pantai bisa kita temui sepanjang perjalanan itu. Perjalanan berhenti ketika bus memasuki terminal Ubung. Suasana panas menyengat menyambut kami.

Selain itu, sesampainya di sana, begitu kami turun, sudah banyak sopir-sopir taksi, angkot, dan bus yang menawari tumpangan kepada kami. Terus terang, saat itu kami sampai bingung mau melanjutkan dengan naik kendaraan apa. Bahkan, tujuan berikutnya mau ke mana kami juga masih abstrak.

Akhirnya, kami mencari tempat makan dulu untuk menghindari keramaian itu. Kebetulan ada warung “Arema” di depan terminal Ubung itu. Dari namanya kelihatan banget orang Malang nih yang punya, dan Insya Allah makanannya halal. Perlu diketahui, susah sekali mencari warung makanan yang halal di Bali. Solusinya memang cari warung makan orang Jawa atau Minang yang kebetulan juga cukup banyak di sana dan insya Allah halal. Kami membeli 3 mangkok rawon dan 1 mangkok soto ayam di warung itu. Masing-masing seporsi harganya Rp8.000. Cukup mahal memang.

Setelah makan, Neo mencoba bertanya kepada polisi di pos terdekat tentang cara ke Denpasar dan berapa ongkosnya. Sementara aku mencoba melihat jam dinding di dalam warung “Arema” itu. “Wuih… udah jam sentengah sebelas aja!” teriakku waktu itu terkejut. “Masak perjalanan dari Gilimanuk sampai Ubung tadi menghabiskan waktu 3,5-4 jam sih?” tanyaku kepada anak-anak. Kami baru ingat, Bali itu termasuk wilayah WITA. Jadi, sebenarnya kita berangkat pukul 7.30 dan sampai di Ubung sekitar pukul 10.00.

Setelah itu Neo kembali. Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya diputuskan kami akan menumpang taksi saja dan tujuan kami adalah ke kuta saja. Baru saja kami keluar dari warung, seorang sopir taksi sudah mendatangi kami di depan warung. Setelah melakukan tawar menawar, akhirnya kami mentok di angka Rp100.000 untuk ongkos taksi. Kata si pak Polisi yang ditanyai Neo memang segitu sih kisarannya, antara Rp80.000-Rp100.000. Tapi nggak apa-apalah. Kondisi panas yang menyengat membuat kami benar-benar lelah saat itu. Belum lagi ditambah tas-tas berat yang kami bawa.

Tanpa perlu berlama-lama, kami langsung setuju saja, dan berangkat ke Kuta-Legian naik taksi. Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dengan sopir taksi itu bertanya mengenai kehidupan di Bali, rental motor/mobil, hingga penginapan murah di sekitar Kuta.

Sampai di Kuta-Legian

Perjalanan dari Ubung ke Legian memakan waktu sekitar sejam. Sampai di pantai Legian kita nggak tahu harus ke mana lagi. Kami berjalan terus menyusuri pantai Legian dengan memanggul tas-tas yang berat. Sambil jalan, kami berdiskusi hendak ke mana setelah ini. Akhirnya kami sepakat, akan cari penginapan saja.

Kami pun mencoba mencari losmen-losmen murah di sepanjang jalan Poppies seperti yang disarankan sopir taksi tadi. Akhirnya kami menemukan rumah yang menawarkan kamar-kamar di jalan Poppies II gang Sorga. Nama penginapannya “Ayu Beach Inn”. Kami meminta satu kamar untuk empat orang kepada pemilik rumah. Oleh beliau langsung ditawarkan Rp200.000. Sebenarnya jika dibandingkan dengan beberapa penginapan murah di Bandung harga itu termasuk mahal jika melihat fasilitas ditawarkan yang juga sama. Fasilitas itu antara lain, tempat tidur untuk dua orang 2 buah, tempat tidur untuk satu orang 1 buah, 1 lemari pakaian dua bilik, kipas angin, cermin, dan kamar mandi. Tapi harga segitu bisa jadi memang termasuk murah di Bali setelah kami mendengar ada dua orang yang ingin memesan kamar di sana kemudian dibandrol Rp160.000 oleh pemiliknya.

Yang penting bagi kami saat itu adalah akhirnya kami bisa beristirahat Continue reading