Tag Archives: liburan

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 9) : The Last Day, Going to Merapi

Sabtu, 1 Januari 2011. Wah, sudah sampai hari ke-9 aja. Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Hari ke-9 ini sesuai rencana adalah hari terakhir kami melakukan tur Bali-Malang-Jogja.

Pagi itu tampaknya anak-anak masih merasakan kantuk yang cukup berat. Wajar saja, malamnya kami baru kembali ke stasiun Tugu jam 1 dan baru bisa tidur mungkin sekitar jam setengah 2 dini hari. Tapi aku beruntung pagi itu ketika terbangunkan karena ada seorang calon penumpang yang tiba-tiba menyenggol kakiku saat sedang tidur di bangku stasiun. Kenapa beruntung? Karena saat aku terbangun pas sekali adzan shubuh di mushola stasiun itu berkumandang. Aku pun tidak ketinggalan sholat shubuh berjamaah di mushola stasiun.

Namun, rasa kantuk ternyata masih menderaku. Habis sholat aku pun mencari tempat kosong untuk berbaring lagi. Tapi ada yang beda dengan stasiun saat itu. Di mana-mana banyak orang tiduran. Tampaknya mereka sama seperti kami backpacker-backpacker yang menumpang tidur dan mandi di stasiun. Pantas saja kamar mandi antrinya panjang banget. Akhirnya aku terpaksa tidur sambil duduk saja.

Yang namanya tidur sambil duduk memang nggak nyaman. Makanya, tidak sampai satu jam aku terbangun dan sudah tidak bisa tidur lagi. Ternyata stasiun sudah dipenuhi calon penumpang saat aku terbangun. Satpam-satpam stasiun pun bertindak. Orang-orang yang tiduran di bangku pun dibangunkan semua agar bangku-bangku stasiun itu dapat ditempati calon penumpang “sungguhan”.

Memburu tiket bus malam di terminal Giwangan

Seperti yang sudah aku bilang di awal, stasiun pagi itu sangat ramai, begitu pula antrian kamar mandinya. Karena itu, nggak enak juga sama pengantri yang lain saat menggunakan kamar mandi itu. Akhirnya aku cuma cuci muka dan gosok-gosok badan saja pagi itu.

Habis bersih-bersih diri kami pergi menuju shelter Malioboro I untuk menyegat busway. Tujuan kami kala itu akan pergi ke terminal bus Giwangan untuk membeli tiket bus balik ke Bandung. Kami terpaksa berencana membeli tiket bus karena kehabisan tiket KA Malabar ekonomi yang ke Bandung.

Di dalam busway

Di dalam busway

Wah, mahal amat tiket bus malam ke Bandung. Entah karena memang musim liburan atau karena mereka ingin menipu kami, harganya tinggi sekali saat itu. Harga tiket bus K#amat D#ati sampai Rp150.000 dan bisa ditawar sampai Rp135.000. Sementara itu bus R#jaw#li harganya Rp120.000 tapi non-AC. Mahal amat ya. Sayangnya Bus B#dim#n yang biasa aku naiki Bandung-Jogja, tidak buka agen di terminal itu. Kalau hari biasa dia cuma Rp80.000 saja (setahun lalu). Akhirnya, kami pun membatalkan niat untuk menaiki bus malam. Pilihan terakhir kami jatuh ke KA Kahuripan yang berangkat pukul 20.15 dari stasiun Lempuyangan, Jogja.

Menengok daerah letusan Merapi

Dari shelter terminal Giwangan kami naik busway jalur 3A menuju shelter Kenthungan. Dari shelter Kenthungan kami berjalan sebentar menuju perempatan Ring Road Utara, tepatnya sekitar Jalan Raya Kaliurang Km 6. Kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus Jogja-Kaliurang. Ongkos bus dari Ring Road menuju Kaliurang itu Rp5.000 per orang. Kami sendiri tidak turun sampai terminal Pakem, tapi turun di pertigaan besar dekat pasar Pakem.

Kami sempat bingung akan melanjutkan perjalanan ke Merapi dengan apa. Padahal perjalanan masih jauh. Kata salah satu penduduk di sana jaraknya kurang lebih sekitar 16 km lagi. Gayung bersambut, ternyata di sana terdapat pangkalan ojek yang menawarkan jasa perjalanan ke Merapi melihat daerah bekas letusan Merapi.

Kami sempat melakukan tawar menawar dengan bapak tukang ojeg yang kami datangi pertama. Gila aja, beliau menawarkan Rp100.000 per orang untuk sampai di desa Kinahrejo tempatnya Mbah Maridjan itu. Alasan beliau, situasi saat itu sedang ramai, banyak orang berlibur. Tapi tambah beliau, itu belum termasuk uang sukarela untuk warga daerah korban letusan. Padahal kata beliau, posnya itu nggak cuma satu. Wah, kami jadi berpikir ulang untuk pergi ke sana.

Kami pun berlalu menuju pangkalan ojeg yang lain. Di sanalah akhirnya kami deal dengan tukang ojeg mengenai ongkos ke daerah korban letusan itu. Ongkos per orang Rp70.000. Kata tukang ojeg kalau hari biasa, biasanya Rp50.000. Lagi-lagi alasan musim liburan dan jalanan ramai kena macet orang-orang yang mau ke Merapi, sehingga ongkosnya naik. Entah benar atau tidak. Tapi, ya sudahlah kalau begitu. Kami pun jadi pergi ke sana.

Singkat cerita, kami akhirnya tiba di suatu daerah yang bernama Kalikuning. Sesampainya di sana kami membayar Rp10.000 per orang kepada warga sana. Terus terang kami nggak tahu mekanisme pembayaran masuk di sana karena ini benar-benar pengalaman pertama dan kami juga belum punya cerita dari teman-teman dekat yang pernah ke sana sehingga bisa dijadikan bahan komparasi. Kami sih berpikir positif saja, mereka tidak sedang menipu kami. ūüė¶

Di kawasan Kalikuning itu kami melihat sisa-sisa hutan yang pepohonannya sudah pada gundul dan mati akibat¬†wedhus gembel dan juga lahar dingin yang melintasi daerah itu. Sesaat aku berpikir, subhanallah… begitu besarnya kekuasaan Allah. Jika Dia sudah berkehendak, kun fayakun, jadilah maka jadilah. Daerah itu yang sebelumnya dipenuhi pepohonan hijau dan menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk-Nya sekarang musnah begitu saja. namun, seiring berjalannya waktu, daerah itu mulai ditumbuhi tunas-tunas tanaman hijau yang masih mungil-mungil yang Insya Allah semakin lama akan membuat daerah itu hijau kembali.

Oiya, saat melihat-lihat kondisi daerah itu, kami juga ditemani seorang pemuda yang juga penduduk asli daerah itu. Dia banyak bercerita mengenai kondisi Merapi saat meletus, kondisi sesungguhnya mbah Maridjan saat meninggal, hingga perkembangan daerah itu pasca letusan Merapi. Mengenai kondisi mbah Maridjan di mana media-media mengatakan bahwa beliau sedang bersujud (seolah-olah sudah pasrah akan datangnya kematian) ketika meninggal, hal itu diluruskan oleh pemuda itu. Sebenarnya, saat itu beliau juga ingin turun bersama warga yang lain. Akan tetapi, nasib berkata lain. Beliau tertimpa runtuhan balok kayu dan jatuh tersujud hingga akhirnya ikut terkena wedhus gembel.

Dari pemuda itu kami juga ditunjukkan Desa Kinahrejo tempat tinggal mbah Maridjan. Tapi sayangnya ternyata jauh dari Kalikuning itu. Kami pun sempat merasa ditipu tukang ojeg itu karena tujuan kami sebenarnya ingin pergi ke sana juga. Kami sempat protes kepada tukang ojeg itu karena tidak jadi diantarkan ke sana. Tapi tukang ojeg berdalih jalanan menuju ke sana macet, bakal lama sampai sana sehingga¬†nggak akan terburu. Bisa-bisa baru balik ketika hari sudah gelap. Ya sudahlah. Akhirnya, untuk menutupi “kekurangan” itu saat pulangnya, kami minta diantarkan hingga tempat untuk nyegat kendaraan umum yang balik ke Jogja (habisnya lumayan jauh sih jarak dari pangkalan ojeg itu ke terminal).

Yak, inilah foto-foto ketika berkunjung ke daerah Kalikuning itu. Mohon maaf sebagian foto ada yang kurang begitu jelas karena terpaksa menggunakan kamera handphone yang sudah jadul.

Jalan bersama "tour guide" (jaket hitam)

Jalan bersama "tour guide" (jaket hitam)

Pepohonan yang gersang

Pepohonan yang gersang

aku dan neo

aku dan neo

Tunas-tunas baru

Tunas-tunas baru

Kembali ke Bandung

Puas memenuhi hasrat ingin tahu akan kondisi terbaru daerah yang terkena letusan Merapi, kami kembali lagi ke Jogja. Kami diantar tukang ojek itu sampai terminal Pakem. Di sana kami melanjutkan lagi naik kendaraan umum dengan mobil jenis L300. Kami sempat diturunkan di tengah jalan karena saking sepinya. Akhirnya kami ganti naik minibus Kaliurang-Jogja. Herannya bus yang satu ini malah cukup ramai penumpang. Kami turun di shelter Kenthungan untuk ganti kendaraan dengan busway menuju shelter Malioboro. Kami harus naik busway dua kali untuk menuju Malioboro. Pertama naik busway ke terminal Jombor, baru setelah itu ganti naik busway busway yang menuju ke Malioboro.

Sampai di Malioboro kami langsung mengambil tas di stasiun Tugu. Tanpa banyak mengulur waktu, kami langsung kembali lagi ke shelter Malioboro untuk menaiki busway menuju stasiun Lempuyangan. Hari sudah malam ketika kami sampai di stasiun Lempuyangan, yaitu sekitar pukul 19.15. Sesampainya di sana kami langsung membeli tiket KA Kahuripan untuk 3 orang ke Bandung dengan ongkos per orangnya Rp 24.000.

Suasana stasiun kala itu sangat ramai. Bahkan, untuk kereta tujuan Jakarta seperti KA Gaya Baru Malam Selatan, banyak penumpang yang terpaksa tidak bisa naik karena saking ramainya. Selain itu, hujan rintik-rintik juga mewarnai malam sebelum kembalinya kami ke “kehidupan sebenarnya” di Bandung.

Kereta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kereta sempat mengalami keterlambatan sekitar setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Lagi-lagi, kami tidak dapat tempat duduk sepanjang perjalanan. Tapi Khairul dan Neo lebih beruntung karena bisa dapat tempat duduk di tengah-tengah penumpang dengan menduduki kardus-kardus penumpang yang kebetulan besar-besar dan diperbolehkan si empunya. Aku sendiri terpaksa duduk di bordes sambil sesekali terkena tetesan air karena atap kereta yang bocor :D. Keesokan harinya kami tiba dengan selamat di stasiun Hall Bandung sekitar pukul 8.00. Alhamdulillah…

Suasana sore Malioboro pada malam kepulangan

Suasana sore Malioboro pada malam kepulangan

Menunggu kereta

Menunggu kereta

Advertisements

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 3) : Denpasar Moon

Ahad, 26 Desember 2010. Pukul setengah empat subuh kami berempat beranjak dari stasiun Banyuwangi Baru menuju pelabuhan Ketapang. Saat itu kami benar-benar tidak tahu pelabuhan Ketapang ada di sebelah mana. Kami hanya berjalan mengikuti arah suara bel kapal yang terdengar cukup kencang sampai stasiun. Ternyata benar, pelabuhan Ketapang itu sangat dekat dengan stasiun. Cukup ditempuh 10 menit dengan jalan kaki dari stasiun Banyuwangi Baru ke arah timur sampai ketemu jalan raya kemudian belok kanan.

Sebelum ke pelabuhan Ketapang, kami mampir dulu di Ind*mar*t yang berada tepat di depan gang masuk stasiun tepat di pinggir jalan raya. Di sanam kami membeli perbekalan dulu sebelum menyeberang ke Bali. Mumpung di sini lebih murah karena kata orang-orang, kalau sudah di Bali, apa-apa mahal di sana.

Di depan jalan masuk stasiun Banyuwangi Baru

Di depan jalan masuk stasiun Banyuwangi Baru

Menyeberang dengan kapal feri

Sudah lama aku nggak pernah naik kapal feri sejak terakhir kalinya saat aku masih berusia 3 tahun. Saat itu aku bersama keluarga jalan-jalan ke Madura naik kapal feri dari Tanjung Perak Surabaya ke Ujung kamal Madura. Setelah sekian lama, akhirnya aku bakal naik feri lagi (wah, ndeso tenan seh mas iki :D).

Tarif kapal feri untuk menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk cuma Rp6.000 per orang. Perjalanan selalu tersedia selama 24 jam non stop. Kalau diamati, sebenarnya jauh lebih murah menyeberang dengan naik kapal langsung tanpa kendaraan dibandingkan dengan naik kendaraan umum atau bawa kendaraan sendiri. Sebab tanpa sengaja di pelabuhan saya menemukan tiket yang telah dibuang si empunya dan di tiket itu tertulis tarif sebesar Rp343.000 untuk kendaraan orang itu yang termasuk golongan VI A.

Oke, setelah itu kami naik ke atas kapal feri. Sampai di sana langsung disambut lagu-lagu bergenre melayu yang diputar oleh awak kapal. Yup, di belakang kapal disuguhi sebuah TV LCD yang memutar video-video lagu karaoke melayu dan dangdutan. Lumayanlah, ada hiburan :P.

Melangkah menuju kapal feri

Melangkah menuju kapal feri

Di atas kapal feri

Di atas kapal feri

Ternyata indah juga ya pemandangan malam hari pelabuhan jika dilihat kejauhan dari kapal. Gemerlap lampu kota terlihat terang benderang dari kejauhan di tengah luasnya lautan yang gelap.

Tak terasa, jam dinding kapal telah menunjukkan waktu pukul 4.00. Sudah saatnya untuk sholat Shubuh nih. Di kapal feri juga tersedia mushola dan tempat wudlu serta toilet bagi penumpang. Kami pun sholat Shubuh di kapal feri itu.

Penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk itu memakan waktu sekitar 45 menit. Kapal berangkat dari Ketapang pukul 3.45 dan merapat di Gilimanuk pukul 4.30.

memandang ke laut lepas

memandang ke laut lepas

Bali mulai tampak dari kejauhan

Bali mulai tampak dari kejauhan

Sampai di Gilimanuk

Suasana pagi yang segar menyambut kami setibanyanya di pelabuhan Gilimanuk. Begitu turun kapal, ada jeda waktu di mana kami terbengong tidak tahu harus jalan ke mana. Kami mengamati orang-orang pejalan kaki yang baru turun dari kapal, melihat ke mana mereka akan melangkah, sambil berharap mereka memiliki tujuan yang sama dengan kami. ūüôā

Suasana pagi di pelabuhan Gilimanuk

Suasana pagi di pelabuhan Gilimanuk

“Dug..dug..dug..”. Tiba-tiba panggilan alam menghampiriku. Aku harus segera pergi ke tolilet. Oh, ternyata di area pelabuhan itu terdapat toilet yang berada persis di ujung bangunan depan dermaga tempat kapal tadi merapat. Lumayan, toilet di pelabuhan itu ternyata gratis alias nggak perlu membayar, bisa pake sepuasnya :D.

Nah, mumpung gratis, kami pun mandi sekalian. Sudah hampir dua hari kami nggak mandi karena terus berada di dalam kereta api. Bau badan anak-anak sudah nggak tertahankan lagi. Alhamdulillah, akhirnya bisa mandi lagi. Sueger.. ger.. ger… ūüėÄ

Sehabis semua selesai mandi, kami mengobrol-ngobrol dengan petugas kebersihan di toilet itu. Orangnya cukup ramah dan kooperatif untuk dijadikan tempat bertanya. Kami mencoba mencari tahu berapa tarif transportasi umum dari Gilimanuk itu ke Denpasar dari orang tersebut. Kata beliau, biasanya tarifnya berkisar antara Rp20.000-Rp30.000.

Perlu diketahui, sebelumnya, kami juga sudah punya referensi dari blog-blog orang yang kami baca. Kami bertanya untuk memastikan saja agar selisihnya tidak sampai terlalu jauh. Berdasarkan pengalaman orang-orang yang ditulis pada blog mereka, sebagian besar mengatakan kalau beruntung kita bisa dapat tarif Rp20.000 ke Denpasar. Tapi pada umumnya memang kena Rp25.000.

Nah, mas penjaga toilet itu menawarkan untuk mencarikan bus ke Denpasar di terminal Gilimanuk. Kami pun mengiyakan. Selang beberapa menit kemudian datang si mas itu sama seorang kenek bus. Ternyata benar, tarif pertama yang ditawarkan oleh kenek bus itu Rp25.000. Kami pun mencoba menawar Rp20.000. Setelah negosiasi sebentar, akhirnya sepakat Rp20.000 itu. Nggak butuh waktu lama kenek bus itu untuk mengiyakan. Makanya kami sempat curiga juga, sebenarnya berapa sih ongkos dari Gilimanuk ke Denpasar itu. Tapi, berapapun itu, yang jelas pagi itu pukul 6.30 jadilah kami berangkat ke Denpasar dengan menumpang bus “Bahagia”.

Perjalanan Gilimanuk-Denpasar

Sepanjang perjalanan mulai dari Giliminauk, Negara, Tabanan, hingga Denpasar pemandangan indah tersaji di kanan-kiri jalan. Taman nasional, sawah-sawah, hingga pantai bisa kita temui sepanjang perjalanan itu. Perjalanan berhenti ketika bus memasuki terminal Ubung. Suasana panas menyengat menyambut kami.

Selain itu, sesampainya di sana, begitu kami turun, sudah banyak sopir-sopir taksi, angkot, dan bus yang menawari tumpangan kepada kami. Terus terang, saat itu kami sampai bingung mau melanjutkan dengan naik kendaraan apa. Bahkan, tujuan berikutnya mau ke mana kami juga masih abstrak.

Akhirnya, kami mencari tempat makan dulu untuk menghindari keramaian itu. Kebetulan ada warung “Arema” di depan terminal Ubung itu. Dari namanya kelihatan banget orang Malang nih yang punya, dan Insya Allah makanannya halal. Perlu diketahui, susah sekali mencari warung makanan yang halal di Bali. Solusinya memang cari warung makan orang Jawa atau Minang yang kebetulan juga cukup banyak di sana dan insya Allah halal. Kami membeli 3 mangkok rawon dan 1 mangkok soto ayam di warung itu. Masing-masing seporsi harganya Rp8.000. Cukup mahal memang.

Setelah makan, Neo mencoba bertanya kepada polisi di pos terdekat tentang cara ke Denpasar dan berapa ongkosnya. Sementara aku mencoba melihat jam dinding di dalam warung “Arema” itu. “Wuih… udah jam sentengah sebelas aja!” teriakku waktu itu terkejut. “Masak perjalanan dari Gilimanuk sampai Ubung tadi menghabiskan waktu 3,5-4 jam sih?” tanyaku kepada anak-anak. Kami baru ingat, Bali itu termasuk wilayah WITA. Jadi, sebenarnya kita berangkat pukul 7.30 dan sampai di Ubung sekitar pukul 10.00.

Setelah itu Neo kembali. Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya diputuskan kami akan menumpang taksi saja dan tujuan kami adalah ke kuta saja. Baru saja kami keluar dari warung, seorang sopir taksi sudah mendatangi kami di depan warung. Setelah melakukan tawar menawar, akhirnya kami mentok di angka Rp100.000 untuk ongkos taksi. Kata si pak Polisi yang ditanyai Neo memang segitu sih kisarannya, antara Rp80.000-Rp100.000. Tapi nggak apa-apalah. Kondisi panas yang menyengat membuat kami benar-benar lelah saat itu. Belum lagi ditambah tas-tas berat yang kami bawa.

Tanpa perlu berlama-lama, kami langsung setuju saja, dan berangkat ke Kuta-Legian naik taksi. Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dengan sopir taksi itu bertanya mengenai kehidupan di Bali, rental motor/mobil, hingga penginapan murah di sekitar Kuta.

Sampai di Kuta-Legian

Perjalanan dari Ubung ke Legian memakan waktu sekitar sejam. Sampai di pantai Legian kita nggak tahu harus ke mana lagi. Kami berjalan terus menyusuri pantai Legian dengan memanggul tas-tas yang berat. Sambil jalan, kami berdiskusi hendak ke mana setelah ini. Akhirnya kami sepakat, akan cari penginapan saja.

Kami pun mencoba mencari losmen-losmen murah di sepanjang jalan Poppies seperti yang disarankan sopir taksi tadi. Akhirnya kami menemukan rumah yang menawarkan kamar-kamar di jalan Poppies II gang Sorga. Nama penginapannya “Ayu Beach Inn”. Kami meminta satu kamar untuk empat orang kepada pemilik rumah. Oleh beliau langsung ditawarkan Rp200.000. Sebenarnya jika dibandingkan dengan beberapa penginapan murah di Bandung harga itu termasuk mahal jika melihat fasilitas ditawarkan yang juga sama. Fasilitas itu antara lain, tempat tidur untuk dua orang 2 buah, tempat tidur untuk satu orang 1 buah, 1 lemari pakaian dua bilik, kipas angin, cermin, dan kamar mandi. Tapi harga segitu bisa jadi memang termasuk murah di Bali setelah kami mendengar ada dua orang yang ingin memesan kamar di sana kemudian dibandrol Rp160.000 oleh pemiliknya.

Yang penting bagi kami saat itu adalah akhirnya kami bisa beristirahat Continue reading

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 1) : Awal Perjalanan

Perencanaan

Rencana liburan ini awalnya dicetuskan bareng-bareng oleh beberapa anak IF’07. Salah satunya aku dan seorang teman bernama Neo Enriko. Rencana awal ingin pergi ke pulau Karimunjawa. Tapi, kata seorang teman yang sudah¬† mencoba bertanya kepada salah satu agen wisata Karimunjawa melalui YM, katanya untuk bulan Desember-Januari ini kondisinya nggak begitu bagus. Akhirnya rencana ke pulau Karimunjawa kami coret.

Selanjutnya, ganti jadi rencana backpacking ke pulau Bali dan beberapa kota di Jawa. Disusunlah rencana itu bareng-bareng. Kali ini ikut nimbrung juga anak IF’07 yang lain, yaitu Khairul Fahmi dan Kamal Mahmudi. Diputuskan tempat yang dikunjungi hanya Bali, Bromo, Malang, dan Jogja saja. Perkiraan pengeluaran untuk transport pun sudah dituliskan. Jadi, setiap orang yang kami ajak, sudah kami berikan gambaran tempat-tempat yang akan dikunjungi dan biaya yang akan dihabiskan, Kami akan lebih banyak menggunakan jasa kereta ekonomi sepanjang perjalanan.

Konkret juga

Kebiasaan di antara kami itu, sudah buat perencanaan panjang-panjang, tapi ujung-ujungnya sering nggak konkret :D. Tanggal 24 Desember 2010 yang sudah ditentukan tidak bisa diundur lagi. Beberapa teman yang sempat diajak ada yang membatalkan diri karena adanya suatu urusan. Akhirnya fix cuma berempat saja peserta jalan-jalan yang jadi berangkat ini, yaitu aku, Neo, Khairul dan Kamal.

Pukul 15.00 tepat kami berangkat dari kontrakan bareng-bareng ke Stasiun Hall Bandung dengan menaiki angkot Cisitu-Tegal lega. Sesampainya di stasiun, kami segera membeli tiket KRD Ekonomi tujuan Padalarang yang harga untuk per orangnya Rp1.000 saja. Kami berencana naik KA Kahuripan dari stasiun pemberangkatan di Padalarang karena kalau naik dari Kiara Condong, kemungkinan besar tidak akan bisa naik karena malam itu adalah malam liburan.

Sial bagi kami,KRD Ekonomi tujuan Padalarang yang harusnya jadwalnya pukul 16.08 berangkat dari Stasiun Hall Bandung, nyatanya baru datang sekitar pukul 18.00. Itupun kereta sudah dalam keadaan super penuh sesak. Belum lagi penumpang yang menumpuk di Stasiun Hall Bandung. Kami pun memutuskan untuk naik pemberangkatan berikutnya saja yang kata petugasnya akan datang pukul 18.30.

Menunggu kereta di Stasiun Hall Bandung

Menunggu kereta di Stasiun Hall Bandung

Lagi-lagi, kereta berikutnya ikutan telat juga nyatanya. Kereta baru datang pukul 19.15. Karena takut tidak dapat mengejar keberangkatan KA Kahuripan di Stasiun Padalarang, kami sepakat memutuskan untuk naik KRD Ekonomi sampai stasiun Cimahi saja.

Di Stasiun Cimahi waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 19.35. Kami pun masih sempat membeli tiket KA Kahuripan jurusan Jogjakarta dan melaksanakan sholat Isya di stasiun. Tiket KA Kahuripan ke Jogjakarta ini sangat murah dibandingkan transportasi yang lain lho. Cukup Rp24.000 saja. Selesai sholat, sekitar 10 menit kemudian, kira-kira pukul 20.08, datanglah KA Kahuripan di Stasiun Cimahi. Kondisi kereta sudah sangat penuh. Kami tidak kebagian tempat duduk, padahal Stasiun Cimahi adalah stasiun nomor 2 yang dilalui KA Kahuripan. Benar saja, saat berhenti di Stasiun Kiara Condong, cukup banyak penumpang yang nggak terangkut saking penuh sesaknya.

Praktis, sepanjang perjalanan terpaksa kami berdiri  berdesak-desakan di tengah kerumunan penumpang dan sekali-sekali kalau beruntung, dapat tempat agak longgar sedikit langsung ndelosor di lantai kereta. Mau murah, memang ada konsekuensinya. Harus mau sengsara juga :D.

Libur Kuliah, Masak-Masak

Liburan kali ini memberikan saya waktu luang yang lebih. Memang selama liburan ini saya mengisinya dengan menjalani kerja praktek setiap hari Senin-Jumat di Telkom RDC Bandung. Tetapi setidaknya tidak ada beban pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah. Beda dengan saat hari-hari kuliah. Kegiatan sehari-hari di rumah pasti selalu saja ada tugas kuliah yang dikerjakan. Maklum, di jurusan tempat saya kuliah, khususnya saat tingkat 3 kemarin, memang lagi bejibun tugas besar.

Nah, mumpung lagi liburan seperti sekarang ini, niat untuk¬†memasak pun muncul lagi. Hitung-hitung menghemat pengeluaran juga. Sebab, harga makanan yang dijual di dekat daerah kontrakan saya memang cukup “menguras” kantong. Memang paling enak itu makan masakan sendiri, meskipun rasanya nggak sesedap makanan yang dibeli di warung hehehe… Tapi dengan masak sendiri itu saya bisa bereksperimen menemukan rasa yang pas buat lidah saya sendiri.

Sebenarnya saya hanya bisa memasak sedikit saja. Paling yang jadi favorit saya adalah bikin nasi goreng, omelet, atau sekedar nggoreng tahu tempe saja.

Kalau dipikir-pikir memang mahal nasi goreng yang biasa dijual malem-malem di daerah dekat kontrakan saya. Udah gitu rasanya manis. Kurang sesuai dengan selera lidah saya. Makanya saya biasanya minta nggak usah pake kecap kalau beli. Saat ini nasi goreng di Bandung yang sesuai dengan lidah saya baru Nasi Goreng Wong Solo saja yang ada di Balubur. Mungkin karena memang saya berasal dari Jawa.

Tapi, kalau memang mau berhemat ngekos di Bandung, mending masak makanan sendiri aja, atau setidaknya masak nasi sendiri  terus lauknya beli di warung. Cukup menghemat itu. Sebab, kalau saya perhatikan rata-rata harga makanan di sini memang lebih mahal dibandingkan dengan rata-rata harga makanan dari daerah asal saya (Malang).

Bumbu untuk nasi goreng

Bumbu untuk nasi goreng

Nasi goreng

Nasi goreng