Tanjung Aan

Jalan-Jalan di Lombok: Hari 2 – Jelajah Pantai Selatan

Minggu, 31 Mei 2015

Hari itu agenda kami adalah menjelajahi pantai-pantai di bagian selatan Pulau Lombok. Berdasarkan informasi yang sudah kami baca-baca sebelumnya di internet, kabarnya di sepanjang garis selatan pulau Lombok ini terdapat banyak pantai cantik yang masih belum ramai dikunjungi oleh turis. Karena itulah kami tertarik untuk mengeksplornya.

Kami menyewa 2 sepeda motor sebagai kendaraan kami untuk menuju pantai-pantai tersebut. Kebetulan di samping penginapan kami terdapat rental sepeda motor juga. Nama tempat rentalnya “Adventure Lombok Tour”. Selain rental sepeda motor, mereka juga menerima rental mobil dan paket tur di Lombok. Kami menyewa 2 sepeda motor untuk 1 hari dengan biaya Rp50.000 per motor.

Setelah mandi dan mengepaki beberapa pakaian ganti dan perbekalan, kami pun berangkat meninggalkan kawasan Senggigi ini. Tujuan pertama kami adalah Pantai Selong Belanak. Aplikasi Google Maps menjadi panduan kami dalam menentukan rute perjalanan kami.

Rute jelajah pantai-pantai selatan Lombok

Rute jelajah pantai-pantai selatan Lombok

1. Pantai Selong Belanak

Perjalanan dari Senggigi menuju Pantai Selong Belanak ini kurang lebih menempuh waktu sekitar 1,5 jam-an. Akses jalan menuju pantai ini sebagian besar sudah bagus. Hanya beberapa ruas jalan saja yang rusak di beberapa desa yang kami lalui sebelum Pantai Selong Belanak.

Di Pantai Selong Belanak ini kami membayar karcis masuk Rp5.000 per motor kepada sekelompok pemuda yang menjaga di depan jalan masuk menuju pantai. Di dalam kami masih perlu membayar lagi Rp2.000 per motor kepada penjaga parkir.

Pantai Selong Belanak

Pantai Selong Belanak

Suasana Pantai Selong Belanak pagi itu cukup sepi. Hanya ada beberapa bule dan orang lokal yang bermain selancar. Ombak di Pantai Selong Belanak ini sepertinya memang sangat cocok untuk bermain selancar. Tak heran di antara pantai-pantai selatan Lombok yang lain, pantai ini termasuk favorit para bule. Selain hal itu, mungkin juga karena memang relatif lebih sepi, dan pasirnya pun juga sangat halus dan lembut.

Di Pantai Selong Belanak ini tak terasa perut kami mulai keroncongan. Kami pun terpaksa membeli makan di pantai ini. Agak menyesal kami membeli di sini. Harga makanannya terbilang mahal. Menu nasi goreng yang kami pesan dihargai Rp35.000. Harganya memang sudah tertulis sih di kertas menunya.

Jadi sebelum melakukan perjalanan ke pantai-pantai Lombok selatan ini, sebaiknya sarapan lebih dahulu di Kota Mataram, di mana harga makanan-makanannya seharusnya masih lebih bersahabat. Karena jika sudah sampai di kawasan pantai selatan ini, selain keberadaan warung makan yang cukup jarang, harganya pun juga terbilang tidak ramah terhadap kantong.

Kursi-kursi berjemur dan warung-warung makan di Selong Belanak

Kursi-kursi berjemur dan warung-warung makan di Selong Belanak

2. Pantai Mawun

Puas menikmati keindahan dan ketenangan Pantai Selong Belanak, kami beranjak ke Pantai Mawun. Pantai Mawun berjarak 11 km dari Pantai Selong Belanak. Jangan khawatir, walaupun cukup jauh, akses jalan menuju sana lumayan bagus dan cukup sepi. Jadi tak perlu waktu lama untuk mencapai ke sana.

Dalam perjalanan ke Pantai Mawun ini kami sempat melihat papan penunjuk arah bertuliskan “Pantai Mawi”. Aku nyesel juga nggak sempat mampir ke pantai tersebut. Waktu googling-googling setelahnya dan lihat foto-fotonya ternyata cantik juga.

Di depan jalan masuk menuju Pantai Mawun, ada sekelompok bapak-bapak yang memungut uang karcis masuk. Per motor dikenai biaya Rp10.000. Tapi di dalam area parkir Pantai Mawun kita tidak dikenakan biaya parkir lagi.

Dibandingkan Selong Belanak, Pantai Mawun ini bisa dibilang 2-3 kali lebih ramai. Sepertinya sih memang kebetulan ada rombongan turis domestik yang lagi wisata di sana.

Pantai Mawun

Pantai Mawun

Pantai Mawun ini memiliki bentuk seperti tapal kuda. Terdapat bukit di ujung barat dan timurnya sehingga terlihat seperti pintu gerbang bagi air laut untuk masuk ke pantai ini.

3. Pantai Kuta

Setelah Pantai Mawun, pantai berikutnya yang kami kunjungi adalah Pantai Kuta. Jaraknya kurang lebih sama dengan Pantai Selong Belanak-Mawun, yakni sekitar 10 km. Kontur jalannya banyak naik turun.

Ada satu titik turunan jalan yang cukup panjang. Di sana kami tak tahan untuk tidak berhenti sebentar karena melihat view-dari atas sana ke arah laut luas yang sangat cantik. Kami pun berfoto sebentar di sana. Sayangnya di foto nggak terlihat cukup cantik karena terhalang oleh semak-semak. Tapi percayalah view sesungguhnya benar-benar cantik! Maksa banget yak, haha.

Somewhere between Mawun and Kuta Beach

Somewhere between Mawun and Kuta Beach

Dibandingkan kedua pantai sebelumnya, Pantai Kuta ini lebih terasa kehidupannya. Fasilitas ATM di mana-mana. Bermacam-macam bank pula. Penginapan berjibun. Bahkan ada Novotel juga di sana. Begitu pula tempat makan, kafe-kafe, tempat spa, massage, dan sebagainya.

Turis-turis bule terlihat berjalan kaki atau mengendarai motor di sepanjang jalan yang kami lewati. Pantai Kuta pun juga tak kalah ramainya. Garis pantai Kuta ini sangat panjang. Keramaian turis di Pantai Kuta lumayan tersebar di sepanjang garis pantai tersebut.

Pantai Kuta

Pantai Kuta

Di bagian tengah Pantai Kuta ini terdapat bebatuan karang yang sangat besar dan lumayan luas permukaannya. Bebatuan karang tersebut memisahkan pasir pantai di sisi timur dan baratnya. Walaupun pantai ini terbilang sangat ramai, jarang sekali terlihat turis bule yang mengunjungi pantai ini.

Dugaanku, mungkin mereka merasa tidak nyaman dengan keberadaan para pedagang di Pantai Kuta ini yang cenderung memaksa. Kami pun juga demikian. Dibuntuti terus selama setengah jam oleh anak-anak kecil yang menawarkan gelang-gelangan dari kayu atau manik-manik. Sekalinya membeli satu ke salah seorang anak, anak-anak yang lain datang mengerubung. Luar biasa haha.

Dikerubungi anak-anak kecil yang menawarkan gelang

Dikerubungi anak-anak kecil yang menawarkan gelang

Kami tidak sempat menjelajahi Pantai Kuta karena waktu kami lebih banyak dihabiskan untuk menghindar dari adik-adik tersebut. Dari Pantai Kuta ini kami bergerak menuju pantai berikutnya, yakni Tanjung Aan. Oh ya, tak ada karcis masuk di Pantai Kuta ini. Cukup membayar parkir Rp5.000 per motor ke penjaga yang ada di sana.

4. Pantai Tanjung Aan

Jarak dari Pantai Kuta ke Pantai Tanjung Aan tak sejauh jarak Pantai Kuta ke pantai-pantai sebelumnya. Hanya 5 km saja. Namun, akses jalan ke Tanjung Aan cukup jelek. Sebagian besar aspal jalan berada dalam kondisi rusak. Di Tanjung Aan kita cukup membayar parkir Rp5.000 per motor.

Seperti halnya Pantai Mawun, Pantai Tanjung Aan ini juga memiliki bentuk tapal kuda. Di ujung timur dan baratnya juga terdapat perbukitan. Bedanya, garis pantai di Tanjung Aan ini jauh lebih panjang daripada Pantai Mawun.

Ayunan di Pantai Tanjung Aan

Ayunan di Pantai Tanjung Aan

Mungkin memang menjadi karakteristik pantai-pantai selatan Lombok, Pantai Tanjung Aan ini juga memiliki tekstur pasir yang halus seperti tepung. Warna pasirnya juga cenderung putih.

Di Tanjung Aan ini kami berjalan kaki trekking ke bukit yang berada di ujung barat. Begitu sampai atas bukit terus terang aku sangat terpesona dengan keindahan pemandangan yang tersaji di atas sana. Bukan hanya karena dari atas tersebut kita bisa melihat view Tanjung Aan secara keseluruhan, tetapi juga aku baru tahu ternyata bukit tersebut sangat panjang. Tak hanya itu, di balik bukit tersebut juga terdapat “hidden beach” yang tak begitu luas, tapi pasirnya juga sangat halus.

Perbukitan dan

Perbukitan dan “hidden beach” di Tanjung Aan

Belakangan aku baru tahu kalau perbukitan di Tanjung Aan tersebut ada namanya sendiri. Bukit Merese katanya.

Suasana di atas bukit Merese itu benar-benar menenangkan. Tak banyak orang yang naik ke sana. Jauh dari keramaian di Pantai Tanjung Aan. Duduk-duduk di bukit sekedar memandang air laut yang berwarna biru tosca dan Pantai Tanjung Aan, benar-benar membuat rileks.

Memandang Pantai Tanjung Aan dari Bukit Merese

Memandang Pantai Tanjung Aan dari Bukit Merese

Senja di Batu Layar

Menjelang pukul 4 sore kami memutuskan untuk meninggalkan Pantai Tanjung Aan dan kembali ke Senggigi. Sebelumnya sudah diperingatkan sama orang rental sih sebaiknya sudah pulang dari Pantai Kuta sebelum maghrib. Katanya banyak kasus begal di perjalanan dari sana malam-malam. Oleh beberapa warga lokal juga diperingatkan begitu.

Dalam perjalanan kembali ke Senggigi ini kami sempat melewati kembali Pantai Kuta. Setelah itu lewat juga Desa Adat Sade. Namun kami tak sempat mampir ke sana.

Sepanjang perjalanan kami beberapa kali berpapasan dengan iring-iringan nikahan warga lokal. Sepertinya memang adat mereka setiap acara nikahan jadi seperti karnaval di jalan begitu.

Kami sempat terkena razia kendaraan bermotor saat melintasi jalan raya yang terletak beberapa km setelah Bandara Internasional Lombok. Untungnya semua surat lengkap kami bawa dan sepeda motor pun tak bermasalah. Kami pun bisa langsung melanjutkan perjalanan kembali.

Dalam perjalanan balik ke Senggigi kami sempat transit terlebih dahulu di Batu Layar. Batu Layar ini berada di antara ruas jalan Mataram-Senggigi. Di sana ada gardu pandang untuk menyaksikan sunset. Sayangnya ketika itu langit tengah berawan. Yang terlihat pun hanya rona merah di langit senja.

Senja di Batu Layar

Senja di Batu Layar

Kuliner Malam Sate Rembiga

Setelah bersih-bersih diri di penginapan maghrib itu, kami lanjut jalan lagi. Kali ini Kota Mataram menjadi tujuan kami. Kami sempat googling-googling dulu menentukan tempat makan yang recommended di Kota Mataram.

Bebalung menjadi tujuan kami kuliner malam itu. Lokasinya berada di belakang gedung kantor gubernur NTB. Sayangnya malam itu ternyata Bebalung sudah tutup (atau memang tidak lagi buka hari itu).

Kami pun beralih ke kuliner Sate Rembiga yang berada di Jalan Wahidin Sudirohusodo. Kebetulan lokasinya tak jauh dari Bebalung itu. Hanya tinggal jalan lurus saja sekitar 2 km. Kami makan di Warung Hj. Sinasih kalau tidak salah namanya, seperti yang diulas di artikel Pedas Manis Sate Rembiga (Kompas Travel) ini.

Sate Rembiga

Sate Rembiga

Malam itu menjadi pengalaman pertamaku mencoba sate rembiga. Cuma satu komentarku: Enak banget!!! Haha. Nggak seperti sate pada umumnya yang memakai kuah bumbu sate, seperti bumbu kacang atau semacamnya, sate rembiga ini disajikan begitu saja apa adanya. Tapi bumbu yang meresap di dagingnya benar-benar sedap! Ada rasa pedas gimana gitu. Kebetulan aku memang pecinta pedas. Tapi nggak pedas banget juga sih. Dagingnya juga empuk dan renyah. Puas bangetlah!

Malam itu kami pun pulang dengan gembira setelah menutup petualangan hari itu dengan menyantap sate rembiga yang enak itu. Haha. Kami sampai di penginapan sekitar jam 10 malam. Malam itu juga dua sepeda motor yang kami sewa kami kembalikan kepada tempat rental di samping penginapan. (bersambung)

*more photos can be seen on https://flic.kr/s/aHskaGc9sK*

4 thoughts on “Jalan-Jalan di Lombok: Hari 2 – Jelajah Pantai Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s