View salah satu sudut Angke Kapuk

Jalan-Jalan ke Hutan Bakau “Angke Kapuk”

Sabtu kemarin (5/12) saya bersama teman saya jalan-jalan ke tempat wisata yang katanya sih (sudah lama) ngehit di Jakarta, yakni Taman Wisata Alam “Angke Kapuk”. Lokasinya berada di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Tepatnya di belakang Tzu Chi International School.

Kami ke sana naik bus TransJakarta dari halte busway Monas. Bus yang kami naiki sama persis dengan bus TransJakarta lainnya. Kami cukup terkejut juga sih. Sebab yang saya baca di internet, katanya bus ke PIK ini ada tulisan BKTB-nya. BKTB adalah singkatan dari Bus Kota Terintegrasi Busway. Tapi bus yang kami naiki tak ada tulisan tersebut.

Kami lagi nggak hoki saat itu. Ketika kami tiba di halte Monas, pas banget bus yang ke PIK baru saja berangkat. Jadilah kami terpaksa menunggu bus berikutnya. Ada 30 menitan lebih sepertinya.

Karena penampakan busnya yang sama dengan bus TransJakarta lainnya, kami pun kesusahan mengidentifikasi mana bus yang ke PIK. Untungnya kami sudah bilang ke petugas sebelumnya kalau hendak pergi ke PIK. Saat bus ke PIK datang, petugas tersebut memanggil-manggil kami yang sedang duduk-duduk di bangku di dalam halte.

Tarif bus ke PIK ini adalah 6.000 rupiah. Namun, karena kita sudah membayar 3.500 saat masuk ke dalam halte busway, di dalam bus kita cuma ditagih sisanya saja, 2.500 rupiah. Di karcisnya juga tertulis harga 2.500 rupiah itu.

Nah, untuk arah sebaliknya dari PIK kita membayar cash langsung 6.000 rupiah ke kondekturnya saat di atas bus. Sebab, dari PIK ini kita tidak naik dari halte busway TransJakarta pada umumnya. Kita naik dari halte bayangan, tempat di pinggir jalan dengan tanda bertuliskan halte Bus Kota Terintegrasi Busway. Karcis yang kita dapatkan saat naik bus ini juga beda dengan keberangkatan. Di karcis tersebut tertera tarif 6.000 rupiah.

Belokan ke Angke Kapuk sebelum Tzu Chi International School

Belokan ke Angke Kapuk sebelum Tzu Chi International School

Perjalanan dari Monas menuju Angke Kapuk ini kurang lebih memakan waktu hampir 1 jam. Ancer-ancer lokasi tempat turunnya adalah begitu kita melihat gedung Tzu Chi International School (berwarna abu-abu batu) di kejauhan, artinya kita sudah dekat. Kita turun di sana. Setelah itu kita berjalan kaki sekitar 500 meter sampai ke pintu gerbang taman wisata.

Tiket masuk Taman Wisata Alam “Angke Kapuk” ini adalah Rp25.000 untuk orang dewasa. Kegiatan yang bisa kita lakukan di sana, mostly jalan-jalan saja berkeliling melihat-lihat menikmati hutan bakau. Bagi yang menyukai fotografi, dijamin Anda bakal menemukan banyak spot cantik untuk difoto di sini. Tak mengherankan taman wisata ini sering digunakan sebagai tempat untuk pre-wedding. Kemarin saat kami berkunjung di sanakami melihat sepasang calon pengantin yang tengah melakukan sesi pemotretan pre-wedding.

View salah satu sudut Angke Kapuk

View salah satu sudut Angke Kapuk

View hutan bakau dilihat dari menara pandang

View hutan bakau dilihat dari menara pandang

Sayangnya kita tidak diperkenankan untuk membawa masuk kamera DSLR ataupun kamera digital. Saat tiba di tempat pemeriksaan tiket, kita akan ditanya apakah membawa kamera tersebut. Kamera HP atau tablet diperbolehkan. Memang sih petugas di sana tidak sampai memeriksa isi tas kita. Tetapi sebaiknya kita tetap menaati aturan yang berlaku. Kalau ketahuan membawa, akan dikenakan denda.

Angke Kapuk ini juga cocok bagi mereka pecinta wisata edukasi, terutama yang berkenaan dengan biologi atau lingkungan. Ada berbagai jenis pohon bakau yang tumbuh di sana. Kita bisa mengenalinya dari papan nama yang dipasang di kelompok pohon-pohon tersebut.

Selain itu kita juga bisa melihat pohon-pohon bakau sumbangan dari berbagai tokoh dan perusahaan, sebagai program CSR mereka. Tokoh terkenal yang menyumbang di antaranya ada Mario Teguh dan Menteri Pariwisata yang tengah menjabat, Arief Yahya. Sumbangan pohon bakau dari sekolah-sekolah pun juga ada. Yang sekolah-sekolah itu sepertinya sih sekalian mengadakan kegiatan outbuond di sini. Tempatnya memang cocok sekali untuk kegiatan outbound.

Bibit-bibit pohon bakau sumbangan dari berbagai kalangan

Bibit-bibit pohon bakau sumbangan dari berbagai kalangan

Kalau kita berjalan-jalan menyusuri jembatan kayu di hutan bakau di Angke Kapuk ini, kita akan melihat beberapa kompleks perkemahan (pihak pengelola memang menyebutnya perkemahan). Kemah-kemah itu bisa disewa per malamnya. Kemah yang dimaksud bukanlah tenda sebagaimana yang biasa dipakai orang naik gunung, melainkan sejenis bungalow yang bentuknya mirip rumah adat Suku Sasak.

Namun saya tak melihat ada bungalow yang tengah disewa ketika itu. Semua bungalow tersebut tertutup rapat. Kalau saya pikir-pikir, kurang nyaman juga menyewa bungalow-bungalow tersebut. Privasi kita bakal lumayan terganggu. Sebab, depan bungalow itu lumayan ramai dilalui pengunjung.

Bungalow-bungalow di Angke Kapuk

Bungalow-bungalow di Angke Kapuk

Selain jalan kaki menjelajahi hutan bakau, aktivitas lain yang bisa dilakukan adalah menyewa motor boat atau perahu yang telah disediakan oleh pengelola. Tarif motor boat yang paling mahal adalah 400.000 rupiah, sedangkan untuk perahu yang didayung sendiri tarifnya 100.000 rupiah. Untuk bagaimana hitungan sewanya, saya kurang paham juga, apakah per berapa menit/jam ataukah malah bisa sepuasnya. Saat itu saya melihat tak banyak sih yang menyewa perahu.

Beberapa motor boat yang disewakan di Angke Kapuk

Beberapa motor boat yang disewakan di Angke Kapuk

Saat berjalan kaki menjelajahi kompleks Angke Kapuk ini, kami sempat melihat papan penunjuk ke arah pantai. Kami berjalan kaki menuju arah yang ditunjukkan oleh papan tersebut. Ternyata pantainya jauh dari ekspektasi kami sih. Pantai tersebut tidak menghadap ke laut lepas. Di seberang malah tampak sedang ada proyek pengerjaan reklamasi.

Proyek reklamasi di seberang pantai Angke Kapuk

Proyek reklamasi di seberang pantai Angke Kapuk

Bagi Anda yang beragama Islam, jangan khawatir soal tempat sholat di Angke Kapuk ini. Di sana terdapat sebuah masjid apung bernama Al-Hikmah. Posisinya sekitar 20 meter saja dari pintu gerbang, berada di sebelah kiri.

Masjid tersebut terlihat cukup cantik dengan arsitektur kayu. Masjidnya besar. Di belakang masjid tersebut terdapat selasar yang sangat luas. Dari masjid itu kita juga bisa melihat pemandangan hutan bakau yang tidak kalah cantiknya.

Masjid Al Hikmah, Angke Kapuk

Masjid Al Hikmah, Angke Kapuk

Hutan bakau belakang Masjid Al-Hikmah

Hutan bakau belakang Masjid Al-Hikmah

Tipikal pengunjung Taman Wisata Alam “Angke Kapuk” ini mayoritas adalah pasangan muda-mudi. Selebihnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok. Saya hanya melihat 1-2 keluarga yang datang membawa anak kecil.

Suasana hutan bakau di Angke Kapuk ini memang enak sih untuk bercengkerama bersama teman. Beberapa sudut di area hutan bakaunya enak dipakai untuk duduk-duduk sambil berteduh di kala panas. Angke Kapuk ini benar-benar menjadi sangat recommended bagi warga Jakarta yang jenuh dengan suasana kota dan ingin escape ke wisata alam yang mudah dijangkau.

 

 

One thought on “Jalan-Jalan ke Hutan Bakau “Angke Kapuk”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s