Tag Archives: jakarta

View salah satu sudut Angke Kapuk

Jalan-Jalan ke Hutan Bakau “Angke Kapuk”

Sabtu kemarin (5/12) saya bersama teman saya jalan-jalan ke tempat wisata yang katanya sih (sudah lama) ngehit di Jakarta, yakni Taman Wisata Alam “Angke Kapuk”. Lokasinya berada di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Tepatnya di belakang Tzu Chi International School.

Kami ke sana naik bus TransJakarta dari halte busway Monas. Bus yang kami naiki sama persis dengan bus TransJakarta lainnya. Kami cukup terkejut juga sih. Sebab yang saya baca di internet, katanya bus ke PIK ini ada tulisan BKTB-nya. BKTB adalah singkatan dari Bus Kota Terintegrasi Busway. Tapi bus yang kami naiki tak ada tulisan tersebut.

Kami lagi nggak hoki saat itu. Ketika kami tiba di halte Monas, pas banget bus yang ke PIK Continue reading

Advertisements

Solo Backpacking ke Penang (Bagian 1): Pesan Tiket Pesawat & Penginapan

Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, plan awal perjalanan ke Penang ini sebenarnya adalah untuk mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon. Namun, karena pinggang yang masih mengalami cedera, rencana tersebut batal dan agenda selama di Penang pun berganti, yakni hanya jalan-jalan saja selama di sana, hehe. 😀

Nah, catatan dari perjalanan kemarin rencananya akan aku bagi ke dalam 3 artikel. Artikel pertama, atau artikel yang sedang Anda baca ini, akan kutuliskan sedikit cerita mengenai hunting tiket, booking penginapan, dan bagaimana perjalanan dari Bandung hingga tiba di Penang International Airport. Artikel kedua akan menceritakan mengenai ‘petualangan’ hari pertama di Penang, dan artikel ketiga sudah barang tentu akan menceritakan mengenai petualangan di hari kedua atau terakhir di Penang.

Ambil Penerbangan Rute Bandung-Medan-Penang PP

Agak bingung sebenarnya aku dalam merencanakan keberangkatan dan kepulangan Bandung-Penang PP ini. Pasalnya, tak ada penerbangan langsung Bandung-Penang. Sedangkan penerbangan langsung dari Jakarta (yang terjangkau) cuma ada AirAsia pukul 17.45. Itupun sebenarnya masih termasuk mahal ongkosnya, yakni sudah kisaran 1 juta rupah saat aku cek. Selain itu, kalau aku mengambil penerbangan jam segitu, artinya aku sudah harus cabut 6 jam sebelumnya dari Bandung. Sebuah pilihan yang sulit, karena dengan begitu artinya aku harus ambil cuti atau kerja cuma setengah hari saja.

Beruntunglah ada situs seperti Traveloka (bukan promosi, hehe). Dengan mesin pencarinya aku bisa mendapatkan daftar kombinasi penerbangan yang dari sisi schedule dan harga oke buatku. Dari daftar tersebut aku memperoleh informasi bahwa rute penerbangan AirAsia Bandung-Medan-Penang adalah yang paling oke dari sisi schedule dan harganya pun paling murah di antara opsi yang lain. Bahkan opsi tersebut jauh lebih murah daripada penerbangan langsung AirAsia dari Jakarta tadi. Selisih sampai hampir 400 ribu rupiah. Apalagi rute AirAsia Bandung-Medan dan Medan-Penang itu lagi promo saat itu. Medan-Penang bahkan cuma Rp105.000!

Selain karena harga, sebenarnya faktor yang paling meyakinkanku untuk memilih opsi itu (transit di Medan) adalah karena jadwalnya yang bersahabat, tak perlu membuatku untuk izin kerja. Oh ya, ada satu faktor lagi, yakni rasa penasaran untuk melihat kayak bagaimana sih Bandara Kuala Namu yang dibanggakan itu, haha.

Namun, sialnya sekitar 2-3 minggu sebelum hari H keberangkatan, AirAsia menginformasikan bahwa mereka membatalkan penerbangan Bandung-Medan pukul 19.45. Sebagai gantinya, penerbanganku diganti oleh mereka menjadi pukul 8.00. What??!

Sempat terpikir olehku apa aku sekalian mengambil cuti saja ya agar bisa sekalian jalan-jalan di Medan, sambil menunggu penerbangan ke Penang. Sempat bimbang juga sih. Tapi nggak enak ah kalau ambil cuti di minggu hectic gini. Akhirnya, seminggu sebelum hari H aku baru mengkonfirmasi pembatalan kepada AirAsia. Aku mengisi form refund tiket secara online di website AirAsia. Btw, ini kali pertama aku melakukan pembatalan tiket pesawat. Kalau tiket kereta api mah sudah sering, hehe.

Penerbangan Bandung-Medan pun batal. Sebagai gantinya aku memilih penerbangan dengan Lion Air dari Jakarta pukul 21.35. Kupilih karena itu adalah opsi penerbangan paling malam menuju Medan dari Soekarno-Hatta, dan juga harganya nggak jauh beda dengan tiket AirAsia yang kubatalkan itu.

Booking Penginapan

Karena perjalanan ini bakal menjadi pengalaman pertamaku melakukan backpacking sendirian, aku berusaha menyiapkan segala sesuatunya sejelas mungkin, termasuk penginapan. Online booking adalah cara yang paling mudah. Layanan online booking yang kupilih adalah Agoda, mengingat reputasinya yang sudah cukup populer.

Aku cari-cari penginapan dengan kriteria lokasi yang berada di Georgetown (ibukota Penang), dan sebisa mungkin jaraknya dekat dengan Terminal Bus KOMTAR, terminal pusat bus interchange di Penang, agar akses ke mana-mana mudah. Selain itu, sebisa mungkin tarif kamar per malamnya di bawah IDR 100 ribu.

Ada beberapa hostel yang sesuai dengan kriteriaku. Setelah membaca beberapa testimonial user lain baik di Agoda dan juga TripAdvisor, akhirnya pilihanku jatuh pada Kimberley House. Tipe kamar yang kupilih adalah kamar dengan model dormitory, yang satu kamarnya berisi 3 kasur tingkat. Tarif per malamnya adalah Rp 84.370, sudah termasuk pajak hotel 6% dan service charge 10%.

Untuk pembayarannya, karena aku tidak punya kartu kredit, aku mencoba googling cari jasa agen tour & travel yang bisa bantu booking hotel via Agoda. Sebenarnya bisa saja sih aku numpang kartu kredit milik teman. Tapi nggak enak karena sudah terlalu sering, hehe. Ujungnya aku pun menemukan link agen tour & travel yang melayani jasa booking hotel Agoda.

Sempat ragu-ragu sih jangan-jangan itu agen abal-abal. Setelah komunikasi via email, menurutku jawaban mereka sangat meyakinkan, akhirnya aku pesan melalui agen ini. Dan Alhamdulillah di hari H, semua lancar tanpa masalah. Aku bisa langsung check-in di Kimberley House dengan hanya menunjukkan voucher hotel dari Agoda yang dikirim oleh agen ini beserta pasporku.

Jumat, 15 November

Aku sudah pasrah hari itu jika aku sampai ketinggalan pesawat. Penyebabnya aku ketinggalan travel Xtrans yang akan mengantarkanku ke Cengkareng, yang berangkat dari Bandung pukul 15.30. Asumsi perjalanan Bandung-Jakarta adalah 5 jam (sudah termasuk macet-macetnya), maka itu adalah jadwal terakhir yang paling aman untuk sampai di bandara tepat pada waktunya.

Namun, untungnya aku masih bisa mengejar travel Cititrans yang seharusnya berangkat pukul 15.45, tapi hingga pukul 16.00 masih belum berangkat karena tak ada penumpang saat itu. Karena itu, jadilah aku penumpang satu-satunya yang berangkat dengan Cititrans sore itu. Btw, ini jadi pengalaman pertamaku naik travel sendirian (bersama sopir tentunya).

Alhamdulillah walaupun macet hampir di sepanjang jalan (cuma waktu di tol cipularang yang bisa ngebut buanget), travel bisa sampai di terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu sekitar 4,5 jam. Masih ada waktu 45 menit sebelum batas masuk boarding gate.

Malam itu, pesawat Lion Air yang akan kutumpangi mengalami delay sampai 30 menit. Nggak terlalu masalah sih buatku, sebab pesawat ke Penang baru berangkat pukul 06.30 keesokan harinya! Pesawatku sendiri malam itu mendarat di Bandara Kuala Namu menjelang pukul 1 malam.

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Aku benar-benar dibuat terkesan dengan bandara Kuala Namu ini. Yang paling mencolok adalah hall kedatangannya yang super luas, ada eskalator dan lift ke hall keberangkatan, dan di depan pintu keluar hall kedatangan langsung menghadap ke stasiun kereta api bandara. Mungkin detail ceritanya akan kutuliskan di artikel tersendiri. 🙂

Malam itu aku terpaksa menunggu keberangkatan sambil tiduran di bangku di selasar terminal keberangkatan. Kurang cocok nih Kuala Namu untuk para backpacker yang mau numpang nginap di bandara. Bandara Juanda menurutku lebih bagus soal ini karena punya hall khusus untuk tempat tiduran para calon penumpang yang menginap. Tiduran di bangku itu nggak nyaman saudara-saudara. Apalagi selasar terminal keberangkatan ini menghadap ke ruang terbuka, jadi anginnya lumayan kencang. Dingin lagi. Jadi nggak nyenyak tidur malam itu. Tapi lumayan bisa memejamkan mata selama hampir 1,5 jam.

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 3] — Snorkeling

Minggu, 9 Oktober 2011

5.00. Keinginan untuk melihat sunrise tiba-tiba surut. Gara-garanya aku bangun kesiangan atau bahasa Jawanya itu kerinan. Jam 5 pagi di sana itu langit sudah mulai agak terang. Sementara untuk melihat sunrise, aku harus pergi ke arah timur pulau yang jaraknya cukup jauh dari tempat penginapan ini. Belum lagi badan pegal-pegal dari aktivitas sehari sebelumnya, membuat diri ini malas gerak, hahaha. Yang lain pun setali tiga uang.

6.00. Sesuai rencana sebelumnya, pagi jam 6 kami sudah harus bersiap-siap untuk pergi snorkeling. Kami sudah meminta tolong kepada Pak Manshur untuk mengurusi akomodasi yang diperlukan untuk snorkeling. Sewa kapal ke tempat snorkeling Rp300.000 dan perlengkapan snorkeling per orang adalah Rp35.000 yang terdiri atas kaki katak, kacamata dalam air, dan selang pernafasan.

Setelah semuanya selesai diuruskan oleh Pak Manshur, kami pun berangkat menuju tempat persewaan perlengkapan itu dan lanjut ke dermaga Pulau Tidung. Di sana telah merapat beberapa kapal atau perahu yang siap mengantarkan para wisatawan yang akan snorkeling.

7.15. Sampai juga akhirnya di tempat snorkeling. Perjalanan dari Pulau Tidung ke tempat snorkeling ini kira-kira sekitar 20-30 menit. Dalam perjalanan tadi menuju tempat snorkeling kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan nasi uduk bungkusan yang sudah disediakan oleh Pak Manshur. Jadi kami tidak perlu khawatir kehabisan energi saat snorkeling :D. Ya, biaya sewa kapal ini sudah termasuk sama nasi bungkus yang disediakan oleh Pak Manshur.

Tempat yang kita tuju ini bisa dikatakan sebagai sebuah pulau batu karang. Pulau ini bukan tersusun dari tanah, tapi batu-batu karang yang menumpuk hingga ke permukaan sehingga tampak seperti sebuah pulau.

Tentu saja kami tidak snorkeling di “pulau” itu. Tapi kami snorkeling di jarak sekitar belasan sampai dua puluhan meter dari sanalah. Lautnya tidak dalam, mungkin rentangnya mulai dari 2-5 meter. Selain itu arus lautnya juga tenang. Jadi bagi mereka yang belum bisa berenang pun bisa melakukan snorkeling dengan santai di sini.

Pemandangan bawah air lumayan mengagumkan. Pemandangan yang sebelumnya hanya bisa kulihat dari televisi atau internet kali ini benar-benar tampak di depan mataku. Memang, pemandangannya tak seindah taman laut bunaken yang banyak karang dan ikan berwarna-warni. Karena tempat yang kupilih lautnya dangkal jadi hanya terdapat banyak karang dan sedikit ikan. Kalau mau tempat yang banyak ikannya memang sebaiknya memilih tempat yang arusnya deras.

Rizky siap snorkeling

Rizky siap snorkeling

Sayang sekali tidak ada yang memiliki kamera bawah air di antara kami. Selain itu, fotografer-fotografer handal kami, Rizky dan Jiwo, juga tidak membawa kameranya ke tempat snorkeling, tidak juga di dalam kapal. Untung saja, ada kamera HP si Adi saat itu satu-satunya yang available. Sebenarnya ada sih papan yang dipasang di salah satu rumah yang bilang menyediakan kamera underwater. Kalau tidak salah harga sewanya Rp35.000. Tapi kurang tahu juga itu sewanya untuk berapa lama.

Kurang lebih ada hampir dua jam lah kami snorkeling. Sebenarnya kami dikasih waktu hingga jam 11. Tapi ternyata dua jam itu juga sudah jauh lebih dari cukup. Rata-rata rombongan selain kami malah cuma sekitar sejam lah maksimal snorkeling di sana. Bahkan ada yang datangnya sesudah kami, tapi baliknya duluan.

Bosan juga sih memang lama-lama. Apalagi tidak ada kamera untuk foto-foto di dalam air, hahaha. Seandainya ada kamera underwater, mungkin bakal lebih lama lagi. Soalnya kan sayang biaya sewanya, hehehe.

Snorkeling

Snorkeling

9.45. Sampai juga di penginapan lagi. Di meja makan ternyata sudah tersedia beberapa potong buah semangka dan seteko air teh manis, dan disediakan termos es batu pula. Alhamdulillah … berarti sudah dua kali kami dibuatkan air teh manis ini. 🙂

Makan mie instan

Makan mie instan

Masih ada beberapa bungkus mie instan dan beberapa telur yang menganggur. Rencananya, kami semalam sebenarnya mau makan mie rebus saja sebelum rencana itu tidak jadi karena tuan rumah tiba-tiba memberi kami makan malam nasi ikan pepes. Nah, rencananya mie instan itu akan kami masak setelah snorkeling. Ya, kami lapar dan kami ingin makan lagi, hehehe. Tiba-tiba seorang ibu — sepertinya pembantu keluarga Pak Manshur — datang untuk menawarkan untuk memasakkan mie instan kami. Bingo, anak-anak pun minta tolong dan berterima kasih kepada ibu tersebut. Dasar mahasiswa, wkwkwk. 😆

Main kartu

Main kartu

11.00. Yeah, It’s time for packing! Rencananya kami jam 12 akan cabut dari penginapan untuk balik ke Jakarta. Menurut jadwal, kapal yang akan kami tumpangi balik ke Jakarta akan berangkat pukul 13.00.

Beberapa orang mulai mengemasi barang-barang. Ada yang mandi. Ada yang sholat Dhuhur. Ya, jam setengah dua belasan, di sana sudah adzan Dhuhur. Beberapa anak lagi masih tampak asyik bermain kartu sambil mengantri giliran mandi atau menunggu yang lain selesai berkemas.

12.20. Kami sudah bersiap-siap untuk pulang di dermaga Pulau Tidung. Karcis kapal sudah dibelikan oleh Pak Manshur. Enaknya, kami hanya membayar Rp25.000 untuk balik ke Jakarta ini. Tarif normal seharusnya Rp33.000. Lumayanlah dapat kortingan. Baik banget memang Pak Manshur ini :D. Makanya sebelum kami pulang, kami berfoto bersama dulu dengan Pak Manshur sebagai kenang-kenangan atas perjalanan kami selama di Pulau Tidung ini.

Foto bersama dengan Pak Manshur

Foto bersama dengan Pak Manshur

Kami harus menunggu beberapa menit kapal datang. Kapal yang akan kami tumpangi ini adalah KM. Cahaya Laut. Ratusan orang sudah menunggu di tepi dermaga. Banyak sekali ya yang akan balik siang ini. Bakal sepi dong Pulau Tidung habis ini :(.

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Kapal yang ditunggu akhirnya beberapa saat kemudian datang juga. Orang-orang berebutan masuk ke dalam. Walaupun berebutan tapi tidak seperti pengalamanku berebutan naik kereta ekonomi yang sampai senggol-senggolan. Karena kalau sampai tersenggol di sini, siap-siap jatuh ke laut, hihihi.

Pukul 12.50 kapal sudah diberangkatkan. Kondisi kapal saat itu benar-benar penuh. Tidak butuh waktu lama kapal untuk merapat di dermaga. Setelah kapal penuh, kapal langsung segera diberangkatkan. Perjalanan kurang lebih selama 3 jam sudah menunggu di depan. Orang-orang seperti tampak sudah kelelahan. Ya, lelah karena aktivitas-aktivitas plesir yang mereka lakukan selama di Pulau Tidung. Tak heran jika banyak dari mereka yang terlelap sepanjang perjalanan kapal menuju pelabuhan Muara Angke, Jakarta.

15.45. Kapal telah sampai dan merapat di dermaga Muara Angke. Perjalanan belum berakhir. Ini Jakarta bung, bukan Bandung. Kami pun segera turun dan mencari taksi untuk menuju stasiun Gambir. Taksi di Muara Angke membandrol mahal untuk tarif ke stasiun Gmabir, Rp80.000. Padahal dari pengalaman Neo sebelumnya naik taksi yang menggunakan argo, habisnya cuma Rp50.000.

Kami pun mencari taksi di luar pelabuhan. Dapat juga akhirnya taksi yang mau menggunakan argo. Sial bagi kami, sore itu Jakarta macet luar biasa, padahal hari itu hari Minggu. Mulai Mangga Dua sampai Gambir kondisi jalan raya adalah padat merayap. Kami baru sampai di stasiun pukul setengah 6 menjelang maghrib.

Sialnya lagi, tiket kereta Argo Parahyangan kelas bisnis sudah habis. Tinggal yang eksekutif saja. Itupun harganya Rp80.000, luar biasa mahal bagi kami. Akhirnya, kami mencari mobil-mobil carteran yang ada di area stasiun Gambir. Nego, nego, nego, akhirnya dapat mobil yang mau mengantar kami sampai ke Dago, Bandung, dengan kesepakatan harga Rp420.000 termasuk biaya tol. Lumayanlah bagi bertujuh, berarti satu orang kena Rp60.000. Oh ya, di Jakarta ini kami harus berpisah dengan Neo dan Luthfi yang akan tetap stay di Jakarta dulu untuk beberapa hari tinggal bersama keluarganya. Jadi yang balik ke Bandung, tinggal bertujuh.

20.30. Alhamdulillah sampai juga di Bandung. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Boleh dibilang dua hari di Pulau Tidung adalah dua hari pelarian kami dari penatnya rutinitas kami di Bandung, hihihi. Ceileee … bahasanya :D.

Boleh dibilang tajuk jalan-jalan kami dua hari itu adalah “Weekend Escape to Tidung Island”. Mantap kan? Ya, rencana backpacking ke Karimun Jawa terpaksa batal dan diganti dengan jalan-jalan ke Pulau Tidung karena dirasa lebih possible buat dilakukan mengingat kesibukan kami yang sudah mulai berbeda satu sama lain. Mudah-mudahan ada kesempatan lain bagi kami untuk backpacking lagi ke tempat lain menikmati indahnya alam ciptaan Alloh ini.

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 1] — Berangkat ke Jakarta

Kali ini aku ingin bercerita tentang jalan-jalan yang kulakukan bersama 8 orang teman ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, pada tanggal 7-9 Oktober kemarin ini. Sebelumnya aku sudah pernah bercerita tentang perjalanan tur ke Sukabumi dan Ciamis. Di tulisan tersebut aku menyebutkan bahwa ada 13 orang yang ikut tur itu. Kini dari 13 orang itu, ada 9 orang yang ikut jalan-jalan ke Pulau Tidung ini. Mereka adalah Kamal, Adi, Khairul, Rizky, Haryus, Jiwo, Neo, Luthfi, dan tentu saja aku.

Nah, Aku mencoba berbagi pengalaman ini dengan menuliskannya dalam bentuk itinerary per hari.

Jumat, 7 Oktober 2011

18.45. Sesuai rencana awal, kami janjian untuk langsung bertemu saja di stasiun Hall Bandung pukul 19.00. Tiket KA Argo Parahyangan kelas bisnis sejumlah 9 buah sudah dibeli sehari sebelumnya.

Aku, Kamal, Khairul, Adi, dan Haryus telah bersiap-siap di kontrakan Padepokan Sandal 36B. Kami akan berangkat bersama menuju ke stasiun dengan menumpang angkot Cisitu-Tegal lega. Sementara yang lain telah bersiap-siap di tempat masing-masing.

19.25. Kami semua telah berkumpul di stasiun Hall Bandung. Menurut jadwal, kereta akan berangkat pada pukul 20.05. Sambil menunggu keberangkatan kami menunaikan sholat Isya’ dahulu di mushola depan stasiun. Sebagian ada juga yang makan malam.

19.55. Kami semua sudah berada di dalam kereta menunggu keberangkatan. Tiba-tiba terjadi kepanikan di antara kami karena 2 dari 9 tiket yang kami beli ternyata salah tanggal keberangkatan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun turun dari kereta menuju kantor PPKA untuk meminta ganti tiket yang salah tanggal. Petugas KA sempat bergeming untuk tidak mau memberikan ganti tiket karena menganggap ini kesalahan kami yang tidak memeriksa lagi tanggal pada tiket yang tercetak.

Sementara itu, sambil menunggu masalah terselesaikan, petugas KA itu meminta perjalanan kereta untuk ditunda beberapa menit. Akhirnya, petugas KA itu pun mengalah dengan memberikan kami surat keterangan yang menyatakan bahwa tiket kami yang salah tanggal tadi tetap berlaku untuk perjalanan kereta hari itu. Mereka juga meminta maaf karena kesalahan pegawai mereka dalam mencetak tiket. “Maklum, pegawai kami itu masih baru,” kata petugas itu.

Masalah pun terselesaikan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun kembali ke dalam kereta. Sejumut kemudian kereta diberangkatkan. Sepanjang perjalanan beberapa orang bermain kartu di dalam kereta. Sementara itu, aku memilih untuk tidur me-recharge energi saja. 😀

Main kartu di dalam kereta

Main kartu di dalam kereta

23.30.  Pukul 23.30 kami tiba di stasiun Gambir. Suasana stasiun Gambir malam itu sangat lengang. Maklum saja, kereta kami adalah kereta terakhir yang datang pada hari itu. Setelah kereta kami, tidak ada kereta lain yang berangkat atau tiba di stasiun Gambir lagi.

foto berlatar belakang tugu monas

foto berlatar belakang tugu monas

Menurut rencana, kami akan berangkat ke Pulau Tidung dengan menumpang kapal motor (KM) dari dermaga Muara Angke, Jakarta Utara, pada pagi harinya. Oleh karena itu, kami pun terpaksa menginap di stasiun untuk menunggu datangnya pagi.

Sambil mengisi waktu, anak-anak kembali bermain kartu lagi. Sebagian ada yang tidur-tiduran atau bahkan tidur benaran. Sebagian lagi ada yang jalan-jalan melihat-lihat stasiun Gambir. Kami juga menyempatkan untuk berfoto-foto di stasiun dengan mengambil latar belakang Tugu Monas di malam hari. Cantik sekali pemandangan malam itu.

 

Tugu Monas

Tugu Monas di foto dari stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir