Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 1): Karimunjawa Failed

Hari 1: Sabtu, 22 Desember 2012

Ini adalah cerita liburan Natal bulan Desember 2012 kemarin. Kebetulan ada libur panjang mulai hari Sabtu hingga Selasa, tanggal 22-25. Pesertanya adalah aku, Neo, Luthfi, Khairul, Kamal, dan Rizky.

Niat awalnya sih mau ke Karimunjawa. Jadilah sebulan sebelum hari H, kami semua membeli tiket kereta menuju Semarang. Tapi karena kami berasumsi tiket kapal dari Semarang ke Karimunjawa bisa dibeli secara go show seperti halnya kapal ke Pulau Tidung yang kami tahu. Tapi, eh sesampainya di pelabuhan Tanjung Mas Semarang, kami baru tahu kalau penjualan tiket kapal Kartini Semarang-Karimunjawa PP ini dipegang oleh satu manajemen yang untuk pembeliannya harus booking dulu supaya tidak kehabisan. Dan saat itu juga kami diberi tahu bahwa tiket kapal sudah habis.

Alternatifnya sebenarnya bisa menumpang kapal yang berangkat dari Jepara. Tapi baca-baca di internet, jadwal keberangkatan ke Karimunjawa paling akhir pukul 10.30. Waktu ketika itu menunjukkan pukul 7.30. Masih ada waktu berarti. Kami pun mencoba menelepon contact person KM Muria. Sayang, ternyata kapal hari itu semuanya telah penuh.

KM Kartini

KM Kartini

Kami pun memutuskan untuk menunggu KM Kartini hingga berangkat. Berharap ada sejumlah orang yang membatalkan perjalanannya. Pada kenyataannya memang ada sejumlah orang yang membatalkan perjalanannya. Namun tiket ‘buangan’ itu diberikan pada sebuah keluarga yang menempati urutan pertama dalam waiting list. Jadilah, rencana kami ke Karimunjawa batal.

Menunggu Ketidakpastian

Menunggu Ketidakpastian

Namun, ketika kami berjalan di dermaga, kami berjumpa salah seorang petugas pelabuhan dan menceritakan apa yang sedang kami alami saat itu. Apabila masih ingin ke Karimunjawa, beliau menyarankan untuk menumpang kapal sayur yang akan berangkat subuh esok hari. Kata beliau ongkosnya biasanya seikhlasnya saja.

“Wah, kesempatan baik nih.” kata kami.

Kami pun berencana untuk mengambil kesempatan itu. Namun, petugas kapal sayur itu baru akan tiba petang hari nanti untuk mendata calon penumpang.

Sembari menunggu hingga petang hari, kami hendak jalan-jalan dahulu di Semarang. Sebelum itu, kami kembali ke Stasiun Tawang untuk menitipkan tas di sana. Oh ya, sebenarnya di stasiun Tawang ini tidak ada tempat penitipan resmi. Kami terpaksa menitipkan tas-tas kami kepada petugas kebersihan melalui satpam di sana. Nego, nego, nego … akhirnya sepakat di angka 25 ribu untuk menitipkan tas kami hingga jam 5 sore. Waktu ketika itu menunjukkan pukul 11.30.

Tujuan kami saat itu adalah menuju Citra Mal yang berada di dekat Simpang Lima. Kami berencana untuk menonton film 5CM yang tengah ramai saat itu di sana. Yep, mumpung kami lagi berkumpul. Dalam perjalanan menuju Citra Mal itu kami melalui kota tua dan sempat berfoto-foto dulu di sana.

Jalan-jalan di kota tua

Jalan-jalan di kota tua

Singkat cerita, kami beres menonton film sekitar pukul setengah empat sore. Cuaca saat itu sedang mendung semendung-mendungnya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke stasiun Tawang saja. Tepat keputusan kami. Hujan langsung turun begitu kami memasuki bus kota.

Sesampainya di stasiun, kami kemudian mengambil tas-tas kami di petugas kebersihan stasiun. Lalu, aku sebagai perwakilan dari teman-teman menuju dermaga Tanjung Mas untuk menemui pengurus kapal sayur yang akan kami tumpangi.

Cukup lama aku menunggu beliau. Jam menunjukkan pukul 5 sore dan hujan gerimis masih turun membasahi dermaga pelabuhan. Walau demikian aktivitas di dermaga itu cukup sibuk. Ada kapal penumpang yang baru datang. Ada juga kapal barang yang sedang membongkar muatan. Sementara kapal sayur yang akan kami tumpangi ini sedang mengisi muatannya.

Walaupun orang-orang menyebutnya kapal sayur, sebenarnya isinya bukan hanya sayur-sayuran. Macam-macamlah. Kapal sayur ini mengantarakan kebutuhan logistik ke pulau-pulau di antara Semarang dan Kalimantan. Aku lupa Kalimantan-nya lebih tepatnya di kota mana sebagai tujuan akhirnya. Nah, pulau-pulau itu termasuk Karimunjawa.

Tak beberapa lama pengurus kapal datang. Beliau mengeluarkan tiket. Aku kaget ketika mengetahui ternyata ongkos untuk sampai ke Karimunjawa adalah 70 ribu. Ini hampir sama dengan kapal penumpang KM Muria yang dari Jepara. Kapal sayur ini tidak langsung menuju Karimunjawa. Tapi dia akan mampir dulu ke Jepara untuk menambah muatan.

Hmm… dan menurut salah satu bapak-bapak yang kebetulan ada di kapal sayur itu ketika kutanya pukul berapa kira-kira tiba di Karimunjawa, beliau menjawab paling cepat adalah sekitar pukul 3 sore. Wah, lama sekali di lautnya.

Akhirnya aku menelepon ke teman-teman di stasiun dan menanyakan apakah kita 100% yakin akan berangkat ke Karimunjawa dengan kondisi seperti itu. Setelah berkali-kali saling menelepon dan berdiskusi akhirnya kami membatalkan rencana kami ke Karimunjawa saja.

Pertimbangan kami, pertama, kalau naik kapal itu perjalanan di laut bakal dilalui berjam-jam dan tak pasti juga pukul berapa tibanya. Ada satu teman kami dalam kondisi yang sedang tidak enak badan ketika itu. Belum, ada juga yang suka mabuk laut kalau terlalu lama naik kapal di laut. Kedua, waktu kami di Karimunjawa tidak akan banyak. Ketiga, seandainya jadi ke Karimunjawa, kami baru pulang hari Selasa — karena kegiatan-kegiatan selama di Karimunjawa baru bisa dimulai hari Senin mengingat Minggu petang baru sampai di sama — dan itu berisiko Neo dan Luthfi ketinggalan kereta balik ke Jakarta sore harinya.

Setelah aku konfirmasi kepada pengurus kapal untuk membatalkan rencana kami, aku kembali ke stasiun. Anak-anak ternyata sudah menyiapkan plan B. Malam itu kami akan menginap di rumah salah seorang teman kuliah kami yang tinggal di Semarang, yakni mas Dhana.

Alhamdulillah, di rumah mas Dhana kami disediakan kamar yang rencananya akan dibuat kos-kosan di sana. Gila, kami terpaksa ke rumah mas Dhana dengan menaiki taksi yang diisi 6 orang. Soalnya sopir taksinya ingin cepat-cepat dan tidak mau kalau harus menunggu taksi berikutnya. Tapi dia minta bayaran lebih.

Malam itu kami pun membicarakan rencana keesokan harinya sembari makan malam bebek goreng di rumah makan dekat rumah Dhana. Jan markotoplah bebeknya. Enak banget. :D (bersambung)

3 thoughts on “Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 1): Karimunjawa Failed

    1. otidh Post author

      Lha gan, itu kan di artikel udah ane ceritain ane gagal nyeberang ke Karimunjawa gara2 kehabisan tiket. Jadi kita nggak naik ke dalam kapal KARTINI. Maaf ya gan…😦

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s