ABK Inklusi

Pagi ini sekitar pukul 6 pagi salah satu teman yang juga tetanggaku berkunjung main ke rumah ketika aku tengah menyapu teras depan rumah (di Malang). Temanku ini masih kelas 1 SMK. Dia cowok. Ketika itu dia tengah bersepeda pagi dan kemudian mampir ke rumahku.

Kami pun mengobrol sambil duduk-duduk di kursi teras rumah. Dalam obrolan itu kami sedikit menyelipkan candaan dan dia juga sedikit mengerjaiku. Kemudian aku pun berkata, “Iya, iya, kamu kan emang pinter.”

Aku cukup terkejut ketika dia membalasnya dengan berkata, “Hei mas, sepinter-pintere aku, sek pinter sampeyan. Saya ini kan ABK inklusi, sementara mas anak reguler.”

Jujur, aku baru mendengar istilah “ABK inklusi” saat itu. Mungkin aku pernah mendengar atau membaca sebelumnya, tapi aku tak ingat. Begitu dia pulang, aku pun googling tentang apa yang dimaksud ABK inklusi itu. Aku pun menemukan artikel yang menyebutkan klasifikasi ABK itu di sini.

Jadi ceritanya, dia sempat mengatakan padaku bahwa dia termasuk ABK inklusi kategori hiperaktif. Dia juga mengatakan karena hal itu dia menjadi sangat lemah dalam pelajaran di sekolah, khususnya pelajaran yang ada berhitungnya. Akan tetapi, dia menambahkan, untuk pelajaran agama dan seni, khususnya musik, dia lumayan bagus.

Mungkin dia memang termasuk golongan ABK inklusi, tapi dari pengamatanku dia bersosial sangat baik dengan semua orang di kompleks tempat tinggalku. Dia juga rajin sholat 5 waktu di masjid kompleks, bahkan sering menjadi muadzin. Aku pun mengatakan padanya, “Dik, di mata Alloh ini, semua orang sama. Yang membedakan cuma derajat ketaqwaannya. Mungkin orang lain termasuk kategori reguler, tapi belum tentu mereka lebih baik dari mereka yang ABK inklusi. Kamu rajin sholat di masjid dan suka adzan lagi, itu bagus.”

Yah, aku cuma ingin dia nggak merasa minder saja. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seseorang dibilang pinter bukan dilihat dari akademis saja.

Selama ini aku tak pernah melihat dia sebagai seorang ABK inlusi atau apalah istilahnya. Aku cuma menyadarinya sebagai sosok pribadi yang unik. Tak sungkan-sungkan untuk bersosialisasi dengan semua orang, termasuk dengan bapak-bapak atau ibu-ibu. Dia juga sangat humoris, dan tak jarang aku tertawa karenanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s