Tag Archives: mohammad ahsan

Akhirnya… Juara Dunia Lagi!

Wow… what a beautiful day for Indonesia Badminton! Bertempat di TianHe Indoor Stadium, Guangzhou, China, kemarin Indonesia akhirnya berhasil menggondol gelar juara dunia kembali, mengakhiri puasa gelar yang bertahan sejak tahun 2007. Tak tanggung-tanggung, 2 gelar sekaligus diperoleh melalui nomor ganda putra (Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan) dan ganda campuran (Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir). Prestasi ini mengulang prestasi pada tahun 2007, juga melalui wakil yang hampir sama, dengan partner yang berbeda (Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Liliyana Natsir).

Prestasi Indonesia di World Championship 2013 ini seolah memupus rasa dahaga masyarakat Indonesia akan keringnya prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional. Apalagi tahun lalu Indonesia terpaksa memutus tradisi emas di Olimpiade 2012 yang sudah bertahan sejak Olimpiade 1992.

Sayangnya pertandingan final kemarin tak ada satu stasiun TV (non-berbayar) yang menayangkannya. Terpaksa deh menonton melalui streaming YouTube, walau sering patah-patah streaming-nya. Tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali.

Next target, mudah-mudahan tahun depan giliran Thomas atau Uber Cup yang bisa dibawa pulang. 😀

Ahsan/Hendra dan Liliyana/Tontowi

Ahsan/Hendra dan Liliyana/Tontowi

Advertisements

Nonton Langsung Indonesia Open 2013 (Final)

Ada yang spesial pada perhelatan Indonesia Open tahun ini. Apa itu? Apa lagi kalau bukan acara farewell Taufik Hidayat. Yup, turnamen IOSSP 2013 ini menjadi turnamen perpisahan bagi sang legenda. Karena itu saya sengaja datang lebih awal sekitar pukul setengah 11 agar bisa mendapatkan spot tempat duduk yang bagus. Lumayan… dapat spot yang lebih bagus dari sehari sebelumnya. Suasana indoor Istora ketika itu masih sepi.

Suasana persiapan Istora

Suasana persiapan Istora

Beberapa mata acara sebelum pertandingan final dimulai, antara lain sesi foto para tournament umpire, Project Pop, dan tentu saja yang paling ditunggu-tunggu adalah farewell speech dari Taufik Hidayat. Sesi farewell ini begitu mengharukan.

Pertama-tama Pak Gita Wirjawan, sebagai ketua umum PB PBSI, naik ke atas podium untuk menyampaikan sambutan dan sedikit intro mengenai highlight perjalanan karir dan prestasi Taufik Hidayat. Kemudian disambung dengan video highlight  pertandingan-pertandingan bersejarah Taufik Hidayat, termasuk ketika ia meraih medali emas Olimpiade Athena yang ditayangkan melalui giant screen yang berada di 2 sisi samping indoor Istora. Setelah itu barulah sang legenda memasuki podium dan menyampaikan pidato perpisahannya.

Taufik Farewell Speech

Taufik Farewell Speech

Inti pidatonya adalah Taufik mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung karirnya selama 25 tahun, termasuk 17 tahun sebagai pebadminton profesional. Mulai dari keluarga, orang tua, PBSI, pelatihnya (Mulyo Handoyo), sponsor (Yonex), Djarum (sebagai event sponsor), Trans 7 (sebagai event broadcaster TV partner), fans, dsb. Sebelum memberikan salam perpisahan, Taufik menyerahkan raket Yonex miliknya kepada Jonathan Christie, pemain junior Indonesia yang juga salah satu aktor dalam film King, sebagai simbolisasi bahwa Taufik mendukung regenarasi untuk atlet-atlet badminton Indonesia berikutnya, khususnya pada nomor tunggal putra.

Bagi Anda yang tak sempat menyaksikan farewell speech Taufik Hidayat kemarin, jangan khawatir… — thanks to BWF — Anda dapat menontonnya di link YouTube berikut ini:


Tepat pukul 12 siang atau sekitar 5-10 menit setelah acara perpisahan Taufik Hidayat, babak final IOSSP 2013 resmi dibuka. Pertandingan pertama menyajikan pertarungan antara ganda putri sesama China, Wang Xiaoli/Yu Yang vs Bao Yixin/Cheng Shu. Berikutnya adalah duel tunggal putra antara Lee Chong Wei vs Marc Zwiebler. Dan partai ketiga adalah tunggal putri antara Li Xuerui vs Juliane Schenk. Saya nggak akan mengulas bagaimana pertandingan berlangsung. Hasil akhir bisa langsung dibaca saja di link tournamentsoftware.

Ada yang unik pada penyelenggaraan final kali ini. Jika umumnya pemberi hadiah dalam acara prize ceremony dilakukan oleh pejabat-pejabat asosiasi badminton atau event sponsor terkait, pada IOSSP kali ini tidak hanya itu, legenda-legenda badminton seperti Alan Budikusuma, Haryanto Arbi, Christian Hadinata, Rexy Mainaky, Ricky Subagja, bahkan Taufik Hidayat pun juga diundang untuk menyerahkan hadiah pada ceremony tersebut. Luar biasa.

Satun-satunya wakil Indonesia yang bertanding pada final hari itu adalah pasangan ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang turun pada partai keempat melawan ganda Korea, Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun. Agak mengherankan sih, kenapa partai ini tidak dimainkan pada partai terakhir untuk menjaga antusiasme penonton hingga akhir.

Terbukti, setelah partai ganda putra ini berakhir — dengan kemenangan untuk pasangan Indonesia, Istora mendadak kehilangan sekitar separuh lebih penontonnya. Padahal sebelumnya ketika partai yang memainkan wakil Indonesia tersebut, bangku penonton Istora ini terlihat sangat penuh seolah tak bersisa. Sayang sekali, mengingat partai kelima atau yang terakhir antara Zhang Nan/Zhao Yunlei vs Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, masing-masing menampilkan permainan terbaiknya sehingga pertandingan berjalan sangat seru, ketat, dan menegangkan. Pada partai tersebut, pasangan China-lah yang akhirnya keluar sebagai juaranya.

Bangku yang sepi

Bangku yang sepi di partai kelima

Di akhir pertandingan kelima tersebut, panitia menyuguhkan penutupan berupa kembang api yang menyala di sekeliling arena. Keren! Tentu akan menjadi penutup yang manis ketika yang tengah bermain adalah wakil dari Indonesia dan mereka menjadi juara.

Anyway penyelenggaraan IOSSP tahun ini, khususnya dari segi entertainment yang ditawarkan cukup bagus. Tapi kalau boleh menilai, rasanya masih lebih bagus tahun sebelumnya, terutama dari konten tayangan animasi-animasi untuk memeriahkan atmosfer semifinal dan finalnya. Apalagi ketikaitu, didukung oleh pertandingan-pertandingan final yang semuanya berlangsung ketat 3 set dan penuh ketegangan. Namun, sekali lagi, overall sudah bagus sih. Cuma secara pribadi saya kurang suka dengan acara lempar-lempar merchandise, terutama momen ketika pemain yang baru saja menang diwawancarai sedangkan pemain yang kalah melempar-lempar merchandise itu sehingga membuat penonton gaduh dan tak mengacuhkan isi wawancara sang pemenang. Yah, semoga Indonesia Open tahun depan bisa lebih baik lagi dari sisi penyelenggaraan dan prestasi pemain Indonesianya.

Kembang api penutup

Kembang api penutup

Nonton Langsung Indonesia Open 2013 (Semifinal)

Ah, sudah lama nggak ngeblog. Padahal ada beberapa hal yang ingin saya bagi. Untuk tulisan kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya kemarin menonton langsung semifinal dan final turnamen Indonesia Open Super Series Premier (IOSSP) 2013.

Ini kali ketiga saya menonton langsung turnamen IOSSP. Bedanya kali ini saya menonton sendirian. Sayang sekali teman-teman saya yang sesama penggemar badminton kali ini berhalangan untuk ikut.

Urusan tiket sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Saya pesan secara online di situs Blibli.com untuk pertandingan semifinal dan final. Harganya lebih mahal daripada tahun lalu.

Dari Bandung saya berangkat menggunakan kereta api Argo Parahyangan. Tanpa disengaja saya bertemu beberapa 2 orang adik angkatan saya IF’08 yang ternyata memiliki tujuan yang sama dengan saya. Mereka juga berencana untuk menonton IOSSP bareng-bareng bersama beberapa temannya IF’08 yang lain yang berdomisili di Jakarta.

Setibanya di stasiun Gambir saya langsung sendirian menuju ke stadion Istora Senayan menggunakan busway. Sementara dua adik angkatan saya itu mampir dulu ke kosan temannya. Begitu sampai di halte busway Polda saya langsung berjalan kaki ke Istora Senayan dan mengantri ke Ticket Box untuk menukarkan tiket.

Gerbang masuk IOSSP

Gerbang masuk IOSSP

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana saya selalu menyempatkan untuk mengelilingi arena outdoor Istora yang dikemas dalam format semacam festival yang menyuguhkan berbagai booth permainan, makanan, maupun pakaian/merchandise. Kali ini saya tak begitu tertarik untuk memotret atraksi-atraksi atau suasana festival. Selain karena pergi sendirian, juga menurut saya kurang lebih kontennya mirip seperti tahun-tahun sebelumnya.

Setelah tiket sudah di tangan, saya langsung menuju ke mushola Istora untuk menunaikan sholat. Satu partai antara Wang Xiaoli/Yu Yang vs Ma Jin/Tang Jianhua yang bertanding pada pukul 11.00 saya lewatkan. Setelah sholat, saya menuju ke pintu masuk A8 tribun kelas 1. Ketika itu tengah berlangsung set kedua partai ganda putri sesama China, Zhao Yunlei/Qian Ting vs Bao Yixin/Cheng Shu.

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Bao Yixin/Cheng Shu

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Bao Yixin/Cheng Shu

Walaupun dua partai sudah dilangsungkan, suasana tribun di dalam Istora masih bisa dibilang sepi penonton. Maklum saja, partai-partai ‘sesungguhnya’ baru berlangsung mulai pukul 14.30. Dan tanpa sengaja di tribun aku bertemu dengan adik sepupuku yang tinggal di Depok, sedang menonton bersama teman-temannya. Jadilah selama babak semifinal berlangsung kami ngobrol bersama. Kebetulan dia memang ‘atlet’ badminton, dan bergabung dengan salah satu klub di Jakarta ini. Jadi kami sama-sama nyambung ngobrol tentang badminton. 😀

Partai kedua sesama ganda putri China tadi berakhir sekitar jam satu kurang. Artinya kami masih harus menunggu sekitar 1,5 jam lebih untuk menyaksikan partai ketiga dan seterusnya. Sigh… lama sekali. Untungnya dari pihak panitia ternyata sudah menyiapkan beberapa acara hiburan. Yang paling menghibur tentu saja mata acara yang bertajuk badmifunk — permainan badminton ala freestyle — yang dibawakan oleh 4 legenda bulutangkis Indonesia: Eddy Hartono, Haryanto Arbi, Sigit Budiarto, dan Trikus Haryanto. Oh man… akhirnya saya bisa melihat secara langsung salah satu pemain idola saya di badminton, Sigit Budiarto! Walaupun usia sudah terbilang sangat veteran untuk ukuran pemain badminton, skill-skill yang mereka peragakan masih outstanding sekali.

Dalam Badmifunk ini para pemain menunjukkan trik-trik pukulan yang menipu dan juga ‘ilegal’ dalam bulutangkis! Sigit dan Arbi melakukan smash dengan mengarahkan kok dengan dipantulkan melewati bawah net. Lalu, Trikus mengembalikan kok sambil duduk. Sigit mengumpan kok pada Eddy untuk dismash. Eddy melakukan pukulan tipuan seolah-olah hendak memukul kok di kesempatan pertama. Dan masih banyak lainnya. Kerenlah. 🙂

Badmifunk

Badmifunk

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Babak semifinal Indonesia Open 2013, walaupun sudah mempertandingkan 2 partai ganda putri, akhirnya resmi dibuka. Pihak panitia menyuguhkan tayangan animasi pembuka yang cukup kreatif dan inovatif menurutku. Slide animasi itu disuguhkan dengan cara yang tak biasa. Jika umumnya slide animasi ditampilkan dalam big screen stadion, kali ini animasi tersebut diproyeksikan ke arena lapangan!

Animasi pembuka

Animasi pembuka

Beberapa saat kemudian masuklah Lee Chong Wei (Malaysia) dan Dionysius Hayom Rumbaka (Indonesia) yang akan memainkan partai pertama semifinal tunggal putra. Di tulisan ini saya tak akan membahas bagaimana pertandingan berjalan atau berapa skor akhir setiap pertandingan karena barang tentu itu bisa langsung dibaca saja sendiri di media-media massa yang sudah banyak memberitakannya, hehe.

Sayang sekali tiga partai pertama yang melibatkan wakil Indonesia di dalamnya siang itu tak berakhir menyenangkan. Semua wakil Indonesia, yaitu dua tunggal putra dan satu ganda campuran, kalah tanpa mencuri satu set pun. Beruntung wakil terakhir Indonesia, pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, dapat menyelamatkan muka Indonesia dengan lolos ke final setelah memenangkan pertandingan melawan dua tower Rusia, Ivan Sozonov/Vladimir Ivanov.

Setelah partai ganda putra tadi berakhir, berangsur-angsur para penonton langsung pulang meninggalkan Istora. Padahal babak semifinal masih menyisakan 4 partai lagi. Bahkan, saking sepinya, kami bisa mendengarkan suara pukulan kok oleh para pemain di lapangan. Di antara sekian banyak yang masih bertahan, tidak lain tidak bukan, apa lagi motifnya bila bukan karena menantikan Lee Yong Dae bermain di partai terakhir. 😀

Ganda Korea

Partai ganda putra sesama Korea

Lee Yong Dae dan partnernya, Ko Sung Hyun, bertanding di partai ke-10 alias yang terakhir di babak semifinal ini. Mereka melawan pasangan kompatriot mereka, Yoo Yeon Seong/Shin Baek Choel. Sepanjang pertandingan yang ada cewek-cewek pada histeris menyebut-nyebut nama Lee Yong Dae. Ckckckck.

Pertandingan tersebut berakhir sekitar pukul 21.45. Untung masih banyak busway yang beroperasi malam minggu itu. Saya pun menumpang busway untuk menuju kosan teman saya di daerah Mampang.

[VIDEO] Terrific Attack by Bona/Ahsan

Ini cuplikan video saat final ganda putra Japan Open Super Series bulan September yang lalu antara Cai Yun/Fu Haifeng (China) vs Bona Septano/Mohammad Ahsan (Indonesia). Sebuah jumping smash bertubi-tubi diperagakan untuk merobohkan pertahanan si Tembok China yang terkenal kuat itu. Dua kata diberikan oleh sang komentator, Gillian Clark: “Terrific Attack!”

Jumping smash bertubi-tubi itu mampu memberikan dua poin berturut-turut untuk pasangan Indonesia. Walaupun demikian, pasangan Bona/Ahsan harus mengakui keunggulan Cai/Fu dalam pertandingan itu 13-21, 20-22.

By the way, aku memang paling suka permainan ganda putra Indonesia seperti itu, banyak melancarkan smash bertubi-tubi, main cepat, dan defense kuat. Benar-benar pertandingan badminton yang atraktif dan enak ditonton. Dengan melihat kriteria itu, hingga saat ini ganda favorit Indonesiaku masih Candra Wijaya/Sigit Budiarto.