Nonton Langsung Indonesia Open 2013 (Semifinal)

Ah, sudah lama nggak ngeblog. Padahal ada beberapa hal yang ingin saya bagi. Untuk tulisan kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya kemarin menonton langsung semifinal dan final turnamen Indonesia Open Super Series Premier (IOSSP) 2013.

Ini kali ketiga saya menonton langsung turnamen IOSSP. Bedanya kali ini saya menonton sendirian. Sayang sekali teman-teman saya yang sesama penggemar badminton kali ini berhalangan untuk ikut.

Urusan tiket sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Saya pesan secara online di situs Blibli.com untuk pertandingan semifinal dan final. Harganya lebih mahal daripada tahun lalu.

Dari Bandung saya berangkat menggunakan kereta api Argo Parahyangan. Tanpa disengaja saya bertemu beberapa 2 orang adik angkatan saya IF’08 yang ternyata memiliki tujuan yang sama dengan saya. Mereka juga berencana untuk menonton IOSSP bareng-bareng bersama beberapa temannya IF’08 yang lain yang berdomisili di Jakarta.

Setibanya di stasiun Gambir saya langsung sendirian menuju ke stadion Istora Senayan menggunakan busway. Sementara dua adik angkatan saya itu mampir dulu ke kosan temannya. Begitu sampai di halte busway Polda saya langsung berjalan kaki ke Istora Senayan dan mengantri ke Ticket Box untuk menukarkan tiket.

Gerbang masuk IOSSP

Gerbang masuk IOSSP

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana saya selalu menyempatkan untuk mengelilingi arena outdoor Istora yang dikemas dalam format semacam festival yang menyuguhkan berbagai booth permainan, makanan, maupun pakaian/merchandise. Kali ini saya tak begitu tertarik untuk memotret atraksi-atraksi atau suasana festival. Selain karena pergi sendirian, juga menurut saya kurang lebih kontennya mirip seperti tahun-tahun sebelumnya.

Setelah tiket sudah di tangan, saya langsung menuju ke mushola Istora untuk menunaikan sholat. Satu partai antara Wang Xiaoli/Yu Yang vs Ma Jin/Tang Jianhua yang bertanding pada pukul 11.00 saya lewatkan. Setelah sholat, saya menuju ke pintu masuk A8 tribun kelas 1. Ketika itu tengah berlangsung set kedua partai ganda putri sesama China, Zhao Yunlei/Qian Ting vs Bao Yixin/Cheng Shu.

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Bao Yixin/Cheng Shu

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Bao Yixin/Cheng Shu

Walaupun dua partai sudah dilangsungkan, suasana tribun di dalam Istora masih bisa dibilang sepi penonton. Maklum saja, partai-partai ‘sesungguhnya’ baru berlangsung mulai pukul 14.30. Dan tanpa sengaja di tribun aku bertemu dengan adik sepupuku yang tinggal di Depok, sedang menonton bersama teman-temannya. Jadilah selama babak semifinal berlangsung kami ngobrol bersama. Kebetulan dia memang ‘atlet’ badminton, dan bergabung dengan salah satu klub di Jakarta ini. Jadi kami sama-sama nyambung ngobrol tentang badminton.😀

Partai kedua sesama ganda putri China tadi berakhir sekitar jam satu kurang. Artinya kami masih harus menunggu sekitar 1,5 jam lebih untuk menyaksikan partai ketiga dan seterusnya. Sigh… lama sekali. Untungnya dari pihak panitia ternyata sudah menyiapkan beberapa acara hiburan. Yang paling menghibur tentu saja mata acara yang bertajuk badmifunk — permainan badminton ala freestyle — yang dibawakan oleh 4 legenda bulutangkis Indonesia: Eddy Hartono, Haryanto Arbi, Sigit Budiarto, dan Trikus Haryanto. Oh man… akhirnya saya bisa melihat secara langsung salah satu pemain idola saya di badminton, Sigit Budiarto! Walaupun usia sudah terbilang sangat veteran untuk ukuran pemain badminton, skill-skill yang mereka peragakan masih outstanding sekali.

Dalam Badmifunk ini para pemain menunjukkan trik-trik pukulan yang menipu dan juga ‘ilegal’ dalam bulutangkis! Sigit dan Arbi melakukan smash dengan mengarahkan kok dengan dipantulkan melewati bawah net. Lalu, Trikus mengembalikan kok sambil duduk. Sigit mengumpan kok pada Eddy untuk dismash. Eddy melakukan pukulan tipuan seolah-olah hendak memukul kok di kesempatan pertama. Dan masih banyak lainnya. Kerenlah.🙂

Badmifunk

Badmifunk

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Babak semifinal Indonesia Open 2013, walaupun sudah mempertandingkan 2 partai ganda putri, akhirnya resmi dibuka. Pihak panitia menyuguhkan tayangan animasi pembuka yang cukup kreatif dan inovatif menurutku. Slide animasi itu disuguhkan dengan cara yang tak biasa. Jika umumnya slide animasi ditampilkan dalam big screen stadion, kali ini animasi tersebut diproyeksikan ke arena lapangan!

Animasi pembuka

Animasi pembuka

Beberapa saat kemudian masuklah Lee Chong Wei (Malaysia) dan Dionysius Hayom Rumbaka (Indonesia) yang akan memainkan partai pertama semifinal tunggal putra. Di tulisan ini saya tak akan membahas bagaimana pertandingan berjalan atau berapa skor akhir setiap pertandingan karena barang tentu itu bisa langsung dibaca saja sendiri di media-media massa yang sudah banyak memberitakannya, hehe.

Sayang sekali tiga partai pertama yang melibatkan wakil Indonesia di dalamnya siang itu tak berakhir menyenangkan. Semua wakil Indonesia, yaitu dua tunggal putra dan satu ganda campuran, kalah tanpa mencuri satu set pun. Beruntung wakil terakhir Indonesia, pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, dapat menyelamatkan muka Indonesia dengan lolos ke final setelah memenangkan pertandingan melawan dua tower Rusia, Ivan Sozonov/Vladimir Ivanov.

Setelah partai ganda putra tadi berakhir, berangsur-angsur para penonton langsung pulang meninggalkan Istora. Padahal babak semifinal masih menyisakan 4 partai lagi. Bahkan, saking sepinya, kami bisa mendengarkan suara pukulan kok oleh para pemain di lapangan. Di antara sekian banyak yang masih bertahan, tidak lain tidak bukan, apa lagi motifnya bila bukan karena menantikan Lee Yong Dae bermain di partai terakhir.😀

Ganda Korea

Partai ganda putra sesama Korea

Lee Yong Dae dan partnernya, Ko Sung Hyun, bertanding di partai ke-10 alias yang terakhir di babak semifinal ini. Mereka melawan pasangan kompatriot mereka, Yoo Yeon Seong/Shin Baek Choel. Sepanjang pertandingan yang ada cewek-cewek pada histeris menyebut-nyebut nama Lee Yong Dae. Ckckckck.

Pertandingan tersebut berakhir sekitar pukul 21.45. Untung masih banyak busway yang beroperasi malam minggu itu. Saya pun menumpang busway untuk menuju kosan teman saya di daerah Mampang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s