Tag Archives: Tigerair

Gardens By The Bay (photo by Pras)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 10-Tamat): Day 9 – The Last Day, Transit In Singapore

Minggu, 1 Juni 2014

Tak terasa telah sampailah kami pada hari terakhir dari perjalanan backpacking Indochina ini. Pagi itu setelah sholat subuh aku langsung berkemas-kemas. Kami bersiap pagi-pagi karena harus check-out pagi itu. Jadwal penerbangan kami ke Singapura — destinasi kami berikutnya — juga terhitung cukup pagi, yakni pukul 08.55 dengan maskapai Tigerair. Jadi setidaknya kami sudah tiba di bandara 2 jam sebelumnya.

Taksi ke bandara sudah kami pesan malam sebelumnya melalui resepsionis hotel. Kami memesan 2 taksi untuk 13 orang. Khairul, Benny, Abdan, dan Reza extend 1 hari di Ho Chi Minh. Mereka baru pulang keesokan harinya.

Pukul setengah 7 kami semua sudah berkumpul di lobi hotel. Kunci loker sudah dikembalikan ke resepsionis, paspor pun juga sudah kembali ke tangan kami. Tas-tas kami masukkan ke dalam taksi. Setelah itu kami pun berangkat menuju bandara.

Perjalanan menuju bandara ternyata cukup lancar. Jalanan tidak semacet sebagaimana yang kami khawatirkan di awal. Perjalanan menuju bandara ini kalau tidak salah hanya memakan waktu 20 menit saja.

Ada kejadian yang cukup unik saat kami turun dari taksi. Sang sopir taksi meminta tips kepada kami. Katanya itu sudah menjadi budaya di kalangan turis di sana (turis memberi tips kepada sopir taksi). Tentu saja kami terkejut. Kami nggak menyiapkan sama sekali tips untuk sang sopir.

Kami pikir dengan membayar biaya taksi ke resepsionis hotel itu sudah cukup. Kami pun terpaksa mengumpulkan uang pecahan Vietnam Dong kami yang tersisa yang kalau dirupiahkan mungkin nilainya setara Rp 10.000. Kami nggak tahu juga sih berapa standar tips dari Phạm Ngũ Lão ke bandara ini. Tapi kata pak sopirnya yang penting kasih tips saja, besarnya bebas.

Setelah urusan tips-pertipsan beres, kami pun masuk ke dalam bandara. Wow… megah, bagus, dan modern juga ya bandara di Ho Chi Minh ini. Begitu masuk di dalam bandara kami langsung mencari counter Tigerair untuk melakukan check-in.

Check-in di counter Tigerair

Check-in di counter Tigerair

Setelah check-in dan melalui imigrasi, sambil menunggu waktu boarding, aku, Pras, dan Hafidh berpisah dari rombongan untuk mencari sarapan. Sementara yang lain langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan.

Pesawat Tigerair yang akan kami tumpangi pagi itu benar-benar tepat waktu. Kami boarding sesuai jadwal. Pesawat juga take off sebagaimana waktu yang sudah dijadwalkan.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan, pesawat tiba di bandara Changi, Singapura. Waktu setempat menunjukkan pukul 12 siang, sejam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat dan waktu Vietnam.

Setelah melalui imigrasi, aku dan Ginanjar harus berpisah dengan Continue reading

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Nonton Langsung Singapore Open 2014 (Bag. 1)

Setelah nonton langsung Malaysia Open Super Series Premier Januari lalu (baca ceritanya di sini), weekend kemarin (12-13 April) gilirannya nonton Singapore Open Super Series. Berbeda dengan di Malaysia kemarin yang nonton bersama teman, kali ini aku berangkat sendiri ke Singapura.

Pesawat Bandung-Singapura PP

Tiket Bandung-Singapura PP sudah kubeli pada awal bulan Desember 2013 lalu. Kebetulan waktu itu dapat promo Tigerair “Pergi Bayar Full, Pulang Bayar Rp 1” (atau kebalik ya, haha). Kalau ditotal pulang-pergi habis Rp539.001,-. Itu sudah termasuk booking fee Tigerair yang berlaku untuk 1 penerbangan internasional sebesar Rp63.000 dikali 2 karena pulang-pergi. Mahal ya. Tapi segitu masih terbilang murah sih untuk tiket Bandung-Singapura PP.

Pada hari Sabtu kemarin (12/4) pesawat Tigerair nomor penerbangan TR2203 take off dari Bandung menjelang pukul 12 siang. Agak telat dari jadwal seharusnya sih yang pukul 11.40 (GMT+7). Tapi hebatnya pesawat tiba on time pukul 14.35 waktu setempat (GMT+8).

Pesawat Tigerair menjelang berangkat dari Bandara Husein Sastranegara

Pesawat Tigerair menjelang berangkat dari Bandara Husein Sastranegara

Naik MRT dari Changi Airport ke Singapore Indoor Stadium

Btw, ini adalah pengalaman pertamaku ke Singapura. Sempat bingung juga sih lewat mana setelah selesai urusan imigrasi. Untungnya papan-papan informasi dan penunjuk arah di bandara Changi ini sangat jelas. Yang jelas aku harus menuju ke stasiun MRT bandara untuk dapat naik MRT ke Singapore Indoor Stadium, tempat diselenggarakannya turnamen.

Pertama-tama, aku membeli kartu EZ-link dahulu di ticket office dekat MRT gates. EZ-link ini kuperlukan agar urusan naik MRT ke mana-mana menjadi praktis (EZ-link card tidak hanya berlaku untuk MRT saja lho). Setelah itu aku naik MRT ke stasiun Stadium, pakai transit ganti MRT di stasiun Tanah Merah dan Paya Lebar.

Aku tiba di stasiun Stadium sekitar setengah empat sore. Berarti aku telat hampir 2 jam. Babak semifinal dimulai pukul 2 siang. Yah, sudah risiko sih. Soalnya dari Bandung ke Singapore ongkos pesawat yang lagi murah cuma Tigerair yang berangkat siang ini. 😀

Penampakan Singapore Indoor Stadium dari pintu keluar stasiun MRT

Penampakan Singapore Indoor Stadium dari pintu keluar stasiun MRT

Tiket Babak Semifinal dan Final

Jujur, tiket Singapore Open Super Series ini sungguh amat mahal! Standard Event Day Tickets untuk babak semifinal dipatok seharga S$40 dan final S$44. Aku nggak tahu sih itu harga tiket tersebut berlaku untuk kelas apa.

Namun untungnya pihak event organizer membuka early bird untuk tiket musiman alias untuk seluruh babak turnamen. Harganya S$40 untuk kelas 2. Yah, Kalo dihitung-hitung tentu jauh lebih murah ini sih. Akhirnya aku pun membeli tiketnya melalui website event organizer-nya, Sports Hub Singapore, di sini. Untuk masuk ke dalam stadion, aku tinggal menunjukkan print-out tiket yang sudah dikirimkan via email.

Tiket semifinal dan final Singapore Open 2014

Tiket semifinal dan final Singapore Open 2014

Semifinals Day

Sabtu sore hari itu aku telah melewatkan dua pertandingan pertama di court 1 yang mempertandingkan partai ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Liu Cheng/Bao Yixin dan tunggal wanita Li Xuerui vs Sung Ji Hyun. Sementara di court 2 aku melewatkan pertandingan wakil Indonesia lainnya di ganda campuran Riky Widianto/Puspita Richi Dili yang melawan pasangan Korea Ko Sung Hyun/Kim Ha Na.

Ketika aku masuk ke dalam hall stadion, di court 1 baru akan memasuki partai ketiga antara Simon Santoso melawan Du Pengyu. Sementara di court 2 baru saja menyelesaikan set ke-1 partai ganda putra Cai Yun/Lu Kai vs Yoo Yeon Seong/Kim Sa Rang. Yah, lumayanlah masih sempat nonton Simon main. Yang lebih menggembirakan lagi, pada pertandingan itu Simon menang setelah melalui pertarungan ketat melawan Du Pengyu 16-21, 21-17, 21-17. Yayy… bisa lihat Simon di final!

Pertandingan seru lainnya sore itu tentu saja dua partai ganda putra antara Cai Yun/Lu Kai (China) vs Yoo Yeon Seong/Kim Sa Rang(Korea) dan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin (Taiwan) vs Ko Sung Hyun/Shin Baek Choel (Korea). Banyak terjadi adu reli dan jual beli smash. Men’s doubles at its highest intensity! Sayang euy, dari 2 pasangan Korea tersebut tak ada satupun yang lolos ke final.

Partai ke-4 di court 1, yakni antara pasangan ganda putri Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl melawan pasangan Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, ternyata juga tak kalah menarik. Pertarungan antara dua pasangan ganda putri ini dimenangkan oleh Christinna/Kamilla 11-21, 21-15, 21-14.

Sementara itu, partai semifinal ganda putri lainnya antara sesama pasangan China urung dilaksanakan karena salah satu pasangan melakukan walkover. Ketika pengumuman ini disampaikan oleh presenter di dalam stadion, seluruh penonton kompak berteriak, “Boo…!” Yup, bukan sekali dua kali ini saja China melakukan taktik kotor seperti ini demi menyimpan energi atau menaikkan peringkat salah satu pasangannya.

Partai penutup pada babak semifinal hari itu adalah partai tunggal putra antara peringkat 1 dunia Lee Chong Wei melawan Srikanth K. dari India. Sangat banyak juga supporter Srikanth di Singapore Indoor Stadium ini. Tidak terlalu mengherankan sih, sebab banyak di Singapura ini banyak sekali warga lokal yang merupakan keturunan India. Teriakan-teriakan dukungan terhadap Srikanth terus bergema di dalam stadion. Alhasil, walau perbedaan peringkatnya cukup jauh dengan Lee Chong Wei (antara 25 dan 1), namun Srikanth mampu memberikan perlawanan ketat sehingga hanya kalah 19-21, 18-21. Aku pikir Srikanth memiliki potensi untuk menjadi pemain top tunggal putra di dunia.

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Berakhirnya partai Lee Chong Wei vs Srikanth K. itu menandai berakhirnya babak semifinal OUE Singapore Open Super Series 2014 ini. Para penonton pun langsung beranjak dari kursinya meninggalkan stadion. Aku pun pergi ke stasiun MRT Stadium untuk naik MRT ke penginapan. (bersambung)

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 1): Beli Tiket Pesawat, Booking Penginapan, dan Menyusun Itinerary

Tiket Promo ke Hong Kong

Sekitar bulan Oktober-November yang lalu Tigerair Mandala mengadakan promo “Perginya Bayar, Pulangnya Dibayarin” alias return for freeTapi bukan berarti harganya murah banget sampai di bawah sejuta PP ya :P. Itu cuma trik marketing aja sebenarnya. Kalau dihitung-hitung, memang cenderung mendekati harga normal, tapi masih lebih murahlah.

Cuma kebetulan ada teman yang ngajak, jadi aku tertarik ikutan beli. Kebetulan juga pada tanggal yang ditentukan ada hari kecepit (11-14 Januari 2014), jadi nggak perlu cuti banya-banyak. Selain itu motivasi lainnya adalah karena aku belum pernah ke luar negeri selain Malaysia, wkwkwk. Nah, sayangnya aku sempat pikir panjang sih apakah jadi beli atau tidak tiket promo ini. Akhirnya return for free buat tanggal 14-nya malah keburu habis, yang ada tanggal 15-nya. Akhirnya terpaksa extend 1 hari.

Tapi Desember lalu ada yang menemukan kombinasi promonya Tigerair Mandala yang baru membuka rute Surabaya-Hong Kong dan Denpasar-Hong Kong. Berangkat Denpasar-Hong Kong 5 ribu, dan baliknya Hong Kong-Surabaya 193 ribu rupiah.

Tips: Kalau mau cari tiket murah ke Hong Kong, pertama coba cek dulu Tigerair (bukan promosi ya), karena mereka satu-satunya maskapai low cost yang menyediakan direct flight Indonesia (Jakarta, Surabaya, Denpasar)-Hong Kong. Setelah itu baru maskapai low cost carrier yang lain seperti Cebu Pacific Air atau AirAsia. Memang keduanya tidak ada direct flight Jakarta-Hong Kong, tapi perlu transit dulu di Manila (Cebu) atau Kuala Lumpur (AirAsia). Cebu cukup sering mengadakan promo 1 peso (raw fare) atau kurang lebih ujung-ujungnya biasanya jatuhnya dapat 1,5 juta PP Jakarta-Hong Kong via Manila.

Penginapan di Hong Kong

Sekitar dua minggu menjelang hari H kami mulai mencari-cari penginapan. Untuk urusan penginapan di Hong Kong ini aku serahkan kepada temanku karena dia memiliki kartu kredit yang memang diperlukan untuk membooking penginapan ini. Namun, sebelumnya kami sudah sepakat untuk mencari penginapan di kawasan Tsim Sha Tsui. Kenapa di sana? Pertimbangan kami adalah karena kawasan tersebut sangat strategis. Akses ke Avenue of Stars, stasiun MTR, dan pelabuhan sangat mudah dan dekat. Kurang lebih dibutuhkan hanya 10-15 menit jalan kaki saja.

Sekitar seminggu menjelang keberangkatan aku dikabari sama temanku itu bahwa dia sudah memesan 1 kamar untuk 3 orang di Australian Guesthouse via Agoda. Sebenarnya kami mencari 1 kamar dengan triple bed, tapi dapatnya malah 1 kamar dengan 2 double bed. Australian Guesthouse ini berlokasi di gedung Chungking Mansions. Kami patungan Rp 580.000 per orang untuk dua malam.

Ngomong-ngomong tentang Chungking Mansions, di sinilah tempat yang paling digemari oleh para backpackers atau budget travelers yang mengunjungi Hong Kong. Sebab di sini berkumpul berbagai guesthouse yang menawarkan kamar dengan rate (yang kabarnya) termurah di Hong Kong. Maklum, Hong Kong ini termasuk kota besar di dunia dengan living cost tinggi di dunia. Jadi agak susah mencari penginapan murah (menurut ukurang orang Indonesia) di Hong Kong ini sebenarnya.

Kamar yang kami tempati ini walaupun rate-nya mungkin tak terlihat murah, namun menurut teman kami yang berasal dari China (nanti akan aku perkenalkan di tulisan berikutnya), rate segitu termasuk murah melihat fasilitas yang didapatkan. Selain 2 double bed, ada kamar mandi dalam dengan hot shower, pendingin ruangan (AC), TV, telepon (free local call ), dan safety deposit boxes. Di sana juga tersedia free wifi dan LAN dengan akses internet yang sangat kencang. Aku nggak sempat mengecek berapa speed internetnya sih, tapi temanku mencoba menelepon temannya di Indonesia via aplikasi LINE lancar jaya. Selain itu, di guesthouse ini kami juga bebas untuk mengambil hot drinking water di ruang tamu untuk membuat kopi (Nescafe sachet) yang disediakan gratis.

Kekurangan dari Australian Guesthouse ini dan mungkin juga guesthouse-guesthouse lain di Chungking Mansions ini pada umumnya adalah ukuran kamarnya yang sempit-sempit. Ransel-ransel sampai terpaksa kita masukkan ke dalam kolong tempat tidur agar ruangan tetap terasa lapang. Untuk sholat pun terpaksa bersempit-sempitan di antara tempat tidur agar bisa menghadap kiblat.

Selain ukuran kamar yang sempit, kekurangan lainnya adalah akses menuju kamar yang lumayan susah. Jadi di dalam Chungking Mansions ini terbagi 6 blok dari A sampai F. Setiap blok memiliki dua akses lift, satu lift untuk lantai genap dan satunya lagi untuk lantai ganjil. Gedung ini memiliki 16 lantai. Nah, kamar kami berada di lantai 14. Untuk naik dan turun kami beberapa kali harus mengantri untuk menggunakan lift bergantian dengan tamu-tamu guesthouse yang lain. Satu lift kurang lebih muat hingga maksimal 8 orang.

Oh ya, Chungking Mansions ini selain merupakan tempat berkumpulnya guesthouse-guesthouse murah di Hong Kong, tampaknya juga menjadi tempat berkumpulnya etnis Asia Selatan seperti India, Pakistan, dsb. Di lantai dasar terdapat banyak toko dan tempat makan yang hampir semuanya dikelola oleh orang-orang dari etnis mereka. Guesthouse yang aku tempati pun juga dikelola oleh orang India.

Bagi yang ingin mencari makanan halal, jangan khawatir Continue reading