Tag Archives: gunung gede

Mengurus SIMAKSI di kantor TNGGP

Mengurus SIMAKSI Pendakian Gunung Gede-Pangrango

Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengurus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) pendakian Gunung Gede yang saya lakukan minggu lalu. Sebelumnya saya pernah menulis pengalaman serupa di sini pada 2 tahun yang lalu. Namun, pada perkembangannya, sebagaimana pengalaman terbaru saya, ternyata ada beberapa hal baru yang saya temui dalam prosedur pengurusan SIMAKSI ini.

Saya tidak akan mengulang kembali apa yang sudah saya tulis di artikel terdahulu tersebut. Saya hanya mencoba mencatat beberapa hal baru yang saya temui itu berdasarkan pengalaman saya. Continue reading

Advertisements
padang edelweiss surya kencana (photo by ferdian)

Pendakian Gunung Gede 3.0 (Hari 2-Tamat)

Minggu, 29 November 2015

Pukul 4.45 saya terbangun. Butuh beberapa menit untuk saya sampai benar-benar tersadar. Rasa pegal-pegal mulai terasa di badan.

Saya keluar tenda. Brrr… Ya Allah, dinginnya. Angin yang dari tadi malam berhembus, ternyata masih berhembus juga subuh itu. Kabut pun juga belum hilang. Saya langsung mengerjakan sholat subuh di samping tenda.

Seusai sholat, saya berpikir kegiatan apa berikutnya yang mau saya kerjakan. Sepertinya rasa kantuk hilang karena dihapus hawa dingin yang saya rasakan. Oh ya, perlu restock persediaan air nih, pikir saya saat itu. Saya pun pergi membawa 3 botol kosong menuju kali kecil tempat mengambil air.

Dari posisi tenda, saya tinggal berjalan lurus mengikuti cekungan kali yang sudah mati (tak ada airnya). Tidak jauh letaknya dari tenda kami. Sudah ada beberapa orang yang mengantri mengambil air dari saluran yang menetes. Alirannya begitu kecil. Saya pun memilih mengambil air dari Continue reading

Hiking to Mount Gede (photo by Ferdian)

Pendakian Gunung Gede 3.0 (Hari 1)

Sabtu, 28 November 2015

Setelah hampir setahun absen di dunia pendakian gunung, akhirnya akhir pekan kemarin saya kesampaian lagi pergi naik gunung. Terakhir kali naik gunung yaitu Desember tahun lalu ke Gunung Semeru. Seharusnya bulan lalu saya pergi melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Tiket pesawat sudah dibeli. Namun sayang, saya batal pergi karena tidak bisa meninggalkan kerjaan di kantor.

Gunung Gede menjadi pilihan pendakian kali ini karena dekat dari Bandung dan Jakarta, kota domisili saya dan teman-teman yang ingin melakukan pendakian, sehingga tidak memerlukan persiapan khusus membeli tiket kereta api atau pesawat. Pendakian Gunung Gede ini menjadi kali ketiga bagi saya.

Mencetak SIMAKSI

Awalnya ada 12 orang yang bergabung untuk ikut pendakian ini. Kami sudah mendaftar secara online sejak sebulan sebelumnya. Namun, seminggu sebelum hari H, hanya 5 orang yang konfirmasi jadi. Tak masalah, kami yang 5 orang ini pun tetap jalan.

Kami sepakat menetapkan meeting point di Cibodas pada hari Sabtu (28/11) pukul 9 pagi. Saya berangkat dari Bandung dan 4 orang lainnya dari Jakarta.

Sebenarnya kami mendaftar naik Gunung Gede melalui pintu masuk Gunung Putri. Namun kami harus mencetak SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) terlebih dahulu di Continue reading

Di Lembah Mandalawangi

Pendakian Gunung Pangrango (Day 2-Tamat)

Minggu, 19 Oktober 2014

Setelah sholat subuh, kami menghangatkan kembali kacang hijau yang sudah kami masak malam sebelumnya. Kemudian Rani yang meracik kacang hijau tersebut untuk menjadi bubur kacang hijau. Bubur kacang hijau ini menjadi menu “pengganjal perut” kami sebelum nanjak ke puncak Pangrango.

Karena posisi tenda kami berada di jalan pendakian menuju Puncak Pangrango, tak jarang kami bertemu dengan pendaki-pendaki yang hendak menuju ke puncak.

Naik ke puncak dan Lembah Mandalawangi

Setelah sarapan bubur kacang hijau, kami mulai bersiap-siap untuk naik ke puncak. Tenda kami kunci rapat-rapat. Barang-barang seperlunya seperti kamera dan beberapa botol air minum kami bawa.

Tepat pukul 7 pagi kami memulai pendakian menuju puncak ini. Tanpa Continue reading

Di depan gerbang TNGGP

Pendakian Gunung Pangrango (Day 1)

Sabtu, 18 Oktober 2014

Tiba di Pertigaan Cibodas

Aku dan Gin tiba di pertigaan Cibodas tepat ketika jam baru bergulir 30 menit dari pergantian hari. Kami tiba di sana setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3,5 jam dari Bandung dengan menumpang bus Garuda Pribumi. Ongkos yang kami keluarkan untuk menumpang bus tujuan Merak ini adalah sebesar Rp30.000.

Kami berjalan kaki menuju Alfamart.yang terletak di seberang jalan raya. Di depan Alfamart ini ramai dengan pendaki yang juga baru berdatangan dari arah Bogor/Jakarta. Banyak pendaki yang mengisi perbekalan di Alfamart ini. Alfamart Cibodas ini laris manis malam itu. Aku dan Gin beristirahat di depan Alfamart ini sembari menunggu 4 orang teman kami yang masih berada di dalam perjalanan dari Jakarta.

Pukul 2 dini hari bus Karunia Bakti jurusan Jakarta-Garut berhenti tak jauh dari kami. Beberapa saat kemudian tampaklah Listi, Putri, Rani, dan Dwi berjalan ke arah kami yang tengah duduk-duduk di depan Alfamart.

Aku baru mengenal Rani dan Dwi di pendakian ini. Keduanya adalah teman barengan Putri tiap kali nanjak. Pendakian kali ini pun sebenarnya atas ajakan mereka. Perizinan dan pembagian bawaan logistik mereka semua yang mengatur. Btw, ini kali pertama aku naik gunung bareng rombongan yang ada ceweknya.

Menuju TNGGP

Tak lama kemudian, kami menyeberangi jalan menuju tempat mangkalnya angkot-angkot jurusan Cibodas. Walaupun masih dini hari, banyak angkot kuning yang tengah ngetem di jalan naik ke Cibodas ini. Mereka memang menunggu untuk dicarter oleh rombongan pendaki yang hendak naik ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Kami mencarter salah satu angkot bersama 4 pendaki rombongan lain. Ongkos carter sebesar Rp60.000 kami bagi bersepuluh.

Sesampainya di terminal angkot Cibodas, kami mencari Continue reading

Mengunggah Video ke YouTube

Beberapa minggu belakangan ini lagi, sambil mengisi waktu luang, aku iseng mengumpulkan video-video rekaman traveling yang sudah pernah kulakukan dan mengunggahnya ke YouTube. Sebenarnya ada beberapa video rekaman yang berasal dari teman juga sih, terus kugabungkan menjadi satu dengan punyaku.

Yaa… ini juga sambil iseng-iseng belajar editing video juga sih sebenarnya. Jadi jangan kaget kalau hasilnya sungguh amatiran, hehe.

Btw, dari pengalaman sebelumnya sempat kena isu copyright sih waktu mengunggah video photo story pendakian Semeru dua tahun lalu dengan backsound lagu Nidji berjudul Di Atas Awan. Lalu waktu aaku mengunggah video atraksi Symphony of Lights-nya Avenue of Stars, Hong Kong, aku kena copyright juga gara-gara di dalam acara Symphony of Lights ini ada musik yang diputar. Kalau untuk yang ini sih memang nggak bisa dicegah sih, haha.

Nah, gara-gara hal ini kemudian akhirnya aku baru tahu ternyata YouTube memiliki “stok” audio yang bisa dipergunakan secara bebas di video yang kita unggah. Koleksi audio-audio itu ada di sini  https://www.youtube.com/audiolibrary. Banyak kok pilihan audionya. Sudah dikelompokkan berdasarkan genre (pop, rock, regae, dll), mood (happy, romantic, sad, funky, dll), instrument (guitar, drum, piano, dll), atau filter berdasarkan durasi. Asyik kan?

YouTube Audio Library

YouTube Audio Library

Oh ya, jangan berharap bakal menemukan lagu-lagu komersial di YouTube Audio Library itu ya, hihi. Itu lagu-lagu free saja sih soalnya. Malah jarang sekali ada lagu yang ada suara orang nyanyinya di sana.

Baiknya YouTube ini, selain ada koleksi audio gratis, juga ada fitur editing on-the-fly :). Salah satunya adalah ketika video selesai diunggah, YouTube bisa mendeteksi apakah ada efek shaky camera di video itu. Jika ada, YouTube menawarkan untuk menetralkan efek shaky tersebut. Selain itu, kita juga bisa memberikan efek macam-macam layaknya Instagram. Kita bisa saat itu juga melihat hasilnya di preview video.

Asyik juga nih YouTube. Btw, ini alamat channel saya di YouTube youtube.com/otidh. Ini salah satu video yang aku unggah di sana. Video ini adalah dokumentasi pendakian Gunung Gede yang aku lakukan bersama beberapa teman-teman kuliah setahun yang lalu. Di video ini aku juga memanfaatkan free audio yang disediakan YouTube.

Kode Registrasi (Berwarna Biru)

Mengurus Perizinan Pendakian Gunung Gede

Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengurus perizinan pendakian Gunung Gede yang kami laksanakan awal bulan Juli lalu. Well, teknis untuk memperoleh izin pendakian Gunung Gede (dan juga Gunung Pangrango) mungkin agak berbeda dibandingkan dengan perizinan pendakian gunung-gunung lain di Indonesia. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango — atau yang biasa disingkat dengan TNGGP ini — memiliki kebijakan perizinan pendakian dengan menetapkan sistem kuota jumlah calon pendaki.

Para calon pendaki diwajibkan untuk memesan (booking) slot pendakian secara online dengan memilih hari, tanggal, waktu, pintu masuk dan pintu keluar, serta mendaftarkan nama-nama anggota kelompok pendakiannya melalui situs http://booking.gedepangrango.org/booking.php. Per kelompok pendakian dibatasi minimum 3 orang dan maksimum 10 orang, termasuk 1 orang sebagai ketuanya. Info ketentuan umum pendakian TNGGP dapat dibaca di http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2010/06/ketentuan-umum-pendakian-2010-rev-legal.pdf. Untuk info-info lainnya, termasuk pengumuman mengenai penutupan pendakian, dsb. dapat diikuti dari situs resmi TNGGP http://www.gedepangrango.org atau juga dari fan page Facebook https://www.facebook.com/pages/Booking-Pendakian-Gede-Pangrango/266636900105782. Situs TNGGP dan akun Facebooknya itu dapat diandalkan karena infonya yang selalu up to date.

Info-info bagaimana mengurus perizinan pendakian di TNGGP ini sudah sangat gamblang dijelaskan di situs TNGGP. Insya Allah kalau membacanya dengan seksama, proses perizinan pendakian akan dapat dilalui dengan lancar. Nah, pengalaman saya mengurus perizinan pendakian kemarin sebenarnya sudah diuraikan secara runtut dan terperinci di file PDF yang bisa diunduh dari tautan http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2013/07/tatacarapendakiantnggp.pdf  INI TATA CARA PERIZINAN PENDAKIAN YANG WAJIB DIKETAHUI BAGI PARA CALON PENDAKI TNGGP!!!

Bagi para calon pendaki TNGGP — terutama bagi mereka yang masih baru pertama kali — sebaiknya membaca terlebih dahulu tata cara pendakian yang sudah dijelaskan di file PDF tersebut. Di tulisan ini saya hanya ingin merangkum poin-poin yang penting untuk diperhatikan bagi kita Continue reading